Iis Soekandar

Sabtu, 25 Maret 2017

Legenda

Legenda Candi Prambanan

Diceritakan kembali oleh: Iis Soekandar


Sejak zaman dahulu Indonesia dikunjungi banyak bangsa asing. Kedatangan mereka membawa pengaruh, diantaranya agama. Walaupun mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, pengaruh agama lain tidak kalah memberikan kontribusi penting dalam perkembangan selanjutnya.
        Diantara pengaruh itu adalah berdirinya Candi Prambanan. Candi Prambanan terletak di daerah Prambanan, perbatasan Kota Yogyakarta dengan Propinsi Jawa Tengah. Candi ini pengaruh dari agama Hindu.
       Dengan tiket masuk seharga Rp 30.000,00 wisatawan dapat menikmati keindahan candi Prambanan yang menyimpan cerita legenda itu.
      Berawal di daerah Prambanan terdapat dua kerajaan Hindu bernama Kerajaan Pengging dan Kerajaan Boko. Kerajaan Pengging dipimpin seorang raja yang bijaksana bernama Prabu Damar Moyo. Tanahnya subur dan makmur. Beliau memiliki putra laki-laki bernama Bandung Bondowoso.
       Kerajaan Boko berada di bawah pemerintahan Kerajaan Pengging. Raja Boko, nama sang Raja, memiliki seorang putri yang cantik jelita bernama Roro Jonggrang.
        Berbeda dengan Raja Damar Moyo, Raja Boko adalah seorang yang murka. Beliau ingin menguasai Kerajaan Pengging. Bersama Patih Gupolo, Raja Boko menyerang Kerajaan Pengging. Namun malang, Raja Boko tewas karena kesaktian Bandung Bondowoso.
       Perjuangan Bandung Bondowoso tidak berhenti sampai di situ. Beliau mengejar Patih Gupolo ke kerajaan Boko. Tetapi sampai di kerajaan Boko, Bandung Bondowoso terpana oleh kecantikan Roro Jonggrang.
     Cerita asmara pun dimulai. Roro Jonggrang yang sakit hati karena ayahnya dibunuh Bandung Bondowoso, melampiaskan amarahnya.
     Roro Jonggrang menerima pinangan itu asal Bandung Bondowoso memenuhi dua syarat, yaitu membuat sumur Jalatunda dan 1000 candi.
         Bandung Bondowoso memenuhi syarat pertama. Kemudian beliau diminta masuk ke sumur itu. Setelah itu Patih Gapulo menimbun Bandung Bondowoso dengan tanah. Roro Jonggrang menyangka Bandung Bondowoso meninggal. Bandung pun marah. Tetapi Bandung Bondowoso kembali terkesima kecantikan Roro Joggrang dan memenuhi janjinyà membuat 1000 candi.
        Bandung Bondowoso mengarahkan pasukan jin membuat candi berjumlah 1000 dalam waktu satu malam. Tetapi Roro Jonggrang pun tidak kehilangan akal. Dimintanya para gadis desa menabuh lesung dan membakar jerami agar terlihat pagi. Maka kokok ayam pun bersahutan. Mendengar pagi sudah menjelang, pasukan jin pergi.
        Bandung Bondowoso meminta Roro Jonggrang menghitung candi yang telah dibuat. Ternyata jumlahnya 999 buah. Karena dipermainkan dan sakit hati, Bandung Bondowoso menjadikan  Roro Jonggrang sebagai pelengkapnya sehingga genap menjadi 1000 candi. 
        Seribu candi atau Candi Sewu dalam bahasa Jawa atau yang terkenal dengan Candi Prambanan, terletak di tengah dan paling besar di antara candi-candi lain yang mengelilinginya. Kisah terjadinya Candi Prambanan cukuplah sebagai bukti bahwa Indonesia kaya cerita legenda. Tidak hanya menikmati cerita dari guide atau pemandu wisata, relief-relief yang mengelilingi menjadikan Candi Prambanan menarik untuk dikunjungi, tidak saja wisatawan domestik tapi juga asing.
@@@

