Ketika
membaca judul buku ini, saya teringat seorang teman yang memiliki kakak bisu-tuli.
Dan kakak perempuannya itu punya pasangan, juga bisu-tuli. Orang-orang bisu-tuli
yang saya kenal hidup seorang diri, hingga akhir hayatnya. Saya pun ingin
mengetahui lebih dalam kehidupan orang bisu-tuli.
Buku Memahami Anak Tunawicara
ditulis oleh Bilqis, seorang penulis lepas dan marketing penerbitan.
Orang bisu-tuli atau biasa disebut
tunarungu dan tunawicara, berawal dari masa kanak-kanak. Saat anak bicara,
suaranya sengau, cadel, bicara tidak jelas, atau bicara tapi tidak mengeluarkan
suara. Anak mengalami kelainan dinamakan Disabilitas atau Anak Berkebutuhan Khusus
(ABK). Disabilitas bermacam-macam: tunanetra (hambatan penglihatan), tunarungu
(hambatan pendengaran), tunagrahita (hambatan penyesuaian diri dengan norma dan
lingkungan), tunadaksa (hambatan gerak), tunalaras (hambatan mengendalikan
emosi), cacat ganda. Anak Berkebutuhan Khusus bersekolah di SLB (Sekolah Luar
Biasa) sesuai kekhususannya masing-masing.
Menurut buku Memahami Anak
Tunawicara, anak tunarungu juga penyandang tunawicara. Sebab ia tidak dapat
menangkap kata-kata orang lain. Tapi anak tunawicara belum tentu tunarungu. Penyandang
tunawicara karena organ-organ bicara: romgga mulut, bibir, lidah, langit-langit,
pita suara, dll., tidak berfungsi. Faktor penyebab secara umum: kelumpuhan pita
suara. Hal itu bisa disebabkan oleh hipertensi, turunan orangtua, keracunan
makanan, tetanus neonatorum (penyakit yang menyerang bayi baru lahir, biasanya
disebabkan oleh pertolongan yang tidak memadai), difteri (penyakit infeksi akut
pada saluran pernafasan bagian atas).
Terdapat gangguan saat bicara:
gangguan artikulasi, gangguan suara, dan gangguan kefasihan.
Ada tiga pendekatan pengajaran
alternatif bagi penderita tunarungu dan tunawicara: metode manual (bahasa isyarat
dan abjad jari), metode oral (pembimbingan ucapan dan pembacaan ucapan), metode
komunikasi total (penggabungan kedua metode sebelumnya).
Anak Berkebutuhan Khusus membutuhkan
penanganan khusus pula, di antaranya dalam pendidikan: pendidikan dalam
keluarga, pendidikan khusus untuk anak, dan pendidikan inklusi.
Penerimaan
dan dukungan keluarga sangat penting agar anak tidak rendah diri dari kehidupan
sosial. Orang tua atau keluarga tetap memperlakukannya senormal mungkin
sehingga anak tunarungu dan tunawicara tetap merasa layaknya anak-anak lain. Sehingga
memaksimalkan kemampuan mereka dalam meraih prestasi-prestasi dalam kehidupan
sosial. Pendidikan inklusi diperoleh anak tunarungu dan tunawicara di sekolah regular
dengan pendampingan guru khusus. Sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pasal 31
ayat [1] dan [2] bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk
memperoleh pendidikan.
Anak
tunarungu dan tunawicara juga perlu diajarkan keterampilan menulis. Menulis sangat
membantu sebagai sarana menggambarkan pikiran, perasaan, dan ide. Keterampilan menulis
mungkin sulit dilakukan anak-anak karena hilangnya kemampuan pendengaran. Salah
satu solusinya adalah strategi pembelajaran menulis dengan pendekatan proses. Pendekatan
ini menekankan anak tunarungu dan tunawicara terlibat secara aktif, mulai pra
menulis, pengajaran langsung saat menulis, dan pengajaran pasca menulis.
Buku
ini juga memberi bonus kisah-kisah inspiratif penyandang tunarungu dan tunawicara,
dalam dan luar negeri. Sebagai motivasi orang tua dan siapa pun yang terlihat
dengan anak tunarungu dan tunawicara, agar memberi semangat sesuai bakatnya. Anak
tunarungu dan tunawicara berguna bagi masyarakat, setara dengan anak-anak
normal, dan mencapai sukses.
@@@
