Iis Soekandar: 2019

Minggu, 29 September 2019

Menciptakan Keluarga Bahagia Menuju Masyarakat Literat


Oleh: Iis Soekandar

Bangsa yang maju tidak saja didukung oleh penduduknya yang padat dan hasil kekayaan alam melimpah, tetapi juga masyarakat yang literat. Demikian sambutan tertulis Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy dalam Panduan Gerakan Literasi Nasional. Untuk itu pembangunan pendidikan dan kebudayaan digalakkan dalam lingkup kegiatan-kegiatan literasi melalui pembangunan ekosistem pendidikan, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, sebagaimana yang termaktub dalamRencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015–2019. Kemendikbud pun menyelenggarakan berbagai program GerakanLiterasi Nasional (GLN). Apalagi menurut PISA (Program for International Student Assessment), budayamembaca anak-anak Indonesia rendah. Indonesia menduduki urutan 62 dari 70 negara yang disurvei. Demikian dilansir Detiknews (5/12/2019).
Di lingkungan sekolah program pemerintah tersebut mudah diimplementasikan. Karena sekolah terikat dengan peraturan. Pemerintah menggalakkan literasi seperempat jam sebelum pembelajaran dimulai. Peserta didik diminta membaca buku bacaan kemudian menuliskan intisari yang dibacanya. Sehingga peserta didik diharapkan terbiasa membaca. Apalagi pemerintah mewajibkan belajar 12 tahun bagi anak-anak. Pemerintah memberi dana BOS untuk menunjang pendidikan. Dengan demikian diharapkan semua anak Indonesia mengenyam pendidikan dari SD hingga SMA/ SMK. Selanjutnya semua generasi muda gemar membaca.
Lalu bagaimana implementasi literasi di lingkungankeluarga dan masyarakat yang tidak ada ikatan langsung dengan pemerintah?
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Kebiasaan dalam keluarga akan terbawa di masyarakat, termasuk dalam berliterasi. Bagi keluarga menengah ke atas di antaranya ditandai dengan pentingnya menempuh pendidikan. Membaca menjadi kebutuhan untuk menunjang disiplin ilmu yang dipilihnya. Bahkan mereka memiliki perpustakaan sendiri di rumah. Tetapi bagi kalangan keluarga menengah ke bawah, membaca belum menjadi kebiasaan. Mereka disibukkan dengan urusan ekonomi.Padahal dengan membaca berbagai persoalan terpecahkan dari buku yang dibaca. Buku-buku yang dijual di pasaran tidak semua berharga mahal. Ada kemauan ada jalan. Jika buku sudah menjadi kebutuhan, harga bisa dipertimbangkan, mengingat manfaat yang didapat.
Inilah pentingnya kesadaran membaca. Pemerintah melalui tangan panjangnya kelurahan atau lebih spesifik RT, perlu mengimbau budaya membaca. Pojok baca salah satu alternatif sarana menyediakan buku-buku bagi setiap keluarga. Pojok baca dibuat fleksibel tergantung kemampuan keluarga. Bahkan pojok baca adalah tempat yang mulanya tidak terpakai kemudian diberdayakan menjadi tempat yang representatif menyimpan buku-buku. Pojok baca ramah terhadap kemampuan keluarga, sehingga tidak harus luas dan dengan biaya mahal. Buku-bukunya pun dibeli menurut kemampuan keuangan keluarga. Setiap anggota keluarga menyumbangkan buku sesuai kebutuhannya. Sehingga pojok baca menjadi #sahabatkeluarga. Dengan demikian #literasikeluarga pun tercipta dan menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kesan selama ini bahwakebutuhan membaca hanya diperlukan bagi masyarakat yang memiliki akademik pun terkikis.
Di luar rumah, pemerintah menyediakan buku-buku dalam pojok baca di tempat-tempat biasanya warga mengadakan pertemuan-pertemuan, seperti pertemuan PKK sebulan sekali, posyandu, dan masih banyak lagi kegiatan yang dilenggarakan dari program PKK. Membaca terintegrasi dengan kegiatan, yiatu sebelum acara inti dimulai. Atau setidaknya sambil menunggu acara dimulai, masyarakat mengisi waktu dengan membaca. Membaca pun menjadi kebutuhan seiring masyarakat sering melakukan kegiatan tersebut.
Hal ini ditunjang dengan kunjungan perpustakaan keliling ke kelurahan-kelurahanatau kampung-kampung. Berdasarkan survei daerah tempat saya tinggal, perpustakaan lebih banyak melayani sekolah-sekolah. Pemerintah perlu menambah perpustakaan keliling melalui armada roda empat. Dengan demikian tidak ada alasan masyarakat tidak dapat mengakses buku-buku. Kegiatan membaca dilakukan bersama-sama, dari anak-anak hingga orangtua. Perpustakaan keliling juga diharapkan rajin hadir dalam momen-momen, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun masyarakat, seperti pasar murah, perayaan hari besar, dan acara-acara yang banyak dikunjungi masyarakat.
Buku-buku yang disediakan perpustakaan keliling beragam. Hal ini sekaligus memberi pemodelan bagi keluarga-keluarga yang telah memiliki pojok baca.  Tidak hanya buku-buku bersifat menghibur seperti cerita-cerita fiksi, tetapi juga berkaitan dengan keenam literasi dasar. Agar masyarakat dapat menjawab tantangan abad 21.
Pertama, buku-buku berkaitan denganliterasi bahasa. Literasi bahasadimaknai sebagai membaca dan menulis pada konteks umum. Tidak hanya mengimplementasikan yang dibaca dari buku, tetapi juga yang tertulis danditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti membaca tanda rambu-rambu lalu lintas saat berkendaraan. Sehingga tidak ada lagi kecelakaan disebabkan human error. Selama ini kecelakaan di jalan sebagian dikarenakan pengendara tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Itu artinya masyarakat baru sebatas membaca tanda rambu lalu lintas, tetapi belum mampu mempraktikkan. Perlu penanganan langsung dari polisi lalu lintas untuk menindaklanjuti bagi pelanggar lalu lintas. Bukankah cctv dipasang di area-area strategis jalan?
Kedua, buku berkaitan dengan literasi numerasi, memecahkan masalah praktis dan mengomunikasikan bilangan dalam berbagai bentuk seperti tabel, untuk mengambil keputusan.
Ketiga, buku atau bacaanberkaitan dengan literasi sains.  Kemauan membuka diri menerima, terlibat, dan peduli isu-isu terkait sains atau ilmu pengetahuan.
Keempat, buku atau bacaan berhubungan dengan literasi digital. Hal ini berkaitan dengan media digital yang marak di masyarakat. Android atau ponsel pintar sekarang bukan hal asing.Dari masyarakat atas hingga bawah memiliki android. Ditambah internet mudah didapat secara gratis melalui wifi.Penggunaan android yang tepat juga dapat meningkatkan kesejahteraan hidup. Android memberikan informasi-informasi berguna. Diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang gaptek atau gagap teknologi.
Kelima, buku-buku berkaitan dengan literasi finansial. Hal ini berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Dengan pengelolaan yang cerdas, tidak ada lagi koruptor-koruptor yang hampir setiap hari menghiasi berita-berita politik. Apapun alasan perbuatan korupsi itu. Begitupun tidak ada seorang ibu yang dengan terpaksa membunuh anak-anak dengan memberi obat racun alasan ekonomi. Sebagaimana pernah tersiar di media. Dengan pengolaan keuangan yang baik, tidak ada yang tidak terselesaikan dalam menangani kebutuhan sehari-hari.
Keenam, buku-buku berkaitandengan literasibudaya dan kewargaan, menyikapi kebudayaan Indonesia dan memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat. Budaya, termasuk kearifan lokal tidak saja sebagai identitas bangsa tetapi juga mengandung nilai-nilai positip bagi masyarakat setempat. Sedangkan literasi kewargaan berkaitan dengan tidak menggaggu hak-hak orang lain sehingga tidak terjadi benturan-benturan di masyarakat.
Keenam literasi dasar telah memberi pedoman lengkap bagi terbentuknya keluarga bahagia. Jika hal ini benar-benar dijalankan─ sementara sekarang baru digalakkan literasi bahasa─ masyarakat yang literat pun mudah terbentuk. Dengan demikian, keluarga dan masyarakat sangat berperan dalam membudayakan literasi di bumi tercinta ini.
Semakin kokohbangsa Indonesiadalam mengisi abad 21, memiliki penduduk banyak, hasil alam yang melimpah, dan masyarakat literat.
@@@
           

Pojok Baca, Sarana Mengatasi Krisis Literasi

                                                                                 


       Penggunaan waktu seperempat jam sebelum pembelajaran dimulai untuk berliterasi  telah berlangsung sejak tahun 2015. Hal ini mengacu pada payung hukum Permendikbud nonor 23 tahun 2015. Tetapi sudahkah semua sekolah telah melaksanakan pesan yang terkandung dengan optimal?
            Pada sekolah-sekolah tertentu, terutama sekolah swasta, literasi seperti yang termaktub dalam undang-undang tersebut menjadi bermakna luas. Literasi dalam konteks baca dan tulis bisa diimplementasikan pada huruf-huruf Arab untuk menunjang ciri khusus sekolah tersebut. Akibatnya literasi yang dimaksud hanya berlangsung pada pelajaran bahasa Indonesia.  Padahal fungsi bahasa Indonesia sebagai penghela atau pengantar semua mata pelajaran. Untuk itu setiap siswa diharapkan berminat membaca semua buku mata pelajaran dan kelak pada waktunya juga buku-buku bacaan umum.
       
      Sementara sekolah swasta juga mengemban amanah dari stakeholder. Yang tentu semua itu bertujuan untuk kemaslahatan masyarakat sekitarnya. Apalagi salah satu tujuannya berdampak pada penerimaan para calon peserta didik pada tahun ajaran baru.
            Guru bahasa Indonesia perlu menjembatani antara pesan undang-undang dengan amanah stakeholder sehingga tidak terjadi krisis literasi. Satu sisi keinginan stakeholder terpenuhi, sisi lain siswa tetap mendapatkan pengalaman-pengalaman berliterasi sebagaimana yang didapatkan para siswa pada umumnya dari sekolah lain.
          
          Pojok baca adalah salah satu sarana menjembatani pesan kedua belah pihak. Hal ini berlaku bagi kelas dengan siswa bernilai akademik tinggi maupun kurang. Bagi kelas dengan siswa gemar membaca, buku-buku yang disediakan cukup meminjam dari perpustakaan sejumlah siswa satu kelas, bila memungkinkan bisa lebih tergantung jumlah buku yang dimiliki. Sedangkan bagi kelas dengan siswa minat membaca rendah, buku yang disediakan berdasarkan swadaya mereka. Setiap siswa diminta membawa buku sesuai keinginannya. Bacaan yang dibawa bisa berupa komik, buku cerita, koran, majalah, bahkan resep masakan ibunya bila terpaksa siswa tidak memiliki buku bacaan. Yang terpenting siswa membaca.
Dengan tidak mengesampingkan fungsi perpustakaan-bagaimanapun perpustakaan adalah pintu gerbang jendela dunia- siswa dengan membawa buku sendiri lebih efektif memintanya untuk membaca.Diharapkan dengan cara seperti ini siswa gemar membaca, dan pada akhirnya punya minat baca tinggi. Kelak pada tingkat baca tinggi, siswa diberi buku-buku dari perpustakaan yang tentu sudah disesuaikan dengan tingkatan mereka.
Pojok baca dibuat berdasarkan kreativitas siswa satu kelas, terletak pada kelas bagian belakang sehingga tidak menggangu pembelajaran. Di samping itu, menghapus citra pojok kelas yang selama ini hanya untuk para siswa yang malas dan enggan mengikuti pelajaran. Buku-buku ditata di rak yang ditempel di dinding dengan model seperti yang mereka kehendaki, begitu pun hiasan-hiasannya. Hal ini diharapkan mengundang siswa bersemangat membaca. Pelaksaan literasi bisa kapan saja, seperti saat istirahat dan jam kosong, tentunya juga pada pelajaran bahasa Indonesia.
            Setiap kali selesai membaca siswa diminta menuliskan intisari dari buku bacaannya di buku jurnal membaca yang dikumpulkan di kelas. Hal ini untuk memantau bahwa siswa telah melaksanakan kegiatan literasi. Guru membuat skor. Penilain tertinggi diberikan kepada siswa dengan kegiatan literasi paling sering. Hasil penilaian ini berguna untuk menambah hasil PTS (Penilaian Tengah Semester) dan PAT (Penilaian Akhir Semester), terutama bagi siswa dengan akademik rendah.
         Diharapkan dengan pojok baca semua siswa dari semua tingkat akademik memiliki pengalaman membaca sebagaimana yang termaktub dalam undang-undang. Dengan demikian bahasa Indonesia sebagai penghela atau pengantar pelajaran-pelajaran lain menjadi tidak terkendala. Pojok baca telah menyelesaikan masalah krisis literasi. Semoga terlahir generasi-generasi yang selalu berhasrat memajukan bangsa ini.
@@@
                         Artikel ini pernah dimuat di harian Solopos, Minggu 29 September 2019 

Senin, 19 Agustus 2019

Menyusuri Museum Mandala Bhakti

                                                                                           

           Udara panas begitu menyengat ketika saya sampai di depan gedung yang terletak persis di depan Tugu Muda dari arah Jalan Pemuda. Waktu menununjuk tengah hari. Saya melihat pintu depannya tertutup. Tidak ada aktivitas. Tukang parkir setempat meminta saya agar mencari informasi kepada petugas di belakang museum.
            Sambil berjalan menuju ke belakang, dalam hati saya bertanya-tanya, mengapa museum dengan gedung megah dan terletak di tengah kota, justru pusat informasi berada di belakang. Bukankah museum adalah tempat menyimpan dokumen dan benda-benda bersejarah yang berguna untuk edukasi?
Setelah mendengar maksud tujuan, dengan senang hati bapak penjaga yang saya temui bersedia mengantar. Tapi sejenak pikiran buruk terlintas. Museum sepi. Tidak ada pengunjung kecuali saya. Saya putuskan kembali ke museum hari Senin dengan mengajak teman.
        Pada saat menuju keluar, dua keluarga datang dan bertanya di mana pintu masuk Museum Mandala Bhakti. Gayung bersambut. Saya tidak jadi pulang dan mengantar mereka ke penjaga lalu melihat-lihat bersama.
            Penyimpanan benda-benda bersejarah sekarang hanya berada di lantai dua. Demikian keterangan pegawai yang memandu. Dulu dengan lantai satu. Karena kurang pengelolaan, rencananya lantai satu akan disewakan sebagaimana bagian belakang museum.
            Dengan disertai pemandu, kami mulai menyusuri museum. Pertama-tama kami diantar di bagian depan, lantai satu. Terlihat lukisan-lukisan yang menggambarkan suasana pedesaan tempat ayah Pangeran Diponegoro, Hamengku Buwono III, bermukim.  
                                                                                    
tangga menuju ke cerita Pangeran Diponegoro
          
         Setelah itu kami diantar ke lantai II. Di sana ada gambar-gambar yang menceritakan Pangeran Diponegoro, dari lahir hingga masa peperangan. Beliau dilahirkan oleh wanita selir.  
         
Pangeran Diponegoro saat masih bayi

         Berikutnya kami memasuki replika Gua Selarong. Gua Selarong adalah tempat untuk bersembunyi Pangeran Diponegoro saat berperang melawan tentara Belanda. Gua ini terletak di Bantul.

