Iis Soekandar

Jumat, 14 Agustus 2026

Kue Maromi

                                                                                          

         Langit berwarna putih. Waktu menunjuk pukul setengah enam. Seperti tidak mau keduluan matahari nongol, saya gegas pergi ke lapak penjual aneka kue. Seiring waktu berlalu, banyak pula pembeli berburu makanan kesukaan mereka. Dan para pembeli yang mengelilingi lapak itu mengganggu saya memilih kue favorit, yang tidak gosong dan masih hangat. Jika itu terjadi, saya cukup meminta penjual mengambilkan kue favorit sebanyak saya mau, lalu membayar.

            Lapaknya dari tampah-tampah yang ditata di atas dunak-dunak. Penjualnya duduk di dingklik. Kue-kue itu berjajar dengan rapi. Ada kalanya ditata begitu saja di atas tampah beralas koran. Sebagian lagi berada dalam wadah-wadah plastik.

            “Tidak ada kue maromi,” jawab pedagang. Tanpa memperhatikan saya ia sibuk melayani para pembeli ketika saya mencari-cari kue kesukaan. Saya sedih mendengar keterangan berikutnya. Pedagangnya sakit.

            Saya pulang tanpa tenaga.

            Kue maromi mengingatkan saya semasa kecil. Waktu itu ada kue gelek. Tapi teksturnya agak keras. Seiring perkembangan zaman, tidak ada lagi orang berjualan gelek. Saya browsing, barangkali ada kedai terdekat menjual gelek. Saya ketik gelek. Yang keluar gambar onde-onde ketawa. Begitu seterusnya.

            Lain hari, saya jalan sehat dan melewati lapak pedagang aneka kue. Tidak ada gunungan kue maromi. Itu saya alami hingga beberapa kali saya pulang jalan sehat.

            Tidak ada jalan lain selain menemui produsennya. Ternyata ia sakit salah satu anggota tubuhnya dan jangka waktu lama baru sembuh. Ia berjualan lagi setelah Lebaran.

            “Sekarang maromi termasuk kue langka,” katanya. Hanya wanita itu yang mempertahankan membuat maromi. Saya mengangguk-angguk. Hal itu diperkuat pedagang aneka kue langganan. Ia akan membayar saya sepuluh kali lipat jika bisa menemukan satu maromi di pasar.

Bahan kue maromi tepung gandum, telur, gula pasir, zat pengembang, dan santan. Ukuran gula harus tepat, jika kurang, bantat, jika kelebihan, gosong.

            Mungkin di daerah lain ada kue maromi tapi berbeda nama. Beberapa makanan beda daerah beda nama, tapi macamnya sama.

            Sebelum pulang tidak lupa saya mendoakan beliau agar cepat sembuh. Dengan demikian saya pun dapat segera merasakan kembali kue maromi.

            Lebaran berlalu.

            Berkali-kali saya lewat lapak penjual aneka kue yang mangkal di perempatan, tidak ada gunungan maromi. Sampai beberapa hari lalu saya kembali melihat kue maromi. Dari jauh kue maromi paling kentara. Di samping bentuknya besar, dibanding kue-kue lain, jumlahnya juga banyak.

            Sama-sama warnanya cokelat kemerahan, dan rasanya manis, kue maromi berbeda dengan bolang-baling. Kue maromi empuk. Kue maromi tidak dicetak. Bolang-baling agak keras. Umumnya berbentuk mirip dadu.

            Mulai sekarang, saya menikmati kue maromi kapan pun saya mau. Apalagi tidak hanya satu pedagang. Tempo hari ada pedagang kue keliling lewat rumah, di antaranya menjual kue maromi. Ia mengambil dari produsen yang sama.

@@@


Jumat, 07 Agustus 2026

Memahami Anak Tunawicara

                                                                                         

             Ketika membaca judul buku ini, saya teringat seorang teman yang memiliki kakak bisu-tuli. Dan kakak perempuannya itu punya pasangan, juga bisu-tuli. Orang-orang bisu-tuli yang saya kenal hidup seorang diri, hingga akhir hayatnya. Saya pun ingin mengetahui lebih dalam kehidupan orang bisu-tuli.

            Buku Memahami Anak Tunawicara ditulis oleh Bilqis, seorang penulis lepas dan marketing penerbitan.

