Iis Soekandar

Minggu, 12 November 2017

Ide Cerita


Ide Cerita


 
       Ide cerita adalah akar atau pokok masalah atau hal yang mendasari cerita. Sebuah cerita menjadi berkesan salah satunya dari ide cerita yang menarik. Ide cerita dibuat terkadang bergantung dari misi media yang dituju, misal media bergenre wanita dewasa, maka ide cerita seputar kehidupan wanita dewasa. Ide cerita didapat pula dari situasi yang sedang happening. Seperti masyarakat sekarang sedang resah masalah hoaks. Maka ide cerita dari seputar masalah hoaks.
      Tanpa dicari ide cerita sebetulnya sudah berada di seputar kita. Segala yang kita lihat, rasakan, dan dengar, dari sanalah sumber ide cerita. Bahkan terhadap hal yang tidak begitu kita hiraukan keberadaannya, seperti pengemis yang datang ke rumah, dapat menjadi ide cerita. Selain itu ide cerita juga dapat diperoleh dari membaca. Membaca selain mendapatkan ilmu dari konten buku tersebut, juga memperoleh ide-ide cerita. Terkadang saya mendapatkan ide yang tidak ada hubungan sama sekali dengan konten di dalamnya. Entah bagaimana dan mengapa, tiba-tiba ketika proses membaca pikiran saya tertuju sejenak pada suatu peristiwa yang pernah saya alami dan itu menjadi ide cerita. Jadi membaca sebagai umpan untuk mendapatkannya. Sehingga sebelum memulai membaca sebuah buku catatan atau setidaknya selembar kertas atau ponsel, selalu berada di samping saya. Sebab selama proses membaca saya pasti menemukan ide-ide cerita.
       Menulis sebagai kegiatan yang beraktivitas di rumah, terkadang menimbulkan rasa jenuh. Saya pun mencari ide di luar rumah. Di luar rumah tidak harus bertamasya yang mengeluarkan uang. Dengan bersilaturahmi ke rumah tetangga, itu juga keluar rumah. Manfaat bersilaturahmi di antaranya menambah rezeki. Pengertian rezeki adalah segala kemudahan yang diberikan Allah, seperti mendapatkan ide cerita. Atau sekadar jalan-jalan ke mal, atau pertokoan, atau ke supermarket.    
      Bila hari libur tiba, biasanya saya bertamasya bersama keponakan-keponakan. Selain tujuannya untuk refreshing dan keluar dari rutinitas sehari-hari, manfaat lain untuk mendapatkan ide-ide cerita. Disamping setting tempat dan suasana yang kelak dapat saya pergunakan dalam mendukung cerita.
       Yah, ide cerita diperoleh dari mana saja, dalam situasi apa pun, dan di mana pun, bergantung sejauh mana hati kita menyambut. Semakin kita memiliki sensitivitas hati yang tinggi, hal sederhana sekalipun, dapat menjadi ide cerita yang cemerlang. Salam senyum menulis, teman-teman!
@@@

