Bagi
sebagian orang, Hari Asyura yang jatuh pada setiap 10 Muharam, adalah saat yang
ditunggu. Saya termasuk salah satunya. Begitu tahun Hijriah berganti, dan masuk
tanggal 1 Muharam, waktu seperti beranjak perlahan. Begitu saatnya tiba, undangan-undangan
pun bertaburan. Di antara serangkaian acara, di antaranya doa-doa kebaikan
untuk satu tahun mendatang, adalah pembagian bubur suro secara cuma-cuma.
Ada banyak kejadian
penting pada Hari Asyura, seperti terselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Raja Fir’aun,
Nabi Ibrahim terbebas dari api Raja Namrud, Nabi Yunus keluar dari perut ikan,
dll. Lalu orang-orang membagikan bubur suro, dari kata Asyura atau mungkin berdasar
kalender Jawa: bulan Suro. Hal itu dilakukan sebagai rasa syukur. Biasanya disertai
peningkatan amal soleh dengan memberi santunan anak-anak yatim.
Bubur suro berbahan utama beras,
yang biasa dimasak nasi, diberi warna kuning, lekat aroma dan rasa daging
kambing, dengan ramuan sejumlah bumbu dan rempah. Makanan-makanan penyertanya: telur
dadar, sambal goreng ati, perkedel kentang, dan abon. Ada juga yang menambahi
calon: makanan dari parutan kelapa, diberi bumbu-bumbu, lalu dibentuk bulat
oval kemudian digoreng.
Sesuai namanya, bubur suro tidak ditemui
sehari-hari, berbeda dengan bubur kacang hijau, bubur mutiara, bubur sumsum, bubur
ketan hitam, dan macam-macam bubur lain. Satu sisi karena jenis bubur dan makanan-makanan
penyertanya lauk pauk, harganya mahal. Saya bertanya kepada orang-orang yang
tahu tentang bubur suro, harga seporsi sekitar tujuh belas ribu rupiah. Sementara
harga bubur-bubur lain, tiga-lima ribu rupiah seporsi.
Sebagian
orang terdogma: belum makan jika belum makan nasi. Orang lebih memilih makan
nasi, sebagai makanan pokok sehari-hari, dibanding makan bubur, jika bubur suro
dijadikan menu sarapan, sebagaimana bubur ayam. Harga semangkuk bubur ayam
tidak semahal bubur suro. Seporsi nasi rames cuma enam sampai tujuh ribu
rupiah. Apalagi keadaan ekonomi sulit seperti sekarang.
Saya beruntung tinggal di daerah, yang
masih lekat dengan tradisi ini. Setidaknya saya mendapat lima macam bubur suro,
dari lima undangan, dengan berbagai rasa dan kelengakapan makanan penyertanya, sejak
tulisan ini saya tulis, beberapa hari lalu. Bubur-bubur itu dibagikan oleh
komunitas-komunitas dan perorangan, dari malam Asyura (menurut penanggalan Hijriah,
sudah masuk Hari Asyura), berlanjut keesokan hari, hingga jelang Magrib.
Bubur
suro mungkin masih dibagikan dari komunitas-komunitas atau orang-orang yang
ingin membagikan bubur suro, sepanjang bulan Muharam atau bulan Suro. Sudahkah teman-teman
juga makan bubur suro? Atau akan mendapatkan bubur suro rentang bulan Muharam
atau bulan Suro? Selamat menikmati!
@@@

Tidak ada komentar:
Posting Komentar