Iis Soekandar: 2025

Jumat, 28 November 2025

Bambu Cinta Nan Menyala

                                                                                  

bambu cinta

Seringkali timbul rasa iri setiap kali saya bertamasya ke pedesaan atau melewati daerah, terhampar hijau pepohonan. Entah ladang, apalagi rumah-rumah dengan tanaman di sekelilingnya. Sementara di lingkungan rumah saya, semua lahan telah tertutup ubin atau plester. Saya pernah menanam cabe, tapi mencari tanah subur susah, akhirnya biji cabe yang saya sebar tidak tumbuh.

Suatu saat saya membaca koran. Departemen Pertanian menyelenggarakan pameran tanaman hias, anturium, dan aglaonema. Membaca kata ‘tanaman’ hati saya senang. Saya catat tanggal dan harinya.

Siang tak terik, karena sedang musim hujan, ketika saya tiba di pelataran Wonderia, tempat yang dulu pernah menjadi kebun binatang, kemudian menjadi taman hiburan anak-anak, lalu ditutup karena terjadi kecelakaan pada salah satu wahananya, setelah itu, Wonderia dibiarkan terbengkelai. Begitu saya masuk pintu gerbang pameran, kursi-kursi tertata di bagian kiri, dipayungi tenda perpaduan warna putih dan merah menyala. Di ujung ada panggung, dengan gambar sosok otoritas Kota Semarang.

“Di kantor gubenuran sedang ada acara. Sebagian dari mereka mengisi acara di sana,” kata salah satu petugas yang saya temui ketika saya bertanya mengapa suasana pameran sepi. “Biasanya sore ramai pengunjung,” tambahnya. Kemudian ia mempersilakan saya jalan ke kanan, menuju stan-stan tanaman. 

                                                                                       

tanaman anggrek

Stan pertama adalah penjual cendera mata. Cendera mata juga dijual di sana. Pedagangnya asal dari Jawa Barat.

“Saya telanjur cinta profesi. Sahabat saya, yang senasib, juga tinggal di Semarang,” kata wanita gemuk terlihat gesit. Saya terpesona mendengar ceritanya: dua sahabat, kini kembali berkolaborasi membuat kerajinan tangan, sebagaimana di daerah asal mereka. Mereka tidak mengeluh saat dipisahkan padahal bisnis sedang maju. Mereka dipertemukan lagi saat mendapat suami sama-sama orang Semarang. Kecintaan terhadap kerajinan tangan, persahabatan, membuat mereka mendapat keberuntungan. Kerajinan tangan yang dibuat sekarang bukan asal Jawa Barat, melainkan kerajinan tangan dari eksplorasi potensi Kota Semarang.

                                                                         

                                                                           tanaman anturium

Sesuai tema pameran, hanya satu dua penjual cendera mata, selebihnya stan-stan tanaman. Beberapa stan menjual jenis-jenis tanaman anggrek. Stan-stan lain menjual jenis-jenis anthurium dan aglaonema. Sejauh saya memandang, jenis-jenis anturium dan aglaonema hanya tanaman daun. Tapi satu tanaman dalam satu pot kecil harganya hingga jutaan.

“Sudah dipasang tarip tinggi, giliran akan dibayar pembeli, malah katanya buat koleksi sendiri,” kata karyawan terkekeh, seorang lelaki berpostur tinggi besar, yang semula saya kira pemilik tanaman. Karyawan itu baru saja menelepon pemiliknya. Akhirnya karyawan menyatakan bahwa tanaman-tanaman di meja depan hanya dipamerkan.

“Begitulah cinta,” kata calon pembeli sambil tertawa, kemudian memilih aglaonema jenis lain.

                                                                         

tanaman bonsai

Ada juga pameran tanaman bonsai, yang tergabung dalam komunitas tanaman bonsai. Para penjual tanaman hias sadar diri, era digital, ponsel menjadi andalan setiap orang, pengunjung diperbolahkan swafoto walau tidak membeli.

Saya tertegun pada tanaman yang dirangkai sedemikian rupa, membentuk daun waru sebagai lambang cinta.

“Ini namanya bambu cinta,” katanya ketika saya tanya tanaman apa itu. Tanaman bambu, dibentuk khusus, lalu diberi pita merah, ia menamainya bambu cinta.

“Bapak tidak saying, misal dirusak oleh hama, tikus, misalnya,” kata saya.

“Oh, tidak, tikus saya ajak bicara, ‘tikus jangan dirusak ya, kamu cari makan di tempat lain,’. Nyatanya tidak dimakan. Aman saja. Itu buktinya.”

                                                                                 

tanaman aglaonema

Satu jam lebih saya melihat-lihat pameran tanaman hias. Dalam perjalanan pulang, saya merasakan pemilik bambu cinta mewakili orang-orang yang dengan cinta telah menemukan sesuatu berharga dalam hidup mereka. Wanita yang menekuni hobi kerajinan tangan dan kembali berkolaborasi dengan sahabatnya, pemilik tanaman yang tak menjual sebagian asetnya, dan pemilik bambu cinta yang tak membunuh binatang sebagai musuh manusia, melainkan berbicara dengan setulus hati. Cinta memberi energi orang-orang untuk berdamai dengan kesulitan, dan akhirnya menemukan keasyikan dalam hidup mereka.

Saatnya saya berdamai dengan yang ada.

@@@



 


Jumat, 14 November 2025

Taman Watu Gajah

                                                                                           

ikon Taman Watu Gajah

         Sopir segera melajukan mobil seiring ketidaksabaran kami melihat tempat wisata berikutnya. Kami dari wisata religi kemudian mampir sebuah pasar di Salatiga. Ini tempat wisata baru, setidaknya bagi rombongan kami. Dingin di dalam mobil oleh mesin pendingin berkebalikan dengan hati kami yang menyala ingin segera sampai di tempat wisata itu: Taman Watu Gajah atau Park Watu Gajah.