Jumat, 10 November 2017

Cerita Remaja


Teratai


         Namanya Teratai. Aku memanggilnya Tera, sebagaimana dia memperkenalkan namaya padaku dulu, dengan huruf e dilafalkan seperti orang mengatakan kata tempe, makanan berbahan baku kedelai. Sekilas terbersit rasa rendah diri mengajak pertemanan dengannya. Buat penghuni baru  di kampung ini, apalah artinya diriku. Dibanding Tera yang selalu banyak teman. Kalau bukan dia membawa teman selepas pergi, ada saja teman-temannya yang datang.
         Namun tanpa kusangka dia mendatangiku suatu sore.
       "Hai... rajin amat, nyapu sendiri," sapanya ramah. Bahkan dia membuka sendiri pintu pagar rumahku. Lalu tanpa sungkan menyodorkan tangan kanannya. Sikapnya yang sok akrab, walaupun saat itu kami baru berkenalan, membuatku tak lagi rendah diri.
       "Salam kenal, namaku Teratai, panggil saja Tera.”
      "Aku Danila, panggil saja Nila. Tapi maaf tanganku kotor, belum mandi lagi," kataku sungkan dengan tangan kiri masih memegang sapu  sementara tangan kanan menyambutnya.
      "Seperti nama ikan, ikan nila, xixixixi." Begitulah dia mengakhiri kalimatnya dengan tawa yang tertahan di kerongkongan sehingga jika ditulis kira-kira...  xixixixi.
      "Ha ha ha..." kutanggapi dia dengan tawa juga. Padahal aku tertawa karena tawanya, bukan karena ikan nila. Bukankah begitu biasanya orang tertawa? Ha ha ha atau he he he.
      "Kotor dan belum mandi bukan berarti haram kan?"
      Aku tersenyum.
      "Masuk, yuk! Kebetulan menyapuku sudah selesai,"pintaku kemudian.
     "Enakan di teras."
       Lalu kami duduk berdua di bangku panjang sembari menikmati semilir angin. Terutama buatku yang baru saja bersih-bersih rumah. Peluh membasahi wajah dan badan.  Aku juga cerita kalau aku mengerjakan sendiri pekerjaan rumah karena mama bekerja dan tidak lagi punya asisten. Ketika di rumah lama, kami punya asisten rumah tangga yang bekerja dari pagi hingga sore. Lalu rumah waris itu dijual dan kami beli rumah di sini. Setelah dipikir-pikir, kurasa mama tidak perlu cari asisten lagi. Zaman sekarang serba elektrik dan praktis. Mesin cuci, setrika listrik, penanak nasi listrik, semua itu membuat kami bisa melakukan pekerjaan rumah berdua tanpa asisten rumah tangga.
        "Ngomong-ngomong, kamu pasti suka kucing,” tanyaku sejak tadi melihatnya membawa boneka kucing.
       "Ah, iya, sampai lupa. Ini terbawa. Sebetulnya aku tadi ke luar untuk panggil Bibi. Eh ternyata kamu ada di depan. Pelampiasan, sih. Sebetulnya aku selalu pelihara kucing persia. Tapi yang terakhir, juga diminta saudaraku. Ya, sudah aku berikan, yang penting dia bisa pelihara. Ketika Mama mau beliin lagi, Bibi cerita kalau kucingnya di kampung tidak ada yang ngurus. Cucunya yang memelihara kucing itu meninggal karena sakit.  Aku jadi berpikir seribu kali buat beli kucing lagi.”
      "Maksudmu kamu akan memeliharanya?"
     "Iya. Aku paling sedih kalau lihat binatang telantar, apalagi kucing. Yah, sekali tempo nggak apalah memelihara kucing kampung."
     Sayang pembicaraan yang akrab itu harus terhenti. Mama pulang. Setelah menyampaikan salam kenal, Tera pamit. Walaupun mama bersikeras meminta Terà tidak pulang.
    Tentu saja mama suka kedatangan Tera sore itu. Semenjak tinggal di daerah ini selama sebulan waktuku hanya kuhabiskan di rumah sekembali dari sekolah. Renita, sahabatku, datang kemari hanya pada saat kami pindah. Apalagi teman-teman lain. Ah, siapa yang mau datang di daerah pinggir seperti rumah kami.
    Tentu berbeda dengan orangtua Tera. Bagi orang kaya seperti mereka membeli rumah di piggir kota bermaksud mencari udara segar dan ketenangan di antara rutinitas kota yang bising dan penuh polusi.
      Kamu pasti bisa menduga. Jika pertemuan awal Tera begitu terbuka, bagaimana hubungan kami selanjutnya. Yah, kami akrab. Terkadang aku ke rumahnya, terkadang dia ke rumahku.
