Iis Soekandar

Jumat, 27 Desember 2024

Manisan Kolang-Kaling

 

             “Tidak jual sate kolang-kaling,” jawab penjual gilo-gilo ketika saya tanya tentang penganan dari olahan manisan kolang-kaling dan disunduk seperti sate. Warnanya merah. Lalu saya membeli buah-buahan: pepaya, nanas, semangka, bengkuang, melon. Dan kerinduan saya itu pupus.

Jawaban sama saya terima dari setiap penjual gilo-gilo yang saya temui. Penjual gilo-gilo menjual buah-buahan dan aneka penganan. Ketika saya kecil penjual gilo-golo juga menjual sate kolang-kaling. Mereka memberi alasan pedagangnya meninggal dan tidak ada penerusnya. Mungkin karena banyak ragam makanan anak-anak dijual di warung-warung, sehingga tidak ada lagi pedagang sate kolang-kaling.

            Saya berniat membuat manisan kolang-kaling ketika berkunjung ke produsen pengolah kolang-kaling, di daerah Boja. Produsen membeli kolang-kaling mentah dari Temanggung. Buah-buah kolang-kaling menempel pada cabang-cabang tandan, dan teronggok di teras rumah. Warna kulitnya hijau pekat dan menjadi cokelat kehitaman setelah direbus.


         Saya masuk dapur, melihat pengolahan kolang-kaling. Di atas tungku ada panci besar berisi buah-buah kolang-kaling yang dimasak selama 4 jam. Bau kayu sebagai bahan bakar menusuk hidung. Sesekali panas asapnya terasa di kulit. Sisi kiri kanan tungku-tungku dibiarkan terbuka, dengan mudah saya melihat pepohonan dan kandang kambing di belakang.


Sisi kiri dapur tempat kolang-kaling sudah jadi, siap dibeli. Sisi kanannya, wanita berdaster duduk di dingklik mengupas kolang-kaling. “Jika mata kulit ini ada 2, berarti, kolang-kaling di dalamnya ada 2,” jelasnya sambil menunjukkan satu buah sebesar bola golf, lalu membelahnya dengan pisau. Setelah kulitnya terbuka, ada 2 kolang-kaling berwarna putih, lonjong. Ia meletakkannya dalam satu wadah. Saya mencicipi. Rasanya agak pahit, kenyal. Kemudian dia mengambil buah kolang-kaling lagi, kulitnya bermata 3. Ia membelah, dan, di dalamnya ada 3 kolang-kaling. Saya tertarik.

            Saya membeli satu kilogram kolang-kaling utuh. Ada kolang-kaling gepeng, itu berarti sudah digencet, dengan kayu berat. Harganya seratus persen lebih murah dari harga di pasar tempat saya biasa berbelanja.

kolang-kaling sudah dikupas

                 Beberapa hari setelah itu, kolang-kaling saya olah.

            Untuk menghilangkan lendirnya, kolang-kaling saya cuci berkali-kali dengan air, dan rebus selama sepuluh menit; setelah itu buang airnya. Kolang-kaling kembali saya rebus sekitar setengah jam, dengan tambahan gula pasir, pewarna, daun pandan, dan daun jeruk. Setelah  dingin, saya taruh kolang-kaling di kulkas semalam. Hari berikutnya, manisan kolang-kaling siap saya santap.

            Karena saya tidak menjualnya, saya tidak membuat sate kolang-kaling. Saya letakkan manisan kolang-kaling di piring saji, lalu ambil pakai garpu. Selamat mencoba bagi teman-teman, yang, juga tertarik.

@@@


 



Kolaborasi

Waktu menunjuk pukul tujuh malam ketika saya dan seorang teman selesai mengerjakan tugas. Saatnya kami makan malam. Kami ingin menghadiahi diri setelah bekerja keras.

“Makan nasi ayam enak nih,” katanya mengusulkan. Lama dia tidak makan nasi putih lauk ayam dimasak opor, dan sayur sambal goreng jipang atau labu siam.

“Ayam lagi, ayam lagi,” tanggap saya. Dia agak tersinggung.

Kami bersitegang sebelum memutuskan jalan sendiri-sendiri. Buat saya, walau ayam sesuwir, sama saja makan ayam. Bahkan kuah opornya aroma ayam. Beberapa hari terakhir setiap hari saya makan nasi lauk ayam, dengan berbagai olahan. Saya teringat rekomendasi kenalan, di Jalan Dokter Cipto, ada penjual nasi gandul yang lezat, makanan khas daerah Pati.

