Iis Soekandar

Sabtu, 20 Maret 2021

Gendon Spesial

 


         “Tidak terasa ya, Bu, sudah lima besar,” ungkap Agung begitu program kompetisi memasak selesai.

            “Iya,” jawab ibu. Kemudian keduanya mengungkapkan keunggulan masing-masing jagoannya.

Setiap peserta memasak masakan yang telah ditentukan juri. Peserta yang mendapat nilai paling rendah harus pulang. Program itu ditayangkan sebuah stasiun televisi setiap minggu.

Gara-gara selalu menemani ibu menonton acara program masak-memasak, Agung menyukai kuliner. Agung juga sering membantu ibu mengolah makanan dengan resep-resep baru. Ibu lebih suka memasak masakan dari luar. Ibu jarang memasak masakan daerah. Agung pernah meminta ibu membuat gendon. Gendon adalah kudapan terbuat dari singkong. Singkong dipotong kecil-kecil kemudian direbus dan diberi gula pasir, lalu diaduk-aduk hingga mengental dan matang. Saat akan makan diberi saus santan. Rasanya, hm ... lezat.

Tapi gendon yang diolah ibu rasanya tidak lezat. Singkongnya kacel (tidak mempur) sehingga saat dimakan terasa keras. Sejak itu Agung tidak pernah meminta ibu membuat gendon. Ibu tidak pandai memilih singkong saat membeli di pasar. Berbeda dengan bibi yang selalu dapat membeli singkong mempur.

Sejak pandemi bibi pulang kampung. Ibu lebih banyak bekerja di rumah. Ibu bekerja di kantor hanya separuh waktu. Sehingga ibulah yang memasak makanan sehari-hari. 

@@@

Pada suatu sore ....

“Apa kabar, Gung?” tanya Wira memulai telepon video.

“Baik. Apa kabarmu juga?” Agung balik bertanya.

“Aku juga baik. Ngomong-ngomong kapan kamu ke desa? Sejak Nenek meninggal kamu jarang ke desa. O iya, Senin depan tanggal merah, kamu bisa libur dua hari di desa,” ajak Wira.

“Wah, iya ya. Ada waktu libur dua hari. Kebetulan juga nih. Singkong di kebun belakang siap dipetik?” tanya Agung serius.

 “Aku tahu, pasti kamu ingin aku masak makanan kesukaanmu, gendon!” tebak Wira.

“Tepat sekali. Kapan lagi makan gendon lezat kalau tidak di kampung,” tukas Agung.

“Beres, Gung, tapi ...”

Wira berpikir sejenak. Lalu ...

“Tapi apa, Wir?” tanya Agung penasaran.

“Maksudku, nanti aku buatkan gendon spesial buatmu,” janji Wira.

“Gendon spesial?” tanya Agung heran.

“Iya. Lihat saja nanti!” kata Wira sebelum menutup pembicaraan.

Agung penasaran. Dia ingin bertanya gendon spesial, tapi Wira sudah menutup telepon videonya. Agung semakin tidak sabar ingin segera ke kampung halaman ayahnya. Wira adalah sepupunya. Ayah Wira dan ayah Agung kakak beradik.

Mungkin maksud Wira gendon spesial dengan singkong yang mempur. Di belakang rumah nenek ada kebun. Kebun itu ditanami singkong. Singkong-singkong itu selalu mempur saat dimasak.

@@@

Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya Agung dan keluarga sampai di rumah Wira. Dulu, ayah Agung dan ayah Wira menghabiskan masa kecilnya di rumah itu. Tentu saja saat itu nenek dan kakek masih hidup.

Ayah dan ibu Wira tampak bahagia menerima kedatangan saudara-saudaranya. Wira hanya menemui sebentar. “Pasti  dia sedang mengambilkan gendon spesial untukku,”  pikir Agung dalam hati.

Tidak lama kemudian Wira keluar dengan membawa baki berisi makanan dan minuman.

