Iis Soekandar: Agustus 2026

Jumat, 07 Agustus 2026

Memahami Anak Tunawicara

                                                                                         

             Ketika membaca judul buku ini, saya teringat seorang teman yang memiliki kakak bisu-tuli. Dan kakak perempuannya itu punya pasangan, juga bisu-tuli. Orang-orang bisu-tuli yang saya kenal hidup seorang diri, hingga akhir hayatnya. Saya pun ingin mengetahui lebih dalam kehidupan orang bisu-tuli.

            Buku Memahami Anak Tunawicara ditulis oleh Bilqis, seorang penulis lepas dan marketing penerbitan.

            Orang bisu-tuli atau biasa disebut tunarungu dan tunawicara, berawal dari masa kanak-kanak. Saat anak bicara, suaranya sengau, cadel, bicara tidak jelas, atau bicara tapi tidak mengeluarkan suara. Anak mengalami kelainan dinamakan Disabilitas atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Disabilitas bermacam-macam: tunanetra (hambatan penglihatan), tunarungu (hambatan pendengaran), tunagrahita (hambatan penyesuaian diri dengan norma dan lingkungan), tunadaksa (hambatan gerak), tunalaras (hambatan mengendalikan emosi), cacat ganda. Anak Berkebutuhan Khusus bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa) sesuai kekhususannya masing-masing.

            Menurut buku Memahami Anak Tunawicara, anak tunarungu juga penyandang tunawicara. Sebab ia tidak dapat menangkap kata-kata orang lain. Tapi anak tunawicara belum tentu tunarungu. Penyandang tunawicara karena organ-organ bicara: romgga mulut, bibir, lidah, langit-langit, pita suara, dll., tidak berfungsi. Faktor penyebab secara umum: kelumpuhan pita suara. Hal itu bisa disebabkan oleh hipertensi, turunan orangtua, keracunan makanan, tetanus neonatorum (penyakit yang menyerang bayi baru lahir, biasanya disebabkan oleh pertolongan yang tidak memadai), difteri (penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan bagian atas).

            Terdapat gangguan saat bicara: gangguan artikulasi, gangguan suara, dan gangguan kefasihan.

            Ada tiga pendekatan pengajaran alternatif bagi penderita tunarungu dan tunawicara: metode manual (bahasa isyarat dan abjad jari), metode oral (pembimbingan ucapan dan pembacaan ucapan), metode komunikasi total (penggabungan kedua metode sebelumnya).

            Anak Berkebutuhan Khusus membutuhkan penanganan khusus pula, di antaranya dalam pendidikan: pendidikan dalam keluarga, pendidikan khusus untuk anak, dan pendidikan inklusi.

Penerimaan dan dukungan keluarga sangat penting agar anak tidak rendah diri dari kehidupan sosial. Orang tua atau keluarga tetap memperlakukannya senormal mungkin sehingga anak tunarungu dan tunawicara tetap merasa layaknya anak-anak lain. Sehingga memaksimalkan kemampuan mereka dalam meraih prestasi-prestasi dalam kehidupan sosial. Pendidikan inklusi diperoleh anak tunarungu dan tunawicara di sekolah regular dengan pendampingan guru khusus. Sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat [1] dan [2] bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Anak tunarungu dan tunawicara juga perlu diajarkan keterampilan menulis. Menulis sangat membantu sebagai sarana menggambarkan pikiran, perasaan, dan ide. Keterampilan menulis mungkin sulit dilakukan anak-anak karena hilangnya kemampuan pendengaran. Salah satu solusinya adalah strategi pembelajaran menulis dengan pendekatan proses. Pendekatan ini menekankan anak tunarungu dan tunawicara terlibat secara aktif, mulai pra menulis, pengajaran langsung saat menulis, dan pengajaran pasca menulis.

Buku ini juga memberi bonus kisah-kisah inspiratif penyandang tunarungu dan tunawicara, dalam dan luar negeri. Sebagai motivasi orang tua dan siapa pun yang terlihat dengan anak tunarungu dan tunawicara, agar memberi semangat sesuai bakatnya. Anak tunarungu dan tunawicara berguna bagi masyarakat, setara dengan anak-anak normal, dan mencapai sukses.

@@@