Jumat, 10 Maret 2017

Dongeng

Wateri
Oleh: Iis Soekandar


      Siang ini udara begitu panas. Wateri air putih berada paling pinggir di rak kulkas. Ia merasa senang sebentar lagi Aline dan mama akan meneguknya. Mama sedang menjemput Aline dari sekolahnya. Sedangkan papa akan meneguknya nanti sore sepulang dari kantor.
       Kreeeek... pintu kulkas terbuka.
       Oh Bibik juga akan menegukku. Berarti udara di luar begitu terik. Bibik biasanya meneguk air putih dari dapur. Bisik Wateri. 
Bruk... bruk...
       Wateri kecele. Bibik tidak meneguknya. Bibik meletakkan sebotol jus tomat dan sebotol jus wortel bersebelahan dengan Wateri. Kreeeeek... pintu kulkas kembali tertutup.
       “Kalian siapa?” tanya Wateri. Dia lebih dulu menghuni kulkas.
       “Aku Tomato,” jawab Tomato jus tomat.
       “Aku Karot,” jawab Karot jus wortel.
      “Tumben kalian berada di sini.” Kata Wateri penuh curiga.
   “Mama menyuruh Bibik supaya membuat aku. Mama ingin kulitnya selalu halus. Itu sebabnya mengonsumsi aku.” Jawab Tomato.
       “Sedangkan aku dibuat karena Kakek yang minta. Kamu tahu sendiri kan, Kakek sudah tua, matanya harus dijaga supaya tetap terang saat melihat. Karena aku berguna bagi kesehatan mata.” Kata Karot.
Wateri merasa senang, dia sekarang tidak sendirian di dalam kulkas. Ada Tomato dan Karot bersamanya. Tidak lama pintu kulkas terbuka.
       Kreeeeeek... Wateri senang, bibik mengambilnya. Tetapi dalam waktu yang bersamaan terdengar suara Aline.
       “Bi... mana pesananku?”tanya Aline setengah berteriak.
       Oh, ternyata Aline sudah datang. Lho, mengapa bibik meletakkanku? Tanya Wateri.
       “Pesanan apa, Non?” tanya bibik tidak mengerti.
       “Jus jambu biji.” jawab Aline.
       “Oh iya, Lin, Mama tadi lupa belanja jambu biji.” Mama menjelaskan.
       “Iya deh, air putih,” kata Aline mulutnya manyun.
       “Tadi Bibik juga bikin jus, tapi jus wortel buat Kakek dan jus tomat buat Mama.” jelas bibik sambil memberikan sebotol air putih.
       Wateri kecewa, Aline meneguknya karena terpaksa. Uh ternyata Aline sudah pesan jus jambu biji. 
Benar, keesokan hari penghuni kulkas bertambah satu lagi. Wateri bertambah sedih. Java jus jambu biji akan menggantinya. Tidak hanya Aline, papa juga ternyata menyukai jus jambu biji. Kata papa cuaca yang tidak menentu, kita wajib menjaga kesehatan badan agar tidak mudah terserang penyakit. Diantaranya dengan mengonsumsi jus jambu biji.
     “Senangnya dibutuhkan orang. Tomato disayang mama karena berguna menghaluskan kulit, Java berguna untuk ketahanan tubuh, Karot untuk kesehatan mata. Mereka begitu membutuhkan kalian. Sementara aku hanya sebagai pelengkap. Paling aku diteguk hanya setelah makan nasi.” Kata Wateri iri.
       Java, Tomato, dan Karot ingin menolong, tapi mereka tidak mampu.
@@@
      Suatu siang, seperti biasa Wateri terlihat penuh satu botol. Sementara Tomato, Java, dan Karot tinggal seperempat botol. Mama membuka kulkas. Tidak lama papa menghampiri.
      “Ma, jangan sajikan minum selain air putih.” pinta Papa.
       Wateri terlihat girang. Tumben papa membutuhkannya.
       “Teman Papa itu terkena penyakit ginjal. Dia harus selalu minum air putih. Ada kan air putih di kulkas?” tanya papa. Siang itu papa kedatangan teman sekantor.
       “Ada, ini masih penuh, satu botol.” Jawab mama sambil memperlihatkan sebotol air putih.
       “Horeeeee... akhirnya Wateri berguna.” Gasak Tomato. Java dan Karot tak kalah senang.
       Setelah teman papa pulang, Wateri kembali diletakkan di kulkas. Ia diledek Tomato, Karot, dan Java. Wateri tinggal seperempat botol.
@@@



Minggu, 26 Februari 2017

Tamasya

Mengenal Pantai Depok

      Indonesia terdiri dari beribu pulau dan dikelilingi lautan. Sepertiga wilayahnya berupa daratan sedangkan dua pertiga berupa lautan. Karena sebagian besar wilayah berupa lautan, Indonesia mempunyai banyak pantai. Diantaranya Pantai Depok, termasuk dalam kawasan pantai selatan.
     Pantai Depok tepatnya terletak di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Barangkali nama Pantai Depok tidak setenar Pantai Parangtritis. Tapi keberadaan Pantai Depok bisa dijadikan alternatif wisata bila berkunjung ke kawasan pantai selatan. 


