Iis Soekandar: Cerita di Balik Cerita
Tampilkan postingan dengan label Cerita di Balik Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita di Balik Cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Desember 2025

Penantian Suroso

                                                                                         

           Bosan. Itu keadaan saya alami suatu ketika. Selama ini saya menulis cerpen-cerpen kontemporer. Ide-ide timbul dari pengalaman sendiri, atau mendengar cerita-cerita orang lain. Bosan menggerakkan pikiran saya untuk mencari sesuatu lain, keluar dari lingkaran yang selama ini melingkari, melihat dunia baru, dan berharap memperluas model karya.

            Seperti biasa, membaca adalah kebutuhan sehari-hari saya, dan hari Minggu saatnya membaca koran cetak. Saya membaca karya atau cerpen berbeda. Kali ini berlatar belakang sejarah. Saya mendapat wawasan baru, menjadi bersemangat, dan menantang pada diri saya, mengapa saya tidak menulis cerpen berlatar belakang sejarah. Sesuatu yang belum pernah saya kerjakan.

            Untuk mempermudah dan mendedikasikan cinta tanah kelahiran, saya akan menulis cerpen berlatar belakang sejarah Kota Semarang.

            Saya pergi ke Perpusda (Perpustakaan Daerah) Jawa Tengah. Saya naik ke lantai dua, tempat biasa saya meminjam buku. Saya bertanya kepada petugas, di mana saya bisa menemukan buku-buku tentang sejarah Kota Semarang. Petugas meminta saya turun. Di lantai satu, bagian referensi, di sana saya akan menemukan buku tentang sejarah Kota Semarang. Di bagian referensi, saya bertanya kepada petugas di mana saya bisa menemukan buku-buku sejarah Kota Semarang. Petugas menunjuki rak paling depan. Saya menemukan buku yang saya cari.

Ternyata buku-buku di bagian referensi tidak boleh dibawa pulang. Saya diminta memfotokopi bagian-bagian penting. Nahas, petugas fotokopi Perpusda absen, kabarnya karena sakit. Salah satu petugas perpustakaan baik hati. Ia memberikan kunci motornya dan menyuruh petugas parkir mengantar saya di jasa fotokopi terdekat. Meski tidak dekat, karena kami harus pergi ke wilayah Undip, di sana banyak jasa fotokopi. Jalan Sriwijaya, tempat Perpusda berdiri, adalah kawasan perkantoran dan toko-toko.

                                                                          

      Cerpen ini menceritakan tentang seorang anak yang menginginkan kebebasan. Sehingga ia bersekolah dengan tenang. Ia bersekolah di Jalan Bojong, sekarang Jalan Pemuda, hingga kini sekolah itu masih ada: SMA Negeri 3.

Waktu itu penjajah Jepang masih bercokol di Indonesia, jelang Indonesia merdeka. Para Guinseikan (petinggi Jepang) sering mengitari Jalan Bojong, tempat kantor berita Domei berada, untuk memantau berita-berita penting dari jakarta.

            Alhamdulillah cerita itu berjodoh, di buku Antologi Cerpen Suara Perempuan yang diadakan oleh Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, setelah melalui penyesuaian, sesuai tema.

            Selamat membaca bagi teman-teman yang mendapatkan bukunya, semoga bermanfaat dan menghibur.

@@@


Rabu, 05 Agustus 2020

Mengenang “Kematian yang Direncana”



       Salah satu tugas guru selain kegiatan utama, mengajar, di antaranya menjadi wali kelas. Tetapi tidak setiap guru berkesempatan menjadi wali kelas. Tergantung situasi dan kondisi, kemampuan guru, jumlah guru, dan hal-hal lain. Karena setiap sekolah mempunyai kondisi yang berbeda.

Menjadi wali kelas berarti menjadi orangtua sebagaimana siswa di rumah. Jadi bisa dibayangkan menjadi orangtua bagi peserta didik sebanyak satu kelas. Jumlahnya puluhan. Sementara mendidik anak kandung hanya satu-dua orang.

