Iis Soekandar: 2022

Sabtu, 01 Oktober 2022

Mengapa Dimas Tak Menjawab Pesan?

                                                       

“Dimas, kemarin Bu Naning memberi tugas apa? Waktu itu ponsel mamaku tiba-tiba layarnya tidak menyala. Untung siang ini sudah diperbaiki, jadi bisa kupinjam” tanya Galuh kepada sahabatnya melalui Whatsapp. Namun, Dimas tidak segera menjawab. Mungkin dia sedang tidur siang.

Bu Naning, wali kelas mereka, mengadakan pertemuan seminggu sekali melalui aplikasi google meet. Kemudian, tugas-tugas dikumpulkan setiap hari Sabtu.

Hingga sore hari, Dimas tidak menjawab. Galuh akan datang ke rumahnya. Namun, pintu rumahnya tertutup saat Galuh sengaja lewat di depannya. Di samping itu, tidak ada seorang pun anggota keluarganya di luar.

                                                                   

ilustrasi: Bobo

Mungkinkah Dimas dan keluarganya pergi? Bukankah ia bisa menjawab di mana saja walaupun tidak berada di rumah? Terpaksa Galuh pergi ke rumah Hilda.

“Hil, ada tugas apa saja dari Bu Naning?” tanya Galuh kepada Hilda. Galuh menjelaskan mengapa hari Senin tidak hadir secara virtual.

“Kita disuruh mengerjakan modul matematika halaman 27 dan 28. Lalu, IPS masih melanjutkan tugas minggu kemarin. Karena teman-teman kita banyak yang belum mengerjakan. O iya, kita diminta mengumpulkan tanaman gantung untuk penghijauan sekolah,” jelas Hilda panjang lebar.

“Terima kasih banyak, Hil. Aku akan mengerjakan tugas-tugas itu,” jawab Galuh.

Tidak lama setelah mencatat tugas-tugas, Galuh pulang. Pandemi belum berakhir. Lebih baik berada di rumah kecuali ada hal-hal penting. Saat melewati rumah Dimas, pintu rumahnya masih tertutup. Bahkan, pagarnya juga tertutup. Biasanya, karena papanya bekerja di rumah, pintu pagarnya terbuka.

Keesokan hari, ketika sarapan bersama di ruang makan, mama Galuh memberi kabar tentang keluarga Dimas.  

“Ternyata keluarga Pak Herman terpapar virus COVID-19,” ungkap mama Galuh sedih.

“Lalu Dimas bagaimana, Ma?” tanya Galuh dengan spontan.

“Pak Herman, Bu Herman, Dimas, dan kedua kakaknya terpapar semua,” jelas mama Galuh.

Pantas saja rumah mereka tutup sejak kemarin. Bahkan, pesan Galuh pun tidak dibalasnya.

Siangnya, Bu RT memberi kabar agar semua warga membantu keluarga yang sedang isoman atau isolasi mandiri. Secara bergiliran, setiap keluarga di kampung ini akan menyumbang makanan untuk keluarga Dimas.

Mendengar kabar itu, Galuh juga tergerak hatinya untuk membantu Dimas. Lalu, ia menghubungi Hilda dan Intan. Intan adalah sahabat Hilda. Galuh, Dimas, Hilda, dan Intan selain teman sekelas, juga tetangga satu kompleks.

                                                                                     

                                                                              ilustrasi: Bobo

Sore ini, Galuh, Intan, dan Hilda bertemu secara virtual. Galuh yang mengundang mereka melalui google meet. Lalu Intan dan Hilda bergabung.

“Yuk, kita dukung Dimas agar tetap bersemangat. Dengan demikian, ia bisa cepat sembuh dan sekolah lagi,” ajak Galuh.

“Aku setuju sekali! Aku akan membuat makanan kesukaan Dimas,” ungkap Hilda.

“Aku akan membeli buku fiksi. Dia juga suka membaca buku. Nanti aku cari di toko online,” usul Galuh.

“Sebagai hiburan, aku akan membelikan dia mainan ular tangga. Dia bisa bermain dengan kedua kakaknya di rumah,” ungkap Intan.

Setelah menemukan kesepakatan, masing-masing undur diri. 

Suatu saat Galuh berkirim pesan kepada Dimas menanyakan kabar. Dimas menjawab baik-baik saja. Dia dan keluarganya hanya perlu isoman. Dimas pun menerima tawaran Galuh untuk bertemu secara virtual. Maklumlah, lama mereka tidak bertemu. Mereka ingin tahu keadaan Dimas.

                                                                  

ilustrasi: Bobo

“Hai, Dimas, apa kabar?” tanya Intan.

“Dimas, kamu baik-baik saja, kan?” sambung Hilda tak sabar.

