Iis Soekandar

Rabu, 20 November 2019

Es Krim Bola-Bola Tante Kayla

                                                                                   

Dona baru saja mandi sore. Badannya kembali segar. Tadi siang, sepulang sekolah, ia merasa lelah sekali. Ada ulangan dan banyak tugas yang ia kerjakan di sekolah. Itu sebabnya, setiba di rumah, ia langsung beristirahat dan tidur siang.
Kini, Dona duduk-duduk santai di teras rumah. Tiba-tiba mama datang menghampirinya.
"Don, tolong ajak main Dini! Mama mau melanjutkan bikin tumpeng," pinta mama sambil menggandeng tangan Dini.
Setelah itu, mama masuk ke dapur meninggalkan Dona dengan adik kecilnya itu. Teman-teman mama sering meminta mama membuatkan kue ulang tahun dan tumpeng. Kini, mama jadi sering menerima pesanan.
Walaupun begitu, Dona dan Dini belum pernah merayakan ulang tahun. Uang penghasilan mama digunakan untuk membantu membeli kebutuhan sehari-hari. Kalau dari penghasilan papa Dona saja, tidak akan cukup untuk biaya kebutuhan keluarga mereka.
Dini tampak senang membawa dua boneka dan pernak-perniknya. Lalu ia bermain di lantai. Dona yang kelelahan, sebetulnya masi ingin bersantai. Namun, ia tidak bisa lagi santai. Dona harus banyak bicara pada Dini. Jika tidak, Dini pasti menangis karena merasa bermain sendirian.
“Kak Dona yang jadi kakak ya. Dini jadi adik,” pinta Dini sambil memberikan boneka besar kepada Dona. Sedangkan Dini memegang boneka kecil.
“Iya,” jawab Dona malas-malasan.
“Kak, aku pergi dulu ya,” kata Dini yang memerankan sebagai adik kecil.
“Iya,” sahut Dona.
“Kakak mau pesan apa?” tanya Dini ramah.
“Nggak!” jawab Dona.
“Kaaak!” teriak Dini jengkel. “Kakak kenapa nggak mau bicara?”
“Kakak, kan, udah bicara,” tukas Dona keras sambil berdiri hendak pergi.
Mulut Dini lambat laun mewek dan akhirnya menangis.
“Huu... huuu.....“
Mama muncul terburu-buru dari dapur. Mama masih memakai celemek.
“Dona, kenapa Dini malah nangis? Kamu tidak mau diajak bermain, ya..." tukas mama.
“Aku lagi capek, Ma. Dini ngajak ngomong terus. Dona duduk di sini, kan, mau santai, Ma. Dona malas ngomong,” jawab Dona agak kesal.
Begitulah sikap Dona satiap kali mama memintanya mengajak Dini bermain bersama.
Dengan sedih, Mama sekali lagi meminta tolong Dona menjag adiknya, sampai mama selesai membuat kue.
Dona jadi tidak tega juga melihat wajah mama yang kusut.
Dengan terpaksa, Dona mengikuti kemauan Dini untuk bermain bersama di teras. Saat sedang menamani Dini, tiba-tiba terdengar  seseorang memanggil nama Dona.
Ketika Dona sedang menemani Dini, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
“Dona, kamu sudah lama tidak datang ke tempat Tante. Ke mana saja?”
Dona mendongak, melihat ke arah pagar. Ternyata Tante Kayla datang. Dona menyambut adik mamanya yang baru masuk ke halaman.
“Hai, Dini... Kamu sedang mai apa?”
“Main boneka, Tane Kayla...” sahut Dini, lalu asyik menyisir rambut bonekanya lagi.
“Aku diminta Mama menemani Dini. Pesanan tumpeng dan kue Mama sekarang banyak, Tante Kayla,” jawab Dona.
“Ajak sekalian adikmu bermain ke rumah Tante, yuk! Pasti dia senang. Sekarang di rumah Tante ada banyak anak kecil seumuran Dini, lo. Kamu kangen enggak, pada Kuci dan es krim bola-bola bikinan Tante?” tanya tanya Kayla.
Kuci adalah nama kucing milik Dona. Dona kesulitan merawat kucing itu karena setiap hari harus menemani Dini. Syukurlah, Tante Kayla yang penyayang binatang bersedia merawat Kuci.
“Wah, Dini pasti senang kalau dapat teman seusia. Apalagi sambil makan es krim bola-bola bikinan Tante. O iya... Tentu saja Dona kangen Kuci, Tante.”
“Tante tunggu, ya. Sekarang, Tante mau ke warung dulu!” ujar Tante Kayla sambil melangkah keluar dari halaman rumah Dona.
Dona pun kembali bermain bersama Dini. Dulu, Dona suka berkunjung ke rumah Tante Kayla sebab Dona bisa makan es krim bola-bola gratis. Selain itu, Tante Kayla suka anak kecil.
Beberapa bulan lalu, suami Tante Kayla meninggal dunia. Karena kesepian sendirian, Tante Kayla sering mengundang anak-anak kecil tetangga sekitar untuk berkunjung ke rumahnya.
Sore itu Tante Kayla akan membeli sagu mutiara. Karena pembantunya sedang pulang kampung, terpaksa Tante Kayla ke warung sendiri. Sagu mutiara bila dimasak akan mengembang menjadi bulat-bulat seperti bola-bola kecil. Bola-bola itu lalu dicampur dengan es krim. Itu sebabnya Tante Kayla menyebutnya es krim bola-bola.
@@@
Hari berikutnya, seperti biasa mama meminta Dona menemani Dini bermain. Mama sedang membuat kue pesanan. Dona teringat kata-kata Tante Kayla agar berkunjung ke rumahnya.
Ternyata benar, rumah Tante Kayla ada banyak anak kecil. Tante Kayla memperkenalkan Dini kepada anak-anak lain. Dini merasa senang dan langsung bermain bersama mereka.Dona hanya mengawasi sambil menggendong Kuci. Setelah beberapa lama, Tante Kayla datang membawa nampan.
“Ini es krim bola-bola buat kalian,” kata Tante Kayla dengan membawa nampan.
“Asyiiiik...,” teriak anak-anak serempak.
Tentu saja mereka tahu isi gelas-gelas di atas nampann itu. Mereka tidak sabar ingin segera menikmatinya.
Gelas-gelas itu berisi es krim yang dicampur sagu mutiara sehingga terlihat seperti bola-bola. Tante Kayla membagikan gelas-gelas es krim pada mereka. Juga stik-stik es krim terbuat dari kayu kepada setiap anak. Mereka gembira bermain di rumah Tante Kayla.
Sejak itu Dona rajin mengajak bermain Dini di rumah Tante Kayla. Dona tidak harus selalu menemani Dini karena ada banyak anak lain yang ingin bermain dengannya.
Pesanan yang mama terima pun bertambah banyak. Mama berjanji akan merayakan ulang tahun Dona bulan depan. Bahkan mama sudah memesan baju khusus untuknya. Begitu pun untuk adiknya, Dini.
@@@
Cerpen ini pernah dimuat di majalah Bobo, terbit 14 November 2019



