Iis Soekandar: 2023

Minggu, 31 Desember 2023

Menulis dengan Senang Hati

                                                                                             

Menuliskan pengalaman seputar kegiatan menulis sepanjang satu tahun adalah salah satu favorit saya. Dengan demikian saya mengetahui perkembangan kegiatan menulis, apakah tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, lalu berusaha tahun depan lebih baik dari tahun ini, begitu seterusnya. Itu sebabnya “Kilas Balik” ada dalam menu blog.

Tahun 2023 masih melanjutkan impian tahun lalu: menulis cerpen. Berbeda tahun lalu yang sering tersendat-sendat dalam memenuhi bagian-bagian premis. Tahun ini, dari waktu ke waktu semakin ringan dalam proses menulis. Saya semakin lancar mengisi bagian-bagian premis sebagai persyaratan awal menulis sebuah cerpen. Benar kata orang bijak, menulis termasuk sebuah keterampilan. Ibarat pisau semakin diasah semakin tajam.

Premis diibaratkan resep dalam dunia masakan, begitu istilah Abang Mentor. Jadi, jika resep atau ada bagian premis yang kurang, hasilnya pun terasa janggal. Setelah premisnya tepat, barulah berkreasi pada saat mengembangkannya menjadi cerpen. Entah berkreasi dalam penggunaan gaya bahasa, sudut pandang, dan lainnya sehingga cerpen itu menarik dibaca.

Kembali setelah unsur-unsur premis terpenuhi lalu membuat kerangka cerita, saatnya mengembangkan menjadi cerpen utuh. Saya berusaha menuangkan semua yang ada di kepala dalam satu kali duduk. Dengan demikian tidak menggali dari awal, seperti saya gagal mengembangkan premis dalam satu kali duduk.

Ketikan pertama tentu saja masih draf sehingga perlu diendapkan agar memperolah hasil objektif. Setelah dibaca ulang terkadang ada bagian premis yang terlewat atau kurang sempurna. Mungkin deskripsi tokoh kurang lengkap, keinginan tokoh dan caranya tidak fokus, hambatannya kurang nendang, atau resolusinya biasa-biasa saja. Dengan berpegang pada patokan-patokan itu saya tinggal memperbaiki bagian-bagian yang kurang.

Selanjutnya mengedit secara keseluruhan, adakah kalimat dan paragraf yang loncat sehingga harus dibetulkan, perlukah penggunaan gaya bahasa, mungkin acuannya kurang konsisten, dan bagian-bagian lain yang perlu diperbaiki hingga menjadi sebuah cerpen yang sempurna dan siap kirim ke media. Kegiatan menulis menjadi terasa mudah dan menyenangkan.

Kesenangan itu membuahkan hasil dengan lolos kurasi di media kompas.id. Alhamdulillah. Mungkin karya-karya lain yang telah saya kirim ke media-media sedang menunggu antrean. Atau saya harus terus memperbaiki dan meningkatkan keterampilan menulis untuk menghasilkan karya bagus, lebih bagus, dan lebih bagus lagi. Dan itu sebuah keniscayaan untuk sebuah kegiatan yang positif, menghibur, dan berguna bagi banyak orang.

Setiap orang punya me-time sendiri-sendiri. Biasanya saya menulis malam hari. Saatnya jenuh setelah rutinitas seharian, menulis tulisan fiksi dapat mengendorkan syaraf. Rasa lelah pun lambat laun hilang. Sehingga menulis menjadi bagian kegiatan yang mengasyikkan. Dengan perpegang pada premis dan selalu terbuka, karya terbit hari ini, besok, atau kapan pun hanyalah soal waktu. Semoga tahun 2024 banyak karya terbit, dan ikut memajukan literasi Indonesia, bahkan dunia. Amin.

@@@


  

Sabtu, 30 Desember 2023

Sesaat Bersama Kelompok Ternak Sapi

                                                                                       

pintu gerbang lokasi ternak sapi perah

Ngooogh… ngoooogh… ngoooogh… begitu sambutan suara ketika saya memasuki arena peternakan sapi. Seakan menyatakan ucapakan selamat datang.

Sering minum susu sapi menggelitik saya mendatangi peternaknya. Kebetulan mendapat info ada kelompok ternak sapi perah di Semarang. Meski letaknya jauh dari pusat kota. Lokasinya dapat dijangkau dengan menaiki bus Trans Semarang yang daerah operasionalnya hingga ke pelosok-pelosok kota. Mumpung liburan, saya berkunjung ke sana.

