Iis Soekandar: 2021

Jumat, 15 Oktober 2021

Tiktik dan Kuskus

                                                                                   

        Tiktik dan Kukus adalah jenis tikus rumah yang selalu rukun. Tubuh mereka kecil dan berbulu hitam. Ekor mereka panjang. Mereka seringkali bermain dan mencari makan bersama. Jika salah satu dari mereka tidak mendapatkan makanan, yang satunya pasti akan berbagi. Mereka juga saling memberi tahu jika menemukan sumber makanan.

Mereka biasa tinggal di dekat tempat-tempat sampah. Terutama di sekitar tong sampah keluarga Ruly. Keluarga Ruly sering membuang sisa-sisa makanan yang rasanya enak bagi Tiktik dan Kuskus.  Jika suasana sepi, mereka juga masuk di rumah-rumah orang lain.

            “Enak ya nasinya. Cuma makan nasi dengan bumbu sudah enak. Bumbunya pedas, manis, seperti banyak rempahnya,” ungkap Tiktik sambil melahapi sisa-sisa nasi di kotak kardus.

Sementara Kuskus makan nasi di kotak kardus lain. Kuskus tak kalah lahap menghabiskan makanannya. Kardus-kardus itu bergambar rumah Minangkabau.

            “Ini namanya nasi spesial. Hm, ini apa, ya? Wah, ternyata daging. Aku dapat daging!” sorak Kuskus senang sekali.

            “Oya? Kamu beruntung sekali. Tadi aku cuma makan nasi, bumbu, dan sayur,” jawab Tiktik setengah iri.

            “Mau cicip? Ini aku bagi,” ujar Kuskus. “Nih!” Tanpa berpikir panjang Kuskus memberi sebagian daging yang masih tersisa. Dipotongnya daging secuil itu dengan giginya.

            Tiktik langsung menyantap daging pemberian Kuskus.

            “Wah, dagingnya rasanya juga enak, banyak bumbunya.”

            Saat sedang asyik makan...

            Bruk!

            Terdengar bunyi mengejutkan. Mereka langsung melompat sembunyi di balik sampah-sampah lain. Ternyata, mama Ruly baru saja membuang kulit nangka muda dan sampah bahan-bahan makanan lain. Setelah keadaan aman, Tiktik dan kuskus melanjutkan makan lagi hingga selesai.

            Selesai makan mereka bermain petak umpet. Terkadang Tiktik bersembunyi di balik tong sampah, lalu Kuskus mencari. Begitupun sebaliknya. Siang hari manusia sibuk bekerja. Mereka bebas bermain petak umpet. Kebetulan tong sampah milik keluarga Ruly bersebelahan dengan tetangga sebelahnya.

            Tidak lama, mereka melihat Ruly pulang sekolah, dijemput mamanya. Mama Ruly lalu pergi lagi. Ruly terlihat membawa bungkusan. Tiktik dan Kuskus mencium aroma roti yang lezat.

                                                                                    

                                                              ilustrasi: majalah Bobo

              “Ayo, kita masuk rumah Ruly. Siapa tahu dapat sisa roti!” ajak Kuskus.

            “Mana mungkin kita masuk ke rumahnya. Lihat, pintu rumahnya langsung ditutup begitu Ruly masuk,” jelas Tiktik.

            “Kita tidak lewat pintu depan, nanti ketahuan. Tapi lewat selokan,” saran Kuskus.

            “Baiklah,” jawab Tiktik dengan bersemangat.

            Keduanya langsung berjalan masuk selokan. Selokan itu menghubungkan saluran depan dengan bagian belakang rumah Ruly.

            “Wah aroma rotinya lezat. Ruly berada di dalam kamarnya. Rotinya sisa enggak ya?” tukas Tiktik. Mereka sudah berada di dapur.

            “Walaupun rotinya tidak tersisa, kita bisa melumati bungkusnya,” kata Kuskus.

            Tiba-tiba...

            “Aku pesan isi stroberi, malah diberi isi keju!” ungkap Ruly jengkel.

            “Asyik, kita dapat bagian roti isi keju. Aku dengar, baru saja Ruly membuang rotinya di tong sampah kamarnya,” ungkap Tiktik senang.

            “Tapi kita harus berhati-hati masuk kamarnya,” cegah Kuskus.

            “Ruly, buang makanan di tong sampah belakang. Jangan di kamar, nanti kamarmu banyak semut dan binatang  lain,” tegur Mbak Sum yang lewat di depan kamar Ruly, sambil mengepel lantai.

            “Malas keluar kamar, Mbak,” ungkap Ruly malas-malasan.