            Satu jam berikutnya mobil tiba di tempat parkir, di depan tempat wisata. Sebagaimana namanya, dari jauh terlihat patung gajah. Patung gajah itu duduk berpayung jamur, di atas bangunan berdinding batu, serupa rumah kurcaci, seluas tempat loket pada umumnya. Selanjut saya menemui banyak patung gajah di dalam arena wisata. Harga tiket per orang Rp30.000,00 karena kami bepergian weekend, Rp25.000,00 untuk weekday, jam buka 08.00-17.00. Taman Watu Gajah terletak di Dusun Watugajah, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

            “Monggo… silakan…,” sapa seorang perempuan muda dengan ramah, mengenakan kerudung, celana blue jeans dan kemeja gombrong, berdiri di belakang pintu gerbang, menyambut kedatangan setiap pengunjung.

Kami melewati lorong, sekitar seratus meter, menuju ke dalam, berdinding kawat-kawat di kanan kiri, sekaligus sarana tumbuh-tumbuhan merambat. Payung-payung warna warni dipajang sebagai kanopi, mengajak setiap pengunjung menikmati setiap detail tempat wisata. 

                                                                                 

Kolam 9 Bidadari

          Pukul dua belas siang tak menyurutkan kami melanjutkan berwisata alam dan menunda makan siang. Keluar dari Lorong kami dihadapkan pada Kolam 9 Bidadari. Seperti biasa, saya berfoto, mengambil sisi paling menarik. Tidak jauh dari Kolam 9 Bidadari ada patung gajah sebagai ikon tempat wisata Taman Watu Gajah, kemudian Lorong Cinta, Sangkar Burung Pipit, dan Istana Catur. Masuk ke dalam lagi adalah berbagai wahana air, wisata paling disukai anak-anak.

Istana Catur

            “Ayo kita main catur!” ajak seorang pengunjung, berseragam olahraga salah satu SD, saat tiba di Istana Catur.

            “Wah, semua ukurannya besar,” ungkap temannya kagum.

            Mereka datang berombongan, mungkin bersama guru-guru dan teman-teman satu kelasnya.

            Tempat edukasi lain bagi anak-anak adalah Goa Kingkong. Dari sana mereka tahu  kehidupan zaman dulu. Bagi yang suka berkebun disediakan hortikultura sayur dan hidroponik farm kebun.

            Taman Watu Gajah juga memanjakan para orangtua dengan Wisata Panci. Saya bersamaan dengan para orangtua, masuk di sebuah gedung luas. Di dalamnya dijual aneka panci. Meski demikian, ada juga alat-alat rumah tangga selain panci, seperti termos, kipas angin, kaca cermin, meja lipat, dll. Di depan gedung, sebelum masuk, sempat saya baca, harga grosir. Mungkin harga barang-barang itu murah dibanding harga-harga di tempat-tempat lain. Saya tidak membuktikan, begitupun teman-teman satu rombongan. Kami penasaran ingin tahu Wisata Panci. 

Sangkar Burung Pipit

       Kami salat setelah puas berwisata. Musalanya bersih. Saya mengibas-ngibaskan kedua tangan sesaat, begitu menyentuh air, terasa dingin walau siang hari.

            Setelah itu kami makan siang. Ada banyak menu makanan dan minuman pilihan di kafe. Sambil menunggu pesanan bakso, salah satu dari kami berempat membeli kentang goreng seharga Rp10.000,00. Dan menikmati bersama. Kami tidak membawa bekal makanan dan minuman dari rumah, sebagaimana para pengunjung lain. Tidak sabar menahan lapar, kami langsung menyantap pesanan. Semangkuk bakso seharga Rp17.000,00. Sebagai hidangan penutup, saya menikmati  es krim tiga rasa, dengan membayar Rp10.000,00

Di seberang kafe ada sebuah toko oleh-oleh. Toko itu menjual aneka model tas anyaman berbahan plastik, dan camilan-camilan. Saya tak membeli apa pun karena kedekatan geografis tak ada makanan spesial. Kami pulang dengan rasa puas mengunjungi Taman Watu Gajah.

@@@




Jumat, 31 Oktober 2025

Serabi Ngampin

                                                                                        

Jalan Ngampin, Ambarawa, menyambut kedatangan saya dengan cuacanya yang cerah. Walaupun matahari tak menampakkan wajahnya, sinarnya menghangatkan tubuh. Lalu lintas ramai. Jalan Ngampin dilalui kendaraan-kendaraan dari dalam dan luar kota. Kanan kiri Jalan Ngampin terdapat tempat peribadatan dan perkantoran. Saya menyusuri sisi kiri jalan dari arah Semarang, berniat membeli serabi ngampin, makanan khas Ambarawa.  

Sepuluh menit saya berjalan, tak ada satu pun penjual serabi ngampin, di kanan kiri jalan, sebagaimana keterangan penduduk setempat.

“O mau nyari srabi ngampin? Masih jauh. Naik angkot, tuh!” jelas pedagang buah-buahan di mobil terbuka yang saya temui, ketika saya mengutarakan niat. Dalam waktu bersamaan mobil angkot berwarna kuning melintas. Pedagang buah melambaikan tangan. Mobil berhenti; saya naik.

Benar kata pedagang buah, tidak mungkin kaki saya berjalan hingga menemui  penjual-penjual serabi ngampin. Saya minta berhenti di depan penjual serabi ngampin seorang diri. Dengan demikian, saya leluasa mengulik serabi ngampin. Sebab ada satu kedai luas, diisi beberapa pedagang serabi  ngampin.

 Kami saling menyapa akrab, bertanya kabar. Saya duduk di depannya, di dingklik kayu. Pedagangnya seorang wanita. Keramahannya tidak saja ia sebagai pedagang, namun juga tuan rumah, yang ingin menjamu tamunya, khas penduduk desa. Saya ditawari mencicipi, begitu serabi matang dari cetakan. Padahal sudah saya utarakan bahwa saya hanya membeli satu porsi dan saya makan di tempat. Saya menolak. Saya minta seporsi sesuai keinginan.