     Pantai Depok terletak berdekatan dengan Pantai Parangtritis. Tetapi sebagai daerah wisata yang berbeda wilayah, otonominya pun dikelola secara sendiri-sendiri. 
    Loket masuk Pantai Depok Rp 4.750,00 untuk orang dewasa dan Rp 3.750,00 untuk anak-anak. Sambil menikmati deburan ombak wisatawan dapat duduk-duduk di atas pasir dengan menyewa tikar sekaligus payungnya seharga Rp 25.000,00. 
  Ternyata menyusuri jalanan berpasir di pinggir pantai tidak harus berjalan kaki. Pihak pengelola menyediakan jasa sewa sepeda motor dengan tarip Rp 50.000,00 per setengah jam. 


       Udara yang menyengat tak perlu khawatir sebab di pinggir-pinggir pantai banyak penduduk setempat yang menjual es kelapa muda langsung disantap dari buahnya. Harganya relatif murah dengan merogoh kocek Rp 10.000,00, hanya kelapa muda dengan airnya, atau ditambah dengan es dan sirup.

     Sebagai daerah pantai yang menghasilkan ikan, banyak dijajakan makanan dari olahannya,  
seperti udang, belut, ikan kembung. Bahkan dijual pula makanan yang tidak biasa didapat di pasaran umum, yaitu undur-undur. Dan semua makanan itu dimasak dalam olahan goreng. 
Semua pedagang adalah penduduk setempat. Logatnya yang ramah, khas orang desa, membuat wisatawan tak sungkan mencicipi sepuasnya. Bahkan mereka tampak dengan senang hati meminta pengunjung mencicipi walau tidak membeli. Seolah para wisatawan adalah tamu yang layak dijamu, tanpa menghiraukan bahwa mereka sedang berdagang.
       Tidak hanya ikan yang sudah diolah, wisatawan dapat membeli ikan yang masih segar. 


Pasar ikan segar dapat ditemui di luar pantai, tepatnya di tempat parkir. Rasanya hati terpuaskan menikmati Pantai Depok sambil membawa oleh-oleh ikan goreng maupun ikan segar.
@@@

Senin, 13 Februari 2017

Tamasya

                                            Tamasya ke Kebun Bunga

                                                    oleh: Iis Soekandar 


       Ada banyak cara untuk mengisi hari libur. Bagi Anda yang sedang bertamasya ke daerah Jimbaran, Bandungan dan sekitarnya, Anda bisa pula berkunjung ke kebun bunga Setiya Aji.  

       Kebun bunga Setiya Aji khusus menanam bunga krisan. Kebun itu terbagi dalam petak-petak. Setiap petak seluas sembilan kali tiga puluh lima meter dinaungi dengan lembaran plastik. Sehingga ketika berkunjung, wisatawan seperti memasuki ruangan. Para petani menyewa dari pemilik tanah.



       Ketika berkunjung, saya tidak hanya melihat bunga-bunga krisan yang sedang bermekaran, tapi juga 

tanaman yang baru saja disemai. Tanaman yang disemai dengan menggunakan pupus itu setelah keluar akarnya ditanam di tanah. Kemudian mulai disemprot  obat anti hama ketika kuntum bunga tumbuh. Sebab kabut dan udara seringkali membawa hama sehingga bunga krisan tidak menghasilkan warna seindah aslinya. Setelah itu ditunggu hingga tiba masa panen, yaitu tanaman berusia empat bulan.
     Bunga-bunga krisan itu ditanam khusus untuk dekorasi, seperti hajatan pengantin. Sehingga tanamannya harus tinggi, kira-kira satu setengah meter. Mereka menjualnya ke pasar induk Bandungan, berkisar tiga puluh lima ribu per sepuluh batang. Pasar induk Bandungan tidak hanya memasok kebutuhan dari daerah sekitar. Tapi juga di luar Bandungan, bahkan sampai ke luar Propinsi Jawa Tengah memesan bunga krisan dari Bandungan.  
     Karena setinggi dengan manusia itulah tanaman dengan bunga warna merah, kuning, dan putih banyak dikunjungi wisatawan. Mereka senang melihat-lihat, atau bahkan selfie dengan latar belakang bunga-bunga krisan. Sambil duduk-duduk santai di atas tikar, wisatawan juga bebas bertanya seputar bunga krisan kepada petaninya.
      Setiap wisatawan yang masuk membayar tujuh ribu lima ratus rupiah, ditambah uang parkir untuk sepeda motor dua ribu rupiah atau mobil lima ribu rupiah. Tiket masuk itu sudah termasuk sewa payung, bila kebetulan hari sedang hujan dan tikar bila ingin duduk-duduk santai sambil menikmati indahnya bunga krisan. Bahkan tidak hanya itu, ketika saya berkunjung, kebetulan para petani baru saja memanen salak. Saya dan tentunya para wisatawan lain disajikan salak. Kami diperbolehkan makan salak hingga puas. Sepertinya sejengkal tanah-tanah liar di sekitar kebun tidak disia-siakan petani atau penduduk setempat. Mereka menanani tanah itu dengan tanaman salak. 
     Pengelola kebun ini masyarakat desa setempat. Para petani juga mendapatkan sebagian dari hasil penjualan tiket. 
       Selama satu jam melihat-lihat sembari bertanya banyak hal tentang bunga krisan, cukuplah menyegarkan pikiran  untuk kembali menekuni rutinitas besok.
@@@


Sabtu, 04 Februari 2017

Cerpen Anak


Belajar Bersama
Oleh: Iis Soekandar



      Delva kasihan kepada Arul. Ia sering melihat Arul dimarahi Pak Beni, wali kelasnya. Arul malas belajar. Akibatnya setiap kali ulangan, teman sebangkunya itu mendapat nilai jelek.
  “Besok ulangan IPS, Rul. Nanti malam kamu belajar, supaya besok dapat nilai bagus,” Delva mengingatkan.
       “Malas, ah,” kata Arul, lalu pergi ke kantin.
       Delva jengkel. Arul tidak pernah menuruti nasihatnya.
       Suatu saat Pak Beni memberi tugas kelompok untuk dua murid. Tugas itu mengumpulkan macam-macam daun, berdasarkan bentuk tulang daun.
       “Arul, nanti sore kita mencari macam-macam daun, di seputar rumahmu!” pinta Delva. Karena ia tahu, Arul tidak akan ke rumahnya.
      Sore hari Delva datang ke rumah Arul. Mulanya Arul malas-malasan. Setelah Delva mengajak, Arul mengantar ke rumah para tetangga untuk mencari daun-daun. Kemudian Arul membawa daun-daun itu. Sementara Delva yang mencatat. Arul tampak senang.
      Semenjak itu, Delva rajin ke rumah Arul untuk belajar bersama. Ia tidak lagi mendengar Pak Beni memarahi Arul. Sebab nilai ulangannya baik.
@@@

