Iis Soekandar

Rabu, 04 Maret 2020

Layang-Layang Damar


        “Mar, besok ada tugas IPS. Seperti biasa kita belajar bersama. Mas Ari punya globe untuk mencari letak geografi lebih jelas. Aku sudah meminjamnya.Puput dan Tari juga akan belajar di rumahku. Tidak lama lagi mereka pasti datang!” ajak Arjuna saat melewati rumah Damar. Merekatetangga sekaligus teman sekelas. Mas Ari adalah kakak Arjuna yang duduk di bangku SMA.
            “Ayo, Damar, mumpung Arjunangajak belajar!” perintah ibu saat akan membuang sampah.
            “Damar bisa belajar sendiri, Bu. Damar kan punya buku altas,” jawab Damar bersikukuh. Sore itu Damar sedang membuat layang-layang di teras.
            Akhirnya Arjuna pergi. Dia sedang disuruh ibunya membeli beras di warung.
Ibu Damar mengeluh. Beberapa kali Damar menolak setiap kali diajak belajar bersama. Karena sering tidak mengerjakan tugas, Damar mendapat sanksi. Bu Fida, wali kelasnya, menyuruh membersihkan kebun belakang sekolah.
Akhir-akhir ini Damar suka bermain layang-layang. Karena tidak ingin uang jajannya terkurangi, setiap kali layang-layangnya nyangkut di pohon, atau sangkutan dengan lawan, dia membuat sendiri.
                                                                             
ilustrasi dari KR
          Suatu sore Arjuna berkunjung ke rumah Damar. Kali ini tidak untuk mengajaknya belajar. Sebab Arjuna tahu, semenjaksuka bermain layang-layang, tetangganya itu tidak mau lagi diajak belajar bersama.
            “Damar, aku butuh layang-layang. Kamu kan kreatif, termasuk pandai membuat layang-layang. Kamu bersedia bantu aku?”
            “Memangnya kamu juga akan bermain layang-layang?” tanya Damar kaget.
            Arjuna memintanya agar membuatkan layang-layang kecil sebagai hiasan.Tentu saja Damar tidak menolak. Sebab dia memang senang membuat layang-layang. 
Keesokan hari, saat datang di rumah Arjuna, Tari, Puput, dan tetangga lain seusia mereka sudah berada di sana. Mereka sedang membaca buku. Sekarang Arjuna punya pojok baca. Letaknya di sisi kiri rumah. Sayang, belum ada hiasannya. Kebetulan dia tidak bisa menghias. Semula ruangan itu gudang, tempat ayah Aruna menyimpan barang dagangannya. Sekarang ayah Arjuna sudah membeli bangunan lain yang lebih besar. Karena berniat baik, ayahnya menyetujui tempat itu digunakan sebagai pojok baca. Kini anak-anak kampung bila ada waktu lowong datang ke pojok baca untuk membaca buku-buku.
                                                                  
ilustrasi dari KR
Pojok baca berupa buku-buku yang ditata dalam tiga rak. Rak tengah berisi buku-buku ilmu pengetahuan, rak kanan buku cerita, sebelah kiri buku komik. Walaupun komik ada nilai pendidikan karakter seperti tanggung jawab, peduli sesama, dan lain-lain. Sebagian buku-buku milik koleksi Arjuna, sebagian lagi membeli loak. Sisanya sumbangan dari teman-teman.

Damar mulai membuat layang-layang kecil. Dibentuknya kertas minyak menjadi belah ketupat. Diambilnya dua lidi sesuai ukuran kertas secara menyilang. Sebab layang-layang itu ditempel.Tidak diterbangkan. Sehingga tidak perlu mencari bambu sebagai kerangka. Lidi itu disematkan pada kertas dengan benang pada ujung-ujungnya. Tidak lupa ditambahnya ekor, mata, hidung, dan mulut.
                                                                         
                                                                       illustrasi dari KR

Dua hari kemudian dua layang-layang kecil itu jadi. Damar menempelnya dengan selotip di tembok.
“Bagaimana kalau ditambah awan dan pesawat? Ini aku buatkan dari sisa bahan layang-layangku,” tukas Damar sambil menunjukkan pesawat dan awan yang dibawanya dari rumah.
“Silakan. Aku senang-senang saja. Kita jadikan tempat ini sebagai taman bacaan yang menarik. Sehingga kita rajin datang kemari untuk membaca. Karena membaca adalah jendela dunia. Dengan membaca ilmu pengetahuan kita bertambah.”
Puput, Tari, dan teman-teman lain manggut-manggut tanda setuju. Damar mulai menempel sebuah pesawat berbahan kertas warna merah, kemudian dua awan berwarna biru.
“Wah, bagus sekali,” Tari terkagum-kagum. Begitu pun teman-teman lain. Kini pojokbacatidak hanya berisi buku-buku. Di atasnya dihias dengan dua layang-layang, sebuah pesawat, dan dua awan. Apalagi dindingnya berwarna putih. Sangat kontras dengan warna pesawat, layang-layang, dan awan.
“Ternyata ada komik. Aku suka baca komik. Aku pikir yang dipajang di sini  cuma buku-buku ilmu pengetahuan,” tukas Damar begitu melihat koleksi buku-buku di rak yang ditempel di dinding.
            Kini mereka semakin bersemangat mengunjungi pojok baca. Masing-masing membaca buku kesukaannya. Begitu pun Damar membaca buku komik setiap sore. Damar bermain layang-layang hanya setiap hari libur.Mereka kebali belajar bersama, terutama jika ada tugas sekolah.
                                                          @@@ 
                       cerpen anak ini pernah terbit di Koran Kedaulatan Rakyat, Senin 2 Maret 2020

Senin, 24 Februari 2020

Kasih Buat Sifa

                                                                                 

Hari ini ada yang spesial dari kelas XI A. Kabar itu mereka dengar beberapa hari lalu. Semua akan menyambutnya dengan penuh suka cita. Wajarlah karena seseorang itu amat teristimewa di sekolah.
            Bu Reni adalah  pengganti sementara Bu Silvi yang sedang cuti melahirkan. Hari ini beliau mengajar untuk pertama kali di kelas yang selama ini tidak diampunya.
            “Selamat siang, anak-anak...” sapa Bu Reni. Bu Reni yang cantik, murah senyum, tidak saja karena ingin disegani meski bukan guru Bahasa Indonesia sebenarnya,  tapi beliau memang ramah.
            “Selamat siang, Buuuu...,” sambut anak-anak satu kelas serempak.
            Para siswa riuh rendah menyambut guru barunya.
            “Kalian pasti sudah mengenal saya, walaupun sebelumnya saya tidak mengajar kalian,” jelas Bu Reni setelah suasana tenang. Maklumlah meski mengerti Bu Reni juga guru yang mengajar di sekolah tersebut, sepertinya mereka tidak ingin melewatkan pertemuan pertama ini.
            Mereka tetap menginginkan Bu Reni memperkenalkan diri. Bahkan hobi dan makanan kesukaannya, mereka ingin tahu. Bu Rini geleng-geleng kepala.
            Acara perkenalan dengan Bu Reni usai. Beliau juga tak mau kalah ingin mengenal setiap siswa. Diabsennya satu per satu menurut alfabet.
            “Andika Saputra...”
            “Saya, Bu,” jawab Andika sambil mengangkat tangan.
            “Anita Lestari...”
            “Saya, Bu.”
            Ketika Bu Reni memanggil satu anak  dan ternyata tidak masuk, tanggapan seluruh siswa berbeda.
            “Namanya bukan Sifa Savitri, Bu, tapi Anak Baru...” celetuk salah satu.
            “O... jadi dia anak baru? Pindahan dari luar kota?” tanya Bu Reni penasaran.
            Mereka tidak langsung menjawab, tapi malah cekikikan. Bu Reni semakin bingung. Barulah seseorang menjelaskan.
            “Dia jarang masuk, Bu. Anaknya tertutup. Makanya setiap masuk seperti anak baru. Maka kami satu kelas memanggilnya Anak Baru.”
            Jidat Bu Reni mengerut.
            “Kalau sering tidak masuk mengapa kalian sebagai teman satu kelas tidak berusaha mencari tahu? Dekatilah sehingga dia terbuka. Pasti dia punya masalah. Jangan-jangan di antara kalian pernah menyakitinya.”
            Bu Reni mendesak agar di antara mereka mengaku. Tapi mereka bersikeras bahwa kelasnya damai. Tidak ada satu pun yang membuat permusuahan. Jadi, kalaupun Sifa menemui masalah, pasti di luar kelas.
            Hari pertama Bu Reni sengaja menyelesaikan semua masalah. Beliau tidak ingin ada yang mengganjal saat pembelajaran kelak. Beliau mendesak teman sebangkunya mendatangi rumah Sifa. Dengan pendekatan persuasif, Bu Reni berharap siswa kelas itu lengkap.
            Setelah masalah menemukan penyelesaian, barulah Bu Reni memulai pembelajaran.
@@@
            Veronika benar-benar terpanggil dengan saran Bu Reni. Di samping itu desakan teman-teman satu kelas sehingga tidak ada pilihan lain selain menemui Sifa di rumahnya. Dia menyesal selama ini terpancing teman-temannya dengan membenci Sifa. Hari Jumat saatnya pulang awal, Vero tidak langsung ke rumah, melainkan menemui teman sebangkunya.
            Warung terlihat banyak pembeli. Sifa sedang membantu seorang wanita tengah baya, siapa lagi kalau bukan neneknya. Tapi Vero enggan mendekat. Dia takut mengganggu. Syukurlah tak lama berselang,  tanpa sadar Sifa mempersilakannya yang dikira pembeli.
            “Vero?” Sifa tak percaya teman sebangkunya berada di warungnya.
            Vero  dipersilakan duduk di ruang tamu yang bersebalahan dengan warung.
            “Ver... mengapa kamu ke sini? Bukankah aku tidak punya janji sama kamu?” ungkap Sifa berterus terang setelah menyajikan teh manis.
            “Memangnya kalau kamu tidak punya janji aku tidak boleh ke rumahmu? Jadi kamu sudah tidak menganggap aku teman sebangkumu lagi?” tantang Vero.
            Sifa menghela napas panjang. Tatapannya yang semula tajam, kali ini luluh dan menunduk.
            “Kita kan teman sabangku, Sif, masa sih kalau kamu punya masalah aku tidak boleh tahu? Aku ingin kita bersama lagi seperti dulu. Aku yakin setelah ini tidak ada yang mengatakan kamu anak baru. Mereka sudah janji. Teman-teman menginginkan kamu kembali ke sekolah.”
            Sifa memandang Vero. Maka mengalirlah tuturan demi tuturan.
            “Aku malas sekolah, Ver. Kedua orangtuaku benar-benar tak peduli. Berkas untuk pengajuan beasiswa yang diminta sekolah tidak diberikan padaku. Kamu tahu sendiri, nenekku tidak ada yang membantu kalau aku ke luar kota menemui ibuku. Bapakku aku mintai tolong malah mematikan nomornya dan tidak akitf. Sudah untung aku punya nenek yang baik  hati. Kalau tidak, aku pasti sudah menggelandang sejak dulu,” cerita Sifa tentang kedua orangtuanya yang bercerai.
            “Kalau begitu, hari Minggu nanti aku antar kamu mengurus berkas itu ke rumah ibumu. Siapa tahu belum terlmbat. Yah kalaupun terlambat mungin bisa diajukan tahun depan. Atau setidaknya kamu kembali ke sekolah, meraih masa depan.”
            “Kenapa kamu begitu peduli dengan masalahku, Ver?”
            “Karena kasih sayang tidak hanya untuk pacar, kan, tetapi juga dengan teman.”
            Mereka tersenyum dan tidak sabar ingin lagi ke sekolah dan duduk satu meja.
@@@
Cerma ini pernah terbit di Koran Padang Ekspres, Minggu 23 Februari 2020                                                                 


