Iis Soekandar: 2025

Kamis, 21 Agustus 2025

Sekilas Tentang Ikan Koi

                                                                                      

          Buku ini saya pinjam di perpustakaan setelah kunjungan dari panti asuhan. Lama mengikuti serangkaian prosedur kunjungan bersama anak-anak panti dan para pengurusnya, gerah yang mendera akibat sinar matahari siang itu, sebelum pulang, saya dekati tanaman-tanaman di sisi kanan panti asuhan. Ternyata ada sebuah kolam. Ikan-ikannya berenang melenggak-lenggok dalam pancaran warna cerah merah, putih, dan hitam, yang banyak orang mengenalnya dengan baik: koi.

            “Ini kok tidak dipanen, padahal ikan-ikannya sudah besar-besar,” kata saya. Kolam yang tidak luas itu menjadi semakin sempit.

            “Ya, tidak dipanen. Memangnya lele, terus digoreng?” jawab teman yang berada di sebelah saya. Kami tertawa. Kami tidak pernah mendengar ikan koi digoreng. Dalam perjalanan pulang terlintas pertanyaan: Mungkin koi-koi itu dibiarkan hingga mati, setelah hidup, layaknya ikan-ikan, dalam hitungan beberapa tahun.

            Sebetulnya sudah terjawab kepenasaran saya pada bab pertama. Ikan koi tahan hidup sampai puluhan bahkan ratusan tahun. Sebagian orang percaya, ikan koi menyimpan banyak mistis dan berbagai macam feng shui. Namun, melihat gambar kaver, warna ikan koi mirip bendera Jepang, kelak setelah saya baca termasuk jenis tancho, dan harganya paling mahal, saya tertarik menuntaskannya.  

            Asal mula ikan koi dari Cina, sejak 2500 tahun lalu. Kaisar menghadiahi putranya ikan pada hari ulang tahunnya. Lalu ikan itu dinamai koi. Kemudian Jepang menyerbu Cina dan membawa ikan koi. Ikan koi dikembangkan warna merah dan putih dengan kualitas tinggi. Sehingga Jepang identik dengan koi, selain juga bonsai. Di sana ada bangunan dinamai koi. Ada juga kastil dikelilingi parit, yang identik ikan koi.

            Di Jepang, ikan koi terbagi dalam 13 garis keturunan. Penanam ikan koi berdasar corak warna. Tancho: corak merah di kepala, gordan: 5 corak merah, yordan: 4 corak warna merah, dll.

            Memelihara ikan koi tidak perlu kolam luas. Sebagian orang memelihara ikan koi di balkon, atau lantai atas rumah. Yang penting kualitas air terjaga. Sebab kualitas air memengaruhi warna ikan koi. Kolam tidak terkena hujan atau di bawah pohon. Air hujan dan sampah daun-daun memengaruhi kualitas air, begitupun saat memberi pakan. Musim panas ikan koi makan banyak. Musim hujan ikan koi makan sedikit sehingga jika diberi banyak pakan akan sisa dan menjadi sampah. Dan ikan koi senang diberi pakan yang mengambang.

            Ikan koi perlu dipantau. Ikan koi sehat berenang lincah dan bergerombol dengan rombongannya. Ikan koi sakit menyendiri, tidak memberi respon walaupun diberi rangsangan, misalnya disentuh, termasuk saat diberi makan. Ia dikarantina dan dirawat. Penanganan ikan koi sakit diobati dengan beberapa cara: direndam air yang telah diberi obat, disuntik, atau diberi obat melalui mulut, bergantung penyakitnya.

            Ikan koi bisa juga dilombakan, dengan perawatan khusus.

Tidak terasa dari keingintahuan sedikit, saya mengenal banyak ikan koi.

@@@


Kamis, 14 Agustus 2025

Satai Bumbon

                                                                                          

         Kedatangan kami di tempat penjual satai bersamaan dengan embusan angin dari arah barat, dengan desah suara keras, membawa debu-debu yang menampar wajah. Tapi kami tak menutupinya dengan benda apa pun, termasuk tisu, karena segera masuk ke tempat penjual satai lebih aman, yang jarak menuju ke pintunya dua langkah. Sinar matahari tak menyisakan bayangan bagi penduduk bumi.

            Tempat ini layaknya warteg, jauh dari bayangan saya, sebuah tempat representatif, terlebih bagi pengunjung dari luar kota, yang butuh makan sambil beristirahat, dan menjual makanan satai seporsi Rp60.000,00.

            “Kita makan siang di Kendal, makan satai bumbon. Kamu pasti belum pernah coba!” putus teman saya langsung meminta Pak Sopir mampir di tempat langganannya, menikmati makanan khas, selesai kunjungan kami dari Pekalongan.

Atas dasar rasa penasaran, saya mengiyakan, meski satai bagi saya adalah satai kambing, dan daging sapi cocok untuk masakan bistik dan rendang.

            Saya, teman, dan Pak Sopir masing-masing memesan setengah porsi, lima tusuk. Begitu satai terhidang, lagi-lagi atas dasar menyenangkan hati teman, saya bersemangat menyantap. Aroma pedas tercium dari sambal kacang, dan  kacang tanahnya digerus kasar, dan dicampur dalam tusukan-tusukan satai. Itu artinya tidak memberi kesempatan saya yang tidak suka pedas, untuk mengukur pedasnya cabe, dibanding sambal dipisah. Mungkin dari semua itu dinamai satai bumbon.

            Potongan-potongan daging sapinya besar-besar, tapi empuk. Sehingga tidak terasa saya habis lima tusuk. Ada makanan lain untuk menyantap satai bumbon, selain nasi: sayur lodeh tewel, dan tauge rebus yang diletakkan di atas nasi.  