Dari pusat kota menaiki bus Trans Semarang jurusan Ungaran, turun Terminal Sisemut, dengan ongkos Rp4.000,00 jauh dekat. Kira-kira membutuhkan waktu satu jam. Setelah sampai di terminal naik angkutan isuzu menuju arah Gunung Pati dengan membayar ongkos Rp3.000,00. Penduduk setempat mengetahui letak pusat ternak sapi perah, termasuk sopir angkot. Peternak-peternak sapi itu tergabung dalam satu kelompok. Mereka berada di satu perkampungan. Jadi, saya tinggal mengatakan kepada sopir agar diturunkan di pusat sapi perah. Seperempat jam kemudian sampailah di daerah menuju tempat tujuan.

Dibutuhkan waktu dan tenaga ekstra berjalan kaki kira-kira setengah kilometer menuju arena. Apalagi jalannya naik turun. Yah, sekalian berolah raga jalan sehat, menghirup udara pagi sambil menikmati hangatnya sinar matahari. Suasananya lengang begitu saya melewati pintu gerbang. Sesekali melintas kendaraan roda dua. Mereka pengunjung yang membeli susu sapi. Ternyata saya datang kesiangan. Seorang peternak yang saya datangi, jualannya hanya tersisa lima kantung plastik berisi satu liter setiap kantungnya. Syukurlah, saya masih kebagian. Seliter seharga Rp10.000,00. Di samping lebih murah, yang pasti rasanya masih asli. Dibanding susu sapi yang saya beli di lingkungan tempat tinggal. Pembeli di sini tidak hanya perorangan, tetapi juga penjual-penjual susu sapi dari pusat kota. Mereka mengambil pesanan pagi buta.

Sambil beristirahat kami berbincang-bincang seputar ternak sapi perah. Sapi-sapi tersebut diperah susunya dua kali sehari, pagi dan sore. Menghasilkan susu sapi sepuluh liter atau lebih per hari. Yang diperah tidak sembarang sapi, melainkan sapi berjenis kelamin perempuan dan sudah pernah melahirkan. Walupun perempuan dan sudah tua, kalau belum pernah melahirkan, sapi tersebut belum bisa menghasilkan susu. Demikian penjelasan peternak sapi.

Sebagaimana manusia yang sedang menyusui, sapi-sapi perah harus diambil susunya dua kali sehari. Jika tidak, atau terlewat, demikian pengalaman pernah terjadi, susu sapi akan mengeras akibatnya tidak menghasilkan susu. Maka untuk sementara harus dinormalkan dengan diurut hingga kembali mengeluarkan susu.

Sapi perah membutuhkan perawatan khusus agar mendapatkan kualitas susu yang baik. Makanannya tidak hanya rumput. Harus ditambah dengan sisa-sisa singkong: bonggol singkong dan kulit singkong. Mereka memesan dari perusahaan yang memproduksi camilan dari olahan singkong, seperti keripilk. Juga ampas tahu yang biasa mereka sebut gembor.

Agar terjaga kebersihan hasil susunya, sebelum diperah sapi-sapi tersebut dimandikan terlebih dahulu. Tempatnya juga harus bersih dari semua kotoran. Dengan demikian, sebagaimana manusia, mereka mandi dua kali sehari, pagi dan sore. Saya sempat menanyakan apakah juga diberi sabun? Wah habis berapa sabun untuk sapi sebesar itu, tanggap peternak tersebut. Saya pun terkekeh. Memandikan sapi cukup disikat semua permukaan tubuhnya kemudian dibilas dengan air mengalir. Setelah mandi sapi diberi makan. Tujuannya ketika diperah mereka tenang dan tidak membuat banyak gerak. Barulah ketika semua persyaratan terpenuhi, sapi siap diperah.

Kira kira selama satu jam saya berjalan-jalan mengunjungi peternak-peternak sapi sekaligus melihat gubuk-gubuk sapi mereka. Lumayanlah sebagai refreshing. Berada di tempat  berbeda, dengan alam pedesaan dan rerumputan yang menghijau, tentu ditambah bau khas sapi.

@@@


Kamis, 28 Desember 2023

Naik Kereta Api Tut… Tut… Tut…

                                                                                             

kereta api siap berangkat

Naik kereta api tut… tut… tut… siapa hendak turut ke Ambarawa-Tuntang. Begitulah yang ada di benak saya begitu menaiki kereta api khusus ini. Menirukan lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak. Berhubung tidak ke Bandung-Surabaya, syairnya pun disesuaikan. Yah, kereta api ini tidak sembarang kereta api. Akan tetapi, kereta api yang memiliki sejarah perkeretaapian Indonesia bahkan dunia.

                                                                   

pintu gerbang Museum Kereta Api Ambarawa 
Roda kereta api ini bergerigi, satu di antara tiga yang masih tersisa di dunia. Kereta api tersebut berada di Museum Kereta Api Ambarawa. Dua lainnya ada di Swis dan India. Apabila teman-teman ingin berkunjung ke sana, dari arah Semarang naik bus Trans Jateng. Ogkosnya murah, hanya Rp4.000,00 sampai di Terminal Bawen. Dari Terminal Bawen naik angkot menuju ke Palagan dengan membayar Rp5.000,00. Jika menemui sopir yang baik hati, teman-teman langsung diantar ke depan museum. Yah.. untuk mengimbali jasa baiknya, bolehlah tarip ditambah. Tapi untuk tujuan berwisata, jika terpaksa jalan kaki kira-kira setengah kilometer dari Palagan-museum, dibikin asyik saja, sambil melihat-lihat suasana Ambarawa.

Oya, halte bus Trans Jateng di Semarang biasanya menyatu dengan halte bus Trans Semarang. Tapi ada juga yang terpisah. Teman-teman bisa menanyakan kepada petugas-petugas yang ramah di halte tersebut. Sebab bus Trans Jateng warnanya juga merah seperti bus Trans Semarang. 

                                                                            

loket kereta zaman dulu

Antrean pengunjung sudah panjang saat saya tiba. Saya sampai di museum pukul 07.30, setengah jam lebih awal dari jam buka, pukul 08.00. Saya pikir saya datang awal. Ternyata antrean sudah sampai di pembatas pagar antara pintu masuk dengan parkir. Dan begitulah seterusnya pengunjung berikutnya mengantre hingga ke tempat parkir. Itu berarti saya harus berdiri setidaknya setengah jam. Itu pun tidak mendapatkan tiket gelombang pertama, setelah saya menyodorkan tanda pengenal dan uang masuk museum dan naik kereta api di loket.

Kereta api yang dibuat pada tahun 1907 ini beroperasi hanya pada hari Sabtu, Minggu, dan hari besar. Ada empat gelombang saat beroperasi, yaitu pukul 09.30, 11.00, 13.00, dan 14.30. Tersedia 116 kuota setiap gelombang, terbagi dalam tiga gerbong, A, B, C. Ongkos naik kereta api Rp100.000,00 ditambah masuk museum Rp20.000,00.

Sambil menunggu keberangkatan kereta, teman-teman bisa berjalan-jalan ke museum mengikuti sejarah perkeretaapian di Indonesia. Begitu masuk museum, ada sebuah lorong berisi gambar-gambar sejarah kereta api dan stasiun-stasiun yang ada di Indonesia. Kapan kereta api tersebut diciptakan dan pada pemerintahan siapa. Begitupun stasiun-stasiun kereta api, apakah masih difungsikan ataukah tidak. Tentu jika masih difungsikan hingga sekarang, diperlihatkan bangunan asli dan yang sudah direnovasi.

                                                                                 

lorong gambar-gambar sejarah kereta api Indonesia

Di tempat lain, terdapat beberapa halte kereta yang dulu digunakan oleh pemerintah Belanda. Sekarang masih dilestarikan. Barangkali untuk menghormati bangsa Belanda yang pernah memberi sejarah perkerataapian di Indonesia, dibuka stan khusus menyediakan pakaian etnik Belanda dengan sewa Rp30.000,00 per baju. Ada pula latar belakang kincir angin-sebagai ciri khas Belanda-bagi yang ingin swafoto. Bangunan lain adalah ruang audiovisual. Melalui layar lebar, pengunjung dapat melihat perkeretaapian di Indonesia masa kini dengan fasilitas seperti berada di hotel, tentu dengan harga yang sesuai.

Sebagai tempat wisata yang didatangi banyak pengunjung, tersedia kamar mandi dan tempat beribadah yang cukup bersih dan representatif. Hanya menurut saya, kulinernya kurang memadai. Pengunjung museum kereta api tidak hanya dari sekitar Jawa Tengah, tetapi juga dari jauh: Jakarta, Bandung, bahkan dari luar Jawa. Setidaknya itu yang saya temui. Perlu dibuka restoran-restoran berkelas nasional. Saya sempat mendengar pengunjung dari jauh harus ke Semarang untuk makan siang, menemukan restoran seperti KFC.

                                                                               

gerbong kereta api

Tak terasa berjalan-jalan seputar museum, panggilan bagi penumpang gelombang dua mengudara dari pelantang suara. Saya pun bergegas naik kereta kemudian mencari nomor kursi sesuai tiket. Setengah jam berikutnya, tepat pukul 11.00 terdengar bunyi peluit panjang, tanda kereta mulai berangkat. Seru sih naik kereta api zaman dulu. Jendela tidak lagi fungsi, jadi kalau hujan harus bersiap terkena tempias. Untung waktu itu langit terang benderang. Suara kereta berisik, sesekali terjadi sendatan-sendatan. Sepanjang perjalanan, ada Pak Pemandu yang menjelaskan sejarah kereta api tersebut. Sambil sesekali bicara lucu, nyentil penumpang mengapa jauh-jauh mau naik kereta api yang suaranya bikin gaduh. Kami pun terkekeh.

