gambar dari Canva
Malam
cerah. Langit bertabur bintang. Angin menyambut begitu saya duduk di undakan
masjid, selesai salat Isya. Seorang lelaki berambut gondrong ikal, tinggi
rata-rata pemain basket, mengutak-atik skuternya. Terutama bagian setang. Ia memarkir
kendaraannya tidak jauh dari saya berada.
“Ada yang rusak?” tanya saya.
“Cuma mau mastiin. Kendaraan baik-baik
saja,” jawabnya tampak bahagia ada orang yang memperhatikan.
Keakraban mengalir laiknya teman
lama tak bertemu. Ia, istri, dan anaknya selesai liburan di Semarang. Ia baru saja
mengantar anak dan istrinya naik bus tujuan Cirebon. Ia kasihan mereka naik skuter.
Kira-kira lima belas jam termasuk waktu istirahat, perjalanan Semarang-Cirebon
naik skuter. Saya pun bercerita bahwa saya penduduk setempat, dan kegiatan saya
sehari-hari.
Ia duduk dengan perenungannya. Perut
saya lapar. Dua kue di tas saya bawa dari rumah. Dua kue itu pas porsi saya sebagai
ganti makan malam. Saya sudah mengatur sedemikian rupa agar tidak perlu beli nasi.
Kalau saya menawarinya, saya harus mengeluarkan uang untuk beli makanan lagi
dan itu mengurangi anggaran besok. Antara menawari dan mengacuhi, …
Teringat
keakraban kami, ia dari jauh, terlebih mengeluarkan sebotol air mineral tanpa
makanan, saya tidak tega.
“Mau ini?”
Dia langsung mengiyakan dan berucap
terima kasih.
Cerita kembali bergulir. Halaman
masjid mulai sepi. Berganti lalu lintas di depan jalan masjid.
Tidak lama dua kenalan lewat.
“Yuk, nyari ramesan,” kata salah
satu sambil membetulkan kerudung instannya. Kenalan satu lagi memprovokasi agar
saya ikut.
“Enggaklah. Ini aku lagi makan.”
“Sudah…” katanya lalu melakukan sandera
sehingga tidak mungkin ajakannya saya tolak. Botol minuman saya dibawa begitu
saja. Saya berpamitan dengan lelaki gondrong. Seperti barisan itik, saya
mengikuti dua teman yang berjalan di depan. Tentu saja dengan penuh senyum karena
saya dapat makan malam gratis.
Diam-diam, di antara makan, sesekali
diselingi cerita dan canda, saya teringat lelaki gondrong. Mengapa saya resah
saat memberikan kue untuknya. Tidak selayaknya saya khawatir dengan rezeki
karena sebetulnya setiap orang ada rezekinya.
Semoga ia juga mendapatkan rezeki
selama perjalanan, hingga bertemu istri dan anaknya.
@@@