       Tapi beberapa minggu terakhir aku kehilangan Tera, sahabatku di kampung ini. Tidak lagi kulihat keceriaannya, tawanya yang ... xixixi, juga boneka kucing yang selalu dalam pelukannya.
       Seperti yang diutarakan, di kampung ini tidak ada remaja seusiaku kecuali dia. Selebihnya anak-anak yang masih belajar di sekolah dasar dan kakak-kakak mahasiswa. Setiap kali bertemu paling kami cuma bertegur sapa dan tersenyum. Mungkin sangkaan mereka “nggak nyambung bicara dengan anak SMA”. Sebagaimana aku juga tidak berhasrat berteman dengan kakak-kakak mahasiswa itu.
         Akhir-akhir ini rumah Tera selalu tertutup. Tidak ada pula kehadiran teman-temannya. Bukan berarti tidak bisa mengetuk pintu jika aku ingin berkunjung. Tapi rasanya sudah menjadi peraturan tak tertulis, jika rumah tertutup itu berarti kami sedang tidak ingin menerima tamu. Begitupun Tera, selalu datang pada saat aku menyapu halaman. Lagi pula pertemuan kami tidak didasar atas sesuatu penting kecuali sekadar tanya kabar. Walau begitu kedatangan Tera amat berarti.
Aku semakin tidak berani berharap bertemu dengannya ketika bibi yang sedang menyapu di halaman memberi  jawaban yang tidak kuduga.
"Sudah lama saya tidak melihat Tera."
"Non Tera memang lagi sibuk ke rumah sakit...”
"Siapa yang sakit,  Bi?”
"Tresna. Dia...
"Bi..... " tiba-tiba mamanya nongol. "Eh Nila. Ayo main ke sini. Tapi Tera lagi di rumah sakit.”
"Terima kasih, Tante, lain kali aja. Saya juga baru saja dari supermarket, disuruh belanja Mama.” Kutunjukkan sekantung plastik bahan makanan.
Sampai di rumah kutumpahkan keterkejutanku kepada mama.
"Ma, ternyata Tera lama tidak kelihatan karena sibuk nungguin pacarnya." Ungkapku begitu menyerahkan belanjaan kepada mama.
"Pacar? Kamu bilang Tera tidak punya pacar?"
"Waktu itu dia tidak menjawab iya atau nolak. Tapi senyum-senyum. Bibi tadi bilang dia sibuk nungguin Tresna di rumah sakit. Itu kan nama cowok. Iya kan ma?"
"Iya, tepatnya cowok dari Jawa. Yah, mungkin dia malu. Ini menyangkut privasi, Nil."
"Kalau saja dia berterus terang, Nila mau besuk."
"Tidak semua yang kita anggap baik diterima orang lain. Lebih baik nunggu dia datang lagi kemari.”
 Aku masuk kamar dan mencerna kata-kata mama. Betul juga ya, kalau dalam keadaan dia bingung aku datang, memang aku bisa bantu? Jangankan ikut nyelesein masalah sepasang remaja yang lagi kasmaran, deketan dengan lawan jenis saja aku belum pernah. Selama ini mereka sekadar teman biasa. Apalagi semenjak papa tiada setahun lalu. Aku mesti berhati-hati dalam bargaul. Jangan sampai karena urusan cinta kemudian mengganggu sekolahku. Kasihan mama yang sudah menjadi single parent.
@@@
 Kulalui hari-hari seorang diri. Kegiatan bersih-bersih rumah yang kulakukan setiap sore menjadi semakin berat. Tiada lagi teman berbincang satu nasib, sama-sama anak semata wayang dan sama-sama nggak punya teman di kampung ini, kecuali kami berdua.
"Hai, ikan Nila xixixixi."
Aku terperanjat dan ternganga, benarkah yang kudengar?
"Hai, Kucing,” kataku tak kalah senang, ganti meledek.
Seperti biasa dia langsung membuka pintu pagar. Sebagaimana kedatangannya yang selalu setelah aku menyelesaikan pekerjaan rutinku di halaman, kami pun melepas kangen di bangku teras.
"Duh yang punya pacar nggak bilang-bilang. Maafin, aku nggak sempat nengok di rumah sakit.”
"Pacar? Di rumah sakit?”
Tera bingung.
"O, Tresna maksudmu? Lha, ini Tresna,” katanya sambil menunjuk seekor kucing di pangkuannya. Kali ini bukan boneka. “ Kucing ini dari kampung Bibi, yang pernah aku critain dulu. Bibi bilang namanya jangan diganti. Tresna itu dari bahasa Jawa, artinya setia. Jadi biar dia setia juga sama aku. Mungkin di sini dia lagi adaptasi, terus diare, aku bawa ke rumah sakit, dokter bilang harus opname.”
“Jadi Tresna nama kucing?” ulangku tak percaya campur dongkol.
“Xixixixi...”
Betapapun dia telah membuatku dongkol dengan ceritanya, yang penting aku telah menemukan tawanya lagi.
@@@