                                                                               

swafoto bersama Pak Pemandu

Setengah jam berlalu tibalah kami di Stasiun Tuntang. Para penumpang diizinkan turun untuk melihat-lihat dan swafoto. Selama jeda waktu, lokomotif yang mulanya di belakang karena saya duduk bertolak belakang, saat pulang lokomotif berpindah ke depan. Maka Ketika kereta kembali melaju, kereta pun maju. Hingga kembali berada di museum. Dan keseruan ini harus berakhir. Rasanya masih kurang puas satu jam berada di kereta api kuno walaupun penuh suara gaduh.

@@@



 

 



     



Rabu, 13 Desember 2023

Apakah Tangisku Juga Tangismu?

                                                                                       

Apa yang ada di benakmu jika setelah melalui serangkaian proses panjang hingga tampil sempurna, kau berpikir menjadi sangat berguna bagi yang lain, kemudian ternyata kau hanyalah sampah yang menjijikkan?

Yah, aku tak lagi tampil sempurna. Jauh dari sempurna. Tubuhku gatal-gatal tak karuan. Di sana sini mulai terdapat lubang. Bauku pasti menyeruak tak menyenangkan hidung begitu bungkus yang menyelimutiku terbuka. Siapa pun tak menyangka hal ini  terjadi, terlebih diriku sendiri. Bagaimana nanti reaksi sahabat Lala, Anin, begitu melihatku.

Kupikir akulah yang paling beruntung, saat tahu akhir tak selalu sisa dan tak berguna. Akhir menjadi amat berharga jika diburu sementara yang lain tak ada. Bahkan dengan harga tinggi bisa terjadi. Itulah yang terjadi padaku. Walaupun awalnya perasaanku biasa saja. Tak apalah menempati saf paling bawah. Siapa yang menyia-nyiakan sesuatu menjadi makanan khas─ cepat atau lambat pastilah aku akan beralih ke tangan orang, bahkan orang yang tepat. Berbeda bila keberadaanku di kota ini sebagai alternatif.

 Hari itu, tak sampai satu hari, dagangan Supri ludes hanya dalam tempo setengah hari. Jarang hal itu terjadi. Hari besar, akhir pekan, atau pada musim liburan sekalipun. Dua dunak─salah satu tempatku berada─dagangannya, diburu pembeli. Hilir mudik orang-orang datang memborong. Mereka datang bak membeli pisang goreng. Mendapatkan barangnya sudah untung. Padahal dua dunak biasanya dua-tiga hari baru habis.

Benar-benar Jumat berkah bagi Supri. Dan aku menjadi yang terakhir sekaligus diperebutkan dua pembeli. Serasa menjadi primadona. Jika Supri mematok hargaku tinggi dari biasanya pastilah pembeli itu tetap akan membayarnya. Tapi begitulah Supri yang menjaga keorisinalitas rasa maupun harga, tetap memasang harga sebenarnya.

“Pak, saya tadi pesan duluan,” ungkap seorang gadis penuh nafsu, kutahu setelahnya bernama Lala. Ada seorang wanita kemudian yang juga mengharapkanku.

Supri meletakkanku ke dalam kardus lebih lebar sedikit dari seukuranku dengan bagian atas plastik bening sehingga kemolekanku semakin menggoda.

“Saya perlu satu buah saja, Pak. Siapa tahu di dalam masih ada!” perintah wanita itu sambil melongok ke dunak yang telah kosong. Walau yakin tidak ada barang dagangannya, Supri tetap melakukan pencarian demi memuaskan pembelinya.

“Maaf, Bu, memang tinggal satu, sudah diambil Mbak ini,” Supri meyakinkan.

“Ini titipan, dia minta saya membeli di sini. Kalau Mbak mengijinkan saya akan bayar berapa pun Mbak minta. Saya yakin teman saya itu pasti tidak keberatan,” bujuk wanita itu memohon.

“Maaf, Bu, ini juga titipan teman,” tanpa berpikir panjang Lala membayar kemudian pergi.

Itu percakapan syahdu yang pernah kudengar. Aku diperebutkan dua orang dan Lala yang memenangi. Kubayangkan wanita itu pergi dengan rasa kecewa sementara Supri menutup kedainya untuk segera mengerjakan salat Jumat.