“Ini pasti gendon. Wah, kebetulan sekali sudah lama tidak makan gendon goreng,” celetuk ayah. Ayah langsung mengambil hidangan di piring, begitu pun ibu.

“Gendon? Bukankah itu ulat, Yah?” tanya Agung heran melihat ulat-ulat disajikan di piring, bukan gendon terbuat dari singkong seperti yang biasa ia makan.

“Ini juga gendon namanya. Gendon yang digoreng. Gendon sejenis ulat. Tidak mudah mencari gendon. Gendon ini berada di dalam pangkal batang pohon turi. Ayo, rasakan dulu. Pasti kau suka, Gung,” ajak ayah, juga ibu.

Walaupun agak jijik, karena penasaran, akhirnya Agung menyantap gendon goreng sebagaimana ayah dan ibu.

Tidak lama kemudian ...

“Wah, iya, rasanya gurih. Pantas saja kamu bilang gendon spesial,”ungkap Agung sambil manggut-manggut.

“Kalau gendon dari singkong, besok aku masakin,” jelas Wira.

“Wah, terima kasih sekali,” kata Agung senang.

Ayah, ibu, dan Agung menikmati gendon spesial hingga habis. Maklumlah di kota tidak ada gendon spesial alias ulat gendon goreng.

@@@

Cernak ini pernah dimuat di koran Kedaulatan Rakyat, Jumat, 19 Maret 2021


Rabu, 30 Desember 2020

Baru

                                                                                         

  Setiap hari saya mengolah ide, merangkai kata, hingga menjadikan sebuah cerita, lalu mengirimkannya ke media. Tidak terasa dua belas bulan sudah berjalan. Itu artinya tahun  pun akan segera berganti. Sudahkah tercapai target yang saya impikan selama dua belas bulan menulis, sebagaimana yang terencana pada awal tahun?

      Suka atau tidak suka, tahun 2020 membawa perilaku baru, angan baru, sekaligus kenyataan baru. Siapa sangka pada awal bulan Maret terjadi keadaan baru dengan adanya pandemi. Pandemi memaksa banyak kegiatan harus dilakukan di rumah. Kegiatan yang semula direncanakan berubah, menciptakan angan baru. Angan baru bahwa lebih banyak waktu di rumah itu berarti banyak pula karya yang dihasilkan dan diterbitkan.

       Tetapi benarkah hasil yang didapat sesuai kenyataan yang ada? Dua belas karya yang semula saya anggap sedikit dan masih harus bertambah, ternyata jauh dari harapan. Tahun ini saya harus puas dengan menerbitkan 4 cerita anak, 3 cerita remaja, dan 1 cerita lucu. Yah, delapan karya satu tahun tentu jumlah angka yang tidak saya sangka. Sebab penantian tidak sekadar penantian. Cerpen, cerita anak, cerita remaja, cerita lucu, artikel, buku, semua saya tulis sesuai dengan situasi dan karakter media masing-masing.

       Malas menulis lagi? Tentu saja tidak!

       Menulis bagi saya adalah passion, kesenangan. Kesenangan untuk berbagi kepada orang lain. Ada orang dikaruniai berbagi melalui ceramah, lukisan, dll. Kebetulan saya diberi karuniai berbagi melalui tulisan. Dari mengembangkan ide yang didapat─entah melalui silaturahmi, tamasya, membaca, makan-makan─hingga menjadi sebuah karya. Kemudian menambah ilmu dengan belajar dari pengalaman orang lain yang mumpuni, mengikuti webinar, yang semua itu untuk menunjang hasil tulisan, yang mudah-mudahan bermanfaat sekaligus menghibur bagi orang lain.

       Kebiasaan baru yang sudah berjalan selama tahun 2020 tentu menjadi pengalaman tersendiri menapaki tahun 2021. Memilih misi yang sesuai dan menentukan langkah-langkah sehingga terealisasi yang menjadi keinginan. Dan kegagalan adalah motivasi untuk melakukan yang lebih baik lagi.  

       Kita sambut tahun 2021 dengan penuh harapan. Semangat menulis, Teman-teman!