Mobil-mobil berjejer ketika saya tiba di kedai penjual nasi gandul. Tukang parkir memberi tempat dengan aba-aba pada mobil yang baru datang. Ada penyanyi mangkal di depan kedai, serasa di kafe. Di sebelahnya, ada kotak kardus, tempat saweran dari pengunjung.

Para pembeli memenuhi di kursi-kursi plastik. Saya duduk di ujung. Ada beberapa pilihan lauk; saya pesan nasi gandul lauk daging. Baru saja saya akan request lagu, sambil menunggu pesanan tiba, mengalun intro lagu kesukaan saya; dan itu sesuai dimainkan dengan alat musik gitar. Saya menirukan melodinya. Selesai sebait saya ikut melantunkan liriknya, seorang anak wanita, pedagang tisu, mengganggu meminta saya membeli dua tisu. Saya selalu membawa tisu, tapi untuk tidak mengecewakannya, saya memberinya selembar sepuluh ribu, sesuai keinginannya. Saya perhatikan di meja tidak ada tisu, entah habis, atau pedagang tidak menyediakan tisu.

Lagu “Kangen” Dewa 19 masih melantun. Saya manggut-manggut, sesekali menirukan liriknya, sesekali menirukan melodinya. Nasi gandul berkuah kental, rasanya manis, mirip gulai, tapi tidak ada sentuhan daun korokeling yang aromatik. Dagingnya empuk. Entah kapan saya menikmati nasi gandul, di lain tempat.

 Pikiran saya menangkap sesuatu. Ia adalah sebuah harmoni, dari kolaborasi pedagang nasi gandul, penyanyi, pedagang tisu, dan tukang parkir. Satu sama lain saling memberi kontribusi dan keuntungan materi, yang semua itu, menciptakan kenyamanan dan rasa ingin kembali menikmati nasi gandul di tempat ini, setidaknya bagi saya.

Saya teringat cerita teman, yang rukonya di pinggir jalan.

“Apa dia tidak sadar, perbuatannya mengganggu lingkungan? Seenaknya membuang sampah di tempat orang. Hampir tiap hari pembantuku bersih-bersih,” keluhnya, tentang sedikit lahan kosong di sisi kiri rukonya yang sering menjadi tempat pembuangan sampah orang tidak bertanggung jawab. Saya prihatin.

Setelah bercerita dengan banyak teman, ia bersyukur, ada pedagang minuman yang butuh lahan. Tempo hari saya lewat, lingkungannya bersih, setelah kolaborasi antara teman saya dan pedagang minuman.

Penyanyi berganti melantunkan lagu dari penyanyi solo wanita. Nasi gandul telah ludes. Saya mengambil tisu menghalau peluh. Saya tak selalu membawa alat make up, untuk memperbaiki kerudung, dan riasan. Saya teringat teman, yang tadi memilih makan nasi ayam. Ia tak begitu suka membawa tisu. Bagaimana jika rumah makan yang ia tuju tidak ada tisu, seperti di sini. Biasanya dia meminta saya; tapi dia rajin bawa alat make up.

Sebelum dandanan saya yang mungkin tak karuan, dilihat banyak orang, saya buru-buru membayar, dan, pergi.

@@@




 

Ketika Hujan Tak Kunjung Reda

 

Sore diguyur hujan deras, dan tak ada tanda segera reda, ketika saya akan pergi ke toko aksesori. Aksesori itu akan saya pakai kondangan hari Minggu. Saya harus mencarinya di beberapa toko, jika satu toko tak menemukan. Sebotol bir pletok, pemberian saudara, tinggal separuh. Warnanya merah muda, kombinasi kayu secang yang merah dan susu putih. Rasa dan aroma jahenya tak setajam wedang ronde. Bir pletok cocok diminum saat hawa dingin.

Saya meraih  buku kesayangan: Kisah Seribu Satu Malam. Buku ini selalu ada di meja kerja saya. Saya membacanya pada waktu senggang, atau butuh rujukan, atau melupakan sejenak kesusahan.

Bentuknya antologi; saya memilih judul cerita sembarang. Setiap akhir adegan dalam cerita itu, selalu membuat saya penasaran: di depan, ada adegan lebih menarik, dan saya mengikutinya, begitu seterusnya, dan tanpa terasa, cerita selesai.

Pantaslah, Raja Syahrayar, akibat pengalaman dikhianati istri pertama, tidak jadi membunuh Ratu Syahrazad. Mereka kemudian memiliki anak. Setiap Ratu selesai bercerita, Raja penasaran, ingin mendengar cerita lain, malam berikutnya, dan tak terasa, malam keseribu satu. Hal ini mematahkan pendapat Raja, bahwa semua wanita atau istri: pengkhianat, dan tidak membunuhnya selesai malam pertama.  