            Konon, masyarakat Indonesia zaman dulu tidak mengenal daging bakar. Mereka memasak daging dengan cara direbus. Letak Indonesia strategis menjadi tujuan para pedagang India dan Timur Tengah. Mereka memberi pengaruh makanan Indonesia. Satai adalah hasil evolusi kebab dari India dan Timur Tengah. Masyarakat dari negara-negara tersebut, makan kebab dari aneka jenis, di antaranya ditusuk seperti satai.

Nama satai mungkin berasal dari bahasa India, catai, yang artinya daging. Nama ini pun berevolusi, agar mudah mengucapkan, catai menjadi satai.   

Irisan-irisan tomat mengurangi rasa pedas. Namun udara masuk dari kanan kairi pintu yang dibiarkan terbuka, kami tidak bisa berlama-lama di warung, begitu makan selesai. Kami beranjak dan melanjutkan perjalanan, pulang ke Semarang.

@@@


Jumat, 08 Agustus 2025

Kejutan Nasi Soto

                                                                                          

        Sore ramai anak-anak ketika saya melewati kampung menuju toko alat-alat tulis. Saya baru teringat, jelang tujuh belas Agustus, kampung-kampung biasanya mengadakan aneka lomba. Dua remaja laki-laki memasang tali rafia di kanan kiri tiang jalan. Basah di sebagian baju kaus mereka menandakan matahari masih garang memancarkan sinarnya. Di belakang saya, seorang anak nyeletuk,

            “Umi, aku mau ikutan lomba makan krupuk.”

            Lalu ibunya mengiyakan.

            Seringkali ingatan saya tertuju pada majalah Ummi setiap kali mendengar panggilan ‘Umi’. Ingatan saya melambung pada karya saya yang pernah dimuat di majalah itu. Namun, perasaan saya berada pada titik nadir. Saya tidak bisa mengarsipkannya sebagaimana karya-karya saya setiap dimuat media. Majalah Ummi yang memuat karya saya itu termakan banjir lalu saya buang.

            Pulang dari toko alat-alat tulis, pikiran saya melintas: Mengapa tidak saya tulis pengalaman saya seputar karya saya itu? Lalu saya menghubungi teman yang karyanya berkali-kali dimuat di majalah Ummi. Saya minta memfotokan majalah Ummi sebagai gambar ilustrasi. Tidak lama saya mendapatkan gambar majalah Ummi.

             “Kejutan Nasi Soto” adalah judul cerita anak itu. Ia berkisah tentang seorang anak lelaki dari keluarga sederhana. Saat anak lelaki itu khitan orangtuanya hanya menyajikan panganan-panganan di piring-piring saji. Tetangga sebelahnya adalah pemilik warung soto. Ia membuka warungnya untuk sarapan. terdorong rasa empati, ia memberi kejutan dengan menyuguhi semangkuk nasi soto kepada setiap tamu yang hadir.

Ide cerita itu timbul saat saya berkunjung ke rumah teman. Tetangga sebelahnya menjual nasi soto. Ketika teman saya masuk dan meninggalkan saya sendiri, pikiran saya berandai-andai. Malam menjadi sempurna jika yang terhidang nanti tidak hanya minuman, tetapi juga semangkuk nasi soto. Tapi warung itu gelap karena hanya buka pagi hari.

“Kejutan Nasi Soto” satu-satunya karya saya yang pernah dimuat di majalah Ummi. Sebagaimana nasib media-media lain, akhirnya media itu juga tutup.

Kini, setiap kali saya merindukan “Kejutan Nasi Soto”, saya tinggal membaca tulisan ini.

@@@


Kamis, 31 Juli 2025

Kue Klepon

                                                                                      

              Pasar memperlihatkan kesibukannya: aneka transaksi dari bahan makanan, makanan siap santap, hingga non makanan seperti baju-baju dan perkakas rumah tangga berbahan plastik. Mereka beraktivitas di bawah sinar lampu jalan sebab matahari belum menampakkan wajahnya.

            Pagi itu saya menyusuri pasar krempyeng, seperti biasa, yang para pedagangnya menjual dagangannya di kanan kiri jalan, dan jelang pertokoan buka, mereka selesai. Saya menuju ke penjual getuk, demikian orang-orang menyebut, meski yang dijual tidak hanya getuk (berbahan singkong). Ia menjual aneka jajan pasar lain seperti cenil, putu mayang, dan klepon.

            Pedagang getuk zaman dulu menjual banyak varian jajan pasar. Selain makanan-makanan tersebut, ada juga getuk tolo, ketan hitam, ketan putih, gobet, jongkong, kacamata, gatot, mungkin masih ada yang lain. Dan pedagangnya tidak hanya seorang.  

            Saya sengaja melihat dari jauh pedagang getuk. Sebab saya berkali-kali makan getuk, cenil, dan putu mayang, tanpa klepon. Untuk kesekian kali saya kecele. Orang makan jajan pasar lebih enak jika bermacam-macam, lalu taburi parutan kelapa, kucuri kinca (sirop gula merah), dalam kemasan daun. Atau mungkin pedagang getuk tidak lagi membuat klepon karena pembuatannya yang rumit.

            Tanpa sengaja saya bertemu teman lama. Hampir setiap ke pasar saya bertemu dengannya. Ia berjualan nasi, anek sayur, dan lauk. Saya utarakan unek-unek.

            “Gak usah di pedagang getuk. Di penjual aneka panganan, kan’ juga jual klepon,” jelasnya. Saya pun buru-buru ke penjual yang dia maksud, agar tidak kehabisan. Saya lupa ada penjual aneka panganan yang menjual klepon dalam satu kemasan. Saya membeli beberapa kemasan klepon.

            Ada beberapa lapisan terkuak jajan pasar berbentuk bulat kira-kira sebesar kelereng ini. Bagian luar klepon kenyal dan gurih, berbalut parutan kelapa. Begitu lidah merasakan isinya, manis dan lembut gula merah beradu, dan lumer di mulut.

