Iis Soekandar: 2022

Jumat, 24 Juni 2022

Bubur Suro Mbah Rebo

                                                                                          


Desi, Fina, dan mama sedang menonton televisi. Mereka menyukai film animasi.

Tidak lama film animasi itu selesai, Ririn, sahabat Desi, memanggil.

            “Desi... Desi... Desi...” panggil Ririn.

            “Ada apa, Rin?” Desi keluar menemui sahabatnya.

            Beberapa saat kemudian, Desi mengambil potongan kardus-kardus yang biasa dibuat untuk rumah-rumahan. Dia juga memiliki koleksi beberapa boneka. Ririn dan Desi suka bermain rumah-rumahan.

            “Fin, ayo kita main rumah-rumahan!” ajak Desi.

            “Iya, Fin, bermain bersama Desi dan Ririn,” kata mamanya memberi semangat.

            “Ah, enggak, kamu bermain saja bersama Ririn. Aku mau di kamar saja, Tante,” tukas Fina lalu masuk ke kamar. Sementara Desi pergi ke depan bermain bersama Ririn.

Fina selalu menolak setiap kali diajak bermain bersama. Dia senang menyendiri di dalam kamar. Kalaupun keluar kamar, dia menonton televisi. Padahal Desi ingin menghiburnya. Akan tetapi, hingga kini, Fina masih suka bersedih.

Mama dan Desi sering mengeluh. Fina adalah sepupu Desi. Dua bulan lalu, ayah dan ibunya terpapar virus COVID-19 dan meninggal. Dengan demikian, Fina jadi yatim piatu. Untuk itulah mama dan papa Desi meminta Fina tinggal bersama mereka. Apalagi, Fina seusia Desi. Kini, Fina satu sekolah dengan Desi.

                                                                                 

ilustrasi: majalah Bobo

          Suatu saat, Desi bercerita tentang Mbah Rebo. Mbah Rebo yang dilahirkan pada hari Rabu itu sangat sayang kepada anak-anak. Maklumlah, ia tidak mempunyai anak dan tentu saja tidak memiliki cucu. Suaminya sudah meninggal. Sekarang, Mbah Rebo tinggal bersama dua keponakannya.

            “Kamu pernah makan bubur Suro, Fin?” tanya Desi saat makan siang.

            “Bubur Suro itu apa?” tanya Fina heran.

            “Setiap tanggal sepuluh bulan Suro atau Muharam, Mbah Rebo membuat bubur spesial. Namanya bubur Suro, mungkin karena dibuat pada bulan Suro. Bubur Suro terdiri dari bubur beras berwarna kuning dan ada campuran daging kambing. Rasanya gurih. Aromanya khas daging kambing. Lauknya telur dadar, perkedel kentang, sambal goreng udang, dan abon daging. Mbah Rebo membagikan bubur Suro gratis kepada anak-anak di kampung ini,” tutur Desi membuat Fina tertegun.

            “Wah, sepertinya bubur Suro enak sekali. Lauknya pun bermacam-macam. Mbah Rebo membagikan secara gratis?” tanya Fina senang.

            “Iya. Dan minggu depan sudah mulai bulan Suro. Kamu juga bisa mendapatkannya. Sekarang kamu menjadi warga kampung ini. Makanya kamu bermainlah bersama anak-anak di sini, supaya bisa berkenalan dengan Mbah Rebo.

            Fina manggut-manggut. Ia ingin makan bubur Suro buatan Mbah Rebo. 

                                                                                

ilustrasi: majalah Bobo

Pada tanggal sepuluh bulan Suro, anak-anak berkumpul di rumah Mbah Rebo. Mereka duduk di karpet. Sebelum membagikan bubur, Mbah Rebo memipin doa bersama. Intinya agar mereka diberi kesehatan dan kesejahteraan.  

            “Semua duduk yang tertib. Mbah akan membagikan bubur Suro,” ungkap Mbah Rebo. Setelah semua duduk dengan tenang, Mbah Rebo dan dua keponakannya membagikan bubur Suro dalam wadah plastik bening. Setiap anak menerima satu wadah bubur Suro, lengkap dengan sebuah sendok bebek di dalamnya.

            “Ada yang belum dapat bubur Suro?” tanya Mbah Rebo. Walaupun sudah tua, suara Mbah Rebo masih lantang. Badannya pun masih gagah dengan mengenakan kebaya dan kain.

            “Sudah, Mbah,” jawab anak-anak serentak.

            “Sekarang Mbah akan membagikan uang dan bingkisan kepada kalian yang yatim,” ungkap Mbah Rebo.

            “Hore...,” anak-anak yatim atau tidak memiliki ayah bersorak-sorai.

            Satu per satu Mbah Rebo memanggil nama anak-anak yatim. Kali ini Mbah Rebo membagikan uang dalam amplop. Ia juga memberi bingkisan berupa buku tulis dan alat-alat tulis. Mbah Rebo sudah membagikan sebanyak empat anak yatim.      

“Sekarang, Mbah minta Fina maju ke depan!” pinta Mbah Rebo.

            Fina kaget ketika ia juga dipanggil oleh Mbah Rebo dan akan diberi uang dan bingkisan. Dia mendapatkan bubur Suro gratis sudah senang. Desi dan Ririn memberi semangat agar Fina maju ke depan. Fina juga anak yatim.  

            Anak-anak senang menikmati bubur Suro. Fina pun tidak bersedih lagi. Dia bermain bersama anak-anak kampung. Ternyata tidak hanya dirinya, ada empat anak lain yang tidak memiliki ayah.

@@@

Cernak ini terbit di majalah Bobo, 16 Juni 2022




Kamis, 07 April 2022

Masker Batik Buatan Pak Tikno

                                                                                          

Langit tampak cerah. Berbeda dari biasanya, hujan turun beberapa hari terakhir. Di ufuk barat, matahari masih menyinarkan sinarnya. Suasana kampung ramai. Apalagi ini hari Minggu, hari libur. Sebagian anak bermain sepeda. Ada pula yang membeli kue. Beberapa tukang kue menjajakan jualannya. Ada juga yang hanya jalan-jalan.

Tidak lama Dhimas dan orangtuanya pulang dari bepergian. Mereka mengendarai sepeda motor. Begitu turun dari sepeda motor, Dhimas langsung menghampiri penjual putu bumbung yang mangkal di seberang rumahnya. Putu bumbung banyak disukai anak-anak. Selain rasanya lezat, putu bumbung menimbulkan bunyi ngiiiiiing saat dimasak.

“Tumben kamu pakai masker,” tegur Alvin yang sudah terlebih dahulu mengantre membeli putu bumbung. Biasanya, Dhimas enggan memakai masker saat keluar rumah. Kecuali dia pergi bersama kedua orangtuanya.

“Sssttt…. jangan keras-keras, nanti terdengar orangtuaku. Mereka juga menunggu ingin segera makan putu bumbung,” jelas Dhimas. Kedua orangtuanya sedang bercakap-cakap di teras.

Dhimas dan orangtuanya baru saja dari tempat wisata. Karena masih masa pandemi, mereka berwisata ke tempat wisata dalam kota. Sebagaimana kesenangan Dhimas, mereka pergi ke Monumen Tugu Muda. Monumen Tugu Muda dibuat untuk mengenang jasa pahlawan sehingga Kota Semarang terbebas dari penjajah. Di sekeliling Tugu Muda ada kolam dan air mancur. Dhimas paling suka berswafoto dengan latar belakang air mancur. Apalagi, sore itu cuaca cerah sehingga air mancur dinyalakan. Di sana juga ada taman untuk tempat bermain.

Setelah menunggu beberapa lama, Dhimas pulang dengan membawa sepuluh buah putu bumbung. Mereka menikmati putu bumbung yang masih hangat.

                                                                             

                                                                                ilustrasi: Bobo

Jika cuaca tidak hujan, Dhimas dan Alvin bermain sepeda. Hal ini untuk menghindari rasa bosan karena pembelajaran sekolah masih berlangsung di rumah secara daring.

 

“Dhimas, maskermu mana?” tanya Alvin saat Dhimas sudah sampai di depan pagar rumahnya.

“Malas pakai masker, ribet. Ayo, kita segera bermain sepeda. Mumpung tidak hujan,” ungkap Dhimas langsung mengayuh sepedanya dengan kencang. Alvin selalu gagal setiap kali meminta sahabatnya itu memakai masker.

Mereka bersepeda mengitari taman. Selain bersepeda ada anak-anak yang duduk-duduk menikmati bunga-bunga yang sedang mekar.