            Jika menemui orangtua yang kooperatif, kerja sama antara kedua belah pihak, guru dengan orangtua, menjadi mudah. Permasalahan peserta didik pun mudah terselesaikan. Tetapi kenyataanya, tidak semua orangtua peduli permasalahan anaknya sendiri. Terutama bagi keluarga ekonomi bawah. Alih-alih ikut menyelesaiakan masalah, orangtua ikut menyumbang masalah. Ada juga yang nyata-nyata melempar masalah ke sekolah, lepas tanggung  jawab. Alhasil wali kelas dan guru BK menjadi tumpuan masalah.

            Mungkin teman-teman pernah mengalami seperti yang saya alami.   Namun saya berusaha menanggapi positif setiap hal. Termasuk jika saya ditunjuk menjadi wali kelas, dengan segala suka dukanya. Di antaranya jika menemui keluarga yang bermasalah tadi. Setiap permasalahan selalu menarik untuk dibuat cerita. Dari sudut pandang mana pun. Cerita anak, cerita remaja, cerita dewasa, juga artikel. Pengalaman itu saya tulis. Maka jadilah cerpen “Kematian yang Direncana”.

            Salah satu unsur ekstrinsik(di luar karya) cerpen adalah latar belakang pengarang. Begitu pun dalam cerpen “Kematian yang Direncana”. Cerpen ini bertutur tentang seorang guru saat menghadapi orangtua yang keras kepala dan kasar. Hingga ketakutannya berlebihan. Mungkin karena ia seorang wanita sementara yang dihadapi orangtua lelaki. Hal lain didasarkan pada pengalamannya yang pernah menghadapi orangtua tersebut, dulu saat anaknya sebagai peserta didik baru. Waktu itu tidak segan membawa benda tajam untuk menyelesaikan masalah. Tentu menjadi hal tabu dalam dunia pendidikan yang sarat muatan pendidikan karakter. 

            Bagaimana mungkin ada kekerasan ditambah dengan adanya benda tajam. Dalam menghadapi peserta didik, siapa pun orang-orang di sekitarnya, selayaknya memiliki sikap mandiri, gotong royong, nasionalis, relegius, dan sikap-sikap terpuji lain.  

                                                                             

Nyaris terlupa bahwa saya pernah menulis cerpen ini. Saya menulisnya beberapa tahun lalu. Kemudiaan saya ajukan saat mengikuti Pelatihan Menulis Cerpen 2019 oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Tentu setelah mengalami perubahan di sana sini menyesuaikan perkembangan zaman. Pelatihan berlangsung selama satu bulan. Setiap peserta diwajibkan mengumpulkan satu karya pada akhir pelatihan.

Realisasi penerbitan menjadi buku antologi membutuhkan proses lama. Kira-kira satu tahun. Kami harus menunggu semua karya terkumpul kemudian dicetak. Mungkin karena kesibukan masing-masing setelah pelatihan selesai. Sementara setiap karya yang diajukan harus melewati revisi mentor. Belum lagi mengirim ulang hasil revisi. Panitia harus mengumpulkan hasil karya semua peserta sebanyak 42 orang. Salah satu judul cerpen peserta dipilih menjadi judul buku antologi, Bunga Memerah Kumbang Menari.

            Senang dapat berkontribusi dengan teman-teman yang pernah belajar bersama menulis cerpen. Ternyata persahabatan kami tidak hanya selama mengikuti pelatihan. Sampai sekarang kami masih bersilaturahmi. Karena situasi dan kondisi tentu tidak bisa lagi bertatap muka. Apalagi peserta tidak hanya dari Semarang. Banyak juga yang dari luar kota. Satu sisi maraknya medsos membuat jarak dan waktu tak terhalangi. Kami saling memberi semangat, informasi, atau sekadar berkirim kabar melalui grup Whats App. Dan berharap persahabatan ini berlangsung selamanya.

            Menulis adalah sebuah proses. Zaman terus berkembang. Dengan menjadi insan yang terbuka, selalu menambah ilmu, sangat berguna untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang bernas, bermanfaat, sekaligus menghibur bagi siapa pun yang membaca. Dengan menulis dapat pula ikut mencerdaskan bangsa.

Yuk, menulis!

