Iis Soekandar

Rabu, 30 September 2026

Nasi Pager

                                                                                          

             Ini cerita sehubungan dengan naik kereta api Kedung Sepur. Setelah turun di stasiun Ngrombo, kami beristirahat, duduk-duduk santai memenuhi kursi-kursi, arah pintu gerbang stasiun. Sebagian lain berswafoto; sebagian lagi buang air.

            “Kita beli nasi pecel kapan?” tanya salah satu pengurus seakan dapat membaca perasaan saya. Sarapan nasi rames seperti tidak membekas di perut saya. Padahal waktu baru menunjuk pukul sembilan.

            Tidak lengkap pergi Grobogan tidak makan nasi pecel. Begitu komentar kebanyakan dari kami. Yang lain ikut-ikutan, ingin makan nasi pecel.

            Tidak hanya tiket kereta api, kami memesan nasi pecel secara kolektif. Pedagangnya berada di lain tempat. Kami memesan lewat telepon. Setelah diambil kesepakatan, kami makan nasi pecel sebagai bekal pulang. Lebih efektif makan makanan lain di tempat-tempat kami singgahi. Di samping itu, butuh waktu lama melayani tiga puluh orang lebih, jika saat itu juga makan nasi pecel.

            Menurut buku Kuliner Semarangan, penerbit Andi, dari laporan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, 2016, Kabupaten Grobongan penghasil jagung tertinggi di Jawa Tengah: 700.491 ton. Setelah itu Kendal: 209.032 ton.

            Saya teringat penjual nasi jagung langganan. Ia juga berasal dari sana, tepatnya Purwodadi, ibu kota Kabupaten Grobogan. Ia membuat sendiri nasi jagung jualannya. Nasi jagung itu dipadu dengan gudangan dan keripik ikan asin. Nasi jagung satu dunak ludes sebelum matahari menampakkan wajahnya.

            Selain nasi jagung, olahan lain dari jagung adalah emping jagung, yang banyak dijual di toko-toko oleh-oleh. Selebihnya, mereka menjual makanan-makanan yang juga dijual di pusat oleh-oleh tempat-tempat wisata pada umumnya, termasuk Semarang. Seperti keripik tempe, keripik tahu, selai pisang, kacang atom, dll.

            Nasi pecel atau nasi janganan juga menjadi makanan utama. Ada yang menyebut nasi pager. Disebut nasi pager karena sayur-sayuran dari tanaman pekarangan atau pagar penduduk setempat. Seperti bayam, daun papaya, dll. Nasi ini disajikan dengan sambal kacang. Disantap dengan lauk bakwan, mendoan, rempeyek, atau tahu susur, dan segelas teh hangat.

            Sekitar pukul empat sore nasi pager dibagikan. Sebagaimana di tempat wisata, harga makanan mahal dibanding di tempat biasa. Begitupun nasi pager. Satu porsi delapan ribu rupiah. Padahal di pedagang pecel langganan saya, seporsi cuma enam ribu rupiah. Sayurnya komplit dan banyak. Juga nasinya.

            “Yah, itung-itung buat isi perut,” kata seorang teman menghibur. Perut kosong setelah tamasya, penyakit mudah datang. Yang lain mengiyakan.

            Terasa nikmat makan di saat perut keroncongan.

Setengah jam berikutnya, para penumpang KA Kedung Sepur mengantre. Di balik pagar jeruji besi, kereta siap berangkat dan mengantar mereka ke tujuan akhir, Semarang.

@@@


Rabu, 23 September 2026

Asyiknya Naik Kedung Sepur

                                                                                 

              Karena situasi dan kondisi, saya pergi ke tempat wisata menggunakan kendaraan pribadi, atau bus, atau kendaraan umum lain, atau menyewa kendaraan jika berombongan. Entah kapan terakhir saya naik kereta api. Ketika komunitas yang saya ikuti merencanakan tamasya ke Purwodadi, Grobogan, naik kereta api, saya langsung mendaftar.  