Kedainya tak berada di pusat oleh-oleh layaknya makanan oleh-oleh dijajakan. Sebuah pikap diubah sedemikian rupa hingga menjadi kedai tempatnya berjualan. Samping kanan dan kiri, juga depan dipasang papan promosi. Sementara bagian belakang tempatnya bertransaksi dengan pembeli. Warisan  orangtuanya itu cukup dikenal dan membawa berkah. Orang-orang berdatangan atas merek yang dibuat bapaknya saat masih berjualan dengan ketenaran rasa yang tiada banding. Pikapnya selalu terparkir di pinggir jalan di tempat yang sama untuk memudahkan pelanggan dan pembeli lain membeli.

Ditambah kebaikan orang-orang sekitar yang ikut mempromosikan, terlebih saat ia sedang pergi ke masjid. Ada saja tukang becak atau sopir angkutan yang dengan kerelaan hati menerima titipan satu mobilnya berisi dagangan, tentu saja tidak siang itu karena dagangannya habis. Bahkan dengan kerelaan hati, mau menghibur calon pembeli agar bersabar menunggu karena pemiliknya sedang salat di masjid.

Aku dan teman-temanku diproses dari mulai benih yang ditabur oleh pemilik tambak. Setiap hari diberinya kami makan. Waktu mengubah kami menjadi dewasa. Kemudian di tangan Supri akhirnya kami dibeli dan diolah hingga tampil sempurna, dan kau dengar sendiri: diperebutkan oleh seorang gadis dan seorang ibu. Yah, di tangan Suprilah aku menjadi sempurna. Kami diberi warna kuning, tentu lebih menarik dibanding putih, warna asli. Ditambah dengan sejumlah bumbu tertentu yang membut nilai jual kami menjadi tinggi dan disuka seantero kota. Bahkan pembeli dari luar juga telah mengenal jualan Supri.

Ya Tuhan, Lala yang semula memperebutkanku dengan pembeli lain, kupikir akulah satu-satunya barang bawaan. Ternyata ada barang berharga lain.

“Aku akan memberikan novel-novel ini kepada Anin. Dia kan juga senang membaca novel. Mumpung bulan bahasa. Banyak diskon!” ungkapnya penuh semangat lalu melangkah keluar dari toko buku. Lala tidak langsung pulang. Dia masih menambah aneka kripik dan roti kesukaannya.

Sepanjang perjalanan dari Semarang, Lala menyimpanku ke dalam kardus mi instan bersama oleh-oleh lain. Kecuali novel-novel itu, disimpannya di tas pribadi. Aku bisa tebak, pasti selama di kendaraan perhatiannya pada bacaan novel. Saat tiba di rumah dia meletakkan begitu saja kardus itu di meja. Seorang diri dia meninggali rumah orangtuanya yang dulu pernah hidup bersama saat papanya masih berdinas.

Senja dia baru pulang dari kantor. Penampilannya tak lepas dari  masker. Musim panas mengganas; kondisi udara buruk. Sementara keberadaan AC di rumah sebetulnya tak baik bagi paru-parunya. Ah serba salah. Untuk itulah ia seringkali memakai masker untuk menutupi hidung sehingga bernapas agak hangat. Saat tidur sekalipun. Kecuali ketika makan.

Kesibukan membaca novel menyita waktunya sepulang bekerja. Sambil membaca dia ngemil makanan dari bungkusan paling atas, begitu seterusnya ke bawah. Di rumah orangtuanya tanpa ada pembantu. Dia lebih senang bekerja sama dengan beberapa jasa rumah tangga yang tak tinggal di rumahnya. Laundry, tukang bersih-bersih rumah, katering, kecuali berada di kantor dia makan di luar. Tempatku tak berubah, tetap berada paling bawah dengan simpul plastik yang masih rapat dari sejak aku ditukar dengan sejumlah uang di tempat Supri.

Hingga suatu ketika keberadaanku terlihat saat camilan di bungkusan atas sudah habis dan mencari-cari camilan berikutnya. Tangannya meraih kardus pembungkusku.

“Oh, Tuhan, bukankah tidak hanya novel-novel. Aku juga akan memberi Anin makanan?” katanya kaget tentang teman sekantornya yang sengaja dijanjikan makanan khas. “Kamu sih, Nin, buru-buru ambil cuti. Mentang-mentang kelahiran anak pertama.”

Buru-buru dibungkusnya aku dengan kertas koran lalu meraih kertas kado yang biasa untuk membungkus bingkisan,  berhasrat mengirimkanku melalui jasa paket keesokan hari sekalian berangkat bekerja. Begitu pun novel-novel siap dikirim.

