Iis Soekandar

Jumat, 25 September 2020

Asal Masuk

                                                                                        


       Pagi itu Jon Koplo mendapat pesan melalui WhatsApp dari kepala sekolah agar menggantikan rekan sejawatnya, Genduk Nicole. Semalam badan Nicole panas sehingga hari ini tidak dapat melanjutkan mengikuti pelatihan.

Jon Koplo memang senang mendapatkan pengalaman dan ilmu baru meski hanya sehari. Koplo termasuk guru baru di sekolah itu dan baru kali itu mengikuti pelatihan. Pelatihan diselenggarakan hari itu dan sebelumnya.

            Jon menyiapkan laptop dengan segala perlengkapannya. Dia langsung pergi ke hotel tempat pelatihan berlangsung. Dia tidak perlu membawa surat tugas dari sekolah. Sebab  Nicole sudah mengumpulkannya hari sebelumnya.

            Koplo tiba di hotel setengah jam sebelum acara dimulai sebagaimana tertera dalam undangan. Setelah mencuci tangan dengan sabun dan cek suhu tubuh, Jon masuk dengan penuh semangat.

            Di dalam ruangan sudah banyak peserta yang hadir.             Saat coffee break, panitia mengedarkan lembar absensi. Ketika tiba gilirannya, Jon mencari nama teman sejawat dan sekolahnya. Ternyata keduanya tidak ada dalam daftar.

            “Kalau tidak salah sekolah Pak Koplo ada di subrayon 04,” jelas Lady Cempluk yang duduk di sebelahnya sambil mengingat-ingat.

            “Iya, Bu, betul,” jawab Koplo cepat.

“Kalau subrayon 04, 05, dan 06 mapelnya Matematika, Pak. Di ruang sebelah. Sedangkan di ruang ini untuk mapel bahasa Indonesia subrayon 01, 02, dan 03,” tambah  Cempluk.

            “O... begitu. Gara-gara asal masuk,” kata Koplo.

         Dengan malu, Koplo segera keluar ruangan dan berpindah ke ruang lain untuk mapel Matematika.

@@@

 Cerita ini pernah terbit di Solopos, 25 September 2020 


Selasa, 04 Agustus 2020

Mengenang “Kematian yang Direncana”



       Salah satu tugas guru selain kegiatan utama, mengajar, di antaranya menjadi wali kelas. Tetapi tidak setiap guru berkesempatan menjadi wali kelas. Tergantung situasi dan kondisi, kemampuan guru, jumlah guru, dan hal-hal lain. Karena setiap sekolah mempunyai kondisi yang berbeda.

Menjadi wali kelas berarti menjadi orangtua sebagaimana siswa di rumah. Jadi bisa dibayangkan menjadi orangtua bagi peserta didik sebanyak satu kelas. Jumlahnya puluhan. Sementara mendidik anak kandung hanya satu-dua orang.

            Jika menemui orangtua yang kooperatif, kerja sama antara kedua belah pihak, guru dengan orangtua, menjadi mudah. Permasalahan peserta didik pun mudah terselesaikan. Tetapi kenyataanya, tidak semua orangtua peduli permasalahan anaknya sendiri. Terutama bagi keluarga ekonomi bawah. Alih-alih ikut menyelesaiakan masalah, orangtua ikut menyumbang masalah. Ada juga yang nyata-nyata melempar masalah ke sekolah, lepas tanggung  jawab. Alhasil wali kelas dan guru BK menjadi tumpuan masalah.

            Mungkin teman-teman pernah mengalami seperti yang saya alami.   Namun saya berusaha menanggapi positif setiap hal. Termasuk jika saya ditunjuk menjadi wali kelas, dengan segala suka dukanya. Di antaranya jika menemui keluarga yang bermasalah tadi. Setiap permasalahan selalu menarik untuk dibuat cerita. Dari sudut pandang mana pun. Cerita anak, cerita remaja, cerita dewasa, juga artikel. Pengalaman itu saya tulis. Maka jadilah cerpen “Kematian yang Direncana”.

            Salah satu unsur ekstrinsik(di luar karya) cerpen adalah latar belakang pengarang. Begitu pun dalam cerpen “Kematian yang Direncana”. Cerpen ini bertutur tentang seorang guru saat menghadapi orangtua yang keras kepala dan kasar. Hingga ketakutannya berlebihan. Mungkin karena ia seorang wanita sementara yang dihadapi orangtua lelaki. Hal lain didasarkan pada pengalamannya yang pernah menghadapi orangtua tersebut, dulu saat anaknya sebagai peserta didik baru. Waktu itu tidak segan membawa benda tajam untuk menyelesaikan masalah. Tentu menjadi hal tabu dalam dunia pendidikan yang sarat muatan pendidikan karakter. 

            Bagaimana mungkin ada kekerasan ditambah dengan adanya benda tajam. Dalam menghadapi peserta didik, siapa pun orang-orang di sekitarnya, selayaknya memiliki sikap mandiri, gotong royong, nasionalis, relegius, dan sikap-sikap terpuji lain.  

                                                                             

Nyaris terlupa bahwa saya pernah menulis cerpen ini. Saya menulisnya beberapa tahun lalu. Kemudiaan saya ajukan saat mengikuti Pelatihan Menulis Cerpen 2019 oleh Balai Bahasa Jawa Tengah. Tentu setelah mengalami perubahan di sana sini menyesuaikan perkembangan zaman. Pelatihan berlangsung selama satu bulan. Setiap peserta diwajibkan mengumpulkan satu karya pada akhir pelatihan.

Realisasi penerbitan menjadi buku antologi membutuhkan proses lama. Kira-kira satu tahun. Kami harus menunggu semua karya terkumpul kemudian dicetak. Mungkin karena kesibukan masing-masing setelah pelatihan selesai. Sementara setiap karya yang diajukan harus melewati revisi mentor. Belum lagi mengirim ulang hasil revisi. Panitia harus mengumpulkan hasil karya semua peserta sebanyak 42 orang. Salah satu judul cerpen peserta dipilih menjadi judul buku antologi, Bunga Memerah Kumbang Menari.

            Senang dapat berkontribusi dengan teman-teman yang pernah belajar bersama menulis cerpen. Ternyata persahabatan kami tidak hanya selama mengikuti pelatihan. Sampai sekarang kami masih bersilaturahmi. Karena situasi dan kondisi tentu tidak bisa lagi bertatap muka. Apalagi peserta tidak hanya dari Semarang. Banyak juga yang dari luar kota. Satu sisi maraknya medsos membuat jarak dan waktu tak terhalangi. Kami saling memberi semangat, informasi, atau sekadar berkirim kabar melalui grup Whats App. Dan berharap persahabatan ini berlangsung selamanya.

            Menulis adalah sebuah proses. Zaman terus berkembang. Dengan menjadi insan yang terbuka, selalu menambah ilmu, sangat berguna untuk menghasilkan tulisan-tulisan yang bernas, bermanfaat, sekaligus menghibur bagi siapa pun yang membaca. Dengan menulis dapat pula ikut mencerdaskan bangsa.

Yuk, menulis!

@@@


Rabu, 08 Juli 2020

Yuk, Tamasya!

                                                                                     
Berfoto di salah satu singgahan


          Akhirnya dapat kesempatan nih tamasya, setelah tiga bulan berdiam diri di rumah. Hari Minggu kemarin, saya dan saudara-saudara bertamasya ke Kota Kretek, Kudus.            
         Tentu saja tamasya kali ini berbeda dari biasanya. Kami harus mengikuti serangkaian protokoler, yang kadang-kadang membuat ribet. Harus memakai masker. Walaupun di dalam mobil, pasti terlihat oleh polisi bila tidak memakai masker. Daripada terkena sanksi lebih baik menaati peraturan. Lalu mencuci tangan setiap kali akan masuk ke suatu tempat. Menjaga jarak. Tapi apa pun itu imbalannya adalah refreshing, jauh lebih memberi kesenangan. Apalagi demi kebaikan dalam menjaga kesehatan.  
            Sebetulnya tamasya saya kali ini tidak sengaja. Yah, lebih bersifat menghibur dan memberi dukungan kepada saudara yang akan belajar di pondok. Setelah lulus SD, ia ingin belajar di pondok. Karena sehari-hari terbiasa tinggal bersama orangtuanya, kali ini harus berpisah. Apalagi pondoknya di luar kota. Keluarga berkesempatan bertemu dengannya sebulan sekali pada akhir bulan. Jadi, kami tidak pergi ke tempat wisata. Tapi lumayanlah, bisa menghirup udara luar kota.
            Mobil mulai melaju pukul 08.00. Banyak terlihat masyarakat bersepeda santai menikmati hari Minggunya. Barulah sampai di luar kota, jalanan terlihat agak lengang. Mungkin keadaan masih pandemi sehingga masyarakat lebih memilih di rumah dibanding bepergian, kecuali ada keperluan penting.
                                                                                  

                                                    Bersama saudara yang akan mondok

Butuh waktu satu setengah jam untuk sampai di tempat tujuan. Matahari tidak begitu terik. Angin sepoi-sepoi melunturkan penat. Hanya terlihat beberapa santri putri di rumah pondok. Sebagian besar masih menikmati masa liburnya. Begitu cerita Mbak Pondok yang menyambut kedatangan kami. Setelah mengurus administrasi, saatnya pulang. Sempat berlinangan air mata saat akan berpisah. Tapi kami harus segera pergi agar tidak terlarut dalam kesedihan.
                                                                       