            Menurut asal usul namanya, klepon diambil dari bahasa Jawa, berarti ‘indung telur hewan’. Selain dikonsumsi pribadi, klepon juga disajikan dalam jamuan. Saya pernah datang ke resepsi pernikahan, klepon dan aneka jajan pasar terhidang sebagai makanan pembuka, berbeda dari kebanyakan pemilik hajat menyajikan kue-kue masa kini atau kue-kue modifikasi dari barat. Menurut buku Main Rasa Bersama Sasa, klepon pertama kali diperkenalkan di Negeri Kincir Angin oleh imigran dari Pasuruan, Jawa Timur. Saat itu klepon tersedia di toko dan restoran Indonesia-Belanda.

            Di antara banyaknya makanan kekinian, kue klepon menjadi makanan langka. Saya bahagia masih bisa menikmati klepon, walaupun tidak bersama jajan pasar-jajan pasar lain, dengan taburan parutan kelapa dan kucuran kinca, dalam kemasan daun.

@@@


Kamis, 24 Juli 2025

Mengetuk Hati Nurani

                                                                                    

         Dingin amat terasa, beberapa hari terakhir. Di luar, matahari masih setia memancarkan sinarnya. Tak ada satu pun pedagang mangkal, begitupun anak-anak yang biasa bermain, mungkin karena libur sekolah telah usai.

Saya biasa menghabiskan sore dengan bersih-bersih rumah, sembari mendengarkan berita-berita televisi. Sesekali saya melihat tayangannya jika ada yang menarik. Saya saklek pada satu stasiun televisi, kecuali Tim Garuda berlaga, saya pindah televisi lain. Sebab televisi langganan saya itu tidak menyiarkan pertandingan sepakbola dalam negeri. Berita-beritanya tak melulu hiburan, dan tak memihak partai tertentu.

Ada tayangan khusus berita-berita kriminal dari berbagai daerah. Kejadian-kejadian kriminal seringkali tak bisa dihindari dan menjadi bagian hidup manusia. Pengalaman mengajari saya agar berhati-hati pada transportasi pribadi. Suatu malam sehabis Magrib saya akan berkunjung ke rumah teman. Saya menggunakan ojek daring. Tak biasanya sopir bercerita tanpa jeda sepanjang perjalanan. Ternyata hal itu untuk mengelabuhi saya dengan menyesatkan jalan. Saya tersadar dan meminta dia melewati jalan biasanya. Beruntung dia tak melanjutkan niat buruknya.

Kejadian itu menghantui saya saat tamasya ke Ambarawa. Penumpang angkot hanya beberapa orang, dan pada akhirnya tinggal saya. Saya langsung deg-degan begitu angkutan tak lewat jalan raya,“Lo kok belok, Pak?”

Kulo manut mawon, namung riyaya utawa sak lawase, la niku tergantung pemerintahe,” jelas pengemudi. Ternyata pengalihan jalan itu kebijakan pemerintah, dan tidak hanya saat Lebaran, mungkin menghindari macet. Jalanan panjang, sepi, sesekali melewati hamparan pepohonan. Saya lega begitu sampai di tempat tujuan. Ongkosnya sama seperti saat lewat jalan raya. Sebelum turun sopir memberi saya petunjuk angkot yang harus saya naiki ketika pulang dan dari arah mana.

            Sebelum pulang ke Semarang saya mampir ke penjual serabi ngampin, makanan khas Ambarawa. Penjual menawari saya sampel hampir setiap serabi turun dari cetakan, semata-mata untuk memuaskan pembeli agar tidak kecewa. Jika saya mau mungkin saya mendapatkan serabi satu porsi gratis. Padahal saya hanya memberi satu porsi di tempat dan satu porsi saya bawa pulang.  

            Pelayanan memuaskan juga saya terima dari penjual leker di Bandungan. Ia menggunakan tungku berbahan bakar arang untuk memasak. Saya bertanya mengapa ia tidak menggunakan kompor, efisien, dengan demikian keuntungan yang didapat juga banyak.

            “Leker dimasak dengan kompor kalau dingin tidak enak, berbeda dimasak dengan arang. Walaupun dingin masih tetap renyah,” jelasnya. Saya segera membayar dan pergi. Saya  tidak meremehkan keterangan ibu itu. Saya tidak berniat membuktikannya. Sebab saya lebih senang makan leker panas, terlebih berada di daerah dingin seperti Bandungan.

            Rumah telah bersih. Tanyangan berita-berita kriminal berganti berita-berita politik dan peristiwa-peristiwa terkini lain. Di antara orang-orang mudah bertindak kriminal, sebagian lain tetap memelihara hati nurani untuk membahagiakan sesama.

@@@


Rabu, 23 Juli 2025

Sendang Nyatnyono

                                                                               

        “Kamu ke sini tidak mandi? Trus ngapain?” ledek teman, suatu saat ketika kami tamasya ke Sendang Nyatnyono. Sejak awal kedatangan saya sibuk jalan-jalan, sambil menikmati alam perbukitan dengan udaranya yang sejuk, makan-makan, swafoto, dan memperhatikan kegiatan masyarakat sekitar, begitupun kunjungan-kunjungan sebelumnya. Ketika seorang teman menegur, saya tersadar. Mengapa saya tidak ikut mandi? Bagaimana rasa mandi di sendang? Waktu merambat jauh; kami bersiap pulang.

            Rasa penasaran mandi di sendang beramai-ramai terbayar setelah menunggu sekian lama. Ada rombongan mengajak saya ke sana. Namanya Sendang Kalimah Toyyibah. Masyarakat luas mengenal Sendang Nyatnyono. Mungkin karena nama itu diambil dari nama desa setempat, orang-orang lebih mudah mengingatnya.

            Tidak ada tiket masuk ke sendang tersebut, yang letaknya di Kabupaten Semarang. Pengunjung laki-laki masuk di pintu kiri area sendang, pengunjung wanita masuk di pintu kanan.

Saya mengenakan pakaian dobel dari rumah. Pengunjung yang tidak membawa pakaian ganti, tersedia persewaan sarung. 