Senin, 30 Januari 2017


Ayam Jantan Pemberian Nenek
Oleh: Iis Soekandar



     Tok tok tok... Assalamualaikum...
     Tok tok tok... Assalamualaikum...
     Huh ayah! Ini kan masih pagi,masih ngantuk. Adit tidak membuka pintu kamarnya tapi malah tidur lagi.
     Begitulah Adit bila pagi hari dibangunkan. Ia pura-pura tidak mendengar. Makanya ia sengaja mengunci pintu kamarnya. Ketika bunda akan membelikan jam beker pun ia menolak. Semua itu dilakukan agar Adit bisa tidur dengan puas dan bangun siang.
     Padahal Adit selalu dimarahi Pak Maksum, wali kelasnya. Seminggu sekali murid-murid mulai kelas 4 diwajibkan mengumpulkan buku laporan salatnya. Buku itu berupa laporan salat Asar, Magrib, Isya, dan Subuh di rumah. Sementara salat Duhur mereka lakukan bersama-sama di sekolah. Kemudian setiap kolom diberi waktu dan tanda tangan orangtua. Salat Subuh Adit selalu diisi pukul 6 pagi.
     Saat waktu menunjukkan pukul 6 kurang seperempat barulah Adit bangun. Ia langsung ke kamar mandi lalu salat Subuh. Selesai salat Adit memberikan buku laporan salat kepada ayah.
     Ayah melihat jam di dinding, tepat pukul 6. Ayah geleng-geleng kepala sambil menulis angka 6 pada kolom waktu salat Subuh kemudian memberi tanda tangan. Adit cuma cengar-cengir. Kemudian ia sarapan dan berangkat sekolah.
@@@
      Siang hari ketika pulang sekolah, Adit melihat makanan kesukaannya tersaji di meja makan. Makanan itu jenis jajan pasar, yaitu jadah dan wajik. Bahkan tidak hanya dirinya, kedua kakaknya, Mas Ari, Mas Agung, ayah, dan bunda juga menyukai.
"Asyik, Nenek sudah datang, bawa jadah dan wajik," ungkap Adit girang sambil mengambil jadah yang sudah dipotong-potong dan disajikan dalam piring saji.
"Tapi kamu mesti makan nasi dulu, Dit,baru nanti makan jadah sepuasmu!" pinta bunda yang siang itu bikin sayur bening bayam serta lauk ikan mujair goreng.
       Setelah habis satu potong jadah, Adit langsung menyantap makan siangnya. Adit makan ditemani bunda. Bunda bercerita nenek sekarang sedang beristirahat di kamar. Beberapa hari lalu Adit memang mendengar nenek akan datang dari desa. Nenek menelepon ayah. Biasanya nenek ke sini dengan mobil travel.
      Selesai makan siang, Adit bermaksud membawa piring makan ke dapur. Ia sengaja lewat teras samping sambil mencari angin. Teras samping sengaja tidak diberi atap sebagai sarana menjemur pakaian. Teras itu tersambung dengan dapur. Adit melihat dua ekor ayam, jantan dan betina. Masing-masing kaki sebelah ayam itu diikat lalu dikaitkan dengan tiang.
     "Bunda, tumben Nenek bawa ayam. Sepasang lagi. Buat apa sih? Kayak Lebaran aja?" tanya Adit setelah kembali ke meja makan. Ia mengambil sepotong wajik. Ia sengaja tidak makan nasi banyak saat makan siang tadi.
     "Memang cuma Lebaran Nenek boleh memberi ayam? Mungkin ayam nenek di desa banyak. Besok kita potong yang  jantan. Kebetulan sudah lama Mama tidak masak ayam," jelas bunda.
     Adit manggut-manggut mendengar penjelasan bunda.
     Malam tiba. Adit tidur setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, pukul setengah sepuluh malam. Sudah lama ia tertidur pulas. Sampai ia mendengar bunyi...
   "Kokok kokok kokok....kukuruyuuuuuk"
     Suara apa sih? Oh, ya kemarin nenek datang membawa ayam, katanya setelah tersadar. Adit bermaksud tidur kembali, tapi ayam itu berkokok berkali-kali.
       Adit benar-benar tidak dapat tidur. Kamarnya bersebelahan dengan teras samping. Itulah satu-satunya lahan untuk menaruh ayam. Kalau ayam itu dipindah di halaman pasti dicuri orang. Tidak lama terdengar azan Subuh. Terpaksa Adit bangun lalu salat Subuh. Selesai salat Subuh ternyata ayah juga baru saja pulang dari masjid. Adit langsung menyodorkan buku laporan salat.
     "Tumben kamu salat Subuh tepat waktu," ledek ayah sambil tersenyum senang.
     "Gara-gara ayam berkokok terus, berisik!" jelasnya dengan mulut manyun. Karena hari masih pagi, Adit membuka buku pelajaran dan belajar. Ketika sedang belajar, ia mendengar bunda bercerita kepada ayah kalau Pak Sobar potong ayam pulang kampung. Sehingga ayam itu tidak dapat segera dipotong. Adit semakin jengkel. Terpaksa besok  bangun pagi lagi.
@@@
       Ini hari Sabtu, saatnya mengumpulkan buku laporan salat. Pak Maksum meneliti buku murid-muridnya satu per satu. Terkadang wajah Pak Maksum tersenyum, sesekali mengeluh dan geleng-geleng kepala. Ketika meneliti sebuah buku, beliau memperhatikan agak lama. Lalu beliau memanggil muridnya.
       “Adit, perkembanganmu sangat bagus, sekarang kamu bisa bangun setengah lima pagi untuk salat Subuh. Anak-anak, bagi yang salat Subuhnya masih kesiangan, lihat nih temanmu Adit sudah bangun pagi setiap hari! Yang lain harus bisa seperti Adit,” pinta Pak Maksum kepada murid-muridnya yang lain.
       Semua temannya memandang Adit tidak percaya. Adit cuma senyum-senyum. Dalam hati ia berjanji, sesampai di rumah nanti, ia akan melarang bunda menyembelih ayam jantan pemberian nenek. Biarlah ayam jantan itu dipelihara. Karena bunyi kokoknya, Adit salat Subuh tepat waktu. Nilai ulangan pun menjadi lebih baik karena ia bisa menambah belajar pada pagi hari.
@@@





