Saya
tertarik membaca buku Ketika Si Kecil Mengamuk karena dibuka dengan cerita. Laiknya
sebuah cerpen. Saya pun penasaran dan ingin melanjutkan lebih dalam. Seorang anak
perempuan melempar boneka ke temannya gara-gara temannya tidak mau diajak
bermain seperti ia inginkan. Temannya menangis lalu pergi. Kemudian teman-teman
lainya menolak diajak bermain anak perempuan tersebut. Ibunya memberi ilustrasi
tentang paku yang ditancapkan di dinding. Walaupun paku sudah dicabut,
lubangnya tetap membekas. Begitulah orang sakit hati. Meskipun ada permintaan
maaf, sakitnya masih membekas. Sejak itu ia tidak pemarah, wajahnya selalu
tersenyum, dan kini banyak temannya.
Buku Ketika Si Kecil Mengamuk
ditulis oleh Arisatya Yogaswara, bergiat di bidang media, bisnis daring, dan
kuliner. Diterbitkan oleh Checklist Media, berisi 12 bab. Setiap bab selain berisi
materi, juga kata-kata motivasi, baik dari penulis, maupun tokoh dunia, terutama
para praktisi seputar dunia anak-anak. “Kemarahan tak pernah muncul tanpa
alasan. Namun, sangat jarang kemarahan disebabkan alasan tepat” itu contoh
motivasi ditulis oleh Benyamin Franklin.
Para ahli kesehatan beranggapan
bahwa marah itu normal dan menyehatkan. Manfaat marah di antaranya: membantu
mencari jalan keluar, mengurangi risiko hipertensi dan penyakit jantung, menunjukkan
masalah sebenarnya, membuat orang waspada, dan membantu melepaskan ketegangan. Begitu
pun sebaliknya jika orang memendam marah, yang terjadi efek buruk hal-hal di
atas.
“Jangan ajari anak tidak marah,
ajari cara marah” (Lyman Abbott). Tipe kemarahan: menghindari kemarahan dan
melampiaskan di tempat lain, melampiaskan kemarahan pada sumber marah, dan
marah terkontrol.
Tantrum adalah ekspresi frustrasi
anak terhadap rasa marah akibat tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Biasanya
terjadi pada anak usia 1-4 tahun. Harus diwaspadai jika anak berlaku
berlebihan, seperti memukul-mukul kepala. Orang tua harus segera membawanya ke
dokter. Penyebab tantrum adalah kelelahan, lapar, stres, caper (cari perhatian
ayah ibu yang sibuk), dan menginginkan sesuatu.
Ada tip mengendalikan marah (Anger
Management) untuk si kecil, yaitu menunda (sebelum marah menghitung 1-10), atau
beri pelukan. Dengan demikian anak menjadi sehat, pintar, tangguh, dekat dengan
orangtuanya, dan meredakan tantrum.
“Bermain adalah pekerjaan anak” (Maria
Montesori). Alasan menggunakan permainan sebagai sarana mengelola dan melatih
kemarahan anak adalah bermain hal serius bagi anak-anak, sebagai cara
melampiaskan emosi, secara emosi bagian dari anak, refleksi kehidupan
sesungguhnya, dan membuat anak belajar banyak hal. Dalam bab ini disertai berbagai
permaianan untuk mengelola kemarahan agar anak tidak menjadi pemarah.
Belum ada penetilitan yang jelas, penurunan
watak orang tua ke anak. Tapi anak menirukan perilaku orangtua. Orangtua pemarah,
anak-anaknya juga pemarah.
Orangtua perlu mencari aktivitas
untuk menyalurkan energi anak, seperti asah otak, ikutkan anak dalam kelas olahraga
atau aktivitas fisik lainnya, perhatikan makanannya, batasi waktu menonton
televisi, ajak bermain di luar, belikan ia buku yang bermanfaat, jaga
kedisiplinan tidur tepat waktu, ikutkan les sesuai minatnya.
Menyenangkan membaca buku ini. Kalimat-kalimatnya
efektif, selain pembukaan, pada bagian-bagian tertentu ditulis dengan gaya
bercerita. Di samping menambah ilmu, marah tidak hanya terjadi pada anak-anak
tetapi juga orang dewasa, hal itu bisa saya terapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
@@@