            Kami naik kereta api Kedung Sepur hingga tujuan akhir, Ngrombo. Kedung Sepur termasuk kereta lokal. Kereta api ini hanya menyediakan kelas Ekonomi (C), harga Rp10.000,00 per penumpang, satu kali perjalanan, untuk semua jurusan stasiun. Ada tujuh stasiun dilewati setelah Stasiun Semarang Poncol sebagai titik pemberangkatan: Stasiun Semarang Tawang, Stasiun Alastua, Stasiun Brumbung, Stasiun Gubug, Stasiun Karangjati, Stasiun Sedadi, dan Stasiun Ngrombo, titik akhir perjalanan.

            Dari Semarang, Kedung Sepur beroperasi sehari dua kali: pagi 07.05-08.52 WIB dengan KA Kedung Sepur 496, siang 13.50-15.37 WIB dengan KA Kedung Sepur 498. Tersedia dua gerbong setiap keberangkatan.

            Sebagaimana layanan kereta api pada umumnya, pemesanan tiket melalui aplikasi Access by KAI mulai H-7 atau di loket stasiun, 3 jam sebelum keberangkatan (jika kuota tempat duduk masih tersisa). Pembayaran melalui QRIS, e-wallet, atau account virtual.

                                                                                        


           Ketua rombongan memesan tiket secara kolektif, untuk berangkat dan pulang setiap anggota. Satu jam sebelum keberangkatan, satu per satu mulai berdatangan, sesuai saran pengurus. Sebab jika terlambat dan kereta sudah berangkat, tiket hangus dan tidak diganti. Tentu saja tidak ada yang menyia-nyiakan. Kapan lagi berwisata naik karena api kalau tidak sekarang. Biasanya kami pergi menyewa kendaraan.

            Naik kereta ini mengingatkan saya pada bus Transsemarang. Ia berhenti sebanyak stasiun yang dilewati. Lalu menaikkan dan menurunkan penumpang.

            “Naik kereta sekarang tertib. Nggak ada pedagang asongan masuk,” kata teman membuka cerita. Tempat duduk berhadapan, satu bangku dua orang dan satu bangku tiga orang, kami mudah berkomunikasi.

            “Tau nggak, waktu itu ada pedagang minuman. Eh dia nggak kuat bawa nampan, kali. Minuman tumpah, pas di kepalaku…” cerita teman lain dengan gerak kedua tangan meyakinkan.

            “Ha?” kata teman yang duduk di sebelahnya.

            “Terus gimana?” tanya saya.

             “Basah kuyup?” tanya teman lain

            “Badanmu kepanasan?” yang lain juga khawatir.

            “Untung minuman dingin. Seperti mandi air es. Ha ha ha…” jawabnya.

            Kami semua tertawa. Saat itu siang hari. Suasana gerah, katanya.

            Di sepanjang perjalanan masing-masing bercerita sesuai pengalaman naik kereta api. Sambil berbagi bekal makanan. Seperti sedang nongkrong di warung. Cerita sambil makan. Asyiknya naik Kererta Api Kedung Sepur.

            Setelah menempuh waktu hampir dua jam, kami tiba di Stasiun Ngrombo. Berbeda dengan bus Transsemarang, saat di tempat akhir pemberhentian, penumpang bisa dihitung dengan jari. Penumpang Kedung Sepur tetap banyak. Mayoritas penumpang adalah para wisatawan. Setidaknya Minggu itu, ada tiga komunitas memenuhi dua gerbong tujuan sama. Belum lagi penumpang perseorangan.

            Saatnya bersenang-senang, menikmati liburan. 

                                                                                    

            Setelah Asar, kami bersiap ke Stasiun Ngrombo untuk pulang. Tepat pukul 17.05 WIB kereta api Kedung Sepur 497 mulai berangkat.

            Saat pulang, teman dekat duduk, dua orang dari komunitas lain. Tapi kami berlima seperti teman lama. Sebab pada keberangkatan kami sudah bertemu walaupun tidak menyapa karena tidak mengenal. Lalu kami bercerita seputar kegiatan komunitas masing-masing.