      Bersama sebelum berpisah            

Waktu menunjuk makan siang. Seperti biasa, rasanya belum afdol bila bertamasya tidak mencicipi makanan khas daerah tersebut. Kami berhenti di sebuah warung Soto Kudus. Pelayan menawari dua pilihan, soto ayam atau soto kerbau. Tentu saja saya memilih soto ayam. Terlintas di benak saya belum pernah merasakan soto dengan daging kerbau. Daripada tidak termakan, sementara perut sudah keroncongan, mendingan makan soto ayam yang sudah terbiasa.

Tidak lama pesanan tersaji di meja. Hm, semangkuk Soto Kudus yang segar dengan kuah agak keruh dan kekuningan. Tidak lupa kucuri jeruk nipis sebelum disantap agar rasa semakin lezat. Sebagai lauk tambahan terhidang di meja: sate kerang, sate telur puyuh, tempe goreng, dan tahu goreng. Kami tinggal memilih.
                                                                             
                                                       Semangkuk Soto Kudus yang lezat

Pernah mendengar cerita tentang masyarakat setempat masih mengeramatkan sapi. Konon Sunan Kudus menghormati pemeluk Hindu yang waktu itu mayoritas. Dalam ajaran Hindu sapi dimuliakan sehingga dilarang disembelih. Sebagai gantinya menyembelih kerbau. Mungkin karena daging kerbau rasa dan aromanya tidak jauh berbeda dengan daging sapi dibanding kambing yang sangat tajam aromanya. Sehingga tidak cocok bila dicampur dengan masakan soto.

Setelah badan kembali segar, kami melanjutkan perjalanan. Menuju pulang maksud hati mampir sejenak di Demak. Jambu air dari Demak terkenal sangat lezat. Di samping rasanya manis, tidak ada ulat di dalamnya. Hal itu sudah saya buktikan bila berbelanja di pasar tradisional di Semarang.
Sampailah kami di sebuah pasar di Demak. Tapi apa yang terjadi? Jambu air yang dijajakan harganya lebih mahal. Di Semarang satu kilo hanya dua belas ribu rupiah. Tapi di Demak dua puluh ribu. Sedang tidak masa panen, ungkap pedagang perihal mahalnya harga. Mungkin juga mereka melihat kami wisatawan, sehingga diberi harga mahal. Dengan rasa sedikti kecewa kami harus pulang tanpa membawa jambu air.
Tapi apa pun itu perjalanan sepanjang berwisata sungguh mengobati kebosanan setelah sekian lama berkutat dengan segala akvititas di dalam rumah.
Bagaimana dengan teman-teman, apakah pada masa normal baru sudah refreshing, di antaranya dengan tamasya atau jalan-jalan ke luar kota? Kalau ada kesempatan, kenapa tidak? Yuk, tamasya!
@@@

Rabu, 04 Maret 2020

Layang-Layang Damar


        “Mar, besok ada tugas IPS. Seperti biasa kita belajar bersama. Mas Ari punya globe untuk mencari letak geografi lebih jelas. Aku sudah meminjamnya.Puput dan Tari juga akan belajar di rumahku. Tidak lama lagi mereka pasti datang!” ajak Arjuna saat melewati rumah Damar. Merekatetangga sekaligus teman sekelas. Mas Ari adalah kakak Arjuna yang duduk di bangku SMA.
            “Ayo, Damar, mumpung Arjunangajak belajar!” perintah ibu saat akan membuang sampah.
            “Damar bisa belajar sendiri, Bu. Damar kan punya buku altas,” jawab Damar bersikukuh. Sore itu Damar sedang membuat layang-layang di teras.
            Akhirnya Arjuna pergi. Dia sedang disuruh ibunya membeli beras di warung.
Ibu Damar mengeluh. Beberapa kali Damar menolak setiap kali diajak belajar bersama. Karena sering tidak mengerjakan tugas, Damar mendapat sanksi. Bu Fida, wali kelasnya, menyuruh membersihkan kebun belakang sekolah.
Akhir-akhir ini Damar suka bermain layang-layang. Karena tidak ingin uang jajannya terkurangi, setiap kali layang-layangnya nyangkut di pohon, atau sangkutan dengan lawan, dia membuat sendiri.
                                                                             
