Iis Soekandar: Kuliner
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 September 2026

Nasi Pager

                                                                                          

             Ini cerita sehubungan dengan naik kereta api Kedung Sepur. Setelah turun di stasiun Ngrombo, kami beristirahat, duduk-duduk santai memenuhi kursi-kursi, arah pintu gerbang stasiun. Sebagian lain berswafoto; sebagian lagi buang air.

            “Kita beli nasi pecel kapan?” tanya salah satu pengurus seakan dapat membaca perasaan saya. Sarapan nasi rames seperti tidak membekas di perut saya. Padahal waktu baru menunjuk pukul sembilan.

            Tidak lengkap pergi Grobogan tidak makan nasi pecel. Begitu komentar kebanyakan dari kami. Yang lain ikut-ikutan, ingin makan nasi pecel.

            Tidak hanya tiket kereta api, kami memesan nasi pecel secara kolektif. Pedagangnya berada di lain tempat. Kami memesan lewat telepon. Setelah diambil kesepakatan, kami makan nasi pecel sebagai bekal pulang. Lebih efektif makan makanan lain di tempat-tempat kami singgahi. Di samping itu, butuh waktu lama melayani tiga puluh orang lebih, jika saat itu juga makan nasi pecel.

            Menurut buku Kuliner Semarangan, penerbit Andi, dari laporan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2016, Kabupaten Grobongan penghasil jagung tertinggi di Jawa Tengah: 700.491 ton. Setelah itu Kendal: 209.032 ton.

            Saya teringat penjual nasi jagung langganan. Ia juga berasal dari sana, tepatnya Purwodadi, ibu kota Kabupaten Grobogan. Ia membuat sendiri nasi jagung jualannya. Nasi jagung itu dipadu dengan gudangan dan keripik ikan asin. Nasi jagung satu dunak ludes sebelum matahari menampakkan wajahnya.

            Selain nasi jagung, olahan lain dari jagung adalah emping jagung, yang banyak dijual di toko-toko oleh-oleh. Selebihnya, mereka menjual makanan-makanan yang juga dijual di pusat oleh-oleh tempat-tempat wisata pada umumnya, termasuk Semarang. Seperti keripik tempe, keripik tahu, selai pisang, kacang atom, dll.

            Nasi pecel atau nasi janganan juga menjadi makanan utama. Ada yang menyebut nasi pager. Disebut nasi pager karena sayur-sayuran dari tanaman pekarangan atau pagar penduduk setempat. Seperti bayam, daun papaya, dll. Nasi ini disajikan dengan sambal kacang. Disantap dengan lauk bakwan, mendoan, rempeyek, atau tahu susur, dan segelas teh hangat.

            Sekitar pukul empat sore nasi pager dibagikan. Sebagaimana di tempat wisata, harga makanan mahal dibanding di tempat biasa. Begitupun nasi pager. Satu porsi delapan ribu rupiah. Padahal di pedagang pecel langganan saya, seporsi cuma enam ribu rupiah. Sayurnya komplit dan banyak. Juga nasinya.

            “Yah, itung-itung buat isi perut,” kata seorang teman menghibur. Perut kosong setelah tamasya, penyakit mudah datang. Yang lain mengiyakan.

            Terasa nikmat makan di saat perut keroncongan.

Setengah jam berikutnya, para penumpang KA Kedung Sepur mengantre. Di balik pagar jeruji besi, kereta siap berangkat dan mengantar mereka ke tujuan akhir, Semarang.

@@@


Rabu, 16 September 2026

Nasi Kebuli

                                                                                            

Nasi… nasi… nasi kebuli… nasi kebuli enak sekali…. Itu lantunan nada khas, disertai ajakan membeli, beserta sebutan nama pembuatnya, seakan telah memproduksi mahakarya. Nada itu tanpa musik, dari kaset rekaman, diputar berulang-ulang, sepanjang lelaki hitam bertubuh tinggi besar, lewat. Ia pedagang sekaligus pembuat nasi kebuli. Ia menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung setiap hari dengan kendaraan roda dua. Sebungkus harganya delapan belas ribu untuk lauk telur, dan dua puluh tiga ribu untuk lauk daging. Saya suka lauk telur. Saya membeli dengan menunggu ia lewat. Kalaupun hari itu gagal, keesokan hari saya cermat menunggunya, yang terpenting tidak menungu lama mengobati kerinduan makan nasi kebuli.

Waktu cepat berlalu.

Sejak pedagangnya meninggal, dan tidak ada ahli waris atau kerabat menggantikan, saya makan nasi kebuli dari berkat atau jamuan pengajian. Padahal di negeri ini nasi putih lazim disantap sehari-hari. Hanya orang-orang tertentu, dan momen tertentu pula, orang hajatan membuat nasi kebuli.

Dari buku Main Rasa Bersama Sasa, Nasi kebuli merupakan akulturasi budaya dari Timur Tengah, terutama Negara Arab. Bermula para pedagang dari Hadramaut, Yaman, berbondong-bondong ke arah Timur, menuju Nusantara untuk berdagang dan berdakwah. Kemudian memperkenalkan budaya mereka ke penduduk lokal. Sebelumnya, kaum Hadrami sempat singgah lama di Gujarat, India, dan melakukan penyesuaian. Lalu mereka mengganti kebiasaan makan roti gandum dengan nasi basmati, khas India.

Nasi kebuli adalah nasi yang dimasak menggunakan kaldu daging dan susu kambing, minyak samin, serta rempah-rempah khas Indonesia seperti kapulaga dan cengkeh. Nasi kebuli menjadi popular dan banyak dikonsumsi di kampung-kampung Betawi peranakan Arab dan menyebar ke penjuru Indonesia. Demikian menurut buku tersebut.

Nasi kebuli yang biasa saya temui terdiri dari nasi, bistik daging sapi/kambing atau telur, acar kuning: timun-wortel atau buah nanas, dan sambal goreng ati.

Hanya orang-orang tertentu menyajikan nasi kebuli dari beras basmati. Harga beras basmati mahal dibanding beras biasa karena produk impor, dan tidak setiap supermarket menjualnya. Butirannya panjang dan ramping. Saya teringat seorang teman sedang diet, mengonsumsi nasi basmati sehari-hari. Dia bilang nasi basmati rendah gula sehingga cocok untuk orang diet. Saya pernah makan nasi basmati putih. Rasanya hambar. Berbeda dengan makan nasi putih biasa. Nasi basmati cocok dimasak dengan rempah dan bumbu agar enak disantap.