            Sesekali kami menanggapi suasana di luar. Gelap. Jarak antarrumah berjauhan, dengan penerang bohlam. Semakin lama, seiring kereta melaju, rumah-rumah berimpitan, kemudian ada supermarket, juga lampu warna warni dari bangunan kafe. Dan pada pukul 18.47 WIB kereta berhenti. Gemebyar lampu-lampu di Stasiun Semarang Poncol menyambut kepulangan kami.

            Keasyikan selama perjalanan bersama Kedung Sepur tak mungkin saya lupakan.

@@@




Rabu, 16 September 2026

Nasi Kebuli

                                                                                            

Nasi… nasi… nasi kebuli… nasi kebuli enak sekali…. Itu lantunan nada khas, disertai ajakan membeli, beserta sebutan nama pembuatnya, seakan telah memproduksi mahakarya. Nada itu tanpa musik, dari kaset rekaman, diputar berulang-ulang, sepanjang lelaki hitam bertubuh tinggi besar, lewat. Ia pedagang sekaligus pembuat nasi kebuli. Ia menjajakan dagangannya dari kampung ke kampung setiap hari dengan kendaraan roda dua. Sebungkus harganya delapan belas ribu untuk lauk telur, dan dua puluh tiga ribu untuk lauk daging. Saya suka lauk telur. Saya membeli dengan menunggu ia lewat. Kalaupun hari itu gagal, keesokan hari saya cermat menunggunya, yang terpenting tidak menungu lama mengobati kerinduan makan nasi kebuli.

Waktu cepat berlalu.

Sejak pedagangnya meninggal, dan tidak ada ahli waris atau kerabat menggantikan, saya makan nasi kebuli dari berkat atau jamuan pengajian. Padahal di negeri ini nasi putih lazim disantap sehari-hari. Hanya orang-orang tertentu, dan momen tertentu pula, orang hajatan membuat nasi kebuli.

Dari buku Main Rasa Bersama Sasa, Nasi kebuli merupakan akulturasi budaya dari Timur Tengah, terutama Negara Arab. Bermula para pedagang dari Hadramaut, Yaman, berbondong-bondong ke arah Timur, menuju Nusantara untuk berdagang dan berdakwah. Kemudian memperkenalkan budaya mereka ke penduduk lokal. Sebelumnya, kaum Hadrami sempat singgah lama di Gujarat, India, dan melakukan penyesuaian. Lalu mereka mengganti kebiasaan makan roti gandum dengan nasi basmati, khas India.

Nasi kebuli adalah nasi yang dimasak menggunakan kaldu daging dan susu kambing, minyak samin, serta rempah-rempah khas Indonesia seperti kapulaga dan cengkeh. Nasi kebuli menjadi popular dan banyak dikonsumsi di kampung-kampung Betawi peranakan Arab dan menyebar ke penjuru Indonesia. Demikian menurut buku tersebut.

Nasi kebuli yang biasa saya temui terdiri dari nasi, bistik daging sapi/kambing atau telur, acar kuning: timun-wortel atau buah nanas, dan sambal goreng ati.

Hanya orang-orang tertentu menyajikan nasi kebuli dari beras basmati. Harga beras basmati mahal dibanding beras biasa karena produk impor, dan tidak setiap supermarket menjualnya. Butirannya panjang dan ramping. Saya teringat seorang teman sedang diet, mengonsumsi nasi basmati sehari-hari. Dia bilang nasi basmati rendah gula sehingga cocok untuk orang diet. Saya pernah makan nasi basmati putih. Rasanya hambar. Berbeda dengan makan nasi putih biasa. Nasi basmati cocok dimasak dengan rempah dan bumbu agar enak disantap.

Setelah menunggu lama akhirnya dalam sebuah jamuan, saya menyantap nasi kebuli yang gurih, dengan rasa khas bumbu dan rempahnya, dipadu dengan acar kuning timun-wortel yang asam, lauk bistik telur yang manis, dan sambal goreng ati yang pedas. Kelengkapan sempurna.  

