Iis Soekandar: Sesaat Bersama Kelompok Ternak Sapi

Sabtu, 30 Desember 2023

Sesaat Bersama Kelompok Ternak Sapi

                                                                                       

pintu gerbang lokasi ternak sapi perah

Ngooogh… ngoooogh… ngoooogh… begitu sambutan suara ketika saya memasuki arena peternakan sapi. Seakan menyatakan ucapakan selamat datang.

Sering minum susu sapi menggelitik saya mendatangi peternaknya. Kebetulan mendapat info ada kelompok ternak sapi perah di Semarang. Meski letaknya jauh dari pusat kota. Lokasinya dapat dijangkau dengan menaiki bus Trans Semarang yang daerah operasionalnya hingga ke pelosok-pelosok kota. Mumpung liburan, saya berkunjung ke sana.

Dari pusat kota menaiki bus Trans Semarang jurusan Ungaran, turun Terminal Sisemut, dengan ongkos Rp4.000,00 jauh dekat. Kira-kira membutuhkan waktu satu jam. Setelah sampai di terminal naik angkutan isuzu menuju arah Gunung Pati dengan membayar ongkos Rp3.000,00. Penduduk setempat mengetahui letak pusat ternak sapi perah, termasuk sopir angkot. Peternak-peternak sapi itu tergabung dalam satu kelompok. Mereka berada di satu perkampungan. Jadi, saya tinggal mengatakan kepada sopir agar diturunkan di pusat sapi perah. Seperempat jam kemudian sampailah di daerah menuju tempat tujuan.

Dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra berjalan kaki kira-kira setengah kilometer menuju arena. Apalagi jalannya naik turun. Yah, sekalian berolah raga jalan sehat, menghirup udara pagi sambil menikmati hangatnya sinar matahari. Suasananya lengang begitu saya melewati pintu gerbang. Sesekali melintas kendaraan roda dua. Mereka pengunjung yang membeli susu sapi. Ternyata saya datang kesiangan. Seorang peternak yang saya datangi, jualannya hanya tersisa lima kantung plastik berisi satu liter setiap kantungnya. Syukurlah, saya masih kebagian. Seliter seharga Rp10.000,00. Di samping lebih murah, yang pasti rasanya masih asli. Dibanding susu sapi yang saya beli di lingkungan tempat tinggal. Pembeli di sini tidak hanya perorangan, tetapi juga penjual-penjual susu sapi dari pusat kota. Mereka mengambil pesanan pagi buta.

Sambil beristirahat kami berbincang-bincang seputar ternak sapi perah. Sapi-sapi tersebut diperah susunya dua kali sehari, pagi dan sore. Menghasilkan susu sapi sepuluh liter atau lebih per hari. Yang diperah tidak sembarang sapi, melainkan sapi berjenis kelamin perempuan dan sudah pernah melahirkan. Walupun perempuan dan sudah tua, kalau belum pernah melahirkan, sapi tersebut belum bisa menghasilkan susu. Demikian penjelasan peternak sapi.

Sebagaimana manusia yang sedang menyusui, sapi-sapi perah harus diambil susunya dua kali sehari. Jika tidak, atau terlewat, demikian pengalaman pernah terjadi, susu sapi akan mengeras akibatnya tidak menghasilkan susu. Maka untuk sementara harus dinormalkan dengan diurut hingga kembali mengeluarkan susu.

Sapi perah membutuhkan perawatan khusus agar mendapatkan kualitas susu yang baik. Makanannya tidak hanya rumput. Harus ditambah dengan sisa-sisa singkong: bonggol singkong dan kulit singkong. Mereka memesan dari perusahaan yang memproduksi camilan dari olahan singkong, seperti keripilk. Juga ampas tahu yang biasa mereka sebut gembor.

Agar terjaga kebersihan hasil susunya, sebelum diperah sapi-sapi tersebut dimandikan terlebih dahulu. Tempatnya juga harus bersih dari semua kotoran. Dengan demikian, sebagaimana manusia, mereka mandi dua kali sehari, pagi dan sore. Saya sempat menanyakan apakah juga diberi sabun? Wah habis berapa sabun untuk sapi sebesar itu, tanggap peternak tersebut. Saya pun terkekeh. Memandikan sapi cukup disikat semua permukaan tubuhnya kemudian dibilas dengan air mengalir. Setelah mandi sapi diberi makan. Tujuannya ketika diperah mereka tenang dan tidak membuat banyak gerak. Barulah ketika semua persyaratan terpenuhi, sapi siap diperah.

Kira kira selama satu jam saya berjalan-jalan mengunjungi peternak-peternak sapi sekaligus melihat gubuk-gubuk sapi mereka. Lumayanlah sebagai refreshing. Berada di tempat  berbeda, dengan alam pedesaan dan rerumputan yang menghijau, tentu ditambah bau khas sapi.

@@@


Tidak ada komentar:

Posting Komentar