Setelah menunggu lama akhirnya dalam sebuah jamuan, saya menyantap nasi kebuli yang gurih, dengan rasa khas bumbu dan rempahnya, dipadu dengan acar kuning timun-wortel yang asam, lauk bistik telur yang manis, dan sambal goreng ati yang pedas. Kelengkapan sempurna.  

@@@


Jumat, 14 Agustus 2026

Kue Maromi

                                                                                          

         Langit berwarna putih. Waktu menunjuk pukul setengah enam. Seperti tidak mau keduluan matahari nongol, saya gegas pergi ke lapak penjual aneka kue. Seiring waktu berlalu, banyak pula pembeli berburu makanan kesukaan mereka. Dan para pembeli yang mengelilingi lapak itu mengganggu saya memilih kue favorit, yang tidak gosong dan masih hangat. Jika itu terjadi, saya cukup meminta penjual mengambilkan kue favorit sebanyak saya mau, lalu membayar.

            Lapaknya dari tampah-tampah yang ditata di atas dunak-dunak. Penjualnya duduk di dingklik. Kue-kue itu berjajar dengan rapi. Ada kalanya ditata begitu saja di atas tampah beralas koran. Sebagian lagi berada dalam wadah-wadah plastik.

            “Tidak ada kue maromi,” jawab pedagang. Tanpa memperhatikan saya ia sibuk melayani para pembeli ketika saya mencari-cari kue kesukaan. Saya sedih mendengar keterangan berikutnya. Pedagangnya sakit.

            Saya pulang tanpa tenaga.

            Kue maromi mengingatkan saya semasa kecil. Waktu itu ada kue gelek. Tapi teksturnya agak keras. Seiring perkembangan zaman, tidak ada lagi orang berjualan gelek. Saya browsing, barangkali ada kedai terdekat menjual gelek. Saya ketik gelek. Yang keluar gambar onde-onde ketawa. Begitu seterusnya.

            Lain hari, saya jalan sehat dan melewati lapak pedagang aneka kue. Tidak ada gunungan kue maromi. Itu saya alami hingga beberapa kali saya pulang jalan sehat.

            Tidak ada jalan lain selain menemui produsennya. Ternyata ia sakit salah satu anggota tubuhnya dan jangka waktu lama baru sembuh. Ia berjualan lagi setelah Lebaran.

            “Sekarang maromi termasuk kue langka,” katanya. Hanya wanita itu yang mempertahankan membuat maromi. Saya mengangguk-angguk. Hal itu diperkuat pedagang aneka kue langganan. Ia akan membayar saya sepuluh kali lipat jika bisa menemukan satu maromi di pasar.

Bahan kue maromi tepung gandum, telur, gula pasir, zat pengembang, dan santan. Ukuran gula harus tepat, jika kurang, bantat, jika kelebihan, gosong.

            Mungkin di daerah lain ada kue maromi tapi berbeda nama. Beberapa makanan beda daerah beda nama, tapi macamnya sama.

            Sebelum pulang tidak lupa saya mendoakan beliau agar cepat sembuh. Dengan demikian saya pun dapat segera merasakan kembali kue maromi.

            Lebaran berlalu.

            Berkali-kali saya lewat lapak penjual aneka kue yang mangkal di perempatan, tidak ada gunungan maromi. Sampai beberapa hari lalu saya kembali melihat kue maromi. Dari jauh kue maromi paling kentara. Di samping bentuknya besar, dibanding kue-kue lain, jumlahnya juga banyak.

            Sama-sama warnanya cokelat kemerahan, dan rasanya manis, kue maromi berbeda dengan bolang-baling. Kue maromi empuk. Kue maromi tidak dicetak. Bolang-baling agak keras. Umumnya berbentuk mirip dadu.

            Mulai sekarang, saya menikmati kue maromi kapan pun saya mau. Apalagi tidak hanya satu pedagang. Tempo hari ada pedagang kue keliling lewat rumah, di antaranya menjual kue maromi. Ia mengambil dari produsen yang sama.

@@@


Jumat, 03 Juli 2026

Bubur Suro

                                                                                         

            Bagi sebagian orang, Hari Asyura yang jatuh pada setiap 10 Muharam, adalah saat yang ditunggu. Saya termasuk salah satunya. Begitu tahun Hijriah berganti, dan masuk tanggal 1 Muharam, waktu seperti beranjak perlahan. Begitu saatnya tiba, undangan-undangan pun bertaburan. Di antara serangkaian acara, di antaranya doa-doa kebaikan untuk satu tahun mendatang, adalah pembagian bubur suro secara cuma-cuma.  

            Ada banyak kejadian penting pada Hari Asyura, seperti terselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Raja Fir’aun, Nabi Ibrahim terbebas dari api Raja Namrud, Nabi Yunus keluar dari perut ikan, dll. Lalu orang-orang membagikan bubur suro, dari kata Asyura atau mungkin berdasar kalender Jawa: bulan Suro. Hal itu dilakukan sebagai rasa syukur. Biasanya disertai peningkatan amal soleh dengan memberi santunan anak-anak yatim.

            Bubur suro berbahan utama beras, yang biasa dimasak nasi, diberi warna kuning, lekat aroma dan rasa daging kambing, dengan ramuan sejumlah bumbu dan rempah. Makanan-makanan penyertanya: telur dadar, sambal goreng ati, perkedel kentang, dan abon. Ada juga yang menambahi calon: makanan dari parutan kelapa, diberi bumbu-bumbu, lalu dibentuk bulat oval kemudian digoreng.

            Sesuai namanya, bubur suro tidak ditemui sehari-hari, berbeda dengan bubur kacang hijau, bubur mutiara, bubur sumsum, bubur ketan hitam, dan macam-macam bubur lain. Satu sisi karena jenis bubur dan makanan-makanan penyertanya lauk pauk, harganya mahal. Saya bertanya kepada orang-orang yang tahu tentang bubur suro, harga seporsi sekitar tujuh belas ribu rupiah. Sementara harga bubur-bubur lain, tiga-lima ribu rupiah seporsi.

Sebagian orang terdogma: belum makan jika belum makan nasi. Orang lebih memilih makan nasi, sebagai makanan pokok sehari-hari, dibanding makan bubur, jika bubur suro dijadikan menu sarapan, sebagaimana bubur ayam. Harga semangkuk bubur ayam tidak semahal bubur suro. Seporsi nasi rames cuma enam sampai tujuh ribu rupiah. Apalagi keadaan ekonomi sulit seperti sekarang.