Saat mereka sedang asyik bersepeda, tiba-tiba seseorang memanggil Dhimas dari samping. Ternyata beliau Pak Lurah.

“Dhimas, berapa kali Bapak minta agar kamu memakai masker,” tegur Pak Lurah. “Sekarang masih pandemi. Pemakaian masker berguna agar kita tidak terpapar atau memaparkan virus COVID-19,” jelas Pak Lurah berulang kali, tetapi Dhimas tetap memandel.

Walaupun di luar jam kerja, Pak Lurah mengelilingi daerahnya. Beliau menindak warganya yang tidak mengikuti protokol kesehatan, di antaranya tidak memakai masker saat keluar rumah.

Dhimas hanya senyum-senyum. Setelah itu, dia mengerti apa yang harus dilakukan.

Seperti biasa, bagi siapa saja yang melanggar protokol kesehatan diminta menyanyikan lagu perjuangan. Selain sebagai hukuman, juga agar cinta tanah air. Dhimas menyanyikan lagu “Garuda Pancasila”. Garuda Pancasila. Akulah pendukungmu. Patriot proklamasi. Satria berkorban untukmu….

                                                                               

ilustrasi: Bobo

Anak-anak yang menonton pun bersorak-sorai. Mereka bertepuk tangan begitu Dhimas selesai menyanyikan lagu “Garuda Pancasila”. Wajah Dhimas merah padam karena malu. Namun, Dhimas tidak jera. Dia sudah berkali-kali terkena hukuman karena tidak memakai masker, kemudian diminta menyanyikan lagu perjuangan.

@@@

Suatu sore, Dhimas kembali menemui Alvin untuk bersepeda. Kali ini ada yang berbeda dari Alvin. Alvin memakai masker motif batik. Warnanya kombinasi hijau dan kuning.

“Alvin, maskermu baru, ya? Bagus, gambarnya lawang sewu,” tukas Dhimas tertarik.

“Aku membeli di tempat Pak Tikno. Pak Tikno menjual masker batik dengan gambar-gambar ciri khas Kota Semarang. Selain lawang sewu, ada juga gambar tugu muda, warak, burung blekok, gereja blenduk, dan buah asam. Warnanya pun beragam,” jelas Alvin.  

“Wah, ada gambar tugu muda dan warak. Antarkan aku ke Pak Tikno!” pinta Dhimas penuh semangat. Dhimas buru-buru masuk mengambil uang.

“Ayo.” Tentu saja Alvin senang. Temannya itu akan memakai masker.

Setelah mengambil uang, Dhimas dan Alvin pergi ke rumah Pak Tikno. Rumah Pak Tikno di gang sebelah.

Sejak di-PHK dari perusahaan konveksi, Pak Tikno menjual masker kain batik dengan gambar ciri khas Kota Semarang. Selain untuk menghidupi keluarganya, beliau ingin anak-anak bersemangat memakai masker saat keluar rumah. Masker yang dibuat terdiri dari dua lapis kain. Namun, Pak  Tikno tetap mengingatkan untuk memakai 2 lapis masker. Masker buatannya yang unik digunakan di sebelah  luar.

                                                                             

ilustrasi: Bobo

Dhimas membeli masker batik dengan gambar tugu muda dan warak, warna kesukaannya, merah dan putih. Sore itu dia memakai masker gambar tugu muda. Dia berjanji akan mengoleksi masker batik berciri Kota Semarang yang dibuat Pak Tikno. Ternyata, tidak hanya Dhimas dan Alvin, anak-anak lain juga senang membeli masker di tempat Pak Tikno. 

Kini tidak terdengar lagi ada anak menyanyikan lagu perjuangan. Semua tertib mengikuti protokol kesehatan. Pak Lurah pun senang semua warganya menaati peraturan.

@@@

Cerita anak ini pernah dimuat di majalah Bobo, 24 Maret 2022




Rabu, 23 Maret 2022

Misteri Es Puter

                                   


Anak-anak Panti Asuhan Taman Bunga ingin membuat es puter. Kebetulan, pohon mangga di halaman rumah panti sedang berbuah. Mereka ingin membuat es puter dari jus mangga. Mereka tahu cara membuatnya karena Kak Wawan pernah mengajari mereka. Kak Wawan adalah salah satu relawan yang sering membagikan ilmunya kepada anak-anak panti.

            Panti Asuhan Taman Bunga itu diasuh oleh Eyang Noto. Rumah Eyang Noto disumbangkan untuk menjadi panti asuhan anak-anak yatim piatu. Eyang Noto punya seorang cucu bernama Adit. Rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari panti asuhan. Itu sebabnya Adit sering sekali bermain  di panti asuhan.

     Suatu sore, seperti biasa Adit datang ke panti asuhan.

     “Teman-teman, aku sudah tahu, lo, cara membuat es puter dari jus mangga!” ujar Adit pada teman-temannya di panti. “Pertama, bikin dulu jusnya dan masukkan di kantung plastik. Lalu, ambil kantung plastik yang lebih besar dan isi es batu berukuran kecil-kecil. Kantung plastik berisi jus mangga lalu dimasukkan ke kantung yang lebih besar itu. Lalu dikocok-kocok hingga jus itu menjadi es puter,” kata Adit.

       “Wah, hebat, kamu tahu cara bikin es puter, Dit. Padahal, waktu Kak Wawan datang ke panti, kamu tidak hadir,” ungkap Hening, salah satu anak panti.

       “Eyang yang mengajari aku cara membuat es puter,” jawab Adit.  

            “Kalau begitu, kita praktik bikin es puter sama-sama, yuk! Persediaan mangga di panti ini kan, cukup banyak,” kata Hening.

                                                                                         

                                                                      ilustrasi: Bobo

   Mereka lalu mengikuti cara yang diajarkan Kak Wawan. Caranya, mirip dengan yang ditunjukkan Adit tadi. Setelah jus mereka jadi, mereka memasukkannya ke kantung plastik masing-masing. Lalu, dimasukkan lagi ke kantung berisi es batu yang kecil-kecil. Mereka meletakkan di atas wadah besar di atas meja.

            Sambil menunggu jus itu benar-benar membeku dan padat, mereka bersih-bersih rumah. Setelah bersih-bersih rumah selesai, Adit megambil jus mangga yang sudah menjadi es puter di meja. Ia lalu menemui Eyang di paviliun sebelah panti. Anak-anak panti yang lain, menikmati es puter mereka masing-masing di ruang makan. Namun, ada sesuatu yang aneh.

         “Lho, mengapa jus di kantung ini tidak membeku?” ungkap Tiwi ketika akan mengambil es puter di wadah. Di wadah itu, tersisa dua kantung es puter. Yang satu membeku sempurna. Yang satu masih cair seperti jus mangga. Anak-anak yang lain  heran.Tentu saja Tiwi memilih kantung berisi jus mangga yang sudah membeku menjadi es puter.

     “Kasihan Kak Laras, kebagian yang masih cair,” ungkap Hening yang membuatkan es puter untuk Kak Laras. Kak Laras adalah penghuni panti paling besar di antara mereka dan sudah kuliah.

Tak lama, Kak Laras pulang. Walaupun jus itu tidak menjadi es puter, Kak Laras minum dengan senang hati. Ia tampak kelelahan. Jus mangga itu sebagai pelepas dahaga.

@@@

     Ternyata, kejadian itu terulang lagi. Padahal, mereka sudah mengikuti cara membuat es puter dengan benar.

                                                                                     

                                                                          ilustrasi: Bobo

       “Jangan-jangan, ini ulah almarhumah Reva. Saat di panti dulu, dia tidak boleh minum es karena punya penyakit asma,” ungkap Tiwi.

       “Aku takut, nih,” kata Hening yang tinggal di panti itu setelah Reva meninggal.  Hening dianggap sebagai pengganti Reva di panti itu.

       “Orang meninggal tidak bisa hidup lagi. Kalian tidak usah takut. Lagi pula, Reva meninggal di rumah pamannya, karena terpapar virus COVID-19,” jelas Kak Laras  menenangkan mereka.

       Meski Kak Laras menghibur, para penghuni panti yang lain takut, terlebih Hening dan Tiwi. Maklumlah, keduanya sebaya dengan almarhumah Rava. Semua bertanya-tanya, mengapa selalu ada satu bungkus jus mangga yang gagal menjadi es puter.