Saya suka karya ini: di dalam adegan ada adegan. Cerita menjadi rumit dan menarik. Penggambaran setting detail; seakan saya berada di sana.

Setiap cerita kental pendidikan moral. Saya merenungi selesai membaca satu cerita,  seperti kisah Raja Syahzaman, adik Raja Syahrayar. Ia dikhianati istrinya sebelum kakaknya mengalami. Raja Syahzaman dikhianati satu wanita: istrinya; Raja Syahrayar dikhianati sebelas wanita: istri dan sepuluh selirnya. Raja Syahzaman sembuh dari sakitnya; ia beruntung.

Mirip keadaan itu saya alami saat saya tamasya ke Sam Poo Kong. Saya menghindari tanggal merah; tarip masuk pasti tinggi. Ternyata, tanggal 24 Desember, sebagaimana kedatangan saya, dihitung libur Nataru, harga tiket masuk reguler lima belas ribu menjadi dua puluh lima ribu rupiah. Saya menyesal, mengapa tidak bepergian sebelum tanggal 24. Uang sepuluh ribu dapat menebus segelas gempol welahan, sisa seribu rupiah.

Selesai saya jalan-jalan dan swafoto, di halte, seorang wanita, juga calon penumpang bus Transsemarang, mengeluh.

“Anak saya sewa satu kostum delapan puluh ribu. Hanya untuk poto-poto di depan klenteng. Saya pikir tidak semahal itu,” katanya, begitu tahu saya dari Sam Poo Kong. Saya tidak bermaksud merendahkannya, tapi melihat rok dan blus sederhananya, wajah tanpa make up, bersandal jepit, dan keluhannya, kehilangan uang delapan puluh ribu sangat berarti. Kesedihan saya jauh lebih ringan dibanding yang ia alami.   

Tek tek tek … tek tek tek … tek tek tek …

Ketokan penjual bakso memanggil. Hujan reda. Segera saya selesaikan cerita dari kebudayaan zaman Khalifah Harun Al Rasyid itu. Lalu, saya berpayung, pergi ke toko aksesori, menepis gerimis tipis.

@@@


Senin, 01 Januari 2024

Menulis dengan Senang Hati

                                                                                             

Menuliskan pengalaman seputar kegiatan menulis sepanjang satu tahun adalah salah satu favorit saya. Dengan demikian saya mengetahui perkembangan kegiatan menulis, apakah tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, lalu berusaha tahun depan lebih baik dari tahun ini, begitu seterusnya. Itu sebabnya “Kilas Balik” ada dalam menu blog.

Tahun 2023 masih melanjutkan impian tahun lalu: menulis cerpen. Berbeda tahun lalu yang sering tersendat-sendat dalam memenuhi bagian-bagian premis. Tahun ini, dari waktu ke waktu semakin ringan dalam proses menulis. Saya semakin lancar mengisi bagian-bagian premis sebagai persyaratan awal menulis sebuah cerpen. Benar kata orang bijak, menulis termasuk sebuah keterampilan. Ibarat pisau semakin diasah semakin tajam.

Premis diibaratkan resep dalam dunia masakan, begitu istilah Abang Mentor. Jadi, jika resep atau ada bagian premis yang kurang, hasilnya pun terasa janggal. Setelah premisnya tepat, barulah berkreasi pada saat mengembangkannya menjadi cerpen. Entah berkreasi dalam penggunaan gaya bahasa, sudut pandang, dan lainnya sehingga cerpen itu menarik dibaca.

Kembali setelah unsur-unsur premis terpenuhi lalu membuat kerangka cerita, saatnya mengembangkan menjadi cerpen utuh. Saya berusaha menuangkan semua yang ada di kepala dalam satu kali duduk. Dengan demikian tidak menggali dari awal, seperti saya gagal mengembangkan premis dalam satu kali duduk.

Ketikan pertama tentu saja masih draf sehingga perlu diendapkan agar memperolah hasil objektif. Setelah dibaca ulang terkadang ada bagian premis yang terlewat atau kurang sempurna. Mungkin deskripsi tokoh kurang lengkap, keinginan tokoh dan caranya tidak fokus, hambatannya kurang nendang, atau resolusinya biasa-biasa saja. Dengan berpegang pada patokan-patokan itu saya tinggal memperbaiki bagian-bagian yang kurang.