“Aku baik-baik saja, teman-teman. Aku berterima kasih atas dukungan kalian. Aku suka kue combro buatan Hilda. Untuk mengisi waktu luang, aku membaca buku petualang pemberian Galuh. Wah, seru ceritanya. Terima kasih juga permainan ular tangganya Intan. Aku bermain ular tangga bersama kedua kakakku,” ungkap Dimas.

“Syukurlah, kamu tampak sehat!” tukas Galuh.

“Kata Papa, jika kita sedang ditimpa penyakit, sebetulnya delapan puluh persen penyembuhannya, ada pada diri kita sendiri. Yaitu, dengan berpikir positif dan bersenang-senang. Jadi, obat hanya menyembuhkan dua puluh persen. Kami sekeluarga mengikuti saran Papa itu,” tutur Dimas dengan penuh semangat.

Mereka senang mendengar penjelasan Dimas. Setelah puas bertemu secara virtual, mereka berpisah.

Setelah isoman beberapa lama, akhirnya Dimas dan keluarganya sehat kembali. Bu Naning dan teman-teman senang karena Dimas dapat kembali mengikuti pelajaran.

@@@

Cerpen ini pernah terbit di majalah Bobo, 22 September 2022


 


 


Siapa Makan Apel Merah?

                                                    

Raviu, Tegar, dan Akbar terlihat sedang memarkir sepedanya di halaman rumah Pak Bowo. Rumah Pak Bowo searah dengan rumah mereka. Sepulang sekolah, mereka sering duduk-duduk di bawah pohon sambil beristirahat di halaman rumah Pak Bowo. Halaman rumah Pak Bowo luas dan rindang karena banyak pepohonan. Apalagi pohon jambu airnya sedang berbuah. Di samping itu, Pak Bowo orang baik. Ia seorang peneliti dan senang rumahnya didatangi anak-anak.

      “Pak Bowo, minta buah jambu airnya ya!” pinta Raviu yang bertubuh tambun. Pak Bowo kebetulan baru saja keluar dari rumahnya. Ia sedang berjalan menuju laboratorium yang teletak di sebelah rumah. Pak Bowo membawa sebuah apel warna merah.

       “Silakan ambil! Tapi, jangan lupa cuci tangan!” pesan Pak Bowo sebelum melanjutkan aktivitasnya. Begitulah Pak Bowo selalu mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan.

       “Baik, Pak,” jawab mereka hampir bersamaan dengan senang hati.

       Mereka langsung memanjat pohon jambu air dan memetik banyak buah jambu. Tidak hanya mencuci tangan, jambu-jambu itu pun dicuci. Di sisi kiri halaman rumah Pak Bowo disediakan kran.

       “Tumben, tadi Pak Bowo membawa buah apel. Sudah lama aku tidak makan apel,” ungkap Raviu. Mereka makan buah jambu di bawah pohon.

       “Iya, ya, padahal pohon jambunya sedang berbuah. Hm...segar karena banyak airnya,” sambung Tegar. Walaupun tubuhnya kecil, dia paling banyak menghabiskan buah jambu.

       “Tapi, rasa buah jambu beda dengan apel. Siapa tahu, Pak Bowo bosan makan buah jambu, terus ingin makan buah apel merah,” tukas Akbar.

       “Atau, Pak Bowo sedang membuat percobaan berkaitan dengan apel merah. Bukankah tadi langsung masuk ke laboratorium?” terka Tegar.

         Mereka makan jambu air dengan puas. Jika ingin ke kamar mandi, mereka pergi ke belakang rumah. Kamar mandi khusus untuk pembantu Pak Bowo berada di belakang rumah.

      Setelah puas makan jambu air, mereka pamit. Mereka menemui Pak Bowo di laboratoriumnya.

      Tok tok tok...

      “Maaf, Pak Bowo, kami mau pamit dan terima kasih jambu airnya,” ungkap Akbar. Pak Bowo tidak segera menjawab, tapi malah terlihat bingung. Beliau seperti sedang mencari-cari sesuatu.

                                                                                        

ilustrasi: Bobo

“Apakah di antara kalian ada yang makan apel di atas meja? Sebelum Bapak pergi untuk makan siang, apel ini tiga potong. Sekarang, tinggal dua potong. Bapak sudah tanya Mas Baskoro, tapi dia bilang tidak makan,” tanya Pak Bowo. Mas Baskoro adalah pembantunya.

       “Saya tidak makan, Pak!” jawab Akbar.

       “Saya tidak makan, Pak,!” kata Tegar.

       “Saya juga tidak makan, Pak!” tambah Raviu.

       “Memangnya kenapa kalau makan buah apel itu, Pak?” tanya Raviu penasaran. Begitupun Tegar dan Akbar.

       “Ah, tidak apa-apa. Silakan kalau kalian mau pulang,” jawab Pak Bowo.