Akhirnya saya mendapatkan semangkuk serabi ngampin. Isinya lima buah, 3 rasa 3 warna: gurih warna putih, pandan warna hijau, cokelat warna cokelat. Teksturnya lembut dan empuk. Berbeda dengan serabi-serabi lain, serabi ngampin ditambah juruh atau kuah. Rasanya gurih dan manis, terbuat dari santan dan saus gula merah.

“Kenapa mesti tepung beras baru? Bukankah di warung dan di pasar dijual tepung beras?” tanya saya ketika ia menjelaskan bahwa tepung beras serabi ngampin harus baru. Artinya, baru saja keluar dari mesin penggilingan beras. Setiap kali akan berjualan, ia menggilingkan beras di penggilingan beras tetangganya.  

“Rasanya beda. Tepung beras di warung atau di pasar terkadang apek. Dan kalau diadoni suka ada printilan. Akhirnya nanti terbawa, tepung beras belum matang, di serabi yang sudah matang.”

Saya mengangguk-angguk. Saya hanya tahu serabi ngampin lezat. Ditambah sesendok demi sesendok menikmati kuahnya. Tidak lama seorang lelaki menghentikan sepeda motornya di depan kedai. Ia membeli dua bungkus. Plastik mika sebagai bungkus jika pembeli ingin membawa pulang. Isinya sama, lima buah serabi ditambah juruh yang dibungkus kantung plastik bening. Kemudian ia melajukan sepeda motornya setelah membayar.

“Memasak pakai tungku juga membuat serabi menjadi lezat,” lanjutnya kembali bercerita. Seperti pembelaan diri bahwa ia juga diuntungkan karena tidak perlu menggunakan gas LPG sebagaimana memakai kompor. Di lingkungnnya bahan bakar kayu lebih mudah didapat dibanding gas LPG, harganya pun murah.

            Tidak terasa sambil mendengarkan cerita, semangkuk serabi ngampin di tangan saya tak tersisa setetes pun. Perut kenyang hanya membayar Rp7.000,00. Saya pulang, dengan harapan suatu saat kembali menikmati serabi ngampin dan kuahnya yang lezat.

@@@


Jumat, 17 Oktober 2025

Ganti Suasana

                                                                                               

            Saya selalu bersemangat setiap hari Minggu tiba. Ada satu kegiatan yang saya nanti satu minggu: belajar seni baca Alquran atau membaca Alquran yang dilagukan. Saya terlambat mengetahuinya. Lebaran tahun ini saya baru mengikutinya. Program ini ada sejak 2018, di masjid tidak jauh dari rumah.

            Namun tidak Minggu ini, ketika saya teringat, Pak Ustaz yang mengajar sedang umroh. Beliau izin beberapa pekan. Beliau tidak mengatakan berapa lama beribadah di tanah suci, dan pesan terakhirnya, agar kami tetap datang pada hari dan jam sama.

Udara panas semakin terasa. Debu-debu diterbangkan angin di antara  pertokoan sekitar Masjid Agung Semarang. Benar, ada yang mengisi, dari pelantang suara yang saya dengar. Saya terlambat seperempat jam dari jadwal, hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya duduk begitu saja, di area wanita, seorang diri. Tiga teman lelaki khusuk mengikuti. Selesai membaca satu ayat, Pak Ustaz Pengganti menyapa saya di balik tirai kain hijau, sebagai pembatas lelaki perempuan, setinggi bahu orang duduk. Saya diminta menyesuikan, pembacaan ayat suci berlagu dilanjut, sesuai not-notnya.

Seperempat jam jelang akhir diisi ramah tamah. Di antaranya, Pak Ustaz merekomendasikan obat tertentu jika peserta terganggu tenggorokannya. Hal yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Saya catat nama obat itu. Obat itu tidak ditelan seperti obat-obat biasa, melainkan diemut. Harganya pun murah. Suara jernih mutlak dibutuhkan ketika membacakan ayat suci berlagu.

Sepekan berikutnya, malam hari, saat saya baru saja dari alun-alun dan beristirahat di masjid, saya bertemu sesama pengunjung, seorang wanita. Kami duduk bersebelahan. Seperti biasa, saya beramah tamah setiap bertemu orang asing, sejauh keadaan memungkinkan.

“Rumahnya Semarang aja?”

“Di Genuk.”

“Ada acara khusus ke sini?”

“Saya, suami, dan anak biasa refreshing ke alun-alun setiap Sabtu Minggu.”

Kemudian ia menyatakan bahwa refreshing perlu dilakukan. Agar melakukan kegiatan hari Senin, ia, suami, dan anaknya, penuh semangat. Hasilnya pun optimal.

Saya mengangguk-angguk teringat Pak Ustaz Pengganti. Pak Ustad Penganti secara langsung atau tidak, memberi suasana segar. Hasilnya, saya mendapat rekomendasi nama obat penghalau serak.

@@@


Jumat, 10 Oktober 2025

Nasi Tumpang

                                                                                                

          Saya suka makan. Bukan saja karena saya manusia dan untuk mempertahankan hidup di antaranya butuh makan. Terkadang saya datang ke suatu tempat hanya untuk menikmati makanan tertentu, karena hanya daerah itu menjual makanan tersebut. Terkadang saya datang ke warung tertentu, karena warung tersebut representatif bagi saya, jauh dari gangguan pengamen dan teguran para tetangga, yang itu bisa mengganggu makan saya. Dan alasan-alasan lain, yang intinya untuk mendukung kegiatan makan saya.

Nasi tumpang termasuk makanan kesukaan saya. Ia makanan khas Ambarawa, Kabupaten Semarang. Saya makan pertama kali secara tak sengaja. Suatu saat, setelah tamasya, saya lapar. Posisi saya berada di pasar. Saya masuk di salah satu warung. Saya mengenal semua makanan dari daftar menu yang tertempel di dinding, termasuk nasi tumpang.