@@@

 


Kamis, 26 November 2020

Ayam Cemani Untuk Rani

                                                                                    

Hari ini, Rani, mama, dan papa pergi ke Kedu di Temanggung. Mereka akan berkunjung ke rumah Om Heru, adik mama. Sebulan lalu, Bulek Lasti, istri Om Heru, melahirkan. Baru sekarang Rani dan keluarga menengok sepupu barunya itu. Selain itu, Rani juga ingin bertemu dengan Indah, keponakan Bulek Lastri. Mereka bertemu saat pernikahan Om Heru dengan Bulek Lastri.

Di telepon Indah bercerita bahwa ia mempunyai ayam peliharaan yang unik. Ia akan memperlihatkan kepada Rani. Rani penasaran.

“Apa sih istimewanya ayam? Di mana-mana, bentuk ayam sama kan?” gumam Rani dalam  hati.

                                                                                 
                                                             gambar: majalah Bobo

Setelah dua jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang asri. Rumah mungil dengan taman penuh bunga warna-warni. Di sebelahnya ada paviliun yang disediakan untuk istirahat saudara dari luar kota.

Om Heru dan Bulek Lastri senang menerima kedatangan Rani dan keluarga. Apalagi semenjak menikah setahun lalu, baru sekarang mereka bertemu lagi. Mereka bercakap-cakap sambil menikmati camilan tiwul dan minuman teh. Tiwul terbuat dari gaplek atau singkong yang dikeringkan, kemudian ditumbuk, lalu dikukus dan diberi gula merah.

Setelah beberapa lama mengobrol, mereka makan siang. Bulek Lastri menyediakan sayur lodeh dan lauk tempe serta tahu goreng. Sungguh nikmat dimakan hangat.

“Silakan kalau mau istirahat,” ucap Om Heru kepada Mama, Papa, dan Rani setelah makan siang. Sementara Bulek Lastri menengok bayinya di kamar.

“Terima kasih, Om. Rani mau duduk-duduk di teras saja,” jawab Rani.

Mama dan papa beristirahat di paviliun. Rani duduk di teras sambil melihat bunga warna-warni di taman. Tamannya indah dan udaranya sejuk. Temanggung terletak di lereng Gunung Tidar.

Indah berjanji akan menjemput Rani. Tidak lama Rani menunggu, Indah datang naik sepeda. Rambutnya panjang dikucir dua.

“Hai, Rani, kapan kamu tiba di sini?” sapa anak itu.

“Hai, juga. Tadi pagi sekitar pukul sepuluh. Wah, wajah kamu sedikit berbeda, ya sekarang...” ujar Rani sambil melangkah mendekat.

“O yaa?” seru Indah sambil tertawa.

“Rambutmu sudah panjang dan tidak pakai poni,” jelas Rani.

“Iya, rambutku panjang sekarang. Kita, kan, sudah lama tidak bertemu. Rani, yuk, ke rumahku! Katanya kamu penasaran ingin melihat ayam peliharaanku,” ajak Indah.

“Iya, aku penasaran,” jawab Rani.

Indah segera membonceng Rani di sepedanya. Rumah Indah tidak terlalu jauh dari rumah Om Heru. Tidak hanya Indah, kedua orangtuanya juga senang melihat kedatangan Rani. Indah segera mengajak Rani ke belakang rumah. Ia memperlihatkan ayam peliharaannya.

                                                                                      
                                                               gambar: majalah  Bobo

“Aku baru sekali melihat ayam seperti ini. Bulunya, jenggernya, paruhnya, kakinya, semua berwarna hitam legam,” ungkap Rani heran.

Di kebun belakang rumah Indah, ada lima ekor ayam peliharaan Indah. Ayam-ayam itu berkeliaran di kebun belakang.

 “Ini jenis ayam apa, Ndah?” tanya Rani.

“Ini ayam cemani, ayam khas dari Kedu, Temanggung. Ibuku pernah cerita, ayam ini ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Pemiliknya Ki Ageng Mangkuhan. Mulanya, paruh  ayam milik Ki Ageng ini berwarna putih. Ayam ini berhasil mengobati anak seorang pejabat. Ayam itu lalu dipasangkan dengan jenis ayam yang sama.”

“Eh, anaknya malah berparuh  hitam  legam. Karena itulah dinamakan ayam cemani. Nama itu dari bahasa Sansekerta yang artinya hitam legam. Ayam itu terus beranak pinak. Hingga kini, semua ayam cemani berwarna hitam” jelas Indah panjang lebar.

“Ternyata benar, ayam peliharaanmu itu unik. Selain warnanya unik, juga memiliki nilai sejarah.” Rani semakin terkagum-kagum.

                                                                                  
                                                                gambar: majalah Bobo

Tiba-tiba, Indah masuk ke rumah. Ternyata, ia meminta izin orangtuanya untuk memberikan sepasang ayamnya kepada Rani.

 “Kalau kamu mau, kamu boleh ambil sepasang. Tapi janji, ya, kalau yang betina sudah bertelur, jangan lupa sebagian telurnya ditetaskan. Itu untuk melestarikan ayam cemani,” pinta Indah.

“Wah, terima kasih. Aku berjanji akan ikut melestarikan ayam cemani. Ngomong-ngomong, apakah telurnya juga berwarna  hitam?” tanya Rani.

“He he he ... telurnya tetap berwarna putih,” jawab Indah sambil tertawa.

Tidak hanya Rani, mama dan papa juga senang. Rani berjanji akan memelihara sepasang cemani itu dengan baik. Ia ingin ikut melestarikan ayam cemani yang jumlahnya semakin berkurang itu.

@@@

Cerita anak ini pernah terbit di majalah Bobo, Kamis, 19 November 2020


Rabu, 18 November 2020

Kopi Maniak

 


        Kopi maniak. Bagi Arinal bukanlah ahli penyicip macam rasa kopi dengan kelebihannya masing-masing. Tetapi rutinitas minum kopi, dia menyebutnya kopi maniak.

Seperti ungkapan klise sayur tanpa garam atau taman tanpa bunga, jika dalam sehari Arinal tidak minum kopi. Padahal yang diminum cuma kopi warung dengan harga per sachet kecil beberapa ratus rupiah, ukuran satu gelas, dan tanpa gula. Sejatinya Arinal tidak mengetahui rasa kopi secara detail selain rasa pahit.

Pernah suatu malam Arinal sulit tidur. Padahal badan lelah karena banyak mengerjakan tugas. Beberapa pelajaran juga mengadakan ulangan. Malam itu puncak kelelahannya. Tubuhnya terlentang sekian lama di tempat tidur. Tapi mengapa matanya belum dapat terpejam? Dalam perenungan barulah terjawab, dari pagi hingga malam belum meneguk minuman kopi. Sontak saat itu juga Arinal ke dapur dan menyeduh kopi yang dibelinya sore tadi di supermaket. Bila stok habis bertepatan dengan tanggal muda, lebih ekonomis membeli kopi di supermarket. Uang jajan Arinal diberikan per minggu, atau saat tanggal muda. Supermarket tidak melayani pembelian ketengan dan bila dihitung harga per sachet lebih murah. Sesaat kantuk pun menyerang dan ia tetidur lelap hingga pagi. Itu salah satu perbincangan yang pernah diutarakan di depan kedua sahabatnya.

Akhir-akhir ini perihal kopi agaknya tak lagi termasuk dalam agenda pembicaraan. Tepatnya sejak Andre menaruh hati padanya. Kendati kedua sahabatnya yakin, Arinal tetap meminum kopi setiap hari. Mereka sengaja tidak bertanya mengapa begitu. Diam-diam mereka justru khawatir bila diingatkan tentang kopi kemudian tak ada lagi nama Andre di hatinya.

