Seringkali
timbul rasa iri setiap kali saya bertamasya ke pedesaan atau melewati daerah,
terhampar hijau pepohonan. Entah ladang, apalagi rumah-rumah dengan tanaman di
sekelilingnya. Sementara di lingkungan rumah saya, semua lahan telah tertutup
ubin atau plester. Saya pernah menanam cabe, tapi mencari tanah subur susah,
akhirnya biji cabe yang saya sebar tidak tumbuh.
Suatu
saat saya membaca koran. Departemen Pertanian menyelenggarakan pameran tanaman
hias, anturium, dan aglaonema. Membaca kata ‘tanaman’ hati saya senang. Saya catat
tanggal dan harinya.
Siang
tak terik, karena sedang musim hujan, ketika saya tiba di pelataran Wonderia,
tempat yang dulu pernah menjadi kebun binatang, kemudian menjadi taman hiburan
anak-anak, lalu ditutup karena terjadi kecelakaan pada salah satu wahananya, setelah
itu, Wonderia dibiarkan terbengkelai. Begitu saya masuk pintu gerbang pameran,
kursi-kursi tertata di bagian kiri, dipayungi tenda perpaduan warna putih dan
merah menyala. Di ujung ada panggung, dengan gambar sosok otoritas Kota Semarang.
“Di
kantor gubenuran sedang ada acara. Sebagian dari mereka mengisi acara di sana,”
kata salah satu petugas yang saya temui ketika saya bertanya mengapa suasana
pameran sepi. “Biasanya sore ramai pengunjung,” tambahnya. Kemudian ia mempersilakan
saya jalan ke kanan, menuju stan-stan tanaman.
Stan
pertama adalah penjual cendera mata. Cendera mata juga dijual di sana. Pedagangnya
asal dari Jawa Barat.
“Saya
telanjur cinta profesi. Sahabat saya, yang senasib, juga tinggal di Semarang,” kata
wanita gemuk terlihat gesit. Saya terpesona mendengar ceritanya: dua sahabat, kini
kembali berkolaborasi membuat kerajinan tangan, sebagaimana di daerah asal
mereka. Mereka tidak mengeluh saat dipisahkan padahal bisnis sedang maju. Mereka
dipertemukan lagi saat mendapat suami sama-sama orang Semarang. Kecintaan terhadap
kerajinan tangan, persahabatan, membuat mereka mendapat keberuntungan. Kerajinan
tangan yang dibuat sekarang bukan asal Jawa Barat, melainkan kerajinan tangan dari
eksplorasi potensi Kota Semarang.
tanaman anturium
Sesuai
tema pameran, hanya satu dua penjual cendera mata, selebihnya stan-stan tanaman.
Beberapa stan menjual jenis-jenis tanaman anggrek. Stan-stan lain menjual jenis-jenis
anthurium dan aglaonema.
Sejauh saya memandang, jenis-jenis anturium dan aglaonema hanya tanaman daun. Tapi
satu tanaman dalam satu pot kecil harganya hingga jutaan.
“Sudah
dipasang tarip tinggi, giliran akan dibayar pembeli, malah katanya buat koleksi
sendiri,” kata karyawan terkekeh, seorang lelaki berpostur tinggi besar, yang
semula saya kira pemilik tanaman. Karyawan itu baru saja menelepon pemiliknya. Akhirnya
karyawan menyatakan bahwa tanaman-tanaman di meja depan hanya dipamerkan.
“Begitulah cinta,” kata calon pembeli sambil tertawa, kemudian memilih aglaonema jenis lain.
Ada
juga pameran tanaman bonsai, yang tergabung dalam komunitas tanaman bonsai. Para
penjual tanaman hias sadar diri, era digital, ponsel menjadi andalan setiap
orang, pengunjung diperbolahkan swafoto walau tidak membeli.
Saya
tertegun pada tanaman yang dirangkai sedemikian rupa, membentuk daun waru sebagai
lambang cinta.
“Ini
namanya bambu cinta,” katanya ketika saya tanya tanaman apa itu. Tanaman bambu,
dibentuk khusus, lalu diberi pita merah, ia menamainya bambu cinta.
“Bapak
tidak saying, misal dirusak oleh hama, tikus, misalnya,” kata saya.
“Oh,
tidak, tikus saya ajak bicara, ‘tikus jangan dirusak ya, kamu cari makan di
tempat lain,’. Nyatanya tidak dimakan. Aman saja. Itu buktinya.”
Satu
jam lebih saya melihat-lihat pameran tanaman hias. Dalam perjalanan pulang,
saya merasakan pemilik bambu cinta mewakili orang-orang yang dengan cinta telah
menemukan sesuatu berharga dalam hidup mereka. Wanita yang menekuni hobi kerajinan
tangan dan kembali berkolaborasi dengan sahabatnya, pemilik tanaman yang tak
menjual sebagian asetnya, dan pemilik bambu cinta yang tak membunuh binatang sebagai
musuh manusia, melainkan berbicara dengan setulus hati. Cinta memberi energi
orang-orang untuk berdamai dengan kesulitan, dan akhirnya menemukan keasyikan
dalam hidup mereka.
Saatnya
saya berdamai dengan yang ada.
@@@





