Selasa, 19 November 2019

Tak Lekang oleh Waktu



         Yah, seperti itulah yang saya rasakan mengikuti kegiatan Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP), benar-benar tak lekang oleh waktu. Baik karena belajar tak mengenal batas usia-yang berpengalaman mengajar pun wajib mengikuti- maupun dari segi waktu. Hari Minggu saatnya libur harus melaksanakan karena tiba-tiba jadwal yang mulanya Sabtu harus diganti. Ditambah sistem yang tidak lancar sehingga harus mengerjakan tugas bertumpuk-tumpuk.Beruntung saya biasa bekerja malam hari berkaitan dengan kegiatan menulis.
            Tetapi menerima konten dari kegiatan tersebut, jauh dari merugi. Rasanya cucok pengorbanan saya kehilangan hari Minggu yang biasanya benar-benar me time- senam pagi,  ngopi-ngopi sambil baca koran, ke tobuk, semua terbayar oleh manfaat yang saya dapat.
           Terlebih belajar dalam suasana nyaman dan menyenangkan. Nyaman karena berada di ruangan yang dilingkupi pepohonan. Bahkan saat isoma, kami berjalan-jalan menyusuri tempat tempat rindang menuju musala. Saya dan teman-teman disuguhi pemandangan seperti hutan mini, lumayanlah sebagai refresing mata maupun suasana. Di tengah kehidupan kota yang penuh hiruk pikuk dan penuh dengan gedung-gedung. Menyenangkan karena kami bekerja saling membantu. Sehingga kesulitan apapun dapat teratasi, termasuk kesulitan menggunakan teknologi informatika. Sebab zaman online, semua tugas harus diunggah. Terkadang sistem tidak lancar membuat kami kesulian mengunggah.

                                                                         
Ibu Iin Sulistyowati sebagai GI

            Ada tiga belas Pendidik atau Guru Sasaran (GS), baik dari sekolah swasta maupun negeri. Sebagai Guru Sasaran (GS), saya dan teman-teman dimentori oleh Guru Inti (GI) Ibu Iin Sulistyowati, dari SMP Negeri 31 Semarang, yang juga sebagai Pusat Belajar (PB). Sedangkan sebagai narasumber tamu seperti Pengawas dan Pejabat dari Dinas Pendidikan, ikut memberikan penguatan-penguatan yang intinya setelah mengikuti kegiatan ini menjadi Pendidik yang dapat menciptakan generasi emas.
            Kegiatan minggu pertama adalah simulasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Literasi, seperti mandiri, gotong royong, nasionalis, baca-tulis. Kami bekerja berkelompok. Setiap peserta berbagi pengalaman kegiatan PPK dan Literasi di sekolah masing-masing. Kemudian menuliskannya dalam kartu-kartu yang akan ditempel. Awal kegiatan sudah mengundang perhatian. Saya banyak mendapatkan pengalaman dari teman-teman. Saya bisa memilih kegiatan literasi yang sesuai diterapkan di sekolah tempat saya mengajar. 

