Di
tempat pertemuan arisan, seorang ibu tidak mau terganggu saat anak balitanya merengek
minta ke luar, lalu ibu itu memberikan ponselnya, dan si anak senyum-senyum
menatap layarnya. Di alun-alun, orang tua yang tidak mau susah, anaknya berlarian
ke sana ke sini, memberikan ponselnya. Lalu anak itu duduk tenang dengan telapak
kaki menapak di kursi, kedua tangannya memegang ponsel, dan ibu itu pun dengan
mudah menyuapinya. Dan semua itu akan
berlanjut dalam kegiatan-kegiatan lain, yang intinya: untuk mempermudah urusan,
ponsel menjadi solusi orang tua menenangkan anaknya.
Era digital, semua orang butuh
ponsel. Selain alat komunikasi, ponsel juga menyajikan gim-gim menarik. Anak-anak
secara langsung atau tidak, punya ketergantungan ponsel.
Seperti
hujan di bulan Juni, ketika saya membaca judul buku Dolanan Anak Warisan
Permainan Tradisional Nenek Moyang, di Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah. Saya membayangkan anak-anak bermain dolanan anak,
sebagaimana masa kecil saya.
Buku Dolanan Anak ditulis oleh Tim
Laboratorium Sejarah Universitas PGRI Pontianak, Kalimantan Barat. Buku ini berisi
bermacam-macam dolanan dimainkan anak-anak daerah-daerah di Nusantara, dari
dolanan sederhana dan mudah, hingga dolanan butuh ketangkasan dan strategi. Ada
juga dolanan khusus anak-anak Kalimantan Barat.
Di antara gempuran teknologi,
penting bagi kita melestarikan warisan leluhur, di antaranya melestarikan
dolanan anak. Melestarikan dolanan anak bisa dengan cara: membuat permainan
tradisional menjadi modern dengan membuat video animasi dolanan anak,
meningkatkan kesadaran tentang pentingnya dolanan anak demi melestarikan budaya
bangsa, dan mengenalkan dolanan anak pada generasi muda, agar mereka berperan
aktif dengan cara bermain dolanan anak bersama anak-anak, mengadakan festival,
dan jika perlu memasukkan dolanan anak dalam kurikulum sekolah.
Dengan dolanan anak, anak keluar
dari rutinitas, mengatur emosi, melatih kemampuan motorik, berpikir,
berkompetisi, jujur, bersosial, cermat, teliti, dan menyehatkan mata. Dan yang
terpenting, menghibur anak.
Di antara dolanan anak: permainan
kelereng/guli, biasanya dimainkan anak laki-laki. Permainan ini ada di Mesir sejak
3000 SM. Permainan kelereng dibutuhkan tanah lapang, juga lubang untuk
mengumpulkan kelereng-kelereng. Permainan ini dilakukan berkelompok, atau
perorangan.
Bola
bekel adalah dolanan yang dimainkan anak-anak perempuan, 2-5 pemain. Peralatan yang
dibutuhkan bola karet sebesar bola pingpong, timbel menyerupai kacang berjumlah
lima buah. Pemain pertama harus mulai dengan semua biji dalam satu tangan, dan
bijinya akan dijatuhkan waktu bola dilempar ke udara. Setiap kali bola
dilempar, bolanya hanya boleh menyinggung lantai sebanyak satu kali, sebelum
pemain tersebut menangkapnya. Bekel dari bahasa Belanda bikkelen artinya
membanting tulang. Tidak ada hubungan membanting tulang dengan bola bekel. Atau
mungkin menjatuhkan bola di lantai diartikan membanting tulang?
Congklak/dakon
ada sejak 1300 SM di Mesir dan Turki, kemudian menyebar ke negara-negara lain
melalui pedagang dan pelaut. Di Jawa congklak dimainkan dengan papan kayu
dengan tujuh lubang setiap sisi, dan dua lubang di ujung kanan-kiri papan. Setiap
lubang congklak diisi jumlah biji yang sama, dari biji sawo atau kerikil. Permainan
ini melatih stragegi dan ketepatan.
Sandal
bakiak/terompah kayu dimainkan semua usia, laki-perempuan, anak-anak-orang
dewasa, secara beregu dan bersama-sama. Alat yang digunakan bakiak dari bilah
kayu panjang, di atasnya diberi pengait dari ban sepeda motor, sebanyak tiga
atau empat, untuk mengaitkan kaki. Masing-masing regu menggunakan dua bakiak,
untuk kaki kiri dan kanan. Dolanan ini melatih kekompakan dan keseimbangan. Sandal
bakiak biasanya diadakan saat peringatan ulang tahun Kemerdekaan Indonesia.
Lomba
arok
atau lomba sampan adalah lomba balapan perahu di daerah Kalimantan Barat. Lomba
ini terkenal di Kabupaten Kapuas Hulu. Tidak hanya anak-anak, orang-orang
dewasa juga menyukai lomba arok. Kayu beringin digunakan sebagai perahu karena
ringan dan mudah terapung di air.
Selain
dolanan-dolanan di atas, ada juga telepon kaleng, lompat tali, peluit burung bambu,
permainan sodor, sendal batok kelapa, dan dolanan-dolanan lain, semua berjumlah
22 buah.
Penting bagi orang tua, guru, atau
siapa pun orang dewasa menguri-uri dolanan anak, di antaranya membaca buku ini.
Setiap dolanan dilengkapi gambar, untuk memperjelas.
Sayang, sebagaian ejaan dan tanda baca
tidak sesuai. Beberapa kalimat juga tidak efektif. Tapi terlepas dari semua itu,
kembali memainkan dolanan anak adalah nilai berharga yang harus dilestarikan.
@@@

Tidak ada komentar:
Posting Komentar