            Saya beruntung tinggal di daerah, yang masih lekat dengan tradisi ini. Setidaknya saya mendapat lima macam bubur suro, dari lima undangan, dengan berbagai rasa dan kelengakapan makanan penyertanya, sejak tulisan ini saya tulis, beberapa hari lalu. Bubur-bubur itu dibagikan oleh komunitas-komunitas dan perorangan, dari malam Asyura (menurut penanggalan Hijriah, sudah masuk Hari Asyura), berlanjut keesokan hari, hingga jelang Magrib.

Bubur suro mungkin masih dibagikan dari komunitas-komunitas atau orang-orang yang ingin membagikan bubur suro, sepanjang bulan Muharam atau bulan Suro. Sudahkah teman-teman juga makan bubur suro? Atau akan mendapatkan bubur suro rentang bulan Muharam atau bulan Suro? Selamat menikmati!

@@@


Jumat, 13 Februari 2026

Es Campur

                                                                                           

Bagi masyarakat Kota Semarang, sekarang saatnya menikmati dugderan. Dugderan adalah tradisi masyarakat Kota Semarang menjelang bulan Ramadan. Tujuannya untuk memberitahukan akan datangnya puasa Ramadan. Dugderan diadakan seminggu sebelum bulan Ramadan. Di sana dijajakan aneka mainan, di antaranya dari gerabah seperti celengan dan perkakas makan dan minum, kapal-kapalan, disajikan permainan bianglala, kora-kora, komidi putar, dll, dan dijual aneka makanan dan minuman.

Dua hari lalu hujan mengguyur sejak Asar dan mereda jelang Isya. Saya pikir dugderan sepi pengunjung. Ternyata tak berbeda dari suasana tak terjadi hujan lama. Meski udara dingin menyelimuti, para penonton memenuhi kursi-kursi, menikmati suara musik dan penyanyi panggung, sambil makan dan minum. Pengunjung-pengunjung lain berjubel memenuhi jalan-jalan area dugderan.

Malam itu saya jalan-jalan sekalian ingin membeli es campur. Dari depan pintu gerbang Masjid Agung Semarang, sekitar alun-alun, samping Hotel Metro, hingga Jalan H. Agus Salim, tidak ada pedagang es campur. Ada banyak pedagang minuman, mayoritas minuman kekinian dengan bahan simpel, selebihnya minuman tradisional. Mungki pedagang minuman es campur enggan menjual di dugderan karena bahan-bahannya kompleks.

Menurut buku Main Rasa Bersama Sasa awal mula es campur dari Cina. Kemudian minuman ini popular di Indonesia. Es campur asal Cina dikenal baobing. Bahannya es serut, susu, sirup, dan buah-buahan.

Perburuan saya belum selesai dan saya lanjutkan keesokan hari. Saya teringat dekat Pasar Johar, sebelah alun-alun, ada penjual minuman. Kedai sepi. Pedagang memanggil-manggil, terus menawari hingga saya tak dapat menolak.

“Jual es campur, Bu?” tanya saya.

“Lho, saya sehari-hari kan juga jual es campur,” jawab pedagang bertubuh gemuk.

Saya duduk lega. Akhirnya saya mendapatkan yang saya mau. Saya duduk menunggu ia menuangkan satu per satu bahan di dalam mangkuk. Dari bahan-bahan yang dijajakan di wadah-wadah, saya tak melihat itu sebagai bahan-bahan es campur. Dawet, camcau, jeli dipotong dadu, saus gula merah, santan, dan es serut dalam termos.

Semangkuk es campur, menurut pedagang, tersaji di depan saya. Sungguh di luar angan saya menikmati semangkuk es campur dengan semarak ketan hitam, tape, sagu mutiara, buah, susu kental manis, santan, dipadu dengan es serut. Saya menerima semangkuk hidangan, laiknya terpidana menerima vonis hukuman.

Semangkuk es, dengan macam-macam bahan itu, saya nikmati, setidaknya sebagai pelepas dahaga. Sambil membayangkan, saat yang tepat, saya datang ke kedai penjual es campur sesungguhnya.

@@@


Jumat, 09 Januari 2026

Kupat Tahu




               Berbeda hari-hari terakhir, laiknya musim hujan, siang itu langit Magelang tak menumpahkan air. Cuaca cerah. Gerah menyelimuti badan, ingin segera menjumpai air wudu, untuk menetralisir. Setelah tamasya seputar daerah Magelang, saya dan para kerabat mampir di MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) Magelang untuk menunaikan salat Duhur. Tak seperti MAJT Semarang yang mewah, serasa salat di Masjid Nabawi, terkenal dengan payung-payung besarnya di pelataran, MAJT Magelang sederhana, hanya halamannya luas.

            Setelah salat saatnya kami makan siang. Kendaraan menembus lalu lintas yang ramai. Saya mengusulkan makan makanan khas daerah. Kebetulan salah satu kerabat punya langganan. Nahas, siang itu tutup. Saya khawatir jika mayoritas memilih makan makanan kekinian. Lewat di daerah kota, ada banyak makanan alternatif. Terlebih makanan-makanan kekinian. Syukurlah mumpung berkunjung ke sebuah daerah, kami sepakat makan siang dengan makanan khas daerah Magelang: kupat tahu atau ketupat tahu, dibanding makanan kekininan yang ada di setiap tempat, termasuk Semarang.

            Ada banyak penjual kupat tahu. Kami memilih jauh dari keramaian. Tempatnya representatif, masuk gang, cocok untuk sekalian beristirahat. Kebetulan siang itu sepi pengunjung. Kami satu-satunya rombongan pembeli. Saya bayangkan jika kami makan di kedai langganan dan di pinggir jalan, pasti banyak pembeli, apalagi jika harus duduk berimpitan.

            “Monggo nyicipi bakwan,” kata pedagang yang sedang menggoreng bakwan, wanita lansia, berkebaya, dan berkonde cepol. Wanita satu lagi muda, meracik bahan-bahan makanan

            “Nggih, Bu, maturnuwun,” jawab saya tanpa mengambil bakwan satu pun. Saya ingin menikmati kupat tahu secara utuh. Dengan makan bakwan terlebih dahulu, bakwan tidak lagi terasa spesial saat bercampur kupat tahu.

            Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya kupat tahu berada di depan mata.

            Selain ketupat dan tahu putih goreng, makanan lain dalam kupat tahu: bakwan, tauge, kol, sambal kacang rasa manis, toping bawang goreng dan daun seledri.

            Berbeda kupat tahu Semarang, kupat tahu Magelang sambal kacangnya encer. Terkesan kupat tahunya berkuah. Menurut saya, itu lebih sesuai disebut sambal kecap, kemudian dicampuri kacang tanah. Sebab kacang tanahnya tidak digerus secara halus dan menyatu dengan sambal kecap, bahkan banyak ukuran separuh biji. Akibatnya bongkahan-bongkahan kacang tanah itu mengambang di sambal kecap. Sesekali saya hanya makan kacang tanah.