Selanjutnya mengedit secara keseluruhan, adakah kalimat dan paragraf yang loncat sehingga harus dibetulkan, perlukah penggunaan gaya bahasa, mungkin acuannya kurang konsisten, dan bagian-bagian lain yang perlu diperbaiki hingga menjadi sebuah cerpen yang sempurna dan siap kirim ke media. Kegiatan menulis menjadi terasa mudah dan menyenangkan.

Kesenangan itu membuahkan hasil dengan lolos kurasi di media kompas.id. Alhamdulillah. Mungkin karya-karya lain yang telah saya kirim ke media-media sedang menunggu antrean. Atau saya harus terus memperbaiki dan meningkatkan keterampilan menulis untuk menghasilkan karya baik, lebih baik, dan lebih baik lagi. Dan itu sebuah keniscayaan untuk sebuah kegiatan yang positif, menghibur, dan berguna bagi banyak orang.

Setiap orang punya me-time sendiri-sendiri. Biasanya saya menulis malam hari. Saatnya jenuh setelah rutinitas seharian, menulis tulisan fiksi dapat mengendorkan syaraf. Rasa lelah pun lambat laun hilang. Sehingga menulis menjadi bagian kegiatan yang mengasyikkan. Dengan perpegang pada premis dan selalu terbuka, karya terbit hari ini, besok, atau kapan pun hanyalah soal waktu. Semoga tahun 2024 banyak karya terbit, dan ikut memajukan literasi Indonesia, bahkan dunia. Amin.

@@@


  

Minggu, 31 Desember 2023

Sesaat Bersama Kelompok Ternak Sapi

                                                                                       

pintu gerbang lokasi ternak sapi perah

Ngooogh… ngoooogh… ngoooogh… begitu sambutan suara ketika saya memasuki arena peternakan sapi. Seakan menyatakan ucapakan selamat datang.

Sering minum susu sapi menggelitik saya mendatangi peternaknya. Kebetulan mendapat info ada kelompok ternak sapi perah di Semarang. Meski letaknya jauh dari pusat kota. Lokasinya dapat dijangkau dengan menaiki bus Trans Semarang yang daerah operasionalnya hingga ke pelosok-pelosok kota. Mumpung liburan, saya berkunjung ke sana.

Dari pusat kota menaiki bus Trans Semarang jurusan Ungaran, turun Terminal Sisemut, dengan ongkos Rp4.000,00 jauh dekat. Kira-kira membutuhkan waktu satu jam. Setelah sampai di terminal naik angkutan isuzu menuju arah Gunung Pati dengan membayar ongkos Rp3.000,00. Penduduk setempat mengetahui letak pusat ternak sapi perah, termasuk sopir angkot. Peternak-peternak sapi itu tergabung dalam satu kelompok. Mereka berada di satu perkampungan. Jadi, saya tinggal mengatakan kepada sopir agar diturunkan di pusat sapi perah. Seperempat jam kemudian sampailah di daerah menuju tempat tujuan.

Dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra berjalan kaki kira-kira setengah kilometer menuju arena. Apalagi jalannya naik turun. Yah, sekalian berolah raga jalan sehat, menghirup udara pagi sambil menikmati hangatnya sinar matahari. Suasananya lengang begitu saya melewati pintu gerbang. Sesekali melintas kendaraan roda dua. Mereka pengunjung yang membeli susu sapi. Ternyata saya datang kesiangan. Seorang peternak yang saya datangi, jualannya hanya tersisa lima kantung plastik berisi satu liter setiap kantungnya. Syukurlah, saya masih kebagian. Seliter seharga Rp10.000,00. Di samping lebih murah, yang pasti rasanya masih asli. Dibanding susu sapi yang saya beli di lingkungan tempat tinggal. Pembeli di sini tidak hanya perorangan, tetapi juga penjual-penjual susu sapi dari pusat kota. Mereka mengambil pesanan pagi buta.

Sambil beristirahat kami berbincang-bincang seputar ternak sapi perah. Sapi-sapi tersebut diperah susunya dua kali sehari, pagi dan sore. Menghasilkan susu sapi sepuluh liter atau lebih per hari. Yang diperah tidak sembarang sapi, melainkan sapi berjenis kelamin perempuan dan sudah pernah melahirkan. Walupun perempuan dan sudah tua, kalau belum pernah melahirkan, sapi tersebut belum bisa menghasilkan susu. Demikian penjelasan peternak sapi.

Sebagaimana manusia yang sedang menyusui, sapi-sapi perah harus diambil susunya dua kali sehari. Jika tidak, atau terlewat, demikian pengalaman pernah terjadi, susu sapi akan mengeras akibatnya tidak menghasilkan susu. Maka untuk sementara harus dinormalkan dengan diurut hingga kembali mengeluarkan susu.