       Suatu ketika, Kak Laras menyarankan supaya melabeli kantung plastik bagian bawah sesuai nama pemiliknya. Dengan demikian, akan terlihat milik siapa yang tidak menjadi es puter. Mereka pun menerima saran itu.

@@@

       Sore ini, selesai bersih-bersih, anak-anak panti mengambil es puter di meja makan. Kali ini ada yang berbeda karena diberi label nama masing-masing. Hening yang terakhir mengambil kantung es puter di wadah. Ia memeriksa dua kantung jus mangga yang tersisa di wadah.

                                                                                

ilustrasi: Bobo

“Mengapa kantung yang ada namaku tidak ada, ya? Yang satu ini punya Kak Laras. Yang satu lagi, tanpa nama dan masih cair. Gagal jadi es puter,” kata Hening.

     Setelah berpikir sebentar, Hening jadi teringat pada Adit. Ia lalu pergi ke paviliun. Tiwi ikut mengantar. Tampak Adit masih makan es puter sambil membaca komik. Hening meminta Adit memeriksa kantung es puternya. Ternyata benar, ada label bertuliskan nama Hening di kantung itu. Adit memang tidak tahu, jika setiap kantung diberi nama pemiliknya. Adit sendiri tidak memberi nama di kantung jus mangganya.

     Hening akhirnya bercerita tentang jus mangga yang tetap cair walau diberi es. Hening meminta Adit menjelaskan cara membuat es puter miliknya.

                                                                                  

                                                                          ilustrasi: Bobo

“Jus mangga aku masukkan ke kantung plastik ini. Lalu, aku masukkan di kantung plastik besar yang telah aku isi es ukuran kecil-kecil. Lalu, aku tutup perekatnya dan kukocok-kocok. Begitu kata Eyang. Kalian juga pakai cara begitu, kan?” jelas Adit.

       Hening dan Tiwi saling pandang dan tertawa.

       “Es batunya tidak kamu campur garam, Dit?” tanya Hening.

       “Masa bikin es puter pakai garam?” tanya adit heran.

      Hening kini mengerti mengapa selalu ada jus mangga yang tidak membeku.

       “Garam membuat jus menjadi dingin, makanya bisa menjadi beku. Kalau begitu, jus mangga yang tidak bisa menjadi es puter itu milikmu,”  jelas Hening. Mereka tertawa tergelak.

      Adit baru tahu sekarang. Ia cengar-cengir sambil meminta maaf. Sejak itu, tidak satu pun di antara mereka gagal membuat es puter, termasuk Adit.

@@@

Cerita anak ini pernah terbit di majalah Bobo, 17 Maret 2022


                                                               

Minggu, 20 Februari 2022

Lumpia Spesial Naila dan Tifa

                                                                                     

“Naila, kamu mau ke mana?” tanya Tifa saat duduk di teras. Dia melihat Naila  berjalan melewati rumahnya.

            “Aku akan ke pasar untuk membeli kulit lumpia,” jawab Naila. Naila lalu melanjutkan berjalan menuju pasar.

            Dengan dibantu ibunya, Naila berjualan lumpia. Naila menjajakan lumpia goreng di kampung-kampung pada sore hari. Terkadang dia juga mendapat pesanan untuk hajatan. Dari penjualan itu, Naila  mendapatkan uang jajan, sekaligus ia juga membantu orangtuanya.

            Lumpia adalah makanan khas Kota Semarang. Isinya terbuat dari bahan utama rebung. Lumpia perpaduan makanan dari Tionghoa dan Jawa. Di banyak tempat dijumpai pedagang lumpia. Termasuk juga di perkampungan-perkampungan seperti Naila menjual lumpia.

            Tiba-tiba, Tifa mendapat ide. Dia juga ingin membantu orangtuanya sekaligus mendapatkan uang saku sendiri.

            Tifa langsung menemui ibunya dan menceritakan idenya itu.

            “Ibu setuju. Nanti ibu bantu. Tapi, kamu mesti bilang dulu sama Naila. Semoga dia juga setuju,” saran ibu. Tifa manggut-manggut.

            Keesokan hari, Tifa berkunjung ke rumah Naila. Dia mengutarakan maksudnya.