Sabtu, 21 Januari 2017

Si Dia





       Bau pedas dan lezat menusuk-nusuk. Bahkan hangatnya serasa sampai di hidung. Patut mendapatkan pujian karena memang bukan makanan sehari-hari.  Memasaknya pun butuh ekstra waktu lama.
       Sengaja disiapkannya awal. Setengah delapan makanan sudah tersaji di meja makan sebagai alasan utama ia dapat lebih lama bercengkerama dengan orang yang sampai saat ini masih selalu menjadi pusat perhatiannya. Hari ini adalah satu-satunya hari dalam seminggu yang mereka miliki berduaan lebih lama sebelum berangkat bekerja. Hari lain entah suaminya yang lebih dulu pergi atau sebaliknya. Bukan berarti hari libur mereka disibukkan dengan pekerjaan lembur, namun terbiasa bangun siang sehingga bermalas-malasan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, termasuk memasak.
       “Rendang ? Benarkah kamu yang memasak sendiri ?” puji suaminya seolah tak percaya. Mana ada restoran yang buka sepagi ini. Ia pun menanggapi dengan senyum-senyum bangga. Pujian yang dinanti.
       “Iya dong, hari spesial, masakan pesial,” tanggapnya tak kalah menggoda.
       Tanpa menunggu waktu lama mereka berdua melahapi masakan kesukaan yang pada hari-hari lain hanya bisa dinikmati melalui restoran yang khusus menjualnya. Nabila sesekali melirik, tangannya terus melahapi, tak melewatkan sedetik pun berhenti. Begitu yang suaminya suka jika menikmati makanan tanpa kuah. Terasa punya kenikmatan tersendiri. Rebusan daun singkong yang dimatangkan begitu saja sebagai lalap bersama mentimun segar menjadi kesempurnaan tiada tara.
       Selesai makan termasuk membersihkan tangan dari air wijikan, lalu mengeringkannya dengan serbet, suaminya segera beranjak. Musnah kesempatan bercengkerama lebih lama, bahkan sekejap belum ternikmati. Nabila tak urung memrotes.
       “Yang, bukankah jam sembilan lebih lima belas menit nanti kamu baru mengajar? Sekarang masih jam setengah delapan lebih,” Nabila tak mengerti.
       “Aku... ah ada administrasi yang harus aku selesaikan. Belum lagi mengoreksi pekerjaan anak-anak.” alasannya terdengar dibuat-buat bagi telinga Nabila.
      “Biasanya kamu menyelesaikan pekerjaan sekolah di sela-sela jam kosong mengajar? Sekarang waktu kita di rumah,” tandasnya dengan suara agak meninggi, kecurigaan mulai tercium.
       Sekali lagi hanya berpamitan, tanpa menghiraukan perasaannya ia berlalu. Kecupan pipi kiri-kanan dikiranya sanggup mengganti kesempatan berdua. Dadanya terasa ditusuk-tusuk. Perih, pedih, menindih. Air matanya mengaliri dua pipinya yang tertutup oleh bedak dan blush on. Hal yang tak biasa dilakukan dan kali itu untuk suaminya semata. Nada sesenggukan nyaris tak terdengar seiring sepeda motor yang sengaja memekakkan telinga demi cepat sampai di tempat tujuan.
       Nabila tahu persis kemana suaminya pergi. Ini kejadian untuk kesekian kali. Kalau saja ruangan itu bisa berbicara, ia akan bercerita banyak.Teramsuk memberinya nasihat agar ia tak meninggalkan kewajibannya bersama istrinya yang butuh perhatian. Lab bahasa sebagai sarana mengajar sekaligus kedok demi menutup keberduaan. Bahkan Nabila yakin tidak hanya pada jam-jam kosong.  Sebagaimana jika ia sedang sibuk menyelesaikan kisah dalam bacaan novel kegemarannya. Ia akan lakukan kapan pun walau di tempat kerja, setiap ada kesempatan. Sepanjang tidak ketahuan atasan. Bahkan teman sejawat bisa dibisiki supaya pelanggaran itu tidak menimbulkan masalah. Bukankah mereka juga mencuri-curi kesempatan jika sedang ada urusan pribadi ?
       Terlebih membaca novel. Rasanya semakin seru mengikuti konflik demi konflik hingga memuncak. Sedih, senang, haru, bercampur menjadi satu. Terasa ikut berperan langsung dalam cerita itu. Saking terlibat begitu dalam seringkali ingin menciptakan ending sendiri setiap penyelesaian cerita tidak seperti yang dikehendaki.