Sapi perah membutuhkan perawatan khusus agar mendapatkan kualitas susu yang baik. Makanannya tidak hanya rumput. Harus ditambah dengan sisa-sisa singkong: bonggol singkong dan kulit singkong. Mereka memesan dari perusahaan yang memproduksi camilan dari olahan singkong, seperti keripilk. Juga ampas tahu yang biasa mereka sebut gembor.

Agar terjaga kebersihan hasil susunya, sebelum diperah sapi-sapi tersebut dimandikan terlebih dahulu. Tempatnya juga harus bersih dari semua kotoran. Dengan demikian, sebagaimana manusia, mereka mandi dua kali sehari, pagi dan sore. Saya sempat menanyakan apakah juga diberi sabun? Wah habis berapa sabun untuk sapi sebesar itu, tanggap peternak tersebut. Saya pun terkekeh. Memandikan sapi cukup disikat semua permukaan tubuhnya kemudian dibilas dengan air mengalir. Setelah mandi sapi diberi makan. Tujuannya ketika diperah mereka tenang dan tidak membuat banyak gerak. Barulah ketika semua persyaratan terpenuhi, sapi siap diperah.

Kira kira selama satu jam saya berjalan-jalan mengunjungi peternak-peternak sapi sekaligus melihat gubuk-gubuk sapi mereka. Lumayanlah sebagai refreshing. Berada di tempat  berbeda, dengan alam pedesaan dan rerumputan yang menghijau, tentu ditambah bau khas sapi.

@@@


Jumat, 29 Desember 2023

Naik Kereta Api Tut… Tut… Tut…

                                                                                             

kereta api siap berangkat

Naik kereta api tut… tut… tut… siapa hendak turut ke Ambarawa-Tuntang. Begitulah yang ada di benak saya begitu menaiki kereta api khusus ini. Menirukan lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak. Berhubung tidak ke Bandung-Surabaya, syairnya pun disesuaikan. Yah, kereta api ini tidak sembarang kereta api. Akan tetapi, kereta api yang memiliki sejarah perkeretaapian Indonesia bahkan dunia.

                                                                   

pintu gerbang Museum Kereta Api Ambarawa 
Roda kereta api ini bergerigi, satu di antara tiga yang masih tersisa di dunia. Kereta api tersebut berada di Museum Kereta Api Ambarawa. Dua lainnya ada di Swis dan India. Apabila teman-teman ingin berkunjung ke sana, dari arah Semarang naik bus Trans Jateng. Ogkosnya murah, hanya Rp4.000,00 sampai di Terminal Bawen. Dari Terminal Bawen naik angkot menuju ke Palagan dengan membayar Rp5.000,00. Jika menemui sopir yang baik hati, teman-teman langsung diantar ke depan museum. Yah.. untuk mengimbali jasa baiknya, bolehlah tarip ditambah. Tapi untuk tujuan berwisata, jika terpaksa jalan kaki kira-kira setengah kilometer dari Palagan-museum, dibikin asyik saja, sambil melihat-lihat suasana Ambarawa.

Oya, halte bus Trans Jateng di Semarang biasanya menyatu dengan halte bus Trans Semarang. Tapi ada juga yang terpisah. Teman-teman bisa menanyakan kepada petugas-petugas yang ramah di halte tersebut. Sebab bus Trans Jateng warnanya juga merah seperti bus Trans Semarang. 

                                                                            

loket kereta zaman dulu

Antrean pengunjung sudah panjang saat saya tiba. Saya sampai di museum pukul 07.30, setengah jam lebih awal dari jam buka, pukul 08.00. Saya pikir saya datang awal. Ternyata antrean sudah sampai di pembatas pagar antara pintu masuk dengan parkir. Dan begitulah seterusnya pengunjung berikutnya mengantre hingga ke tempat parkir. Itu berarti saya harus berdiri setidaknya setengah jam. Itu pun tidak mendapatkan tiket gelombang pertama, setelah saya menyodorkan tanda pengenal dan uang masuk museum dan naik kereta api di loket.

Kereta api yang dibuat pada tahun 1907 ini beroperasi hanya pada hari Sabtu, Minggu, dan hari besar. Ada empat gelombang saat beroperasi, yaitu pukul 09.30, 11.00, 13.00, dan 14.30. Tersedia 116 kuota setiap gelombang, terbagi dalam tiga gerbong, A, B, C. Ongkos naik kereta api Rp100.000,00 ditambah masuk museum Rp20.000,00.