ilustrasi dari KR
          Suatu sore Arjuna berkunjung ke rumah Damar. Kali ini tidak untuk mengajaknya belajar. Sebab Arjuna tahu, semenjaksuka bermain layang-layang, tetangganya itu tidak mau lagi diajak belajar bersama.
            “Damar, aku butuh layang-layang. Kamu kan kreatif, termasuk pandai membuat layang-layang. Kamu bersedia bantu aku?”
            “Memangnya kamu juga akan bermain layang-layang?” tanya Damar kaget.
            Arjuna memintanya agar membuatkan layang-layang kecil sebagai hiasan.Tentu saja Damar tidak menolak. Sebab dia memang senang membuat layang-layang. 
Keesokan hari, saat datang di rumah Arjuna, Tari, Puput, dan tetangga lain seusia mereka sudah berada di sana. Mereka sedang membaca buku. Sekarang Arjuna punya pojok baca. Letaknya di sisi kiri rumah. Sayang, belum ada hiasannya. Kebetulan dia tidak bisa menghias. Semula ruangan itu gudang, tempat ayah Aruna menyimpan barang dagangannya. Sekarang ayah Arjuna sudah membeli bangunan lain yang lebih besar. Karena berniat baik, ayahnya menyetujui tempat itu digunakan sebagai pojok baca. Kini anak-anak kampung bila ada waktu lowong datang ke pojok baca untuk membaca buku-buku.
                                                                  
ilustrasi dari KR
Pojok baca berupa buku-buku yang ditata dalam tiga rak. Rak tengah berisi buku-buku ilmu pengetahuan, rak kanan buku cerita, sebelah kiri buku komik. Walaupun komik ada nilai pendidikan karakter seperti tanggung jawab, peduli sesama, dan lain-lain. Sebagian buku-buku milik koleksi Arjuna, sebagian lagi membeli loak. Sisanya sumbangan dari teman-teman.

Damar mulai membuat layang-layang kecil. Dibentuknya kertas minyak menjadi belah ketupat. Diambilnya dua lidi sesuai ukuran kertas secara menyilang. Sebab layang-layang itu ditempel.Tidak diterbangkan. Sehingga tidak perlu mencari bambu sebagai kerangka. Lidi itu disematkan pada kertas dengan benang pada ujung-ujungnya. Tidak lupa ditambahnya ekor, mata, hidung, dan mulut.
                                                                         
                                                                       illustrasi dari KR

Dua hari kemudian dua layang-layang kecil itu jadi. Damar menempelnya dengan selotip di tembok.
“Bagaimana kalau ditambah awan dan pesawat? Ini aku buatkan dari sisa bahan layang-layangku,” tukas Damar sambil menunjukkan pesawat dan awan yang dibawanya dari rumah.
“Silakan. Aku senang-senang saja. Kita jadikan tempat ini sebagai taman bacaan yang menarik. Sehingga kita rajin datang kemari untuk membaca. Karena membaca adalah jendela dunia. Dengan membaca ilmu pengetahuan kita bertambah.”
Puput, Tari, dan teman-teman lain manggut-manggut tanda setuju. Damar mulai menempel sebuah pesawat berbahan kertas warna merah, kemudian dua awan berwarna biru.
“Wah, bagus sekali,” Tari terkagum-kagum. Begitu pun teman-teman lain. Kini pojokbacatidak hanya berisi buku-buku. Di atasnya dihias dengan dua layang-layang, sebuah pesawat, dan dua awan. Apalagi dindingnya berwarna putih. Sangat kontras dengan warna pesawat, layang-layang, dan awan.
“Ternyata ada komik. Aku suka baca komik. Aku pikir yang dipajang di sini  cuma buku-buku ilmu pengetahuan,” tukas Damar begitu melihat koleksi buku-buku di rak yang ditempel di dinding.
            Kini mereka semakin bersemangat mengunjungi pojok baca. Masing-masing membaca buku kesukaannya. Begitu pun Damar membaca buku komik setiap sore. Damar bermain layang-layang hanya setiap hari libur.Mereka kebali belajar bersama, terutama jika ada tugas sekolah.
                                                          @@@ 
                       cerpen anak ini pernah terbit di Koran Kedaulatan Rakyat, Senin 2 Maret 2020

Senin, 24 Februari 2020

Kasih Buat Sifa

                                                                                 