                                                                               

                                                         penulis di antara kegiatan PKP

         Kegitan berikutnya adalah pembuatan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berorientasi HOTS (Higher Order Thinking Skills). Kami menjadi tahu bagaimana pengembangan RPP yang membentuk siswa berpikir kritis.  Diawali dari merancang desain, penulisan RPP, hingga presentasi.
            Padatnya agenda acara membuat kegiatan berjalan tanpa terasa. Pada hari Minggu dari pukul setengah delapan pagi, tahu-tahu pukul sepuluh saatnya coffe break. Tahu sendirilah, saya yang suka ngopitentu kesempatan emas bisa menikmati minuman kesukaan di sela-sela bekerja. Apalagi juga disediakan snak. Hm, kesempatan nihwisata kuliner. Terlebih bisa nyicipi sukun goreng-yang dengar-dengar dari pohon sendiri, hasil budi daya sekolah setempat. Wah, benar-benar memanfaatkan kearifan lokal. Memang benar sih, saat ada waktu jalan-jalan di belakang, ada pohon sukun yang buahnya besar-besar. Mungkin memang sudah matang, saatnya diunduh dan dikonsumsi. Baru dua jam berkegiatan tiba saatnya isoma. Rasanya baru sesaat bekerja sudah kembali break dan makan snak sore hari. Hingga tiba pulang ke rumah masing-masing.
            Semua tugas kami lalui, tentunya dukungan dari GI yang selalu memberi semangat juga teman-teman untuk menuntaskan semua tagihan. Hingga tidak terasa dengan berat hati hari memasuki minggu kelima, saatnya kegiatan berakhir dan berpisah. Tapi kami saling berjanji bahwa silaturahmi tidak berhenti sampai di sini. Ada media sosial. Karena situasi dan kondisi silaturahmi tidakharus dengan bertatap wajah. Untuk saling melengkapi dalam menghadapi permasalahan pembelajaran. Sebab guru adalah pembelajar yang tak lekang oleh waktu.
            Kegiatan Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) telah usai. Bagi saya ini justru awal dari kegiatan lain. Apalagi kalau bukan menulis. Saatnya mengeksekusi satu per satu ide-ide yang bertebaran selama lima kali mengikuti kegiatan. Semoga masing-masing karya menemukan muaranya. Amin.
@@@
                                                                                            