                                                                               
Gua Selarong

         Ruang selanjutnya adalah replika-replika yang yang pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro, seperti kitab suci Al-Quran dan satu set tempat duduk tamu. Tersimpan juga bekas padasan atau tempat air wudu dan tempat salat yang pernah digunakan.
                                                                             
padasan Pangeran Diponegoro

         Ketika saya bertanya mengapa Pangeran Diponegoro yang dijadikan simbol Museum Mandala Bhakti. Pemandu menerangkan karena Pengeran Diponegoro memimpin perang besar melawan Belanda. Itu sebabnya dimuliakan. Nama kodam pun kodam 4 Diponegoro, dulu kodam 7 Diponegoro.
                                                                                  

                                                        AlQuran Pangeran Diponegoro

         Jadi Museum Mandala Bhakti selain memuat kisah perjuagan Pangeran Diponegoro juga memuat memorabilia TNI. Senjata-senjata dan alat-alat perang, pakaian tni dari masa ke sama tersimpan di museum. 
                                                                               
alat komunikasi zaman perang

          Agar lebih mencintai sejarah perang bagi anak-anak, pengelola berencana menyewakan pakaian perang ukuran kecil.
                                                                                 
pakaian TNI dari waktu ke waktu

Tidak lupa di sela-sela mendengarkan penjelasan, kami berswafoto di depan gambar-gambar yang bagus. Pemandu yang ramah, bersedia pula mengambil foto. Bahkan dapat mengarahkan gaya. Mungkin karena dia sudah terbiasa diminta oleh pengunjung.
                                                                 
salah satu spot foto

Tidak terasa satu jam lebih kami berjalan-jalan. Sampailah kami di penghujung. Sebagai kritik membangun, selayaknya pengelolaan museum dibenahi. Museum terbuka untuk masyarakat umum. Penjaga berada di pintu depan layaknya layanan publik sehinga pintu utama tidak ditutup. Apalagi musem terletak tidak jauh dari Lawang Sewu dan Tugu Muda, tempat-tempat wisata yang sudah dikenal masyarakat luas di Indonesia. Bisa dimungkinkan Museum Mandala Bhakti juga akan menjadi tempat wisata yang ramai dikunjungi. Bukankah menambah pemasukan daerah?

@@@
                                                                    





Jumat, 09 Agustus 2019

Riwayat “Tembong”

                                                                                 


          Termasuk ke dalam lima cerpen terpilih adalah sesuatu. Bermula pada sebuah lomba menulis cerpen yang tidak saya ketahui. Karena tahu-tahu, panitia sudah mengumumkan cerpen-cerpen terpilih. Lomba terbagi dalam dua kategori tema, “Pernikahan” dan “Putih Abu-Abu”. Untuk tema “Pernikahan” sudah terpilih sepuluh cerpen yang kelak akan dibukukan. Sedangkan tema “Putih Abu-Abu” baru terpilih lima cerpen. Panitia masih memberi kesempatan kepada para penulis mengirimkan naskahnya untuk mengisi lima kuota yang masih tersisa. Jika tidak ada cerpen yang memenuhi syarat, maka lima cerpen yang sudah terpilih akan digabung satu buku dengan tema “Pernikahan”.
          
         Berawal dari postingan teman yang mengabarkan cerpennya terpilih sepuluh besar dalam sebuah lomba. Saya terkaget, mengapa ada lomba menulis saya tidak tahu. Setelah saya selidiki ternyata saya belum menjalin pertemanan dengan pihak panitia lomba di facebook. Saya penasaran dengan tema “Putih Abu-Abu”. Hasrat hati ingin mengikuti. Tapi satu sisi saya juga sedang menyiapkan lomba menulis lain. Dan tenggat waktu kedua lomba tersebut bersamaan. Agar dapat mengikuti keduanya, saya membuka folder, siapa tahu ada cerpen yang sesuai. Sengaja saya tidak menulis cerpen baru demi menghemat waktu, pikiran, dan tenaga. Syukurlah, ada satu cerpen yang sesuai dengan tema “Putih Abu-Abu”.
                                                                          

         Cerpen “Tembong” saya tulis beberapa tahun lalu. Menulis adalah keterampilan. Semakin sering menulis semakin terasah, hasil tulisan pun semakin sempurna. Begitu pun dengan naskah “Tembong”. Begitu saja baca, jauh dari sempurna. Beberapa kalimat panjang tetapi tidak jelas maknanya. Sebagian alurnya ada yang tidak sesuai, meloncat sehingga saya harus menyesuaikan agar cerita itu runut. Ada bagian yang logikanya tidak nyambung. Pantas saja bila cerpen tersebut ditolak ketika saya kirim ke media waktu itu. Setelah semua revisi selesai, barulah saya kirim ke panitia lomba. 

           
        Cerpen “Tembong” terinspirasi ketika saya mengukuti Persami atau Perkemahan Sabtu Mingggu. Menjadi wali kelas adalah salah satu tugas guru selain mengajar. Kebetulan waktu itu, saya menjadi wali kelas VII. Ekstrakulikuler pramuka wajib diikuti oleh semua siswa kelas VII. Dan sebagian kegiatannya adalah mengikuti Persami. Agar kegiatan Persami berjalan kondusif dan terkontrol terutama bagi setiap peserta, panitia melibatkan wali kelas. Jadi, semua wali kelas VII wajib menyertai anak didiknya saat Persami.
                                                                             

          Tentu saja Persami memberi pengalaman berharga. Sedikit pun saya tidak pernah mengikuti kegiatan alam, kecuali dulu saat masih sekolah. Tidur di atas tanah hanya dengan beralaskan tikar. Belum lagi manahan hawa dingin karena hanya di dalam tenda. Posisi  sebagai orangtua bagi siswa binaan membuat saya tidak bisa tidur. Saya harus mengawasi mereka setiap saat.
            Usia siswa SMP masih labil. Mereka tidak lagi anak-anak. Tetapi juga belum remaja matang. Terkadang ingin coba-coba. Mereka jauh dari orangtua dan keluarga. Kebebasan ini dimungkinkan disalahgunakan. Di sela-sela kegiatan, misal malam hari saat istirahat, mereka melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti nge-drug, siswa lelaki menjahili siswa wanita, dan ulah-ulah negatif lain. Itulah peran wali kelas dilibatkan, tentu saja selain pengawasan dari kakak-kakak pembina. Maka legalah ketika Persami berakhir pada Minggu siang. Semua kegiatan yang direncanakan berjalan dengan lancar.
                                                                                
