Tamasya
ini bermula ketika saya bertemu teman-teman, dalam acara kumpul-kumpul. Kami
bertiga tidak sengaja berkoloni, di antara teman-teman lain, dan entah dari mana
awalnya, pembicaraan tertuju seputar kebun binatang di Semarang. Dulu kebun
bintang di THR (Taman Hiburan Rakyat), Tegalwareng atau Jalan Sriwijaya,
sekarang menjadi Taman Wonderia. Setelah itu, kebun binatang berpindah di Tinjomoyo,
sebelum akhirnya di Mangkang.
“Tinjomoyo
sekarang ciamik,” kata salah satu teman, kemudian kami saling menimpali dan
menjadi perbincangan hangat berdasar pengalaman masing-masing. Tempat itu
menjadi pilihan tempat wisata, di antara kepenatan dan riuhnya kehidupan kota,
dengan bersantai menghirup udara hutan.
Seperti terkena setrum, hari demi
hari bertamasya ke hutan Tinjomoyo, terus tersulut, namun karena beberapa pertimbangan,
berkali-kali niat itu tidak terwujud, hingga akhirnya saya memutuskan
mengunjunginya.
Bus Transsemarang berhenti di halte
Jatingaleh. Pak ojek, yang mangkal tidak jauh dari halte, seperti tahu tujuan
saya. Saya langsung mengiyakan, sampai tidak menyadari bahwa harga itu mahal dibanding
ojol: sepuluh ribu rupiah. Ojek menyusuri jalan Karangrejo, samping Gedung PLN Jatingaleh,
lalu melewati sebuah kampus, belok kiri di jalan menurun, hingga berhenti tepat
di depan pintu gerbang lokasi.
Harga tiket Rp6.000,00 per orang. Jam
buka Senin-Minggu, pukul 08.00-17.00. Pengunjung yang ingin melewati jembatan kaca,
menambah lagi Rp15.000,00. Saya menolak tawaran itu karena jaraknya jauh dan
kebetulan tidak ada rombongan akan ke sana.
Di bagian depan, anak-anak muda
berseragam sedang berdiri berjajar, tidak lama kemudian menjalankan kegiatan setelah
mendapat perintah. Mereka mahasiswa universitas tidak jauh dari lokasi tempat
wisata. Universitas tersebut sedang mengadakan pelatihan kepemimpinan bagi para
peserta didik awal. Di sisi kiri, pohon-pohon mahoni merindangi tenda-tenda
sebagai tempat mereka berteduh.
Hutan ini cocok sekali menjadi tempat
fauna. Sayang, waktu itu terjadi banjir besar, akibat Sungai Kaligarang meluap,
hingga memutus jembatan utama, sebagai akses menuju hutan. Banyak infrastuktur
rusak. Sisa-sisa tempat ini sebagai kebun binatang masih tampak dan menjadi
spot-spot foto.
Ada
fasilitas kamar mandi-kamar mandi yang bersih, joglo sebagai tempat pertemuan, panggung
permanen untuk mengadakan hiburan, dan musala. Seorang warga sedang mengajak
jalan-jalan dua anaknya. Dengan senyum ramah, wanita itu memperkenalkan diri. Hutan
ini tidak jauh dari rumah-rumah penduduk. Di dekat perkampungan itu ada juga
sekolahan.
pohon-pohon mahoni
“Pohon-pohon
mahoni itu sengaja ditanam,” kata petugas yang saya jumpai, sambil menunjuk
pohon-pohon mahoni di sepanjang kanan kiri jalan utama. “Kalau mau masuk alas, lewat
undakan itu,” kata petugas. Ada undak-undakan berplester sebagai jalan menuju alas
atau rimba atau hutan alami. Orang-orang bule suka ke sana berombongan. Ketika saya
menyinggung binatang buas sebangsa macan, ia cepat memotong sambil terkekeh, “Hutan
Tinjomoyo tidak ada macan. Paling kera.”
“Di sini banyak pohon bambu,” kata
saya setelah menemui beberapa pohon bambu.
“Di hutan mana pun pasti banyak
pohon bambu. Pohon bambu berguna bagi penyerapan air, mencegah erosi, dan banjir,"
jelas bapak itu.
Bapak itu kembali bersih-bersih; saya melanjutkan jalan-jalan. Selain sebagai tempat berswafoto dan menikmati pemandangan alam, tempat ini juga cocok untuk acara-acara outdoor, seperti kamping, trekking, hiking.
Pukul
sepuluh lapak-lapak makanan-minuman mulai buka. Beragam merek dan macam mi instan
dan minuman-minuman saset maupun dalam kemasan-kemasan botol dijajakan. Karena tidak
ada makanan spesial, saya menikmati makanan dari rumah.
Waktu menunjuk tengah hari. Saya
bersyukur kedatangan saya bersamaan dengan kegiatan anak-anak kampus. Sebab
belum tentu keesokan hari, seperti rencana saya semula, ada pengunjung lain datang.
Di samping itu, mungkin akan mengganggu kegiatan rutin Minggu siang saya. Anak-anak
kampus itu mengadakan acara dua hari dan berada di Hutan Wisata Tinjomoyo sejak
hari Jumat. Siang ini mereka pulang. Makan siang disiapkan: nasi, lauk, sayur, dan
setumpuk stirofoam.
Sebelum
sepi pengunjung, saya pulang terlebih dahulu, dengan memesan ojek online,
menuju halte terdekat.
@@@















