Iis Soekandar: Apakah Tangisku Juga Tangismu?

Rabu, 13 Desember 2023

Apakah Tangisku Juga Tangismu?

                                                                                       

Apa yang ada di benakmu jika setelah melalui serangkaian proses panjang hingga tampil sempurna, kau berpikir menjadi sangat berguna bagi yang lain, kemudian ternyata kau hanyalah sampah yang menjijikkan?

Yah, aku tak lagi tampil sempurna. Jauh dari sempurna. Tubuhku gatal-gatal tak karuan. Di sana sini mulai terdapat lubang. Bauku pasti menyeruak tak menyenangkan hidung begitu bungkus yang menyelimutiku terbuka. Siapa pun tak menyangka hal ini  terjadi, terlebih diriku sendiri. Bagaimana nanti reaksi sahabat Lala, Anin, begitu melihatku.

Kupikir akulah yang paling beruntung, saat tahu akhir tak selalu sisa dan tak berguna. Akhir menjadi amat berharga jika diburu sementara yang lain tak ada. Bahkan dengan harga tinggi bisa terjadi. Itulah yang terjadi padaku. Walaupun awalnya perasaanku biasa saja. Tak apalah menempati saf paling bawah. Siapa yang menyia-nyiakan sesuatu menjadi makanan khas─ cepat atau lambat pastilah aku akan beralih ke tangan orang, bahkan orang yang tepat. Berbeda bila keberadaanku di kota ini sebagai alternatif.

 Hari itu, tak sampai satu hari, dagangan Supri ludes hanya dalam tempo setengah hari. Jarang hal itu terjadi. Hari besar, akhir pekan, atau pada musim liburan sekalipun. Dua dunak─salah satu tempatku berada─dagangannya, diburu pembeli. Hilir mudik orang-orang datang memborong. Mereka datang bak membeli pisang goreng. Mendapatkan barangnya sudah untung. Padahal dua dunak biasanya dua-tiga hari baru habis.

Benar-benar Jumat berkah bagi Supri. Dan aku menjadi yang terakhir sekaligus diperebutkan dua pembeli. Serasa menjadi primadona. Jika Supri mematok hargaku tinggi dari biasanya pastilah pembeli itu tetap akan membayarnya. Tapi begitulah Supri yang menjaga keorisinalitas rasa maupun harga, tetap memasang harga sebenarnya.

“Pak, saya tadi pesan duluan,” ungkap seorang gadis penuh nafsu, kutahu setelahnya bernama Lala. Ada seorang wanita kemudian yang juga mengharapkanku.

Supri meletakkanku ke dalam kardus lebih lebar sedikit dari seukuranku dengan bagian atas plastik bening sehingga kemolekanku semakin menggoda.

“Saya perlu satu buah saja, Pak. Siapa tahu di dalam masih ada!” perintah wanita itu sambil melongok ke dunak yang telah kosong. Walau yakin tidak ada barang dagangannya, Supri tetap melakukan pencarian demi memuaskan pembelinya.

“Maaf, Bu, memang tinggal satu, sudah diambil Mbak ini,” Supri meyakinkan.

“Ini titipan, dia minta saya membeli di sini. Kalau Mbak mengijinkan saya akan bayar berapa pun Mbak minta. Saya yakin teman saya itu pasti tidak keberatan,” bujuk wanita itu memohon.

“Maaf, Bu, ini juga titipan teman,” tanpa berpikir panjang Lala membayar kemudian pergi.

Itu percakapan syahdu yang pernah kudengar. Aku diperebutkan dua orang dan Lala yang memenangi. Kubayangkan wanita itu pergi dengan rasa kecewa sementara Supri menutup kedainya untuk segera mengerjakan salat Jumat.

Kedainya tak berada di pusat oleh-oleh layaknya makanan oleh-oleh dijajakan. Sebuah pikap diubah sedemikian rupa hingga menjadi kedai tempatnya berjualan. Samping kanan dan kiri, juga depan dipasang papan promosi. Sementara bagian belakang tempatnya bertransaksi dengan pembeli. Warisan  orangtuanya itu cukup dikenal dan membawa berkah. Orang-orang berdatangan atas merek yang dibuat bapaknya saat masih berjualan dengan ketenaran rasa yang tiada banding. Pikapnya selalu terparkir di pinggir jalan di tempat yang sama untuk memudahkan pelanggan dan pembeli lain membeli.

Ditambah kebaikan orang-orang sekitar yang ikut mempromosikan, terlebih saat ia sedang pergi ke masjid. Ada saja tukang becak atau sopir angkutan yang dengan kerelaan hati menerima titipan satu mobilnya berisi dagangan, tentu saja tidak siang itu karena dagangannya habis. Bahkan dengan kerelaan hati, mau menghibur calon pembeli agar bersabar menunggu karena pemiliknya sedang salat di masjid.

Aku dan teman-temanku diproses dari mulai benih yang ditabur oleh pemilik tambak. Setiap hari diberinya kami makan. Waktu mengubah kami menjadi dewasa. Kemudian di tangan Supri akhirnya kami dibeli dan diolah hingga tampil sempurna, dan kau dengar sendiri: diperebutkan oleh seorang gadis dan seorang ibu. Yah, di tangan Suprilah aku menjadi sempurna. Kami diberi warna kuning, tentu lebih menarik dibanding putih, warna asli. Ditambah dengan sejumlah bumbu tertentu yang membut nilai jual kami menjadi tinggi dan disuka seantero kota. Bahkan pembeli dari luar juga telah mengenal jualan Supri.

