Nasi…
nasi… nasi kebuli… nasi kebuli enak sekali…. Itu lantunan nada
khas, disertai ajakan membeli, beserta sebutan nama pembuatnya, seakan telah
memproduksi mahakarya. Nada itu tanpa musik, dari kaset rekaman, diputar
berulang-ulang, sepanjang lelaki hitam bertubuh tinggi besar, lewat. Ia pedagang
sekaligus pembuat nasi kebuli. Ia menjajakan dagangannya dari kampung ke
kampung setiap hari dengan kendaraan roda dua. Sebungkus harganya delapan belas
ribu untuk lauk telur, dan dua puluh tiga ribu untuk lauk daging. Saya suka lauk
telur. Saya membeli dengan menunggu ia lewat. Kalaupun hari itu gagal, keesokan
hari saya cermat menunggunya, yang terpenting tidak menungu lama mengobati kerinduan
makan nasi kebuli.
Waktu
cepat berlalu.
Sejak
pedagangnya meninggal, dan tidak ada ahli waris atau kerabat menggantikan, saya
makan nasi kebuli dari berkat atau jamuan pengajian. Padahal di negeri ini nasi
putih lazim disantap sehari-hari. Hanya orang-orang tertentu, dan momen
tertentu pula, orang hajatan membuat nasi kebuli.
Dari
buku Main Rasa Bersama Sasa, Nasi kebuli merupakan akulturasi budaya dari Timur
Tengah, terutama Negara Arab. Bermula para pedagang dari Hadramaut, Yaman,
berbondong-bondong ke arah Timur, menuju Nusantara untuk berdagang dan berdakwah.
Kemudian memperkenalkan budaya mereka ke penduduk lokal. Sebelumnya, kaum Hadrami
sempat singgah lama di Gujarat, India, dan melakukan penyesuaian. Lalu mereka
mengganti kebiasaan makan roti gandum dengan nasi basmati, khas India.
Nasi
kebuli adalah nasi yang dimasak menggunakan kaldu daging dan susu kambing,
minyak samin, serta rempah-rempah khas Indonesia seperti kapulaga dan cengkeh. Nasi
kebuli menjadi popular dan banyak dikonsumsi di kampung-kampung Betawi
peranakan Arab dan menyebar ke penjuru Indonesia. Demikian menurut buku
tersebut.
Nasi
kebuli yang biasa saya temui terdiri dari nasi, bistik daging sapi/kambing atau
telur, acar kuning: timun-wortel atau buah nanas, dan sambal goreng ati.
Hanya
orang-orang tertentu menyajikan nasi kebuli dari beras basmati. Harga beras basmati
mahal dibanding beras biasa karena produk impor, dan tidak setiap supermarket menjualnya.
Butirannya panjang dan ramping. Saya teringat seorang teman sedang diet, mengonsumsi
nasi basmati sehari-hari. Dia bilang nasi basmati rendah gula sehingga cocok
untuk orang diet. Saya pernah makan nasi basmati putih. Rasanya hambar. Berbeda
dengan makan nasi putih biasa. Nasi basmati cocok dimasak dengan rempah dan
bumbu agar enak disantap.
Setelah
menunggu lama akhirnya dalam sebuah jamuan, saya menyantap nasi kebuli yang gurih,
dengan rasa khas bumbu dan rempahnya, dipadu dengan acar kuning timun-wortel
yang asam, lauk bistik telur yang manis, dan sambal goreng ati yang pedas. Kelengkapan
sempurna.
@@@

Tidak ada komentar:
Posting Komentar