            Orang bisu-tuli atau biasa disebut tunarungu dan tunawicara, berawal dari masa kanak-kanak. Saat anak bicara, suaranya sengau, cadel, bicara tidak jelas, atau bicara tapi tidak mengeluarkan suara. Anak mengalami kelainan dinamakan Disabilitas atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Disabilitas bermacam-macam: tunanetra (hambatan penglihatan), tunarungu (hambatan pendengaran), tunagrahita (hambatan penyesuaian diri dengan norma dan lingkungan), tunadaksa (hambatan gerak), tunalaras (hambatan mengendalikan emosi), cacat ganda. Anak Berkebutuhan Khusus bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa) sesuai kekhususannya masing-masing.

            Menurut buku Memahami Anak Tunawicara, anak tunarungu juga penyandang tunawicara. Sebab ia tidak dapat menangkap kata-kata orang lain. Tapi anak tunawicara belum tentu tunarungu. Penyandang tunawicara karena organ-organ bicara: romgga mulut, bibir, lidah, langit-langit, pita suara, dll., tidak berfungsi. Faktor penyebab secara umum: kelumpuhan pita suara. Hal itu bisa disebabkan oleh hipertensi, turunan orangtua, keracunan makanan, tetanus neonatorum (penyakit yang menyerang bayi baru lahir, biasanya disebabkan oleh pertolongan yang tidak memadai), difteri (penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan bagian atas).

            Terdapat gangguan saat bicara: gangguan artikulasi, gangguan suara, dan gangguan kefasihan.

            Ada tiga pendekatan pengajaran alternatif bagi penderita tunarungu dan tunawicara: metode manual (bahasa isyarat dan abjad jari), metode oral (pembimbingan ucapan dan pembacaan ucapan), metode komunikasi total (penggabungan kedua metode sebelumnya).

            Anak Berkebutuhan Khusus membutuhkan penanganan khusus pula, di antaranya dalam pendidikan: pendidikan dalam keluarga, pendidikan khusus untuk anak, dan pendidikan inklusi.

Penerimaan dan dukungan keluarga sangat penting agar anak tidak rendah diri dari kehidupan sosial. Orang tua atau keluarga tetap memperlakukannya senormal mungkin sehingga anak tunarungu dan tunawicara tetap merasa layaknya anak-anak lain. Sehingga memaksimalkan kemampuan mereka dalam meraih prestasi-prestasi dalam kehidupan sosial. Pendidikan inklusi diperoleh anak tunarungu dan tunawicara di sekolah regular dengan pendampingan guru khusus. Sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 pasal 31 ayat [1] dan [2] bahwa setiap warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan.

Anak tunarungu dan tunawicara juga perlu diajarkan keterampilan menulis. Menulis sangat membantu sebagai sarana menggambarkan pikiran, perasaan, dan ide. Keterampilan menulis mungkin sulit dilakukan anak-anak karena hilangnya kemampuan pendengaran. Salah satu solusinya adalah strategi pembelajaran menulis dengan pendekatan proses. Pendekatan ini menekankan anak tunarungu dan tunawicara terlibat secara aktif, mulai pra menulis, pengajaran langsung saat menulis, dan pengajaran pasca menulis.

Buku ini juga memberi bonus kisah-kisah inspiratif penyandang tunarungu dan tunawicara, dalam dan luar negeri. Sebagai motivasi orang tua dan siapa pun yang terlihat dengan anak tunarungu dan tunawicara, agar memberi semangat sesuai bakatnya. Anak tunarungu dan tunawicara berguna bagi masyarakat, setara dengan anak-anak normal, dan mencapai sukses.

@@@


Jumat, 31 Juli 2026

Tamasya Remang-Remang ke Pari Mentes

                                                                                         


              Beberapa tahun terakhir, banyak restoran atau warung makan berkonsep pedesaan bermunculan. Tempat-tempat itu di daerah Boja, Kendal, dan sekitarnya. Pengunjung makan sambil menikmati pemandangan alam, serasa berada di tengah sawah. Ada Kali Kesek, Cendol Wolu, Soto Sawah, Pari Mentes, mungkin masih ada lagi.

            Nama tempat terakhir bikin saya penasaran. Saya dan rombongan akan mengadakan arisan sekalian makan siang. Syukurlah, pilihan ada di Pari Mentes.