Hari ini ada yang spesial dari kelas XI A. Kabar itu mereka dengar beberapa hari lalu. Semua akan menyambutnya dengan penuh suka cita. Wajarlah karena seseorang itu amat teristimewa di sekolah.
            Bu Reni adalah  pengganti sementara Bu Silvi yang sedang cuti melahirkan. Hari ini beliau mengajar untuk pertama kali di kelas yang selama ini tidak diampunya.
            “Selamat siang, anak-anak...” sapa Bu Reni. Bu Reni yang cantik, murah senyum, tidak saja karena ingin disegani meski bukan guru Bahasa Indonesia sebenarnya,  tapi beliau memang ramah.
            “Selamat siang, Buuuu...,” sambut anak-anak satu kelas serempak.
            Para siswa riuh rendah menyambut guru barunya.
            “Kalian pasti sudah mengenal saya, walaupun sebelumnya saya tidak mengajar kalian,” jelas Bu Reni setelah suasana tenang. Maklumlah meski mengerti Bu Reni juga guru yang mengajar di sekolah tersebut, sepertinya mereka tidak ingin melewatkan pertemuan pertama ini.
            Mereka tetap menginginkan Bu Reni memperkenalkan diri. Bahkan hobi dan makanan kesukaannya, mereka ingin tahu. Bu Rini geleng-geleng kepala.
            Acara perkenalan dengan Bu Reni usai. Beliau juga tak mau kalah ingin mengenal setiap siswa. Diabsennya satu per satu menurut alfabet.
            “Andika Saputra...”
            “Saya, Bu,” jawab Andika sambil mengangkat tangan.
            “Anita Lestari...”
            “Saya, Bu.”
            Ketika Bu Reni memanggil satu anak  dan ternyata tidak masuk, tanggapan seluruh siswa berbeda.
            “Namanya bukan Sifa Savitri, Bu, tapi Anak Baru...” celetuk salah satu.
            “O... jadi dia anak baru? Pindahan dari luar kota?” tanya Bu Reni penasaran.
            Mereka tidak langsung menjawab, tapi malah cekikikan. Bu Reni semakin bingung. Barulah seseorang menjelaskan.
            “Dia jarang masuk, Bu. Anaknya tertutup. Makanya setiap masuk seperti anak baru. Maka kami satu kelas memanggilnya Anak Baru.”
            Jidat Bu Reni mengerut.
            “Kalau sering tidak masuk mengapa kalian sebagai teman satu kelas tidak berusaha mencari tahu? Dekatilah sehingga dia terbuka. Pasti dia punya masalah. Jangan-jangan di antara kalian pernah menyakitinya.”
            Bu Reni mendesak agar di antara mereka mengaku. Tapi mereka bersikeras bahwa kelasnya damai. Tidak ada satu pun yang membuat permusuahan. Jadi, kalaupun Sifa menemui masalah, pasti di luar kelas.
            Hari pertama Bu Reni sengaja menyelesaikan semua masalah. Beliau tidak ingin ada yang mengganjal saat pembelajaran kelak. Beliau mendesak teman sebangkunya mendatangi rumah Sifa. Dengan pendekatan persuasif, Bu Reni berharap siswa kelas itu lengkap.
            Setelah masalah menemukan penyelesaian, barulah Bu Reni memulai pembelajaran.
@@@
            Veronika benar-benar terpanggil dengan saran Bu Reni. Di samping itu desakan teman-teman satu kelas sehingga tidak ada pilihan lain selain menemui Sifa di rumahnya. Dia menyesal selama ini terpancing teman-temannya dengan membenci Sifa. Hari Jumat saatnya pulang awal, Vero tidak langsung ke rumah, melainkan menemui teman sebangkunya.
            Warung terlihat banyak pembeli. Sifa sedang membantu seorang wanita tengah baya, siapa lagi kalau bukan neneknya. Tapi Vero enggan mendekat. Dia takut mengganggu. Syukurlah tak lama berselang,  tanpa sadar Sifa mempersilakannya yang dikira pembeli.
            “Vero?” Sifa tak percaya teman sebangkunya berada di warungnya.
            Vero  dipersilakan duduk di ruang tamu yang bersebalahan dengan warung.
            “Ver... mengapa kamu ke sini? Bukankah aku tidak punya janji sama kamu?” ungkap Sifa berterus terang setelah menyajikan teh manis.
            “Memangnya kalau kamu tidak punya janji aku tidak boleh ke rumahmu? Jadi kamu sudah tidak menganggap aku teman sebangkumu lagi?” tantang Vero.
            Sifa menghela napas panjang. Tatapannya yang semula tajam, kali ini luluh dan menunduk.
            “Kita kan teman sabangku, Sif, masa sih kalau kamu punya masalah aku tidak boleh tahu? Aku ingin kita bersama lagi seperti dulu. Aku yakin setelah ini tidak ada yang mengatakan kamu anak baru. Mereka sudah janji. Teman-teman menginginkan kamu kembali ke sekolah.”
            Sifa memandang Vero. Maka mengalirlah tuturan demi tuturan.
            “Aku malas sekolah, Ver. Kedua orangtuaku benar-benar tak peduli. Berkas untuk pengajuan beasiswa yang diminta sekolah tidak diberikan padaku. Kamu tahu sendiri, nenekku tidak ada yang membantu kalau aku ke luar kota menemui ibuku. Bapakku aku mintai tolong malah mematikan nomornya dan tidak akitf. Sudah untung aku punya nenek yang baik  hati. Kalau tidak, aku pasti sudah menggelandang sejak dulu,” cerita Sifa tentang kedua orangtuanya yang bercerai.
            “Kalau begitu, hari Minggu nanti aku antar kamu mengurus berkas itu ke rumah ibumu. Siapa tahu belum terlmbat. Yah kalaupun terlambat mungin bisa diajukan tahun depan. Atau setidaknya kamu kembali ke sekolah, meraih masa depan.”
            “Kenapa kamu begitu peduli dengan masalahku, Ver?”
            “Karena kasih sayang tidak hanya untuk pacar, kan, tetapi juga dengan teman.”
            Mereka tersenyum dan tidak sabar ingin lagi ke sekolah dan duduk satu meja.
@@@
Cerma ini pernah terbit di Koran Padang Ekspres, Minggu 23 Februari 2020                                                                 