Di sela-sela pertemuan, Andrelah yang dibicarakan walau masih meragukan cinta Andre. Andre yang anak orang mampu, menarik dari tampang maupun aura, terkenal, penuh karisma sebagai ketua OSIS. Dari sejumlah kelebihannya itu, Andre justru dingin soal asmara. Hingga detik ini belum memiliki cewek. Bagi Arinal, di situlah kelebihannya.

Entah mengapa dari pandangan pertama saat Arinal bersama kedua sahabatnya, berlanjut hingga kini. Jika memilih sebetulnya Arinal ingin cowok yang biasa. Sebagaimana dirinya dari keluarga sederhana. Anak seorang penjual nasi kucingan di pinggir jalan. Setiap saat harus membantu, setiap saat pula bergelut dengan kebutuhan yang kurang tercukupi.

Sementara Andre yang bukan teman sekelas, naksir Arinal lantaran tidak banyak bicara. Arinal tidak punya kegiatan selain bersekolah. Tapi justru dari situlah tidak banyak cowok yang naksir. Andre tidak merasa memiliki pesaing. Dibanding kedua sahabatnya yang begitu familiar oleh prestasi akademik atau aktif di OSIS sehingga banyak pula yang tertarik.

@@@

Andre mengajak Arinal makan siang. Sengaja dipilihnya hari Jumat. Selesai salat Jumat kegiatan sekolah baru dimulai lagi nanti sore.

Mungkin karena baru pertama, terlebih bagi Arinal yang tak mengenal banyak cowok, ia grogi. Kedua sahabatnya menyertai. Saat sampai di kantin mereka mengamati dari luar. Mereka senang, tidak lama lagi sahabatnya itu mendapatkan pedamping hidup sebagaimana mereka.

“Sudah lama, Ndre?” Arinal tak kuasa menahan degup di dadanya begitu mendatangi cowok yang sudah menunggu. Di depannya segelas es teh tinggal separuh.

“Ah, tidak begitu lama. Kamu mau pesan apa, Rin?” tawar Andre. Apalah arti Arinal, gadis lugu, sebentar lagi menjadi miliknya. Batin Andre penuh percaya diri.

“Snak saja, gorengan dan air mineral.”

Setelah yakin tidak ingin makan besar, Andre memesan mendoan, tahu isi, dan bakwan serta sebotol air mineral. Sambil menikmati hidangan, Andre mengungkapkan isi hati.

“Kamu mungin bisa menebak maksud undanganku siang ini. Kuharap kau tidak menolak. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku.”

Arinal menanggapi dengan tersenyum. Andre bingung menerjemahkan senyum itu. Arinal bukan gadis zaman dulu yang dengan senyum dan menunduk itu berarti menerima cintanya. Andre butuh kepastian.

“Jadi... bagaimana, Rin?” tanya Andre setelah beberapa saat.

Arinal mendongakkan wajahnya. Lalu matanya memberi kode pada seseorang. Tidak lama datang pelayan kantin membawa minuman.   

“Kopi ini memang pahit, Ndre. Tapi ituah yang aku suka. Artinya jika kau ingin hidup bersamaku, silakan terima pahitnya juga. Karena mungkin kau tidak menyukai kopi. Hidup tak selalu manis. Bila kau tak sanggup, silakan tarik lamaranmu. Waktumu satu minggu untuk menyelami kopi pahit ini,” ungkap Arinal kemudian pergi dengan meninggalkan secangkir kopi di hadapan Andre.

Andre terbengong. “Dasar kopi maniak. Baiklah, kamu tetap aku kejar sampai dapat,” batin Andre.

 Kedua sahabat Arinal bingung melihat Arinal keluar kantin. Langkahnya tegap, wajahnya tidak sedih, juga tidak gembira.

@@@

Cerma ini pernah terbit di koran Minggu Pagi, Kamis, 12 November 2020

Jumat, 25 September 2020

Asal Masuk

                                                                                        


       Pagi itu Jon Koplo mendapat pesan melalui WhatsApp dari kepala sekolah agar menggantikan rekan sejawatnya, Genduk Nicole. Semalam badan Nicole panas sehingga hari ini tidak dapat melanjutkan mengikuti pelatihan.