            Semarang sebagai kota metropolitan, lekat dengan gedung-gedung, polusi, dan lahan terbuka yang sempit. Penghijauan selain menetralisir polusi, juga menyegarkan mata. Otoritas menggalakkan urban farming. Atau penghijauan di perkotaan, dengan bantuan sejumlah alat di lahan sempit. Maka tempat terbuka dengan pemandangan hamparan hijau sangat diminati. Orang bertamasya, tidak perlu jauh ke luar kota, tapi tetap bisa menikmati alam pedesaan.

            Pari Mentes ditempuh sekitar satu jam dari Semarang dengan mobil pribadi, atau 1,5 jam naik odong-odong, seperti saya lakukan bersama sebagian rombongan.

Pari Mentes (bahasa Jawa) atau Padi Bernas (bahasa Indonesia), adalah warung makan representatif. Tempatnya tidak begitu luas. Dengan penataan sedemikian rupa,  warung ini menyediakan fasilitas tempat untuk rombongan kecil atau keluarga, dan banyak orang. Selain itu ada kamar mandi, tempat ibadah, musik, dan tentu pemandangan alam dengan spot-spot foto. Pantaslah tempat ini bernama Pari Mentes seperti padi berkualitas, dengan sarana makan, sekalian refreshing, spot foto, dan kegiatan lain, di alam pedesaan.

Kami tiba pukul 11.30. Makanan makan siang, sesuai pesanan tersaji di gubuk, tidak jauh dari tempat yang kami pesan. Kami menikmati nasi rames, lauk ayam goreng. Ditambah es teh, cukuplah menghilangkan haus dan lapar setelah perjalanan, sembari merasakan semilir angin, di depan hamparan hijau.

                                                                           

pemandangan alam terbuka

Saya teringat makan nasi rames di tempat langganan. Nasi bungkus dengan harga lima ribu rupiah. Nasi, mi, kering tempe, sayuran, dan telur dadar. Saya menambah tahu bakso. Lapaknya dari mobil terbuka, di pinggir jalan. Porsi orang lelaki makan dua bungkus.

Semua anggota selesai makan siang. Sambil duduk santai dan sesekali minum teh dingin atau teh panas sesuai selera, satu per satu agenda arisan dilakukan.

“Wah, gerimis datang,” kata teman, diiringi yang lain. Kami menyayangkan saat acara selesai dan akan foto. Foto-foto kurang maksimal karena hanya diambil dari dalam gubuk, tempat kami berada.

Satu per satu berjalan cepat ke musala. Khawatir rintik-rintik berganti hujan deras, kami segera pulang. Odong-odong kendaraan setengah terbuka, itu sebabnya tidak dapat sepenuhnya menghalau air hujan.

Kami tiba kembali di kampung waktu Asar. Sebuah jeda waktu, menikmati pengalaman di hari Minggu untuk kembali beraktivitas besok Senin. Tamasya tidak perlu jauh ke luar kota, namun menikmati perjalanan alam terbuka, laiknya di sebuah pedesaan.

@@@



Jumat, 24 Juli 2026

Berubah Haluan

                                                                                       

gambar Canva

           Ketika orang membutuhkan sesuatu dan ada orang lain bisa mewujudkan, transaksi terjadi. Secara langsung atau tidak langsung, hal itu dibutuhkan kesepakatan. Karena sesuatu hal, kesepakatan menjadi longgar dan akhirnya berubah haluan atau tidak seperti perjanjian semula. Saya pernah mengalami hal itu dan saya pihak yang dirugikan.

            Saya dan tiga teman menunggu taksi online. Tengah hari matahari di atas ubun-ubun. Angin menerbangkan debu dan menampar wajah. Tempat tinggal pemilik hajat di perkampungan, jauh dari jalan raya. Melihat kedatangan taksi menjadi kegembiraan tersendiri bagi kami, setelah menunggu setengah jam. Sopir taksi pandai merayu dengan bicaranya yang akrab, sejak mobil mulai melaju. Sebagaimana hukum alam, saya mentraktir sebab duduk bersebelahan dengan sopir. Kami laiknya dua sahabat.  “Nanti lewat Kota Lama. Hari Minggu Kota Lama semakin ramai,” katanya, seolah saya bukan orang Semarang dan belum pernah tahu tempat wisata Kota Lama. Saya tersenyum. Tidak butuh perjalanan jauh lewat Kota Lama, dibanding rute lain, kata saya dalam hati. Tapi lewat Kota Lama kendaraan merangkak karena harus bersaing dengan pejalan kaki dan kendaraan lain, itu sebabnya para sopir ojek enggan lewat sana. Tarip dua puluh ribu menjadi tiga puluh ribu saya bayar begitu saja.

            Pengalaman lain saat saya menghadapi pedagang asongan. Saya membeli spons pencuci piring, setelah spos lama usang. Kami berbicara akrab. Saat itu pertemuan kedua. Dia bilang harganya sama. Saat saya memberikan uang, barang yang diberi spons tipis. Saya protes diberi barang tidak berkualitas. Lalu dia bilang barang yang sama harganya naik, sebagaimana di tempat-tempat lain. Padahal setelah saya cek keesokan hari, spons tersebut di mana-mana harga tidak naik. Entah mengapa saya mengikuti saja harga yang dia minta tanpa menawar. Semata-mata karena kami seperti teman. Bukan masalah uang, terlebih uang tidak seberapa, melainkan ketidakjujuran terasa aneh, setelah dia kembali mendorong lapaknya.  

            Menemui masalah dengan sopir ojek kembali saya alami, saat tamasya ke Hutan Wisata Tinjomoyo. Kali ini sopir ojek mangkal. Sepanjang perjalanan sopir ojek bercerita bahwa ia punya banyak pelanggan. Dia menjemput atau mengantar sesuai hari mereka. Dan setelah mengantar saya, dia akan menjemput pelangganya di bandara. Wah, boleh juga, Bapak ini, pelanggannya ada yang high society. Saat hampir sampai di Pemancingan Tinjomoyo, saya mulai curiga. Dia mengatakan bahwa tujuan hampir sampai. Saya sontak protes, “Lho, saya mau ke Hutan Tinjomoyo.” Kalau begitu ongkosnya lima belas ribu.” Dengan dalih perjalanan lebih jauh. Saya tidak menanggapi. Kendaraan terus melaju menuju Hutan Tinjomoyo. Emosi saya tahan. Awal transaksi dia setuju tarip sepuluh ribu dari awalnya lima belas ribu. Dia mencari uang tidak halal. Saya bersikap biasa. Lalu saya bayar lima belas ribu rupiah begitu sampai di tempat tujuan.

            Kecewa?

            Tentu!

            Saya menyikapi semua itu dengan legawa. Saya pun berubah Haluan, kelebihan uang itu untuk sedekah. Terlebih saat berhadapan dengan sopir ojek menuju hutan wisata. Saya bayangkan jika saya menentang, kemudian dia membelokkan kendaraan di tempat tidak semestinya, saya bisa celaka. Saya beruntung dia mengantar saya hingga di depan loket dan menginformasikan bagaimana nanti saya pulang. Dia senang; saya  senang.

            Di tengah ekonomi sulit, orang bisa bertindak apa saja. Maka lebih baik saya menyikapi keadaan dengan positip, yang terpenting urusan beres.

@@@


Jumat, 17 Juli 2026

Dolanan Anak

                                                                                       

           Di tempat pertemuan arisan, seorang ibu tidak mau terganggu saat anak balitanya merengek minta ke luar, lalu ibu itu memberikan ponselnya, dan si anak senyum-senyum menatap layarnya. Di alun-alun, orang tua yang tidak mau susah, anaknya berlarian ke sana ke sini, memberikan ponselnya. Lalu anak itu duduk tenang dengan telapak kaki menapak di kursi, kedua tangannya memegang ponsel, dan ibu itu pun dengan mudah menyuapinya. Dan  semua itu akan berlanjut dalam kegiatan-kegiatan lain, yang intinya: untuk mempermudah urusan, ponsel menjadi solusi orang tua menenangkan anaknya.

            Era digital, semua orang butuh ponsel. Selain alat komunikasi, ponsel juga menyajikan gim-gim menarik. Anak-anak secara langsung atau tidak, punya ketergantungan ponsel.

Seperti hujan di bulan Juni, ketika saya membaca judul buku Dolanan Anak Warisan Permainan Tradisional Nenek Moyang, di Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah. Saya  membayangkan anak-anak bermain dolanan anak, sebagaimana masa kecil saya.

            Buku Dolanan Anak ditulis oleh Tim Laboratorium Sejarah Universitas PGRI Pontianak, Kalimantan Barat. Buku ini berisi bermacam-macam dolanan dimainkan anak-anak daerah-daerah di Nusantara, dari dolanan sederhana dan mudah, hingga dolanan butuh ketangkasan dan strategi. Ada juga dolanan khusus anak-anak Kalimantan Barat.

            Di antara gempuran teknologi, penting bagi kita melestarikan warisan leluhur, di antaranya melestarikan dolanan anak. Melestarikan dolanan anak bisa dengan cara: membuat permainan tradisional menjadi modern dengan membuat video animasi dolanan anak, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya dolanan anak demi melestarikan budaya bangsa, dan mengenalkan dolanan anak pada generasi muda, agar mereka berperan aktif dengan cara bermain dolanan anak bersama anak-anak, mengadakan festival, dan jika perlu memasukkan dolanan anak dalam kurikulum sekolah.

            Dengan dolanan anak, anak keluar dari rutinitas, mengatur emosi, melatih kemampuan motorik, berpikir, berkompetisi, jujur, bersosial, cermat, teliti, dan menyehatkan mata. Dan yang terpenting, menghibur anak.

            Di antara dolanan anak: permainan kelereng/guli, biasanya dimainkan anak laki-laki. Permainan ini ada di Mesir sejak 3000 SM. Permainan kelereng dibutuhkan tanah lapang, juga lubang untuk mengumpulkan kelereng-kelereng. Permainan ini dilakukan berkelompok, atau perorangan.  

Bola bekel adalah dolanan yang dimainkan anak-anak perempuan, 2-5 pemain. Peralatan yang dibutuhkan bola karet sebesar bola pingpong, timbel menyerupai kacang berjumlah lima buah. Pemain pertama harus mulai dengan semua biji dalam satu tangan, dan bijinya akan dijatuhkan waktu bola dilempar ke udara. Setiap kali bola dilempar, bolanya hanya boleh menyinggung lantai sebanyak satu kali, sebelum pemain tersebut menangkapnya. Bekel dari bahasa Belanda bikkelen artinya membanting tulang. Tidak ada hubungan membanting tulang dengan bola bekel. Atau mungkin menjatuhkan bola di lantai diartikan membanting tulang?  

Congklak/dakon ada sejak 1300 SM di Mesir dan Turki, kemudian menyebar ke negara-negara lain melalui pedagang dan pelaut. Di Jawa congklak dimainkan dengan papan kayu dengan tujuh lubang setiap sisi, dan dua lubang di ujung kanan-kiri papan. Setiap lubang congklak diisi jumlah biji yang sama, dari biji sawo atau kerikil. Permainan ini melatih stragegi dan ketepatan.  

Sandal bakiak/terompah kayu dimainkan semua usia, laki-perempuan, anak-anak-orang dewasa, secara beregu dan bersama-sama. Alat yang digunakan bakiak dari bilah kayu panjang, di atasnya diberi pengait dari ban sepeda motor, sebanyak tiga atau empat, untuk mengaitkan kaki. Masing-masing regu menggunakan dua bakiak, untuk kaki kiri dan kanan. Dolanan ini melatih kekompakan dan keseimbangan. Sandal bakiak biasanya diadakan saat peringatan ulang tahun Kemerdekaan Indonesia.

Lomba arok atau lomba sampan adalah lomba balapan perahu di daerah Kalimantan Barat. Lomba ini terkenal di Kabupaten Kapuas Hulu. Tidak hanya anak-anak, orang-orang dewasa juga menyukai lomba arok. Kayu beringin digunakan sebagai perahu karena ringan dan mudah terapung di air.

Selain dolanan-dolanan di atas, ada juga telepon kaleng, lompat tali, peluit burung bambu, permainan sodor, sendal batok kelapa, dan dolanan-dolanan lain, semua berjumlah 22 buah.  

            Penting bagi orang tua, guru, atau siapa pun orang dewasa menguri-uri dolanan anak, di antaranya membaca buku ini. Setiap dolanan dilengkapi gambar, untuk memperjelas.

            Sayang, sebagaian ejaan dan tanda baca tidak sesuai. Beberapa kalimat juga tidak efektif. Tapi terlepas dari semua itu, kembali memainkan dolanan anak adalah nilai berharga yang harus dilestarikan.