Kamis, 16 Januari 2020

Pengalaman Monika Berlibur di Desa

                                                                                     

Pagi itu, Mama mengajak Monika berlibur ke rumah Nek Ijah di Salatiga. Nek Ijah adalah asisten rumah tangga yang selama ini membantu keluarga Monika.
           “Menengok Nek Ijah di Salatiga? Malas ah!” jawab Monika.
“Nek Ijah kan minta pulang karena sakit. Kita tengok, apa Nek Ijah sudah sembuh. Lagi pula, kalau pun sudah sembuh, Nek Ijah mungkin tidak kembali lagi ke rumah kita. Nek Ijah kan sudah tua,” jelas mama Monika.
“Ajak kakak-kakak saja, Ma,” ujar Monika tetap tak mau ikut.
           “Kak Irma akan berkemah liburan ini. Kak Awal malah persiapan ujian,” ujar mama.
           “Selama ini, kita selalu berlibur ke tempat wisata. Sekali-sekali, liburan di desa yuk,” lanjut mama.
            Monika hanya diam. Mama tidak membujuk lagi karena terdengar bunyi mobil papa. Mama pergi untuk menyambut papa. Sementara itu, Monika berlari masuk ke kamar Kak Irma.
           “Sudahlah, kamu ikut Mama saja,” ujar Kak Irma setelah mendengar cerita Monika,  sambil sibuk menyiapkan perlengkapan kemahnya.
       “Uh, Kakak sih enak. Kalau liburan di kampung kan sepi. Apa yang mau dilihat? Kalau cuma pohon-pohon hijau dan gunung, aku juga suka menggambar alam pedesaan. Jadi nggak perlu ke sana,” gerutu Monika.
            Kak Irma hanya tersenyum mendengar keluhan Monika.
                                                                                 
ilustrasi dari Bobo

    Akhirnya, dengan berat hati, Monika mengikuti ajakan mama. Ia tak mau juga kalau hanya ditinggal berdua dengan Kak Awal yang sedang sibuk belajar.
       Di sepanjang perjalanan, hati Monika dongkol. Ia sendirian duduk di tengah, sedangkan mama di depan menemani papa menyetir.
Setelah menempuh perjalanan tiga jam, akhirnya mereka sampai di pedesaan. Seperti dugaan Monika, di sana sini terhampar pemandangan hijau dengan berbagai macam tanaman. Banyak juga buah-buahan seperti mangga, pisang, jambu biji, pepaya....
         “Ah Pak Wingky, Ibu. Wah, Monika juga ikut. Terima kasih sudah datang,” sambut Nek Ijah ketika Monika dan Mama Papa tiba di rumahnya.
            Nek Ijah tidak menyangka dan amat senang melihat mereka.
            “Nek Ijah sebetulnya sudah sembuh. Tapi anak Nenek melarang Nenek bekerja lagi,” cerita Nek Ijah kemudian setelah mereka duduk.
          “O ya, cucu Nenek juga seumuran Monika,” ujar Nek Ijah lagi, lalu memanggil nama cucunya.
“Anisaaa...”
            Seorang anak dengan rambut dikucir dua keluar. Tingginya kira-kira sama dengan Monika.
      “Anisa, ayo kasih salam buat Monika, Bapak, dan Ibu Wingky,” ujar Nek Ijah lagi, lalu meminta Anisa mengajak Monika bermain.
                                                                                   