Minggu, 29 September 2019

Menciptakan Keluarga Bahagia Menuju Masyarakat Literat


Oleh: Iis Soekandar

Bangsa yang maju tidak saja didukung oleh penduduknya yang padat dan hasil kekayaan alam melimpah, tetapi juga masyarakat yang literat. Demikian sambutan tertulis Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy dalam Panduan Gerakan Literasi Nasional. Untuk itu pembangunan pendidikan dan kebudayaan digalakkan dalam lingkup kegiatan-kegiatan literasi melalui pembangunan ekosistem pendidikan, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat, sebagaimana yang termaktub dalamRencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015–2019. Kemendikbud pun menyelenggarakan berbagai program GerakanLiterasi Nasional (GLN). Apalagi menurut PISA (Program for International Student Assessment), budayamembaca anak-anak Indonesia rendah. Indonesia menduduki urutan 62 dari 70 negara yang disurvei. Demikian dilansir Detiknews (5/12/2019).
Di lingkungan sekolah program pemerintah tersebut mudah diimplementasikan. Karena sekolah terikat dengan peraturan. Pemerintah menggalakkan literasi seperempat jam sebelum pembelajaran dimulai. Peserta didik diminta membaca buku bacaan kemudian menuliskan intisari yang dibacanya. Sehingga peserta didik diharapkan terbiasa membaca. Apalagi pemerintah mewajibkan belajar 12 tahun bagi anak-anak. Pemerintah memberi dana BOS untuk menunjang pendidikan. Dengan demikian diharapkan semua anak Indonesia mengenyam pendidikan dari SD hingga SMA/ SMK. Selanjutnya semua generasi muda gemar membaca.
Lalu bagaimana implementasi literasi di lingkungankeluarga dan masyarakat yang tidak ada ikatan langsung dengan pemerintah?
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Kebiasaan dalam keluarga akan terbawa di masyarakat, termasuk dalam berliterasi. Bagi keluarga menengah ke atas di antaranya ditandai dengan pentingnya menempuh pendidikan. Membaca menjadi kebutuhan untuk menunjang disiplin ilmu yang dipilihnya. Bahkan mereka memiliki perpustakaan sendiri di rumah. Tetapi bagi kalangan keluarga menengah ke bawah, membaca belum menjadi kebiasaan. Mereka disibukkan dengan urusan ekonomi.Padahal dengan membaca berbagai persoalan terpecahkan dari buku yang dibaca. Buku-buku yang dijual di pasaran tidak semua berharga mahal. Ada kemauan ada jalan. Jika buku sudah menjadi kebutuhan, harga bisa dipertimbangkan, mengingat manfaat yang didapat.
Inilah pentingnya kesadaran membaca. Pemerintah melalui tangan panjangnya kelurahan atau lebih spesifik RT, perlu mengimbau budaya membaca. Pojok baca salah satu alternatif sarana menyediakan buku-buku bagi setiap keluarga. Pojok baca dibuat fleksibel tergantung kemampuan keluarga. Bahkan pojok baca adalah tempat yang mulanya tidak terpakai kemudian diberdayakan menjadi tempat yang representatif menyimpan buku-buku. Pojok baca ramah terhadap kemampuan keluarga, sehingga tidak harus luas dan dengan biaya mahal. Buku-bukunya pun dibeli menurut kemampuan keuangan keluarga. Setiap anggota keluarga menyumbangkan buku sesuai kebutuhannya. Sehingga pojok baca menjadi #sahabatkeluarga. Dengan demikian #literasikeluarga pun tercipta dan menjadi kebutuhan yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Kesan selama ini bahwakebutuhan membaca hanya diperlukan bagi masyarakat yang memiliki akademik pun terkikis.
Di luar rumah, pemerintah menyediakan buku-buku dalam pojok baca di tempat-tempat biasanya warga mengadakan pertemuan-pertemuan, seperti pertemuan PKK sebulan sekali, posyandu, dan masih banyak lagi kegiatan yang dilenggarakan dari program PKK. Membaca terintegrasi dengan kegiatan, yiatu sebelum acara inti dimulai. Atau setidaknya sambil menunggu acara dimulai, masyarakat mengisi waktu dengan membaca. Membaca pun menjadi kebutuhan seiring masyarakat sering melakukan kegiatan tersebut.
Hal ini ditunjang dengan kunjungan perpustakaan keliling ke kelurahan-kelurahanatau kampung-kampung. Berdasarkan survei daerah tempat saya tinggal, perpustakaan lebih banyak melayani sekolah-sekolah. Pemerintah perlu menambah perpustakaan keliling melalui armada roda empat. Dengan demikian tidak ada alasan masyarakat tidak dapat mengakses buku-buku. Kegiatan membaca dilakukan bersama-sama, dari anak-anak hingga orangtua. Perpustakaan keliling juga diharapkan rajin hadir dalam momen-momen, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun masyarakat, seperti pasar murah, perayaan hari besar, dan acara-acara yang banyak dikunjungi masyarakat.
Buku-buku yang disediakan perpustakaan keliling beragam. Hal ini sekaligus memberi pemodelan bagi keluarga-keluarga yang telah memiliki pojok baca.  Tidak hanya buku-buku bersifat menghibur seperti cerita-cerita fiksi, tetapi juga berkaitan dengan keenam literasi dasar. Agar masyarakat dapat menjawab tantangan abad 21.
Pertama, buku-buku berkaitan denganliterasi bahasa. Literasi bahasadimaknai sebagai membaca dan menulis pada konteks umum. Tidak hanya mengimplementasikan yang dibaca dari buku, tetapi juga yang tertulis danditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti membaca tanda rambu-rambu lalu lintas saat berkendaraan. Sehingga tidak ada lagi kecelakaan disebabkan human error. Selama ini kecelakaan di jalan sebagian dikarenakan pengendara tidak mematuhi peraturan lalu lintas. Itu artinya masyarakat baru sebatas membaca tanda rambu lalu lintas, tetapi belum mampu mempraktikkan. Perlu penanganan langsung dari polisi lalu lintas untuk menindaklanjuti bagi pelanggar lalu lintas. Bukankah cctv dipasang di area-area strategis jalan?
Kedua, buku berkaitan dengan literasi numerasi, memecahkan masalah praktis dan mengomunikasikan bilangan dalam berbagai bentuk seperti tabel, untuk mengambil keputusan.
Ketiga, buku atau bacaanberkaitan dengan literasi sains.  Kemauan membuka diri menerima, terlibat, dan peduli isu-isu terkait sains atau ilmu pengetahuan.
Keempat, buku atau bacaan berhubungan dengan literasi digital. Hal ini berkaitan dengan media digital yang marak di masyarakat. Android atau ponsel pintar sekarang bukan hal asing.Dari masyarakat atas hingga bawah memiliki android. Ditambah internet mudah didapat secara gratis melalui wifi.Penggunaan android yang tepat juga dapat meningkatkan kesejahteraan hidup. Android memberikan informasi-informasi berguna. Diharapkan tidak ada lagi masyarakat yang gaptek atau gagap teknologi.
Kelima, buku-buku berkaitan dengan literasi finansial. Hal ini berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Dengan pengelolaan yang cerdas, tidak ada lagi koruptor-koruptor yang hampir setiap hari menghiasi berita-berita politik. Apapun alasan perbuatan korupsi itu. Begitupun tidak ada seorang ibu yang dengan terpaksa membunuh anak-anak dengan memberi obat racun alasan ekonomi. Sebagaimana pernah tersiar di media. Dengan pengolaan keuangan yang baik, tidak ada yang tidak terselesaikan dalam menangani kebutuhan sehari-hari.
Keenam, buku-buku berkaitandengan literasibudaya dan kewargaan, menyikapi kebudayaan Indonesia dan memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat. Budaya, termasuk kearifan lokal tidak saja sebagai identitas bangsa tetapi juga mengandung nilai-nilai positip bagi masyarakat setempat. Sedangkan literasi kewargaan berkaitan dengan tidak menggaggu hak-hak orang lain sehingga tidak terjadi benturan-benturan di masyarakat.
Keenam literasi dasar telah memberi pedoman lengkap bagi terbentuknya keluarga bahagia. Jika hal ini benar-benar dijalankan─ sementara sekarang baru digalakkan literasi bahasa─ masyarakat yang literat pun mudah terbentuk. Dengan demikian, keluarga dan masyarakat sangat berperan dalam membudayakan literasi di bumi tercinta ini.
Semakin kokohbangsa Indonesiadalam mengisi abad 21, memiliki penduduk banyak, hasil alam yang melimpah, dan masyarakat literat.
@@@
           

Pojok Baca, Sarana Mengatasi Krisis Literasi

                                                                                 


       Penggunaan waktu seperempat jam sebelum pembelajaran dimulai untuk berliterasi  telah berlangsung sejak tahun 2015. Hal ini mengacu pada payung hukum Permendikbud nonor 23 tahun 2015. Tetapi sudahkah semua sekolah telah melaksanakan pesan yang terkandung dengan optimal?
            Pada sekolah-sekolah tertentu, terutama sekolah swasta, literasi seperti yang termaktub dalam undang-undang tersebut menjadi bermakna luas. Literasi dalam konteks baca dan tulis bisa diimplementasikan pada huruf-huruf Arab untuk menunjang ciri khusus sekolah tersebut. Akibatnya literasi yang dimaksud hanya berlangsung pada pelajaran bahasa Indonesia.  Padahal fungsi bahasa Indonesia sebagai penghela atau pengantar semua mata pelajaran. Untuk itu setiap siswa diharapkan berminat membaca semua buku mata pelajaran dan kelak pada waktunya juga buku-buku bacaan umum.
       