Jon Koplo memang senang mendapatkan pengalaman dan ilmu baru meski hanya sehari. Koplo termasuk guru baru di sekolah itu dan baru kali itu mengikuti pelatihan. Pelatihan diselenggarakan hari itu dan sebelumnya.

            Jon menyiapkan laptop dengan segala perlengkapannya. Dia langsung pergi ke hotel tempat pelatihan berlangsung. Dia tidak perlu membawa surat tugas dari sekolah. Sebab  Nicole sudah mengumpulkannya hari sebelumnya.

            Koplo tiba di hotel setengah jam sebelum acara dimulai sebagaimana tertera dalam undangan. Setelah mencuci tangan dengan sabun dan cek suhu tubuh, Jon masuk dengan penuh semangat.

            Di dalam ruangan sudah banyak peserta yang hadir.             Saat coffee break, panitia mengedarkan lembar absensi. Ketika tiba gilirannya, Jon mencari nama teman sejawat dan sekolahnya. Ternyata keduanya tidak ada dalam daftar.

            “Kalau tidak salah sekolah Pak Koplo ada di subrayon 04,” jelas Lady Cempluk yang duduk di sebelahnya sambil mengingat-ingat.

            “Iya, Bu, betul,” jawab Koplo cepat.

“Kalau subrayon 04, 05, dan 06 mapelnya Matematika, Pak. Di ruang sebelah. Sedangkan di ruang ini untuk mapel bahasa Indonesia subrayon 01, 02, dan 03,” tambah  Cempluk.

            “O... begitu. Gara-gara asal masuk,” kata Koplo.

         Dengan malu, Koplo segera keluar ruangan dan berpindah ke ruang lain untuk mapel Matematika.

@@@

 Cerita ini pernah terbit di Solopos, 25 September 2020 


Selasa, 04 Agustus 2020

Mengenang “Kematian yang Direncana”



       Salah satu tugas guru selain kegiatan utama, mengajar, di antaranya menjadi wali kelas. Tetapi tidak setiap guru berkesempatan menjadi wali kelas. Tergantung situasi dan kondisi, kemampuan guru, jumlah guru, dan hal-hal lain. Karena setiap sekolah mempunyai kondisi yang berbeda.

Menjadi wali kelas berarti menjadi orangtua sebagaimana siswa di rumah. Jadi bisa dibayangkan menjadi orangtua bagi peserta didik sebanyak satu kelas. Jumlahnya puluhan. Sementara mendidik anak kandung hanya satu-dua orang.

            Jika menemui orangtua yang kooperatif, kerja sama antara kedua belah pihak, guru dengan orangtua, menjadi mudah. Permasalahan peserta didik pun mudah terselesaikan. Tetapi kenyataanya, tidak semua orangtua peduli permasalahan anaknya sendiri. Terutama bagi keluarga ekonomi bawah. Alih-alih ikut menyelesaiakan masalah, orangtua ikut menyumbang masalah. Ada juga yang nyata-nyata melempar masalah ke sekolah, lepas tanggung  jawab. Alhasil wali kelas dan guru BK menjadi tumpuan masalah.

            Mungkin teman-teman pernah mengalami seperti yang saya alami.   Namun saya berusaha menanggapi positif setiap hal. Termasuk jika saya ditunjuk menjadi wali kelas, dengan segala suka dukanya. Di antaranya jika menemui keluarga yang bermasalah tadi. Setiap permasalahan selalu menarik untuk dibuat cerita. Dari sudut pandang mana pun. Cerita anak, cerita remaja, cerita dewasa, juga artikel. Pengalaman itu saya tulis. Maka jadilah cerpen “Kematian yang Direncana”.

