Langit
berwarna putih. Waktu menunjuk pukul setengah enam. Seperti tidak mau keduluan
matahari nongol, saya gegas pergi ke lapak penjual aneka kue. Seiring waktu berlalu,
banyak pula pembeli berburu makanan kesukaan mereka. Dan para pembeli yang
mengelilingi lapak itu mengganggu saya memilih kue favorit, yang tidak gosong
dan masih hangat. Jika itu terjadi, saya cukup meminta penjual mengambilkan kue
favorit sebanyak saya mau, lalu membayar.
Lapaknya dari tampah-tampah yang ditata
di atas dunak-dunak. Penjualnya duduk di dingklik. Kue-kue itu berjajar dengan
rapi. Ada kalanya ditata begitu saja di atas tampah beralas koran. Sebagian lagi
berada dalam wadah-wadah plastik.
“Tidak ada kue maromi,” jawab
pedagang. Tanpa memperhatikan saya ia sibuk melayani para pembeli ketika saya mencari-cari
kue kesukaan. Saya sedih mendengar keterangan berikutnya. Pedagangnya sakit.
Saya pulang tanpa tenaga.
Kue maromi mengingatkan saya semasa
kecil. Waktu itu ada kue gelek. Tapi teksturnya agak keras. Seiring perkembangan
zaman, tidak ada lagi orang berjualan gelek. Saya browsing, barangkali
ada kedai terdekat menjual gelek. Saya ketik gelek. Yang keluar gambar
onde-onde ketawa. Begitu seterusnya.
Lain hari, saya jalan sehat dan
melewati lapak pedagang aneka kue. Tidak ada gunungan kue maromi. Itu saya
alami hingga beberapa kali saya pulang jalan sehat.
Tidak ada jalan lain selain menemui produsennya.
Ternyata ia sakit salah satu anggota tubuhnya dan jangka waktu lama baru
sembuh. Ia berjualan lagi setelah Lebaran.
“Sekarang maromi termasuk kue langka,”
katanya. Hanya wanita itu yang mempertahankan membuat maromi. Saya mengangguk-angguk.
Hal itu diperkuat pedagang aneka kue langganan. Ia akan membayar saya sepuluh
kali lipat jika bisa menemukan satu maromi di pasar.
Bahan
kue maromi tepung gandum, telur, gula pasir, zat pengembang, dan santan. Ukuran
gula harus tepat, jika kurang, bantat, jika kelebihan, gosong.
Mungkin di daerah lain ada kue maromi
tapi berbeda nama. Beberapa makanan beda daerah beda nama, tapi macamnya sama.
Sebelum pulang tidak lupa saya
mendoakan beliau agar cepat sembuh. Dengan demikian saya pun dapat segera
merasakan kembali kue maromi.
Lebaran berlalu.
Berkali-kali saya lewat lapak
penjual aneka kue yang mangkal di perempatan, tidak ada gunungan maromi. Sampai
beberapa hari lalu saya kembali melihat kue maromi. Dari jauh kue maromi paling
kentara. Di samping bentuknya besar, dibanding kue-kue lain, jumlahnya juga banyak.
Sama-sama warnanya cokelat kemerahan,
dan rasanya manis, kue maromi berbeda dengan bolang-baling. Kue maromi empuk. Kue
maromi tidak dicetak. Bolang-baling agak keras. Umumnya berbentuk mirip dadu.
@@@