Kamis, 16 Januari 2020

Pengalaman Monika Berlibur di Desa

                                                                                     

Pagi itu, Mama mengajak Monika berlibur ke rumah Nek Ijah di Salatiga. Nek Ijah adalah asisten rumah tangga yang selama ini membantu keluarga Monika.
           “Menengok Nek Ijah di Salatiga? Malas ah!” jawab Monika.
“Nek Ijah kan minta pulang karena sakit. Kita tengok, apa Nek Ijah sudah sembuh. Lagi pula, kalau pun sudah sembuh, Nek Ijah mungkin tidak kembali lagi ke rumah kita. Nek Ijah kan sudah tua,” jelas mama Monika.
“Ajak kakak-kakak saja, Ma,” ujar Monika tetap tak mau ikut.
           “Kak Irma akan berkemah liburan ini. Kak Awal malah persiapan ujian,” ujar mama.
           “Selama ini, kita selalu berlibur ke tempat wisata. Sekali-sekali, liburan di desa yuk,” lanjut mama.
            Monika hanya diam. Mama tidak membujuk lagi karena terdengar bunyi mobil papa. Mama pergi untuk menyambut papa. Sementara itu, Monika berlari masuk ke kamar Kak Irma.
           “Sudahlah, kamu ikut Mama saja,” ujar Kak Irma setelah mendengar cerita Monika,  sambil sibuk menyiapkan perlengkapan kemahnya.
       “Uh, Kakak sih enak. Kalau liburan di kampung kan sepi. Apa yang mau dilihat? Kalau cuma pohon-pohon hijau dan gunung, aku juga suka menggambar alam pedesaan. Jadi nggak perlu ke sana,” gerutu Monika.
            Kak Irma hanya tersenyum mendengar keluhan Monika.
                                                                                 
