Iis Soekandar: Nasi Kebuli

Rabu, 16 September 2026

Nasi Kebuli

                                                                                            

Nasi… nasi… nasi kebuli… nasi kebuli enak sekali…. Itu lantunan nada khas, disertai ajakan membeli, beserta sebutan nama pembuatnya, seakan telah memproduksi mahakarya. Nada itu tanpa musik, dari kaset rekaman, diputar berulang-ulang, sepanjang lelaki hitam bertubuh tinggi besar, lewat. Ia pedagang sekaligus pembuat nasi kebuli. Ia menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung setiap hari dengan kendaraan roda dua. Sebungkus harganya delapan belas ribu untuk lauk telur, dan dua puluh tiga ribu untuk lauk daging. Saya suka lauk telur. Saya membeli dengan menunggu ia lewat. Kalaupun hari itu gagal, keesokan hari saya cermat menunggunya, yang terpenting tidak menungu lama mengobati kerinduan makan nasi kebuli.

Waktu cepat berlalu.

Sejak pedagangnya meninggal, dan tidak ada ahli waris atau kerabat menggantikan, saya makan nasi kebuli dari berkat atau jamuan pengajian. Padahal di negeri ini nasi putih lazim disantap sehari-hari. Hanya orang-orang tertentu, dan momen tertentu pula, orang hajatan membuat nasi kebuli.

Dari buku Main Rasa Bersama Sasa, Nasi kebuli merupakan akulturasi budaya dari Timur Tengah, terutama Negara Arab. Bermula para pedagang dari Hadramaut, Yaman, berbondong-bondong ke arah Timur, menuju Nusantara untuk berdagang dan berdakwah. Kemudian memperkenalkan budaya mereka ke penduduk lokal. Sebelumnya, kaum Hadrami sempat singgah lama di Gujarat, India, dan melakukan penyesuaian. Lalu mereka mengganti kebiasaan makan roti gandum dengan nasi basmati, khas India.

Nasi kebuli adalah nasi yang dimasak menggunakan kaldu daging dan susu kambing, minyak samin, serta rempah-rempah khas Indonesia seperti kapulaga dan cengkeh. Nasi kebuli menjadi popular dan banyak dikonsumsi di kampung-kampung Betawi peranakan Arab dan menyebar ke penjuru Indonesia. Demikian menurut buku tersebut.

Nasi kebuli yang biasa saya temui terdiri dari nasi, bistik daging sapi/kambing atau telur, acar kuning: timun-wortel atau buah nanas, dan sambal goreng ati.

Hanya orang-orang tertentu menyajikan nasi kebuli dari beras basmati. Harga beras basmati mahal dibanding beras biasa karena produk impor, dan tidak setiap supermarket menjualnya. Butirannya panjang dan ramping. Saya teringat seorang teman sedang diet, mengonsumsi nasi basmati sehari-hari. Dia bilang nasi basmati rendah gula sehingga cocok untuk orang diet. Saya pernah makan nasi basmati putih. Rasanya hambar. Berbeda dengan makan nasi putih biasa. Nasi basmati cocok dimasak dengan rempah dan bumbu agar enak disantap.

Setelah menunggu lama akhirnya dalam sebuah jamuan, saya menyantap nasi kebuli yang gurih, dengan rasa khas bumbu dan rempahnya, dipadu dengan acar kuning timun-wortel yang asam, lauk bistik telur yang manis, dan sambal goreng ati yang pedas. Kelengkapan sempurna.  

@@@


Tidak ada komentar:

Posting Komentar