            Melihat makanan-makanannya yang lengkap: ketupat, tahu, sayuran, kupat tahu cocok disantap sebagai makanan utama, saat perut lapar. Apalagi ditambah kerupuk. Saya menghabiskan sambal kecap saat ketupat dan makanan-makanan lain sudah habis dengan kerupuk. Sepiring kupat tahu habis dengan membayar lima belas ribu rupiah. Sebagai bekal kami tamasya ke tempat berikutnya.

@@@

Jumat, 31 Oktober 2025

Serabi Ngampin

                                                                                        

Jalan Ngampin, Ambarawa, menyambut kedatangan saya dengan cuacanya yang cerah. Walaupun matahari tak menampakkan wajahnya, sinarnya menghangatkan tubuh. Lalu lintas ramai. Jalan Ngampin dilalui kendaraan-kendaraan dari dalam dan luar kota. Kanan kiri Jalan Ngampin terdapat tempat peribadatan dan perkantoran. Saya menyusuri sisi kiri jalan dari arah Semarang, berniat membeli serabi ngampin, makanan khas Ambarawa.  

Sepuluh menit saya berjalan, tak ada satu pun penjual serabi ngampin, di kanan kiri jalan, sebagaimana keterangan penduduk setempat.

“O mau nyari srabi ngampin? Masih jauh. Naik angkot, tuh!” jelas pedagang buah-buahan di mobil terbuka yang saya temui, ketika saya mengutarakan niat. Dalam waktu bersamaan mobil angkot berwarna kuning melintas. Pedagang buah melambaikan tangan. Mobil berhenti; saya naik.

Benar kata pedagang buah, tidak mungkin kaki saya berjalan hingga menemui  penjual-penjual serabi ngampin. Saya minta berhenti di depan penjual serabi ngampin seorang diri. Dengan demikian, saya leluasa mengulik serabi ngampin. Sebab ada satu kedai luas, diisi beberapa pedagang serabi  ngampin.

 Kami saling menyapa akrab, bertanya kabar. Saya duduk di depannya, di dingklik kayu. Pedagangnya seorang wanita. Keramahannya tidak saja ia sebagai pedagang, namun juga tuan rumah, yang ingin menjamu tamunya, khas penduduk desa. Saya ditawari mencicipi, begitu serabi matang dari cetakan. Padahal sudah saya utarakan bahwa saya hanya membeli satu porsi dan saya makan di tempat. Saya menolak. Saya minta seporsi sesuai keinginan.

Akhirnya saya mendapatkan semangkuk serabi ngampin. Isinya lima buah, 3 rasa 3 warna: gurih warna putih, pandan warna hijau, cokelat warna cokelat. Teksturnya lembut dan empuk. Berbeda dengan serabi-serabi lain, serabi ngampin ditambah juruh atau kuah. Rasanya gurih dan manis, terbuat dari santan dan saus gula merah.

“Kenapa mesti tepung beras baru? Bukankah di warung dan di pasar dijual tepung beras?” tanya saya ketika ia menjelaskan bahwa tepung beras serabi ngampin harus baru. Artinya, baru saja keluar dari mesin penggilingan beras. Setiap kali akan berjualan, ia menggilingkan beras di penggilingan beras tetangganya.  

“Rasanya beda. Tepung beras di warung atau di pasar terkadang apek. Dan kalau diadoni suka ada printilan. Akhirnya nanti terbawa, tepung beras belum matang, di serabi yang sudah matang.”

Saya mengangguk-angguk. Saya hanya tahu serabi ngampin lezat. Ditambah sesendok demi sesendok menikmati kuahnya. Tidak lama seorang lelaki menghentikan sepeda motornya di depan kedai. Ia membeli dua bungkus. Plastik mika sebagai bungkus jika pembeli ingin membawa pulang. Isinya sama, lima buah serabi ditambah juruh yang dibungkus kantung plastik bening. Kemudian ia melajukan sepeda motornya setelah membayar.

“Memasak pakai tungku juga membuat serabi menjadi lezat,” lanjutnya kembali bercerita. Seperti pembelaan diri bahwa ia juga diuntungkan karena tidak perlu menggunakan gas LPG sebagaimana memakai kompor. Di lingkungnnya bahan bakar kayu lebih mudah didapat dibanding gas LPG, harganya pun murah.

            Tidak terasa sambil mendengarkan cerita, semangkuk serabi ngampin di tangan saya tak tersisa setetes pun. Perut kenyang hanya membayar Rp7.000,00. Saya pulang, dengan harapan suatu saat kembali menikmati serabi ngampin dan kuahnya yang lezat.

@@@


Jumat, 10 Oktober 2025

Nasi Tumpang

                                                                                                

          Saya suka makan. Bukan saja karena saya manusia dan untuk mempertahankan hidup di antaranya butuh makan. Terkadang saya datang ke suatu tempat hanya untuk menikmati makanan tertentu, karena hanya daerah itu menjual makanan tersebut. Terkadang saya datang ke warung tertentu, karena warung tersebut representatif bagi saya, jauh dari gangguan pengamen dan teguran para tetangga, yang itu bisa mengganggu makan saya. Dan alasan-alasan lain, yang intinya untuk mendukung kegiatan makan saya.

Nasi tumpang termasuk makanan kesukaan saya. Ia makanan khas Ambarawa, Kabupaten Semarang. Saya makan pertama kali secara tak sengaja. Suatu saat, setelah tamasya, saya lapar. Posisi saya berada di pasar. Saya masuk di salah satu warung. Saya mengenal semua makanan dari daftar menu yang tertempel di dinding, termasuk nasi tumpang.

Sependek saya mengenal, nama “tumpang” berkaitan dengan sambal tumpang: sambal diberi tempe semangit yang dihaluskan, lalu diberi santan. Dan lama saya tak menyantapnya. Nasi tumpang berarti nasi putih dengan sambal tumpang. Ternyata definisi saya tentang nasi tumpang berbeda jauh dengan sambal tumpang, walaupun nama belakangnya sama, begitu nasi tumpang berada di hadapan saya.

Dua jam naik kandaraan umum, dua kali, saya sampai di warung tempat saya pertama, dan seterusnya, menyantap nasi tumpang. Saya tidak tahu dan enggan mencoba-coba warung lain, untuk makan nasi tumpang. Di warung tersebut saya cocok.