       Mereka pun langsung pulang. Meski Pak Bowo mengatakan tidak apa-apa, ketiganya penasaran. Pasti ada sesuatu yang dirahasiakan Pak Bowo.

       Dua hari kemudian, Raviu tidak masuk sekolah. Tegar dan Akbar menengok ke rumahnya sepulang sekolah.  

       “Perutku sakit desentri. Apa gara-gara aku makan apel di laboratorium Pak Bowo? Sakit desentri bisa juga disebabkan makanan yang tidak terjaga kebersihannya, begitu kata dokter,” jelas Raviu sambil terbaring di tempat tidur.

Kemudian Raviu bercerita. Siang itu ketika Tegar dan Akbar ke kamar mandi, ia melihat Pak Bowo keluar dari laboratorium. Pada saat itulah Raviu mengambil apel merah dan menyantapnya. Toh hanya sepotong, pikirnya.

                                                                                 

ilustrasi: Bobo

“Jadi kamu yang makan apel percobaan Pak Bowo?” tanya Tegar. Akbar yang mendengar juga heran.

       “Iya, maafkan aku teman-teman. Aku berbohong pada kalian terlebih kepada Pak Bowo. Setelah aku sembuh, maukah kalian antar aku ke rumah Pak Bowo? Aku mau minta maaf sekalian ingin tahu apel merah yang aku makan.”

       Tentu saja keduanya bersedia. Di samping itu mereka penasaran ada apa dengan apel merah itu. Bukankah buah apel rasanya lezat? Mengapa perut Raviu malah sakit?

       Raviu, Tegar, dan Akbar sengaja menemui Pak Bowo di laboratorium. Betapa mereka kaget setelah mendengar keterangan Pak Bowo.

       “Pantas saja perut Raviu sakit,” ucap Pak Bowo.

Kemudian, Pak Bowo memperlihatkan tiga stoples masing-masing berisi sepotong apel merah.

       “Stoples pertama berisi apel normal, artinya tidak tersentuh tangan kotor. Stoples kedua berisi apel kotor. Karena Istri bapak yang baru saja beraktivitas di luar sengaja Bapak suruh pegang apel secara keseluruhan. Sedangkan pada stoples ketiga, bapak suruh istri Bapak mencuci dulu tangannya dengan bersih sebelum menyentuh apel itu. Lihatlah, mana yang paling banyak berwarna hitam? Apel yang kotor, bukan? Karena banyak mengandung bakteri. Nah, tempo hari Raviu menyantap apel yang kotor. Itulah pentingnya mencuci tangan sebelum makan.”

       Mereka manggut-manggut. Mereka semakin mengerti pentingnya menjaga kebersihan. Terutama Raviu berjanji tidak teledor lagi.

@@@

Cerpen ini pernah terbit di majalah Bobo, 22 September 2022


 


Selasa, 06 September 2022

Cita-Cita Peri Brownis

                                                                     

Peri Brownis sedang merenung di taman. Pandangannya ke atas.  Dia membayangkan seandainya bisa terbang dan melihat seisi dunia. Dia akan menembus awan dan langit. Alangkah senangnya seperti peri-peri lain. Namun sayang, sayap kanannya patah sejak lahir, sehingga Peri Brownis tidak dapat terbang. Tidak lama kemudian Peri Brownis melihat Koko datang sambil menangis.

      “Hu... hu... hu...”

     “Mengapa kamu menangis, Koko?” tanya Peri Brownis.

     “Nenek belum datang,” jawab Koko.

      “Nenek sedang bekerja di ladang. Nenek bekerja supaya dapat membelikanmu makanan, memenuhi kebutuhan sekolah, dan memberi uang jajan. Jadi, Nenek bekerja untuk kamu, Koko,” hibur Peri Brownis.

       “Benarkah, Nenek bekerja untuk aku?” tanya Koko tidak percaya.

       “Iya, Nenek sebagai pengganti kedua orangtuamu yang telah meninggal,” hibur Peri Brownis.

       Koko merenung, lalu manggut-manggut.

       “Nah, sekarang bermainlah lagi, mungkin Nenekmu sedang perjalanan pulang.”

       “Baiklah, aku menunggu Nenek pulang sambil bermain bersama pusi,” ungkapnya senang, lalu bernyanyi-nyanyi sambil loncat-loncat bersama kucing kesayangannya.

                                                                                    
ilustrasi: Bobo

Peri Brownis kembali merenung. Ia merenungi nasibnya yang tidak dapat terbang. Sehari-hari pekerjaannya menghibur Koko karena ditinggal neneknya ke ladang. Tiba-tiba Peri Brownis melihat seekor kupu-kupu yang hinggap di dahan. Warnanya pink dengan totol-totol hijau muda. Ketika didekati, kupu-kupu itu terbang tinggi.

