Iis Soekandar: November 2021

Kamis, 25 November 2021

Koleksi Skuter Adi

                                                                                       

       Tin! Tin! Tin! Terdengar bunyi klakson skuter Adi. Skuter atau otoped merah itu terus melaju. Setiap kali skuter itu melambat, Adi kembali mengentakkan kaki kanannya beberapa kali ke tanah. Setelah itu, kaki kanannya naik lagi ke atas bilah tempat kaki. Skuter pun kembali melaju cepat. Kedua tangan Adi memegang setang agar seimbang. Sesekali ia membunyikan klakson.

       Adi memang suka bermain skuter. Ia punya beberapa koleksi skuter. Ada yang remnya di atas roda, ada juga yang di sebelah setang. Ada yang berwarna merah, biru, hitam, dan krem. Biasanya Adi mengendarai skuter yang memiliki keranjang di depan.  Bila haus, Adi tinggal mengambil botol minuman di keranjang itu.

       Suatu sore, Adi menunggu Bagas datang. Bagas juga suka bermain skuter, tetapi ia hanya punya satu skuter. Mereka selalu bermain di halaman rumah Adi yang luas. Di sisi kiri, kanan, dan belakang rumah Adi, terdapat tanah kosong. Sehingga mereka bisa mengitari rumah dengan leluasa.

       “Di, sudah menunggu lama ya?” sapa Bagas yang datang dengan skuternya.

      “Lumayan! Ayo, kita langsung main!” ajak Adi tak sabar, sambil membuka pintu pagar. Ia ingin segera kebut-kebutan.

       Mereka bermain skuter bersama. Terkadang Bagas berada di depan, lalu Adi berusaha mengejar. Adi pun berada di depan. Gantian, Bagas berusaha mengejar. Sesekali mereka melaju beriringan. Bunyi klakson terdengar berkali-kali. Suasana menjadi semakin seru.

       Ketika mereka sedang asyik bermain, tiba-tiba Dika datang. Dika tetangga mereka juga. Dari luar pagar halaman, Dika senang melihat Adi dan Bagas bermain skuter. Sayangnya, Dika tidak punya skuter.  

            Setelah lama bermain, Adi dan Bagas kelelahan dan kehausan. Mereka berhenti sejenak untuk minum dan istirahat. Dika yang awalnya hanya menonton, lama kelamaan tak tahan lagi ingin mencoba bermain skuter juga.

                                                                                 
ilustrasi: Bobo

       “Adi ... Mmm, apa aku boleh... mencoba skutermu sebentar?” pinta Dika.

       “Pakai skutermu sendiri saja. Kenapa pinjam skuterku!” omel Adi.

       “Aku tidak punya skuter,” jawab Dika sedih.

       “Beli sendiri, seperti aku. Minta pada ayahmu,” sambung Bagas.

       “Kata ayahku, belum punya uang untuk beli skuter,” kata Dika lagi.

         Mendengar jawaban Dika, Adi jadi tidak tega.

       “Kalau begitu, masuklah! Nanti aku pinjamkan sekuterku,” kata Adi,  lalu mengambil skuter lain dari garasi. Ia lalu meminjamkannya kepada Dika.

       Kini mereka bermain bertiga. Tidak tidak hari mulai petang. Bagas dan Dika pamit. Dika sangat berterima kasih pada Adi karena telah dipinjami skuter.

@@@

       Suatu sore seperti biasa,  Adi bermain skuter. Ia mengitari rumah sambil menunggu Bagas. Namun, hingga pukul setengah lima Bagas tidak datang. Kemarin sore, Bagas juga tidak bermain skuter di rumahnya. Beberapa saat kemudian asisten rumah tangganya lewat. Adi segera memanggilnya.

       “Mbak Irah! Mbak Irah! Bagas ke mana, ya? Dua hari ini dia tidak kelihatan,” tanya Adi.

       “Bagas pergi berlibur ke rumah kakek neneknya di desa sejak Sabtu kemarin. Nanti malam baru pulang. Papanya beli mobil baru. Jadi, rencananya mereka akan jalan-jalan setiap akhir minggu,” jelas Mbak Bi Irah.

       Adi manggut-manggut sedih. Ia meletakkkan skuternya begitu saja di halaman, lalu   duduk di teras. Wajahnya terlihat sedih. Ia punya banyak skuter. Namun, tidak seru bila bermain sendiri. Adi tidak punya kakak atau adik. Ia anak tunggal. Itu sebabnya, ia sering kesepian bila tidak ada teman bermain.

            “Sekolah Bagas memang libur pada hari Sabtu. Sekarang, keluarga Bagas punya mobil baru. Kakek dan Nenek Bagas tinggal di desa. Jangan-jangan, Bagas akan  ke luar kota setiap akhir pekan,” pikir Adi sedih.

                                                                                     

ilustrasi: Bobo

Tiba-tiba Adi ingat Dika. Sore itu juga, Adi datang ke rumah Dika. Adi ingin mengajaknya bermain skuter. Saat Adi tiba, Dika sedang bermain bersama Fiki, adiknya yang berusia tiga tahun. Mereka sedang bermain petak umpet.

       “Eeeh, Adi! Ada apa, Di?” tanya Dika heran. Dika agak malu karena rumahnya sangat  sederhana. Berbeda dengan rumah Adi yang besar dan megah.

       “Kamu kenapa tidak bermain ke rumahku lagi, Dika?” tanya Adi.

       “Aku tidak punya skuter,” jawab Dika. “Aku malu kalau pinjam skuter kamu lagi. waktu itu, aku pinjam karena sudah ingin sekali mencoba main skuter.”