@@@


Kamis, 10 September 2026

Tak Perlu Khawatir

                                                                                   


                                                                gambar dari Canva                           

Malam cerah. Langit bertabur bintang. Angin menyambut begitu saya duduk di undakan masjid, selesai salat Isya. Seorang lelaki berambut gondrong ikal, tinggi rata-rata pemain basket, mengutak-atik skuternya. Terutama bagian setang. Ia memarkir kendaraannya tidak jauh dari saya berada.

            “Ada yang rusak?” tanya saya.

            “Cuma mau mastiin. Kendaraan baik-baik saja,” jawabnya tampak bahagia ada orang yang memperhatikan.

            Keakraban mengalir laiknya teman lama tak bertemu. Ia, istri, dan anaknya selesai liburan di Semarang. Ia baru saja mengantar anak dan istrinya naik bus tujuan Cirebon. Ia kasihan mereka naik skuter. Kira-kira lima belas jam termasuk waktu istirahat, perjalanan Semarang-Cirebon naik skuter. Saya pun bercerita bahwa saya penduduk setempat, dan kegiatan saya sehari-hari.

            Ia duduk dengan perenungannya. Perut saya lapar. Dua kue di tas saya bawa dari rumah. Dua kue itu pas porsi saya sebagai ganti makan malam. Saya sudah mengatur sedemikian rupa agar tidak perlu beli nasi. Kalau saya menawarinya, saya harus mengeluarkan uang untuk beli makanan lagi dan itu mengurangi anggaran besok. Antara menawari dan mengacuhi, …

Teringat keakraban kami, ia dari jauh, terlebih mengeluarkan sebotol air mineral tanpa makanan, saya tidak tega.

            “Mau ini?”

            Dia langsung mengiyakan dan berucap terima kasih.

            Cerita kembali bergulir. Halaman masjid mulai sepi. Berganti lalu lintas di depan jalan masjid.

            Tidak lama dua kenalan lewat.  

            “Yuk, nyari ramesan,” kata salah satu sambil membetulkan kerudung instannya. Kenalan satu lagi memprovokasi agar saya ikut.

            “Enggaklah. Ini aku lagi makan.”

            “Sudah…” katanya lalu melakukan sandera sehingga tidak mungkin ajakannya saya tolak. Botol minuman saya dibawa begitu saja. Saya berpamitan dengan lelaki gondrong. Seperti barisan itik, saya mengikuti dua teman yang berjalan di depan. Tentu saja dengan penuh senyum karena saya dapat makan malam gratis.

            Diam-diam, di antara makan, sesekali diselingi cerita dan canda, saya teringat lelaki gondrong. Mengapa saya resah saat memberikan kue untuknya. Tidak selayaknya saya khawatir dengan rezeki karena sebetulnya setiap orang ada rezekinya.

            Semoga ia juga mendapatkan rezeki selama perjalanan, hingga bertemu istri dan anaknya.

                                                                                 @@@       

Kamis, 03 September 2026

Ketika Si Kecil Mengamuk

                                                                                           

             Saya tertarik membaca buku Ketika Si Kecil Mengamuk karena dibuka dengan cerita. Laiknya sebuah cerpen. Saya pun penasaran dan ingin melanjutkan lebih dalam. Seorang anak perempuan melempar boneka ke temannya gara-gara temannya tidak mau diajak bermain seperti ia inginkan. Temannya menangis lalu pergi. Kemudian teman-teman lainya menolak diajak bermain anak perempuan tersebut. Ibunya memberi ilustrasi tentang paku yang ditancapkan di dinding. Walaupun paku sudah dicabut, lubangnya tetap membekas. Begitulah orang sakit hati. Meskipun ada permintaan maaf, sakitnya masih membekas. Sejak itu ia tidak pemarah, wajahnya selalu tersenyum, dan kini banyak temannya.   