            “Nai, kamu kan membeli kulit lumpia di pasar. Bagaimana kalau kulit lumpia aku yang buat? Kamu tinggal pesan berapa yang kamu inginkan. Oya, kulit lumpia yang akan aku buat lunak, tidak keras seperti yang kamu beli di pasar, tetapi harganya sama. Dengan demikian, kamu juga bisa menjual lumpia basah,” tutur Tifa. Lumpia basah adalah kulit lumpia diisi rebung lalu digulung, tanpa digoreng.

            “Wah, senang sekali. Aku bilang ibuku dulu ya,” tukas Naila lalu ke dalam menemui ibunya.

Tidak lama kemudian. “Ibuku setuju. Ibu bilang langsung pesan 25 lembar,” kata Naila.

            Keesokan hari dengan dibantu ibunya, Tifa membuat kulit lumpia. Dia membuat sejumlah pesanan yang diminta Naila. Setelah jadi dia segera menyetorkan ke rumah Naila.

            Sore hari Tifa datang lagi ke rumah Naila.     “Nai, aku bantu kamu berjualan, ya?” tawar Tifa bersemangat.

            Tentu saja Naila senang. Keduanya lalu menjajakan lumpia goreng dan basah. “Lumpia spesial... lumpia spesial...harga tetap, Rp 3 ribu...”

            “Apanya yang spesial, Nai?” tanya seorang pelanggan saat akan membeli.

            “Kulitnya tidak keras, Bu. Tifa yang buat. Makanya saya sekarang juga menjual lumpia basah,” jelas Naila. Tifa senyum-senyum.

            “Kalian sungguh kreatif,” ungkap ibu itu lalu membeli lumpia goreng dan lumpia basah.

            Sore itu, lumpia goreng dan lumpia basah terjual laris. Banyak yang membeli lumpia goreng sekaligus lumpia basah. Naila dan Tifa senang, selain membantu orangtua, mereka juga ikut melestarikan budaya dan cinta bangsa.

@@@

Cerita ini pernah terbit di Nusantara Bertutur, Minggu 20 Februari 2022


Kamis, 20 Januari 2022

Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang

                                                                                         

Aloon-Aloon MAS dari depan
(Foto: Iis Soekandar)

            Apa kabar, teman-teman? Semoga semua sehat. Lama tidak tamasya. Pandemi selama hampir dua tahun telah membatasi aktivitas ke luar. Termasuk bertamasya. Di samping itu tempat-tempat wisata juga ditutup. Seiring keadaan yang semakin membaik, pemerintah  membuka tempat-tempat wisata. Kita pun bisa bertamasya. Tapi jangan lupa, prokes tetap dijalankan dengan tertib. Bagaimanapun pandemi belum berakhir. Dengan demikian, kita tetap dapat bersenang-senang; badan kita tetap sehat.

            Tamasya saya kali ini ke Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang. Sebagai warga Semarang, saya merasa ini tempat wisata baru. Sebelumnya tempat ini berubah menjadi pasar. Namanya pasar Ya`ik. Di sana ada pedagang pakaian, kacamata, jam, makanan, minuman, obat-obatan, dan kebutuhan-kebutuhan lain. Tanpa sedikit pun memberikan ruang untuk publik. Suatu saat terjadi kebakaran. Setelah tempat ini dibangun, difungsikan sebagaimana aslinya, sebagai alun-alun. Sangat berbeda dari sebelumnya yang penuh dengan pedagang dan kotor.

                                                                                      

salah satu spot foto
(Foto: Iis Soekandar)

            Tempat ini dibuka untuk umum sebagai alun-alun bersamaan dengan diresmikannya Pasar Johar yang juga dibangun kembali karena kebakaran. Peresmian dilakukan oleh Bapak Presiden pada tanggal 5 Januari 2022 lalu. Pasar Johar terletak di belakang alun-alun. Sedangkan di sebalah kanan alun-alun ada Pasar Kanjengan. Kedua pasar ini sama-sama selesai dibangun. Ada akses menuju kedua pasar tersebut dari alun-alun. Sambil menyelam minum air, teman-teman bisa bertamasya kemudian sekalian berbelanja.

            Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang terletak di Jalan Pemuda, Kecamatan Semarang Tengah. Sesuai namanya alun-alun berada di depan Masji Agung Semarang. Itu sebabnya teman-teman tidak perlu khawatir jika tiba waktunya salat. Teman-teman hanya berjalan beberapa langkah untuk menunaikan ibadah di masjid. Tidak jauh dari Aloon-Aloon Masjid Agung Semarang, terdapat tempat wisata Kota Lama, berjarak sekitar 300 meter. Jadi, setelah ke alun-alun, teman-teman bisa sekalian ke Kota Lama atau sebaliknya. 