Sambil menunggu keberangkatan kereta, teman-teman bisa berjalan-jalan ke museum mengikuti sejarah perkeretaapian di Indonesia. Begitu masuk museum, ada sebuah lorong berisi gambar-gambar sejarah kereta api dan stasiun-stasiun yang ada di Indonesia. Kapan kereta api tersebut diciptakan dan pada pemerintahan siapa. Begitupun stasiun-stasiun kereta api, apakah masih difungsikan ataukah tidak. Tentu jika masih difungsikan hingga sekarang, diperlihatkan bangunan asli dan yang sudah direnovasi.

                                                                                 

lorong gambar-gambar sejarah kereta api Indonesia

Di tempat lain, terdapat beberapa halte kereta yang dulu digunakan oleh pemerintah Belanda. Sekarang masih dilestarikan. Barangkali untuk menghormati bangsa Belanda yang pernah memberi sejarah perkerataapian di Indonesia, dibuka stan khusus menyediakan pakaian etnik Belanda dengan sewa Rp30.000,00 per baju. Ada pula latar belakang kincir angin-sebagai ciri khas Belanda-bagi yang ingin swafoto. Bangunan lain adalah ruang audiovisual. Melalui layar lebar, pengunjung dapat melihat perkeretaapian di Indonesia masa kini dengan fasilitas seperti berada di hotel, tentu dengan harga yang sesuai.

Sebagai tempat wisata yang didatangi banyak pengunjung, tersedia kamar mandi dan tempat beribadah yang cukup bersih dan representatif. Hanya menurut saya, kulinernya kurang memadai. Pengunjung museum kereta api tidak hanya dari sekitar Jawa Tengah, tetapi juga dari jauh: Jakarta, Bandung, bahkan dari luar Jawa. Setidaknya itu yang saya temui. Perlu dibuka restoran-restoran berkelas nasional. Saya sempat mendengar pengunjung dari jauh harus ke Semarang untuk makan siang, menemukan restoran seperti KFC.

                                                                               

gerbong kereta api

Tak terasa berjalan-jalan seputar museum, panggilan bagi penumpang gelombang dua mengudara dari pelantang suara. Saya pun bergegas naik kereta kemudian mencari nomor kursi sesuai tiket. Setengah jam berikutnya, tepat pukul 11.00 terdengar bunyi peluit panjang, tanda kereta mulai berangkat. Seru sih naik kereta api zaman dulu. Jendela tidak lagi fungsi, jadi kalau hujan harus bersiap terkena tempias. Untung waktu itu langit terang benderang. Suara kereta berisik, sesekali terjadi sendatan-sendatan. Sepanjang perjalanan, ada Pak Pemandu yang menjelaskan sejarah kereta api tersebut. Sambil sesekali bicara lucu, nyentil penumpang mengapa jauh-jauh mau naik kereta api yang suaranya bikin gaduh. Kami pun terkekeh.

                                                                               

swafoto bersama Pak Pemandu

Setengah jam berlalu tibalah kami di Stasiun Tuntang. Para penumpang diizinkan turun untuk melihat-lihat dan swafoto. Selama jeda waktu, lokomotif yang mulanya di belakang karena saya duduk bertolak belakang, saat pulang lokomotif berpindah ke depan. Maka Ketika kereta kembali melaju, kereta pun maju. Hingga kembali berada di museum. Dan keseruan ini harus berakhir. Rasanya masih kurang puas satu jam berada di kereta api kuno walaupun penuh suara gaduh.

@@@



 

 



     



Kamis, 14 Desember 2023

Apakah Tangisku Juga Tangismu?

                                                                                       

Apa yang ada di benakmu jika setelah melalui serangkaian proses panjang hingga tampil sempurna, kau berpikir menjadi sangat berguna bagi yang lain, kemudian ternyata kau hanyalah sampah yang menjijikkan?

Yah, aku tak lagi tampil sempurna. Jauh dari sempurna. Tubuhku gatal-gatal tak karuan. Di sana sini mulai terdapat lubang. Bauku pasti menyeruak tak menyenangkan hidung begitu bungkus yang menyelimutiku terbuka. Siapa pun tak menyangka hal ini  terjadi, terlebih diriku sendiri. Bagaimana nanti reaksi sahabat Lala, Anin, begitu melihatku.

Kupikir akulah yang paling beruntung, saat tahu akhir tak selalu sisa dan tak berguna. Akhir menjadi amat berharga jika diburu sementara yang lain tak ada. Bahkan dengan harga tinggi bisa terjadi. Itulah yang terjadi padaku. Walaupun awalnya perasaanku biasa saja. Tak apalah menempati saf paling bawah. Siapa yang menyia-nyiakan sesuatu menjadi makanan khas─ cepat atau lambat pastilah aku akan beralih ke tangan orang, bahkan orang yang tepat. Berbeda bila keberadaanku di kota ini sebagai alternatif.