            Buku Ketika Si Kecil Mengamuk ditulis oleh Arisatya Yogaswara, bergiat di bidang media, bisnis daring, dan kuliner. Diterbitkan oleh Checklist Media, berisi 12 bab. Setiap bab selain berisi materi, juga kata-kata motivasi, baik dari penulis, maupun tokoh dunia, terutama para praktisi seputar dunia anak-anak. “Kemarahan tak pernah muncul tanpa alasan. Namun, sangat jarang kemarahan disebabkan alasan tepat” itu contoh motivasi ditulis oleh Benyamin Franklin.

            Para ahli kesehatan beranggapan bahwa marah itu normal dan menyehatkan. Manfaat marah di antaranya: membantu mencari jalan keluar, mengurangi risiko hipertensi dan penyakit jantung, menunjukkan masalah sebenarnya, membuat orang waspada, dan membantu melepaskan ketegangan. Begitu pun sebaliknya jika orang memendam marah, yang terjadi efek buruk hal-hal di atas.

            “Jangan ajari anak tidak marah, ajari cara marah” (Lyman Abbott). Tipe kemarahan: menghindari kemarahan dan melampiaskan di tempat lain, melampiaskan kemarahan pada sumber marah, dan marah terkontrol.

            Tantrum adalah ekspresi frustrasi anak terhadap rasa marah akibat tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun. Harus diwaspadai jika anak berlaku berlebihan, seperti memukul-mukul kepala. Orang tua harus segera membawanya ke dokter. Penyebab tantrum adalah kelelahan, lapar, stres, caper (cari perhatian ayah ibu yang sibuk), dan menginginkan sesuatu.

            Ada tip mengendalikan marah (Anger Management) untuk si kecil, yaitu menunda (sebelum marah menghitung 1-10), atau beri pelukan. Dengan demikian anak menjadi sehat, pintar, tangguh, dekat dengan orangtuanya, dan meredakan tantrum.   

             “Bermain adalah pekerjaan anak” (Maria Montesori). Alasan menggunakan permainan sebagai sarana mengelola dan melatih kemarahan anak adalah bermain hal serius bagi anak-anak, sebagai cara melampiaskan emosi, secara emosi bagian dari anak, refleksi kehidupan sesungguhnya, dan membuat anak belajar banyak hal. Dalam bab ini disertai berbagai permaianan untuk mengelola kemarahan agar anak tidak menjadi pemarah.

            Belum ada penetilitan yang jelas, penurunan watak orang tua ke anak. Tapi anak menirukan perilaku orangtua. Orangtua pemarah, anak-anaknya juga pemarah.

            Orangtua perlu mencari aktivitas untuk menyalurkan energi anak, seperti asah otak, ikutkan anak dalam kelas olahraga atau aktivitas fisik lainnya, perhatikan makanannya, batasi waktu menonton televisi, ajak bermain di luar, belikan ia buku yang bermanfaat, jaga kedisiplinan tidur tepat waktu, ikutkan les sesuai minatnya.

            Menyenangkan membaca buku ini. Kalimat-kalimatnya efektif, selain pembukaan, pada bagian-bagian tertentu ditulis dengan gaya bercerita. Di samping menambah ilmu,  marah tidak hanya terjadi pada anak-anak tetapi juga orang dewasa, hal itu bisa saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

@@@


Kamis, 27 Agustus 2026

Mengisi Waktu Luang

                                                                                              

gambar: Canva

            Waktu belum beranjak senja. Lampu-pampu hias alun-alun di atas lapak-lapak sudah dinyalakan. Aroma makanan bakaran menyengat hidung. Saya berjalan-jalan sembari menikmati semilir angin. Pedagang-pedagang makanan atau minuman bersiap melayani pembeli.

Sebuah suara memanggil. Ternyata seorang teman.

            “Yuk, kita ngebakso!” katanya.

            Saya langsung mengiyakan. Ia memesan bakso pedagang luar arena alun-alun. Tidak satu pun pedagang di lapak alun-alun menjual bakso kuah sabagaimana penjual bakso di perkampungan. Para pedagang bakso di alun-alun umumnya menjual bakso olahan kekinian, seperti dibakar. Satu sisi sewa lapak alun-alun terlalu mahal bagi penjual bakso kuah pada umumnya.

