Ada banyak tema melatarbelakangi orang menulis. Tamasya, kuliner, humanis, resensi, dll. Ada juga orang menulis tema cerita di balik cerita karya fiksi. Atau hal-hal yang mendukung orang menulis fiksi. Kali ini saya menulis cerita di balik cerita.
Mengetik
dengan mesin ketik adalah salah satu syarat mengirim naskah di media-media. Lulus
SMA saya langsung kursus mengetik. Saya bilang kepada orangtua bahwa kelak saya
ingin bekerja di kantor. Maka keterampilan mengetik adalah wajib. Padahal saya
tidak pernah tertarik bekerja di kantor. Saya lebih suka kegiatan di lapangan. Tujuan
saya mengetik supaya saya bisa mengirim karya dengan tulisan mesin ketik. Lagi pula
jari-jari tidak lelah dibanding mengetik sebelas jari, alias telunjuk kanan
telunjuk kiri, seperti teman saya di organiasi. Saya membeli mesin ketik Brother,
harganya seratus lima puluh lima ribu rupiah. Sebelum marak laptop seperti
sekarang.
Awal saya suka menulis fiksi ketika
guru Bahasa Indonesia SMP menugasi setiap siswa menulis cerpen. Tanpa saya
sangka, karya saya menjadi contoh teman-teman dan dibacakan di depan kelas,
juga kelas lain, waktu itu ada dua kelas setiap tingkat. Bahwa biginilah sebuah
cerpen. Begitu kata guru kami. Sejak itu saya merasa memiliki sesuatu lebih dibanding
teman-teman saya.
Saya mengembangkan kegiatan menulis
dengan mengikuti teater saat SMA. Setiap pementasan ada naskahnya. Tapi ketika
di panggung ada kalanya pemain lupa dialog. Saat itulah ia harus berimajinasi,
sesuai cerita. Dan dalam latihan ada pelajaran berimajinasi. Hal ini sehubungan
dengan kegiatan menulis: mengembangkan ide cerita. Selanjutnya saya mengikuti
kursus-kursus menulis dan membeli buku-buku motivasi menulis. Majalah MOP
pertama kali menerbitkan cerpen karya. Judulnya “Kartu Osis”. Majalah remaja
milik Suara Merdeka itu menghonori dua puluh lima ribu rupiah.
Nama
pena Iis Soekandar saya buat sejak SMA. Kala itu teman-teman sedang musim bikin
nickname, belakangnya nama ayah. Kebetulan sekali. Nama saya satu kata:
Iskadarwati. Orang suka bingung memanggilnya, Wati, Kadar, Is. Beberapa kali
saya dikira sombong gara-gara mereka memanggil Wati atau Kadar, dan saya tidak
menoleh. Padahal saya tidak ngeh, karena saya lebih senang dipanggil, Is. Karena
Is terlalu pendek, saya menambah huruf i, jadilah Iis Soekandar. Sekarang semua
orang panggil saya Iis, karena Soekandar nama lelaki, meski terkadang dengan
sapaan, Pak atau Mas, padahal foto profil saya berkerudung.
Cerpen “Dasar Kampret”, dimuat di
majalah Anita, terinspirasi dari burung robin. Ditambah potongan cerita-potongan
cerita masa saya SMA. Saya pernah pelihara burung robin. Termasuk burung kecil.
Warnanya ciamik, perpaduan hijau muda dan oranye. Gerakannya lincah.
Menulis fiksi itu menyenangkan. Terkadang
saya sendirian di ruangan untuk mengetik. Terkadang berteman sunyi, meski di
sekitar saya ada orang-orang, untuk mengolah cerita, menganalisis watak setiap
tokoh, mencari logika-logika, dan hal-hal yang membuat karya, baik dan bagus.
Terkadang pula saya di lapangan, menemui narasumber, atau orang-orang yang bisa
saya ajak bicara sehubungan cerita, atau riset ke lokasi latar tempat, lalu menemui
banyak orang. Semua kegiatan itu membuat hidup seimbang dan penuh warna.
Semoga menyusul cerita di balik
cerita berikutnya.
@@@