       Ah andai aku seperti kupu-kupu itu bisa terbang sesuka hati. Peri Brownis menitikkan air mata.

@@@

       Seperti biasa, Peri Brownis berada di taman. Dia sedang sibuk memberi pupuk dan menyirami tanaman. Tidak lama, kupu-kupu warna pink dengan totol-totol hijau muda hinggap di dahan. Siapapun yang melihat pasti suka, begitu pun Peri Brownis.

        “Peri Brownis...” panggil Koko tiba-tiba dengan suara serak.

      “Kamu sakit, Ko?” tanya Peri Brownis heran.

      “Sebetulnya badanku tidak sakit. Tapi, suaraku serak, padahal aku akan mengikuti lomba menyanyi.”

             “Kamu banyak makan gorengan dan es, ya, sehingga suaramu serak. Makanya, kamu harus menghindarinya untuk sementara waktu.”

“Aku ingin menjadi penyanyi bertaraf internasional agar dapat keliling dunia.  Apakah itu mungkin, Peri Brownis?”

          “Mungkin saja.”

          “Apakah suara serakku dapat sembuh, Peri Brownis?” tanya Koko masih sedih.

          “Tentu bisa. Pagi dan sore akan aku buatkan minuman dari air kencur, agar suaramu bagus.”

         Koko menuruti saran Peri Brownis dengan tidak makan gorengan dan minum es. Di samping itu, Peri Brownis membuatkan air kencur untuk diminum pagi dan sore.

         Waktu terus berlalu. Tibalah saatnya lomba. Koko bernyanyi dengan suara bagus. Walaupun menjadi juara kedua, Koko senang, terlebih Peri Brownis.

@@@

      Suatu saat Peri Brownis melihat Koko malas-malasan dan tidak mau belajar. Padahal, kemarin lusa Koko bercerita besok ada ulangan.

      “Koko, kenapa kamu tidak belajar? Kalau kamu tidak belajar bagaimana mungkin kamu bisa meraih cita-citamu setinggi langit. Katanya kamu ingin menjadi dokter sekaligus penyanyi bertaraf internasional?”

       “Iya... iya,” Koko tersadar setelah diingatkan.

       “Sekarang belajarlah!”

       Koko bergegas mengambil buku-bukunya dan bersemangat lagi untuk belajar. Setiap kali diingatkan, Koko selalu senang dan kembali belajar. Maklumlah, karena neneknya sibuk di ladang.

      Setelah sendirian, Peri Brownis pun termenung. Dilihatnya bunga-bunga di taman. Tumben tidak terlihat kupu-kupu warna pink dengan totol-totol hijau muda. Ah, mungkin kupu-kupu itu sedang terbang dan mengembara ke taman lain.

       Tidak lama kemudian, Peri Brownis melihat seorang peri datang. Semua pakaiannya putih seperti dirinya. Namun, ia punya dua sayap.

                                                                           

ilustrasi: Bobo

       “Kamu siapa?” tanya Peri Brownis.

       “Aku Peri Elive, akulah yang setiap kali menjelma menjadi kupu-kupu warna pink totol-totol hijau muda.”

      “Pantas sore ini aku tidak melihat kupu-kupu warna pink totol-totol hijau muda.”

      “Aku tahu yang kamu sedihkan. Walaupun tidak dapat terbang, suatu saat kamu pasti bisa meraih cita-citamu setinggi langit. Kelak, jika Koko telah berhasil mencapai cita-citanya, kamu bahagia bisa selalu menolong dan menghibur manusia di bumi, karena kamu selalu bersama Koko. Sedangkan aku dan peri-peri lain harus turun ke bumi untuk mencari manusia yang butuh pertolongan. Jika tidak ada manusia yang membutuhkan pertolongan, kami terbang lagi ke langit.”

      “Benarkah?” tanya Peri Brownis sambil tersenyum.

      “Hidupmu menjadi sangat berguna, Peri Brownis,” sanjung peri Elive.

       Peri Elive pun ikut senang melihat Peri Brownis bahagia.

      Semenjak itu, Peri Brownis tidak pernah bersedih. Ia semakin bersemangat membimbing Koko agar kelak dapat mewujudkan cita-citanya menjadi penyanyi internasional.

@@@

Dongeng ini pernah terbit di majalah Bobo, 25 Agustus 2022



Jumat, 24 Juni 2022

Bubur Suro Mbah Rebo

                                                                                          


Desi, Fina, dan mama sedang menonton televisi. Mereka menyukai film animasi.

Tidak lama film animasi itu selesai, Ririn, sahabat Desi, memanggil.

            “Desi... Desi... Desi...” panggil Ririn.

            “Ada apa, Rin?” Desi keluar menemui sahabatnya.

            Beberapa saat kemudian, Desi mengambil potongan kardus-kardus yang biasa dibuat untuk rumah-rumahan. Dia juga memiliki koleksi beberapa boneka. Ririn dan Desi suka bermain rumah-rumahan.

            “Fin, ayo kita main rumah-rumahan!” ajak Desi.

            “Iya, Fin, bermain bersama Desi dan Ririn,” kata mamanya memberi semangat.

            “Ah, enggak, kamu bermain saja bersama Ririn. Aku mau di kamar saja, Tante,” tukas Fina lalu masuk ke kamar. Sementara Desi pergi ke depan bermain bersama Ririn.

Fina selalu menolak setiap kali diajak bermain bersama. Dia senang menyendiri di dalam kamar. Kalaupun keluar kamar, dia menonton televisi. Padahal Desi ingin menghiburnya. Akan tetapi, hingga kini, Fina masih suka bersedih.

Mama dan Desi sering mengeluh. Fina adalah sepupu Desi. Dua bulan lalu, ayah dan ibunya terpapar virus COVID-19 dan meninggal. Dengan demikian, Fina jadi yatim piatu. Untuk itulah mama dan papa Desi meminta Fina tinggal bersama mereka. Apalagi, Fina seusia Desi. Kini, Fina satu sekolah dengan Desi.

                                                                                 

ilustrasi: majalah Bobo

          Suatu saat, Desi bercerita tentang Mbah Rebo. Mbah Rebo yang dilahirkan pada hari Rabu itu sangat sayang kepada anak-anak. Maklumlah, ia tidak mempunyai anak dan tentu saja tidak memiliki cucu. Suaminya sudah meninggal. Sekarang, Mbah Rebo tinggal bersama dua keponakannya.

            “Kamu pernah makan bubur Suro, Fin?” tanya Desi saat makan siang.

            “Bubur Suro itu apa?” tanya Fina heran.

            “Setiap tanggal sepuluh bulan Suro atau Muharam, Mbah Rebo membuat bubur spesial. Namanya bubur Suro, mungkin karena dibuat pada bulan Suro. Bubur Suro terdiri dari bubur beras berwarna kuning dan ada campuran daging kambing. Rasanya gurih. Aromanya khas daging kambing. Lauknya telur dadar, perkedel kentang, sambal goreng udang, dan abon daging. Mbah Rebo membagikan bubur Suro gratis kepada anak-anak di kampung ini,” tutur Desi membuat Fina tertegun.

            “Wah, sepertinya bubur Suro enak sekali. Lauknya pun bermacam-macam. Mbah Rebo membagikan secara gratis?” tanya Fina senang.

            “Iya. Dan minggu depan sudah mulai bulan Suro. Kamu juga bisa mendapatkannya. Sekarang kamu menjadi warga kampung ini. Makanya kamu bermainlah bersama anak-anak di sini, supaya bisa berkenalan dengan Mbah Rebo.

            Fina manggut-manggut. Ia ingin makan bubur Suro buatan Mbah Rebo. 

                                                                                

ilustrasi: majalah Bobo

Pada tanggal sepuluh bulan Suro, anak-anak berkumpul di rumah Mbah Rebo. Mereka duduk di karpet. Sebelum membagikan bubur, Mbah Rebo memipin doa bersama. Intinya agar mereka diberi kesehatan dan kesejahteraan.  

            “Semua duduk yang tertib. Mbah akan membagikan bubur Suro,” ungkap Mbah Rebo. Setelah semua duduk dengan tenang, Mbah Rebo dan dua keponakannya membagikan bubur Suro dalam wadah plastik bening. Setiap anak menerima satu wadah bubur Suro, lengkap dengan sebuah sendok bebek di dalamnya.

            “Ada yang belum dapat bubur Suro?” tanya Mbah Rebo. Walaupun sudah tua, suara Mbah Rebo masih lantang. Badannya pun masih gagah dengan mengenakan kebaya dan kain.

            “Sudah, Mbah,” jawab anak-anak serentak.

            “Sekarang Mbah akan membagikan uang dan bingkisan kepada kalian yang yatim,” ungkap Mbah Rebo.

            “Hore...,” anak-anak yatim atau tidak memiliki ayah bersorak-sorai.

            Satu per satu Mbah Rebo memanggil nama anak-anak yatim. Kali ini Mbah Rebo membagikan uang dalam amplop. Ia juga memberi bingkisan berupa buku tulis dan alat-alat tulis. Mbah Rebo sudah membagikan sebanyak empat anak yatim.      

“Sekarang, Mbah minta Fina maju ke depan!” pinta Mbah Rebo.

            Fina kaget ketika ia juga dipanggil oleh Mbah Rebo dan akan diberi uang dan bingkisan. Dia mendapatkan bubur Suro gratis sudah senang. Desi dan Ririn memberi semangat agar Fina maju ke depan. Fina juga anak yatim.  

