Iis Soekandar: Tak Seperti Dilihat Mata

Kamis, 15 Oktober 2026

Tak Seperti Dilihat Mata

                                                                                               

gambar: Canva

             Karnaval sudah selesai. Semua peserta karnaval menuju Lapangan Simpang Lima, sebagai pusat kegiatan. Sinar matahari membakar kulit. Tapi penononton masih memadati kiri-kanan Jalan Pemuda, tempat diadakan pembukaan MTQ XXXI, beberapa waktu lalu. Kecuali para tamu undangan, yang umumnya para pejabat dan tokoh masyarakat.  Kursi-kursi bersarung satin putih, di bawah tenda itu, sebagian besar kosong. Hanya beberapa diduduki anak-anak kecil dan para orang tuanya. Mereka adalah warga yang ikut memeriahkan acara pembukaan dan karnaval.

            Saya lewat depan Lawang Sewu menuju halte. Halte terdekat masih ditutup karena hajatan tersebut. Pedagang es potong menghentikan langkah saya. Lima ribu, Pak, kata saya saat pedagang bertanya berapa rupiah saya membeli. Lalu ia memotong es potong rasa vanilla, sesuai harga. Dingin es potong melegakan kerongkongan lalu saya kembali berjalan.

            Begitu saya membelok arah kiri, wanita lansia berkebaya, di pinggir jalan, dari jauh memperhatikan saya. Di sebelahnya seorang remaja putri, nangkring di atas motor. Di boncengan kendaraan ada anak kecil.

            Minta uang sepuluh ribu, pinta wanita lansia itu setelah mendekati saya. Seakan saya anggota keluarganya.

            Maaf, saya tidak punya, jawab saya lalu kembali melangkah.

            Saya terus berjalan. Tapi pikiran saya tidak berhenti memikirkan mereka. Penampilan mereka layaknya pelancong. Mungkin mereka bagian dari penonton karnaval. Pantaskah mereka mengemis? Selayaknya mereka membawa bekal uang jika tiba-tiba kendaraan rusak, misalnya. Atau bensin habis. Atau mereka butuh makan dan minum. Atau kebutuhan pribadi lain.

            Apakah mereka tidak berpikir bahwa uang sepuluh ribu itu amat berarti bagi saya? Dan saya memerlukannya. Uang saya tinggal sepuluh ribu dan saya butuh nasi rames. Kalau pun saya punya uang lebih, mungkin saya akan berpikir ulang untuk memberikan kepada orang yang dari penampilannya tidak layak mengemis. Lebih baik uang itu saya berikan pengemis.

            Dasar orang tidak tahu malu! Saya mengakhiri lamunan begitu bus arah jurusan saya inginkan datang.

@@@


Tidak ada komentar:

Posting Komentar