Setelah itu, Ruly tertidur. Akhir-akhir ini, mama sering membantu toko kelontong papa. Jika toko kelontong papanya banyak pembeli, mama selalu membantu. Begitulah Ruly kalau tidak ada mamanya. Ia sering makan di kamar dan tidak mau membuang sampahnya di luar kamar.

            Dengan mengendap-endap, Tiktik dan Kuskus berhasil masuk di kamar Ruly, lalu melompat masuk ke dalamnya.

            “Wah, enak ya, makan roti keju,” ungkap Titik sambil menikmati roti berisi keju berbentuk bulat.

            “Iya,  roti enak begini Ruly tidak mau,” kata Kuskus.

            Tidak terasa, mereka makan sisa roti dan telah habis. Kini, kedua tikus itu keluar kamar dengan berhati-hati. Mereka melewat selokan menuju ke luar rumah. Kemudian mereka kembali ke dekat tong sampah.

@@@

ilustrasi: majalah Bobo

Suatu saat, seperti biasa Tiktik dan Kuskus masuk kamar Ruly mencari sampah makanan. Ketika mereka sedang mengais makanan di keranjang sampah, Ruly bangun dari  tidurnya karena akan ke kamar mandi. Ketika melihat sesuatu bergerak di keranjang sampahnya dan terdengar bunyi ciiiit....ciiit...

            “Toloooong... toloooong... ada tikuuuus....!” Ruly seketika berteriak keras.

            “Gawat, kita ketahuan. Ayo lari!”

            “Jadi, kamu suka buang makanan di keranjang sampah kamar?” tanya mamanya kaget ketika ada tikus di kamar Ruly.

            Ruli terduduk merasa bersalah. Semenjak itu, Ruly tidak pernah lagi membuang sisa makanan di keranjang sampah kamarnya. Ia juga rajin membersihkan kamarnya. Tiktik dan Kuskus tidak pernah lagi masuk kamar Ruly karena tidak ada aroma makanan di dalamnya.

@@@

Cernak ini pernah terbit di majalah Bobo, Kamis 7 Oktober 2021



Rabu, 04 Agustus 2021

Galih dan Baki Sakti

                                                                                       


            Sore itu, Galih disuruh membeli beras oleh ibu di warung. Kebetulan persediaan beras di rumah habis. Ibu belum sempat pergi ke pasar.

            “Beli beras tiga kilo, Bu Min!” pinta Galih. Bu Min, pemilik warung, sedang menimbang gula.

            “Tunggu sebentar, Galih,” jawab Bu Min sambil menyelesaikan timbangan gula setengah kilo. Di sebelahnya sudah ada beberapa bungkus gula pasir ukuran setengah kilo.

            “Lih, ternyata kamu juga belanja di warung,” sapa Andi di balik masker wajahnya, tiba-tiba sudah berada di sebelah Galih.

            Galih dan Andi teman sekelas. Mereka sama-sama sedang disuruh ibunya membeli sembako. Galih merasa kebetulan bisa bertemu dengan teman sekelas sekaligus tetangganya itu. Dia bisa menyampaikan keluh kesah yang dirasakan wali kelasnya, Bu Ning. Sebagian teman-temannya tidak mengerjakan tugas, termasuk Andi. Galih sebagai ketua kelas.

            “Tugas-tugasmu sudah selesai, Ndi?” tanya Galih.

            “Masih ada yang kurang,” jawab Andi.

            “Bukankah besok hari Sabtu, saatnya mengumpulkan tugas-tugas satu minggu?” Galih mengingatkan.

            “Ah, tenang,” jawab Andi santai. Galih geleng-geleng kepala.

            Setelah mendapatkan beras tiga kilo dan membayar, Galih pergi. Sedangkan Andi masih menunggu Bu Min menimbang beras pesanannya.

            Seminggu lalu ketika Galih mengumpulkan tugas-tugas di sekolah, Bu Ning mengeluh. Beliau mengatakan bahwa masih ada teman-teman sekelas Galih yang malas mengerjakan tugas. Mereka ingin Bu Ning menjelaskan dan menuliskan materi di papan tulis sebagaimana di kelas. Padahal para orangtua belum menyetujui pembelajaran tatap muka.

@@@

            Galih baru saja menyelesaikan tugas sekolah ketika ibu menyuruhnya membersihkan warung. Walaupun belum dipakai lagi berjualan, setiap hari warung itu dibersihkan. Warung itu terletak di sebelah rumah. Sejak pandemi bapak tidak berjualan mi ayam di tempat. Para pembeli datang ke rumah lalu dibawa pulang. Tetapi pembeli tidak seramai dulu.

