Iis Soekandar: 2026

Jumat, 16 Januari 2026

Taman Renang Alam Umbul Sidomukti

                                                                                       

Akhir-akhir ini hujan turun intens, dari pagi hingga malam. Kalau pun reda, hanya sesaat. Matahari muncul sesekali. Bahkan seringkali berhari-hari tidak menampakkan wajahnya. Sebagai orang-orang yang tinggal di kota, kami sehari-hari bergumul dengan kesibukan, lalu lintas padat penyumbang polusi napas dan mata, lahan hijau terbatas karena bangunan-bangunan berimpitan. Maka pergi ke pedesaan melihat pemandangan alam sangatlah perlu.

Pilihan saya dan rombongan jatuh ke Kawasan Wisata Alam Umbul Sidomukti. Kawasan Wisata Alam Umbul Sidomukti terletak di Jimbaran, Bandungan, Kabupaten Semarang. Tempat ini ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar satu tengah jam dari Kota Semarang.   

Kawasan Wisata Alam Umbul Sidomukti menyajikan beberapa tempat wisata. Untuk memasuki pintu gerbang utama, setiap wisatawan dikenai biaya Rp5.000,00, ditambah parkir kendaraan. Kemudian wisatawan akan memilih tempat wisata. Sebelum masuk tempat wisata wisatawan dikenai biaya lagi. Setiap tempat wisata berbeda tarip. Saya dan rombongan memilih tempat wisata Taman Renang Alam. Kami membayar Rp20.000,00 per orang karena bertepatan akhir pekan, begitupun jika bepergian pada hari libur nasional. Sedangkan hari biasa wisatawan membayar per orang Rp15.000,00, anak di bawah 85 cm gratis, jam operasional dari 08.00-18.00 WIB.

                                                                             

jasa sewa kuda

Di sepanjang jalan menuju kolam renang, ada taman-taman menarik untuk spot-spot foto. Saatnya menghirup udara segar dan pemandangan hijau, kata saya. Wisatawan yang ingin naik kuda, disediakan jasa sewa kuda. Ada beberapa pilihan tempat tujuan. Taripnya menyesuaikan, tergantung jauh dekat jarak yang ditempuh.

Waktu menunjuk pukul 13.00 ketika saya dan rombongan sampai di arena kolam renang. Selain kolam renang, ada kafetaria, toko suvenir dan pusat informasi, dan tempat solat representatif. Tempatnya bersih dan air melimpah. Kami salat bergantian.

Spot-spot foto di arena kolam renang didominasi pemandangan berlatar belakang tebing dan lembah. Sayang, pemandangan tertutup kabut.

Tampaknya ruang utama kafetaria sedang disewa. Mungkin mereka tergabung dalam satu komunitas. Sekilas saya melihat mereka, lelaki-perempuan, berseragam sama, atasan berwarna biru. Orang-orang berjoget di tengah, salah satu melantunkan lagu  “Koyo Jogya Istimewa”, yang popular.

                                             
                                                                                      kafetaria

Beruntung kami sudah membeli makanan dari rest area: tahu sumedang dan sukun goreng. Di samping itu, beberapa kali kami berkunjung ke tempat wisata ini, kami hafal makanan yang dijual dan memilih membawa makanan-makanan ringan dari rumah sesuai selera. Tentu saja makanan-makanan itu kami sembunyikan. Sebab ini berdampak bagi pemasukan kafetaria.

                                                                                      

                                                                         area kolam renang

Walaupun cuaca mendung, banyak pengunjung berenang, orang-orang dewasa maupun anak-anak, walaupun tidak sebanyak saat musim panas. Kebanyakan mereka dari luar Semarang. Saya menikmati jalan-jalan dan foto-foto.

Sebetulnya kami masih ingin menikmati udara sejuk pegunungan. Tapi air turun dari langit tak bisa dihindari. Gerimis mulai terasa. Waktu hampir menunjuk pukul tiga sore. Kami bergegas menuju tempat parkir, yang jaraknya bikin napas terengah-engah. Setelah itu mencari makan siang, sekalian pulang.

@@@

 


 


Jumat, 09 Januari 2026

Kupat Tahu




               Berbeda hari-hari terakhir, laiknya musim hujan, siang itu langit Magelang tak menumpahkan air. Cuaca cerah. Gerah menyelimuti badan, ingin segera menjumpai air wudu, untuk menetralisir. Setelah tamasya seputar daerah Magelang, saya dan para kerabat mampir di MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) Magelang untuk menunaikan salat Duhur. Tak seperti MAJT Semarang yang mewah, serasa salat di Masjid Nabawi, terkenal dengan payung-payung besarnya di pelataran, MAJT Magelang sederhana, hanya halamannya luas.

            Setelah salat saatnya kami makan siang. Kendaraan menembus lalu lintas yang ramai. Saya mengusulkan makan makanan khas daerah. Kebetulan salah satu kerabat punya langganan. Nahas, siang itu tutup. Saya khawatir jika mayoritas memilih makan makanan kekinian. Lewat di daerah kota, ada banyak makanan alternatif. Terlebih makanan-makanan kekinian. Syukurlah mumpung berkunjung ke sebuah daerah, kami sepakat makan siang dengan makanan khas daerah Magelang: kupat tahu atau ketupat tahu, dibanding makanan kekininan yang ada di setiap tempat, termasuk Semarang.

            Ada banyak penjual kupat tahu. Kami memilih jauh dari keramaian. Tempatnya representatif, masuk gang, cocok untuk sekalian beristirahat. Kebetulan siang itu sepi pengunjung. Kami satu-satunya rombongan pembeli. Saya bayangkan jika kami makan di kedai langganan dan di pinggir jalan, pasti banyak pembeli, apalagi jika harus duduk berimpitan.

            “Monggo nyicipi bakwan,” kata pedagang yang sedang menggoreng bakwan, wanita lansia, berkebaya, dan berkonde cepol. Wanita satu lagi muda, meracik bahan-bahan makanan

            “Nggih, Bu, maturnuwun,” jawab saya tanpa mengambil bakwan satu pun. Saya ingin menikmati kupat tahu secara utuh. Dengan makan bakwan terlebih dahulu, bakwan tidak lagi terasa spesial saat bercampur kupat tahu.

            Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya kupat tahu berada di depan mata.

            Selain ketupat dan tahu putih goreng, makanan lain dalam kupat tahu: bakwan, tauge, kol, sambal kacang rasa manis, toping bawang goreng dan daun seledri.

            Berbeda kupat tahu Semarang, kupat tahu Magelang sambal kacangnya encer. Terkesan kupat tahunya berkuah. Menurut saya, itu lebih sesuai disebut sambal kecap, kemudian dicampuri kacang tanah. Sebab kacang tanahnya tidak digerus secara halus dan menyatu dengan sambal kecap, bahkan banyak ukuran separuh biji. Akibatnya bongkahan-bongkahan kacang tanah itu mengambang di sambal kecap. Sesekali saya hanya makan kacang tanah.

            Melihat makanan-makanannya yang lengkap: ketupat, tahu, sayuran, kupat tahu cocok disantap sebagai makanan utama, saat perut lapar. Apalagi ditambah kerupuk. Saya menghabiskan sambal kecap saat ketupat dan makanan-makanan lain sudah habis dengan kerupuk. Sepiring kupat tahu habis dengan membayar lima belas ribu rupiah. Sebagai bekal kami tamasya ke tempat berikutnya.

@@@