Nama
Goa Kreo tidak asing di halte-halte utama. Biasanya calon penumpang bus atau
petugas halte menyebut tempat wisata tersebut sebagai penanda. Tempat tujuan
yang akan dituju dekat Goa Kreo. Bus Transsemarang melayani rute arah Goa Kreo,
yaitu koridor 8, tujuan Gunungpati.
Tempat wisata Goa Kreo identik dengan
monyet-monyet. Saya teringat waktu itu, entah kapan, berkunjung ke sana, dan
melihat monyet-monyet menyambut kedatangan para pengunjung. Saya pun rindu
untuk kembali melihat monyet-monyet yang mudah ditemui di alam bebas.
Goa Kreo terletak di Kelurahan Kandri,
Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Bus Transsemarang dari arah Simpang Lima turun
Halte Goa Kreo, lalu menyeberang jalan, di sebelah kanan ada gapura, tertulis
huruf besar, Goa Kreo. Tukang ojek siap mengantar. Atau pesan lewat aplikasi. Taripnya
sepuluh ribu rupiah.
seekor monyet menyambut di pintu gerbang
Butuh
waktu satu jam saya hingga sampai di tempat tujuan.
Seekor monyet mengagetkan begitu
saya turun dari kendaraan. Ia duduk di pintu gerbang.
Tiket masuk hari biasa Rp8.000,00. Anak-anak
mulai usia 5 tahun membayar. Berhubung saya ke sana tanggal merah, bertepatan Hari
Kemerdekaan RI, saya membayar Rp10.000,00. Di sebelah kanan loket, ada tempat
parkir. Tarif roda dua tiga ribu rupiah, roda empat lima ribu rupiah. Tidak
jauh dari tempat parkir sebuah musala. Kamar mandi terletak di lain tempat. Sedangkan
di bawah, atau dekat gua, kamar mandi dan musala satu lokasi.
Tidak seperti bayangan saya bertemu
banyak monyet. Saya hanya menemukan 1-2 monyet.
“Mungkin berpindah ke waduk,” jelas
petugas ketika saya bertanya ke mana monyet-monyet itu. Apakah mereka dipindahkan
di kebun binatang?
Petugas lain di beda tempat mengatakan
bahwa mereka berada di pepohonan dekat gua. Nanti mereka keluar jika banyak
pengunjung. Yang pasti hingga siang dan pengunjung banyak, saya tidak menemukan
banyak monyet, sebagaimana dulu. Hal itu juga dikatakan oleh pengunjung yang kebetulan
saya temui.
Tidak
lupa petugas memberi saran agar saya membawa tongkat dari ranting yang disediakan,
untuk menghalau monyet-monyet yang mengganggu. Jangan makan atau membuka tas, kecuali
pengunjung ingin memberi, termasuk menenteng minuman berwarna. Demi menjaga keselamatan,
sebotol air mineral saya masukkan di ransel.
“Monyet-monyet itu makan apa saja,
yang penting tidak ikan. Mereka tidak suka bau amis,” jelas petugas.
Selain melihat monyet-monyet di alam
bebas, Goe Kreo menyajikan pemandangan Waduk Jatibarang, melalui Jembatan Merah.
Jembatan Merah juga menyediakan spot-spot foto. Waduk Jatibarang bersebelahan
dengan Goa Kreo. Goa Kreo dikelola pemerintah; Waduk Jatibarang dikelola masyarakat
setempat.
Perjalanan
berikutnya menuju gua.
Goa Kreo termasuk legenda. Berawal saat
Sunan Kalijaga mencari pohon jati untuk soko atau tiang Masjid Demak. Ketika mendapatkannya
lalu memotong dan akan dibawa pulang dengan dihanyutkan di sungai, kayu jati
itu terjepit bebatuan. Segala cara dilakukan, namun gagal. Kemudian Sunan Kalijaga
bertafakur di gua. Lalu datanglah sekawanan kera berwarna hitam, putih, merah, dan
kuning. Mereka membantu kesulitan Sunan. Akhirnya kayu jati tersebut berhasil
dihanyutkan menuju Demak. Sekawanan kera ingin mengikuti Sunan Kalijaga, tapi
ditolak. Mereka diberi tugas menjaga atau memelihara atau mangreho (bahasa Jawa)
daerah sekitar. Itulah asal usul kata kreo dan menjadi Goa Kreo.
Begitu
prasasti yang saya baca di batu. Di atasnya sebuah patung kera.
gua bersejarah
Saya
sampai di gua bersejarah. Karena tidak bisa dimasuki, saya cukup melihat,
istirahat sesaat, kemudian kembali pulang. Perjalanan pulang terasa melelahkan.
Di samping setelah menempuh perjalanan berangkat, perjalanan pulang naik
anak-anak tangga.
Ada beberapa kantin menjajakan
makanan dan minuman. Tapi saya tidak mampir. Tempat wisata dalam kota. Mungkin
makanan dijajakan untuk mengenyangkan perut, dan tidak ada makanan khas daerah
lain. Saya membawa bekal dari rumah. Suara musik dengan lagu-lagu hit menemani
sepanjang tempat wisata itu buka. Pengunjung diperkenankan menyumbang lagu.
Satu setengah jam cukuplah refreshing
di Goa Kreo, walau ada yang kurang: tidak bertemu monyet-monyet dalam jumlah banyak.
@@@