Tak seperti Lala yang penuh bahagia, dia tak melihat keberadaanku yang mulai terasa gatal-gatal. Tapi apa dayaku. Aku hanya bisa menerima nasib. Manusia yang penuh ketamaan itu dengan seenaknya memperlakukanku.

Sampai berhari-hari aku berada pada jasa paket.

Akhirnya aku sampai di rumah Anin. Anin menerimaku dari kurir. Dia senang mendapatkan makanan yang dijanjikan. Temannya itu mengirim makanan yang menjadi ciri khas tanah kelahirannya, Semarang.

Anin segera membuka. Raut wajahnya menampakkan curiga. Hidungnya kembang kempis. Tapi apa yang terjadi saat Anin bersuka cita membuka bungkus yang melindungiku? Anin hanya memandangku tak mengerti, tak berbuat apapun, dia terkaget-kaget. Untunglah dia bukan penjijik. Setelah itu lebih banyak terpekur. Mungkin dia mengasihani aku yang susah-susah dibeli tetapi tidak lagi berguna. Apa yang telah dilakukan temannya sungguh terlalu. Barangkali itu yang ada dalam benaknya. Dengan berat hati dia membawaku yang masih dalam bungkus menuju ke tempat sampah. Lalu...

Bruk!

“Sungguh keterlaluan, Lala. Memberiku bandeng presto penuh belatung. Jadi ini yang dia maksud makanan khas?” umpatnya “Untung Lala juga memberiku novel,” tambahnya dengan tangan kanan membawa novel yang sedang dibaca. Lalu segera berlalu dari tong sampah

Aku menangis dengan tubuh penuh lubang di sana sini. Apakah tangisku juga tangismu?

@@@

Catatan: Dunak: bakul besar terbuat dari anyaman bambu.

Cerpen ini memenangi Lomba Menulis Cerpen Dalam Rangka Memperingati Bulan Bahasa Tingkat Kota Semarang 2023 oleh MGMP Bahasa Indonesia SMP, tema: “Semangat Pemuda dalam Bulan Bahasa”, sebagai juara 1.

  

Selasa, 15 Agustus 2023

Bir

Ini minuman bir bukan sembarang bir. Apalagi kau bandingkan dengan bir yang bisa memabukkan seperti dijual di pasaran. Kehangatan yang ditimbulkan justru membuat badan segar. Terlebih kasiatnya. Rasanya agak pedas, tapi tak seperti cabe karena terbuat dari sejumlah rempah seperti jahe, sereh, dan entah apa lagi─untuk itulah sedang kukejar resep dan cara membuatnya─tentu saja gula sebagai pemanis. Kalau kau tertarik, aku pun merayu Mamak untuk memberinya resep. Aku yakin kau tak dapat menemukannya di toko online yang katanya tak pernah menolak permintaan. 

Azan Asar berkumandang beberapa waktu lalu. Aku terduduk di bangku panjang teras tanpa sepengetahuan pemilik rumah. Tak sulit membuka selot pintu pagarnya. Siapa pun dapat masuk dengan mudah. Ditambah pagarnya yang pendek terkesan pemiliknya tak menjaga jarak dengan para tetangga dan mudah diajak berkomunikasi. Saking akrabnya kami memanggilnya Mamak, sebagaimana anak-anaknya memanggilnya. Apalagi serangkaian tanaman berbunga semarak mengelilingi pagar. Yang tidak berbunga pun ditata sedemikian rupa. Semua menarik dipandang mata. Rumah yang asri, terjaga pula kebersihannya.

Cahaya matahari masih menyengat, belum satu pun anak kos yang tinggal di rumah ini kembali bekerja. Sengaja aku tak masuk walau pintunya terbuka, sebagai privilese aku bersedia menemani dan menyambanginya. Kubiarkan diriku menunggu di luar. Aku sengaja datang seawal ini karena sedang kedapatan tamu bulanan sehingga tidak terikat jadwal salat Asar. Tapi tujuan utamaku: menjadikannya salah tingkah.

Dengan demikian, aku telah menanam investasi dan setelah investasiku terkumpul, aku akan mengambilnya. Apalagi kalau bukan memintanya memberikan resep membuat bir. Itu trikku, untuk merubuhkan pendiriannya yang kukuh, hanya memberikan minuman bir yang sudah jadi dalam kemasan botol sirup kepada yang meminta. Dan aku yakin, aku akan memenangkan perseteruan ini. Inilah saatnya aku beraksi, merealisasikan hasrat yang sudah setahun terpendam, tepatnya sejak pandemi melandai.