            Salah satu unsur ekstrinsik(di luar karya) cerpen adalah latar belakang pengarang. Begitu pun dalam cerpen “Kematian yang Direncana”. Cerpen ini bertutur tentang seorang guru saat menghadapi orangtua yang keras kepala dan kasar. Hingga ketakutannya berlebihan. Mungkin karena ia seorang wanita sementara yang dihadapi orangtua lelaki. Hal lain didasarkan pada pengalamannya yang pernah menghadapi orangtua tersebut, dulu saat anaknya sebagai peserta didik baru. Waktu itu tidak segan membawa benda tajam untuk menyelesaikan masalah. Tentu menjadi hal tabu dalam dunia pendidikan yang sarat muatan pendidikan karakter. 

            Bagaimana mungkin ada kekerasan ditambah dengan adanya benda tajam. Dalam menghadapi peserta didik, siapa pun orang-orang di sekitarnya, selayaknya memiliki sikap mandiri, gotong royong, nasionalis, relegius, dan sikap-sikap terpuji lain.  

                                                                             

Nyaris terlupa bahwa saya pernah menulis cerpen ini. Saya menulisnya beberapa tahun lalu. Kemudiaan saya ajukan saat mengikuti Pelatihan Menulis Cerpen 2019 oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Tentu setelah mengalami perubahan di sana sini menyesuaikan perkembangan zaman. Pelatihan berlangsung selama satu bulan. Setiap peserta diwajibkan mengumpulkan satu karya pada akhir pelatihan.

Realisasi penerbitan menjadi buku antologi membutuhkan proses lama. Kira-kira satu tahun. Kami harus menunggu semua karya terkumpul kemudian dicetak. Mungkin karena kesibukan masing-masing setelah pelatihan selesai. Sementara setiap karya yang diajukan harus melewati revisi mentor. Belum lagi mengirim ulang hasil revisi. Panitia harus mengumpulkan hasil karya semua peserta sebanyak 42 orang. Salah satu judul cerpen peserta dipilih menjadi judul buku antologi, Bunga Memerah Kumbang Menari.

            Senang dapat berkontribusi dengan teman-teman yang pernah belajar bersama menulis cerpen. Ternyata persahabatan kami tidak hanya selama mengikuti pelatihan. Sampai sekarang kami masih bersilaturahmi. Karena situasi dan kondisi tentu tidak bisa lagi bertatap muka. Apalagi peserta tidak hanya dari Semarang. Banyak juga yang dari luar kota. Satu sisi maraknya medsos membuat jarak dan waktu tak terhalangi. Kami saling memberi semangat, informasi, atau sekadar berkirim kabar melalui grup Whats App. Dan berharap persahabatan ini berlangsung selamanya.

            Menulis adalah sebuah proses. Zaman terus berkembang. Dengan menjadi insan yang terbuka, selalu menambah ilmu, sangat berguna untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang bernas, bermanfaat, sekaligus menghibur bagi siapa pun yang membaca. Dengan menulis dapat pula ikut mencerdaskan bangsa.

Yuk, menulis!

@@@


Rabu, 08 Juli 2020

Yuk, Tamasya!

                                                                                     
Berfoto di salah satu singgahan


          Akhirnya dapat kesempatan nih tamasya, setelah tiga bulan berdiam diri di rumah. Hari Minggu kemarin, saya dan saudara-saudara bertamasya ke Kota Kretek, Kudus.            
         Tentu saja tamasya kali ini berbeda dari biasanya. Kami harus mengikuti serangkaian protokoler, yang kadang-kadang membuat ribet. Harus memakai masker. Walaupun di dalam mobil, pasti terlihat oleh polisi bila tidak memakai masker. Daripada terkena sanksi lebih baik menaati peraturan. Lalu mencuci tangan setiap kali akan masuk ke suatu tempat. Menjaga jarak. Tapi apa pun itu imbalannya adalah refreshing, jauh lebih memberi kesenangan. Apalagi demi kebaikan dalam menjaga kesehatan.  
            Sebetulnya tamasya saya kali ini tidak sengaja. Yah, lebih bersifat menghibur dan memberi dukungan kepada saudara yang akan belajar di pondok. Setelah lulus SD, ia ingin belajar di pondok. Karena sehari-hari terbiasa tinggal bersama orangtuanya, kali ini harus berpisah. Apalagi pondoknya di luar kota. Keluarga berkesempatan bertemu dengannya sebulan sekali pada akhir bulan. Jadi, kami tidak pergi ke tempat wisata. Tapi lumayanlah, bisa menghirup udara luar kota.
            Mobil mulai melaju pukul 08.00. Banyak terlihat masyarakat bersepeda santai menikmati hari Minggunya. Barulah sampai di luar kota, jalanan terlihat agak lengang. Mungkin keadaan masih pandemi sehingga masyarakat lebih memilih di rumah dibanding bepergian, kecuali ada keperluan penting.
                                                                                  