       “Tidak usah malu, Dika. Ayo, main ke rumahku. Ajak saja Fiki sekalian. Aku masih simpan skuter roda empat yang aku pakai waktu aku masih balita. Ada musiknya juga. Skuter itu cocok buat Fiki. Fiki pasti senang,” jelas Adi. Fiki yang mendengar pun senang.

       Mereka pun bergegas ke rumah Adi. Kini tidak hanya Adi dan Dika, Fiki juga setiap sore bermain skuter di tempat Adi. Kini Adi mengerti bahwa berbagi itu membuat hati menjadi bahagia

@@@

Cernak ini pernah terbit di majalah Bobo, 18 November 2021


 


Kamis, 18 November 2021

Kegigihan Pak Suryana

                                                                                  

          Pak Suryana tinggal di Kota Sidomaju. Beberapa hari lalu, toko kelontongnya yang berada di pasar terbakar. Semua barangnya ludes dimakan api. Dia bingung tidak mempunyai pekerjaan.  Pak Suryana tidak mempunyai ijazah dan keterampilan apapun untuk bekerja di kantor. Hanya berdagang yang bisa dia lakukan.

           Akan tetapi, Pak Suryana tidak berdiam diri. Pak Suryana mencari sesuatu untuk dibaca. Dengan banyak membaca, biasanya dia mendapatkan ide-ide cemerlang. Dia membaca-baca surat kabar dan majalah yang dulu pernah dibeli.

          "Pak Suryana, mengapa malah sibuk membaca? Mengapa tidak mencari pekerjaan?” tanya Pak Dadang kepada Pak Suryana yang sedang membaca majalah di teras rumah.

Pak Suryana mengenal Pak Dadang di pasar tempatnya berdagang dulu. Toko kain milik Pak Dadang juga terbakar.

          "Ke mana aku harus mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang? Aku tidak punya keahlian apa-apa sebagai pegawai kantor. Bekerja sebagai kuli angkut juga tidak mungkin, karena semua toko di pasar kan terbakar!"

         "Apakah mencari uang harus punya keahlian? Dengan meminta belas kasihan orang lain, aku mendapatkan uang. Mereka iba karena aku sedang terkena musibah kebakaran," jawab Pak Dadang.

         "Aku tidak mau meminta-minta. Pergilah kalau kau ingin meminta belas kasihan orang lain," jawab Pak Suryana, lalu melanjutkan membaca.

                                                                                  

             ilustrasi: Bobo

Pak Suryana masih memiliki persediaan uang. Dia yakin, sebelum uangnya habis, dia pasti mendapatkan ide-ide untuk memperoleh pekerjaan. Pak Dadang pun pergi dengan memakai pakaian compang-camping agar dikasihani orang lain.

@@@

     Setelah membaca banyak majalah dan surat kabar, Pak Suryana menemukan ide. Keesokan harinya, setelah berpamitan dengan istri dan anaknya, Pak Suryana pergi. Dengan sisa uangnya, Pak Suryana mendatangi seorang penjahit.

     "Pak, apakah aku boleh membeli kain perca di sini?" tanya Pak Suryana kepada pemilik penjahit itu.

       “Mengapa Bapak membeli kain perca?” tanya penjahit itu ingin tahu.

       Pak Suryana menceritakan tokonya yang terbakar. Sekarang, dia tidak punya pekerjaan. Dia akan membuka usaha dengan memanfaatkan kain perca untuk membuat kerajinan tangan. Kain perca harganya jauh lebih murah dibanding kain meteran. Mendengar cerita Pak Suryana, penjahitit itu merasa iba. Ia senang Pak Suryana tidak berputus asa dan akan membuka usaha.

"Kalau begitu Bapak tidak usah membeli. Silakan ambil semua kain percaku! Kain itu sisa dari kain pelangganku dan tidak terpakai. Kalau kain perca itu nanti habis, jangan segan datang lagi kemari. Pasti kain percaku sudah terkumpul kembali," jelas penjahit.

Tentu saja Pak Suryana senang mendengarnya. Pak Suryana pun mengambil semua kain perca yang ada.

Sampai di rumah, Pak Suryana membuat pola. Pak Suryana menemukan ide membuat sepatu bayi berbahan kain perca. Lalu dipotonglah kain-kain itu sesuai pola. Pak Suryana memotong kain satu motif. Kadang dia memadukan dua motif yang serasi. Jika kebetulan kainnya polos, Pak Suryana memberi hiasan kancing-kancing di atasnya. Atau menempel motif bunga dari kain lain.

Setelah memotong alas dan kerudungnya, dijahitlah dengan tangan bagian pinggir hingga menjadi sepatu bayi. Dengan dibantu istrinya, Pak Suryana membuat sepatu bayi sampai semua kain perca habis.

                                                                                 

                                                                          ilustrasi: Bobo

Setelah jadi sepuluh pasang sepatu, istrinya menjajakan di pinggir jalan raya. Pak Suryana kembali meminta kain perca pada penjahit, lalu membuatnya menjadi sepatu bayi lagi. Begitu hingga berkali-kali. Ternyata, sepatu bayi buatan Pak Suryana banyak yang suka. Di samping motif dan modelnya lucu-lucu, harganya pun murah bila dibanding yang dijual di toko.

Karena usahanya dari hari ke hari semakin maju, lambat laun Pak Suryana dapat membeli mesin jahit. Kini, Pak Suryana tidak lagi menjahit dengan tangan. Karena pesanan dari hari ke hari banyak, Pak Suryana membeli kain meteran. Tidak hanya itu, Pak Suryana juga menolong teman-temannya menjadi karyawannya. Mereka tidak lagi meminta-minta seperti dulu. Berkat kegigihannya, Pak Suryana memiliki toko khusus menjual aneka sepatu bayi dengan model dan motif yang lucu-lucu.  

@@@

Cernak ini pernah terbit di majalah Bobo, 14 Oktober 2021