Sependek saya mengenal, nama “tumpang” berkaitan dengan sambal tumpang: sambal diberi tempe semangit yang dihaluskan, lalu diberi santan. Dan lama saya tak menyantapnya. Nasi tumpang berarti nasi putih dengan sambal tumpang. Ternyata definisi saya tentang nasi tumpang berbeda jauh dengan sambal tumpang, walaupun nama belakangnya sama, begitu nasi tumpang berada di hadapan saya.

Dua jam naik kandaraan umum, dua kali, saya sampai di warung tempat saya pertama, dan seterusnya, menyantap nasi tumpang. Saya tidak tahu dan enggan mencoba-coba warung lain, untuk makan nasi tumpang. Di warung tersebut saya cocok.

“Nasi tumpang,” pinta saya kepada penyambut, begitu saya masuk warung dan duduk di bangku kayu panjang. Depannya meja panjang. Warung sederhana. Beberapa orang sedang makan, hanya saya pembeli baru.

Seorang lelaki, pemilik sekaligus pelayan warung tersebut, meminta saya menunggu sejenak. Nasi tumpang tidak cukup nasi putih dan beberapa makanan lain dituang dalam satu piring makan. Seperti penjual menyajikan nasi rames. Ada bahan makanan yang harus diolah mendadak agar bisa dimakan hangat.

Akhirnya nasi tumpang tersaji di hadapan saya. Sepiring nasi putih, semangkuk lauk berisi tetelan dan beberapa irisan tahu kulit, dan sepiring telur dadar. Nasinya tidak pulen, tapi di situlah nikmatnya saat beradu dengan kuah manis, gurih, sambil menikmati tetelan dan tahu kulit. Apalagi kuahnya tidak pedas walaupun warnanya merah. Itu saya suka. Sesekali saya makan nasi hanya dengan telur dadar yang hangat, tanpa kuah. Dari pembicaraan para pembeli, udara masuk melalui pintu, terasa khas suasana makan dengan latar pasar tradisional.

Seperti biasa, saya ditawari nasi jika ingin menambah. Setiap kali saya menyantap nasi tumpang, timbul pertanyaan dalam benak: Apakah tarip Rp7.000,00 seporsi sesuai dengan bahan-bahan yang dibeli? Apakah penjual mendapat untung? Apalagi tidak ada bahan makanan murah sekarang. Beras, telur, tahu, tetelan, santan, dan sejumlah bumbu. Seringkali dalam kehidupan nyata, banyak hal tidak logis terjadi. Walaupun dalam membuat cerita, kelogisan dalam setiap adegan, adalah keniscayaan. Saya tersenyum masygul.

@@@


Jumat, 03 Oktober 2025

Seperti Lukisan Awan

                                                                                         

Segumpal awal menyembul di hamparan abu-abu langit pagi. Pinggirnya melengkung-lengkung mengingatkan saya ketika kecil. Melukis atau menggambar langit terlihat monoton tanpa dihiasi awan. Melukis awan menjadi keasyikan tersendiri. Awan menjadi lukisan sentral. Selanjutnya lukisan burung-burung mengepakkan sayap-sayapnya, menyempurnakan.

Kegembiraan saya tentang awan berbalik saat seorang wanita melintas di perempatan jalan menuju utara. Sementara saya akan pergi ke pasar. Jalanan lengang membuatnya melenggang bebas, dibanding lalu lintas siang yang padat. Bentuk badan, baju selutut, pipi tembam, tak bisa diingkari sosoknya. Setelah saya perhatikan, ia bukan wanita yang saya kenal.

Kemarin sore ia bertandang ke rumah saya, dan kekesalan saya belum sepenuhnya hilang. Kedatangannya selalu untuk meminta-minta. Tentu saja saya memberinya uang tidak seperti seorang pengemis sebab ia kenalan. Saya mengacuhkannya karena saya sedang menyetrika. Ia pergi mengomel seakan saya berutang padanya dan tak membayar. Sungguh terlalu!

            Saya melangkah menyusuri satu per satu deretan pedagang pasar. Ada sesuatu menggelitik ketika sampai di penjual nasi jagung langganan. Di sebelah kirinya seorang lelaki duduk di dingklik sambil membungkusi makanan jualannya: tape singkong. Ia berbekal satu dunak, berisi tape singkong, di atasnya papan untuk menjajakan tape singkong dalam kantung-kantung plastik bening. Lapaknya kontras dengan lapak nasi jagung, di meja setinggi pinggang orang dewasa. Ia menjajakan juga aneka getuk, beberapa macam pisang mentah, belum lagi tape ketan dalam bugkus daun pisang yang laris. Semua makanan jualannya, andalan. Sebab masing-masing punya penggemar sendiri-sendiri.

            “Numpang laris ya, Bu?” tanya saya sambil melirik penjual tape singkong.  

Ia tersenyum. Mungkin ia tak mau dikatakan sombong jika mengiyakan. Itu hal logis. Pedagang kecil berjualan di samping pedagang besar. Seorang pembeli dari penjual nasi jagung, kemudian juga membeli tape singkong.

Selesai membeli nasi jagung saya pergi.

Menyusuri jalan pulang ingatan saya tertuju pada penjual gorengan yang nebeng di tempat penjual aneka es, di antaranya es kuwut. Waktu itu puasa Ramadan. Rasa haus setelah tertahan seharian, minum es adalah kenikmatan. Ada empat wadah kaca besar diletakkan di meja setinggi orang dewasa. Pembeli mengantre. Sementara pedagang gorengan di sampingnya adalah pedagang kecil. Ia mengais rezeki di samping penjual es yang laris. Seringkali pembeli es juga membeli gorengannya.