@@@


Selasa, 17 Desember 2019

Warak, Antara Ikon dan Lelakon

                                                                                       

             Sebetulnya saya tidak sengaja menulis pengalaman ini untuk dikutsertakan ke dalam lomba. Karena saya sudah menulis dua karya lain dalam Lomba Menulis Esai bagi Guru Jawa Tengah 2019 yang diadakan oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Tetapi karena keresahan selalu nyesek bila tidak ditulis, akhirnya saya tulis pengalaman ini. Biasanya saya menuangkannya ke dalam cerita fiksi. Kebetulan batas waktu lomba di Balai Bahasa Jawa Tengah belum usai,  seru nih ditulis dalam bentuk esai.
                                                                                   

           Alahamdulillah, tulisan yang tidak disangka terpilih mendampingi pemenang utama dan masuk dalam buku antologi Esai bagi Guru Jawa Tengah 2019. Saya pun diundang dalam peluncurannya bersamaan dengan penyerahan piala Prasidatama. Prasaditama adalah piala yang diberikan kepada para pengguna dan apresiator bahasa dan sastra di Jawa Tengah oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Para penerima Prasidatama sebagian dari instansi pemerintah, sekolah, sebagian lagi para seniman penulis puisi, cerpen, dan novel. Semua berdomisili di Jawa Tengah. Bertambah pengalaman dengan membaca esai dari teman-teman guru. 
                                                                                


          “Warak, Antara Ikon dan Lelakon” bertutur tentang warak. Bagi masyarakat Semarang warak bukan hal asing. Warak sebagai ikon saat tradisi megengan atau dugderan. Tradisi dugderan diadakan dua minggu menjelang puasa Ramadan di alun-alun Masjid Besar Semarang. Puncak dugderan pada hari terakhir dihadiri Walikota Semarang. 
Warak adalah replika binatang yang mencerminkan kondisi masyarakat Kota Semarang. Masyarakat Semarang yang terbuka dalam keberagaman budaya. Warak berkaki empat melambangkan hewan kambing sebagai implementasi orang Jawa, badannya seperti onta sebagai implementasi bangsa Arab, sedangkan kepala yang mirip naga melambangkan bangsa Cina. Cerita yang ada sejak zaman Kanjeng Bupati Semarang sangat relawan dengan kondisi Kota Semarang sebagai ibukota provinsi. Layaknya ibukota yan harus menerima masyarkaat urban tentu saja persatuan di antara perbedaan sangat dibutuhkan demi keamanan, kedamaian, dan kenyamanan. 
                                                                     
gambar warak
Dulu ketika saya kecil, warak banyak dijual bahkan sebagian disertai endhog (Jawa) atau telur. Tentu saja telur asin agar tahan hingga berhari-hari. Jadi, namanya warak ngendhok. Endhok sebagai isyarat bahwa setelah puasa satu bulan mendapatkan hadiah pahala. Tetapi sudah lama warak tidak disertai endhog. Bahkan tahun ini, saat dugderan  tidak satu pun saya temui pedagang warak, dari pangkal hingga ujung alun-alun. Hal inilah yang menjadi keresahan. Mengapa warak tidak ada, mengapa pedagang tidak lagi memproduksi.

Ada keraguan saat proses hingga menjadi tulisan. Bertutur pada kejadian yang terjadi di Kota Semarang. Jadi, belum tentu dari daerah lain mengetahui objek yang saya tulis.  Apalagi saat survei. Baru pencarian keempat berhasil menemui perajinnya. Hampir saja saya gagalkan dan tidak jadi menulis. Dulu masyarakat kampung tersebut terkenal pembuat warak. Sekarang tinggal satu orang. Itu pun hanya melayani pemesanan.
                                                                        
Mungkin karena esai ini berkaitan dengan kearifan lokal, dan tentu saja memenuhi syarat sebagai penulisan sebuah esai dan layak dibukukan. Mengutip catatan panitia, ada 104 karya yang mengikuti lomba, tetapi hanya 40 % memenuhi syarat sebagai penulisan esai.

Warak masih menjadi ikon. Di sana sini banyak terdapat gambar warak, dari pintu gerbang, posko kemanan, dan beberapa pembatas jalan selama tradisi dugderan berlangsung. Tetapi perjalanan atau lelakon warak tidak secemerlang posisinya sebagai ikon.