“Nasi tumpang,” pinta saya kepada penyambut, begitu saya masuk warung dan duduk di bangku kayu panjang. Depannya meja panjang. Warung sederhana. Beberapa orang sedang makan, hanya saya pembeli baru.

Seorang lelaki, pemilik sekaligus pelayan warung tersebut, meminta saya menunggu sejenak. Nasi tumpang tidak cukup nasi putih dan beberapa makanan lain dituang dalam satu piring makan. Seperti penjual menyajikan nasi rames. Ada bahan makanan yang harus diolah mendadak agar bisa dimakan hangat.

Akhirnya nasi tumpang tersaji di hadapan saya. Sepiring nasi putih, semangkuk lauk berisi tetelan dan beberapa irisan tahu kulit, dan sepiring telur dadar. Nasinya tidak pulen, tapi di situlah nikmatnya saat beradu dengan kuah manis, gurih, sambil menikmati tetelan dan tahu kulit. Apalagi kuahnya tidak pedas walaupun warnanya merah. Itu saya suka. Sesekali saya makan nasi hanya dengan telur dadar yang hangat, tanpa kuah. Dari pembicaraan para pembeli, udara masuk melalui pintu, terasa khas suasana makan dengan latar pasar tradisional.

Seperti biasa, saya ditawari nasi jika ingin menambah. Setiap kali saya menyantap nasi tumpang, timbul pertanyaan dalam benak: Apakah tarip Rp7.000,00 seporsi sesuai dengan bahan-bahan yang dibeli? Apakah penjual mendapat untung? Apalagi tidak ada bahan makanan murah sekarang. Beras, telur, tahu, tetelan, santan, dan sejumlah bumbu. Seringkali dalam kehidupan nyata, banyak hal tidak logis terjadi. Walaupun dalam membuat cerita, kelogisan dalam setiap adegan, adalah keniscayaan. Saya tersenyum masygul.

@@@


Jumat, 15 Agustus 2025

Satai Bumbon

                                                                                          

         Kedatangan kami di tempat penjual satai bersamaan dengan embusan angin dari arah barat, dengan desah suara keras, membawa debu-debu yang menampar wajah. Tapi kami tak menutupinya dengan benda apa pun, termasuk tisu, karena segera masuk ke tempat penjual satai lebih aman, yang jarak menuju ke pintunya dua langkah. Sinar matahari tak menyisakan bayangan bagi penduduk bumi.

            Tempat ini layaknya warteg, jauh dari bayangan saya, sebuah tempat representatif, terlebih bagi pengunjung dari luar kota, yang butuh makan sambil beristirahat, dan menjual makanan satai seporsi Rp60.000,00.

            “Kita makan siang di Kendal, makan satai bumbon. Kamu pasti belum pernah coba!” putus teman saya langsung meminta Pak Sopir mampir di tempat langganannya, menikmati makanan khas, selesai kunjungan kami dari Pekalongan.

Atas dasar rasa penasaran, saya mengiyakan, meski satai bagi saya adalah satai kambing, dan daging sapi cocok untuk masakan bistik dan rendang.

            Saya, teman, dan Pak Sopir masing-masing memesan setengah porsi, lima tusuk. Begitu satai terhidang, lagi-lagi atas dasar menyenangkan hati teman, saya bersemangat menyantap. Aroma pedas tercium dari sambal kacang, dan  kacang tanahnya digerus kasar, dan dicampur dalam tusukan-tusukan satai. Itu artinya tidak memberi kesempatan saya yang tidak suka pedas, untuk mengukur pedasnya cabe, dibanding sambal dipisah. Mungkin dari semua itu dinamai satai bumbon.

            Potongan-potongan daging sapinya besar-besar, tapi empuk. Sehingga tidak terasa saya habis lima tusuk. Ada makanan lain untuk menyantap satai bumbon, selain nasi: sayur lodeh tewel, dan tauge rebus yang diletakkan di atas nasi.  

            Konon, masyarakat Indonesia zaman dulu tidak mengenal daging bakar. Mereka memasak daging dengan cara direbus. Letak Indonesia strategis menjadi tujuan para pedagang India dan Timur Tengah. Mereka memberi pengaruh makanan Indonesia. Satai adalah hasil evolusi kebab dari India dan Timur Tengah. Masyarakat dari negara-negara tersebut, makan kebab dari aneka jenis, di antaranya ditusuk seperti satai.

Nama satai mungkin berasal dari bahasa India, catai, yang artinya daging. Nama ini pun berevolusi, agar mudah mengucapkan, catai menjadi satai.   

Irisan-irisan tomat mengurangi rasa pedas. Namun udara masuk dari kanan kairi pintu yang dibiarkan terbuka, kami tidak bisa berlama-lama di warung, begitu makan selesai. Kami beranjak dan melanjutkan perjalanan, pulang ke Semarang.

@@@


Jumat, 01 Agustus 2025

Kue Klepon

                                                                                      

              Pasar memperlihatkan kesibukannya: aneka transaksi dari bahan makanan, makanan siap santap, hingga non makanan seperti baju-baju dan perkakas rumah tangga berbahan plastik. Mereka beraktivitas di bawah sinar lampu jalan sebab matahari belum menampakkan wajahnya.

            Pagi itu saya menyusuri pasar krempyeng, seperti biasa, yang para pedagangnya menjual dagangannya di kanan kiri jalan, dan jelang pertokoan buka, mereka selesai. Saya menuju ke penjual getuk, demikian orang-orang menyebut, meski yang dijual tidak hanya getuk (berbahan singkong). Ia menjual aneka jajan pasar lain seperti cenil, putu mayang, dan klepon.

            Pedagang getuk zaman dulu menjual banyak varian jajan pasar. Selain makanan-makanan tersebut, ada juga getuk tolo, ketan hitam, ketan putih, gobet, jongkong, kacamata, gatot, mungkin masih ada yang lain. Dan pedagangnya tidak hanya seorang.  

            Saya sengaja melihat dari jauh pedagang getuk. Sebab saya berkali-kali makan getuk, cenil, dan putu mayang, tanpa klepon. Untuk kesekian kali saya kecele. Orang makan jajan pasar lebih enak jika bermacam-macam, lalu taburi parutan kelapa, kucuri kinca (sirop gula merah), dalam kemasan daun. Atau mungkin pedagang getuk tidak lagi membuat klepon karena pembuatannya yang rumit.

            Tanpa sengaja saya bertemu teman lama. Hampir setiap ke pasar saya bertemu dengannya. Ia berjualan nasi, anek sayur, dan lauk. Saya utarakan unek-unek.

            “Gak usah di pedagang getuk. Di penjual aneka panganan, kan’ juga jual klepon,” jelasnya. Saya pun buru-buru ke penjual yang dia maksud, agar tidak kehabisan. Saya lupa ada penjual aneka panganan yang menjual klepon dalam satu kemasan. Saya membeli beberapa kemasan klepon.

            Ada beberapa lapisan terkuak jajan pasar berbentuk bulat kira-kira sebesar kelereng ini. Bagian luar klepon kenyal dan gurih, berbalut parutan kelapa. Begitu lidah merasakan isinya, manis dan lembut gula merah beradu, dan lumer di mulut.

            Menurut asal usul namanya, klepon diambil dari bahasa Jawa, berarti ‘indung telur hewan’. Selain dikonsumsi pribadi, klepon juga disajikan dalam jamuan. Saya pernah datang ke resepsi pernikahan, klepon dan aneka jajan pasar terhidang sebagai makanan pembuka, berbeda dari kebanyakan pemilik hajat menyajikan kue-kue masa kini atau kue-kue modifikasi dari barat. Menurut buku Main Rasa Bersama Sasa, klepon pertama kali diperkenalkan di Negeri Kincir Angin oleh imigran dari Pasuruan, Jawa Timur. Saat itu klepon tersedia di toko dan restoran Indonesia-Belanda.

            Di antara banyaknya makanan kekinian, kue klepon menjadi makanan langka. Saya bahagia masih bisa menikmati klepon, walaupun tidak bersama jajan pasar-jajan pasar lain, dengan taburan parutan kelapa dan kucuran kinca, dalam kemasan daun.

@@@


Jumat, 13 Juni 2025

Kedelai yang Melalai

                                                                                             

          Pukul empat sore bukan waktu tepat untuk menyantap makanan berat bagi saya. Walau saya telah bertamasya sejak pagi, dan perut lapar minta diisi. Saya pun tidak berselera menyantap kudapan, seperti leker dan bakso pentul, yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan daerah Bandungan, Kabupaten Semarang.

Saya terus menyusuri jalan mencari makanan yang tepat. Hingga sampailah saya di jalan dekat pasar Bandungan. Kedai-kedai khusus menjual tahu siap santap, berjejer di pinggir jalan. Tahu Bandungan khas. Teksturnya lembut.

Di antara kedai-kedai itu, ada gang-gang. Salah satu gang terdapat sebuah pabrik menjual makanan dari kedelai: tahu jadi, dan tempe dalam kemasan daun. Pabrik itu juga menjual tahu setengah jadi, seperti bentuk tahu dalam wedang tahu. Saat digoreng dengan balutan telur, tahu setengah jadi terasa otak sapi.

Demi mengakrabkan dengan para pengunjungnya, pabrik itu juga melayani pembelian tahu goreng dan tempe mendoan, siap santap di tempat. Tempat itu tak pernah sepi. Saya sering bersamaan dengan para pengunjung dari luar kota, setelah perjalanan liburan. Sambil beristirahat mereka menyantap tahu goreng dicocol sambal kecap, dan mendoan dengan ceplusan cabe rawit. Lalu sebelum pulang mereka biasanya membeli oleh-oleh.

Ada satu hal yang membuat saya ingin selalu mampir di sana setiap lewat Bandungan: menikmati susu kedelai, produksinya selain tahu dan tempe.

Susu kedelai jarang dijumpai di tempat saya tinggal, tak seperti susu sapi. Setiap hari penjual susu sapi menjajakan dagangannya di kampung. Saya membeli satu cup susu kedelai. Saya suka rasa original. Rasa kedelai begitu sempurna. Tegukan pertama, dalam kapasitas sedikit, karena susu dituangkan dalam cup, langsung dari pemanas, mulai menghangatkan mulut. Tegukan kedua dan selanjutnya, hangatnya memenuhi mulut dan sudut-sudutnya. Setelah setengah cup, susu kedelai layak disantap dengan sedotan.  

Sebagian pengunjung tak suka rasa kedelai murni. Mereka menambahi gula, jahe, atau bahan-bahan minuman lain. Harganya menambah dibanding susu kedelai murni.

Sore semakin larut. Saya pulang dengan perut kenyang dan badan hangat, cukup dengan membayar Rp6.000,00, sebagai bekal pulang ke Semarang.

@@@

   

Jumat, 02 Mei 2025

Semangkuk Bakso di Halbi

                                                                                       

        “Lihat bakso malang, Pak?” tanya saya kepada Pak Becak yang mangkal di depan kampung. Sontak pandangannya menyapu sekitar, tak ada gerobak penjual bakso seperti yang saya cari.

            “Nggak lihat, tapi dia jalan lurus kalau gak ada yang beli,” jawabnya sambil menunjuk arah.

            Jawaban sama saya terima dari orang-orang yang saya tanya. Para penjual bakso malang tak mangkal di suatu tempat. Mereka berhenti jika ada pembeli, atau memanggil dengan ketukan bakso yang khas, hanya sesaat. Setelebihnya, mereka jalan. Tak tahan menahan perut bernyanyi dan haus karena sengatan sinar matahari, saya putuskan makan makanan lain.

            Hari berikutnya, saya bertemu penjual bakso malang, tapi saya sedang berpuasa Syawal. Semangkuk bakso malang membayangi, dan saya terus mencari-cari kesempatan setiap keluar rumah.

            Kuah bakso malang bening. Kaldu beraroma bawang itu beradu dengan bakso sapi yang empuk dan gurih, dan renyahnya pangsit goreng. Toping seledri dan bawang goreng menyempurnakan penyajiannya. Setiap suapan mengundang selera.

            Bakso termasuk makanan akulturasi. Menurut buku Main Rasa Bersama Sasa, “bak-so” dalam bahasa Hokkien berarti “daging giling”.  Berawal saat Meng Bo, salah satu penduduk Negeri Tirai Bambu, sekitar abad ke-17, ingin menyajikan daging untuk ibunya. Seiring bertambahnya usia, ibu Meng Bo tidak dapat mengunyah daging. Dalam pencariannya, Meng Bo terinspirasi kue moci yang bulat dan kenyal. Kemudian ia menghaluskan daging dan membentuk bulat seperti kue moci. Sejak itu ibunya dapat menikmati daging.

            Kedatangan orang-orang Negeri Tirai Bambu, zaman dulu, tidak hanya berdagang. Mereka juga mewarnai budaya dan makanan masyarakat Indonesia, termasuk bakso. Sesuai mayoritas masyarakat Indonesia yang muslim, daging bakso tebuat dari daging sapi, bukan dari daging babi.