Keadaan sama juga saya rasakan pada penjual aneka bakaran: sosis, bakso, dan makanan-makanan lain, semua dalam olahan bakar. Di sampingnya penjual minuman teh. Juga pedagang kecil. Para pembeli makanan aneka bakaran dan makan di tempat, pasti butuh minum. Dan pedagang minuman ketiban rezeki.

Para pedagang besar itu mudah untuk menyediakan makanan atau minuman yang dijual para pedagang kecil. Namun, rasa berbagi itulah yang mereka tunjukkan. Saya teringat wanita berbaju selutut, pipi tembam, dan kelak saya bersikap padanya. Seperti lukisan awan, memberi sesuatu bagi penikmatnya.

@@@


Jumat, 26 September 2025

Tamasya ke Puncak Gunung Telomoyo

                                                                                                

pintu gerbang ke puncak Telomoyo

               Bagi orang tinggal sehari-hari di kota, seperti saya, melihat sunset atau matahari terbenam di puncak gunung pastilah punya keasyikan tersendiri. Bayangan seorang pendaki dengan segala perlengkapannya, berjalan di jalan terjal, bebatuan, untuk mencapai puncak gunung, terlintas di benak saya. Saya dan rombongan akan pergi melihat sunset di Puncak Gunung Telomoyo.

            Kami berangkat pukul setengah dua belas siang, berniat salat Duhur dan Asar di perjalanan, sambil menikmati tempat-tempat persinggahan.

            Udara sejuk dengan matahari samar-samar menyambut kedatangan kami di Dusun Dalangan, Desa Pandean, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, tepatnya di area Gunung Telomoyo. Waktu menunjuk pukul empat sore. Sisi kanan area parkir kendaraan-kendaraan pribadi. Sisi kiri terparkir jip-jip aneka warna. Tak seperti dugaan saya, naik ke puncak gunung dengan menaiki jalan terjal, jip-jip itu siap mengantarkan wisatawan menuju ke sana. Tarip tersedia, dari Rp400.000,00 hingga Rp1.000.000,00, tergantung jumlah tempat wisata yang dikunjungi. Dengan membayar Rp15.000,00 per orang, sebagai biaya masuk tempat wisata, kami berlima, ditambah sopir, mengendarai jip menuju Puncak Gunung Telomoyo.

                                                                                       

persewaan jip-jip siap mengantar para wisatawan

             Samar-samar hujan rintik turun ketika jip baru saja melewati gardu tiket pembayaran. Tapi terpal sebagai atap jip membuat saya tenang, jika tiba-tiba hujan turun deras. Syukurlah, beberapa menit berikutnya, tak setetes pun air turun dari langit. 

                                                                                    

Gunung Andong terlihat dari tempat parkir

              Bunga-bunga bermekaran berwarna pink; sebagian lagi bunga-bunga berwarna kuning dari tanaman lain. Warna-warna itu sangat kontras dengan hijau daun-daunnya. Pemandangan berikut pohon-ponon pinus menjulang tinggi di kanan kiri jalan. Suasana menyenangkan, kecuali suara berisik klakson setiap beberapa menit, seiring mobil akan membelok. Tujuannya agar tidak bertabrakan saat berpapasan dengan mobil lawan arah.

            Mobil terus menaiki jalan, dan semakin ke atas. Kok tidak ada adelweis? tanya saya. Edelweis identik dengan puncak gunung. Puncak Gunung Telomoyo kurang tinggi, jadi tidak ada edelweis, jawab sopir. Saya manggut-manggut.

            Setengah jam berikutnya kami tiba di Puncak Gunung Telomoyo. Begitu turun dari mobil, pernyataan sopir membuat kami tercengang.

            “Kita tidak bisa lihat sunset. Kabut keburu datang.”

            Ada perasaan kecewa tidak tersampaikan tujuan. Gunung Sindoro, Gunung Merbabu, Gunung Sumbing, juga tertutup kabut. Hanya Gunung Andong sempat saya foto karena letaknya di bawah dekat parkir kendaraan. Tapi berada di puncak gunung bersama wisatawan-wisatatan lain, cukup menghibur kami. Kapan lagi berada di puncak gunung kalau tidak di Puncak Gunung Telomoyo, dengan segala kemudahannya. Banyak jip-jip mengantarkan rombongan terparkir di pinggir-piggir jalan. Begitu pun sepeda motor bagi yang bepergian berdua. Para pedagang mi instan dan minuman-minuman saset sibuk melayani para wisatawan.

Akhirnya kami memutuskan turun, mencari kafe. 

                                                                          

salah satu spot foto di kafe

         Kami memilih kafe representatif, selain tempat beristirahat, juga terdapat spot-spot foto menawan. Biaya masuk sepuluh ribu per orang. Terasa ngeri ketika saya berada di tempat berlantai kaca, saya bayangkan jika lantai itu retak lalu pecah, kemudian saya terjatuh di jurang. Maksimal delapan orang berada di tempat itu.

            Berada di tempat dingin, makanan tepat dan mudah adalah mi instan. Sayang kami harus mengantre panjang. Kami putuskan turun, setelah puas berfoto. Mungkin malam hari kami baru sampai di basecamp jika tetap ingin menyantap mi rebus. Kembali pertanyaan saya ajukan ketika jip berpapasan dengan mobil pribadi, dalam perjalanan pulang. Saya protes, awalnya kami akan naik mobil sendiri ke Puncak Gunung Telomoyo. Tapi petugas melarang dan harus sewa jip. Itu pemilik kafe. Biasanya mengantar karyawan, pergantian sip, jawabnya.

            Apa pun kendaraannya, melihat pemandangan melalui Puncak Gunung Telomoyo adalah pengalaman tak terlupakan. Hingga tak terasa kami sampai di basecamp.