                                                                     

Ada beberapa pancuran kecil dan satu pancuran besar. Sumpal dari gabus saya tarik,  seketika air mengguyur tanpa henti, kecuali saat bersabun dan keramas, sumpal kembali saya katupkan di pancuran.

             Mulanya kami risi mandi beramai-ramai. Walaupun kami mengenakan pakaian, berbeda saat mandi sendiri di kamar mandi. Namun, mandi di bawah guyuran air pancuran yang jernih, diiringi senda gurau tak henti, dan memberi pengalaman menyenangkan, lambat laun rasa risi lebur.

            Kami beruntung waktu itu hanya bersamaan dengan satu rombongan, dan mereka segera selesai. Kami mandi dan bermain air sampai puas, tanpa was-was. Sebab tas-tas pengunjung hanya diletakkan begitu saja di tempat terbuka, dekat sendang.  

            Kulit badan terasa lebih bersih dibanding mandi di rumah. Entah hal itu karena lama berkecimpung dengan air, atau khasiat air sendang.

            “Air sendang tidak pernah berhenti mengalir. Hanya airnya berkurang,” jelas penduduk setempat ketika saya tanya apakah air tetap mengalir walau musim panas. “Khasiat air sendang tergantung niat masing-masing,” tambahnya.

                                                                                       

            Setelah puas mandi, saya jalan-jalan sambil melihat-lihat kedai-kedai penjaja makanan oleh-oleh. Ada banyak kudapan, mayoritas dengan olahan goreng. Saya tertarik keripik daun. Saya pikir keripik bayam. Ternyata daun-daun hijau berbalut tepung itu keripik daun pegagan. Ada juga samiler atau kerupuk singkong, emping jagung, intip atau kerak nasi. Semua seharga lima ribu rupiah per bungkus.

            Matahari di atas ubun-ubun ketika angkutan kami bergerak pergi. Tertinggal jejak-jejak kaki, terukir kelak kembali.

@@@


 



Kamis, 12 Juni 2025

Kedelai yang Melalai

                                                                                             

          Pukul empat sore bukan waktu tepat untuk menyantap makanan berat bagi saya. Walau saya telah bertamasya sejak pagi, dan perut lapar minta diisi. Saya pun tidak berselera menyantap kudapan, seperti leker dan bakso pentul, yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan daerah Bandungan, Kabupaten Semarang.

Saya terus menyusuri jalan mencari makanan yang tepat. Hingga sampailah saya di jalan dekat pasar Bandungan. Kedai-kedai khusus menjual tahu siap santap, berjejer di pinggir jalan. Tahu Bandungan khas. Teksturnya lembut.

Di antara kedai-kedai itu, ada gang-gang. Salah satu gang terdapat sebuah pabrik menjual makanan dari kedelai: tahu jadi, dan tempe dalam kemasan daun. Pabrik itu juga menjual tahu setengah jadi, seperti bentuk tahu dalam wedang tahu. Saat digoreng dengan balutan telur, tahu setengah jadi terasa otak sapi.

Demi mengakrabkan dengan para pengunjungnya, pabrik itu juga melayani pembelian tahu goreng dan tempe mendoan, siap santap di tempat. Tempat itu tak pernah sepi. Saya sering bersamaan dengan para pengunjung dari luar kota, setelah perjalanan liburan. Sambil beristirahat mereka menyantap tahu goreng dicocol sambal kecap, dan mendoan dengan ceplusan cabe rawit. Lalu sebelum pulang mereka biasanya membeli oleh-oleh.

Ada satu hal yang membuat saya ingin selalu mampir di sana setiap lewat Bandungan: menikmati susu kedelai, produksinya selain tahu dan tempe.

Susu kedelai jarang dijumpai di tempat saya tinggal, tak seperti susu sapi. Setiap hari penjual susu sapi menjajakan dagangannya di kampung. Saya membeli satu cup susu kedelai. Saya suka rasa original. Rasa kedelai begitu sempurna. Tegukan pertama, dalam kapasitas sedikit, karena susu dituangkan dalam cup, langsung dari pemanas, mulai menghangatkan mulut. Tegukan kedua dan selanjutnya, hangatnya memenuhi mulut dan sudut-sudutnya. Setelah setengah cup, susu kedelai layak disantap dengan sedotan.  

Sebagian pengunjung tak suka rasa kedelai murni. Mereka menambahi gula, jahe, atau bahan-bahan minuman lain. Harganya menambah dibanding susu kedelai murni.

Sore semakin larut. Saya pulang dengan perut kenyang dan badan hangat, cukup dengan membayar Rp6.000,00, sebagai bekal pulang ke Semarang.

@@@

   

Kamis, 29 Mei 2025

Kabut

                                                                             

          Saya dan rombongan tiba di daerah Nyatnyono, Ungaran, Kabupaten Semarang, saat waktu jelang pukul dua belas siang. Suasana pegunungan, berkebalikan dengan di daerah saya tinggal, yang pasti sedang terik. Sesekai dedaunan pepohonan sekitar melambai-lambai. Para pedagang bakso di depan gerobak-gerobaknya, berjejer menunggu kami, dan memanggil-manggil agar membeli. Makanan familiar, berbahan dan berbumbu simpel itu, cocok disantap pada suasana dingin.

Saya berburu spot foto yang ciamik. Sebuah kesenangan tersendiri ketika saya tamasya ke alam bebas, di daerah tinggi. Saya bisa melihat daerah bawah.  Dari ketinggian, saya bebas memotret laut, pantai, pepohohan, lalu lintas perkotaan, atau sekadar genting-genting rumah-rumah penduduk.

Beberapa kali saya memotret lancar, mendapatkan pemandangan bagus dan gambar terang. Selanjutnya, hasil cepretan buram. Apakah ada masalah dengan kamera ponsel saya?

“Ada kabut!” celetuk seorang teman, juga gagal mengambil foto. Kemudian ia berlalu.