            Budaya Halbi (halal bi halal) juga dilestarikan oleh masyarakat Indonesia. Tujuan Halbi selain silaturahim adalah bermaaf-maafan. Begitupun yang ada di benak saya ketika menghadiri acara Halbi sebuah komunitas. Selebihnya, saya hanya membayangkan bakso secara umum, walau jauh hari, panitia mengumumkan bahwa makanan utama Halbi adalah bakso.

            Dan, kerinduan saya terbayar ketika di hadapan saya, terhidang bakso berkuang bening, mirip bakso malang. Di tengah maraknya efisiensi, saya menikmati bakso malang di Halbi, sebuah langkah bijaksana.

@@@


Jumat, 21 Maret 2025

Apa Ini?

                                                                                                

            Pak Ustaz menerjemahkan dan memberi keterangan-keterangan ayat-ayat suci yang dilantunkan. Keterangan-keterangan itu, selalu dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Ia akan kembali membacakan ayat-atat suci lalu menerjemahkan dan memberi keterangan-keterangan, demikian seterusnya hingga waktu jelang Asar. Dan menurut jadwal pengurus, pengajian dan khataman akan dilakukan tanggal 25 Ramadan.

            Langit mendung. Angin bertiup sejuk. Suara kendaraan-kendaraan terdengar ramai, dari para pembeli yang memenuhi kebutuhan Lebaran. Mereka berbelanja di pertokoan seberang jalan sisi kanan masjid.

Sebagian jemaah mendengarkan. Sebagian lain mencatat. Sebagian lagi mengantuk. Pandangan saya menyapu jemaah yang duduk di tengah, dan di pojok-pojok serambi masjid. Saya tak menemui pedagang keripik. Saya suka keripik tumpi(keripik kacang hijau). Mungkinkah pedagangnya tidak berjualan? Atau ia duduk di masjid bagian dalam? Saya duduk di undakan. Gerak saya leluasa.

Pedagang keripik menjual dagangannya sambil lalu. Ia duduk santai di tempat-tempat strategis. Ia menawarkan dagangannya di dalam tas anyaman, kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya.   

Berbeda dengan pedagang-pedagang makanan lain, mereka menemui para calon pembelinya satu per satu. Ada pedagang tetap menawari walaupun saya tidak pernah membeli karena tak suka dagangannya.

Ada juga pedagang datang di tengah pengajian berlangsung. Ia duduk sebentar, sambil mencari-cari orang-orang yang pernah membeli dagangannya. Setelah menemukannya, ia tak segan nimbrung dan duduk di sebelah orang tersebut.

Saya harus menunda makan keripik jika tak menemukan pedagangnya. Karena kesibukan malam, saya tak punya waktu menikmati keripik. Saya tadarus bersama teman-teman setelah tarawih. Dan tadarus 30 juz selesai pertengahan Ramadan. Saya berjanji akan membeli keripik setelah tadarus selesai.

            Kami menutup Al-Qur’an. Pak Ustaz baru saja mengakhiri pengajian dengan doa. Tak lama kemudian…

            Pluk!

            “Apa ini?” tanya saya kaget.

            Saya belum sempat mengucapkan terima kasih kepada teman yang menjatuhkan tas kresek di pangkuan saya. Ia gegas pergi, tak mau tersalip mendung menjatuhkan airnya. Dan, sebahagia mendapatkan baju Lebaran, saat saya mengetahui isinya: sebungkus keripik tumpi.

            Suara azan terdengar; saya segera memenuhi panggilannya.

@@@


Jumat, 14 Februari 2025

Nasi Megono

Waktu menunjuk pukul 5.30. Langit mendung; para pedagang berpayung; saya bingung. Saya baru tersadar, penjual nasi megono tidak mangkal. Ke mana saya harus mencarinya?

Saya putuskan menunggu di samping penjual nasi jagung langganan. Dua hari sebelumnya saya bertemu teman. Kami sama-sama keluar masjid selesai salat Subuh. Tiba-tiba ia membicarakan penjual nasi megono.

            “Di undakan ini, aku pernah bertemu penjual nasi megono. Aku langsung beli. Sayang, tidak tiap hari dia lewat sini,” keluhnya. Ia bercerita bahwa beberapa teman yang waktu itu membersamainya, juga membeli nasi megono. Mungkin penggemar nasi megono banyak. Kami menyayangkan penjualnya tidak mangkal di pasar, agar pembelinya tidak kesulitan mencarinya.

            Dari perbicangan itu, saya ingin makan sarapan nasi megono.

            “Mungkin penjualnya libur. Memang dia tidak tiap hari lewat. Siapa tahu dia sekarang jualan di pasar lain,” jelas pedagang nasi jagung, setelah saya menunggu setengah jam. Akhirnya saya pulang, setelah membeli nasi jagung, dengan pelengkap: gudangan dan rempeyek ikan asin.

            Pagi berikutnya, saya menunggu lagi. Saya kecewa, karena kembali pulang menenteng sebungkus nasi jagung. Hal itu berlangsung hingga empat hari.

            Tinggal dekat pasar, dan di tengah masyarakat urban, saya banyak menikmati alternatif menu sarapan, di antaranya nasi megono. Berawal ketika saya membeli wortel, seorang lelaki menyodorkan sebuah bungkusan. Ia mengatakan bahwa ia menjual nasi megono seharga Rp5.000,00. Saya penasaran. Saya membelinya. Kalaupun saat itu saya sudah membeli sarapan, saya berikan orang lain. Saya beruntung dapat menikmati makanan khas daerah.

            Nasi megono adalah makanan khas Pekalongan. Ciri khas nasi megono, selain nasi putih, bersayur nangka muda yang dicacah, berbumbu dan berempah tertentu; rasanya gurih. Lauknya ikan asin. Nasinya pulen dan hangat, cocok disantap saat hawa dingin.

            Pekan berikutnya, saya kembali bergerilya. Penjual nasi jagung langganan sedang libur. Saya menunggu di depan supermarket. Seperti mendapati panas matahari di musim hujan, saya buru-buru menghampiri seorang lelaki. Kedua tangannya membawa wadah plastik, berisi bungkusan-bungkusan dagangannya.

            “Tidak jualan tiap hari ya, Pak? Kemarin tak tunggu gak lewat.”

            “Kemarin kan hari Minggu, aku mengaji…” jelasnya. Lalu ia mengatakan bahwa tidak setiap hari lewat di satu pasar. Di samping itu, beberapa hari ia tidak enak badan, dan libur berjualan. Apapun alasannya, saya segera membayar, dan tidak sabar menikmati nasi megono.