            Anak-anak senang menikmati bubur Suro. Fina pun tidak bersedih lagi. Dia bermain bersama anak-anak kampung. Ternyata tidak hanya dirinya, ada empat anak lain yang tidak memiliki ayah.

@@@

Cernak ini terbit di majalah Bobo, 16 Juni 2022




Kamis, 07 April 2022

Masker Batik Buatan Pak Tikno

                                                                                          

Langit tampak cerah. Berbeda dari biasanya, hujan turun beberapa hari terakhir. Di ufuk barat, matahari masih menyinarkan sinarnya. Suasana kampung ramai. Apalagi ini hari Minggu, hari libur. Sebagian anak bermain sepeda. Ada pula yang membeli kue. Beberapa tukang kue menjajakan jualannya. Ada juga yang hanya jalan-jalan.

Tidak lama Dhimas dan orangtuanya pulang dari bepergian. Mereka mengendarai sepeda motor. Begitu turun dari sepeda motor, Dhimas langsung menghampiri penjual putu bumbung yang mangkal di seberang rumahnya. Putu bumbung banyak disukai anak-anak. Selain rasanya lezat, putu bumbung menimbulkan bunyi ngiiiiiing saat dimasak.

“Tumben kamu pakai masker,” tegur Alvin yang sudah terlebih dahulu mengantre membeli putu bumbung. Biasanya, Dhimas enggan memakai masker saat keluar rumah. Kecuali dia pergi bersama kedua orangtuanya.

“Sssttt…. jangan keras-keras, nanti terdengar orangtuaku. Mereka juga menunggu ingin segera makan putu bumbung,” jelas Dhimas. Kedua orangtuanya sedang bercakap-cakap di teras.

Dhimas dan orangtuanya baru saja dari tempat wisata. Karena masih masa pandemi, mereka berwisata ke tempat wisata dalam kota. Sebagaimana kesenangan Dhimas, mereka pergi ke Monumen Tugu Muda. Monumen Tugu Muda dibuat untuk mengenang jasa pahlawan sehingga Kota Semarang terbebas dari penjajah. Di sekeliling Tugu Muda ada kolam dan air mancur. Dhimas paling suka berswafoto dengan latar belakang air mancur. Apalagi, sore itu cuaca cerah sehingga air mancur dinyalakan. Di sana juga ada taman untuk tempat bermain.

Setelah menunggu beberapa lama, Dhimas pulang dengan membawa sepuluh buah putu bumbung. Mereka menikmati putu bumbung yang masih hangat.

                                                                             

                                                                                ilustrasi: Bobo

Jika cuaca tidak hujan, Dhimas dan Alvin bermain sepeda. Hal ini untuk menghindari rasa bosan karena pembelajaran sekolah masih berlangsung di rumah secara daring.

 

“Dhimas, maskermu mana?” tanya Alvin saat Dhimas sudah sampai di depan pagar rumahnya.

“Malas pakai masker, ribet. Ayo, kita segera bermain sepeda. Mumpung tidak hujan,” ungkap Dhimas langsung mengayuh sepedanya dengan kencang. Alvin selalu gagal setiap kali meminta sahabatnya itu memakai masker.

Mereka bersepeda mengitari taman. Selain bersepeda ada anak-anak yang duduk-duduk menikmati bunga-bunga yang sedang mekar.

Saat mereka sedang asyik bersepeda, tiba-tiba seseorang memanggil Dhimas dari samping. Ternyata beliau Pak Lurah.

“Dhimas, berapa kali Bapak minta agar kamu memakai masker,” tegur Pak Lurah. “Sekarang masih pandemi. Pemakaian masker berguna agar kita tidak terpapar atau memaparkan virus COVID-19,” jelas Pak Lurah berulang kali, tetapi Dhimas tetap memandel.

Walaupun di luar jam kerja, Pak Lurah mengelilingi daerahnya. Beliau menindak warganya yang tidak mengikuti protokol kesehatan, di antaranya tidak memakai masker saat keluar rumah.

Dhimas hanya senyum-senyum. Setelah itu, dia mengerti apa yang harus dilakukan.

Seperti biasa, bagi siapa saja yang melanggar protokol kesehatan diminta menyanyikan lagu perjuangan. Selain sebagai hukuman, juga agar cinta tanah air. Dhimas menyanyikan lagu “Garuda Pancasila”. Garuda Pancasila. Akulah pendukungmu. Patriot proklamasi. Satria berkorban untukmu….

                                                                               

ilustrasi: Bobo

Anak-anak yang menonton pun bersorak-sorai. Mereka bertepuk tangan begitu Dhimas selesai menyanyikan lagu “Garuda Pancasila”. Wajah Dhimas merah padam karena malu. Namun, Dhimas tidak jera. Dia sudah berkali-kali terkena hukuman karena tidak memakai masker, kemudian diminta menyanyikan lagu perjuangan.