Kamis, 09 November 2017

Artikel Anti Hoaks

Perangi Hoaks dengan Agama
(Anti Hoaks Sang Pendidik)

       Akhir-akhir ini sering beredar berita-berita yang awalnya meyakinkan dipercaya, tetapi seiring waktu berjalan, memudar karena tidak ada kebenarannya. Masyarakat pun dibuat resah hingga kemudian mereka meyakini bahwa ternyata berita itu bohong.
       Sebetulnya berita bohong atau fitnah sudah ada sebelum manusia menginjakkan kaki di muka bumi. Dikisahkan dalam Al Quran, surat Al-A`raf ayat 19-22, ketika Allah melarang Nabi Adam dan istrinya, Siti Hawa, mendekati pohon kayu agar tidak menjadi orang zalim atau tercela. Lalu suatu ketika dengan mengaku sedang memberi nasihat, syetan memutarbalikkan fakta dan mengatakan bahwa Tuhan melarang mereka mendekati pohon kayu agar tidak menjadi malaikat atau orang-orang yang kekal di syurga. Syetan pun membujuk mereka supaya memakan buah kayu itu. Pembohongan ini diungkapkan dengan kata-kata bombastis `menjadi malaikat` sehingga Nabi Adam dan istrinya tergoda. Setelah itu Allah mengeluarkan mereka dari syurga kemudian turun ke bumi. Tak ubahnya berita bohong yang terjadi pada zaman Nabi Adam, sekarang pun terkenal dengan hoaks. Lalu mengapa istilahnya menjadi hoaks? Dan mengapa sampai pada masyarakat Indonesia? Bagaimana penyebarannya?
       Secara etimologi atau asal usul kata, hoaks berasal dari bahasa Inggris dengan huruf –ks ditulis –x, yaitu hoax. Hoaks mempunyai makna berita bohong, berita palsu, atau kabar burung. Jadi dapat dikatakan, hoaks sesuatu yang tidak benar. Banyak berita dari media sosial atau medsos yang menggemparkan. Dari kalangan pejabat, partai politik, selebritis terkenal, komunitas tertentu, dan yang meresahkan bila menyangkut kepentingan masyarakat luas. Persoalannya pun bervariasi, dari masalah pribadi, hubungan sosial, kesehatan, hingga produk makanan dan minuman. Hoaks disebarkan agar pihak-pihak yang menjadi sasarannya percaya dan diuntungkan padahal pada kenyataannya justru dirugikan. Kata hoaks pun dipergunakan, tidak saja di media sosial tetapi juga dalam pergaulan sehari-hari. Karena sering muncul inilah kata hoaks diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI edisi V online atau dalam jaringan (daring) yang diterbitkan kemendikbud tahun 2017 sudah memuat kata hoaks dengan tulisan ho.aks. Kini masyarakat Indonesia dapat menggunakan kata hoaks dalam konteks atau situasi resmi.
      Kata hoaks muncul pertama kali dari kalangan para pengguna internet atau warganet dari negara Amerika, didasarkan pada film berjudul The Hoax pada tahun 2006. Film ini disutradarai oleh Lasse Hallstrom dengan skenario ditulis William Wheeler berdasar buku biografi Clifford Irving. Karena plot banyak menyimpang dari aslinya, Irving mengundurkan diri atas keterlibatannya dari film itu. Semenjak itu film The Hoaks dianggap mengandung banyak kebohongan. Kemudian banyak kalangan terutama para warganet menggunakan istilah hoaks untuk menyatakan suatu kebohongan. Karena jaringan internet memudahkan orang mengetahui berita dengan cepat, kata hoaks digunakan oleh wargnet seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Bagaimana Cara Mengidentifikasi Sebuah Berita Hoaks atau Asli?
       Era digital ditandai dengan pertumbuhan telepon pintar dan aktifnya warganet dalam media sosial. Hal ini jika tidak diimbangi dengan literasi digital menyebabkan hoaks merajalela. Informasi beredar melalui jalur digital seperti situs online dan pesan chatting. Jika tidak berhati-hati warganet akan termakan hoaks bahkan ikut menyebarkan informasi palsu.
       Lalu bagaimana cara mengidentifikasi sebuah berita hoaks atau bukan? Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan.
       Pertama, perhatikan judul berita yang bernada provokasi dan bombastis. Berita hoaks biasanya ditulis dengan huruf besar dan tanda seru, dengan konten menunjuk pada pihak tertentu. Tujuannya merugikan pihak yang menjadi sasarannya itu.
       Kedua, dengan mengecek di mesin pencarian seperti Google. Tulis kata kunci atau tema yang dimaksud, kemudian ikuti kata hoaks. Nanti akan ada pembahasannya. Pada akhirnya Google akan memberitahukan apakah berita itu hoaks ataukah tidak.
      Ketiga, banyak bergaul dengan teman-teman. Media sosial tidak membatasi ruang dan waktu. Chatting dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, dari Sabang sampai Merauke. Berita hoaks biasanya menyangkut hal-hal yang sedang hangat dibicarakan. Tentu banyak pula orang-orang sedang membicarakan dan merespon. Tanyakan apakah berita itu hoaks dan sejauh mana mereka mengklarifikasi.
       Keempat, ternyata hoaks tidak hanya terjadi dalam berita, gambar dan video pun dapat dimanipulasi. Hal ini bisa dicari dalam Google Images. Di sana akan disajikan gambar-gambar serupa yang beredar di internet, kemudian bandingkan.

