Iis Soekandar: Berubah Haluan

Jumat, 24 Juli 2026

Berubah Haluan

                                                                                       

gambar Canva

           Ketika orang membutuhkan sesuatu dan ada orang lain bisa mewujudkan, transaksi terjadi. Secara langsung atau tidak langsung, hal itu dibutuhkan kesepakatan. Karena sesuatu hal, kesepakatan menjadi longgar dan akhirnya berubah haluan atau tidak seperti perjanjian semula. Saya pernah mengalami hal itu dan saya pihak yang dirugikan.

            Saya dan tiga teman menunggu taksi online. Tengah hari matahari di atas ubun-ubun. Angin menerbangkan debu dan menampar wajah. Tempat tinggal pemilik hajat di perkampungan, jauh dari jalan raya. Melihat kedatangan taksi menjadi kegembiraan tersendiri bagi kami, setelah menunggu setengah jam. Sopir taksi pandai merayu dengan bicaranya yang akrab, sejak mobil mulai melaju. Sebagaimana hukum alam, saya mentraktir sebab duduk bersebelahan dengan sopir. Kami laiknya dua sahabat.  “Nanti lewat Kota Lama. Hari Minggu Kota Lama semakin ramai,” katanya, seolah saya bukan orang Semarang dan belum pernah tahu tempat wisata Kota Lama. Saya tersenyum. Tidak butuh perjalanan jauh lewat Kota Lama, dibanding rute lain, kata saya dalam hati. Tapi lewat Kota Lama kendaraan merangkak karena harus bersaing dengan pejalan kaki dan kendaraan lain, itu sebabnya para sopir ojek enggan lewat sana. Tarip dua puluh ribu menjadi tiga puluh ribu saya bayar begitu saja.

            Pengalaman lain saat saya menghadapi pedagang asongan. Saya membeli spons pencuci piring, setelah spos lama usang. Kami berbicara akrab. Saat itu pertemuan kedua. Dia bilang harganya sama. Saat saya memberikan uang, barang yang diberi spons tipis. Saya protes diberi barang tidak berkualitas. Lalu dia bilang barang yang sama harganya naik, sebagaimana di tempat-tempat lain. Padahal setelah saya cek keesokan hari, spons tersebut di mana-mana harga tidak naik. Entah mengapa saya mengikuti saja harga yang dia minta tanpa menawar. Semata-mata karena kami seperti teman. Bukan masalah uang, terlebih uang tidak seberapa, melainkan ketidakjujuran terasa aneh, setelah dia kembali mendorong lapaknya.  

            Menemui masalah dengan sopir ojek kembali saya alami, saat tamasya ke Hutan Wisata Tinjomoyo. Kali ini sopir ojek mangkal. Sepanjang perjalanan sopir ojek bercerita bahwa ia punya banyak pelanggan. Dia menjemput atau mengantar sesuai hari mereka. Dan setelah mengantar saya, dia akan menjemput pelangganya di bandara. Wah, boleh juga, Bapak ini, pelanggannya ada yang high society. Saat hampir sampai di Pemancingan Tinjomoyo, saya mulai curiga. Dia mengatakan bahwa tujuan hampir sampai. Saya sontak protes, “Lho, saya mau ke Hutan Tinjomoyo.” Kalau begitu ongkosnya lima belas ribu.” Dengan dalih perjalanan lebih jauh. Saya tidak menanggapi. Kendaraan terus melaju menuju Hutan Tinjomoyo. Emosi saya tahan. Awal transaksi dia setuju tarip sepuluh ribu dari awalnya lima belas ribu. Dia mencari uang tidak halal. Saya bersikap biasa. Lalu saya bayar lima belas ribu rupiah begitu sampai di tempat tujuan.

            Kecewa?

            Tentu!

            Saya menyikapi semua itu dengan legawa. Saya pun berubah Haluan, kelebihan uang itu untuk sedekah. Terlebih saat berhadapan dengan sopir ojek menuju hutan wisata. Saya bayangkan jika saya menentang, kemudian dia membelokkan kendaraan di tempat tidak semestinya, saya bisa celaka. Saya beruntung dia mengantar saya hingga di depan loket dan menginformasikan bagaimana nanti saya pulang. Dia senang; saya  senang.

            Di tengah ekonomi sulit, orang bisa bertindak apa saja. Maka lebih baik saya menyikapi keadaan dengan positip, yang terpenting urusan beres.

@@@


Tidak ada komentar:

Posting Komentar