Iis Soekandar: Asyiknya Naik Kedung Sepur

Rabu, 23 September 2026

Asyiknya Naik Kedung Sepur

                                                                                 

              Karena situasi dan kondisi, saya pergi ke tempat wisata menggunakan kendaraan pribadi, atau bus, atau kendaraan umum lain, atau menyewa kendaraan jika berombongan. Entah kapan terakhir saya naik kereta api. Ketika komunitas yang saya ikuti merencanakan tamasya ke Purwodadi, Grobogan, naik kereta api, saya langsung mendaftar.  

            Kami naik kereta api Kedung Sepur hingga tujuan akhir, Ngrombo. Kedung Sepur termasuk kereta lokal. Kereta api ini hanya menyediakan kelas Ekonomi (C), harga Rp10.000,00 per penumpang, satu kali perjalanan, untuk semua jurusan stasiun. Ada tujuh stasiun dilewati setelah Stasiun Semarang Poncol sebagai titik pemberangkatan: Stasiun Semarang Tawang, Stasiun Alastua, Stasiun Brumbung, Stasiun Gubug, Stasiun Karangjati, Stasiun Sedadi, dan Stasiun Ngrombo, titik akhir perjalanan.

            Dari Semarang, Kedung Sepur beroperasi sehari dua kali: pagi 07.05-08.52 WIB dengan KA Kedung Sepur 496, siang 13.50-15.37 WIB dengan KA Kedung Sepur 498. Tersedia dua gerbong setiap keberangkatan.

            Sebagaimana layanan kereta api pada umumnya, pemesanan tiket melalui aplikasi Access by KAI mulai H-7 atau di loket stasiun, 3 jam sebelum keberangkatan (jika kuota tempat duduk masih tersisa). Pembayaran melalui QRIS, e-wallet, atau account virtual.

                                                                                        


           Ketua rombongan memesan tiket secara kolektif, untuk berangkat dan pulang setiap anggota. Satu jam sebelum keberangkatan, satu per satu mulai berdatangan, sesuai saran pengurus. Sebab jika terlambat dan kereta sudah berangkat, tiket hangus dan tidak diganti. Tentu saja tidak ada yang menyia-nyiakan. Kapan lagi berwisata naik karena api kalau tidak sekarang. Biasanya kami pergi menyewa kendaraan.

            Naik kereta ini mengingatkan saya pada bus Transsemarang. Ia berhenti sebanyak stasiun yang dilewati. Lalu menaikkan dan menurunkan penumpang.

            “Naik kereta sekarang tertib. Nggak ada pedagang asongan masuk,” kata teman membuka cerita. Tempat duduk berhadapan, satu bangku dua orang dan satu bangku tiga orang, kami mudah berkomunikasi.

            “Tau nggak, waktu itu ada pedagang minuman. Eh dia nggak kuat bawa nampan, kali. Minuman tumpah, pas di kepalaku…” cerita teman lain dengan gerak kedua tangan meyakinkan.

            “Ha?” kata teman yang duduk di sebelahnya.

            “Terus gimana?” tanya saya.

             “Basah kuyup?” tanya teman lain

            “Badanmu kepanasan?” yang lain juga khawatir.

            “Untung minuman dingin. Seperti mandi air es. Ha ha ha…” jawabnya.

            Kami semua tertawa. Saat itu siang hari. Suasana gerah, katanya.

            Di sepanjang perjalanan masing-masing bercerita sesuai pengalaman naik kereta api. Sambil berbagi bekal makanan. Seperti sedang nongkrong di warung. Cerita sambil makan. Asyiknya naik Kererta Api Kedung Sepur.

            Setelah menempuh waktu hampir dua jam, kami tiba di Stasiun Ngrombo. Berbeda dengan bus Transsemarang, saat di tempat akhir pemberhentian, penumpang bisa dihitung dengan jari. Penumpang Kedung Sepur tetap banyak. Mayoritas penumpang adalah para wisatawan. Setidaknya Minggu itu, ada tiga komunitas memenuhi dua gerbong tujuan sama. Belum lagi penumpang perseorangan.

            Saatnya bersenang-senang, menikmati liburan. 

                                                                                    

            Setelah Asar, kami bersiap ke Stasiun Ngrombo untuk pulang. Tepat pukul 17.05 WIB kereta api Kedung Sepur 497 mulai berangkat.

            Saat pulang, teman dekat duduk, dua orang dari komunitas lain. Tapi kami berlima seperti teman lama. Sebab pada keberangkatan kami sudah bertemu walaupun tidak menyapa karena tidak mengenal. Lalu kami bercerita seputar kegiatan komunitas masing-masing.

            Sesekali kami menanggapi suasana di luar. Gelap. Jarak antarrumah berjauhan, dengan penerang bohlam. Semakin lama, seiring kereta melaju, rumah-rumah berimpitan, kemudian ada supermarket, juga lampu warna warni dari bangunan kafe. Dan pada pukul 18.47 WIB kereta berhenti. Gemebyar lampu-lampu di Stasiun Semarang Poncol menyambut kepulangan kami.

            Keasyikan selama perjalanan bersama Kedung Sepur tak mungkin saya lupakan.

@@@




Tidak ada komentar:

Posting Komentar