ilustrasi dari Bobo

    Akhirnya, dengan berat hati, Monika mengikuti ajakan mama. Ia tak mau juga kalau hanya ditinggal berdua dengan Kak Awal yang sedang sibuk belajar.
       Di sepanjang perjalanan, hati Monika dongkol. Ia sendirian duduk di tengah, sedangkan mama di depan menemani papa menyetir.
Setelah menempuh perjalanan tiga jam, akhirnya mereka sampai di pedesaan. Seperti dugaan Monika, di sana sini terhampar pemandangan hijau dengan berbagai macam tanaman. Banyak juga buah-buahan seperti mangga, pisang, jambu biji, pepaya....
         “Ah Pak Wingky, Ibu. Wah, Monika juga ikut. Terima kasih sudah datang,” sambut Nek Ijah ketika Monika dan Mama Papa tiba di rumahnya.
            Nek Ijah tidak menyangka dan amat senang melihat mereka.
            “Nek Ijah sebetulnya sudah sembuh. Tapi anak Nenek melarang Nenek bekerja lagi,” cerita Nek Ijah kemudian setelah mereka duduk.
          “O ya, cucu Nenek juga seumuran Monika,” ujar Nek Ijah lagi, lalu memanggil nama cucunya.
“Anisaaa...”
            Seorang anak dengan rambut dikucir dua keluar. Tingginya kira-kira sama dengan Monika.
      “Anisa, ayo kasih salam buat Monika, Bapak, dan Ibu Wingky,” ujar Nek Ijah lagi, lalu meminta Anisa mengajak Monika bermain.
                                                                                   

                                                                   ilustrasi dari Bobo
       
Anisa bersikap ramah walau baru mengenal Monika. Pasti Nek Ijah yang mengajarinya untuk ramah kepada teman baru. Bukannya keluar rumah, Anisa  malah mengajak Monika masuk ke kamarnya.
       “Istirahatlah dulu. Kamu pasti capek. Tempat tidurku sederhana. Tapi mudah-mudahan cukup enak untuk meluruskan punggung dan kakimu...,” ujar Anisa.
       “Hmm, kamarmu sejuk dan nyaman sekali, Anisa. Di mana AC-nya dipasang?” tanya Monika sambil merentangkan tubuh di kasur.  
       “Ini udara pegunungan, asli. Mana mampu kami pasang AC. Desaku ini terletak di lereng   gunung. Tepatnya lereng Gunung Merbabu dan Gunung Merapi,” sahut Anisa.
       “Oooo,” Monika manggut-manggut.
       Karena kelelahan, ditambah udara yang sejuk, Monika tertidur pulas. Ia baru terbangun dua jam kemudian. Itupun karena hidungnya menghirup kepulan wedang jahe.
Yah, itulah minuman khas di desa Nek Ijah. Minuman penghangat badan. Cocok sekali diminum saat udara dingin.
      Keesokan harinya, mama dan papa harus pulang. Namun Monika memutuskan untuk berlibur di desa Nek Ijah yang sejuk. Mama hanya tersenyum karena usulannya diterima Monika.
       “Wah sayuran dan buah-buahan di kebun nenekmu banyak sekali. Kulkasmu besar sekali, ya, untuk menampung semua ini?” tanya Monika takjub. Ia melihat kebun di kanan kiri rumah Anisa. Ada tanaman kol, bayam, dan kacang panjang. Di halaman depan, ada pohon pepaya, mangga, dan jambu biji. Di salah satu sudut kebun, ada juga pohon salak yang buahnya sebentar lagi ranum.
Tidak jauh dari rumah Anisa, ada empang tempat memelihara ikan.
       “Kami tidak punya kulkas. Selain dijual, sebagian sayuran dan buah-buahan disantap sendiri. Begitu dipetik langsung dimasak. Begitu pula ikan di empang. Semua serba ambil milik sendiri,” jawab Anisa.
       “Wah nikmat sekali. Semua bahan makanan segar. Kalau di kota, Mama selalu membeli dari tempat pendingin supermarket. Tapi di sini benar-benar masak dari pohonnya,” sahut Monika kagum.
       “Kalau kami sakit ringan seperti diare, sembelit, batuk, dan lainnya, Nenek akan meramu  sendiri ramuan dari tanaman obat. Tanaman itu ditanam di sela sayuran dan buah-buahan. Maklumlah, di sini puskesmas jauh. Semua obat-obatan diambil dari hasil alam.”
            Monika kagum pada kecerdasan Anisa. Ia merasa liburan kali itu tidak sia-sia. Bahkan ia mendapatkan pengalaman berharga.
Monika berjanji akan kembali saat liburan tiba tahun depan. Desa Nek Ijah adalah tempat liburan yang keren. Selain itu, Monika juga ingin mengunjungi Nek Ijah lagi, yang sudah setia membantu keluarganya.
@@@
  Cerpen ini pernah tayang di Majalah Bobo, terbit 9 Januari 2020                 

Senin, 06 Januari 2020

Liburan untuk Sahabat

                                                                                         