          
         Seperti biasa setiap mendapatkan pengalaman berharga selalu saya tulis. Maka hasil buah tangan itu berupa cerpen “Tembong” dan termasuk 10 cerpen yang diterbitkan dalam buku antologi cerpen dalam ajang “Lomba Menulis Cerpen Bersama Uda Agus”. Semakin membuat semangat saya dalam mengikuti lomba-lomba menulis lain.
@@@


Selasa, 23 Juli 2019

Pentingnya Literasi dalam Keluarga

        Ingatkah Anda dongeng-dongeng yang diceritakan ibu atau ayah menjelang tidur atau dalam kesempatan-kesempatan santai, saat masih anak-anak? Sehingga sampai dewasa tidak terlupakan? Seperti dongeng Si Kancil Mencuri Timun. Dongeng yang diceritakan ibu kepada saya menjelang tidur.Dongeng itu hingga kini masih selalu terngiang hingga saya dewasa. Si Kancil yang cerdik hingga berhasil mencuri timun Pak Tani. Tetapi bagaimanapun cerdiknya Kancil, mencuri adalah perbuatan tidak baik. Maka perbuatan mencuri tidak bisa dibiarkan. Pak Tani memasang jebakan dengan tumpukan ketimun. Kancil pun terkena jebakan dan terperangkap ke dalam kurungan atau sangkar.  Pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah jangan pernah mencuri kalau tidak ingin celaka karena itu perbuatan tidak baik.
Begitu pun dongeng-dongeng cerita rakyat lain, selain menghibur, mengandung pesan moral atau pendidikan karakter yang baik bagi anak-anak. Tujuannya agar anak-anak mencontoh perbuatan yang baik,sebaliknya meninggalkan yang buruk. Beragam pesan moral tersebut diharapkan membawa pengaruh positif pada kehidupan anak. Golden age adalah masa penting bagi anak, tepatnya pada usia dini atau 0-5 tahun.Oleh sebab itu Golden age juga dikatakan masa kritis karena sebagai landasan aspek perkembangan. Pengalaman-pengalaman yang terjadi masa balita terekam pada bawah sadar dan akan menjadi tuntunan dalam bersikap pada kemudian hari. Sirkuit emosi terbentuk sejak usia 2 bulan (Miftahul Wahidah, Kompasiana). Anak mudah mengingat yang kasat mata maupun yang didengar. Itu sebabnya kenangan masa kecil mudah diingat hingga dewasa.
Keluarga menurut definisi KBBI adalah ibu dan bapak beserta anak-anaknya. Dengan demikian orangtua dan keluarga ikut menentukan masa depan anak. Tidak heran bila kenangan indah masa kecil juga akan membuat bahagia saat dewasa. Sebaliknya kenangan pahit dan menyakitkan, terlebih bila yang menyakiti dari anggota keluarga sendiri, rasa sakit hati dan pedih juga akan terus terngiang hingga dewasa. Bahkan terkadang sulit untuk membuka pintu maaf.
Pengalaman masa kecil juga dapat mempengaruhi kepribadian dan karirnya. Seorang anak yang sejak kecil biasa ditempa dengan kehidupan keras, kelak pada saat dewasa dia akan menjadi pribadi mandiri. Sebaliknya seorang anak yang terbiasa segala permintaannya dituruti tanpa diajarkan sikap mandiri, kelak hidupnya banyak bergantung kepada orang lain. Anak pun kelak akan memilih pekerjaan sesuai perkembangan kepribadiannya. Oleh sebab itu orangtua harus memberikan pengalaman-pengalaman baik kepada anak sejak dini, menyangkut mental dan fisiknya untuk kesuksesan masa depannya. 
Demikian pentingnya masa anak-anak, pemerintah mengadakan Hari Anak Nasional, yang setiap tahun diperingati pada tanggal 23 Juli. Di samping menjunjung dunia anak-anak, hal ini secara langsung atau tidak mengingatkan kepada para orangtua agar memberikan sarana dan prasarana begi kebututuhan masa tumbuh kembang anak sehingga berkembang dengan baik.
Peran literasi sangat strategi dalam menentukan tumbuh kembang anak. Sebab di dalam literasi setidaknya terdapat dua hal kegiatan penting, yaitu membaca dan menulis. Adler (1967) salah seorang pakar pendidik menyatakan, Reading is a basic tool in the living a goog live, membaca merupakan alat utama agar seseorang dapat menggapai kehidupan yang baik.
Sejalan dengan dampak yang baik dari fungsi membaca, beberapa tahun terakhir pemerintah menggalakkan literasi di antaranya dengan menyelenggarakan kompetisi dalam rangka pengadaan buku-buku untuk anak-anak, dari usia balita hingga SD. Kompetisi itu dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah.Bentuknya lomba atau seleksi dengan hadiah yang lumayan besar.Hal ini dimaksudkan selain menghargai penulis, juga merangsang para penulis anak tergerak berkarya sehingga membuat karya sesuai dengan konteks dunia anak-anak. Kemudian karya-karya terpilih dicetak menjadi buku-buku. Diharapkan dengan adanya buku-buku dari para pemenang lomba atau seleksi, anak-anak mendapatkan pengalaman-pengalaman baru saat atau sedang membaca. Dari seleksi kompetensi buku anak, tahun 2018 saja, pemerintah menerbitkan lebih dari 100 buah buku.
Gayung bersambut, para penerbit buku anak pun berlomba-lomba menerbitkan buku-buku di pasaran, baik buku dengan pembaca anak secara mandiri maupun harus didampingi atau dibacakan orangtua. Buku-buku itu pada intinya mengajarkan berbagai macam pendidikan karakter yang diperlukan anak, seperti mandiri, disiplin, peduli sesama, dll, dikemas dalam berbagai bentuk yang menarik, seperti cerita tentang princes, bentuk cerita fabel dan kehidupan anak-anak pada umumnya. Sebagian lagi berisi pengetahuan.Jadi, zaman sekarang jika orangtua sibuk bekerja cukup membeli buku-buku anak yang tersebar di toko-toko buku. Orangtua tidak lagi susah harus menceritakan dongeng seperti Si Kancil Mencuri Timum, dan cerita-cerita rakyat lain yang cenderung itu-itu saja, sebab buku anak yang dijual beragam. Dengan selalu mengajak anak ke toko buku, itu berarti membudayakan membaca, di samping itu anak bisa memilih buku sesuai keinginan. Dengan demikian anak bersemangat pula untuk membacanya.
Ada juga buku-buku yang mengajak anak melakukan aktivitas seperti mewarnai, menggambar, menghitung, dan aktivias lain yang intinya membuat anak bermain sambil belajar dengan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang berguna. Hal ini menandakan anak telah melakukan literasi dalam bidang menulis.Orangtua pun dapat mengembangkan dengan meminta anak menuliskan hal-hal yang dekat dengan anak. Dalam hal ini orangtua harus sering mengajaknya ke luar rumah mengenalkan lingkungannya. Dengan mengajaknya ke kebun kemudian menyebutkan satu per satu bunga yang ada, misalnya, hal ini sudah menambah kosa kata anak. Semakin banyak anak diberi pengalaman semakin banyak pula kosa kata yang dimiliki. Biarkan anak mengungkapkan keinginan dalam bentuk tulisan sesuai kemampuannya. Sebab menulis adalah sebuah proses. Dengan sering menulis mereka akan terampil pada waktunya.
Saat mendapatkan pengalaman, tidak hanya indra penglihatan yang bekerja, tetapi juga indra pendengaran. Pengalaman berkaitan dengan indra penglihatan diungkapkan dalam bentuk tulisan. Sedangkan indra pendengaran diungkapkan dengan berbicara. Dengan terus berlatih, lambat laun anak mampu menirukan yang diutarakan orangtuanya walaupun pengucapannya belum sempurna. Dari satu kata, dua kata, dan terus berlanjut. Seiring usia anak dapat menyatakan kalimat dan mengerti kata ganti saya untuk merujuk dirinya, penggunaan kata jamak, awalan dan akhiran, begitu pun sikap mengkrtik dan memerintah maupun bertanya.
Mari, kita beri anak-anak dengan pengalaman-pengalaman yang bermanfaat dan berkesan dengan budaya literasi, agar mereka tumbuh dan berkembang dengan semestinya. Karena perilaku baik walaupun sebagai kenangan akan memberikan semangat dalam kehidupan kelak menapaki masa dewasa. Bila anak-anak di negeri ini dibiasakan dengan budaya literasi dalam keluarganya, tidak mustahil kelak Indonesia menjadi negera terdepan. Negara dengan masyarakat yang cerdas dan dapat dipercaya.
@@@
                                                                     Opini ini telah terbit di koran Analisa, Senin 22 Juli 2019 