@@@




Jumat, 19 September 2025

Cinta: Sebuah Cara Meraih Keinginan

                                                                                        

          Book Fair 2025 sepi pengunjung ketika saya tiba di halaman Perpustakaan Provinsi  Jawa Tengah. Beberapa petugas, lelaki-perempuan, sibuk menata buku-buku, menghitung dengan kalkutalor dari buku catatan, memindahkan buku-buku ke tempat semestinya, dll. Aroma masakan tercium dari pedagang di sisi kiri arena. Sesekali angin dingin melintas walau matahari sejak pagi tadi bertengger di atas sana.

Saya sengaja datang awal, agar leluasa mencari buku yang saya inginkan. Langsung saya datangi buku-buku novel. Dari barisan buku-buku itu, tidak satu pun saya temui yang saya mau. Kesabaran saya hilang dan nyaris pulang, sebelum saya melihat buku berwarna suram, pada barisan terakhir. Hati saya langsung berujar, sebelum buku itu saya ambil, lalu pulang, untuk segera membacanya: “Akhirnya, kutemukan pengarang idola: Gabriel Garcia Marquez.”

Dari kovernya (gambar dan judul), saya menebak isinya banyak berisi adegan cabul. Namun, mengacu nama besar pengarangnya, sebagaimana ditulis lebih besar dari judul buku, cerita ranjang tidak akan ditulis laiknya ‘barang ecek-ecek’.

Cerita dibuka dengan keinginan lelaki, mantan jurnalis, yang masih dipercaya mengisi kolom seminggu sekali, menghadiahi dirinya, tepat pada hari ulang tahunnya ke-90, dengan menghabiskan malam percintaan liar bersama remaja perawan. Ia menelepon kenalannya, wanita pemilik rumah bordil. Lalu kenalannya itu memberinya gadis miskin dari piggiran, usia 14 tahun.

Dari bab kedua (lelaki itu mulai bertemu sang gadis) hingga bab akhir, dugaan saya meleset. Tak satu pun terjadi adegan ranjang, walaupun keduanya berada dalam satu kamar. Kenalannya itu memberi obat penenang karena gadis itu baru saja mengalami kejadian buruk, yang ini bisa mengganggu hubungannya dengan lelaki itu. Nahas, obat itu kelebihan dosis. Ia tidur terlelap hingga keesokan hari, saatnya sang mantan jurnalis menyiapkan karyanya. Begitulah malam-malam sama, namun demikian cukup membuat lelaki itu menemukan cintanya. Ia menulis dengan penuh cinta. Karyanya terasa berbeda dari biasanya. Hingga pengunduran dirinya berhenti menulis kolom ditolak, sebab ia masih bisa menyajikan karya bagus.

Kalimat-kalimatnya ditulis panjang-panjang. Namun saya tidak terengah-engah, karena setiap frasa ringkas sehingga mudah dipahami. Dari novel sebanyak seratus empat puluh tujuh halaman, hanya beberapa kalimat dialog ditulis secara konvensional: diapit dengan tanda petik. Selebihnya kalimat-kalimat dialog ditulis secara narasi. Saya tidak bingung, sebaliknya, justru terkesan, itulah keunikan karya ini.

Terlepas cerita seorang lelaki 90 tahun ingin menghabiskan malam percintaan liar bersama remaja perawan, pada hari ulang tahunnya, lebih jauh cerita ini berkesan bahwa dengan cinta, keinginan apapun bisa diraih, entah cita-cita, harapan, pekerjaan, dll. Cinta memberi kekuatan magis yang mampu menggerakkan sesuatu sulit tanpa diduga.

Sebagai rangkuman, sekaligus motivasi, jelang halaman terakhir, ditulis: Kehidupan bukanlah sesuatu yang berlalu begitu saja bagaikan sungai Heraclius yang selalu berubah, melainkan adalah sebuah kesempatan unik untuk membalikkan panggangan dan menjaga panas di sisi lain, selama manusia hidup.  

@@@


Jumat, 12 September 2025

Beda Visi

                                                                                       

Waktu belum menunjuk pukul setengah delapan pagi ketika saya sampai di halte. Beberapa menit kemudian bus Transjateng jurusan akhir terminal Bawen datang. Hanya ada dua penumpang wanita duduk di belakang. Mereka sedang berbincang masalah pekerjaan. Hawa dingin menusuk kulit. Kota Semarang adalah tempat awal pemberangkatan.  

Hari ini spesial. Saya akan memanfaatkan promosi, dalam rangka memperingati hari jadi Provinsi Jawa Tengah ke-80. Bayarnya seribu kan, saya pakai Kris, pinta saya kepada petugas sambil menyodorkan Hp, bermaksud memindai, sebagai persyaratan. Wah, promonya sudah habis, sejak jam setengah tujuh tadi, jawab petugas. Kalau bayar normal mending pakai uang tunai, gerutu saya lalu memberi selembar lima ribu rupiah.

Kekesalan hati terkadang mengacaukan semua urusan. Tujuan utama saya memanfaatkan promosi, selain ke pasar hewan, dari terminal Bawen naik angkot menuju Ambarawa. Kuota 1000 per hari harus dibagi penumpang 7 koridor, selama Juli-September. Sebelum bus melaju jauh, saya merenung. Hati saya leleh. Kapan lagi saya melihat kelinci-kelinci sesungguhnya. Waktu melaju tak terulang. Saya telanjur membayar lima ribu rupiah. Saya putuskan melanjutkan perjalanan.

Satu setengah jam kemudian saya sampai di tempat tujuan. Jalanan menurun dari jalan raya menuju pasar hewan. Sisi kanan jalan, lelaki lansia membawa tas khusus dari rajut janur, lalu mengeluarkan isinya.   

“Niki pinten, Pak?” tanya lelaki muda di sebelahnya tentang harga ayam, mungkin jenis ayam aduan. Ternyata lelaki lansia adalah pedagang ayam.

“Tiga ratus ribu rupiah,” jawab pedagang.