@@@


Jumat, 03 Juli 2026

Bubur Suro

                                                                                         

            Bagi sebagian orang, Hari Asyura yang jatuh pada setiap 10 Muharam, adalah saat yang ditunggu. Saya termasuk salah satunya. Begitu tahun Hijriah berganti, dan masuk tanggal 1 Muharam, waktu seperti beranjak perlahan. Begitu saatnya tiba, undangan-undangan pun bertaburan. Di antara serangkaian acara, di antaranya doa-doa kebaikan untuk satu tahun mendatang, adalah pembagian bubur suro secara cuma-cuma.  

            Ada banyak kejadian penting pada Hari Asyura, seperti terselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Raja Fir’aun, Nabi Ibrahim terbebas dari api Raja Namrud, Nabi Yunus keluar dari perut ikan, dll. Lalu orang-orang membagikan bubur suro, dari kata Asyura atau mungkin berdasar kalender Jawa: bulan Suro. Hal itu dilakukan sebagai rasa syukur. Biasanya disertai peningkatan amal soleh dengan memberi santunan anak-anak yatim.

            Bubur suro berbahan utama beras, yang biasa dimasak nasi, diberi warna kuning, lekat aroma dan rasa daging kambing, dengan ramuan sejumlah bumbu dan rempah. Makanan-makanan penyertanya: telur dadar, sambal goreng ati, perkedel kentang, dan abon. Ada juga yang menambahi calon: makanan dari parutan kelapa, diberi bumbu-bumbu, lalu dibentuk bulat oval kemudian digoreng.

            Sesuai namanya, bubur suro tidak ditemui sehari-hari, berbeda dengan bubur kacang hijau, bubur mutiara, bubur sumsum, bubur ketan hitam, dan macam-macam bubur lain. Satu sisi karena jenis bubur dan makanan-makanan penyertanya lauk pauk, harganya mahal. Saya bertanya kepada orang-orang yang tahu tentang bubur suro, harga seporsi sekitar tujuh belas ribu rupiah. Sementara harga bubur-bubur lain, tiga-lima ribu rupiah seporsi.

Sebagian orang terdogma: belum makan jika belum makan nasi. Orang lebih memilih makan nasi, sebagai makanan pokok sehari-hari, dibanding makan bubur, jika bubur suro dijadikan menu sarapan, sebagaimana bubur ayam. Harga semangkuk bubur ayam tidak semahal bubur suro. Seporsi nasi rames cuma enam sampai tujuh ribu rupiah. Apalagi keadaan ekonomi sulit seperti sekarang.

            Saya beruntung tinggal di daerah, yang masih lekat dengan tradisi ini. Setidaknya saya mendapat lima macam bubur suro, dari lima undangan, dengan berbagai rasa dan kelengakapan makanan penyertanya, sejak tulisan ini saya tulis, beberapa hari lalu. Bubur-bubur itu dibagikan oleh komunitas-komunitas dan perorangan, dari malam Asyura (menurut penanggalan Hijriah, sudah masuk Hari Asyura), berlanjut keesokan hari, hingga jelang Magrib.

Bubur suro mungkin masih dibagikan dari komunitas-komunitas atau orang-orang yang ingin membagikan bubur suro, sepanjang bulan Muharam atau bulan Suro. Sudahkah teman-teman juga makan bubur suro? Atau akan mendapatkan bubur suro rentang bulan Muharam atau bulan Suro? Selamat menikmati!

@@@


Jumat, 26 Juni 2026

Menyusuri Hutan Wisata Tinjomoyo

                                                                                        

         Tamasya ini bermula ketika saya bertemu teman-teman, dalam acara kumpul-kumpul. Kami bertiga tidak sengaja berkoloni, di antara teman-teman lain, dan entah dari mana awalnya, pembicaraan tertuju seputar kebun binatang di Semarang. Dulu kebun bintang di THR (Taman Hiburan Rakyat), Tegalwareng atau Jalan Sriwijaya, sekarang menjadi Taman Wonderia. Setelah itu, kebun binatang berpindah di Tinjomoyo, sebelum akhirnya di Mangkang.

“Tinjomoyo sekarang ciamik,” kata salah satu teman, kemudian kami saling menimpali dan menjadi perbincangan hangat berdasar pengalaman masing-masing. Tempat itu menjadi pilihan tempat wisata, di antara kepenatan dan riuhnya kehidupan kota, dengan bersantai menghirup udara hutan.

            Seperti terkena setrum, hari demi hari bertamasya ke hutan Tinjomoyo, terus tersulut, namun karena beberapa pertimbangan, berkali-kali niat itu tidak terwujud, hingga akhirnya saya memutuskan mengunjunginya.