“Pokoknya kita seru-seruan nanti liburanmya....”
            “Aku sudah tidak sabar ingin menikmati makanan-makanann khasnya...”
            “Aku ingin melihat Pagoda dan swafoto di sana. Selama ini cuma lihat gambarnya...”
            “Aku ingin beli suvenir unik berbentuk gajah...”
            Karina dan ketiga teman sekelasnya penuh semangat keluar dari hal sebuah hotel berbintang. Begitu pun para undangan lain. Mereka sibuk membicarakan rencana liburan mereka. Sebuah agen travel baru saja berpromosi untuk acara liburan akhir tahun. Agen travel itu menawarkan liburan ke tempat-tempat wisata luar negeri seputar Asia Tenggara dan Australia.
Keempatnya biasa berlibur bersama setiap liburan akhir tahun. Kali ini mereka berencana akan bertamasya ke negeri Gajah Putih. Mereka tidak segan menghabiskan uang untuk liburan. Orangtua mereka orang mampu. Papa Karina pegawai bank, sementara orangtua ketiga sahabatnya para pengusaha. Mudah bagi mereka mengeluarkan uang banyak. Ongkos travel berjuta-juta, belum lagi uang saku.
Sampai di rumah Karina bercerita kepada mama tentang rencana tamasya ke Thailand yang juga terkenal dengan negeri Seribu Pagoda. Mama langsung menyetujui. Begitupun papa nanti malam saat Karina memohon.
Di kamar Karina membayangkan pagoda berlapis emas di Chiang Mai, dibangun pada abad ke-13. Karina tidak sabaran ingin segera ke sana mendengarkan penuturan pemandu wisata seputar sejarah pagoda berlapis emas itu.
Tiba-tiba di antara lamunanya, androidnya memanggil dengan suara khas WhatsApp.
Hai, Karin, apa kabar? Dua tahun kita tak bertemu....
Dari teman lama. Karina membaca sms-nya kalimat demi kalimat. Tentu saja Karina tak mungkin melupakan. Sekali tempo Badriyah menghubungi. Kali lain, ganti Karina yang memulai. Mereka mengenang saat sekelas. Ketika itu papa Karina bertugas di daerah tanah kelahiran Badriyah. Tidak sekali pun mereka bertemu semenjak dua tahun lalu papa karina dipindah di kota ini.   
Bagaimana Karin? Kamu keberatan aku berkunjung ke kotamu?
Tentu saja centang dua berwarna biru tak dapat menipu bahwa Karina telah membaca sms itu. Karina buru-buru meluruskan niatnya.
Ah maaf. Mama tadi memanggilku begitu aku selesai membaca smsmu. Jadi aku belum sempat menjawab
Oh begitu
Aku bilang mama dulu ya. Semoga mama tidak mengajakku liburan. Sehingga kita dapat bertemu lagi.
Baiklah aku tunggu segera jawabanmu, Karin. Supaya aku bisa tentukan liburanku kali ini.
Ok
Liburan bersama Badriyah berarti hanya tinggal di rumah. Sama saja tidak liburan. Badriyah sih enak, dari desa pergi ke kota melihat tempat-tempat wisata di kota ini. Tapi Karina? Sengaja tadi dia berbohong dengan tidak langsung menjwab. Dia tidak mau  mengecewakan dengan langsung mengatakan dirinya sudah punya rencana liburan bersama ketiga teman sekelasnya ke negeri Seribu Pagoda.
@@@
Karina bercerita kepada mama dan meminta pertimbangan jawaban agar Badriyah tidak kecewa atas penolakannya.
“Jadi Badriyah akan ke sini?” ulang mama senang. Mama seperti akan betemu dengan sahabat lamanya. Apalagi Karina yang menjadi temannya. Mungkin begitu pikir mama.
“Iya, Ma. Tapi aku kan sudah berencana matang akan ke Thailand. Dan aku belum pernah sekalipun melihat pagoda berlapis emas,“ tukas Karina menyesalkan rencana kehadiran Badriyah yang tak tepat.
Tapi apa pendapat mama?
“Karin, Badriyah sahabatmu saat papa bertugas di desanya. Dia banyak menolongmu sehingga kamu tidak canggung di tempat asing yang jauh berbeda dari tempat yang kita tinggali sebelumnya. Sekarang dia akan berlibur ke sini. Apalagi tadi kamu bilang  ongkos yang dia gunakan dari uang tabungan. Tidak setiap liburan dia kemari. Masa akan kamu tolak.”
“Tapi aku dan teman-ateman sudah berencana matang akan ke luar negeri, Ma...” ulang Karina.
“Karin, pikirkan pendapat Mama!” pinta mama memohon.
Karina tidak menanggapi, tapi malah pergi meninggalkan mama ke kamar.
@@@
 Berhari-hari pikiran Karina terusik dan lambat laun menjadi dilema. Diam-diam dia mempertimbangkan saran mama. Badriyah pasti ingin mengunjungi pusat-pusat batik. Atau ingin membeli atau mungkin belajar membatik langsung di rumah perajinnya.
Badriyah seperti menyadarkannya agar Karina bangga dengan warisan leluhur yang dilindugi UNESCO. Selama ini dia suka menyanjung keindahan-keindahan milik negara-negara lain. Padahal di dalam negeri tak kalah menarik. Buktinya banyak wisatawan asing datang ke kota ini.
Sampai suatu saat Karina menemukan keyakinan. Yah, dia akan menemani liburan Badriyah. Dia masih dapat liburan ke luar negeri bersama ketiga teman sekelasnya lain waktu. Tapi bersama Badriyah, mungkin hanya sekali ini.
 Karina segera mengambil ponsel untuk dua hal. Membatalkan kepergiannya bersama ketiga teman sekelasnya dan memberitahukan kabar gembira kepada Badriyah. Kali ini dia ingin liburan untuk sahabat.
@@@
                                         Cerma ini pernah terbit di Koran Padang Ekspres, Minggu 5 Januari 2020 