      Sementara sekolah swasta juga mengemban amanah dari stakeholder. Yang tentu semua itu bertujuan untuk kemaslahatan masyarakat sekitarnya. Apalagi salah satu tujuannya berdampak pada penerimaan para calon peserta didik pada tahun ajaran baru.
            Guru bahasa Indonesia perlu menjembatani antara pesan undang-undang dengan amanah stakeholder sehingga tidak terjadi krisis literasi. Satu sisi keinginan stakeholder terpenuhi, sisi lain siswa tetap mendapatkan pengalaman-pengalaman berliterasi sebagaimana yang didapatkan para siswa pada umumnya dari sekolah lain.
          
          Pojok baca adalah salah satu sarana menjembatani pesan kedua belah pihak. Hal ini berlaku bagi kelas dengan siswa bernilai akademik tinggi maupun kurang. Bagi kelas dengan siswa gemar membaca, buku-buku yang disediakan cukup meminjam dari perpustakaan sejumlah siswa satu kelas, bila memungkinkan bisa lebih tergantung jumlah buku yang dimiliki. Sedangkan bagi kelas dengan siswa minat membaca rendah, buku yang disediakan berdasarkan swadaya mereka. Setiap siswa diminta membawa buku sesuai keinginannya. Bacaan yang dibawa bisa berupa komik, buku cerita, koran, majalah, bahkan resep masakan ibunya bila terpaksa siswa tidak memiliki buku bacaan. Yang terpenting siswa membaca.
Dengan tidak mengesampingkan fungsi perpustakaan-bagaimanapun perpustakaan adalah pintu gerbang jendela dunia- siswa dengan membawa buku sendiri lebih efektif memintanya untuk membaca.Diharapkan dengan cara seperti ini siswa gemar membaca, dan pada akhirnya punya minat baca tinggi. Kelak pada tingkat baca tinggi, siswa diberi buku-buku dari perpustakaan yang tentu sudah disesuaikan dengan tingkatan mereka.
Pojok baca dibuat berdasarkan kreativitas siswa satu kelas, terletak pada kelas bagian belakang sehingga tidak menggangu pembelajaran. Di samping itu, menghapus citra pojok kelas yang selama ini hanya untuk para siswa yang malas dan enggan mengikuti pelajaran. Buku-buku ditata di rak yang ditempel di dinding dengan model seperti yang mereka kehendaki, begitu pun hiasan-hiasannya. Hal ini diharapkan mengundang siswa bersemangat membaca. Pelaksaan literasi bisa kapan saja, seperti saat istirahat dan jam kosong, tentunya juga pada pelajaran bahasa Indonesia.
            Setiap kali selesai membaca siswa diminta menuliskan intisari dari buku bacaannya di buku jurnal membaca yang dikumpulkan di kelas. Hal ini untuk memantau bahwa siswa telah melaksanakan kegiatan literasi. Guru membuat skor. Penilain tertinggi diberikan kepada siswa dengan kegiatan literasi paling sering. Hasil penilaian ini berguna untuk menambah hasil PTS (Penilaian Tengah Semester) dan PAT (Penilaian Akhir Semester), terutama bagi siswa dengan akademik rendah.
         Diharapkan dengan pojok baca semua siswa dari semua tingkat akademik memiliki pengalaman membaca sebagaimana yang termaktub dalam undang-undang. Dengan demikian bahasa Indonesia sebagai penghela atau pengantar pelajaran-pelajaran lain menjadi tidak terkendala. Pojok baca telah menyelesaikan masalah krisis literasi. Semoga terlahir generasi-generasi yang selalu berhasrat memajukan bangsa ini.
@@@
                         Artikel ini pernah dimuat di harian Solopos, Minggu 29 September 2019 

Senin, 19 Agustus 2019

Menyusuri Museum Mandala Bhakti

                                                                                           

           Udara panas begitu menyengat ketika saya sampai di depan gedung yang terletak persis di depan Tugu Muda dari arah Jalan Pemuda. Waktu menununjuk tengah hari. Saya melihat pintu depannya tertutup. Tidak ada aktivitas. Tukang parkir setempat meminta saya agar mencari informasi kepada petugas di belakang museum.
            Sambil berjalan menuju ke belakang, dalam hati saya bertanya-tanya, mengapa museum dengan gedung megah dan terletak di tengah kota, justru pusat informasi berada di belakang. Bukankah museum adalah tempat menyimpan dokumen dan benda-benda bersejarah yang berguna untuk edukasi?
Setelah mendengar maksud tujuan, dengan senang hati bapak penjaga yang saya temui bersedia mengantar. Tapi sejenak pikiran buruk terlintas. Museum sepi. Tidak ada pengunjung kecuali saya. Saya putuskan kembali ke museum hari Senin dengan mengajak teman.
        Pada saat menuju keluar, dua keluarga datang dan bertanya di mana pintu masuk Museum Mandala Bhakti. Gayung bersambut. Saya tidak jadi pulang dan mengantar mereka ke penjaga lalu melihat-lihat bersama.
            Penyimpanan benda-benda bersejarah sekarang hanya berada di lantai dua. Demikian keterangan pegawai yang memandu. Dulu dengan lantai satu. Karena kurang pengelolaan, rencananya lantai satu akan disewakan sebagaimana bagian belakang museum.
            Dengan disertai pemandu, kami mulai menyusuri museum. Pertama-tama kami diantar di bagian depan, lantai satu. Terlihat lukisan-lukisan yang menggambarkan suasana pedesaan tempat ayah Pangeran Diponegoro, Hamengku Buwono III, bermukim.  
                                                                                    
tangga menuju ke cerita Pangeran Diponegoro
          
         Setelah itu kami diantar ke lantai II. Di sana ada gambar-gambar yang menceritakan Pangeran Diponegoro, dari lahir hingga masa peperangan. Beliau dilahirkan oleh wanita selir.  
         