Semoga pemerintah daerah lebih menguri-uri kearifan lokal dengan menggairahkan para perajin warak. Agar para generasi penerus, anak-anak kecil, mengenal warak ngendhok. Warak tidak saja sebagai permaianan anak, tetapi filosofi yang terkandung di dalamnya begitu mulia.
@@@

Selasa, 19 November 2019

Tak Lekang oleh Waktu



         Yah, seperti itulah yang saya rasakan mengikuti kegiatan Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP), benar-benar tak lekang oleh waktu. Baik karena belajar tak mengenal batas usia-yang berpengalaman mengajar pun wajib mengikuti- maupun dari segi waktu. Hari Minggu saatnya libur harus melaksanakan karena tiba-tiba jadwal yang mulanya Sabtu harus diganti. Ditambah sistem yang tidak lancar sehingga harus mengerjakan tugas bertumpuk-tumpuk.Beruntung saya biasa bekerja malam hari berkaitan dengan kegiatan menulis.
            Tetapi menerima konten dari kegiatan tersebut, jauh dari merugi. Rasanya cucok pengorbanan saya kehilangan hari Minggu yang biasanya benar-benar me time- senam pagi,  ngopi-ngopi sambil baca koran, ke tobuk, semua terbayar oleh manfaat yang saya dapat.
           Terlebih belajar dalam suasana nyaman dan menyenangkan. Nyaman karena berada di ruangan yang dilingkupi pepohonan. Bahkan saat isoma, kami berjalan-jalan menyusuri tempat tempat rindang menuju musala. Saya dan teman-teman disuguhi pemandangan seperti hutan mini, lumayanlah sebagai refresing mata maupun suasana. Di tengah kehidupan kota yang penuh hiruk pikuk dan penuh dengan gedung-gedung. Menyenangkan karena kami bekerja saling membantu. Sehingga kesulitan apapun dapat teratasi, termasuk kesulitan menggunakan teknologi informatika. Sebab zaman online, semua tugas harus diunggah. Terkadang sistem tidak lancar membuat kami kesulian mengunggah.

                                                                         
Ibu Iin Sulistyowati sebagai GI

            Ada tiga belas Pendidik atau Guru Sasaran (GS), baik dari sekolah swasta maupun negeri. Sebagai Guru Sasaran (GS), saya dan teman-teman dimentori oleh Guru Inti (GI) Ibu Iin Sulistyowati, dari SMP Negeri 31 Semarang, yang juga sebagai Pusat Belajar (PB). Sedangkan sebagai narasumber tamu seperti Pengawas dan Pejabat dari Dinas Pendidikan, ikut memberikan penguatan-penguatan yang intinya setelah mengikuti kegiatan ini menjadi Pendidik yang dapat menciptakan generasi emas.
            Kegiatan minggu pertama adalah simulasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Literasi, seperti mandiri, gotong royong, nasionalis, baca-tulis. Kami bekerja berkelompok. Setiap peserta berbagi pengalaman kegiatan PPK dan Literasi di sekolah masing-masing. Kemudian menuliskannya dalam kartu-kartu yang akan ditempel. Awal kegiatan sudah mengundang perhatian. Saya banyak mendapatkan pengalaman dari teman-teman. Saya bisa memilih kegiatan literasi yang sesuai diterapkan di sekolah tempat saya mengajar. 

                                                                               

                                                         penulis di antara kegiatan PKP

         Kegitan berikutnya adalah pembuatan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berorientasi HOTS (Higher Order Thinking Skills). Kami menjadi tahu bagaimana pengembangan RPP yang membentuk siswa berpikir kritis.  Diawali dari merancang desain, penulisan RPP, hingga presentasi.
            Padatnya agenda acara membuat kegiatan berjalan tanpa terasa. Pada hari Minggu dari pukul setengah delapan pagi, tahu-tahu pukul sepuluh saatnya coffe break. Tahu sendirilah, saya yang suka ngopitentu kesempatan emas bisa menikmati minuman kesukaan di sela-sela bekerja. Apalagi juga disediakan snak. Hm, kesempatan nihwisata kuliner. Terlebih bisa nyicipi sukun goreng-yang dengar-dengar dari pohon sendiri, hasil budi daya sekolah setempat. Wah, benar-benar memanfaatkan kearifan lokal. Memang benar sih, saat ada waktu jalan-jalan di belakang, ada pohon sukun yang buahnya besar-besar. Mungkin memang sudah matang, saatnya diunduh dan dikonsumsi. Baru dua jam berkegiatan tiba saatnya isoma. Rasanya baru sesaat bekerja sudah kembali break dan makan snak sore hari. Hingga tiba pulang ke rumah masing-masing.
            Semua tugas kami lalui, tentunya dukungan dari GI yang selalu memberi semangat juga teman-teman untuk menuntaskan semua tagihan. Hingga tidak terasa dengan berat hati hari memasuki minggu kelima, saatnya kegiatan berakhir dan berpisah. Tapi kami saling berjanji bahwa silaturahmi tidak berhenti sampai di sini. Ada media sosial. Karena situasi dan kondisi silaturahmi tidakharus dengan bertatap wajah. Untuk saling melengkapi dalam menghadapi permasalahan pembelajaran. Sebab guru adalah pembelajar yang tak lekang oleh waktu.
            Kegiatan Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) telah usai. Bagi saya ini justru awal dari kegiatan lain. Apalagi kalau bukan menulis. Saatnya mengeksekusi satu per satu ide-ide yang bertebaran selama lima kali mengikuti kegiatan. Semoga masing-masing karya menemukan muaranya. Amin.
@@@
                                                                                            

Jumat, 09 Agustus 2019

Riwayat “Tembong”

                                                                                 


          Termasuk ke dalam lima cerpen terpilih adalah sesuatu. Bermula pada sebuah lomba menulis cerpen yang tidak saya ketahui. Karena tahu-tahu, panitia sudah mengumumkan cerpen-cerpen terpilih. Lomba terbagi dalam dua kategori tema, “Pernikahan” dan “Putih Abu-Abu”. Untuk tema “Pernikahan” sudah terpilih sepuluh cerpen yang kelak akan dibukukan. Sedangkan tema “Putih Abu-Abu” baru terpilih lima cerpen. Panitia masih memberi kesempatan kepada para penulis mengirimkan naskahnya untuk mengisi lima kuota yang masih tersisa. Jika tidak ada cerpen yang memenuhi syarat, maka lima cerpen yang sudah terpilih akan digabung satu buku dengan tema “Pernikahan”.
          
         Berawal dari postingan teman yang mengabarkan cerpennya terpilih sepuluh besar dalam sebuah lomba. Saya terkaget, mengapa ada lomba menulis saya tidak tahu. Setelah saya selidiki ternyata saya belum menjalin pertemanan dengan pihak panitia lomba di facebook. Saya penasaran dengan tema “Putih Abu-Abu”. Hasrat hati ingin mengikuti. Tapi satu sisi saya juga sedang menyiapkan lomba menulis lain. Dan tenggat waktu kedua lomba tersebut bersamaan. Agar dapat mengikuti keduanya, saya membuka folder, siapa tahu ada cerpen yang sesuai. Sengaja saya tidak menulis cerpen baru demi menghemat waktu, pikiran, dan tenaga. Syukurlah, ada satu cerpen yang sesuai dengan tema “Putih Abu-Abu”.
                                                                          

         Cerpen “Tembong” saya tulis beberapa tahun lalu. Menulis adalah keterampilan. Semakin sering menulis semakin terasah, hasil tulisan pun semakin sempurna. Begitu pun dengan naskah “Tembong”. Begitu saja baca, jauh dari sempurna. Beberapa kalimat panjang tetapi tidak jelas maknanya. Sebagian alurnya ada yang tidak sesuai, meloncat sehingga saya harus menyesuaikan agar cerita itu runut. Ada bagian yang logikanya tidak nyambung. Pantas saja bila cerpen tersebut ditolak ketika saya kirim ke media waktu itu. Setelah semua revisi selesai, barulah saya kirim ke panitia lomba. 

           
        Cerpen “Tembong” terinspirasi ketika saya mengukuti Persami atau Perkemahan Sabtu Mingggu. Menjadi wali kelas adalah salah satu tugas guru selain mengajar. Kebetulan waktu itu, saya menjadi wali kelas VII. Ekstrakulikuler pramuka wajib diikuti oleh semua siswa kelas VII. Dan sebagian kegiatannya adalah mengikuti Persami. Agar kegiatan Persami berjalan kondusif dan terkontrol terutama bagi setiap peserta, panitia melibatkan wali kelas. Jadi, semua wali kelas VII wajib menyertai anak didiknya saat Persami.
                                                                             