@@@

Suatu sore, Dhimas kembali menemui Alvin untuk bersepeda. Kali ini ada yang berbeda dari Alvin. Alvin memakai masker motif batik. Warnanya kombinasi hijau dan kuning.

“Alvin, maskermu baru, ya? Bagus, gambarnya lawang sewu,” tukas Dhimas tertarik.

“Aku membeli di tempat Pak Tikno. Pak Tikno menjual masker batik dengan gambar-gambar ciri khas Kota Semarang. Selain lawang sewu, ada juga gambar tugu muda, warak, burung blekok, gereja blenduk, dan buah asam. Warnanya pun beragam,” jelas Alvin.  

“Wah, ada gambar tugu muda dan warak. Antarkan aku ke Pak Tikno!” pinta Dhimas penuh semangat. Dhimas buru-buru masuk mengambil uang.

“Ayo.” Tentu saja Alvin senang. Temannya itu akan memakai masker.

Setelah mengambil uang, Dhimas dan Alvin pergi ke rumah Pak Tikno. Rumah Pak Tikno di gang sebelah.

Sejak di-PHK dari perusahaan konveksi, Pak Tikno menjual masker kain batik dengan gambar ciri khas Kota Semarang. Selain untuk menghidupi keluarganya, beliau ingin anak-anak bersemangat memakai masker saat keluar rumah. Masker yang dibuat terdiri dari dua lapis kain. Namun, Pak  Tikno tetap mengingatkan untuk memakai 2 lapis masker. Masker buatannya yang unik digunakan di sebelah  luar.

                                                                             

ilustrasi: Bobo

Dhimas membeli masker batik dengan gambar tugu muda dan warak, warna kesukaannya, merah dan putih. Sore itu dia memakai masker gambar tugu muda. Dia berjanji akan mengoleksi masker batik berciri Kota Semarang yang dibuat Pak Tikno. Ternyata, tidak hanya Dhimas dan Alvin, anak-anak lain juga senang membeli masker di tempat Pak Tikno. 

Kini tidak terdengar lagi ada anak menyanyikan lagu perjuangan. Semua tertib mengikuti protokol kesehatan. Pak Lurah pun senang semua warganya menaati peraturan.

@@@

Cerita anak ini pernah dimuat di majalah Bobo, 24 Maret 2022




Rabu, 23 Maret 2022

Misteri Es Puter

                                   


Anak-anak Panti Asuhan Taman Bunga ingin membuat es puter. Kebetulan, pohon mangga di halaman rumah panti sedang berbuah. Mereka ingin membuat es puter dari jus mangga. Mereka tahu cara membuatnya karena Kak Wawan pernah mengajari mereka. Kak Wawan adalah salah satu relawan yang sering membagikan ilmunya kepada anak-anak panti.

            Panti Asuhan Taman Bunga itu diasuh oleh Eyang Noto. Rumah Eyang Noto disumbangkan untuk menjadi panti asuhan anak-anak yatim piatu. Eyang Noto punya seorang cucu bernama Adit. Rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari panti asuhan. Itu sebabnya Adit sering sekali bermain  di panti asuhan.

     Suatu sore, seperti biasa Adit datang ke panti asuhan.

     “Teman-teman, aku sudah tahu, lo, cara membuat es puter dari jus mangga!” ujar Adit pada teman-temannya di panti. “Pertama, bikin dulu jusnya dan masukkan di kantung plastik. Lalu, ambil kantung plastik yang lebih besar dan isi es batu berukuran kecil-kecil. Kantung plastik berisi jus mangga lalu dimasukkan ke kantung yang lebih besar itu. Lalu dikocok-kocok hingga jus itu menjadi es puter,” kata Adit.

       “Wah, hebat, kamu tahu cara bikin es puter, Dit. Padahal, waktu Kak Wawan datang ke panti, kamu tidak hadir,” ungkap Hening, salah satu anak panti.

       “Eyang yang mengajari aku cara membuat es puter,” jawab Adit.  

            “Kalau begitu, kita praktik bikin es puter sama-sama, yuk! Persediaan mangga di panti ini kan, cukup banyak,” kata Hening.

                                                                                         

                                                                      ilustrasi: Bobo

   Mereka lalu mengikuti cara yang diajarkan Kak Wawan. Caranya, mirip dengan yang ditunjukkan Adit tadi. Setelah jus mereka jadi, mereka memasukkannya ke kantung plastik masing-masing. Lalu, dimasukkan lagi ke kantung berisi es batu yang kecil-kecil. Mereka meletakkan di atas wadah besar di atas meja.

            Sambil menunggu jus itu benar-benar membeku dan padat, mereka bersih-bersih rumah. Setelah bersih-bersih rumah selesai, Adit megambil jus mangga yang sudah menjadi es puter di meja. Ia lalu menemui Eyang di paviliun sebelah panti. Anak-anak panti yang lain, menikmati es puter mereka masing-masing di ruang makan. Namun, ada sesuatu yang aneh.

         “Lho, mengapa jus di kantung ini tidak membeku?” ungkap Tiwi ketika akan mengambil es puter di wadah. Di wadah itu, tersisa dua kantung es puter. Yang satu membeku sempurna. Yang satu masih cair seperti jus mangga. Anak-anak yang lain  heran.Tentu saja Tiwi memilih kantung berisi jus mangga yang sudah membeku menjadi es puter.

     “Kasihan Kak Laras, kebagian yang masih cair,” ungkap Hening yang membuatkan es puter untuk Kak Laras. Kak Laras adalah penghuni panti paling besar di antara mereka dan sudah kuliah.

Tak lama, Kak Laras pulang. Walaupun jus itu tidak menjadi es puter, Kak Laras minum dengan senang hati. Ia tampak kelelahan. Jus mangga itu sebagai pelepas dahaga.

@@@

     Ternyata, kejadian itu terulang lagi. Padahal, mereka sudah mengikuti cara membuat es puter dengan benar.

                                                                                     

                                                                          ilustrasi: Bobo

       “Jangan-jangan, ini ulah almarhumah Reva. Saat di panti dulu, dia tidak boleh minum es karena punya penyakit asma,” ungkap Tiwi.

       “Aku takut, nih,” kata Hening yang tinggal di panti itu setelah Reva meninggal.  Hening dianggap sebagai pengganti Reva di panti itu.

       “Orang meninggal tidak bisa hidup lagi. Kalian tidak usah takut. Lagi pula, Reva meninggal di rumah pamannya, karena terpapar virus COVID-19,” jelas Kak Laras  menenangkan mereka.

       Meski Kak Laras menghibur, para penghuni panti yang lain takut, terlebih Hening dan Tiwi. Maklumlah, keduanya sebaya dengan almarhumah Rava. Semua bertanya-tanya, mengapa selalu ada satu bungkus jus mangga yang gagal menjadi es puter.

       Suatu ketika, Kak Laras menyarankan supaya melabeli kantung plastik bagian bawah sesuai nama pemiliknya. Dengan demikian, akan terlihat milik siapa yang tidak menjadi es puter. Mereka pun menerima saran itu.

@@@

       Sore ini, selesai bersih-bersih, anak-anak panti mengambil es puter di meja makan. Kali ini ada yang berbeda karena diberi label nama masing-masing. Hening yang terakhir mengambil kantung es puter di wadah. Ia memeriksa dua kantung jus mangga yang tersisa di wadah.

                                                                                

ilustrasi: Bobo

“Mengapa kantung yang ada namaku tidak ada, ya? Yang satu ini punya Kak Laras. Yang satu lagi, tanpa nama dan masih cair. Gagal jadi es puter,” kata Hening.

     Setelah berpikir sebentar, Hening jadi teringat pada Adit. Ia lalu pergi ke paviliun. Tiwi ikut mengantar. Tampak Adit masih makan es puter sambil membaca komik. Hening meminta Adit memeriksa kantung es puternya. Ternyata benar, ada label bertuliskan nama Hening di kantung itu. Adit memang tidak tahu, jika setiap kantung diberi nama pemiliknya. Adit sendiri tidak memberi nama di kantung jus mangganya.

     Hening akhirnya bercerita tentang jus mangga yang tetap cair walau diberi es. Hening meminta Adit menjelaskan cara membuat es puter miliknya.

                                                                                  

                                                                          ilustrasi: Bobo

“Jus mangga aku masukkan ke kantung plastik ini. Lalu, aku masukkan di kantung plastik besar yang telah aku isi es ukuran kecil-kecil. Lalu, aku tutup perekatnya dan kukocok-kocok. Begitu kata Eyang. Kalian juga pakai cara begitu, kan?” jelas Adit.

       Hening dan Tiwi saling pandang dan tertawa.

       “Es batunya tidak kamu campur garam, Dit?” tanya Hening.

       “Masa bikin es puter pakai garam?” tanya adit heran.

      Hening kini mengerti mengapa selalu ada jus mangga yang tidak membeku.

       “Garam membuat jus menjadi dingin, makanya bisa menjadi beku. Kalau begitu, jus mangga yang tidak bisa menjadi es puter itu milikmu,”  jelas Hening. Mereka tertawa tergelak.

      Adit baru tahu sekarang. Ia cengar-cengir sambil meminta maaf. Sejak itu, tidak satu pun di antara mereka gagal membuat es puter, termasuk Adit.

@@@

Cerita anak ini pernah terbit di majalah Bobo, 17 Maret 2022