            Galih membuka pintu dan jendela warung agar udaranya segar. Setelah itu mengelap debu yang menempel di meja, kursi, dan perkakas lain dengan kemucing. Tidak lupa Galih juga mengelap baki bundar yang sengaja bapak gantung di dinding. Baki itu biasa digunakan bapak bila pembeli datang berombongan. Tujuannya agar pesanan cepat sampai ke pembeli. Sedangkan mangkuk, sendok, garpu, dan gelas disimpan di lemari. Setelah itu barulah Galih menyapu lantai.

            Ada spidol tertinggal di meja. Pasti milik Mas Bagas, kakaknya. Warung ini sering menjadi tempat belajar Mas Bagas karena mejanya panjang dan lebar. Mas Bagas leluasa mengerjakan tugas-tugas sekolah.

            Galih menemukan ide. Ia segera menghubungi wali kelasnya itu melalui android ibu. Begitu mendengar usul Galih, Bu Ning langsung menyetujui.

@@@

            Pagi itu, Galih, Andi, Lesti, Dewi, dan Bimo berkumpul di warung mi ayam bapak. Mereka sedang menunggu Bu Ning. Mereka akan belajar secara tatap muka.

            “Lih, kenapa baki itu kamu sandarkan di kotak etalase? Bukankah biasanya kamu gantungkan di dinding?” tanya Andi. Kotak etalase dulu untuk meletakkan mi dan bahan-bahan mi ayam lain.

            “Ini baki sakti,” jelas Galih.

            Tentu saja yang lain penasaran.

            Tidak lama Bu Ning datang dengan mengendarai sepeda motor.

            “Anak-anak, hari ini Ibu sengaja mengajak kalian belajar secara tatap muka. Ibu berterima kasih kepada keluarga Galih. Keluarga Galih telah menyediakan tempat ini untuk dipakai belajar,” jelas Bu Ning.

            Murid-murid tampak senang. Mereka rindu sekolah di kelas seperti dulu. Rumah mereka satu lokasi. Bu Ning sengaja mendatangi anak-anak yang rumahnya berdekatan.

            Sesekali Bu Ning menerangkan, sesekali menuliskan materi di baki dengan spidol.

            “Ternyata baki itu sebagai pengganti papan tulis,” tukas Desi dengan lirih.

            “O ... jadi itu yang kamu bilang baki sakti?” kata Andi kepada Galih.

            “Iya, selain sebagai tempat menghidangkan makanan, juga sebagai papan tulis. Maaf, Bu, saya harus menjelaskan,” ungkap Galih.

            “Tidak apa-apa, Galih. Ibu tidak kuat membawa papan tulis, anak-anak. Syukurlah, Galih memberikan ide. Jadi bagaimana, apakah kalian merasa jelas dengan tulisan Ibu di baki?” tanya Bu Ning.

            “Jelas, Bu,” jawab mereka serempak dengan senang hati.

            Tidak hanya dengan Galih, Andi, Lesti, Desi, dan Bimo, Bu Ning juga mendatangi murid-muridnya yang lain. Bu Ning meminta salah satu menyediakan baki sebagai pengganti papan tulis. Jika tidak ada, Bu Ning yang membawa dari rumah.

            Sejak itu tidak ada lagi anak-anak yang malas. Mereka rajin mengerjakan tugas-tugas berkat baki sakti, ide dari Galih.

@@@

Cerpen ini pernah dimuat di koran Kedaulatan Rakyat, Jumat 30 Juli 2021


Minggu, 01 Agustus 2021

Suvenir dari Pak Kusumo

                                                                                             

       Malam ini mama dan papa menghadiri pesta pernikahan anak Pak Kusumo. Pak Kusumo adalah teman satu kantor papa. Biasanya setiap ada pesta pernikahan, Liliana selalu ikut. Tujuannya agar bisa menikmati es krim sepuasnya. Sayang, besok ada ulangan. Liliana gagal menikmati es krim gratis.

      “Tumben Ma, ada pesta pernikahan tidak malam Minggu atau hari Minggu?” tanya Liliana heran begitu membaca undangannya kemarin.

      Baru sekali itu Liliana membaca undangan pesta pernikahan Jumat malam. Kalau tahu hajatan hari biasa, pasti sebelumnya Liliana belajar terlebih dahulu.

       “Pak Kusumo dan istrinya kan orang Jawa. Kebiasaan masyarakat Jawa, setiap akan hajatan, harus mencari hari baik terlebih dahulu. Agar hajatan berjalan dengan lancar. Hari baik itu berdasarkan tanggal dan hari lahir kedua calon pengantin. Nah, pasti setelah dihitung-hitung hari baik jatuh pada Jumat malam,” mama berusaha menerangkan.

       “Hm...,” Liliana menghela napas panjang. “Terpaksa enggak bisa makan es krim gratis,” katanya dalam hati sambil kembali ke kamar.

                                                                                  
                                                                   ilustrasi dari Bobo

      Es krim termasuk salah satu makanan kesukaan Liliana. Bila mama membeli es krim, Liliana yang banyak menghabiskan. Ia sering bertengkar dengan Kak Yesi gara-gara kakaknya itu kebagian sedikit.

      Di samping es krim, dalam pesta pernikahan biasanya dibagikan suvenir. Liliana sudah mengoleksi banyak suvenir. Suvenir yang sudah dikoleksi antara lain talenan, kaca untuk berhias, sisir, sepasang sendok dan garpu, serta masih banyak lagi. Liliana menyimpan koleksinya itu di tempat khusus berbentuk kotak terbuat dari bahan kayu yang digantung di dinding.   

       Liliana sengaja belajar di teras rumah. Kebetulan besok ulangan IPS. Kak Yesi juga suka mengoleksi suvenir. Jadi, kalau tidak menunggu mama dan papa pulang, suvenir bisa dimiliki Kak Yesi. Akan tetapi, Kak Yesi terlihat sedang serius belajar di kamarnya. Mungkin banyak tugas dan ulangan yang harus disiapkan, tebak Liliana dalam hati.

      Tidak lama, bunyi mobil terdengar. Liliana pun sudah bersiap menyambut mama dan papa.

       “Ma, suvenirnya mana?” pinta Liliana begitu mama turun dari mobil.

       “Ini,” jawab mama sambil memberikan suvenir dari dalam tasnya. Mama tahu, pasti karena Liliana tidak ingin keduluan Kak Yesi.

                                                                                          
ilustrasi dari Bobo

      Begitu mendapatkan suvenir, Liliana terheran. Ah, mungkin ini bukan suvenir, tetapi mama sengaja membawakan oleh-oleh untuknya. Liliana segera menyimpannya di lemari es bagian freezer. Lalu, ia melanjutkan belajar di kamar. Ia berjanji akan menyantapnya besok  sepulang sekolah. Liliana biasanya pulang awal dibanding Kak Yesi. Dengan demikian, ia makan seorang diri dengan puas.

       Keesokan harinya, seperti biasa papa, Kak Yesi, dan Liliana sarapan bersama.

       “Hm ... enak nasi gorengnya,” puji papa setelah menyantap beberapa sendok.

       “Iya, kali ini nasi gorengnya tidak kepedasan,” tambah Kak Yesi yang tidak suka pedas.

       “Enak, pas di lidah,” Liliana pun manggut-manggut. Tiba-tiba, Kak Yesi nyeletuk.

       “Ma, tadi malam suvenirnya apa?”

       “Es krim, sudah aku habiskan tadi malam,” potong Liliana berbohong. Tentu tujuannya agar Kak Yesi tidak meminta.

       “Es krim? Tumben, suvenir pernikahan es krim,” celetuk Kak Yesi heran.

       “Masa es krim?” mama hampir tersedak.

      “Bukankah suvenirnya handuk pink yang digulung di cup es krim transparan? Mama tahu karena sudah ada tamu undangan yang membuka di sana. Isinya handuk kecil yang dilipat-lipat. Sepintas memang seperti es krim.”

       “Jadi isinya handuk, Ma?” Liliana tak kalah heran.

       Liliana memang tidak membuka tutup suvenir itu sehingga belum tahu jelas isinya. Apalagi tadi malam ia tergesa-gesa memasukkan ke lemari pendingin. Mama pun meminta supaya suvenir yang disimpan di freezer dikeluarkan.

                                                                                       

                                                                    ilustrasi dari Bobo

     Betapa malunya Liliana ketika membuka tutup suvenir. Ternyata benar handuk kecil. Ia tidak menyangka. Apalagi warnanya pink, seperti es krim rasa stroberi, kesukaannya.

      “Ha ha ha... “sontak semua tertawa. Sementara Liliana hanya tersipu malu.

       “Tadi malam kamu makan es krim dari mana? Mimpi kali, Li,” Kak Yesi terus meledek.        Liliana hanya senyum-senyum sambil menghabiskan nasi goreng.

       “Makanya, Li, jangan suka serakah. Kamu sih suka menghabiskan es krim bagian Kak Yesi,” tambah Kak Yesi.

       “Ayo cepat, sudah jam setengah tujuh lebih!” pinta papa yang siap mengantar. Kak Yesi pun mengakhiri ledekannya.

