Iis Soekandar: Kupat Tahu

Jumat, 09 Januari 2026

Kupat Tahu




               Berbeda hari-hari terakhir, laiknya musim hujan, siang itu langit Magelang tak menumpahkan air. Cuaca cerah. Gerah menyelimuti badan, ingin segera menjumpai air wudu, untuk menetralisir. Setelah tamasya seputar daerah Magelang, saya dan para kerabat mampir di MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) Magelang untuk menunaikan salat Duhur. Tak seperti MAJT Semarang yang mewah, serasa salat di Masjid Nabawi, terkenal dengan payung-payung besarnya di pelataran, MAJT Magelang sederhana, hanya halamannya luas.

            Setelah salat saatnya kami makan siang. Kendaraan menembus lalu lintas yang ramai. Saya mengusulkan makan makanan khas daerah. Kebetulan salah satu kerabat punya langganan. Nahas, siang itu tutup. Saya khawatir jika mayoritas memilih makan makanan kekinian. Lewat di daerah kota, ada banyak makanan alternatif. Terlebih makanan-makanan kekinian. Syukurlah mumpung berkunjung ke sebuah daerah, kami sepakat makan siang dengan makanan khas daerah Magelang: kupat tahu atau ketupat tahu, dibanding makanan kekininan yang ada di setiap tempat, termasuk Semarang.

            Ada banyak penjual kupat tahu. Kami memilih jauh dari keramaian. Tempatnya representatif, masuk gang, cocok untuk sekalian beristirahat. Kebetulan siang itu sepi pengunjung. Kami satu-satunya rombongan pembeli. Saya bayangkan jika kami makan di kedai langganan dan di pinggir jalan, pasti banyak pembeli, apalagi jika harus duduk berimpitan.

            “Monggo nyicipi bakwan,” kata pedagang yang sedang menggoreng bakwan, wanita lansia, berkebaya, dan berkonde cepol. Wanita satu lagi muda, meracik bahan-bahan makanan

            “Nggih, Bu, maturnuwun,” jawab saya tanpa mengambil bakwan satu pun. Saya ingin menikmati kupat tahu secara utuh. Dengan makan bakwan terlebih dahulu, bakwan tidak lagi terasa spesial saat bercampur kupat tahu.

            Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya kupat tahu berada di depan mata.

            Selain ketupat dan tahu putih goreng, makanan lain dalam kupat tahu: bakwan, tauge, kol, sambal kacang rasa manis, toping bawang goreng dan daun seledri.

            Berbeda kupat tahu Semarang, kupat tahu Magelang sambal kacangnya encer. Terkesan kupat tahunya berkuah. Menurut saya, itu lebih sesuai disebut sambal kecap, kemudian dicampuri kacang tanah. Sebab kacang tanahnya tidak digerus secara halus dan menyatu dengan sambal kecap, bahkan banyak ukuran separuh biji. Akibatnya bongkahan-bongkahan kacang tanah itu mengambang di sambal kecap. Sesekali saya hanya makan kacang tanah.

            Melihat makanan-makanannya yang lengkap: ketupat, tahu, sayuran, kupat tahu cocok disantap sebagai makanan utama, saat perut lapar. Apalagi ditambah kerupuk. Saya menghabiskan sambal kecap saat ketupat dan makanan-makanan lain sudah habis dengan kerupuk. Sepiring kupat tahu habis dengan membayar lima belas ribu rupiah. Sebagai bekal kami tamasya ke tempat berikutnya.

@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar