Iis Soekandar: Juli 2026

Jumat, 03 Juli 2026

Bubur Suro

                                                                                         

            Bagi sebagian orang, Hari Asyura yang jatuh pada setiap 10 Muharam, adalah saat yang ditunggu. Saya termasuk salah satunya. Begitu tahun Hijriah berganti, dan masuk tanggal 1 Muharam, waktu seperti beranjak perlahan. Begitu saatnya tiba, undangan-undangan pun bertaburan. Di antara serangkaian acara, di antaranya doa-doa kebaikan untuk satu tahun mendatang, adalah pembagian bubur suro secara cuma-cuma.  

            Ada banyak kejadian penting pada Hari Asyura, seperti terselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Raja Fir’aun, Nabi Ibrahim terbebas dari api Raja Namrud, Nabi Yunus keluar dari perut ikan, dll. Lalu orang-orang membagikan bubur suro, dari kata Asyura atau mungkin berdasar kalender Jawa: bulan Suro. Hal itu dilakukan sebagai rasa syukur. Biasanya disertai peningkatan amal soleh dengan memberi santunan anak-anak yatim.

            Bubur suro berbahan utama beras, yang biasa dimasak nasi, diberi warna kuning, lekat aroma dan rasa daging kambing, dengan ramuan sejumlah bumbu dan rempah. Makanan-makanan penyertanya: telur dadar, sambal goreng ati, perkedel kentang, dan abon. Ada juga yang menambahi calon: makanan dari parutan kelapa, diberi bumbu-bumbu, lalu dibentuk bulat oval kemudian digoreng.

            Sesuai namanya, bubur suro tidak ditemui sehari-hari, berbeda dengan bubur kacang hijau, bubur mutiara, bubur sumsum, bubur ketan hitam, dan macam-macam bubur lain. Satu sisi karena jenis bubur dan makanan-makanan penyertanya lauk pauk, harganya mahal. Saya bertanya kepada orang-orang yang tahu tentang bubur suro, harga seporsi sekitar tujuh belas ribu rupiah. Sementara harga bubur-bubur lain, tiga-lima ribu rupiah seporsi.

Sebagian orang terdogma: belum makan jika belum makan nasi. Orang lebih memilih makan nasi, sebagai makanan pokok sehari-hari, dibanding makan bubur, jika bubur suro dijadikan menu sarapan, sebagaimana bubur ayam. Harga semangkuk bubur ayam tidak semahal bubur suro. Seporsi nasi rames cuma enam sampai tujuh ribu rupiah. Apalagi keadaan ekonomi sulit seperti sekarang.

            Saya beruntung tinggal di daerah, yang masih lekat dengan tradisi ini. Setidaknya saya mendapat lima macam bubur suro, dari lima undangan, dengan berbagai rasa dan kelengakapan makanan penyertanya, sejak tulisan ini saya tulis, beberapa hari lalu. Bubur-bubur itu dibagikan oleh komunitas-komunitas dan perorangan, dari malam Asyura (menurut penanggalan Hijriah, sudah masuk Hari Asyura), berlanjut keesokan hari, hingga jelang Magrib.

Bubur suro mungkin masih dibagikan dari komunitas-komunitas atau orang-orang yang ingin membagikan bubur suro, sepanjang bulan Muharam atau bulan Suro. Sudahkah teman-teman juga makan bubur suro? Atau akan mendapatkan bubur suro rentang bulan Muharam atau bulan Suro? Selamat menikmati!

@@@