Kabut menutup hal-hal sekitarnya, sebagaimana perjumpaan saya dengan seorang wanita di ruang religi, setelah menunggu kabut tak kunjung pergi. Kami duduk bersila di depan pusara seorang wali, berharap rahmat dan berkahnya yang meluber, jatuh kepada kami. Kemudian hajat-hajat kami dikabulkan. Kami hanya dipisahkan beberapa dudukan, tanpa seorang penghalang. Walaupun sinar lampu ruangan temaram, dan saya melihatnya dari samping, tampak hidungnya mancung, matanya bulat lebar, postur tubuhnya tinggi. Setelan gamis-celana dan kerudungnya, semua berwarna pink, tak selaras dengan keadaannya. Kabut telah menutup kebahagiaannya. Sejak saya berjumpa, hingga kami sama-sama beranjak keluar ruang, ia terus menangis.

Tangisnya begitu dalam menunjukkan derita yang sedang menimpanya. Mungkinkah ia dikhianati suaminya, padahal ia tulang punggung keluarga, terlihat penampilannya yang rapi layaknya seorang pegawai? Atau ia sedang menjalin hubungan dengan lawan jenis, dan jelang pernikahan, nyawa teman dekatnya itu terenggut? Atau peristiwa-peristiwa lain yang memilukan? Entahlah.  

Ingin rasanya saya mengulurkan tangan. Setidaknya sebagai pendengar sesak hatinya jika saya tak mampu memberikan solusi. Namun, ada kabut di antara kami.

Saya mengikuti rombongan dan keluar ruangan, begitu pun wanita itu. Saya kembali ke spot foto. Kabut menebal. Saya turun mengikuti langkahnya, merasa bersyukur masih bisa mencari spot foto bagus, lain kesempatan.

@@@


              

Kamis, 22 Mei 2025

Lebih Menyenangkan dari Membaca Buku

                                                                                               


“Buku itu ada di layanan referensi,” jawab petugas perpustakaan ketika suatu saat saya tidak menemukan buku yang saya cari. Ia seperti melempar godam di dada saya. Buku-buku di ruang referensi tidak boleh dibawa pulang pengunjung. Itu artinya pengunjung memiliki keterbatasan waktu membaca. Dan saya tidak pergi ke perpustakaan setiap hari.

            Saya turun dan masuk ruang referensi. Benar, buku tentang sejarah Kota Semarang ada di jajaran buku-buku lain. Saya baca per bab sekilas, lalu saya tandai bagian-bagian penting untuk saya fotokopi.

            Saya datangi bagian fotokopi perpustakaan, tidak ada penjaganya. Apakah ia sedang di kamar mandi? tanya saya dalam hati. “Tukang fotokopinya gak masuk, dah beberapa hari ini. Sakit katanya,” jelas salah satu pengunjung sambil membawa buku menuju tempat layanan. Kemarin ia juga kecele. Saya telanjur tidak mengetahui tempat fotokopi terdekat di luar perpustakaan.

Pikiran saya rusuh, mungkin serusuh orang-orang berjaket hijau yang berkumpul di lapangan Wonderia pagi tadi. Hangat sinar matahari  disambut oleh para sopir ojek daring itu, yang meminta hak-haknya dipenuhi, di antaranya mengurangi pembayaran aplikasi yang dibebankan konsumen. Beberapa petugas keamanan juga terlihat di sana.

            Pada saat saya duduk di kursi lobi, tidak tahu harus berbuat apa, petugas perpustakaan menghampiri.

            “Yuk ikut, tak minta bantuan tukang parkir antar ke tempat fotokopian.”

            “Bener, Pak, nggak ngrepotin?”

Ia tersenyum dan menggeleng sambil meminta saya mengikuti langkahnya. Petugas itu memberikan kunci sepeda motornya dan meminta tukang parkir mengantar saya ke tempat fotokopi terdekat. 

            Selama di perjalanan dan mengantre di tempat fotokopi, pikiran saya mengembara pada kejadian-kejadian tragis negeri ini: dokter melakukan pelecehan seksual pasiennya, polisi menembak masyarakat sipil, hakim tipikor berbuat korupsi, dan kejadian-kejadian lain yang dilakukan oleh pelayan masyarakat yang seharusnya melindungi.

            Hari itu, saya menemui kejadian lebih dari pelayanan. Saya pulag membawa fotokopi dengan perasaan lebih menyenangkan dari membaca buku.

@@@

 

Kamis, 15 Mei 2025

Semur Tanpa Pala

                                                                                         


          Aroma tanah basah samar-samar melintas. Seharian hingga semalam kemarin, Yogyakarta diguyur hujan deras. Hari ini matahari tak bersinar cerah. Suara klakson, tukang parkir yang memberi aba-aba, keceriaan para wisatawan, dan kendaraan-kendaraan yang melintasi seputar alun-alun, meramaikan sore itu. Saya menyusuri kedai-kedai makanan, berniat mengembalikan energi, dengan makan makanan enak. Pilihan saya jatuh pada kedai khusus menjual aneka sup.

            Saya duduk satu meja dengan seorang wanita. Ia sibuk memencet ponsel. Percakapan kami terjadi seperti teman akrab. Saya sedang menghabiskan waktu libur dua hari; dia sedang menunggu temannya. Sesekali keningnya bergaris-garis seakan tidak setuju keputusan lawan bicaranya.

            Hidangan utuh di hadapannya. Setelah pesanan saya datang, kami menyantap hidangan masing-masing. Sesuap demi sesuap nasi sup terasa segar. Suapan ketiga mengintimidasi lidah saya. Sepotong makanan saya kira daging, ternyata pala. Saya langsung teringat buku tentang semur, dengan rempah pala sebagai ciri khasnya. Saya berujar suka-suka: Bagaimana jika kita masak semur tanpa pala?

            “Itu sama dengan masak kecap,” tanggapnya terkekeh. Kami melanjutkan makan. Pikiran saya mengurai pada buku, yang dari judulnya menarik perhatian saya.

            Semur adalah masakan dari daging, biasanya daging sapi, diolah bersama bumbu sederhana dan dipersedap dengan kecap manis. Kemudian semur berkembang dengan olahan daging kambing, ikan, telur, tahu, seafood, dan sayuran.

            Semur tampil dalam segala suasana: dimakan bersama nasi uduk sebagai menu sarapan, hidangan sehari-hari ibu rumah tangga, dan makanan pesta, bersanding dengan makanan-makanan kekinian.

          Semur termasuk hidangan tradisional Indonesia. Ia hadir sejak lama. Penamaan semur berasal dari bahasa Belanda, “smoor”, yang artinya, masakan daging yang direbus dengan tomat dan bawang secara perlahan. Kemudian ia menjadi menu utama dalam budaya Rijstafel Belanda (budaya penyajian nasi dan lauk pauk ala kuliner Nusantara, di meja makan)

            Buku ini juga menyatakan bahwa semur dapat diterima semua kalangan dan generasi. Itu sebabnya masakan semur tetap lestari hingga sekarang. Semur dijumpai hampir di semua daerah di Indonesai, dari barat sampai timur, dengan keunikan masing-masing. Di Samarinda dan Manado, semur dihidangkan bersama nasi kuning untuk sarapan. Di Gresik, semur diolah dari ikan bandeng, sebab di sana banyak dijumpai produksi ikan bandeng.

            Lambat laun, rasa manis-pedas pala larut bersama cecapan demi cecapan, dan tak terasa yang terakhir. Namun, wanita di hadapan saya belum didatangi temannya. Ketika saya ungkapkan barangkali temannya itu sedang ada musibah, dia menjawab jengkel.

            “Dia selalu ngajak adiknya. Paling dia sedang nunggu adiknya. Mereka adik kakak yang kompak. Kalau tidak ada salah satu, ya itu tadi, seperti Anda bilang: seperti semur tanpa pala!”

            Saya tertawa, dan, beranjak.

@@@


Kamis, 08 Mei 2025

Kali Kesek Village

                                                                                              


Saya pernah berdebat seru dengan seorang teman ketika berniat mengajaknya ke Kali Kesek Village. Tempat wisata ini menyajikan terapi ikan, yang tidak saya temukan di tempat-tempat wisata, seputar Semarang.

            Kali Kesek Village dapat ditempuh dengan bus Transsemarang jurusan Cangkiran. Dari terminal Cangkiran belum ada angkutan umum. Saya pernah bertanya kepada sopir angkutan, kala itu mengantar rombongan kami, sejauh mana hingga tidak ada angkutan umum, padahal tempat wisata itu semakin terkenal. Ia menjawab, kira-kira 10 km untuk sampai di tempat tujuan. Di samping itu, jalanan tidak memungkinkan kendaraan-kendaraan roda empat bersimpangan. Mereka pulang lewat jalan lain, menuju Boja.

            Teman saya ngeri melintasi jalan setapak sejauh itu, di kanan kiri pepohongan, berboncengan dengan sopir ojek online. Nyali saya ikut menciut. Entah kapan lagi saya menemukan rombongan yang bertamasya ke sana.

@@@

            Mukena belum saya lepas ketika pintu rumah diketuk. Saya menyelesaikan wirid. Setelah itu, saya beranjak keluar, dengan mukena tergulung sepinggang, tak enak tamu menunggu lama.

            Angin lebih dulu masuk dan mengurangi gerah begitu pintu saya buka.

            “Eh, Mbak….” Saya ajak ia masuk ke ruang tengah dan duduk santai. Tetangga saya itu segera mengutarakan maksudnya. Suara televisi dari Sapa Indonesia Malam saya kecilkan.

            “Pengurus kampung akan mengadakan wisata, di tiga tempat….”

            Saat itu saya seperti menemui malam lailatur qadar ketika ia menyebutkan salah satu tempat wisata adalah Kali Kesek Village. Saya langsung mendaftar.

            Hari-hari serasa jalan melambat. Hingga tiba waktunya, kami berwisata ke pemancingan dan tempat religi. Terakhir, rombongan diajak ke tempat saya impikan. Setelah membayar tiket masuk Rp2.000,00 per orang, dan parkir kendaraan, angkutan masuk di tempat parkir. Dua odong-odong dan kendaraan-kendaraan lain, mayoritas mobil-mobil angkutan, berada di sana.

                                                                               

Seperti namannya, suasana lekat alam pedesaan. Kedai-kedai sederhana dari bambu ramai pembeli. Pemiliknya para warga setempat yang menjajakan soto dan gendar pecel, dan oleh-oleh: kolang-kaling dengan harga jauh lebih murah disbanding di pasar tempat saya biasa berbelanja, tiwul (makanan dari tepung singkong diolah pakai gula merah), dan aneka keripik. Para pengunjung berswafoto, terlebih di spot Kali Kesek Village.

Saya semakin tak sabar saat melihat kali-kali atau sungai-sungai, diceburi kaki orang-orang yang memanfaatkan gigitan ikan-ikan terapi.

            Setelah salat Asar, saya langsung mendatangi kedai langganan. Saya memesan soto batok. Selain menjual soto dan gendar pecel, pemilik kedai juga memfasilitasi pemesanan kolang-kaling dan tiwul. Saya langsung melepas sandal jepit, dan menceburkan kedua kaki. Ikan-ikan terapi langsung menyerbu. Rasa geli merasuki seluruh tubuh saya.  Beramai-ramai saya tertawa bersama pengunjung-pengunjung yang waktu itu juga baru datang.

                                                                                    

          Pesanan datang lama tak terasa karena ulah ikan-ikan yang menggelitik. Saat kaki telah bersih dari kotoran, satu demi satu ikan-ikan pergi. Saatnya saya menyantap soto batok yang segar, hanya dengan membayar Rp8.000,00, perut kenyang.

            Sore semakin larut, langit hitam mungkin tak lama menumpahkan airnya, tak menyurutkan para pengunjung datang. Mugkin mereka juga seperti saya, yang tak sabar ingin menikmati gigitan ikan-ikan terapi.

@@@




 



           

Kamis, 01 Mei 2025

Semangkuk Bakso di Halbi

                                                                                       

        “Lihat bakso malang, Pak?” tanya saya kepada Pak Becak yang mangkal di depan kampung. Sontak pandangannya menyapu sekitar, tak ada gerobak penjual bakso seperti yang saya cari.

            “Nggak lihat, tapi dia jalan lurus kalau gak ada yang beli,” jawabnya sambil menunjuk arah.

            Jawaban sama saya terima dari orang-orang yang saya tanya. Para penjual bakso malang tak mangkal di suatu tempat. Mereka berhenti jika ada pembeli, atau memanggil dengan ketukan bakso yang khas, hanya sesaat. Setelebihnya, mereka jalan. Tak tahan menahan perut bernyanyi dan haus karena sengatan sinar matahari, saya putuskan makan makanan lain.

            Hari berikutnya, saya bertemu penjual bakso malang, tapi saya sedang berpuasa Syawal. Semangkuk bakso malang membayangi, dan saya terus mencari-cari kesempatan setiap keluar rumah.

            Kuah bakso malang bening. Kaldu beraroma bawang itu beradu dengan bakso sapi yang empuk dan gurih, dan renyahnya pangsit goreng. Toping seledri dan bawang goreng menyempurnakan penyajiannya. Setiap suapan mengundang selera.

            Bakso termasuk makanan akulturasi. Menurut buku Main Rasa Bersama Sasa, “bak-so” dalam bahasa Hokkien berarti “daging giling”.  Berawal saat Meng Bo, salah satu penduduk Negeri Tirai Bambu, sekitar abad ke-17, ingin menyajikan daging untuk ibunya. Seiring bertambahnya usia, ibu Meng Bo tidak dapat mengunyah daging. Dalam pencariannya, Meng Bo terinspirasi kue moci yang bulat dan kenyal. Kemudian ia menghaluskan daging dan membentuk bulat seperti kue moci. Sejak itu ibunya dapat menikmati daging.

            Kedatangan orang-orang Negeri Tirai Bambu, zaman dulu, tidak hanya berdagang. Mereka juga mewarnai budaya dan makanan masyarakat Indonesia, termasuk bakso. Sesuai mayoritas masyarakat Indonesia yang muslim, daging bakso tebuat dari daging sapi, bukan dari daging babi.

            Budaya Halbi (halal bi halal) juga dilestarikan oleh masyarakat Indonesia. Tujuan Halbi selain silaturahim adalah bermaaf-maafan. Begitupun yang ada di benak saya ketika menghadiri acara Halbi sebuah komunitas. Selebihnya, saya hanya membayangkan bakso secara umum, walau jauh hari, panitia mengumumkan bahwa makanan utama Halbi adalah bakso.

            Dan, kerinduan saya terbayar ketika di hadapan saya, terhidang bakso berkuang bening, mirip bakso malang. Di tengah maraknya efisiensi, saya menikmati bakso malang di Halbi, sebuah langkah bijaksana.

@@@


Kamis, 27 Maret 2025

Tak Memburu Waktu

                                                                                  

Posko penuh orang-orang. Posko keamanan di sebelah kiri dekat pintu gerbang masjid itu terbangun dari tenda terbuka. Saya mudah melihat kegiatannya dari jauh. Satu per satu orang keluar sambil membawa minyak goreng kemasan plastik dengan wajah berseri. Kemudian datang yang lain dan mengantre, begitu seterusnya. Sebagian dari mereka jemaah pengajian; Sebagian lagi orang-orang luar.

            “Tadi sebelum pengajian, ada pengumuman, tapi aku nggak ngeh,” jawab teman yang duduk di sebelah saya ketika saya tanya kegiatan di posko.

            “Jenengan tidak ke sana?” tanya saya sekaligus mencari teman.

            “Nanti saja setelah Asar,” jawabnya kukuh, sambil manggut-manggut mendengarkan keterangan Pak Ustaz.

            Hati saya bergejolak. Apakah barangnya masih ada jika kami menunggu Asar? Pasti harga minyak goreng itu murah. Mungkin otoritas setempat atau pihak tertentu memberi kompensasi kepada masyarakat, yang dirugikan salah satu produsen minyak goreng, yang mengurangi takaran.   

            Seorang wanita bertubuh tinggi dan tegar datang, lalu bersalaman kepada orang-orang di dekatnya. Ia tiba di masjid pada separuh waktu pengajian. Orang-orang membagikan takjil jelang buka puasa. Ia membagikan takjil siang hari, terlepas yang diberi jemaah pengajian. Saya pernah diberinya kurma 5 buah dalam bungkus mika.

            Saya datangi posko, di tengah terik matahari, pada keterangan Pak Ustaz berikutnya. Cerita Nabi Yusuf dibuang saudaranya, dan kisah-kisah menarik setelah itu, terdengar jelas melalui pelantang suara.

            Seperti mendapat hadiah lebaran ketika saya mendapatkan satu liter minyak goreng secara gratis. Saya hanya diminta mengisi kuesioner, seputar penggunaan uang digital. Teman saya sedih, selesai Asar, posko sepi, tidak ada lagi kegiatan pemberian minyak goreng gratis.

            Insya Allah, dua atau tiga hari lagi Lebaran tiba. Izinkah saya mengucapkan Hari Raya Idulfitri, kepada teman-teman yang merayakannya, dan, maaf lahir batin.

@@@


Kamis, 20 Maret 2025

Apa Ini?

                                                                                                

            Pak Ustaz menerjemahkan dan memberi keterangan-keterangan ayat-ayat suci yang dilantunkan. Keterangan-keterangan itu, selalu dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Ia akan kembali membacakan ayat-atat suci lalu menerjemahkan dan memberi keterangan-keterangan, demikian seterusnya hingga waktu jelang Asar. Dan menurut jadwal pengurus, pengajian dan khataman akan dilakukan tanggal 25 Ramadan.