                                                    Bersama saudara yang akan mondok

Butuh waktu satu setengah jam untuk sampai di tempat tujuan. Matahari tidak begitu terik. Angin sepoi-sepoi melunturkan penat. Hanya terlihat beberapa santri putri di rumah pondok. Sebagian besar masih menikmati masa liburnya. Begitu cerita Mbak Pondok yang menyambut kedatangan kami. Setelah mengurus administrasi, saatnya pulang. Sempat berlinangan air mata saat akan berpisah. Tapi kami harus segera pergi agar tidak terlarut dalam kesedihan.
                                                                       
      Bersama sebelum berpisah            

Waktu menunjuk makan siang. Seperti biasa, rasanya belum afdol bila bertamasya tidak mencicipi makanan khas daerah tersebut. Kami berhenti di sebuah warung Soto Kudus. Pelayan menawari dua pilihan, soto ayam atau soto kerbau. Tentu saja saya memilih soto ayam. Terlintas di benak saya belum pernah merasakan soto dengan daging kerbau. Daripada tidak termakan, sementara perut sudah keroncongan, mendingan makan soto ayam yang sudah terbiasa.

Tidak lama pesanan tersaji di meja. Hm, semangkuk Soto Kudus yang segar dengan kuah agak keruh dan kekuningan. Tidak lupa kucuri jeruk nipis sebelum disantap agar rasa semakin lezat. Sebagai lauk tambahan terhidang di meja: sate kerang, sate telur puyuh, tempe goreng, dan tahu goreng. Kami tinggal memilih.
                                                                             
                                                       Semangkuk Soto Kudus yang lezat

Pernah mendengar cerita tentang masyarakat setempat masih mengeramatkan sapi. Konon Sunan Kudus menghormati pemeluk Hindu yang waktu itu mayoritas. Dalam ajaran Hindu sapi dimuliakan sehingga dilarang disembelih. Sebagai gantinya menyembelih kerbau. Mungkin karena daging kerbau rasa dan aromanya tidak jauh berbeda dengan daging sapi dibanding kambing yang sangat tajam aromanya. Sehingga tidak cocok bila dicampur dengan masakan soto.

Setelah badan kembali segar, kami melanjutkan perjalanan. Menuju pulang maksud hati mampir sejenak di Demak. Jambu air dari Demak terkenal sangat lezat. Di samping rasanya manis, tidak ada ulat di dalamnya. Hal itu sudah saya buktikan bila berbelanja di pasar tradisional di Semarang.
Sampailah kami di sebuah pasar di Demak. Tapi apa yang terjadi? Jambu air yang dijajakan harganya lebih mahal. Di Semarang satu kilo hanya dua belas ribu rupiah. Tapi di Demak dua puluh ribu. Sedang tidak masa panen, ungkap pedagang perihal mahalnya harga. Mungkin juga mereka melihat kami wisatawan, sehingga diberi harga mahal. Dengan rasa sedikti kecewa kami harus pulang tanpa membawa jambu air.
Tapi apa pun itu perjalanan sepanjang berwisata sungguh mengobati kebosanan setelah sekian lama berkutat dengan segala akvititas di dalam rumah.
Bagaimana dengan teman-teman, apakah pada masa normal baru sudah refreshing, di antaranya dengan tamasya atau jalan-jalan ke luar kota? Kalau ada kesempatan, kenapa tidak? Yuk, tamasya!
@@@