       Di dalam mobil, Liliana membenarkan kata-kata Kak Yesi yang duduk di depan bersama papa. Coba tadi malam aku tidak buru-buru memasukkannya ke lemari pendingin, pasti sekarang tidak menanggung malu. Liliana berjanji tidak akan serakah lagi. Ia akan berbagi es krim juga suvenir dengan Kak Yesi.

@@@

Cerita ini pernah terbit di majalah Bobo, 22 Juli 2021


Minggu, 20 Juni 2021

Pergi ke Dugderan Bersama Sani

                                                              

Sani sedang bermain robot di ruang keluarga. Dia punya beberapa koleksi robot. Akan tetapi, ia selalu meminta papanya agar membelikan robot lagi.

            “Pa, pergi ke Toko Robotik, yuk!” ajak Sani. Toko Robotik adalah toko mainan anak-anak.

            “Koleksi robotmu, kan, sudah banyak, San. Ke dugderan saja, yuk! Di sana banyak mainan anak-anak yang tidak kalah menarik,” jelas papa.

            “Bosan, Pa. Mainannya jadul alias kuno,” jawab Sani.  

            Ting tong... ting tong...! Tiba-tiba bel rumah berbunyi.

            “Eh, Pak Wiryo, mari silakan masuk!” pinta mama yang membukakan pintu.

Ternyata Pak Wiryo yang datang malam itu. Pak Wiryo adalah tetangga baru. Beliau berkunjung bersama istri dan anaknya untuk berkenalan.

             “Hai, kenalkan, aku Sani,” ungkap Sani sambil mengulurkan tangan kanannya.

             “Aku Baskoro,” kata anak Pak Wiryo.

             “Sani, kamu tadi sedang bermain robot-robotan. Ajak sekalian Baskoro bermain robot-robotan koleksimu!” pinta Papa.

            “Yuk, Baskoro, kita bermain robot bersama,” ajak Sani.

            Baskoro langsung senang mengikuti ajakan Sani. Maklumlah, Baskoro masih baru di daerah itu. Dia belum memiliki teman satu pun. Dia juga tidak punya mainan robot. Ketika Sani mengambil robot di atas lemari hias, Baskoro melihat boneka menarik yang diletakkan di sebelah robot.

            “Itu boneka apa, San?” tanya Baskoro.

            “Oh, itu namanya warak,” jawab Sani.                           

            Sani mengambil boneka yang membuat tetangga barunya itu terkagum-kagum. Boneka itu berbulu keriting, kepalanya seperti naga, tetapi berkaki empat. Baskoro melihat dengan terkesima.

                                                                              

ilustrasi dari Bobo

“Warak itu aku beli setahun lalu di acara dugderan. Tradisi dugderan diadakan setiap menjelang puasa Ramadhan di Semarang. Warak adalah ciri khas atau ikon dugderan. Di sana juga ada permainan anak-anak. Dijual juga mainan anak-anak dari gerabah,” cerita Sani semakin membuat Baskoro kagum.  

            Baskoro penasaran. Dia ingin melihat tradisi dugderan seperti yang diceritakan Sani dan ingin membeli warak.

@@@

            Semula Sani mengajak Baskoro pergi ke dugderan Minggu pagi. Namun, Baskoro dan keluarganya harus ke gereja. Maka, keduanya memutuskan pergi Minggu sore.

            “San, kamu menunggu aku lama, ya?” tanya Baskoro begitu tiba di rumah Sani. Baskoro datang bersama temannya.

            “Ah, tidak apa-apa,” jawab Sani.

            “O iya, kenalkan ini Chen, teman sebangkuku. Kalau kamu tidak keberatan, Chen juga ingin melihat dugderan. Makanya aku ajak serta,” jelas Baskoro.

            “Hai, Chen. Tentu saja aku tidak keberatan. Aku justru senang punya banyak teman,” jelas Sani.

            “Terima kasih, Sani. Aku senang berteman denganmu. Untung Baskoro mengajakku Minggu sore. Karena Minggu pagi aku harus beribadah di Klenteng,” tutur Chen.

            Sani manggut-manggut dan tersenyum senang. Sambil berjalan menuju alun-alun untuk menyaksikan dugderan, Sani bercerita. Warak mencerminkan percampuran budaya Arab, Jawa, dan Tionghoa. Sebagaimana Sani yang keturunan Arab, Baskoro orang jawa, dan Chen keturunan Tionghoa. Walaupun berbeda-beda, mereka warga negara Indonesia yang baik. Baskoro dan Chen semakin senang mendengar cerita Sani.