Dampak Negatif Hoaks
       Karena hoaks merupakan fitnah atau perbuatan tercela, tentu membawa dampak buruk. Hoaks menyebabkan masyarakat terprovokasi lalu timbul kebencian, hasutan, bahkan pemberontakan. Masyarakat digiring oleh opini yang sengaja diciptakan agar situasi memburuk sehingga pada akhirnya memecah belah.
       Beberapa kali tersiar kabar bahwa mengonsumsi dua jenis makanan tertentu secara berurutan akan menimbulkan kematian. Padahal makanan-makanan itu justru dibutuhkan bagi kesehatan tubuh. Ataupun minuman kemasan mengandung virus HIV. Bukankah hal ini berdampak perekonomian tidak stabil?
       Hoaks juga membunuh mata pencaharian. Pernah terjadi di sebuah warung kelontong. Kampung dihebohkan dengan berita salah satu prouduk makanan anak-anak mengandung bahan narkotika. Tentu saja para orangtua menjadi cemas. Bahkan melarang anak-anaknya, tidak saja membeli produk makanan tersebut, tetapi juga semua makanan dan minuman yang dijual di warung itu.  Warga pun menjadi berburuk sangka, mengapa pemilik warung menjual makanan terlarang.
       Bila hoaks terjadi dalam satu komunitas, tentu mengikis kepercayaan karena antaranggota menjadi saling mencurigai.

Cara Mengedukasi Siswa/ Keluarga/ Kolega untuk Memerangi Hoaks
       Pertama, jika melibatkan warganet, periksa link yang memuat hoaks. Hoaks biasanya tanpa masa berlaku, tanggal awal atau akhir, atau link-nya sudah mati, atau link tersebut merupakan opini. Opini adalah pendapat seseorang yang belum tentu kebenarannya sehingga bersifat subjektif. Sedangkan fakta adalah kenyataan dan sudah jelas kebenarannya.
       Kedua, bila menyangkut masyarakat atau orang-orang sekitar, supaya tidak mudah mempercayai berita sebelum mengetahui sumbernya yang dapat dipercaya. Disebutkan dalam surat Al Hujurat ayat 6, Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu.
      Ketiga, pentingnya tidak berlaku fitnah. Sebab orang lain memfitnah, dimungkinkan dalam kehidupan pun kita gemar memfitnah atau menyebarkan berita bohong. Atau kita telah menyakiti orang lain sehingga dibalas berupa fitnah. Disebutkan dalam surat Asy Syuura ayat 30, Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan-kesalahanmu.
       Keempat, bergaul dengan teman-teman yang memberi pengaruh positif. Seseorang salah jalan bisa jadi karena salah bergaul dengan teman-teman yang memiliki perilaku buruk. Begitupun bergaul dengan orang yang suka menyebarkan berita bohong, maka ia juga berpotensi berlaku sama.  Disebutkan dalam surat At Taubah ayat 119, Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur (benar).
      Kelima, memanfaatkan waktu dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif. Disebutkan dalam surat Alam Nasyrah ayat 7, Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan lainnya. Karena tidak berdisiplin berarti membuat celah bagi syetan atau pihak yang tidak suka untuk mempengaruhi hal buruk.