Ya Tuhan, Lala yang semula memperebutkanku dengan pembeli lain, kupikir akulah satu-satunya barang bawaan. Ternyata ada barang berharga lain.

“Aku akan memberikan novel-novel ini kepada Anin. Dia kan juga senang membaca novel. Mumpung bulan bahasa. Banyak diskon!” ungkapnya penuh semangat lalu melangkah keluar dari toko buku. Lala tidak langsung pulang. Dia masih menambah aneka kripik dan roti kesukaannya.

Sepanjang perjalanan dari Semarang, Lala menyimpanku ke dalam kardus mi instan bersama oleh-oleh lain. Kecuali novel-novel itu, disimpannya di tas pribadi. Aku bisa tebak, pasti selama di kendaraan perhatiannya pada bacaan novel. Saat tiba di rumah dia meletakkan begitu saja kardus itu di meja. Seorang diri dia meninggali rumah orangtuanya yang dulu pernah hidup bersama saat papanya masih berdinas.

Senja dia baru pulang dari kantor. Penampilannya tak lepas dari  masker. Musim panas mengganas; kondisi udara buruk. Sementara keberadaan AC di rumah sebetulnya tak baik bagi paru-parunya. Ah serba salah. Untuk itulah ia seringkali memakai masker untuk menutupi hidung sehingga bernapas agak hangat. Saat tidur sekalipun. Kecuali ketika makan.

Kesibukan membaca novel menyita waktunya sepulang bekerja. Sambil membaca dia ngemil makanan dari bungkusan paling atas, begitu seterusnya ke bawah. Di rumah orangtuanya tanpa ada pembantu. Dia lebih senang bekerja sama dengan beberapa jasa rumah tangga yang tak tinggal di rumahnya. Laundry, tukang bersih-bersih rumah, katering, kecuali berada di kantor dia makan di luar. Tempatku tak berubah, tetap berada paling bawah dengan simpul plastik yang masih rapat dari sejak aku ditukar dengan sejumlah uang di tempat Supri.

Hingga suatu ketika keberadaanku terlihat saat camilan di bungkusan atas sudah habis dan mencari-cari camilan berikutnya. Tangannya meraih kardus pembungkusku.

“Oh, Tuhan, bukankah tidak hanya novel-novel. Aku juga akan memberi Anin makanan?” katanya kaget tentang teman sekantornya yang sengaja dijanjikan makanan khas. “Kamu sih, Nin, buru-buru ambil cuti. Mentang-mentang kelahiran anak pertama.”

Buru-buru dibungkusnya aku dengan kertas koran lalu meraih kertas kado yang biasa untuk membungkus bingkisan,  berhasrat mengirimkanku melalui jasa paket keesokan hari sekalian berangkat bekerja. Begitu pun novel-novel siap dikirim.

Tak seperti Lala yang penuh bahagia, dia tak melihat keberadaanku yang mulai terasa gatal-gatal. Tapi apa dayaku. Aku hanya bisa menerima nasib. Manusia yang penuh ketamaan itu dengan seenaknya memperlakukanku.

Sampai berhari-hari aku berada pada jasa paket.

Akhirnya aku sampai di rumah Anin. Anin menerimaku dari kurir. Dia senang mendapatkan makanan yang dijanjikan. Temannya itu mengirim makanan yang menjadi ciri khas tanah kelahirannya, Semarang.

Anin segera membuka. Raut wajahnya menampakkan curiga. Hidungnya kembang kempis. Tapi apa yang terjadi saat Anin bersuka cita membuka bungkus yang melindungiku? Anin hanya memandangku tak mengerti, tak berbuat apapun, dia terkaget-kaget. Untunglah dia bukan penjijik. Setelah itu lebih banyak terpekur. Mungkin dia mengasihani aku yang susah-susah dibeli tetapi tidak lagi berguna. Apa yang telah dilakukan temannya sungguh terlalu. Barangkali itu yang ada dalam benaknya. Dengan berat hati dia membawaku yang masih dalam bungkus menuju ke tempat sampah. Lalu...

Bruk!

“Sungguh keterlaluan, Lala. Memberiku bandeng presto penuh belatung. Jadi ini yang dia maksud makanan khas?” umpatnya “Untung Lala juga memberiku novel,” tambahnya dengan tangan kanan membawa novel yang sedang dibaca. Lalu segera berlalu dari tong sampah

Aku menangis dengan tubuh penuh lubang di sana sini. Apakah tangisku juga tangismu?

@@@

Catatan: Dunak: bakul besar terbuat dari anyaman bambu.

Cerpen ini memenangi Lomba Menulis Cerpen Dalam Rangka Memperingati Bulan Bahasa Tingkat Kota Semarang 2023 oleh MGMP Bahasa Indonesia SMP, tema: “Semangat Pemuda dalam Bulan Bahasa”, sebagai juara 1.

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar