Iis Soekandar: Dolanan Anak

Jumat, 17 Juli 2026

Dolanan Anak

                                                                                       

           Di tempat pertemuan arisan, seorang ibu tidak mau terganggu saat anak balitanya merengek minta ke luar, lalu ibu itu memberikan ponselnya, dan si anak senyum-senyum menatap layarnya. Di alun-alun, orang tua yang tidak mau susah, anaknya berlarian ke sana ke sini, memberikan ponselnya. Lalu anak itu duduk tenang dengan telapak kaki menapak di kursi, kedua tangannya memegang ponsel, dan ibu itu pun dengan mudah menyuapinya. Dan  semua itu akan berlanjut dalam kegiatan-kegiatan lain, yang intinya: untuk mempermudah urusan, ponsel menjadi solusi orang tua menenangkan anaknya.

            Era digital, semua orang butuh ponsel. Selain alat komunikasi, ponsel juga menyajikan gim-gim menarik. Anak-anak secara langsung atau tidak, punya ketergantungan ponsel.

Seperti hujan di bulan Juni, ketika saya membaca judul buku Dolanan Anak Warisan Permainan Tradisional Nenek Moyang, di Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah. Saya  membayangkan anak-anak bermain dolanan anak, sebagaimana masa kecil saya.

            Buku Dolanan Anak ditulis oleh Tim Laboratorium Sejarah Universitas PGRI Pontianak, Kalimantan Barat. Buku ini berisi bermacam-macam dolanan dimainkan anak-anak daerah-daerah di Nusantara, dari dolanan sederhana dan mudah, hingga dolanan butuh ketangkasan dan strategi. Ada juga dolanan khusus anak-anak Kalimantan Barat.

            Di antara gempuran teknologi, penting bagi kita melestarikan warisan leluhur, di antaranya melestarikan dolanan anak. Melestarikan dolanan anak bisa dengan cara: membuat permainan tradisional menjadi modern dengan membuat video animasi dolanan anak, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya dolanan anak demi melestarikan budaya bangsa, dan mengenalkan dolanan anak pada generasi muda, agar mereka berperan aktif dengan cara bermain dolanan anak bersama anak-anak, mengadakan festival, dan jika perlu memasukkan dolanan anak dalam kurikulum sekolah.

            Dengan dolanan anak, anak keluar dari rutinitas, mengatur emosi, melatih kemampuan motorik, berpikir, berkompetisi, jujur, bersosial, cermat, teliti, dan menyehatkan mata. Dan yang terpenting, menghibur anak.

            Di antara dolanan anak: permainan kelereng/guli, biasanya dimainkan anak laki-laki. Permainan ini ada di Mesir sejak 3000 SM. Permainan kelereng dibutuhkan tanah lapang, juga lubang untuk mengumpulkan kelereng-kelereng. Permainan ini dilakukan berkelompok, atau perorangan.  

Bola bekel adalah dolanan yang dimainkan anak-anak perempuan, 2-5 pemain. Peralatan yang dibutuhkan bola karet sebesar bola pingpong, timbel menyerupai kacang berjumlah lima buah. Pemain pertama harus mulai dengan semua biji dalam satu tangan, dan bijinya akan dijatuhkan waktu bola dilempar ke udara. Setiap kali bola dilempar, bolanya hanya boleh menyinggung lantai sebanyak satu kali, sebelum pemain tersebut menangkapnya. Bekel dari bahasa Belanda bikkelen artinya membanting tulang. Tidak ada hubungan membanting tulang dengan bola bekel. Atau mungkin menjatuhkan bola di lantai diartikan membanting tulang?  

Congklak/dakon ada sejak 1300 SM di Mesir dan Turki, kemudian menyebar ke negara-negara lain melalui pedagang dan pelaut. Di Jawa congklak dimainkan dengan papan kayu dengan tujuh lubang setiap sisi, dan dua lubang di ujung kanan-kiri papan. Setiap lubang congklak diisi jumlah biji yang sama, dari biji sawo atau kerikil. Permainan ini melatih stragegi dan ketepatan.  

Sandal bakiak/terompah kayu dimainkan semua usia, laki-perempuan, anak-anak-orang dewasa, secara beregu dan bersama-sama. Alat yang digunakan bakiak dari bilah kayu panjang, di atasnya diberi pengait dari ban sepeda motor, sebanyak tiga atau empat, untuk mengaitkan kaki. Masing-masing regu menggunakan dua bakiak, untuk kaki kiri dan kanan. Dolanan ini melatih kekompakan dan keseimbangan. Sandal bakiak biasanya diadakan saat peringatan ulang tahun Kemerdekaan Indonesia.

Lomba arok atau lomba sampan adalah lomba balapan perahu di daerah Kalimantan Barat. Lomba ini terkenal di Kabupaten Kapuas Hulu. Tidak hanya anak-anak, orang-orang dewasa juga menyukai lomba arok. Kayu beringin digunakan sebagai perahu karena ringan dan mudah terapung di air.

Selain dolanan-dolanan di atas, ada juga telepon kaleng, lompat tali, peluit burung bambu, permainan sodor, sendal batok kelapa, dan dolanan-dolanan lain, semua berjumlah 22 buah.  

            Penting bagi orang tua, guru, atau siapa pun orang dewasa menguri-uri dolanan anak, di antaranya membaca buku ini. Setiap dolanan dilengkapi gambar, untuk memperjelas.

            Sayang, sebagaian ejaan dan tanda baca tidak sesuai. Beberapa kalimat juga tidak efektif. Tapi terlepas dari semua itu, kembali memainkan dolanan anak adalah nilai berharga yang harus dilestarikan.

@@@


Tidak ada komentar:

Posting Komentar