Ketika
orang membutuhkan sesuatu dan ada orang lain bisa mewujudkan, transaksi
terjadi. Secara langsung atau tidak langsung, hal itu dibutuhkan kesepakatan. Karena
sesuatu hal, kesepakatan menjadi longgar dan akhirnya berubah haluan atau tidak
seperti perjanjian semula. Saya pernah mengalami hal itu dan saya pihak yang
dirugikan.
Saya dan tiga teman menunggu taksi online.
Tengah hari matahari di atas ubun-ubun. Angin menerbangkan debu dan menampar
wajah. Tempat tinggal pemilik hajat di perkampungan, jauh dari jalan raya. Melihat
kedatangan taksi menjadi kegembiraan tersendiri bagi kami, setelah menunggu
setengah jam. Sopir taksi pandai merayu dengan bicaranya yang akrab, sejak mobil
mulai melaju. Sebagaimana hukum alam, saya mentraktir sebab duduk bersebelahan
dengan sopir. Kami laiknya dua sahabat. “Nanti
lewat Kota Lama. Hari Minggu Kota Lama semakin ramai,” katanya, seolah saya bukan
orang Semarang dan belum pernah tahu tempat wisata Kota Lama. Saya tersenyum. Tidak
butuh perjalanan jauh lewat Kota Lama, dibanding rute lain, kata saya dalam
hati. Tapi lewat Kota Lama kendaraan merangkak karena harus bersaing dengan
pejalan kaki dan kendaraan lain, itu sebabnya para sopir ojek enggan lewat sana.
Tarip dua puluh ribu menjadi tiga puluh ribu saya bayar begitu saja.
Pengalaman lain saat saya menghadapi
pedagang asongan. Saya membeli spons pencuci piring, setelah spos lama usang. Kami
berbicara akrab. Saat itu pertemuan kedua. Dia bilang harganya sama. Saat saya
memberikan uang, barang yang diberi spons tipis. Saya protes diberi barang
tidak berkualitas. Lalu dia bilang barang yang sama harganya naik, sebagaimana
di tempat-tempat lain. Padahal setelah saya cek keesokan hari, spons tersebut
di mana-mana harga tidak naik. Entah mengapa saya mengikuti saja harga yang dia
minta tanpa menawar. Semata-mata karena kami seperti teman. Bukan masalah uang,
terlebih uang tidak seberapa, melainkan ketidakjujuran terasa aneh, setelah dia
kembali mendorong lapaknya.
Menemui masalah dengan sopir ojek
kembali saya alami, saat tamasya ke Hutan Wisata Tinjomoyo. Kali ini sopir ojek
mangkal. Sepanjang perjalanan sopir ojek bercerita bahwa ia punya banyak
pelanggan. Dia menjemput atau mengantar sesuai hari mereka. Dan setelah mengantar
saya, dia akan menjemput pelangganya di bandara. Wah, boleh juga, Bapak ini, pelanggannya
ada yang high society. Saat hampir sampai di Pemancingan Tinjomoyo, saya
mulai curiga. Dia mengatakan bahwa tujuan hampir sampai. Saya sontak protes, “Lho,
saya mau ke Hutan Tinjomoyo.” Kalau begitu ongkosnya lima belas ribu.” Dengan dalih
perjalanan lebih jauh. Saya tidak menanggapi. Kendaraan terus melaju menuju Hutan
Tinjomoyo. Emosi saya tahan. Awal transaksi dia setuju tarip sepuluh ribu dari
awalnya lima belas ribu. Dia mencari uang tidak halal. Saya bersikap biasa. Lalu
saya bayar lima belas ribu rupiah begitu sampai di tempat tujuan.
Kecewa?
Tentu!
Saya menyikapi semua itu dengan legawa.
Saya pun berubah Haluan, kelebihan uang itu untuk sedekah. Terlebih saat
berhadapan dengan sopir ojek menuju hutan wisata. Saya bayangkan jika saya
menentang, kemudian dia membelokkan kendaraan di tempat tidak semestinya, saya
bisa celaka. Saya beruntung dia mengantar saya hingga di depan loket dan menginformasikan
bagaimana nanti saya pulang. Dia senang; saya senang.
Di tengah ekonomi sulit, orang bisa
bertindak apa saja. Maka lebih baik saya menyikapi keadaan dengan positip, yang
terpenting urusan beres.
@@@

Tidak ada komentar:
Posting Komentar