Iis Soekandar: September 2026

Kamis, 03 September 2026

Ketika Si Kecil Mengamuk

                                                                                           

             Saya tertarik membaca buku Ketika Si Kecil Mengamuk karena dibuka dengan cerita. Laiknya sebuah cerpen. Saya pun penasaran dan ingin melanjutkan lebih dalam. Seorang anak perempuan melempar boneka ke temannya gara-gara temannya tidak mau diajak bermain seperti ia inginkan. Temannya menangis lalu pergi. Kemudian teman-teman lainya menolak diajak bermain anak perempuan tersebut. Ibunya memberi ilustrasi tentang paku yang ditancapkan di dinding. Walaupun paku sudah dicabut, lubangnya tetap membekas. Begitulah orang sakit hati. Meskipun ada permintaan maaf, sakitnya masih membekas. Sejak itu ia tidak pemarah, wajahnya selalu tersenyum, dan kini banyak temannya.   

            Buku Ketika Si Kecil Mengamuk ditulis oleh Arisatya Yogaswara, bergiat di bidang media, bisnis daring, dan kuliner. Diterbitkan oleh Checklist Media, berisi 12 bab. Setiap bab selain berisi materi, juga kata-kata motivasi, baik dari penulis, maupun tokoh dunia, terutama para praktisi seputar dunia anak-anak. “Kemarahan tak pernah muncul tanpa alasan. Namun, sangat jarang kemarahan disebabkan alasan tepat” itu contoh motivasi ditulis oleh Benyamin Franklin.

            Para ahli kesehatan beranggapan bahwa marah itu normal dan menyehatkan. Manfaat marah di antaranya: membantu mencari jalan keluar, mengurangi risiko hipertensi dan penyakit jantung, menunjukkan masalah sebenarnya, membuat orang waspada, dan membantu melepaskan ketegangan. Begitu pun sebaliknya jika orang memendam marah, yang terjadi efek buruk hal-hal di atas.

            “Jangan ajari anak tidak marah, ajari cara marah” (Lyman Abbott). Tipe kemarahan: menghindari kemarahan dan melampiaskan di tempat lain, melampiaskan kemarahan pada sumber marah, dan marah terkontrol.

            Tantrum adalah ekspresi frustrasi anak terhadap rasa marah akibat tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun. Harus diwaspadai jika anak berlaku berlebihan, seperti memukul-mukul kepala. Orang tua harus segera membawanya ke dokter. Penyebab tantrum adalah kelelahan, lapar, stres, caper (cari perhatian ayah ibu yang sibuk), dan menginginkan sesuatu.

            Ada tip mengendalikan marah (Anger Management) untuk si kecil, yaitu menunda (sebelum marah menghitung 1-10), atau beri pelukan. Dengan demikian anak menjadi sehat, pintar, tangguh, dekat dengan orangtuanya, dan meredakan tantrum.   

             “Bermain adalah pekerjaan anak” (Maria Montesori). Alasan menggunakan permainan sebagai sarana mengelola dan melatih kemarahan anak adalah bermain hal serius bagi anak-anak, sebagai cara melampiaskan emosi, secara emosi bagian dari anak, refleksi kehidupan sesungguhnya, dan membuat anak belajar banyak hal. Dalam bab ini disertai berbagai permaianan untuk mengelola kemarahan agar anak tidak menjadi pemarah.

            Belum ada penetilitan yang jelas, penurunan watak orang tua ke anak. Tapi anak menirukan perilaku orangtua. Orangtua pemarah, anak-anaknya juga pemarah.

            Orangtua perlu mencari aktivitas untuk menyalurkan energi anak, seperti asah otak, ikutkan anak dalam kelas olahraga atau aktivitas fisik lainnya, perhatikan makanannya, batasi waktu menonton televisi, ajak bermain di luar, belikan ia buku yang bermanfaat, jaga kedisiplinan tidur tepat waktu, ikutkan les sesuai minatnya.

            Menyenangkan membaca buku ini. Kalimat-kalimatnya efektif, selain pembukaan, pada bagian-bagian tertentu ditulis dengan gaya bercerita. Di samping menambah ilmu,  marah tidak hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga orang dewasa, hal itu bisa saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

@@@