       Kini suaminya sedang melakukan hal sama.Tak mungkin berhenti sebelum hasrat yang dicapai tuntas. Suaminya begitu larut bersama si Dia. Tak peduli lamunannya sampai ke rumah. Nabila tak dianggap. Sakit di dada. Berangkat kerja lebih awal, pulang pun sore hari, bahkan terkadang senja. Tak tenang keberadaannya di rumah. Makan, minum, bahkan di tempat tidur tak nyaman. Padahal sudah seharian ia meninggalkan rumah. Tak dihiraukan tubuh Nabila, walau dengan busana menggairahkan sekalipun. Bahkan kegiatan di tempat tidur pun senantiasa hanya melampiaskan kebutuhannya. Selesai itu ia tertidur pulas. Apa daya Nabila selain melayani kemudian menerima keadaan.
       Atau sibuk melamun, meski Nabila terbaring di sampingnya. Tidur tak tenang. Miring ke kanan miring ke kiri. Kalau sudah begitu punggung bertemu punggung lebih sering terjadi. Kehadiran Nabila tak dianggap. Dan hal itu akan berlangsung sampai ia berhenti dengan teman kencannya.
       Kejadian itu berulang dan terus berulang. Terakhir hingga kira-kira enam bulan dia dibiarkan. Perjanjian yang telah disepakati seperti menghadiri resepsi undangan teman mendadak dibatalkan. Sekalipun datang sekadar datang. Semata-mata hanya ingin memenuhi undangan, membahagiakan yang mengundang. Tidak berbincang dengan teman-teman lama sembari menikmati hidangan yang  lain dari masakan sehari-hari. Padahal bagi Nabila itulah seninya menghadiri suatu undangan.
       Bahkan kematian omnya ia bermaksud hanya datang pada hari penguburannya saja. Ia berencana tidak ingin menghadiri hajatan. Terang saja Nabila marah-marah. Apa kata saudara-saudaranya, menjadi istri tidak bisa memberitahu. Kalau orang lain, dalam hal ini para tetangga dan kenalannya, menghadiri hajatan hingga tujuh malam semenjak hari kematiannya, masa keponakan sendiri malah menghindar. Bukankah ia juga lelaki, sebagaimana tamu-tamu yang hadir ? Akan disembunyikan kemana harga dirinya. Lebaran bakal menjadi trending topic saat berkumpul bersama keluarga besarnya. Maka ia pun harus semakin mempertebal telinganya. Karena sampai sekarang menjadi kekurangannya selama ini belum terpenuhi, malah membiarkan suaminya tidak menghadiri hajatan dan justru berduaan dengan si Dia.
       Tapi langsung menyalahkan suaminya yang mulai kembali kepada si Dia, ia tak mampu. Ada rasa bersalah martabatnya sebagai seorang istri yang tak mampu memenuhi kewajibannya memberikan buah hati. Barangkali faktor waktu yang belum berpihak. Sudah dicobanya ke dokter, namun untuk kesekian kali dokter mengatakan semua baik-baik saja. Nabila dan suaminya sama-sama sehat dan siap menerima karunia itu. Bahkan berikhtiar pada beberapa orang pintar dilakukan, lagi-lagi belum membuahkan hasil. Semua memberi jawaban sama, sabar.
       Yah karena hidup ini sesungguhnya tidak hanya bergantung pada yang terlihat mata. Manusia berkewajiban ikhtiar dan berdoa. Selebihnya yang tak nampak namun sangat memegang kunci hidup ini, apa lagi kalau bukan mengharap karunia dari Yang Maha Memberi Hidup. Manusia boleh berencana tetapi ketetapan ada pada-Nya.
       Namun keadaan seringkali tidak berpihak. Nabila yakin jikalau keadaan sebagaimana yang diharap, barangkali suaminya tidak berpaling. Kehadiran seorang momongan tidak hanya memberikan kesibukan yang menyenangkan tetapi juga hiburan tersendiri. Apalagi bagi keluarga suaminya yang begitu berfilosofi bibit, bebet, dan bobot. Kuwalitas sesorang sangat ditentukan, termasuk dapat memberikan keturunan. Keberadaannya yang hingga kini belum bisa memberikan kesempurnaan sungguh memberinya peluang untuk terus menjadi gunjingan.
       Suaminya juga pasti tidak banyak keluar rumah. Termasuk tidak pergi kerja awal dan pulang larut karena selalu ingin berdekatan dengan si kecil. Atau alasan keadaan. Karena tidak ada yang ngemong maka ia dengan suka rela mengasuh, meski tidak biasa bagi seorang lelaki mengurus anak. Namun demi keadaan apapun dilakukan.
       Suaminya nyata-nyata tidak menuntut. Si Dia lebih dulu merebut hatinya. Terbukti jika hasratnya sedang kambuh sangat mengganggu, siang, sore, malam, bahkan hingga malam di tempat tidur terus-menerus memikirkannya.