                                                                                     

ilustrasi dari Bobo

“Kalian ingin naik permainan apa? Kalau aku suka komedi putar,” ujar Sani.           “Aku suka naik kincir. Wah, seru kita duduk di dalam sangkar. Aku pernah naik kincir ketika papaku bertugas di daerah lain,” cerita Baskoro.

            Akhirnya, mereka menaiki komidi putar dan kincir. Mereka bertiga bersuka ria. Di sepanjang perjalanan mereka juga melihat celengan berbentuk aneka hewan dan mainan dari gerabah. Ada ulekan, piring, cangkir, dan alat makan lain. Juga kapal-kapalan yang dapat berputar di air yang diletakkan di dalam ember. 

            “Ini warak,” kata Sani ketika melihat pedagang warak. Warak dipajang berjejer. Dari yang kecil di depan, sedang, dan yang ukuran besar di belakang.

            “Wah, ada juga yang besar,” kata Baskoro senang.

            “Aku juga ingin membeli,” sahut Chen.

                       

warak
foto: Iis Soekandar

Karena tidak membawa uang banyak, Chen dan Baskoro membeli warak sesuai uang yang mereka bawa.

            “Saat papaku masih kecil, warak ini disertai telur asin, sehingga namanya warak ngendok. Telur asin itu diletakkan di antara kedua kaki depan. Sekarang waraknya tidak ada yang ngendhog. Oya kebetulan hari ini ada pembagian kue ganjeril. Kue ganjeril hanya ada saat dugderan. Kita akan mendapatkan secara gratis,” ujar Sani.

                                                                              

kue ganjeril
foto: Iis Soekandar

Mejelang senja, petugas masjid membagikan kue ganjeril berbentuk kotak yang dibagikan kepada masyarakat luas. Kue itu diletakkan di dalam bungkus mika.

            “Wah, menyenangkan sekali melihat tradisi dugderan,” kata Chen.

            “Pasti mama papaku senang melihat warak ini,” ungkap Baskoro.

            Dugderan kali ini penuh kesan. Sani tidak menyangka warak dan mainan tradisional lainnya tidak kalah menarik dengan robot.

@@@

Cerpen ini pernah dimuat di majalah Bobo, 3 Juni 2021



                                                    



Senin, 14 Juni 2021

Baju Lebaran Buatan Bunda


 Lebaran sebentar lagi tiba. Ayunda sedih karena belum punya baju Lebaran. Semua temannya sudah menyiapkan baju Lebaran. Bahkan, Amel teman sebangkunya memiliki dua baju. Satu untuk Lebaran hari pertama, satu lagi untuk hari kedua.

            Awal Ramadan lalu, ayah dan bundanya mengatakan tidak akan membelikan baju Lebaran. Alasan pertama, karena ayah harus menabung untuk biaya mendaftar sekolah. Tahun ini, Ayunda akan masuk SMP. Alasan kedua, karena baju Lebaran tahun lalu masih bagus. Jadi, masih bisa dipakai berlebaran tahun ini.

            Bunda melihat Ayunda yang merenung sedih di teras samping rumah. Ayunda hanya diam tanpa senyum, padahal tanaman di depannya sedang bermekaran indah. Bunda tahu, apa penyebab Ayunda sedih.

            “Kamu sedih, karena Lebaran kali ini tidak dibelikan baju baru, ya? Jangan khawatir. Bunda akan membuatkan baju Lebaran untuk Ayunda,” janji bunda.

            Saat itu, bundanya berkalung meteran. Kedua tangannya memegang kain motif batik. Dia adalah seorang penjahit.

            “Kebetulan, Bunda dapat pesanan menjahit baju seragam ibu-ibu PKK kampung. Baju itu akan dipakai halal bihalal. Sisa kainnya bunda kumpulkan. Ada banyak potongan kain tidak terpakai dan cukup untuk baju Lebaran kamu,” ujar bunda menjelaskan.

            “Motif batik cuma cocok untuk orang tua, Bun,” ujar Ayunda semakin murung. “Apalagi, ternyata Bunda tidak membeli kain, tetapi akan memakai sisa-sisa kain.”

            “Apapun motif kainnya, bisa menjadi baju yang bagus. Tergantung penjahitnya. Kalau Bunda yang jahit, pasti bagus,” canda bundanya, membuat Ayunda tersenyum kecil. 
                                                                                 
                                                                 ilustrasi dari Bobo

Beberapa hari kemudian, baju untuk ibu-ibu PKK sudah jadi. Kini, bundanya mulai membuat untuk Ayunda. Kain perca sisa batik itu bermotif kolang-kaling atau kawung. Warnanya terang. Ada warna putih, biru, dan pink. Ia meletakkan pola di atas kain-kain perca yang sudah disambung-sambung. Lalu, ia mulai memotong sesuai model yang diinginkan.         Bundanya membuat model baju dengan lengan berkerut. Pinggangnya juga berkerut dan diberi pita pink. Lehernya tidak berkerah dan berbentuk bulat.