          Tentu saja Persami memberi pengalaman berharga. Sedikit pun saya tidak pernah mengikuti kegiatan alam, kecuali dulu saat masih sekolah. Tidur di atas tanah hanya dengan beralaskan tikar. Belum lagi manahan hawa dingin karena hanya di dalam tenda. Posisi  sebagai orangtua bagi siswa binaan membuat saya tidak bisa tidur. Saya harus mengawasi mereka setiap saat.
            Usia siswa SMP masih labil. Mereka tidak lagi anak-anak. Tetapi juga belum remaja matang. Terkadang ingin coba-coba. Mereka jauh dari orangtua dan keluarga. Kebebasan ini dimungkinkan disalahgunakan. Di sela-sela kegiatan, misal malam hari saat istirahat, mereka melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti nge-drug, siswa lelaki menjahili siswa wanita, dan ulah-ulah negatif lain. Itulah peran wali kelas dilibatkan, tentu saja selain pengawasan dari kakak-kakak pembina. Maka legalah ketika Persami berakhir pada Minggu siang. Semua kegiatan yang direncanakan berjalan dengan lancar.
                                                                                
          
         Seperti biasa setiap mendapatkan pengalaman berharga selalu saya tulis. Maka hasil buah tangan itu berupa cerpen “Tembong” dan termasuk 10 cerpen yang diterbitkan dalam buku antologi cerpen dalam ajang “Lomba Menulis Cerpen Bersama Uda Agus”. Semakin membuat semangat saya dalam mengikuti lomba-lomba menulis lain.
@@@


Kamis, 01 November 2018

Sekelumit tentang "Kembang Manggar"






         Cerita ini berawal ketika saya teringat pernyataan seorang teman bahwa anak-anak perlu diberi pembelajaran mencari uang. Gunanya agar mereka tidak meminta uang dengan mudah. Sebab mencari uang tidak semudah mereka meminta.
            Ide cerita itu saya kembangkan saat Balai Bahasa Jawa Tengah mengadakan seleksi menulis cerita anak bagi penulis-penulis berdomisili di Jawa Tengah. Karena menulis cerita anak, seperti biasa saya berdiskusi dengan orang-orang sekitar yang lekat dengan anak-anak usia SD. Sebab ada hal yang mengganjal. Bolehkah anak-anak disuruh bekerja mencari uang?
            Setelah wawancara dengan beberapa orang, mereka mengatakan tidak menjadi masalah. Sebab hal ini termasuk pendidikan karakter. Apalagi barang yang dijual dekat anak-anak, yaitu kembang manggar. Agar terkesan natural ide mencari uang mereka sendiri yang mencetuskan. Hasilnya penjualan itu akan disumbangkan kepada anak-anak yang kurang beruntung di panti asuhan.


              Tantangan tidak hanya dari menciptakan pendidikan karakter, tetapi jumlah halaman yang tidak biasa membuat saya juga harus berpikir membuat cerita tidak terkesan bertele-tele, pembaca asyik sepanjang membaca, sekaligus memetik hikmahnya. Sebab jumlah yang diminta antara 6-10 halaman A4. Tentu bukan hal biasa membuat cerita anak hingga sepanjang itu. Biasanya cerita anak panjang halaman kira-kira tiga halaman A4.  
            Tradisi Dugderan saya jadikan sebagai latar cerita ini. Dugderan adalah tradisi di Semarang menjelang puasa Ramadan dengan ikon terkenal warak ngendhog. Seminggu sebelum puasa Ramadan, di alun-alun diadakan keramaian. Ada banyak permainan anak-anak, dijual pula mainan anak-anak terbuat dari gerabah dan celengan. Dalam even ini saya sisipi anak-anak menjual kembang manggar. Kembang manggar hasil dari tugas SBK. Agar tidak terbuang percuma, selesai dinilai dikumpulkan kemudian dijual. Dari sini mereka belajar bagaimana susahnya orangtua mencari uang.


          Akhirnya tulisan sederhana berjumlah sembilan lebih atau hampir sepuluh halaman A4 berhasil bermuara di Balai Bahasa Jawa Tengah. Saya bertemu dengan penulis-penulis keren saat launching buku antologi. Selamat membaca bagi yang mendapatkan bukunya, semoga suka dan berguna!
@@@