Sabtu, 13 Juli 2019

Menanti Senja di Tugu Muda

                                                                                 
Tugu Muda

           Sore itu langit terlihat cerah ketika langkah kaki saya memotong lalu lintas Jalan Pemuda yang lumayan ramai menuju ke Tugu Muda. Pada saat menyeberang saya bersamaan dengan seseorang dari luar kota. Kebetulan di Semarang sedang ada tugas pekerjaan. Ketika saya tanya mengapa ke Tugu Muda, jawabannya karena ingin refreshing. Sama dengan saya yang waktu itu penat setelah seharian bekerja mencari tempat refreshing.
Tugu muda tempat yang menarik untuk untuk dijadikan hiburan, baik karena penat pekerjaan atau liburan. Jadi, jika teman-teman belum pernah ke Semarang atau ke Semarang tetapi belum sempat mengunjungi Tugu Muda, sekarang saatnya.
Tidak sulit mencari Tugu Muda. Sebab tugu tersebut terletak di jantung kota. Berada di antara Jalan Pemuda, Jalan Imam Bonjol, Jalan Dr. Sutomo, Jalan Pendanaran, Jalan HOS Cokroaminoto, dan Jalan Mgr. Sugiopranoto. Tugu Muda juga dikelilingi bangunan-bangunan bersejarah dari  Lawang Sewu, Gedung Pandanaran, Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah, Museum Mandala Bhakti, hingga Gereja Katedral Semarang. 
                                                                 