                                                                   ilustrasi dari Bobo
       
Anisa bersikap ramah walau baru mengenal Monika. Pasti Nek Ijah yang mengajarinya untuk ramah kepada teman baru. Bukannya keluar rumah, Anisa  malah mengajak Monika masuk ke kamarnya.
       “Istirahatlah dulu. Kamu pasti capek. Tempat tidurku sederhana. Tapi mudah-mudahan cukup enak untuk meluruskan punggung dan kakimu...,” ujar Anisa.
       “Hmm, kamarmu sejuk dan nyaman sekali, Anisa. Di mana AC-nya dipasang?” tanya Monika sambil merentangkan tubuh di kasur.  
       “Ini udara pegunungan, asli. Mana mampu kami pasang AC. Desaku ini terletak di lereng   gunung. Tepatnya lereng Gunung Merbabu dan Gunung Merapi,” sahut Anisa.
       “Oooo,” Monika manggut-manggut.
       Karena kelelahan, ditambah udara yang sejuk, Monika tertidur pulas. Ia baru terbangun dua jam kemudian. Itupun karena hidungnya menghirup kepulan wedang jahe.
Yah, itulah minuman khas di desa Nek Ijah. Minuman penghangat badan. Cocok sekali diminum saat udara dingin.
      Keesokan harinya, mama dan papa harus pulang. Namun Monika memutuskan untuk berlibur di desa Nek Ijah yang sejuk. Mama hanya tersenyum karena usulannya diterima Monika.
       “Wah sayuran dan buah-buahan di kebun nenekmu banyak sekali. Kulkasmu besar sekali, ya, untuk menampung semua ini?” tanya Monika takjub. Ia melihat kebun di kanan kiri rumah Anisa. Ada tanaman kol, bayam, dan kacang panjang. Di halaman depan, ada pohon pepaya, mangga, dan jambu biji. Di salah satu sudut kebun, ada juga pohon salak yang buahnya sebentar lagi ranum.
Tidak jauh dari rumah Anisa, ada empang tempat memelihara ikan.
       “Kami tidak punya kulkas. Selain dijual, sebagian sayuran dan buah-buahan disantap sendiri. Begitu dipetik langsung dimasak. Begitu pula ikan di empang. Semua serba ambil milik sendiri,” jawab Anisa.
       “Wah nikmat sekali. Semua bahan makanan segar. Kalau di kota, Mama selalu membeli dari tempat pendingin supermarket. Tapi di sini benar-benar masak dari pohonnya,” sahut Monika kagum.
       “Kalau kami sakit ringan seperti diare, sembelit, batuk, dan lainnya, Nenek akan meramu  sendiri ramuan dari tanaman obat. Tanaman itu ditanam di sela sayuran dan buah-buahan. Maklumlah, di sini puskesmas jauh. Semua obat-obatan diambil dari hasil alam.”
            Monika kagum pada kecerdasan Anisa. Ia merasa liburan kali itu tidak sia-sia. Bahkan ia mendapatkan pengalaman berharga.
Monika berjanji akan kembali saat liburan tiba tahun depan. Desa Nek Ijah adalah tempat liburan yang keren. Selain itu, Monika juga ingin mengunjungi Nek Ijah lagi, yang sudah setia membantu keluarganya.
@@@
  Cerpen ini pernah tayang di Majalah Bobo, terbit 9 Januari 2020                 

Senin, 06 Januari 2020

Liburan untuk Sahabat

                                                                                         