Selasa, 31 Desember 2019

Penuh Warna

                                                                                               
          Dunia menulis penuh warna. Melalui proses kreatif, apa saja bisa ditulis. Ada kalanya untuk sebuah tulisan harus membaca berbuku-buku, bertemu narasumber, belum lagi mencari diksi yang tepat. Sementara tulisan lain dengan bebas menuangkan kalimat-kalimat, mengembara bersama tokohnya mengiikuti alur cerita. Ada juga karena keterbatasan halaman harus pandai mengutak-ngatik sedemikian rupa, sehingga persyaratan dari media tujuan terpenuhi. Yah, hidup menjadi tidak membosankan.
Kilas Balik saatnya intronspeksi yang telah terjadi sekaligus menata diri untuk hari depan. Tidak terlalu menggembirakan karena masih ada yang terlepas. Tapi harus disyukuri. Setidaknya untuk media koran 12 karya terpenuhi sepanjang tahun 2019.
1.      “Persahabatan Sempi dan Pusi”, cerpen anak, terbit di Koran Solopos, 6 Januari 2019
2.      “Persahabatan Wijay, Raka, dan Andi”, cerpen anak, terbit di Koran Lampung Post, 24 Februari 2019
3.      “Cerita dari Desa Suka Makmur”, cerpen anak, terbit di Koran Kedaulatan Rakyat, 10 Maret 2019
4.      “Jerapah yang Serakah”, cerita fabel, terbit di Koran Lampung Post, 14 April 2019
5.      “Menumbuhkembangkan Budaya Membaca dengan Metode KWL”, esai, terbit di Koran Solopos, 23 Juni 2019
6.      “Pentingnya Literasi dalam Keluarga”, opini, terbit di Koran Analisa, 22 Juli 2019
7.      “Njagong di Seberang Jalan”, cerita lucu, terbit di Koran Solopos, 23 Juli 2019
8.      “Pojok Baca, Sarana Mengatasi Krisis Literasi”, esai, terbit di Koran Solopos, 29 September 2019
9.      “Kok Bukan Pak Jon?”, cerita lucu, terbit di Koran Solopos, 24 Oktober 2019
10.  “Es Krim Bola-Bola Tante Kayla”, cerpen anak, terbit di Majalah Bobo, 14 November 2019
11.  “Laki Lucky”, cerpen remaja, terbit di Koran Padang Ekspres, 15 Desember 2019
12.  “Menjadi Guru Abad Ke-21”, esai, terbit di Koran Solopos, 22 Desembar 2019
Selain menulis untuk media koran dan majalah, beberapa lomba menulis juga saya ikuti.
1.      “Tembong”, cerpen remaja, karya terpilih dalam buku antologi, Lomba Menulis Cerpen Bersama Uda Agus, tema Putih Abu-abu.
2.      “Warak, Antara Ikon dan Lelakon”, esai, karya terpilih dalam buku Antologi, Lomba Menulis Esai bagi Guru Jawa Tengah, penyelenggara Balai Bahasa Jawa Tengah
3.      Laundry Ibu, novel anak, finalis lomba menulis novel anak, penyelenggara Penerbit Indiva.
4.      “Halaman Bergaris Pink” cerpen remaja, karya terpilih dalam buku antologi, penyelenggara Dodolibret Publishing (entah bagaimana nasibnya, sampai sekarang bukunya belum dicetak).
Berharap tahun 2020 masih diberi kesempatan berkontribusi pada media-media yang tertuju. Dengan menulis berarti ikut mencerdaskan bangsa dan berguna bagi banyak orang. Semoga! Amin!
@@@


Senin, 23 Desember 2019

Menjadi Guru Abad Ke-21

                                                                                       