            Akhirnya, libur Lebaran usai. Saatnya masuk sekolah. Di sekolah, biasanya hari pertama para murid dibolehkan memakai baju bebas atau baju lebaran. Hari itu tidak ada pelajaran. Bapak dan ibu guru beserta murid-murid akan saling maaf-memaafkan, lalu ada acara makan siang bersama. 

            Satu per satu murid mulai berdatangan. Amel teman sebangku Ayunda, datang paling awal. Baju Amel berwarna putih dengan pita pink di pinggang. Bahannya dari tulle, sehingga kalau dipakai mengembang. Amel juga membawa kue Lebaran di dalam kotak makan untuk dimakan bersama.

            Pagi itu, Ayunda diantar ayahnya. Turun dari kendaraan, Ayunda berjalan melewati lapangan. Saat sampai di koridor, tampak beberapa teman dari  kelas lain duduk di teras. Mereka memerhatikan baju batik Ayunda. Ayunda jadi kikuk. Namun, ia berusaha tersenyum kepada mereka.

“Mereka pasti menertawakan baju batikku. Ini kan perca batik ibu-ibu PKK. Amel juga pasti menertawakan aku ...” batin Ayunda.

Ayunda ingin pulang rasanya, karena takut ditertawakan. Namun, karena tidak berani pulang sendiri, Ayunda akhirnya berjalan ke kelas dengan kepala tertunduk.  

Saat memasuki kelas ...

                                                                                          
                                                                  ilustrasi  dari Bobo

“Ayunda bajumu bagus sekali,” teriak Amel begitu melihat Ayunda memasuki kelas.

Amel memandangi baju batik Ayunda tidak berkedip. Ayunda tampak cantik sekali pagi itu. Rambutnya dikucir dua dan berponi. Teman-teman yang sudah datang, juga memandang kagum. Baju Lebaran yang dipakai Ayunda berbeda dari yang lain.

            “Bajumu bagus, Ayu!” ungkap Bela.

            “Ah, masa?” jawab Ayunda tak percaya.

            “Kamu beli di mana?” tanya Nana.

            “Ini buatan bundaku,” jawab Ayunda kini menjadi bangga.

            “Ternyata, baju batik juga bagus untuk anak seusia kita. Bundamu pandai sekali mengombinasikan motif kain. Rasanya, belum ada toko yang menjual baju batik seindah ini,” kata Amel.

            Teeeeet... teeeet... teeeet

            Bunyi bel panjang terdengar tiga kali. Murid-murid segera diminta berkumpul di lapangan. Ayunda melangkah penuh semangat.

“Bunda, terima kasih untuk baju batik yang indah ini,” bisik Ayunda bahagia.  

@@@

Cerpen ini pernah terbit di majalah Bobo, 27 Mei 2021


Jumat, 28 Mei 2021

Misteri Si Masker Panda

                                                                   

Mulai hari Minggu ini, Zaldi dan Adam bermain sepeda menyusuri pinggir jalan raya dan gang-gang. Mereka tidak dapat lagi bermain sepeda di alun-alun. Alun-alun ditutup sejak adanya pandemi. Orangtua mereka berpesan untuk selalu mengikuti protokol kesehatan.  Saat melewati sebuah gang, mereka mencium bau makanan lezat. Keduanya langsung berhenti di pertigaan, sekalian beristirahat. Mereka minum air putih dari botol yang disimpan di sepeda masing-masing.

            “Bau lunpia,” ungkap Zaldi.

            “Benar. Kita baru saja melewati kedai lunpia Bu Sosro yang terkenal,” jelas Adam senang.

            “Masih pagi para pembeli sudah berdatangan,” tukas Zaldi.

            “Mungkin mereka turis, atau penduduk setempat yang akan bepergian. Lunpia makanan khas kota Semarang. Jadi, bisa untuk oleh-oleh,” jelas Adam.

            “Lunpia spesial harganya lima belas ribu rupiah. Tadi aku sempat membaca daftar harganya. Walaupun berada di tempat jauh, tetap tercium bau lezatnya,” kata Zaldi.

                                                                              

ilustrasi dari Bobo

Kedai lunpia Bu Sosro itu dulu rumah pribadinya. Rumah itu sengaja tidak dirombak menjadi restoran. Mungkin agar terlihat unik. Rumahnya berundak. Ada dua jendela dari sisi kanan dan kiri.