Memang tidak libur seratus persen sebagaimana siswa. Terlebih libur akhir tahun ajaran, saatnya sekolah mencari peserta didik baru. Tapi kami bekerja hanya setengah hari, berbeda saat mengajar, sore hari baru selesai. Tidak saja kesiapan dari diriku sendiri, semesta kiranya ikut mendukung. Ada kenalan, tetangga kampung yang kesripahan dan mengundang siapapun yang punya waktu untuk tahlil. Di kampung ini, tahlil dan pengajian dilakukan sehabis magrib. Sore hari, ibu-ibu rumah tangga sibuk merampungkan pekerjaan rumah, apalagi yang bekerja. Ketika tadi malam begitu ada pengumuman undangan tahlil─aku yang jarang mengikuti acara kampung, termasuk menalihkan orang meninggal─tiba-tiba mendatangi rumahnya dan menawarkan diri mengajaknya pergi tahlil bersama, Mamak seperti mendapat undian arisan. 

Kendati tanpa aku dia tetap berangkat, tapi jalan bersama teman bagi orang tua pastilah lebih nyaman, setidaknya ada yang diajak mengobrol saat di jalan. Kebetulan saat ini aku terbebas dari kesibukan sehari-hari. Dan aku akan membersamainya hingga hari ke tujuh atau menurut perhitungan: tahlil akan berlangsung sebanyak enam hari.

“Lho kok duduk di luar?” sapanya penuh atraktif sambil membetulkan kerudung instannya agar nyaman dipakai, begitu keluar mendapatiku duduk dengan senyum-senyum. “Pintunya sengaja Mak buka.”

“Ah, nggak pa pa, Mak,” jawabku melegakan hatinya. “Sambil cari angin.” Tapi tetap saja dia merasa sungkan: pertama karena ditunggu, kedua kenapa aku tidak masuk layaknya seorang tamu.

Sebagaimana aku yang tidak suka basa basi karena tak nyaman datang di sebuah acara datang terlambat, dia pun punya pikiran sama, kami gegas berangkat. Dengan baju gamis marun senada warna kerudung, jalan Mamak masih sigap. Kubayangkan berjalan bersama nenek jika saja beliau masih hidup. Dalam usia Mamak yang sudah uzur memiliki tubuh sehat pastilah harta berharga.

 “Mak... ajari saya bikin bir. Mak kan ahlinya di kampung ini,” pintaku giliran bicara setelah panjang lebar dia mengatakan sebelum berangkat tadi menerima telepon dari cucunya perihal keadaannya.

Tanpa menjawab dengan kata-kata. Dia senyum-senyum.

“Mak senyum-senyum, berarti Mak bersedia. Kapan Mak, hari dan jamnya. Kebetulan saya lagi tidak mengajar. Piket saja, siang hari sudah pulang,” tambahku.  

                                                                              

                                                                       gambar: kompas.id

Sekali lagi Mamak hanya menanggapi dengan senyum-senyum. Hingga langkah kami keluar kampung menuju kampung tetangga yang kesripahan. Kami bertemu jamaah lain. Tentu saja aku tahu diri, berjalan mengiringi mereka di belakangnya. Mungkin hanya aku yang masih muda.

Apakah kau sependapat bahwa usahaku berbuah manis? Aku sudah jelaskan setiap hari aku punya banyak waktu lowong. Itu berarti aku memang sangat ingin bisa membuat minuman khas itu. Berbeda dengan pengalaman ibu-ibu yang aku dengar. Beberapa di antara mereka memohon kepada Mamak. Tapi tak satu pun permohonannya ditanggapi. Mungkin karena menurut Mamak, permintaannya itu hanyalah iseng, maka Mamak tak perlu menanggapi dengan serius pula. Berbeda dengan aku, menyediakan waktu khusus, menemaninya tahlil hingga berhari-hari. Kalau pun tidak praktik, setidaknya Mamak bersedia memberikan resepnya, sepuluh jenis rempah ditambah gula pasir, itu keterangan yang diberikan kepada ibu-ibu untuk membuat bir. Tapi sepuluh jenis rempah itu apa saja dan bagaimana cara membuatnya, Mamak tak pernah membeberkan. 

“Orang-orang kuno” termasuk nenekku yang tak pernah kutemui─begitu Mamak mengistilahkan orang-orang sebelum dan seangkatannya─biasa membuat minuman bir. Tentu saja tidak termasuk ibuku yang meninggal saat melahirkanku dan ayah menyusul beberapa tahun lalu setelah sekian lama hidup berdua denganku. Sehingga aku tak tahu menahu tentang bir kecuali saat pandemi menimpa. Banyak orang kembali pada obat tradisional untuk menghalau virus itu, Mamak tak mau kalah. Sebagai satu-satunya generasi orang kuno yang masih hidup, Mamak membagikan minuman rempah yang lain dari yang lain termasuk yang dijual di kedai-kedai minuman: bir.