        Zaman terus berkembang. Agar tidak tertinggal dengan bangsa-bangsa lain, Pemerintah perlu menciptakan generasi-generasi yang mampu menjawab tantangan abad ke-21 ini. Lebih jauh terwujud Indonesia Emas 2045. Kurikulum Tingkat Satuan Pelajaran (KTSP) yang menjadikan guru sebagai subjek, kini diganti dengan Kurikulum 13. Peserta didik sebagai subjek, guru sebagai fasilitator. Peserta didik menjadi pribadi mandiri dan mampu  mememcahkan permasalahan dalam pembelajaran dengan baik.
Maka agar dapat menjalankan tugasnya sebagai fasilitator, guru perlu menanamkan pada dirinya terlebih dahulu keterampilan abad ke-21 yang meliputi: kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya yang dinamis dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), menerapkan keterampilan dasar sehari-hari dengan berliterasi, dan memecahkan masalah kompleks.
            Pendidikan karakter berhubungan dengan perilaku dan pembiasaan yang termaktub dalam relegius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. Ada falsafah Jawa yang mengatakan, guru digugu dan ditiru. Semua tingkah laku dan tutur kata guru menjadi contoh bagi peserta didiknya. Dalam kesempatan apapun bersama peserta didik sebaiknya guru menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai sikap nasionalis. Tidak ada manusia yang terbebas dari masalah, termasuk guru. Seberat apapun masalah yang sedang dihadapi, guru tidak boleh membawanya ke kelas. Jika tidak dapat menahan, maka integritas guru bisa tercoreng dengan melampiaskan amarah di depan peserta didik. Begitupun pembiasaan nilai-nilai pendidikan karakter lain yang diimplentasikan dalam kehidupan sehari-hari.
            Literasi tidak hanya baca dan tulis, tetapi juga menyangkut lima literasi dasar lain. Guru mampu menganilisis berkaitan dengan bilangan, grafik, tabel, dan simbol-simbol dalam literasi bilangan, menjelaskan, mengevaluasi, menginterpretasi data dan bukti sains, serta sensitif menangapi fenomena alam dalam literasi sains, mengelola keuangan dengan baik dalam literasi keuangan, yang tidak kalah penting adalah melek teknologi sebagai amalan literasi digital. Zaman sekarang masih ada guru yang gaptek. Padahal dengan menguasai teknologi digital, guru dengan mudah menciptakan pembelajaran bervariasi, tidak hanya metode ceramah yang membosankan. Tidak membedakan peserta didik berkaitan dengan ras, suku, dan agama serta menghargai budaya setempat yang termasuk pengamalan literasi budaya dan kewargaan.
            Sedangkan memecahkan masalah kompleks berkaitan dengan Membiasakan diri berpikir kritis, di antaranya membuat Rancangan Pelaksaan Pembelajaran (RPP) yang inovatif. Tidak ada peserta didik yang bodoh. Melainkan guru kurang mampu mencari model pembelajaran yang sesuai dengan macam-macam karakter siswa.
            Menjadi guru tidak cukup sebagai pegawai yang menerima gaji sesuai kewajiban mengajar. Tetapi juga memiliki jiwa layaknya orangtua yang sedang mendidik anak kandungnya. Dengan demikian akan timbul dari hati untuk memandaikan mereka dengan penuh ketulusan, tidak semata-mata mentrasfer ilmu. Semoga kelak terwujud generasi emas 2045 yang berdaya saing dan berjiwa Pancasila.
@@@
esai ini pernah terbit di Koran Solopos, Minggu 22 Desember 2019

Jumat, 20 Desember 2019

Laki Lucky

                                                                                       