                                        
                         melepas lelah dengan melihat air mancur menari-nari
Tugu Muda dibangun untuk memperingati jasa-jasa para pahlawan yang gugur melawan tentara Jepang dalam Pertempran Lima Hari di Semarang. Di antara pahlawan itu dr. Kariadi. Saat itu beliau menjabat sebagai Kepala Laboratorium Malaria di RS Pusat Rumah Sakit Rakyat (Purusara) Semarang. Atas jasa beliau dibangun RSU Dr. Kariadi.
                                      
                       salah satu spot foto di sekitar Tugu Muda

Tugu Muda diresmikan Presiden Ir. Soekarno pada tahun 1953.Berbentuk seperti lilin, mengandung makna semangat para pejuang dalammempertahankan kemerdekaan. Tugu tersebut terdiri dari 3 bagian: landasan, badan, kepala. Pada landaan terdapat relief berbentuk 5 sangga pilar. Dimaksudkan juga sebagai lambang Pancasila.
Berbeda Tugu Muda dulu yang hanya berupa tugu, Tugu Muda sekarang dibenahi dengan adanya ornamen-ornamen yang dapat dijadikan sarana hiburan dan melepas penat, seperti air mancur. Pemerintah  Kota Semarang terus berbenah khususnya menyangkut ruang-ruang publik. Jadi, jika teman-teman berkunjung ke sana, banyak spot foto yang menarik untuk berswafoto. Di antaranya berswafoto di samping air mancur. Disediakan pula bangku-bangku untuk duduk-duduk sembari menikmati semilir angin sore. Atau pagi hari setelah jalan sehat kemudian menikmati sinar matahari yang baik untuk kesehatan tubuh.
menikmati sinar matahari pagi setelah jalan sehat
Teman-teman tidak hanya bisa berswafoto di sekitar Tugu Muda. Seperti ketika saya berkunjung, beberapa pegawai bank sengaja mengambil foto dari latar belakang Lawang Sewu. Karena jarak Tugu Muda dengan Lawang Sewu berdekatan. Hanya dipisahkan jalan. Yang membuat saya terkagum, para pegawai bank itu tidak berfoto santai. Mereka memakai kebaya begitu pun yang lelaki, terlihat bersahaja dengan baju adat. Dandanan pun menyesuaikan. Mungkin untuk kepentingan kedinasan. 
                                                                         


                                                           taman sebagai sarana bermain
Di samping itu dibangun pula taman-taman untuk bermain bagi teman-teman yang mengajak si buah hati. Anak-anak bebas berlarian sementara orangtua duduk-duduk sambil menjaganya.
                                                                         

                                                                      menikmati sunset
         Di antara lalu lintas yang tidak pernah sepi, menikmati indahnya semburat jingga sang surya juga tidak kalah menarik untuk diabadikan. 
                                                                                     
       

                                                       dengan lampu di atas seperti lilin
            Jika teman-teman ingin melihat bentuk Tugu Muda seperti lilin yang sedang menyala, datanglah pada malam hari. Lampu bagian atas dinyalakan mirip warna api. Tak salah bila Tugu Muda terletak di jantung kota, pesonanya senantiasa terpancar baik pagi, sore, senja, maupun malam hari.

Yah, tidak terasa senja menjelang. Dan saya pun bersiap meninggalkan Tugu Muda untuk melanjutkan aktivitas setelah pikiran kembali fresh.
@@@




Senin, 24 Juni 2019

Menumbuhkembangkan Budaya Membaca dengan Metode KWL

                                                                             


            Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa dari empat keterampilan berbahasa,yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Djiwandono, 2011: 12). Membaca dapat memperluas wawasan dan pengetahuan. Untuk itu dalam dunia pendidikan keterampilan membaca turut mempengaruhi keberhasilan peserta didik.
Sementara berdasar data PISA (Program for International Student Assessment), budaya membaca anak-anak Indonesia rendah. Indonesia  menduduki urutan 62 dari 70 negara yang disurvei. Demikian dilansir Detiknews (5/1/2019).
            Tentu saja hal ini menjadi pekerjaan besar bagi pendidikan formal atau sekolah. Terlebih bagi guru bahasa, terutama Bahasa Indonesia. Mengingat fungsi bahasa Indonesia yang sangat penting, sebagai Bahasa Nasional. Pada pelajaran bahasa lah keterampilan membaca diajarkan sekaligus diujikan. Sementara pada pelajaran-pelajaran lain keterampilan membaca hanya sebagai penunjang.
            Terintegerasi dengan keterampilan berbahasa lain, guru wajib mencari inovasi-inovasi agar peserta didiknya memiliki minat membaca tinggi. Di antaranya dengan menerapkan metode KWL. KWL singkatan dariK (know) yang berarti tahu,W (want to know)apa yang ingin diketahui, L (learn) apa yang telah dipelajari. Metode KWL menuntut peserta didik aktif, baik sebelum membaca, saat membaca, maupun setelah membaca. Metode tersebut bertujuan agar peserta didik memahami isi buku ilmu pengetahuan dalam waktu singkat.
            Membaca buku ilmu pengetahuan memerlukan pemikiran tinggi. Untuk itu dibutuhkan tempat dan suasana yang khusus pula. Berbeda dengan membaca buku fiksi, seperti novel, komik, atau kumpulan cerpen. Sebab buku fiksi setidaknya memberikan hiburan. Peserta didik dapat membaca buku fiksi sambil menghabiskan waktu senggang dan dilakukan di tempat umum. Ditambah mudahnya mengakses internet, bacaan fiksi didapat secara gratis, seperti di Wattpad melalui android.
            Pada awal pembelajaran, guru menjelaskan mengapa menggunakan metode KWL. Hal ini perlu dijelaskan agar peserta didik menyadari kurangnya minta baca. Sehingga diharapkan mereka memiliki motivasi untuk menjalankan langkah-langkah yang telah disusun guru. Dan pada kemudian hari mereka memiliki budaya membaca.
            Pembelajaran ini dilakukan secara berkelompok. Langkah pertama, guru memberikan buku ilmu pengetahuan. Setiap kelompok menerima buku ilmu pengetahuan yang berbeda tema satu sama lain. Dengan demikian pada akhir pembelajaran, mereka akan mendapatkan ilmu pengetahuan dari sebanyak buku yang diberikan. Kedua, setiap kelompok diminta menuliskan minimal 5 kata atau istilah dalam indeks sesuka mereka. Hal ini berarti menerapkan know. Ketiga, mereka mencari definisi atau pengetahuan-pengetahuan dalam buku yang berkaitan dengan setiap istilah atau kata tersebut. Dalam hal ini mereka melakukan want to know. Selanjutnya learn, setelah membaca mereka menjadi tahu apa yang telah dipelajari. 
            Langkah berikutnya berdiskusi. Setiap kelompok mempresentasikan yang telah ditulis. Dengan demikian kelompok lain mendapatkan ilmu pengetahuan dari kelompok tersebut. Mereka diperbolehkan bertanya jawab untuk mengeksplor agar ilmu pengetahuan bertambah. Skor tertinggi diberikan kepada kelompok yang menuliskan kata atau istilah dalam indeks paling banyak.
            Pembelajaran ini sebaiknya ditindaklanjuti pada kegiatan literasi dan dilakukan per individu. Agar peserta didik terbiasa. Waktu yang diberikan dalam kegiatan literasi biasanya pendek, tetapi sering atau setiap hari.Penilaian dilakukan seminggu sekali atau sesuai kondisi.  Hasil penilaian ini dapat menambah nilai PTS, PAS, atau PAT, terlebih bagi peserta didik yang nilainya kurang. Agar tidak membosankan, dapat diselingi dengan membaca buku fiksi.
            Dengan rajin mencari inovasi, semoga terpecahkan setiap persoalan dalam pembelajaran. Dalam hal ini menumbuhkembangkan budaya membaca. Sehingga kelak terlahir ilmuwan-ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu untuk membangun Indonesia tercinta.
@@@
           Opini ini pernah terbit di harian Solopos, Minggu 23 Juni 2019 

Selasa, 14 Mei 2019

Berburu Bubur India

                                                                                       
Bubur India kuah gule
          Dalam mengisi bulan Ramadan, Tamasya saya kali ini berhubungan dengan religi. Tempo hari saya mendatangi sebuah masjid. Masjid ini terkenal dengan bubur India. 
Lokasi masjid terletak di Jalan Petolongan. Jika datang dari arah Pasar Johar lama, Anda akan melewati Jalan Jurnatan. Bila sampai pada traffic light, belok ke kanan menuju Jalan Pekojan. Di Jalan Pekojan pada sisi kiri ada beberapa gang atau jalan kecil. Salah satu jalan itu adalah Jalan Petolongan. Dengan berjalan beberapa langkah masuk ke Jalan Petolongan terdapat sebuah masjid. Namanya Masjid Djamik Pekodjan.
                                                                   
Masjid Djamik Pekodjan
Saya bersyukur memiliki kenalan yang mengerti bubur India. Jadi, Masjid Djamik Pekodjan satu lokasi dengan sebuah sekolah dasar. Dia mengajar di sana. Saya langsung diantar dan dikenalkan dengan takmir. Saya pun berwawancara dengan mereka.

Setiap hari takmir membuat bubur India sebanyak 23 kilogram selama bulan Ramadan. Bahan utamanya dari beras putih. Rasanya berbeda dari bubur putih beras biasanya. Karena bubur India diberi campuran sejumlah rempah-rempah. Menu pendamping atau kuahnya berganti-ganti setiap hari, seperti opor dan sambal goreng. Namun khusus pada Senin dan Kamis ada donatur yang menyediakan gule. Demikian penjelasan salah satu takmir yang saya temui.
                                                                             
Memasak bubur India
Tradisi ini telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun. Dananya dari swadaya masyarakat setempat yang mayoritas dari keturunan Gujarat, India. Selain bubur India, disediakan pula minuman susu, kopi, atau teh. Para jamaah yang akan berbuka di sana tinggal memilih sesuai selera.
                                                                           
deretan bubur India dalam  masjid
Ketika saya datang, bubur India telah tersaji dalam mangkuk-mangkuk warna-warni berhahan plastik dan tertata dengan rapi di masjid bagian dalam. Hanya gelas di sampingnya masih kosong. Gelas itu akan diisi menjelang buka puasa.  
                                                                           

 bubur India siap dibawa pulang

Tidak hanya berbuka di sana, bagi masyarakat yang ingin menikmati di rumah juga diperkenankan. Syaratnya datang awal setelah salat Asar sambil membawa tempat sendiri. Banyaknya masyarakat yang ingin menikmati, tidak lama, atau kira-kira pukul setengah empat sore, beberapa orang yang datang ingin meminta harus kembali dengan tangan hampa.

Tapi saya beruntung beberapa lama setelah sampai di rumah, berbuka puasa dengan semangkuk bubur India, kuah gule. Hm, rasanya sungguh lezat.  

@@@