@@@


 

Jumat, 24 Januari 2025

Teh Tarim

Pertama kali saya mendengar teh tarim ketika ditanya teman, apakah saya pernah merasakan teh tarim. Saya jawab, alih-alih merasakan, mendengar naman teh tarim baru sekali itu. Teman saya terkekeh; ia juga baru mendengar namanya. Ia dikasih tahu temannya. Nama teh tarim lewat dari mulut ke mulut, entah siapa pertama mengembuskannya, bahkan merasakannya.

Saya browsing. Teh tarim berasal dari Kota Tarim, Yaman. Saya menghubungkan tamasya ke Timur Tengah. Yaman salah satu negara Timur Tengah. Sebagaimana oleh-oleh khas Timur Tengah, orang membeli teh tarim setelah berkunjung ke sana.

Saya bersama teman atau tetangga suka menyambangi kenalan-kenalan yang pulang dari Timur Tengah. Kami senang mendengarkan pengalaman berkesan selama mereka berada di negeri orang, sambil menikmati makanan-makanan dan minuman khas yang dihidangkan.

Malam bertabur bintang ketika saya dan teman, mengunjungi seorang kenalan. Angin bertiup sejuk. Sesejuk suasana di dalam rumah. Ibu kenalan kami baru saja pulang dari Timur Tengah. Ia beramah tamah dengan dua wanita sebaya, duduk lesehan di atas karpet. Mereka menikmati kacang arab, kismis, kurma, dll, juga air zam-sam dalam gelas sloki. Kenalan kami keluar, menemui. Ia mempersilakan kami menikmati makanan-makanan khas itu. Setelah menuangkan air zam-zam, ia juga menuangkan minuman dari poci. Sejak masuk rumah, hati saya menebak, kali ini keinginan saya tersampaikan.

“Ini teh tarim, kan?” tanya saya. Suara saya menyita perhatian mereka.

“Teh tarim?” ulang kenalan setelah menyodorkan dua gelas teh hangat. Dia menjelaskan bahwa minuman teh itu dari merek yang sehari-hari dijual di warung-warung. Ibunya tidak mampir ke Yaman. Mereka suka minum teh hangat saat bertemu. Mereka tertawa; teman saya meledek; wajah saya memanas.

Saya terus penasaran, walau tersimpan di hati. Saya tak ingin kejadian memalukan itu terulang.

Untuk kesekian kali, saya berkunjung ke kenalan, bersama para tetangga. Beberapa hari sebelumnya ia dan suaminya pulang dari Timur Tengah. Kami disambut dengan aneka hidangan khas, di atas karpet kombinasi merah-putih. Tak lama setelah memberikan air zam-zam dalam gelas-gelas sloki, ia menuangkan munuman dari poci dalam wadah-wadah plastik.

“Silakan dicicipi teh tarimnya. Itu teh khas dari Yaman!” pinta tuan rumah. Tak ingin mengulang kesalahan sama, saya bertanya kepada tetangga yang duduk di sebelah saya. Hati saya langsung nyes, begitu ia menjawab bahwa tuan rumah mengatakan teh tarim. Saya cicipi sedikit demi sedikit teh tarim. Warnanya cokelat. Tapi tidak ada rasa pahit dan asam, laiknya teh lokal. Teh tarim rasanya segar, seperti ada campuran buah, entah buah apa.

Lalu saya bertanya bagaimana bentuknya. Bentuk teh tarim kepyur. Ia juga menjelaskan, suaminya pernah belajar di Kota Tarim, Yaman. Setelah berkunjung ke Arab Saudi mereka mampir ke Tarim di pondok itu, lalu membeli teh khas.

Sebelum pulang ia membagikan satu tas khusus berisi makanan-makanan khas. Keluar dari rumahnya saya seperti mendapat tambahan uang segepok, bisa merasakan segarnya teh tarim.

@@@


 

Selasa, 31 Desember 2024

Es Gempol



Dulu saya sedih setiap melewati Pasar Randusari. Letaknya tidak jauh dari TPU Bergota. Setelah saya menaiki jalan menanjak menuju makam bapak, lalu pulang, sambil beristirahat, lelah terbayar dengan menikmati semangkuk es gempol yang segar.

Matahari mulai meninggi. Saya tidak melihat wadah-wadah berisi komponen-komponen es gempol. Lapaknya kosong. Letaknya di pinggir pasar, mudah dilihat dari jalan raya. Saya pikir wanita lansia berkonde, wajahnya bulat, berkebaya kutubaru, kulitnya putih, ada keperluan atau sakit. Saya berlalu.

Lain waktu saat saya berziarah lagi, tidak menemukan minuman kesukaan itu. Lalu saya bertanya kepada wanita penjual bunga yang mangkal di sekitarnya.

            “Dia sekarang di rumah. Lapaknya dijual,” jawabnya sambil melirik bekas lapak es gempol. “Anak-anaknya punya pekerjaan sendiri-sendiri,” tambahnya, juga menyayangkan. Padahal pelanggannya banyak. Bahkan ia pernah bercerita bahwa salah satu pelanggannya yang kini tinggal di Amerika, membeli es gempolnya setiap pulang Semarang. Saya pulang dengan hati sedih.

Sejak itu, entah mengapa, saya tidak berminat minum minuman dingin berkuah santan, berisi: gempol warna putih, dan pleret merah muda, lalu diberi es batu. Padahal banyak penjual es gempol.

Sampai suatu siang saya jalan-jalan ke Pasar Johar, yang selesai direnovasi akibat kebakaran. Banyak kios kosong, terlebih di lantai dua. Banyak pedagang belum berpindah dari Pasar Johar baru. Udara panas semakin mengganas. Saya kehausan lalu mencari minuman. Ada penjual es gempol, satu-satunya penjual minuman dingin yang saya temui. Saya membeli. Tempat penyajiannya di gelas besar, bukan mangkuk seperti biasanya. Begitu saya santap, ada tambahan makanan, rasanya manis, bentuknya seperti mi. “Itu putu mayang, ciri khas gempol dari Welahan,” jelas penjualnya. Putu mayang biasanya sebagai penganan.

Seru makan es gempol welahan. Saya ketagihan menikmati gempol putih, pleret hijau, dan putu mayang rasa original: gula merah, dipadu kuah santan dan es batu. Setiap kali belanja ke Pasar Johar saya mampir. Bahkan terkadang saya ke Pasar Johar hanya untuk menimkati segelas es gempol welahan, yang khas dengan tambahan putu mayang.

Apakah ada es gempol dari daerah lain dengan varian berbeda? Mungkin.

@@@