            Saat masih beristirahat, mereka dikejutkan oleh seorang anak lelaki. Dia berada di balik dinding kaca rumahnya. Dengan membuka tirai dia mengintip. Anak itu berada di rumah, tepat di depan mereka beristirahat, tapi memakai masker. Maskernya ada gambar binatang panda berwarna hitam dan putih.

@@@

            Setiap hari Minggu, Zaldi dan Adam melewati gang itu karena senang mencium bau lezatnya lunpia Bu Sosro. Suatu saat, seorang lelaki muda mendatangi mereka. Ternyata, dia pelayan kedai lunpia Bu Sosro. Terlihat di seragamnya tertulis Lunpia Bu Sosro. Sedangkan di dada kanannya tertulis nama Wibowo.

            “Dik, mau lunpia spesial?” tawar Mas Wibowo sambil menjinjing kantung plastik hitam.

            “Tentu saja mau. Tapi kami tidak punya uang,” jawab Adam.

            “Buat kalian, gratis. Tapi jangan lupa, sebelum makan, silakan kalian cuci tangan,” sambil berbicara, Mas Wibowo menunjukkan tempat mencuci tangan yang berada di samping pintu masuk.

            “Terima kasih, Mas,” ungkap Zaldi dan Adam dengan girang hampir bersamaan.

            Mereka bergegas mencuci tangan. Siapa yang menolak makan lunpia spesial, apalagi gratis. Mereka tidak menyangka bisa makan lunpia spesial yang terkenal di kota ini. Apalagi setelah bersepeda mereka lapar. Ada rasa udang dan telur. Bau rebungnya tidak anyir. Setelah kenyang, mereka minum. Lagi-lagi anak lelaki dengan masker panda memerhatikan mereka dengan membuka sebagian tirai dinding kaca rumahnya.

            Hari Minggu berikutnya, Mas Wibowo memberi lagi saat mereka beristirahat di perempatan gang. Karena penasaran, mereka bertanya tentang si Masker Panda.

            “Dia Edwin, anak Bu Sosro, pemilik kedai lunpia. Dialah yang meminta saya memberi kalian lunpia. Sebab dia tahu, selain beristirahat, kalian juga ingin makan lunpia,” jelas Mas Wibowo.

            Mendengar cerita Mas Wibowo, mereka menjadi heran. Lebih heran lagi ketika mendengar bahwa Edwin tidak mau keluar. Ketika ditanya apa sebabnya, Mas Wibowo enggan menjelaskan.

@@@

            Hari Minggu ini, Adam dan Zaldi memberanikan berkunjung ke rumah Edwin. Apalagi Mas Wibowo mengatakan bahwa sebenarnya Edwin senang berteman. Setelah berkenalan, tiba-tiba Edwin memberikan selembar surat dari dokter. Setelah dibaca, ternyata isinya keterangan bahwa Edwin negatif COVID-19.

                                                                                 

                                                                   ilustrasi dari Bobo

“Sebetulnya, yang terpapar papaku. Terpaksa kami semua dikarantina. Papa sudah sembuh. Mama, aku, dan kedua kakakku semua negatif. Sayang, sebelum membaca surat keterangan itu, teman-temanku menganggap aku bisa menularkan. Makanya, mereka menjauh dariku,” jelas Edwin sedih.

            Zaldi dan Adam manggut-manggut ikut merasa kasihan.

            “Omong-omong, mengapa kalian mau datang ke mari? Kalian tidak takut tertular seperti pendapat teman-temanku?” tanya Edwin heran.

            “Bukankah surat dari doker itu sudah menyatakan bahwa kamu tidak terpapar?” jelas Zaldi.

            Mereka juga bertanya mengapa Edwin memakai masker padahal di rumah. Edwin menjawab dia juga ingin bersepeda seperti dulu. Namun, tidak punya teman. Edwin iri melihat mereka sepeda. Itu sebabnya, dia memakai masker walau di rumah. Edwin senang dengan binatang panda. Semua maskernya bergambar panda. Begitu pun baju-bajunya.

                                                                               

                                                                     lunpia spesial

                                                                foto: Iis Soekandar

Tidak lama kemudian, Mas Wibowo datang sambil membawa baki berisi lunpia dan tiga gelas teh hangat. Kali ini tidak hanya lunpia spesial, tapi lengkap dengan makanan pendampingnya, yaitu acar, saus, dan cabe. Sambil mengobrol, mereka menikmati lunpia spesial. Zaldi dan Adam berjanji akan mengajak Edwin bersepeda pada hari Minggu. Hari itu menjadi saat yang paling istimewa bagi ketiganya.

@@@

Cernak ini pernah terbit di majalah Bobo, 20 Mei 2021