Bir dibuat untuk menyamai minuman anggur atau wine dari Eropa. Terasa hangat saat diminum, tetapi tidak memabukkan sebagaimana minum minuman keras. Bukankah orang-orang Eropa juga ada yang tinggal di Semarang, zaman itu? Jadi wajarlah kalau orang-orang kuno Semarang juga ingin memiliki minuman yang bisa menghangatkan badan. Kami pun manggut-manggut mendengar keterangan Mamak.

Minuman yang hangat dan lain daripada yang lain itu diberikan Mamak dalam ceret. Kami menuangkannya panas-panas ke dalam gelas-gelas. Saat itu ada dapur umum. Berpengaruh atau tidak bir, yang jelas seluruh warga kampung tidak ada yang tertular virus COVID-19. Merasakan efeknya yang membuat badan menjadi hangat dan segar, kami ketagihan padahal Mamak tak lagi membuat seiring pandemi melandai dan tak ada dapur umum. Satu dua ibu meminta resep agar tak merepotkan Mamak. Akan tetapi, Mamak tak pernah memberikan. Tahu-tahu, beberapa hari kemudian, sebotol bir diberikan kepada yang meminta.

Tapi tidak dengan aku. Apa yang tidak bisa buatku. Pedagang es gempol, yang sangat tertutup, bisa kuulik kemudian memberikan resepnya. Pedagang gulai kambing yang kuahnya tidak kental tetapi juga tidak encer, dan itu sangat aku suka, ketika aku tanya resepnya, juga memberikan. Begitupun pedagang makanan dan minuman lain, tak pernah membuatku kecele demi memenuhi kegemaranku memasak masakan nusantara. Maka pada waktu longgar kali ini kumanfaatkan membuat bir. Supaya aku dapat merasakan kembali sensasi aneka rempah yang terasa hangat dan segar itu.

Hari kedua kembali aku samperi rumahnya. Kutagih janjinya. Aku tidak boleh gagal.

“Iya, tenang saja,” jawabnya seperti biasa sambil senyum-senyum.

Aku tetap tidak terima ketika dia mengatakan bahwa apa gunanya bir bagi orang muda semacamku. Bukankah banyak pilihan minuman modern dijual di supermarket? Kujawab aku tetap bersikeras Mamak mengajariku membuat bir. Justru bir tidak dijual aku ingin bisa membuatnya sendiri. Aku rindu minum bir.

Hari ketiga kupaksa Mamak untuk menuliskan di secarik kertas sepulang tahlil. Aku sengaja tidak menyodorkan gawai yang lebih praktis era digital saat ini. Lagi-lagi Mamak hanya senyum-senyum.

“Kalau Mamak tidak ada waktu sekarang, boleh kertas dan pulpen ini disimpan. Besok kan kita masih ketemu. Lalu berikan saya,” ungkapku merasa sungkan bernada memerintah orang tua.

“Iya, iya, Mamak janji, tapi tidak besok. Hari terakhir setelah acara tahlil selesai,” janjinya sebelum kami berpisah. Kali ini aku yang senyum-senyum.

Nyes! Akhirnya aku akan mendapatkan resep minuman yang satu kampung ini gagal mendapatkan. Sebotol bir akan selalu tersimpan di kulkas, tanpa bergantung kepada orang lain. Saat ingin menikmati, aku tinggal menuangkan secukupnya di gelas lalu menambahkan air panas. Hm, minuman rasa rempah yang hangat, sedikit pedas, manis, ah pokoknya tiada duanya.

Hari keenam. Itu berarti tahlil terakhir untuk yang meninggal. Sepulang tahlil, seperti yang dijanjikan, aku dipersilakannya masuk, duduk di ruang tamu. Kupandangi satu dus makanan, puncak rasa terima kasih dari yang punya hajat, setelah berhari-hari selalu memberi dua kue dalam plastik mika. Kupastikan berisi roti dari nama toko tertera. Andai resep itu diberikan tiga hari lalu saat aku menyodorkan kertas dan pulpen, pasti nanti malam aku dapat menikmati roti ditemani minuman bir yang hangat. Ah, segera kutepis pikiran “andai”. Sebab aku dapat membuatnya sepulang dari sini.

Tidak lama waktu berselang, berdiri seseorang di depanku. Sambil senyum-senyum, tanpa rasa bersalah dia berkata,

“Ini, dibawa, tinggal menikmati. Tak usah sungkan.”

Kusambut sebotol bir dengan senyum memaksa.

Matahari meredup mengantar kepulanganku. Jadi, apakah kau mengira, aku telah mengganggu privasinya?

@@@

Cerpen ini pernah terbit di kompas.id, Kamis 10 Agustus 2023