Iis Soekandar: Nasi Pager

Rabu, 30 September 2026

Nasi Pager

                                                                                          

             Ini cerita sehubungan dengan naik kereta api Kedung Sepur. Setelah turun di stasiun Ngrombo, kami beristirahat, duduk-duduk santai memenuhi kursi-kursi, arah pintu gerbang stasiun. Sebagian lain berswafoto; sebagian lagi buang air.

            “Kita beli nasi pecel kapan?” tanya salah satu pengurus seakan dapat membaca perasaan saya. Sarapan nasi rames seperti tidak membekas di perut saya. Padahal waktu baru menunjuk pukul sembilan.

            Tidak lengkap pergi Grobogan tidak makan nasi pecel. Begitu komentar kebanyakan dari kami. Yang lain ikut-ikutan, ingin makan nasi pecel.

            Tidak hanya tiket kereta api, kami memesan nasi pecel secara kolektif. Pedagangnya berada di lain tempat. Kami memesan lewat telepon. Setelah diambil kesepakatan, kami makan nasi pecel sebagai bekal pulang. Lebih efektif makan makanan lain di tempat-tempat kami singgahi. Di samping itu, butuh waktu lama melayani tiga puluh orang lebih, jika saat itu juga makan nasi pecel.

            Menurut buku Kuliner Semarangan, penerbit Andi, dari laporan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2016, Kabupaten Grobongan penghasil jagung tertinggi di Jawa Tengah: 700.491 ton. Setelah itu Kendal: 209.032 ton.

            Saya teringat penjual nasi jagung langganan. Ia juga berasal dari sana, tepatnya Purwodadi, ibu kota Kabupaten Grobogan. Ia membuat sendiri nasi jagung jualannya. Nasi jagung itu dipadu dengan gudangan dan keripik ikan asin. Nasi jagung satu dunak ludes sebelum matahari menampakkan wajahnya.

            Selain nasi jagung, olahan lain dari jagung adalah emping jagung, yang banyak dijual di toko-toko oleh-oleh. Selebihnya, mereka menjual makanan-makanan yang juga dijual di pusat oleh-oleh tempat-tempat wisata pada umumnya, termasuk Semarang. Seperti keripik tempe, keripik tahu, selai pisang, kacang atom, dll.

            Nasi pecel atau nasi janganan juga menjadi makanan utama. Ada yang menyebut nasi pager. Disebut nasi pager karena sayur-sayuran dari tanaman pekarangan atau pagar penduduk setempat. Seperti bayam, daun papaya, dll. Nasi ini disajikan dengan sambal kacang. Disantap dengan lauk bakwan, mendoan, rempeyek, atau tahu susur, dan segelas teh hangat.

            Sekitar pukul empat sore nasi pager dibagikan. Sebagaimana di tempat wisata, harga makanan mahal dibanding di tempat biasa. Begitupun nasi pager. Satu porsi delapan ribu rupiah. Padahal di pedagang pecel langganan saya, seporsi cuma enam ribu rupiah. Sayurnya komplit dan banyak. Juga nasinya.

            “Yah, itung-itung buat isi perut,” kata seorang teman menghibur. Perut kosong setelah tamasya, penyakit mudah datang. Yang lain mengiyakan.

            Terasa nikmat makan di saat perut keroncongan.

Setengah jam berikutnya, para penumpang KA Kedung Sepur mengantre. Di balik pagar jeruji besi, kereta siap berangkat dan mengantar mereka ke tujuan akhir, Semarang.

@@@


Tidak ada komentar:

Posting Komentar