            Tidak lama kami mengobrol, ia bertemu teman bersama anaknya. Kami duduk berempat. Keduanya mengobrol begitu bersemangat sambil sesekali membetulkan kerudung. Mereka lama tak bertemu. Saya mendengarkan sambil senantiasa tersenyum. Lambat laun saya merasa risih seiring anaknya merengek, namun ibunya tidak memedulikan. Ibu dan anak satu tangan memakai gelang keamanan dari kumparan spiral plastik. Anaknya menarik-narik. Setelah menangis barulah ia mengakhiri obrolan dan menuruti anaknya jalan-jalan.

            Pesanan datang. Saatnya menikmati semangkuk bakso. Sesekali kami membicarakan suasana alun-alun dengan penjual makanan-minuman kekinian dan khas daerah. Dulu ada pedagang mendoan lebar yang dicocol sambal kecap. Harga satu paket dua puluh ribu rupiah. Mengapa sekarang tidak ada? Apakah kemudian peminatnya sepi sehingga tidak menutup sewa lapak?

            Diam-diam melihat kejadian ibu-anak tadi saya teringat seorang teman bersama putrinya. Putrinya pelajar SD. Salah satu kakinya diberi gelang kaki. Ia terjatuh.

            “Ibu sedih soal gelang. Ibu tidak sedih aku sakit,” protes putrinya.

“Barang rosok harganya murah,” katanya. Ibu pasti sedih anaknya sakit, katanya kemudian.

            Kejadian lain saat menengok anak teman yang sakit. Anaknya menginjak remaja. Ia bercerita bahwa pertanyaan pertama ibunya bagaimana nasib kendaraan. Tentu saja anaknya protes. Ibu tidak bertanya bagaimana keadaan anaknya.

            Sebagian orangtua terlalu memikirkan materi sehingga tidak mengindahkan keselamatan anaknya. Padahal mereka tidak dari keluarga kekurangan. Harta menyilaukan mereka. Walaupun dari keluarga kurang mampu, keselamatan anak tetap di atas segalanya.

            Semangkuk bakso ludes.

            Perbincangan seputar alun-alun berakhir begitu azan Magrib mengentak suasana. Kami berpisah. Mengisi waktu luang kali ini begitu berarti. Dari protes anak-anak, orangtua tahu bagaimana seharusnya menjaga mereka. Saya segera menuju masjid untuk menunaikan salat.

@@@


Jumat, 21 Agustus 2026

Mencari Monyet-Monyet di Goa Kreo

                                                                                         

           Nama Goa Kreo tidak asing di halte-halte utama. Biasanya calon penumpang bus atau petugas halte menyebut tempat wisata tersebut sebagai penanda. Tempat tujuan yang akan dituju dekat Goa Kreo. Bus Transsemarang melayani rute arah Goa Kreo, yaitu koridor 8, tujuan Gunungpati.

            Tempat wisata Goa Kreo identik dengan monyet-monyet. Saya teringat waktu itu, entah kapan, berkunjung ke sana, dan melihat monyet-monyet menyambut kedatangan para pengunjung. Saya pun rindu untuk kembali melihat monyet-monyet yang mudah ditemui di alam bebas.

      Goa Kreo terletak di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Bus Transsemarang dari arah Simpang Lima turun Halte Goa Kreo, lalu menyeberang jalan, di sebelah kanan ada gapura, tertulis huruf besar, Goa Kreo. Tukang ojek siap mengantar. Atau pesan lewat aplikasi. Taripnya sepuluh ribu rupiah.

                                                                                        

                                                 seekor monyet menyambut di pintu gerbang

            Butuh waktu satu jam saya hingga sampai di tempat tujuan.

            Seekor monyet mengagetkan begitu saya turun dari kendaraan. Ia duduk di pintu gerbang.