Tha tha tha that
            Rima buru-buru membuka ponsel begitu bunyi chat terdengar. Namun yang ditunggu jawaban dari teman sebangku tentang pekerjaan rumah tak seperti yang diharapkan.
            Maaf, Rim, aku Arjuna, ini nomor ponselku yang baru
            Uh, siapa nanya? Rima lunglai. Hampir saja ponselnya terjatuh. Tak sulit menemukan nama Arjuna dalam ensiklopedi daftar nama kenalannya. Hanya satu, yah hanyaArjuna si Tetangga satu kampung. Beberapa bulan terakhir gerak-geriknya `mencurigakan`, begitu istilah Rima, bagi seseorang yang membuat badannya meriang tak karuan. Terlepas orang itu sebetulnya ingin memberikan panah-panah asmara kemudian membuatnya berbunga-bunga kelak. Rima yang manis, rambut ikal sebahu, tinggi semampai, berkulit bersih,  ah apa yang kurang darinya.
            Arjuna adalah laki-laki kesekian yang mengharap cinta Rima. Rizky yang agresif, sering datang ke rumah dan membawakan kebab, camilan kesukaannya. Zulfan yang senantiasa ingin mengulurkan tangannya perihal tugas sekolah, hingga membuat Rima tersinggung. Sebab Rima tidak termasuk siswa pas-pasan kemampuan akademiknya. Mereka hanyalah laki-laki yang terang-terangan menunjukkan keinginannya. Entah siapa yang secara diam-diam juga punya hasrat sama tapi tak kesampaian.
            “Lagi suntuk ya Rim?” ledek Lia tetangga sebelah rumah. Dia baru saja pulang dari kegiatan sekolah.
            “Ah...eh ... enggak,” Rima terperanjat lalu buru-buru memperbaiki sikapnya yang manyun.
            Padahal satu kali pun Rima tidak pernah memberikan nomor ponsel. Kembali pikirannya merutuk pada sikap Arjuna begitu dirinya kembali seorang diri. Barulah dia tersadar, mudah bagi laki-laki itu mendapatkan nomor ponselnya. Melalui RT, kelurahan, atau dari data administrasi lain. Bahkan berpapasan berusaha keras membentengi diri agar laki-laki ceking itu tak menegurnya. Yang terjadi seperti yang diharap, Ajuna hanya memandangi paras wajahnya yang putih, namun jutek.
            Kisah Arjuna segera berlalu begitu ponsel berbunyi untuk kedua kali dan itu dari sahabatnya. Ditumpahkan segala uneg-uneg. Namun tidak seperti yang diharapkan, sesaat setelah teman sebangkunya memberikan jawaban soal.
            Kau tak perlu terus-terusan menghindar. Coba selami. Terbuka, Rim
            Saat itu juga ponsel ditutup dan langsung masuk ke rumah. Rima mengerjakan soal dengan hati jengkel.
@@@
            Hari-hari terakhir,hati Rima tak menentu.Dia sendirian semenjak teman sebangkunya ikutan merutuki sikapanya yang tidak membuka diri terhadap Arjuna.
            “Kenapa sih langsung menolak? Kamu belum tahu isinya. Sebagai sahabat aku tidak mau kau menyesal kelak karena dia sudah keburu disambar gadis lain,” sergah teman sebangkunya suatuketika.
Tahuapa dia, mengharuskan aku mencoba menyelami hati Arjuna. Cinta itu datang dari pandangan pertama. Dan tak perlu dipaksa jika memang harus sendiri. Bukannya dari seringnya bertemu kemudian lama-lama menjadi suka. Mentang-mentang dia orang Jawa, ngutip pepatah Jawa, tresno jalaran soko kulino. Buktinya beberapa kali berpapasan malah membuat badan  kemudian panas.Tak sedikit pun ada getar.
Mungkin Rima yang terlalu keras kepala.
Kali ini Rima duduk-duduk manja di bawah pohon sirkaya depan rumahnya, kebiasaan yang lama tak dilakoni semenjak hujan berhari-hari mengguyur. Entah sore ini, sepertinya hujan sedang mempersilakan Rima untuk menikmati sore, setelah tadi turun begitu deras. Langit terang walaupun sedikit awan bergerombol di atas sana. Sedikit menghibur hatinya. Terasa Rima mendapatkan teman baru dari sesuatu lain dengan adanya suasana yang berbeda. Angin mengayun rambutnya yang bergelombang. Udara sejuk mengingatkannya situasi kontras saat musim panas mengganas begitu lama.
Keindahan sore terganggu dengan lintasan seseorang yang justru sedang dihalau. Langkah Arjuna membelok di rumah sebelah membuat Rima dapat memandang dengan jelas. Tak sengaja pandangannya mengarah ke rumah Lia sambil menyelonjorkan kaki,  menghilangkan penat. Kini gangguan itu tak hanya matanya tapi merambah ke pikiran.
Untuk apa Arjuna ke rumah Lia. Kalaupun ingin menemui saudara lelaki Lia, bukankah mereka sedang tidak berada di sini, tetapi kuliah di luar kota? Lia juga tidak satu sekolah dengan Arjuna.
Walaupun satu tingkat, Rima, Arjuna, dan Lia tidak pernah saling berhubungan, termasuk urusan sekolah. Mereka hanya sebatas tetangga dan bertegur sapa saat bertemu. Hanya belakangan karena tak berkehendak di hati, sikap Arjuna tak diterima Rima.
Tapi benarkah tak berkehendak di hati? Kali ini Rima benar-benar terusik. Tanda tanya mengapa Arjuna tak hanya sekali datang ke rumah Liapada kemudian hari terus menghantui. Yang membuat tak disangka karena gadis yang didekati adalah tetangga sebelah rumahnya. Hal yang akan dilihatnya di depan mata bila sesuatu yang tak disangka bakal terjadi. berbeda dengan Zulfan, Rizky dan entah siapa lagi. Rima bisa menghindar.
Diam-diam dia menyesali sikapnya selama ini. Kalau saja waktu boleh berulang....
Kelak Arjuna tak bakal ditolak lagi. Siasatnya mendekati Lia yang sengaja direncanakan keduanya,  berhasil mengelabuhi Rima. Arjuna sungguh laki lucky.
@@@

Cerpen remaja ini pernah terbit di koran Padang Ekspres, Minggu 15 Desember 2019