            Langit mendung. Angin bertiup sejuk. Suara kendaraan-kendaraan terdengar ramai, dari para pembeli yang memenuhi kebutuhan Lebaran. Mereka berbelanja di pertokoan seberang jalan sisi kanan masjid.

Sebagian jemaah mendengarkan. Sebagian lain mencatat. Sebagian lagi mengantuk. Pandangan saya menyapu jemaah yang duduk di tengah, dan di pojok-pojok serambi masjid. Saya tak menemui pedagang keripik. Saya suka keripik tumpi(keripik kacang hijau). Mungkinkah pedagangnya tidak berjualan? Atau ia duduk di masjid bagian dalam? Saya duduk di undakan. Gerak saya leluasa.

Pedagang keripik menjual dagangannya sambil lalu. Ia duduk santai di tempat-tempat strategis. Ia menawarkan dagangannya di dalam tas anyaman, kepada orang-orang yang lalu lalang di depannya.   

Berbeda dengan pedagang-pedagang makanan lain, mereka menemui para calon pembelinya satu per satu. Ada pedagang tetap menawari walaupun saya tidak pernah membeli karena tak suka dagangannya.

Ada juga pedagang datang di tengah pengajian berlangsung. Ia duduk sebentar, sambil mencari-cari orang-orang yang pernah membeli dagangannya. Setelah menemukannya, ia tak segan nimbrung dan duduk di sebelah orang tersebut.

Saya harus menunda makan keripik jika tak menemukan pedagangnya. Karena kesibukan malam, saya tak punya waktu menikmati keripik. Saya tadarus bersama teman-teman setelah tarawih. Dan tadarus 30 juz selesai pertengahan Ramadan. Saya berjanji akan membeli keripik setelah tadarus selesai.

            Kami menutup Al-Qur’an. Pak Ustaz baru saja mengakhiri pengajian dengan doa. Tak lama kemudian…

            Pluk!

            “Apa ini?” tanya saya kaget.

            Saya belum sempat mengucapkan terima kasih kepada teman yang menjatuhkan tas kresek di pangkuan saya. Ia gegas pergi, tak mau tersalip mendung menjatuhkan airnya. Dan, sebahagia mendapatkan baju Lebaran, saat saya mengetahui isinya: sebungkus keripik tumpi.

            Suara azan terdengar; saya segera memenuhi panggilannya.

@@@


Kamis, 13 Maret 2025

Langit Terang di Ujung Sana

                                                                                         

Setelah setengah hari beraktivitas, sambil menahan lapar dan dahaga, tidur siang adalah langkah tepat. Tapi pengajian dimulai sekitar pukul satu siang. Pergi tidur dan pergi mengaji, berkelindan di benak saya.

Jika pertentangan dua hal itu merasuki pikiran, saya segera melintaskan dua pedagang yang biasa hadir dalam pengajian itu. Dan saya pun bergegas pergi mengaji.

Berbeda dari pedagang-pedagang lain yang menjual makanan, pedagang balon rajin menyambangi tempat pengajian. Ia menawarkan dagangannya kepada jemaah yang mengajak anak-anak kecil. Ia terkadang datang dua kali dalam durasi pengajian hampir dua jam. Padahal, jemaah yang hadir dan anak-anak kecil yang diajak tak berbeda. Sewajarnya, orang membeli mainan yang sama satu kali. Tapi ia lalu lalang, ke jemaah wanita, lalu ke jemaah lelaki.

                                                                                         

Satu lagi wanita lansia pedagang asongan yang menjual bermacam-macam jepit rambut, karet rambut, cotton bud, serabut pencuci piring, tutup termos, dll. Ketika jalan tanpa beban, saya yakin kakinya terseok-seok. Apalagi ia harus menarik gerobak minimalisnya. Gerobak beroda dua itu disangganya dengan kotak bekas wadah es krim agar berdiri ketika ia duduk bergabung dengan jemaah. Ia beristirahat sambil mendengarkan bacaan Al-Qur’an diselingi ceramah dari Pak Ustaz. Sesekali kantuk menyetainya.

Tak seperti para pedagang makanan yang laris manis, saya pernah duduk di sampingnya hingga pengajian selesai, tak satu pun pembeli membeli dagangannya.

“Setiap hari pasti ada yang beli, ya, Bu?” tanya saya berempati, bagaimana dia makan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain.

“Yah, disyukuri saja,” jawabnya senyum-senyum, tak mau menjelaskan detail. Kami berbincang selesai salat Asar. Sesekali kami menyalami jemaah, yang menuruni undakan masjid, untuk pulang. 

Lalu dia bercerita tentang anak-anaknya yang tak pernah menyantuni. Ia tinggal di sebuah rumah yang tidak lagi ditempati pemiliknya. Sebetulnya ia juga menjual beberapa mainan anak-anak. Tapi modalnya tak kembali karena uangnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Saya manggut-manggut dan mendoakan dalam hati agar ia diberi rezeki sehingga dagangannya tetap ada. Ketika saya bertanya apakah ia juga berbuka puasa di masjid ini, saya tersadar mendengar jawarabannya. Ia berbuka di masjid lingkungan tempat tinggalnya. Ia tidak berani pulang malam. Ia butuh waktu lama berjalan dari masjid ke rumahnya, sambil menarik gerobak minimalisnya.

Satu orang bersandar di pilar serambi masjid dengan mata terpejam. Dua lainnya tergeletak di lantai. Aroma sedap makanan dari penjaja makanan di alun-alun melintas. Daun-daun kemboja bergerak-gerak saat angin bertiup. Kami berpisah. Pedagang asongan menarik gerobaknya; jalannya satu langkah satu langkah. Di antara perjalanan pulang, saya melihat langit terang di ujung sana.

@@@