            Bus Transsemarang berhenti di halte Jatingaleh. Pak ojek, yang mangkal tidak jauh dari halte, seperti tahu tujuan saya. Saya langsung mengiyakan, sampai tidak menyadari bahwa harga itu mahal dibanding ojol: sepuluh ribu rupiah. Ojek menyusuri jalan Karangrejo, samping Gedung PLN Jatingaleh, lalu melewati sebuah kampus, belok kiri di jalan menurun, hingga berhenti tepat di depan pintu gerbang lokasi.

            Harga tiket Rp6.000,00 per orang. Jam buka Senin-Minggu, pukul 08.00-17.00. Pengunjung yang ingin melewati jembatan kaca, menambah lagi Rp15.000,00. Saya menolak tawaran itu karena jaraknya jauh dan kebetulan tidak ada rombongan akan ke sana.

            Di bagian depan, anak-anak muda berseragam sedang berdiri berjajar, tidak lama kemudian menjalankan kegiatan setelah mendapat perintah. Mereka mahasiswa universitas tidak jauh dari lokasi tempat wisata. Universitas tersebut sedang mengadakan pelatihan kepemimpinan bagi para peserta didik awal. Di sisi kiri, pohon-pohon mahoni merindangi tenda-tenda sebagai tempat mereka berteduh.

            Hutan ini cocok sekali menjadi tempat fauna. Sayang, waktu itu terjadi banjir besar, akibat Sungai Kaligarang meluap, hingga memutus jembatan utama, sebagai akses menuju hutan. Banyak infrastuktur rusak. Sisa-sisa tempat ini sebagai kebun binatang masih tampak dan menjadi spot-spot foto.  

                                                                                         
                                                            sisa tempat kebun binatang

              Ada fasilitas kamar mandi-kamar mandi yang bersih, joglo sebagai tempat pertemuan, panggung permanen untuk mengadakan hiburan, dan musala. Seorang warga sedang mengajak jalan-jalan dua anaknya. Dengan senyum ramah, wanita itu memperkenalkan diri. Hutan ini tidak jauh dari rumah-rumah penduduk. Di dekat perkampungan itu ada juga sekolahan.

                                                                                

                                                              pohon-pohon mahoni

“Pohon-pohon mahoni itu sengaja ditanam,” kata petugas yang saya jumpai, sambil menunjuk pohon-pohon mahoni di sepanjang kanan kiri jalan utama. “Kalau mau masuk alas, lewat undakan itu,” kata petugas. Ada undak-undakan berplester sebagai jalan menuju alas atau rimba atau hutan alami. Orang-orang bule suka ke sana berombongan. Ketika saya menyinggung binatang buas sebangsa macan, ia cepat memotong sambil terkekeh, “Hutan Tinjomoyo tidak ada macan. Paling kera.”

            “Di sini banyak pohon bambu,” kata saya setelah menemui beberapa pohon bambu.

            “Di hutan mana pun pasti banyak pohon bambu. Pohon bambu berguna bagi penyerapan air, mencegah erosi, dan banjir," jelas bapak itu.

            Bapak itu kembali bersih-bersih; saya melanjutkan jalan-jalan. Selain sebagai tempat berswafoto dan menikmati pemandangan alam, tempat ini juga cocok untuk acara-acara outdoor, seperti kamping, trekking, hiking.

                                                                                       

salah satu spot foto

             Pukul sepuluh lapak-lapak makanan-minuman mulai buka. Beragam merek dan macam mi instan dan minuman-minuman saset maupun dalam kemasan-kemasan botol dijajakan. Karena tidak ada makanan spesial, saya menikmati makanan dari rumah.

            Waktu menunjuk tengah hari. Saya bersyukur kedatangan saya bersamaan dengan kegiatan anak-anak kampus. Sebab belum tentu keesokan hari, seperti rencana saya semula, ada pengunjung lain datang. Di samping itu, mungkin akan mengganggu kegiatan rutin Minggu siang saya. Anak-anak kampus itu mengadakan acara dua hari dan berada di Hutan Wisata Tinjomoyo sejak hari Jumat. Siang ini mereka pulang. Makan siang disiapkan: nasi, lauk, sayur, dan setumpuk stirofoam.

Sebelum sepi pengunjung, saya pulang terlebih dahulu, dengan memesan ojek online, menuju halte terdekat.   

@@@