                                                                                     


                                                           tangga menuju ke lapangan

                                                                (Foto: Iis Soekandar)

Jalan menuju ke alun-alun mudah dijangkau. Banyak angkutan umum yang melewatinya. Ada angkutan daihatsu berwarna oranye dari arah Mangkang, Manyaran, dan Genuk. Atau naik bus Trans Semarang turun di halte terdekat. Di area alun-alun juga dibangun halte bus Trans Semarang. Sampai dengan tulisan ini saya tulis, belum ada bus trans yang masuk. Ketika saya bertanya kepada pihak yang berkompeten, dia menjawab menunggu peresmian dari pihak armada Trans Semarang. Semoga pihak Trans Semarang segera meresmikan halte tersebut agar semakin banyak angkutan menuju ke alun-alun.

                                                                       

halte yang telah disediakan di alun-alun
(Foto: Iis Soekandar)

        Alun-alun ini tidak hanya lapangan luas, yang terletak di atas, tetapi juga tempat santai yang terletak di bawah. Ada banyak spot-spot foto. Sebagai area publik, tempat ini juga dilengkapi tempat parkir yang terletak di bawah tanah, baik untuk roda dua maupun roda empat. Toilet untuk buang air pun sudah tersedia di area tempat parkir. Jadi, teman-teman tidak perlu risau jika berada di alun-alun tiba-tiba ingin buang air. Hanya, toilet yang terletak di alun-alun bagian belakang belum berfungsi karena belum ada airnya. 

                                                                                      

tempat parkir di bawah tanah
(Foto: Iis Soekandar)

Untuk lebih menggairahkan masyarakat mengunjunginya, takmir masjid mengadakan acara senam pada setiap hari Minggu pagi. Bagi teman-teman yang berada di Kota Semarang dapat memanfaatkan kesempatan ini. Selain untuk menjaga kesehatan juga refreshing.

                                                                         

kegiatan senam pada Minggu pagi
(Foto: Iis Soekandar)

       Sebagai tempat yang dikunjungi masyarakat umum, teman-teman tidak perlu khawatir mencari makanan dan minuman. Banyak pedagang makanan dan minuman di sekitar alun-alun. Ada pedagang nasi, minuman, bakso, mi ayam, gilo-gilo yang segar dengan buah-buahannya, juga aneka makanan cepat saji yang kini marak, seperti tempura dan sosis yang diolah dengan dibakar. Terlebih jika hari Minggu, banyak para pedagang yang menjajakan dagangannya.

            Dengan dibukanya alun-alun, selain bermanfaat bagi pemgunjung, tentu juga memberi nilai tambah bagi masyarakat pedagang. Mengembalikan ekonomi yang terpuruk karena pandemi dan memberi lahan bagi pedagang baru memulai usaha.

            Semoga tulisan ini bermanfaat, sampai jumpa pada tamasya saya berikutnya!

@@@


 




Rabu, 05 Januari 2022

Ketika Ruli Rindu Bi Siti

                                                                                        

            Sore itu Ruli sedang membersihkan kebun. Disapunya sampah-sampah dengan sapu ijuk. Kebun yang asri itu bunga-bunganya sedang bermekaran.

“Ada paket, buat kamu, Rul,” kata bundanya sambil membawa bungkusan ke kebun belakang rumah. Bungkusan itu lalu diletakkan di atas meja yang ada di kebun.

            “Iya, Bun,” jawab Ruli sambil menyapu.

            Kemudian, Bundanya kembali masuk ke rumah. Setelah kebun bersih dari sampah-sampah, Ruli mencuci tangan dan menghampiri bungkusan itu.

            “Wah, ini apem comal dari Bi Siti. Asyik ...” ungkap Ruli senang. Ruli langsung membuka bungkusnya dan menikmati apem comal.

            Begitulah Ruli jika rindu Bi Siti. Dia memesan apem comal, makanan khas daerah Comal, Pemalang, Jawa Tengah, tempat tinggal Bi Siti. Kemarin Ruli meminta Bundanya mentrasfer uang sesuai harga apem comal ditambah ongkos kirim kepada Bi Siti.