       “Kita harus bersabar, segala sesuatu ada waktunya. Gusti Alloh itu tidak sare.” Jelasnya, sare dalam bahasa Jawa artinya tidur.“Beliau sedang menguji hamba-Nya, bersabar dan kuat, atau tidak. Siapa tahu hikmahnya aku harus diangkat dulu menjadi pegawai negeri. Ekonomi kita bertambah kuat.” Terlintas kata-kata suaminya yang manis. Kalau sudah begitu ia hanya diam bersyukur bahwa suaminya tidak mempermasalahkan kekurangannya.
       “Aku tidak menuntut kita segera punya anak. Biar Gusti Alloh yang mengatur. Apalagi kamu tidak melulu di rumah. Kamu punya pekerjaan. Jadi kurasa, tidak ada yang kesepian.”
       Tidak ada yang kesepian? Ingin sekali Nabila memrotes setiap kali kalimat itu terekam kembali, namun lagi-lagi hanya terhenti dalam benak. Kalau tidak ada yang kesepian dan semua baik-baik saja tanpa ada masalah berarti, mengapa sering pergi dari rumah. Maka tak perlu menjadikan si Dia sebagai pelarian. Dan tetap menghargai perasaannya.
       Mungkin Nabila bisa menjadikan keadaan ini sama-sama menguntungkan. Suaminya yang tanpa tuntutan memanfaatkan kekurangannya dengan lebih banyak memberikan perhatian kepada si Dia. Maka Nabila tak perlu merasa bersalah dan berdosa dengan kekurangannya. Bukankah suaminya juga memiliki kekurangan? Kekurangan yang tak bisa menahan hawa nafsu sehingga harus mencari pelarian kepada yang lain.
       Tapi sayang Nabila bukan seorang istri yang bisa mendiamkan kebatilan dengan berdalih fifti-fifti. Atau membiarkan dirinya tenggelam dalam kekurangan dan menebalkan telinganya setiap kali keluarga besarnya kumpul di hari Lebaran. Baginya seorang wanita harus melahirkan anak, entah dengan cara bagaimanapun. Begitupun seorang suami hanya boleh memberikan perhatian kepada istrinya seratus persen.
@@@
       Suatu saat Nabila melihat suaminya pulang senyum-senyum. Matanya menyirat perhatian. Padahal ia sudah tidak memedulikan. Tumben pulang sebagaimana selesai jam mengajar. Padahal ia baru akan membeli lauk nanti sore saatnya dia biasa pulang. Tidakkah pikirannya sedang tenggelam bersama si Dia? Sebungkus makanan dalam kantong plastik bening tampak dipamerkan. Ah, Nabila memang sudah lama tidak memasaknya. Jujur dalam hati ia juga ingin menikmatinya, apalagi kalau bukan rendang. Tadi pagi ia tidak masak. Seringkali tidak ada niatan  memasak semenjak suaminya tergila-gila dengan si Dia. Untuk apa susah-susah memasak kalau sekadar mengisi perut tanpa menikmatinya.
       “Aku membawa makanan kesukaan kita. Sudah lama kamu tidak memasaknya,” katanya setelah meletakkan bungkusan di meja makan, tanpa berpikir panjang menuju ke dapur.
        “Jadi kamu masih mengharap masakanku?” tantangnya manyun. Sengaja membiarkan suaminya kerepotan dari dapur mengatur peralatan makan di meja makan.
       “Jelas dong, Sayang, masakan istri gimana tidak ngangenin,” katanya sudah lama ia tidak mendengar rayuannya. “Kamu tahu tidak, hari ini aku sedang bahagia, dan aku ingin membaginya hanya denganmu. Aku tidak izinkan kamu hari ini susah memasak. Sampai nanti malam aku yang traktir kita makan.”
       Nabila mengangkat bahu, sengaja membuatnya penasaran. Ingin rasanya membalas ketidakpeduliannya selama waktu belakangan. Namun ia juga tidak bisa menampik, hatinya berbunga melihat suaminya kembali seperti dulu. Ia terus berbicara sembari menikmati nasi-rendang.
      “Novelku yang kukerjakan selama tiga bulan terakhir tanpa menemui kendala langsung diterima penerbit. Dan bakal dicetak. Aku baru saja ditelepon pagi tadi. Keberhasilan ini kupersembahkan buat kamu, istriku yang dengan rela sering kutinggalkan. Aku minta maaf, Sayang.  Semua royalti nanti bisa kamu nikmati.”
       “Jadi mulai hari ini aku sudah bisa menikmati waktu berdua lagi bersamamu,” ungkap Nabila dongkol campur senang.
       Apa mesti dikata ia sudah menceraikan hobi menulisnya. Walau Nabila tahu itu untuk sementara. Dan pada saatnya nanti ia akan banyak ditinggalkan ketika ide cerita kembali muncul dan ia berhasrat menulis lagi.
@@@SELESAI@@@
                                                                                            
Cerpen ini pernah dimuat di tabloid NOVA edisi 1414/XXVIII/30 Maret-5 April 2015