 Hari itu, tak sampai satu hari, dagangan Supri ludes hanya dalam tempo setengah hari. Jarang hal itu terjadi. Hari besar, akhir pekan, atau pada musim liburan sekalipun. Dua dunak─salah satu tempatku berada─dagangannya, diburu pembeli. Hilir mudik orang-orang datang memborong. Mereka datang bak membeli pisang goreng. Mendapatkan barangnya sudah untung. Padahal dua dunak biasanya dua-tiga hari baru habis.

Benar-benar Jumat berkah bagi Supri. Dan aku menjadi yang terakhir sekaligus diperebutkan dua pembeli. Serasa menjadi primadona. Jika Supri mematok hargaku tinggi dari biasanya pastilah pembeli itu tetap akan membayarnya. Tapi begitulah Supri yang menjaga keorisinalitas rasa maupun harga, tetap memasang harga sebenarnya.

“Pak, saya tadi pesan duluan,” ungkap seorang gadis penuh nafsu, kutahu setelahnya bernama Lala. Ada seorang wanita kemudian yang juga mengharapkanku.

Supri meletakkanku ke dalam kardus lebih lebar sedikit dari seukuranku dengan bagian atas plastik bening sehingga kemolekanku semakin menggoda.

“Saya perlu satu buah saja, Pak. Siapa tahu di dalam masih ada!” perintah wanita itu sambil melongok ke dunak yang telah kosong. Walau yakin tidak ada barang dagangannya, Supri tetap melakukan pencarian demi memuaskan pembelinya.

“Maaf, Bu, memang tinggal satu, sudah diambil Mbak ini,” Supri meyakinkan.

“Ini titipan, dia minta saya membeli di sini. Kalau Mbak mengijinkan saya akan bayar berapa pun Mbak minta. Saya yakin teman saya itu pasti tidak keberatan,” bujuk wanita itu memohon.

“Maaf, Bu, ini juga titipan teman,” tanpa berpikir panjang Lala membayar kemudian pergi.

Itu percakapan syahdu yang pernah kudengar. Aku diperebutkan dua orang dan Lala yang memenangi. Kubayangkan wanita itu pergi dengan rasa kecewa sementara Supri menutup kedainya untuk segera mengerjakan salat Jumat.

Kedainya tak berada di pusat oleh-oleh layaknya makanan oleh-oleh dijajakan. Sebuah pikap diubah sedemikian rupa hingga menjadi kedai tempatnya berjualan. Samping kanan dan kiri, juga depan dipasang papan promosi. Sementara bagian belakang tempatnya bertransaksi dengan pembeli. Warisan  orangtuanya itu cukup dikenal dan membawa berkah. Orang-orang berdatangan atas merek yang dibuat bapaknya saat masih berjualan dengan ketenaran rasa yang tiada banding. Pikapnya selalu terparkir di pinggir jalan di tempat yang sama untuk memudahkan pelanggan dan pembeli lain membeli.

Ditambah kebaikan orang-orang sekitar yang ikut mempromosikan, terlebih saat ia sedang pergi ke masjid. Ada saja tukang becak atau sopir angkutan yang dengan kerelaan hati menerima titipan satu mobilnya berisi dagangan, tentu saja tidak siang itu karena dagangannya habis. Bahkan dengan kerelaan hati, mau menghibur calon pembeli agar bersabar menunggu karena pemiliknya sedang salat di masjid.

Aku dan teman-temanku diproses dari mulai benih yang ditabur oleh pemilik tambak. Setiap hari diberinya kami makan. Waktu mengubah kami menjadi dewasa. Kemudian di tangan Supri akhirnya kami dibeli dan diolah hingga tampil sempurna, dan kau dengar sendiri: diperebutkan oleh seorang gadis dan seorang ibu. Yah, di tangan Suprilah aku menjadi sempurna. Kami diberi warna kuning, tentu lebih menarik dibanding putih, warna asli. Ditambah dengan sejumlah bumbu tertentu yang membut nilai jual kami menjadi tinggi dan disuka seantero kota. Bahkan pembeli dari luar juga telah mengenal jualan Supri.

Ya Tuhan, Lala yang semula memperebutkanku dengan pembeli lain, kupikir akulah satu-satunya barang bawaan. Ternyata ada barang berharga lain.