Pangeran Diponegoro saat masih bayi

         Berikutnya kami memasuki replika Gua Selarong. Gua Selarong adalah tempat untuk bersembunyi Pangeran Diponegoro saat berperang melawan tentara Belanda. Gua ini terletak di Bantul.

                                                                               
Gua Selarong

         Ruang selanjutnya adalah replika-replika yang yang pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro, seperti kitab suci Al-Quran dan satu set tempat duduk tamu. Tersimpan juga bekas padasan atau tempat air wudu dan tempat salat yang pernah digunakan.
                                                                             
padasan Pangeran Diponegoro

         Ketika saya bertanya mengapa Pangeran Diponegoro yang dijadikan simbol Museum Mandala Bhakti. Pemandu menerangkan karena Pengeran Diponegoro memimpin perang besar melawan Belanda. Itu sebabnya dimuliakan. Nama kodam pun kodam 4 Diponegoro, dulu kodam 7 Diponegoro.
                                                                                  

                                                        AlQuran Pangeran Diponegoro

         Jadi Museum Mandala Bhakti selain memuat kisah perjuagan Pangeran Diponegoro juga memuat memorabilia TNI. Senjata-senjata dan alat-alat perang, pakaian tni dari masa ke sama tersimpan di museum. 
                                                                               
alat komunikasi zaman perang

          Agar lebih mencintai sejarah perang bagi anak-anak, pengelola berencana menyewakan pakaian perang ukuran kecil.
                                                                                 
pakaian TNI dari waktu ke waktu

Tidak lupa di sela-sela mendengarkan penjelasan, kami berswafoto di depan gambar-gambar yang bagus. Pemandu yang ramah, bersedia pula mengambil foto. Bahkan dapat mengarahkan gaya. Mungkin karena dia sudah terbiasa diminta oleh pengunjung.
                                                                 
salah satu spot foto

Tidak terasa satu jam lebih kami berjalan-jalan. Sampailah kami di penghujung. Sebagai kritik membangun, selayaknya pengelolaan museum dibenahi. Museum terbuka untuk masyarakat umum. Penjaga berada di pintu depan layaknya layanan publik sehinga pintu utama tidak ditutup. Apalagi musem terletak tidak jauh dari Lawang Sewu dan Tugu Muda, tempat-tempat wisata yang sudah dikenal masyarakat luas di Indonesia. Bisa dimungkinkan Museum Mandala Bhakti juga akan menjadi tempat wisata yang ramai dikunjungi. Bukankah menambah pemasukan daerah?

@@@
                                                                    





Jumat, 09 Agustus 2019

Riwayat “Tembong”

                                                                                 


          Termasuk ke dalam lima cerpen terpilih adalah sesuatu. Bermula pada sebuah lomba menulis cerpen yang tidak saya ketahui. Karena tahu-tahu, panitia sudah mengumumkan cerpen-cerpen terpilih. Lomba terbagi dalam dua kategori tema, “Pernikahan” dan “Putih Abu-Abu”. Untuk tema “Pernikahan” sudah terpilih sepuluh cerpen yang kelak akan dibukukan. Sedangkan tema “Putih Abu-Abu” baru terpilih lima cerpen. Panitia masih memberi kesempatan kepada para penulis mengirimkan naskahnya untuk mengisi lima kuota yang masih tersisa. Jika tidak ada cerpen yang memenuhi syarat, maka lima cerpen yang sudah terpilih akan digabung satu buku dengan tema “Pernikahan”.
          
         Berawal dari postingan teman yang mengabarkan cerpennya terpilih sepuluh besar dalam sebuah lomba. Saya terkaget, mengapa ada lomba menulis saya tidak tahu. Setelah saya selidiki ternyata saya belum menjalin pertemanan dengan pihak panitia lomba di facebook. Saya penasaran dengan tema “Putih Abu-Abu”. Hasrat hati ingin mengikuti. Tapi satu sisi saya juga sedang menyiapkan lomba menulis lain. Dan tenggat waktu kedua lomba tersebut bersamaan. Agar dapat mengikuti keduanya, saya membuka folder, siapa tahu ada cerpen yang sesuai. Sengaja saya tidak menulis cerpen baru demi menghemat waktu, pikiran, dan tenaga. Syukurlah, ada satu cerpen yang sesuai dengan tema “Putih Abu-Abu”.
                                                                          

         Cerpen “Tembong” saya tulis beberapa tahun lalu. Menulis adalah keterampilan. Semakin sering menulis semakin terasah, hasil tulisan pun semakin sempurna. Begitu pun dengan naskah “Tembong”. Begitu saja baca, jauh dari sempurna. Beberapa kalimat panjang tetapi tidak jelas maknanya. Sebagian alurnya ada yang tidak sesuai, meloncat sehingga saya harus menyesuaikan agar cerita itu runut. Ada bagian yang logikanya tidak nyambung. Pantas saja bila cerpen tersebut ditolak ketika saya kirim ke media waktu itu. Setelah semua revisi selesai, barulah saya kirim ke panitia lomba. 