 Lalu lelaki muda melebarkan bulu-bulu ayam, bagian ekor dan kedua sayap, sebelum menawar, “Seratus tujuh puluh lima, nggih?”

Pedagang ayam meminta dagangannya kemudian memasukkannya ke tas khusus dan melesat pergi, menuju pasar. Ia tak menghiraukan lelaki muda berjalan di belakangnya dan  menawar hingga Rp275.000,00. Sikap pedagang seakan mengatakan kalau tidak punya uang sebaiknya tidak membeli ayam berkualitas tinggi.  

Akhirnya saya sampai di tempat kelinci-kelinci dijajakan. Pandangan saya tertuju pada lelaki berjaket hitam, yang sibuk memvideo, kelinci-kelinci dalam satu keranjang besi, dengan Hp. Hewan-hewan imut berbalut bulu-bulu putih itu seperti sekelompok artis sedang shooting. Mereka asyik makan dedaunan, sesekali mata mereka melihat Hp.

Kelinci-kelinci lain, berbeda ukuran, juga berada di keranjang-keranjang besi.  Kelinci-kelinci besar menempati kandang-kandang kayu. Lelaki itu terkesan sudah dari tadi berada di tempat tersebut.

“Sepasang berapa, Bu?” tanyanya, selesai memvideo.

“Delapan puluh ribu,” jawab penjual, berkonde cepol. Baju selututnya berisi penuh badannya yang padat. “Kalau mau yang bibit, itu?” tunjuknya pada keranjang di sebelahnya berisi kelinci-kelinci lebih besar. “Mereka cepat berkembang dan menjadi besar,” jelasnya kemudian sambil menunjuk kelinci besar di kandang.

“Yang bibit sepasang berapa?” tanyanya.

“Seratus lima puluh ribu,” jawab pedagang. Wajahnya mulai kusut.

“Seratus ribu boleh?” tawarnya.

“Dari tadi nawar terus,” umpat pedagang lalu pergi. Tidak ada pembeli lain. Ia menambahi dedaunan untuk kelinci-kelinci kecil yang makanannya menipis. Lelaki itu belum beranjak.

Sebelum pedagang itu marah, saya buru-buru pergi. Sebab saya hanya melihat-lihat. Saya masuk ke salah satu deretan warung di pinggir pasar, untuk makan siang.

Kekecewaan saya tidak mendapatkan harga promosi mungkin sama dirasakan pedagang ayam, yang pembelinya tidak mengerti ayam berkualitas tinggi, dan pedagang kelinci, menghadapi calon pembeli rumit, terlepas setiap orang beda visi.

@@@


Jumat, 22 Agustus 2025

Sekilas Tentang Ikan Koi

                                                                                      

          Buku ini saya pinjam di perpustakaan setelah kunjungan dari panti asuhan. Lama mengikuti serangkaian prosedur kunjungan bersama anak-anak panti dan para pengurusnya, gerah yang mendera akibat sinar matahari siang itu, sebelum pulang, saya dekati tanaman-tanaman di sisi kanan panti asuhan. Ternyata ada sebuah kolam. Ikan-ikannya berenang melenggak-lenggok dalam pancaran warna cerah merah, putih, dan hitam, yang banyak orang mengenalnya dengan baik: koi.

            “Ini kok tidak dipanen, padahal ikan-ikannya sudah besar-besar,” kata saya. Kolam yang tidak luas itu menjadi semakin sempit.

            “Ya, tidak dipanen. Memangnya lele, terus digoreng?” jawab teman yang berada di sebelah saya. Kami tertawa. Kami tidak pernah mendengar ikan koi digoreng. Dalam perjalanan pulang terlintas pertanyaan: Mungkin koi-koi itu dibiarkan hingga mati, setelah hidup, layaknya ikan-ikan, dalam hitungan beberapa tahun.

            Sebetulnya sudah terjawab kepenasaran saya pada bab pertama. Ikan koi tahan hidup sampai puluhan bahkan ratusan tahun. Sebagian orang percaya, ikan koi menyimpan banyak mistis dan berbagai macam feng shui. Namun, melihat gambar kaver, warna ikan koi mirip bendera Jepang, kelak setelah saya baca termasuk jenis tancho, dan harganya paling mahal, saya tertarik menuntaskannya.  

            Asal mula ikan koi dari Cina, sejak 2500 tahun lalu. Kaisar menghadiahi putranya ikan pada hari ulang tahunnya. Lalu ikan itu dinamai koi. Kemudian Jepang menyerbu Cina dan membawa ikan koi. Ikan koi dikembangkan warna merah dan putih dengan kualitas tinggi. Sehingga Jepang identik dengan koi, selain juga bonsai. Di sana ada bangunan dinamai koi. Ada juga kastil dikelilingi parit, yang identik ikan koi.

            Di Jepang, ikan koi terbagi dalam 13 garis keturunan. Penanam ikan koi berdasar corak warna. Tancho: corak merah di kepala, gordan: 5 corak merah, yordan: 4 corak warna merah, dll.

            Memelihara ikan koi tidak perlu kolam luas. Sebagian orang memelihara ikan koi di balkon, atau lantai atas rumah. Yang penting kualitas air terjaga. Sebab kualitas air memengaruhi warna ikan koi. Kolam tidak terkena hujan atau di bawah pohon. Air hujan dan sampah daun-daun memengaruhi kualitas air, begitupun saat memberi pakan. Musim panas ikan koi makan banyak. Musim hujan ikan koi makan sedikit sehingga jika diberi banyak pakan akan sisa dan menjadi sampah. Dan ikan koi senang diberi pakan yang mengambang.

            Ikan koi perlu dipantau. Ikan koi sehat berenang lincah dan bergerombol dengan rombongannya. Ikan koi sakit menyendiri, tidak memberi respon walaupun diberi rangsangan, misalnya disentuh, termasuk saat diberi makan. Ia dikarantina dan dirawat. Penanganan ikan koi sakit diobati dengan beberapa cara: direndam air yang telah diberi obat, disuntik, atau diberi obat melalui mulut, bergantung penyakitnya.

