Saya
sepakat pernyataan seorang kenalan, yang saya temui di halte, pukul sembilan pagi;
kami sama-sama menuggu bus, tapi tujuan berbeda, “Lebaran itu cukup biasa saja.
Syawalan, baru mbobok celengan.”
Kami
sama-sama orang Semarang. Kerabat-kerabat dari luar kota berdatangan di kampung
halaman, Semarang. Kalaupun kami bersilaturahim, ke saudara-saudara tua,
seputar Semarang, butuh biaya tidak berarti. Barulah seminggu setelah Lebaran,
atau biasa disebut Syawalan, orang-orang pergi ke daerah-daerah tertentu yang
menyelenggarakan tradisi Syawalan, seperti Kaliwungu, tempat yang akan saya
tuju. Untuk transportasi dan makan, butuh
biaya banyak, maka perlu mbobok celengan, atau membuka celengan, atau
menggunakan uang simpanan.
Bagi
saya, Lebaran terasa kurang lengkap tanpa Syawalan ke Kaliwungu. Kapan lagi ke Pasar
Sore atau Alun-Alun Kaliwungu, tempat keramaian Syawalan, kalau tidak saat Syawalan.
Di samping itu saya mengunjungi kenalan, juga setahun sekali, saat Syawalan.
Saya tinggalkan dia dan suaminya
karena bus yang saya tunggu sudah tiba. Setengah jam kemudian bus tiba di penghujung
tujuan, Terminal Mangkang. Lalu saya berpindah bus Transjateng jurusan Kendal, turun
Pasar Sore. Jalanan lengang sepanjang perjalanan. Perjalanan hanya membutuhkan empat puluh lima menit
dari Semarang sampai di Pasar Sore.
Karena suatu hal, saya
datang sehari setelah Syawalan, namun suasana Syawalan masih terasa. Syawalan serupa
Dugderan di Semarang. Di seputar alun-alun dijajakan aneka makanan dan minuman,
baik yang daerah seperti bolang baling, pisang molen, martabak manis, martabak
goreng, dll., maupun kekinian seperti ice cream roll, jus luscat, dimsum, dll. Di
sana juga tersedia aneka permainan anak: komedi putar, tong setan, dan
bianglala. Mereka beroperasi dari 25 Maret-5 April. Khusus hari H, yang jatuh
pada Sabtu, 28 Maret, mereka beroperasi dari pagi hingga malam. Di luar itu, sebagian
dari mereka buka mulai sore.
Menurut
cerita penduduk setempat, dinamakan Pasar Sore, dulu di depan Masjid Al
Muttaqin Kaliwungu, sekitar alun-alun, ada pasar yang beraktivitas setiap sore.
Sekarang Pasar Sore pindah belakang alun-alun.
Sedangkan tradisi Sywalan, juga
menurut penduduk setempat, berawal pada acara ngekol atau peringatan meninggalnya
seorang alim ulama di Jabal, tidak jauh dari alun-alun. Kemudian para pedagang juga
membuka lapak-lapak makanan, mimuman, dan mainan, di alun-alun.
Setelah
berjalan-jalan, saya beristirahat dan duduk bawah tenda, di sisi pelataran Masjid
Al Muttaqin. Di sana sepi. Seorang sekutiri sedang berjaga. Saat hari H, para
pedagang sate ayam memenuhi pelataran masjid tersebut.
Tidak lama, serombongan orang, laki
perempuan, besar kecil, dengan bawaan paket-paket dos dan tas jinjing besar,
menuju ke dalam, lewat jalan sebelah masjid.
“Mungkin mereka mengantar santri
atau menjemput santri,” kata sekuriti seperti tahu pertanyaan dalam benak saya,
siapa mereka dan kira-kira untuk tujuan apa, bukankah Lebaran sudah lewat.
Di seputar masjid ada empat pondok
pesantren. Salah satunya memiliki santri lebih dari seribu orang. Belum lagi di
tempat-tempat lain. Pantaslah kalau Kaliwungu disebut Kota Santri.
Setelah lama beristirahat dan mengobrol
santai dengan sekuriti, saya berkunjung ke kenalan. Rumahnya di belakang
masjid. Saya termasuk tamu yang ditunggu setiap Syawalan. Sambutannya riuh. Sambil
menikmati aneka camilan Lebaran, kami bercanda dan bercerita seputar pengalaman,
selama setahun tak bertemu. Lontong sayur menjadi hidangan terakhir ketika tiba
makan siang. Tidak lupa sebagai makanan khas, dia pun memberikan beberapa macam
kerupuk mentah. Sebagaimana kebiasaannya, kepada para kerabat dan kenalan, dari
jauh.
Waktu Duhur saatnya salat di Masjid Al
Muttaqin. Mumpung berkunjung ke Kaliwungu, saya merasakan salat di masjid itu,
sekaligus berbincang-bincang dengan para wisatawan yang transit, menuju tujuan
berikutnya.
Setengah
dua siang saya keluar masjid dan mampir di toko oleh-oleh. Aneka kerupuk matang
dijajakan di lapak-lapak pinggir jalan raya depan alun-alun. Orang-orang menyebutnya
kerupuk usek. Kerupuk-kerupuk itu digoreng pasir panas dengan cara diusek-usek
atau digosok-gosok. Sebagian lagi menyebutnya kerupuk wedi karena digoreng dengan
wedi atau pasir. Saya menyebutnya kerupuk tayamum. Sebab orang tayamum pakai
debu atau pasir atau tanah.
Beberapa kemasan kerupuk tayamum dijual,
dari harga lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, hingga tiga puluh ribu
rupiah. Bentuk kerupuk bermacam-macam. Ada bentuk mi, ada bentuk segi empat dan
lubang-lubang, ada pula tanpa bentuk beraturan. Saya membeli sebungkus sepuluh
ribu kerupuk tanpa bentuk beraturan.
Puas Syawalan di Pasar Sore Kaliwungu,
saatnya saya mencari halte, kembali ke Semarang. Sampai berjumpa tahun depan!
@@@