           
        Cerpen “Tembong” terinspirasi ketika saya mengukuti Persami atau Perkemahan Sabtu Mingggu. Menjadi wali kelas adalah salah satu tugas guru selain mengajar. Kebetulan waktu itu, saya menjadi wali kelas VII. Ekstrakulikuler pramuka wajib diikuti oleh semua siswa kelas VII. Dan sebagian kegiatannya adalah mengikuti Persami. Agar kegiatan Persami berjalan kondusif dan terkontrol terutama bagi setiap peserta, panitia melibatkan wali kelas. Jadi, semua wali kelas VII wajib menyertai anak didiknya saat Persami.
                                                                             

          Tentu saja Persami memberi pengalaman berharga. Sedikit pun saya tidak pernah mengikuti kegiatan alam, kecuali dulu saat masih sekolah. Tidur di atas tanah hanya dengan beralaskan tikar. Belum lagi manahan hawa dingin karena hanya di dalam tenda. Posisi  sebagai orangtua bagi siswa binaan membuat saya tidak bisa tidur. Saya harus mengawasi mereka setiap saat.
            Usia siswa SMP masih labil. Mereka tidak lagi anak-anak. Tetapi juga belum remaja matang. Terkadang ingin coba-coba. Mereka jauh dari orangtua dan keluarga. Kebebasan ini dimungkinkan disalahgunakan. Di sela-sela kegiatan, misal malam hari saat istirahat, mereka melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti nge-drug, siswa lelaki menjahili siswa wanita, dan ulah-ulah negatif lain. Itulah peran wali kelas dilibatkan, tentu saja selain pengawasan dari kakak-kakak pembina. Maka legalah ketika Persami berakhir pada Minggu siang. Semua kegiatan yang direncanakan berjalan dengan lancar.
                                                                                
          
         Seperti biasa setiap mendapatkan pengalaman berharga selalu saya tulis. Maka hasil buah tangan itu berupa cerpen “Tembong” dan termasuk 10 cerpen yang diterbitkan dalam buku antologi cerpen dalam ajang “Lomba Menulis Cerpen Bersama Uda Agus”. Semakin membuat semangat saya dalam mengikuti lomba-lomba menulis lain.
@@@