            Ikan koi bisa juga dilombakan, dengan perawatan khusus.

Tidak terasa dari keingintahuan sedikit, saya mengenal banyak ikan koi.

@@@


Jumat, 15 Agustus 2025

Satai Bumbon

                                                                                          

         Kedatangan kami di tempat penjual satai bersamaan dengan embusan angin dari arah barat, dengan desah suara keras, membawa debu-debu yang menampar wajah. Tapi kami tak menutupinya dengan benda apa pun, termasuk tisu, karena segera masuk ke tempat penjual satai lebih aman, yang jarak menuju ke pintunya dua langkah. Sinar matahari tak menyisakan bayangan bagi penduduk bumi.

            Tempat ini layaknya warteg, jauh dari bayangan saya, sebuah tempat representatif, terlebih bagi pengunjung dari luar kota, yang butuh makan sambil beristirahat, dan menjual makanan satai seporsi Rp60.000,00.

            “Kita makan siang di Kendal, makan satai bumbon. Kamu pasti belum pernah coba!” putus teman saya langsung meminta Pak Sopir mampir di tempat langganannya, menikmati makanan khas, selesai kunjungan kami dari Pekalongan.

Atas dasar rasa penasaran, saya mengiyakan, meski satai bagi saya adalah satai kambing, dan daging sapi cocok untuk masakan bistik dan rendang.

            Saya, teman, dan Pak Sopir masing-masing memesan setengah porsi, lima tusuk. Begitu satai terhidang, lagi-lagi atas dasar menyenangkan hati teman, saya bersemangat menyantap. Aroma pedas tercium dari sambal kacang, dan  kacang tanahnya digerus kasar, dan dicampur dalam tusukan-tusukan satai. Itu artinya tidak memberi kesempatan saya yang tidak suka pedas, untuk mengukur pedasnya cabe, dibanding sambal dipisah. Mungkin dari semua itu dinamai satai bumbon.

            Potongan-potongan daging sapinya besar-besar, tapi empuk. Sehingga tidak terasa saya habis lima tusuk. Ada makanan lain untuk menyantap satai bumbon, selain nasi: sayur lodeh tewel, dan tauge rebus yang diletakkan di atas nasi.  

            Konon, masyarakat Indonesia zaman dulu tidak mengenal daging bakar. Mereka memasak daging dengan cara direbus. Letak Indonesia strategis menjadi tujuan para pedagang India dan Timur Tengah. Mereka memberi pengaruh makanan Indonesia. Satai adalah hasil evolusi kebab dari India dan Timur Tengah. Masyarakat dari negara-negara tersebut, makan kebab dari aneka jenis, di antaranya ditusuk seperti satai.

Nama satai mungkin berasal dari bahasa India, catai, yang artinya daging. Nama ini pun berevolusi, agar mudah mengucapkan, catai menjadi satai.   

Irisan-irisan tomat mengurangi rasa pedas. Namun udara masuk dari kanan kairi pintu yang dibiarkan terbuka, kami tidak bisa berlama-lama di warung, begitu makan selesai. Kami beranjak dan melanjutkan perjalanan, pulang ke Semarang.

@@@


Jumat, 08 Agustus 2025

Kejutan Nasi Soto

                                                                                          

        Sore ramai anak-anak ketika saya melewati kampung menuju toko alat-alat tulis. Saya baru teringat, jelang tujuh belas Agustus, kampung-kampung biasanya mengadakan aneka lomba. Dua remaja laki-laki memasang tali rafia di kanan kiri tiang jalan. Basah di sebagian baju kaus mereka menandakan matahari masih garang memancarkan sinarnya. Di belakang saya, seorang anak nyeletuk,

            “Umi, aku mau ikutan lomba makan krupuk.”

            Lalu ibunya mengiyakan.

            Seringkali ingatan saya tertuju pada majalah Ummi setiap kali mendengar panggilan ‘Umi’. Ingatan saya melambung pada karya saya yang pernah dimuat di majalah itu. Namun, perasaan saya berada pada titik nadir. Saya tidak bisa mengarsipkannya sebagaimana karya-karya saya setiap dimuat media. Majalah Ummi yang memuat karya saya itu termakan banjir lalu saya buang.

            Pulang dari toko alat-alat tulis, pikiran saya melintas: Mengapa tidak saya tulis pengalaman saya seputar karya saya itu? Lalu saya menghubungi teman yang karyanya berkali-kali dimuat di majalah Ummi. Saya minta memfotokan majalah Ummi sebagai gambar ilustrasi. Tidak lama saya mendapatkan gambar majalah Ummi.

             “Kejutan Nasi Soto” adalah judul cerita anak itu. Ia berkisah tentang seorang anak lelaki dari keluarga sederhana. Saat anak lelaki itu khitan orangtuanya hanya menyajikan panganan-panganan di piring-piring saji. Tetangga sebelahnya adalah pemilik warung soto. Ia membuka warungnya untuk sarapan. terdorong rasa empati, ia memberi kejutan dengan menyuguhi semangkuk nasi soto kepada setiap tamu yang hadir.

Ide cerita itu timbul saat saya berkunjung ke rumah teman. Tetangga sebelahnya menjual nasi soto. Ketika teman saya masuk dan meninggalkan saya sendiri, pikiran saya berandai-andai. Malam menjadi sempurna jika yang terhidang nanti tidak hanya minuman, tetapi juga semangkuk nasi soto. Tapi warung itu gelap karena hanya buka pagi hari.

“Kejutan Nasi Soto” satu-satunya karya saya yang pernah dimuat di majalah Ummi. Sebagaimana nasib media-media lain, akhirnya media itu juga tutup.

Kini, setiap kali saya merindukan “Kejutan Nasi Soto”, saya tinggal membaca tulisan ini.

@@@