            Tiket masuk hari biasa Rp8.000,00. Anak-anak mulai usia 5 tahun membayar. Berhubung saya ke sana tanggal merah, bertepatan Hari Kemerdekaan RI, saya membayar Rp10.000,00. Di sebelah kanan loket, ada tempat parkir. Tarif roda dua tiga ribu rupiah, roda empat lima ribu rupiah. Tidak jauh dari tempat parkir sebuah musala. Kamar mandi terletak di lain tempat. Sedangkan di bawah, atau dekat gua, kamar mandi dan musala satu lokasi.

            Tidak seperti bayangan saya bertemu banyak monyet. Saya hanya menemukan 1-2 monyet.

            “Mungkin berpindah ke waduk,” jelas petugas ketika saya bertanya ke mana monyet-monyet itu. Apakah mereka dipindahkan di kebun binatang?

            Petugas lain di beda tempat mengatakan bahwa mereka berada di pepohonan dekat gua. Nanti mereka keluar jika banyak pengunjung. Yang pasti hingga siang dan pengunjung banyak, saya tidak menemukan banyak monyet, sebagaimana dulu. Hal itu juga dikatakan oleh pengunjung yang kebetulan saya temui. 

                                                                                           

pengunjung memberi makan monyet

           Tidak lupa petugas memberi saran agar saya membawa tongkat dari ranting yang disediakan, untuk menghalau monyet-monyet yang mengganggu. Jangan makan atau membuka tas, kecuali pengunjung ingin memberi, termasuk menenteng minuman berwarna. Demi menjaga keselamatan, sebotol air mineral saya masukkan di ransel.

            “Monyet-monyet itu makan apa saja, yang penting tidak ikan. Mereka tidak suka bau  amis,” jelas petugas.

            Selain melihat monyet-monyet di alam bebas, Goe Kreo menyajikan pemandangan Waduk Jatibarang, melalui Jembatan Merah. Jembatan Merah juga menyediakan spot-spot foto. Waduk Jatibarang bersebelahan dengan Goa Kreo. Goa Kreo dikelola pemerintah; Waduk Jatibarang dikelola masyarakat setempat.

                                                                                             

melihat waduk Jatibarang dari Jembatan Merah

               Perjalanan berikutnya menuju gua.

            Goa Kreo termasuk legenda. Berawal saat Sunan Kalijaga mencari pohon jati untuk soko atau tiang Masjid Demak. Ketika mendapatkannya lalu memotong dan akan dibawa pulang dengan dihanyutkan di sungai, kayu jati itu terjepit bebatuan. Segala cara dilakukan, namun gagal. Kemudian Sunan Kalijaga bertafakur di gua. Lalu datanglah sekawanan kera berwarna hitam, putih, merah, dan kuning. Mereka membantu kesulitan Sunan. Akhirnya kayu jati tersebut berhasil dihanyutkan menuju Demak. Sekawanan kera ingin mengikuti Sunan Kalijaga, tapi ditolak. Mereka diberi tugas menjaga atau memelihara atau mangreho (bahasa Jawa) daerah sekitar. Itulah asal usul kata kreo dan menjadi Goa Kreo.    

Begitu prasasti yang saya baca di batu. Di atasnya sebuah patung kera. 

                                                                                 

                                                                             gua bersejarah

        Saya sampai di gua bersejarah. Karena tidak bisa dimasuki, saya cukup melihat, istirahat sesaat, kemudian kembali pulang. Perjalanan pulang terasa melelahkan. Di samping setelah menempuh perjalanan berangkat, perjalanan pulang naik anak-anak tangga.

            Ada beberapa kantin menjajakan makanan dan minuman. Tapi saya tidak mampir. Tempat wisata dalam kota. Mungkin makanan dijajakan untuk mengenyangkan perut, dan tidak ada makanan khas daerah lain. Saya membawa bekal dari rumah. Suara musik dengan lagu-lagu hit menemani sepanjang tempat wisata itu buka. Pengunjung diperkenankan menyumbang lagu.

            Satu setengah jam cukuplah refreshing di Goa Kreo, walau ada yang kurang: tidak bertemu monyet-monyet dalam jumlah banyak.

@@@