Selasa, 23 Juli 2019

Pentingnya Literasi dalam Keluarga

        Ingatkah Anda dongeng-dongeng yang diceritakan ibu atau ayah menjelang tidur atau dalam kesempatan-kesempatan santai, saat masih anak-anak? Sehingga sampai dewasa tidak terlupakan? Seperti dongeng Si Kancil Mencuri Timun. Dongeng yang diceritakan ibu kepada saya menjelang tidur.Dongeng itu hingga kini masih selalu terngiang hingga saya dewasa. Si Kancil yang cerdik hingga berhasil mencuri timun Pak Tani. Tetapi bagaimanapun cerdiknya Kancil, mencuri adalah perbuatan tidak baik. Maka perbuatan mencuri tidak bisa dibiarkan. Pak Tani memasang jebakan dengan tumpukan ketimun. Kancil pun terkena jebakan dan terperangkap ke dalam kurungan atau sangkar.  Pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah jangan pernah mencuri kalau tidak ingin celaka karena itu perbuatan tidak baik.
Begitu pun dongeng-dongeng cerita rakyat lain, selain menghibur, mengandung pesan moral atau pendidikan karakter yang baik bagi anak-anak. Tujuannya agar anak-anak mencontoh perbuatan yang baik,sebaliknya meninggalkan yang buruk. Beragam pesan moral tersebut diharapkan membawa pengaruh positif pada kehidupan anak. Golden age adalah masa penting bagi anak, tepatnya pada usia dini atau 0-5 tahun.Oleh sebab itu Golden age juga dikatakan masa kritis karena sebagai landasan aspek perkembangan. Pengalaman-pengalaman yang terjadi masa balita terekam pada bawah sadar dan akan menjadi tuntunan dalam bersikap pada kemudian hari. Sirkuit emosi terbentuk sejak usia 2 bulan (Miftahul Wahidah, Kompasiana). Anak mudah mengingat yang kasat mata maupun yang didengar. Itu sebabnya kenangan masa kecil mudah diingat hingga dewasa.
Keluarga menurut definisi KBBI adalah ibu dan bapak beserta anak-anaknya. Dengan demikian orangtua dan keluarga ikut menentukan masa depan anak. Tidak heran bila kenangan indah masa kecil juga akan membuat bahagia saat dewasa. Sebaliknya kenangan pahit dan menyakitkan, terlebih bila yang menyakiti dari anggota keluarga sendiri, rasa sakit hati dan pedih juga akan terus terngiang hingga dewasa. Bahkan terkadang sulit untuk membuka pintu maaf.
Pengalaman masa kecil juga dapat mempengaruhi kepribadian dan karirnya. Seorang anak yang sejak kecil biasa ditempa dengan kehidupan keras, kelak pada saat dewasa dia akan menjadi pribadi mandiri. Sebaliknya seorang anak yang terbiasa segala permintaannya dituruti tanpa diajarkan sikap mandiri, kelak hidupnya banyak bergantung kepada orang lain. Anak pun kelak akan memilih pekerjaan sesuai perkembangan kepribadiannya. Oleh sebab itu orangtua harus memberikan pengalaman-pengalaman baik kepada anak sejak dini, menyangkut mental dan fisiknya untuk kesuksesan masa depannya. 
Demikian pentingnya masa anak-anak, pemerintah mengadakan Hari Anak Nasional, yang setiap tahun diperingati pada tanggal 23 Juli. Di samping menjunjung dunia anak-anak, hal ini secara langsung atau tidak mengingatkan kepada para orangtua agar memberikan sarana dan prasarana begi kebututuhan masa tumbuh kembang anak sehingga berkembang dengan baik.
Peran literasi sangat strategi dalam menentukan tumbuh kembang anak. Sebab di dalam literasi setidaknya terdapat dua hal kegiatan penting, yaitu membaca dan menulis. Adler (1967) salah seorang pakar pendidik menyatakan, Reading is a basic tool in the living a goog live, membaca merupakan alat utama agar seseorang dapat menggapai kehidupan yang baik.
Sejalan dengan dampak yang baik dari fungsi membaca, beberapa tahun terakhir pemerintah menggalakkan literasi di antaranya dengan menyelenggarakan kompetisi dalam rangka pengadaan buku-buku untuk anak-anak, dari usia balita hingga SD. Kompetisi itu dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah.Bentuknya lomba atau seleksi dengan hadiah yang lumayan besar.Hal ini dimaksudkan selain menghargai penulis, juga merangsang para penulis anak tergerak berkarya sehingga membuat karya sesuai dengan konteks dunia anak-anak. Kemudian karya-karya terpilih dicetak menjadi buku-buku. Diharapkan dengan adanya buku-buku dari para pemenang lomba atau seleksi, anak-anak mendapatkan pengalaman-pengalaman baru saat atau sedang membaca. Dari seleksi kompetensi buku anak, tahun 2018 saja, pemerintah menerbitkan lebih dari 100 buah buku.
Gayung bersambut, para penerbit buku anak pun berlomba-lomba menerbitkan buku-buku di pasaran, baik buku dengan pembaca anak secara mandiri maupun harus didampingi atau dibacakan orangtua. Buku-buku itu pada intinya mengajarkan berbagai macam pendidikan karakter yang diperlukan anak, seperti mandiri, disiplin, peduli sesama, dll, dikemas dalam berbagai bentuk yang menarik, seperti cerita tentang princes, bentuk cerita fabel dan kehidupan anak-anak pada umumnya. Sebagian lagi berisi pengetahuan.Jadi, zaman sekarang jika orangtua sibuk bekerja cukup membeli buku-buku anak yang tersebar di toko-toko buku. Orangtua tidak lagi susah harus menceritakan dongeng seperti Si Kancil Mencuri Timum, dan cerita-cerita rakyat lain yang cenderung itu-itu saja, sebab buku anak yang dijual beragam. Dengan selalu mengajak anak ke toko buku, itu berarti membudayakan membaca, di samping itu anak bisa memilih buku sesuai keinginan. Dengan demikian anak bersemangat pula untuk membacanya.
Ada juga buku-buku yang mengajak anak melakukan aktivitas seperti mewarnai, menggambar, menghitung, dan aktivias lain yang intinya membuat anak bermain sambil belajar dengan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang berguna. Hal ini menandakan anak telah melakukan literasi dalam bidang menulis.Orangtua pun dapat mengembangkan dengan meminta anak menuliskan hal-hal yang dekat dengan anak. Dalam hal ini orangtua harus sering mengajaknya ke luar rumah mengenalkan lingkungannya. Dengan mengajaknya ke kebun kemudian menyebutkan satu per satu bunga yang ada, misalnya, hal ini sudah menambah kosa kata anak. Semakin banyak anak diberi pengalaman semakin banyak pula kosa kata yang dimiliki. Biarkan anak mengungkapkan keinginan dalam bentuk tulisan sesuai kemampuannya. Sebab menulis adalah sebuah proses. Dengan sering menulis mereka akan terampil pada waktunya.
Saat mendapatkan pengalaman, tidak hanya indra penglihatan yang bekerja, tetapi juga indra pendengaran. Pengalaman berkaitan dengan indra penglihatan diungkapkan dalam bentuk tulisan. Sedangkan indra pendengaran diungkapkan dengan berbicara. Dengan terus berlatih, lambat laun anak mampu menirukan yang diutarakan orangtuanya walaupun pengucapannya belum sempurna. Dari satu kata, dua kata, dan terus berlanjut. Seiring usia anak dapat menyatakan kalimat dan mengerti kata ganti saya untuk merujuk dirinya, penggunaan kata jamak, awalan dan akhiran, begitu pun sikap mengkrtik dan memerintah maupun bertanya.
Mari, kita beri anak-anak dengan pengalaman-pengalaman yang bermanfaat dan berkesan dengan budaya literasi, agar mereka tumbuh dan berkembang dengan semestinya. Karena perilaku baik walaupun sebagai kenangan akan memberikan semangat dalam kehidupan kelak menapaki masa dewasa. Bila anak-anak di negeri ini dibiasakan dengan budaya literasi dalam keluarganya, tidak mustahil kelak Indonesia menjadi negera terdepan. Negara dengan masyarakat yang cerdas dan dapat dipercaya.
@@@
                                                                     Opini ini telah terbit di koran Analisa, Senin 22 Juli 2019