                                                                                         

                                                                    ilustrasi dari Bobo

              Bi Siti pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di keluarga Ruli. Setiap kali kembali dari desa, Bi Siti selalu membawa apem comal. Sayang, pandemi melanda negeri ini. Bi Siti diminta pulang ke desa oleh suami dan anaknya. Mereka khawatir Bi Siti ikut terpapar virus. Sebagai gantinya, Ruli membantu bunda mengerjakan pekerjaan rumah, di antaranya membersihkan kebun. Setiap hari, Ruli di rumah karena pembelajaran daring.

            Kini, kalau ingin makan apem comal, Ruli harus memesan pada Bi Siti. Sekaligus untuk mengobati rindu kepada Bi Siti. Apem comal rasanya gurih dan manis. Bahan utamanya dari santan, tepung beras, dan gula merah. Warnanya merah kecoklatan.

            “Ruli, kamu makan apa?” tanya Kakeknya lalu duduk di sebelahnya.

            “Ini, Kek, apem comal. Ayo, Kek, sekalian makan!” jawab Ruli sambil makan dengan lahap.

            Kakek pun mengambil apem comal dan menikmatinya.

            “Kamu ingin melihat duplikat apem comal? Besok malam Kakek beri tahu,” ungkap kakek. Tentu saja Ruli penasaran.

            “Memangnya ada duplikat apem comal? Kenapa mesti menunggu besok malam, Kek?” ulang Ruli. Kakek tetap tidak menjelaskan karena sengaja membuat cucunya itu penasaran. Ruli disuruh menunggu besok malam.

@@@

            Hari berikutnya, Ruli menagih Kakek agar memperlihatkan duplikat apem comal seperti janjinya. Malam  itu, Kakeknya meminta Ruli ke kebun belakang rumah. Kebun itu hanya ditanami tanaman-tanaman berbunga sehingga dapat melihat langit dengan lapang.

            “Kamu lihat ke langit!” pinta Kakeknya.

            “Wah, bulannya bundar, warnanya merah kecoklatan. O iya, malam ini sedang terjadi gerhana bulan,” ungkap Ruli baru teringat. Beberapa hari lalu gurunya mengatakan bahwa malam ini ada gerhana bulan. Untuk itu, para murid diminta menyaksikannya. 

                                                                                       

                                                                  ilustrasi dari Bobo

                  “Bulat, merah kecoklatan seperti apem comal, kan,” jelas kakek.

            “Benar, Kek, bulat sempurna, warnanya merah kecoklatan, seperti apem comal. Padahal, biasanya bulan purnama warnanya putih,” tutur Ruli yang takjub melihat gerhana bulan total.

            “Kamu tahu, mengapa terjadi gerhana bulan? Itu karena raksasa jahat bernama Betara Kala memakan bulan. Makanya, masyarakat pada zaman dulu diminta menabuh lesung padi. Lesung padi sebagai jelmaan jasad Betara Kala agar raksasa jahat itu memuntahkan bulan,” cerita kakeknya.

            “Itu mitos, Kek,” sanggah Ruli.

            “Masa?”

                                                                              

                                                                   ilustrasi dari Bobo

          “Gerhana bulan terjadi karena matahari, bumi, dan bulan terletak pada satu garis lurus. Gerhana bulan kali ini, jarak bulan paling dekat dari bumi. Makanya, bulan yang kita lihat sekarang lebih besar dari biasanya. Ini gerhana bulan istimewa,” jelas Ruli.

            “Wah, cucu Kakek pandai,” ungkap Kakek.

Kemudian, Ruli menjelaskan dengan ilmu pengetahuan yang dia peroleh dari sekolahnya.

            “Orangtua Kakek dulu tidak punya biaya untuk menyekolahkan Kakek. Makanya, sekolah Kakek hanya sampai kelas 2 SD,” cerita kakek.

            “Syukurlah, sekarang ada sekolah gratis sampai 12 tahun. Omong-omong, apem comal dari Bi Siti masih dua buah, Kek. Tadi Ruli simpan di kulkas. Ruli ambil dulu, nanti kita makan bersama,” ajak Ruli.

            Mereka pun menikmati apem comal sambil melihat gerhana bulan.

@@@

Cerpen ini pernah terbit di majalah Bobo, 30 Desember 2021