“Aku akan memberikan novel-novel ini kepada Anin. Dia kan juga senang membaca novel. Mumpung bulan bahasa. Banyak diskon!” ungkapnya penuh semangat lalu melangkah keluar dari toko buku. Lala tidak langsung pulang. Dia masih menambah aneka kripik dan roti kesukaannya.

Sepanjang perjalanan dari Semarang, Lala menyimpanku ke dalam kardus mi instan bersama oleh-oleh lain. Kecuali novel-novel itu, disimpannya di tas pribadi. Aku bisa tebak, pasti selama di kendaraan perhatiannya pada bacaan novel. Saat tiba di rumah dia meletakkan begitu saja kardus itu di meja. Seorang diri dia meninggali rumah orangtuanya yang dulu pernah hidup bersama saat papanya masih berdinas.

Senja dia baru pulang dari kantor. Penampilannya tak lepas dari  masker. Musim panas mengganas; kondisi udara buruk. Sementara keberadaan AC di rumah sebetulnya tak baik bagi paru-parunya. Ah serba salah. Untuk itulah ia seringkali memakai masker untuk menutupi hidung sehingga bernapas agak hangat. Saat tidur sekalipun. Kecuali ketika makan.

Kesibukan membaca novel menyita waktunya sepulang bekerja. Sambil membaca dia ngemil makanan dari bungkusan paling atas, begitu seterusnya ke bawah. Di rumah orangtuanya tanpa ada pembantu. Dia lebih senang bekerja sama dengan beberapa jasa rumah tangga yang tak tinggal di rumahnya. Laundry, tukang bersih-bersih rumah, katering, kecuali berada di kantor dia makan di luar. Tempatku tak berubah, tetap berada paling bawah dengan simpul plastik yang masih rapat dari sejak aku ditukar dengan sejumlah uang di tempat Supri.

Hingga suatu ketika keberadaanku terlihat saat camilan di bungkusan atas sudah habis dan mencari-cari camilan berikutnya. Tangannya meraih kardus pembungkusku.

“Oh, Tuhan, bukankah tidak hanya novel-novel. Aku juga akan memberi Anin makanan?” katanya kaget tentang teman sekantornya yang sengaja dijanjikan makanan khas. “Kamu sih, Nin, buru-buru ambil cuti. Mentang-mentang kelahiran anak pertama.”

Buru-buru dibungkusnya aku dengan kertas koran lalu meraih kertas kado yang biasa untuk membungkus bingkisan,  berhasrat mengirimkanku melalui jasa paket keesokan hari sekalian berangkat bekerja. Begitu pun novel-novel siap dikirim.

Tak seperti Lala yang penuh bahagia, dia tak melihat keberadaanku yang mulai terasa gatal-gatal. Tapi apa dayaku. Aku hanya bisa menerima nasib. Manusia yang penuh ketamaan itu dengan seenaknya memperlakukanku.

Sampai berhari-hari aku berada pada jasa paket.

Akhirnya aku sampai di rumah Anin. Anin menerimaku dari kurir. Dia senang mendapatkan makanan yang dijanjikan. Temannya itu mengirim makanan yang menjadi ciri khas tanah kelahirannya, Semarang.

Anin segera membuka. Raut wajahnya menampakkan curiga. Hidungnya kembang kempis. Tapi apa yang terjadi saat Anin bersuka cita membuka bungkus yang melindungiku? Anin hanya memandangku tak mengerti, tak berbuat apapun, dia terkaget-kaget. Untunglah dia bukan penjijik. Setelah itu lebih banyak terpekur. Mungkin dia mengasihani aku yang susah-susah dibeli tetapi tidak lagi berguna. Apa yang telah dilakukan temannya sungguh terlalu. Barangkali itu yang ada dalam benaknya. Dengan berat hati dia membawaku yang masih dalam bungkus menuju ke tempat sampah. Lalu...

Bruk!

“Sungguh keterlaluan, Lala. Memberiku bandeng presto penuh belatung. Jadi ini yang dia maksud makanan khas?” umpatnya “Untung Lala juga memberiku novel,” tambahnya dengan tangan kanan membawa novel yang sedang dibaca. Lalu segera berlalu dari tong sampah

Aku menangis dengan tubuh penuh lubang di sana sini. Apakah tangisku juga tangismu?

@@@

Catatan: Dunak: bakul besar terbuat dari anyaman bambu.

Cerpen ini memenangi Lomba Menulis Cerpen Dalam Rangka Memperingati Bulan Bahasa Tingkat Kota Semarang 2023 oleh MGMP Bahasa Indonesia SMP, tema: “Semangat Pemuda dalam Bulan Bahasa”, sebagai juara 1.