Ke
Museum Jenang? Ulang saya ketika seorang teman mengatakan komunitas kami akan berwisata
ke Kudus. Di antaranya ke Museum Jenang. Tempat-tempat wisata lain pernah saya
kunjungi. Tapi saya belum pernah ke Museum Jenang. Hanya 1-2 jam jarak Semarang-Kudus.
Kesempatan belum memungkinkan. Saya langsung mendaftar.
Waktu menunjuk pukul dua lebih
ketika rombongana tiba di Museum Jenang. Udara terasa lebih panas dibanding Semarang.
Tapi lalu lintas depan museum tak seramai di Semarang. Museum Jenang terletak
di Jalan Sunan Muria Kudus.
Begitu masuk gedung, dijual aneka
oleh-oleh. Tentu termasuk jenang dan olahannya. Juga makanan-makanan khas Kudus
lain. Museum Jenang terletak di lantai 2 dengan membayar tiket Rp15.000,00 per
orang. Anak-anak di bawah tiga tahun gratis.
Terasa
sekali kami sedang berada di Museum Jenang, begitu masuk museum. Terhampar pamandangan
sejarah jenang. Patung orang membuat jenang dengan alat-alat tradisional. Gambar
pencetus jenang Mubarok pertama: H. Mabruri dan istrinya. Dari tahun 1992-sekarang
memasuki generasi ke-3, H. Muhammad Hilmy. Museum Jenang tidak lepas atas jasa
merek jenang Mubarok. Diorama Pasar Bubar, tempat pertama kali jenang dijualbelikan
tahun 1930. Ada juga replika Menara Kudus.
Pasar Bubar
Berkunjung ke Museum Jenang tidak hanya mengenal sejarah jenang. Tapi juga mengenal bagaimana masyarakat Kudus menyapa dunia, melalui Gusjigang. Seperti ditunjukkan oleh patung dan tulisan di kanan atas tempat parkir. Atau gambar pertama tulisan ini.
ruang Gusjigang
Gusjigang
(bagus akhlak, pandai mengaji, terampil berdagang) diajarkan
oleh Sunan Kudus. Termaktub dalam hiasan dinding. Suasana kuning keemasan mengantar
kami pada ruang Gusjigang. Terdapat biografi tokoh-tokoh ulama dan pengusaha
Kudus.
Ruang-ruang
selanjutnya pengejawantahan Gusjigang. Bagus akhlak ditunjukkan di ruang
trilogi ukhuwah: persaudaraan sesama umat Islam, persaudaraan sebangsa dan
setanah air, persaudaraan sesama manusia. Adanya galeri Al-Quran dan Asmaul
Husna menandakan masyarakat Kudus pandai mengaji. Banyak koleksi Al-Quran
di sini, dari ukuran mini hingga besar. Ada juga miniatur Ka’bah. Terampil berdagang
ditunjukkan dengan produksi jenang dan seni ukir. Kudus juga penghasil rokok,
itu sebabnya terkenal sebagai Kota Kretek.
omah kapal
Terdapat
patung Nitisemito, Raja Kretek Indonesia, pada zamannya. Pengusaha rokok asal Kudus
ini menyewa pesawat fokker untuk menyebar pamflet untuk dagangannya. Ia menunjukkan
bahwa orang pribumi juga bisa sukses, sebagaimana bangsa Kolonial, Belanda. Ia juga
membangun dua omah kembar (rumah kembar) untuk dua putrinya, di barat dan timur
pinggir Sungai Kaligelis. Kedua rumah itu bergaya arsitektur khas Belanda. Replika
Kudus masa lalu juga ditunjukkan omah kapal (rumah kapal). Milik Bapak Muzahid
dan istrinya. Untuk mengenang perjalanan mereka tahun 1930, saat menunaikan
ibadah haji. Waktu itu kapal laut satu-satunya transportasi berhaji. Ada juga
rumah Joglo Pencu, rumah khas Kudus.
rumah adat Joglo Pencu
Tidak
kalah seru saat saya melihat koleksi mainan anak-anak tempo dulu: dakon, gansing,
yoyo, bedhilan, ketapel. Saya jadi ingat permainan yoyo. Saya bisa melempar
yoyo ke bawah. Tapi saya selalu gagal menarik lagi yoyo ke telapak tangan.
Mungkin butuh waktu satu hari untuk
memuaskan diri berkunjung ke Museum Jenang. Banyak hal menarik tentang Kudus. Sayang,
kami harus melanjutkan perjalanan, dan terpenting, panggilan salat Asar untuk
ditunaikan.
@@@