“Pokoknya kita seru-seruan nanti liburanmya....”
            “Aku sudah tidak sabar ingin menikmati makanan-makanann khasnya...”
            “Aku ingin melihat Pagoda dan swafoto di sana. Selama ini cuma lihat gambarnya...”
            “Aku ingin beli suvenir unik berbentuk gajah...”
            Karina dan ketiga teman sekelasnya penuh semangat keluar dari hal sebuah hotel berbintang. Begitu pun para undangan lain. Mereka sibuk membicarakan rencana liburan mereka. Sebuah agen travel baru saja berpromosi untuk acara liburan akhir tahun. Agen travel itu menawarkan liburan ke tempat-tempat wisata luar negeri seputar Asia Tenggara dan Australia.
Keempatnya biasa berlibur bersama setiap liburan akhir tahun. Kali ini mereka berencana akan bertamasya ke negeri Gajah Putih. Mereka tidak segan menghabiskan uang untuk liburan. Orangtua mereka orang mampu. Papa Karina pegawai bank, sementara orangtua ketiga sahabatnya para pengusaha. Mudah bagi mereka mengeluarkan uang banyak. Ongkos travel berjuta-juta, belum lagi uang saku.
Sampai di rumah Karina bercerita kepada mama tentang rencana tamasya ke Thailand yang juga terkenal dengan negeri Seribu Pagoda. Mama langsung menyetujui. Begitupun papa nanti malam saat Karina memohon.
Di kamar Karina membayangkan pagoda berlapis emas di Chiang Mai, dibangun pada abad ke-13. Karina tidak sabaran ingin segera ke sana mendengarkan penuturan pemandu wisata seputar sejarah pagoda berlapis emas itu.
Tiba-tiba di antara lamunanya, androidnya memanggil dengan suara khas WhatsApp.
Hai, Karin, apa kabar? Dua tahun kita tak bertemu....
Dari teman lama. Karina membaca sms-nya kalimat demi kalimat. Tentu saja Karina tak mungkin melupakan. Sekali tempo Badriyah menghubungi. Kali lain, ganti Karina yang memulai. Mereka mengenang saat sekelas. Ketika itu papa Karina bertugas di daerah tanah kelahiran Badriyah. Tidak sekali pun mereka bertemu semenjak dua tahun lalu papa karina dipindah di kota ini.   
Bagaimana Karin? Kamu keberatan aku berkunjung ke kotamu?
Tentu saja centang dua berwarna biru tak dapat menipu bahwa Karina telah membaca sms itu. Karina buru-buru meluruskan niatnya.
Ah maaf. Mama tadi memanggilku begitu aku selesai membaca smsmu. Jadi aku belum sempat menjawab
Oh begitu
Aku bilang mama dulu ya. Semoga mama tidak mengajakku liburan. Sehingga kita dapat bertemu lagi.
Baiklah aku tunggu segera jawabanmu, Karin. Supaya aku bisa tentukan liburanku kali ini.
Ok
Liburan bersama Badriyah berarti hanya tinggal di rumah. Sama saja tidak liburan. Badriyah sih enak, dari desa pergi ke kota melihat tempat-tempat wisata di kota ini. Tapi Karina? Sengaja tadi dia berbohong dengan tidak langsung menjwab. Dia tidak mau  mengecewakan dengan langsung mengatakan dirinya sudah punya rencana liburan bersama ketiga teman sekelasnya ke negeri Seribu Pagoda.
@@@
Karina bercerita kepada mama dan meminta pertimbangan jawaban agar Badriyah tidak kecewa atas penolakannya.
“Jadi Badriyah akan ke sini?” ulang mama senang. Mama seperti akan betemu dengan sahabat lamanya. Apalagi Karina yang menjadi temannya. Mungkin begitu pikir mama.
“Iya, Ma. Tapi aku kan sudah berencana matang akan ke Thailand. Dan aku belum pernah sekalipun melihat pagoda berlapis emas,“ tukas Karina menyesalkan rencana kehadiran Badriyah yang tak tepat.
Tapi apa pendapat mama?
“Karin, Badriyah sahabatmu saat papa bertugas di desanya. Dia banyak menolongmu sehingga kamu tidak canggung di tempat asing yang jauh berbeda dari tempat yang kita tinggali sebelumnya. Sekarang dia akan berlibur ke sini. Apalagi tadi kamu bilang  ongkos yang dia gunakan dari uang tabungan. Tidak setiap liburan dia kemari. Masa akan kamu tolak.”
“Tapi aku dan teman-ateman sudah berencana matang akan ke luar negeri, Ma...” ulang Karina.
“Karin, pikirkan pendapat Mama!” pinta mama memohon.
Karina tidak menanggapi, tapi malah pergi meninggalkan mama ke kamar.
@@@
 Berhari-hari pikiran Karina terusik dan lambat laun menjadi dilema. Diam-diam dia mempertimbangkan saran mama. Badriyah pasti ingin mengunjungi pusat-pusat batik. Atau ingin membeli atau mungkin belajar membatik langsung di rumah perajinnya.
Badriyah seperti menyadarkannya agar Karina bangga dengan warisan leluhur yang dilindugi UNESCO. Selama ini dia suka menyanjung keindahan-keindahan milik negara-negara lain. Padahal di dalam negeri tak kalah menarik. Buktinya banyak wisatawan asing datang ke kota ini.
Sampai suatu saat Karina menemukan keyakinan. Yah, dia akan menemani liburan Badriyah. Dia masih dapat liburan ke luar negeri bersama ketiga teman sekelasnya lain waktu. Tapi bersama Badriyah, mungkin hanya sekali ini.
 Karina segera mengambil ponsel untuk dua hal. Membatalkan kepergiannya bersama ketiga teman sekelasnya dan memberitahukan kabar gembira kepada Badriyah. Kali ini dia ingin liburan untuk sahabat.
@@@
                                         Cerma ini pernah terbit di Koran Padang Ekspres, Minggu 5 Januari 2020