Pengalaman Pribadi ketika Mendapat Hoaks atau Fitnah
       Keyakinan yang saya anut mengajarkan bahwa perkara batil, termasuk fitnah, akan diganti dengan yang benar. Dan kebenaran itu akan kekal. Sebelum bertindak saya akan meneliti terlebih dahulu apakah hal yang dituduhkan itu benar ataukah fitnah. Jika benar kabar itu fitnah, saya pun berkeyakinan bahwa suatu saat kebenaran akan menggantikannya.
       Jika menyangkut kemaslahatan masyarakat luas, saya banyak berhubungan dengan teman-teman di media sosial sampai saya menemukan jawaban bahwa berita itu hoaks. Tetapi jika menyangkut masalah pribadi, langkah awal saya mencari tahu, siapa yang menyebarkan fitnah. Sambil menyelidiki, saya tetap berlaku baik kepada siapapun, termasuk di tempat berita fitnah pertama menyebar. Dengan bertanya kepada teman atau melihat gerak gerik, biasanya ada yang membisiki sumber pembawa berita fitnah. Tetapi terkadang tidak semudah itu. Pihak penyebar fitnah menyampaikannya langsung tetapi dengan mengambinghitamkan orang lain. Seiring waktu berjalan, sambil tetap berperilaku baik, penyebar fitnah akan sungkan. Dari situlah ketahuan pelaku penyebar fitnah. Tetapi saya tidak membalas dengan kejahatan sebagaimana dia pernah memfitnah saya.
       Disebutkan di dalam Al Quran surat An-Nahl ayat 126, Dan jika kamu memberikan balasan, balaslah dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Tentu saya memilih sabar. Sebab berkaitan dengan perilaku, sulit diukur secara kuantitatif. Disebutkan pula pada surat Fushilat ayat 34, Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka diantara kalian yang semula ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Maka kami pun bisa lebih dekat dari sebelumnya. 
       Mengingat besar kerugian dan dampak yang ditimbulkan oleh hoaks atau berita fitnah, marilah kita ciptakan masyarakat yang dilandasi perilaku jujur, saling menghargai, dan menyayangi. Karena dengan menyayangi orang lain sebagaimana dengan diri sendiri, tidak ada pihak yang tersakiti. Maka hoaks tidak akan timbul. Negeri tercinta ini pun menjadi  aman dan tentram. Kita isi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif dan membangun. Bila negeri ini damai dan bersatu, negara lain pun sulit campur tangan untuk memecah belah. Sebaliknya kesan positif didapat dari dunia internasional.
@@@
                                                                                                                        Iskadarwati, S.Pd.
                                                              guru Bahasa Indonesia, penulis lepas, tinggal di Semarang
Referensi:
Al Quran Surat Al-A`raf ayat 19-22
Al Quran Surat Al Hujurat ayat 6
Al Quran Surat Asy Syuura ayat 30
Al Quran Surat At Taubah ayat 119
Al Quran Surat Alam Nasyrah ayat 7
Al Quran Surat An-Nahl ayat 126
Al Quran Surat Fushilat ayat 34
https://kbbi.kemendikbud.go.id
http://nine-lounge.blogspot.co.id/2012/06/asal-mula-istilah-hoax.html
http://www.tagar.id/empat-langkah-mudah-cek-berita-hoax-atau-bukan/
http://tekno.kompas.com/read/2017/01/09/12430037/begini.cara.mengidentifikasi.berita.hoax.di.internet
https://www.kompasiana.com/wenynoviasuryani01/dampak-negatif-dan-jejaring-sosial-penyebaran-berita-hoax-dan-provokatif_593101bbca23bddf4ce89452

Jumat, 22 September 2017

Cerma

Menggulung Ombak


     Awal perkenalan menarik. Medsos membuat ruang dan waktu tak terbatasi. Lewat temanmu kau menjalin banyak teman. Walau tak semua merespon. Dia yang lebih dulu bergabung dengan Path. Kau kaget ketika balasan ucapan selamat ulang tahun dari seseorang berakun “Initial A”. 
       “Nama yang unik, “Initial A”, katamu suatu saat dalam ruang chat khusus.
       “Cuma buat seru-seruan aja. Nama panjangku Adiansyah. Panggil saja Adi. Mahasiswa UGM semester akhir.”
     Lalu tanpa terduga apalagi terencana, semua bergulir begitu saja dalam alunan rima hati yang senada. Masih dalam ruang Path, tak mengganggu hubunganmu dengan cowok itu. Bagimu pertemuan tak harus kopi darat dalam tempat dan waktu khusus. Sampai kau menerima tawarannya berkunjung, sesuatu yang sudah lama kau dambakan namun tak terungkap. Tidak saja karena kodratmu sebagai cewek yang masih mengagungkan adat ketimuran, namun ada hal lain yang lebih urgen, tentang pertanyaan-pertanyaan orang rumah, terutama mama. Kedatangan lawan jenis, terlebih dari luar kota, pastilah punya niatan khusus.
      “Tempat tinggalmu Kaliwungu sebelah mana?” tanya Adiansyah polos, memastikan jawabanmu sejujurnya.
      "Mmm.. untuk sementara...ketemuannya nggak di rumah, gimana, Mas? O ya... aku tinggal dekat Pantai Ngebum. Bagaimana kalau kita ketemuan di Pantai Ngebum. Mas belum pernah ke sana, kan? Sekalian lihat sunset
       “Kenapa sih nggak boleh langsung main ke rumah? Keluargamu masih melarang kita pacaran?”
       “Papa dan Mas Ari sih nggak masalah, tapi Mama pola pikirnya masih jadul. Padahal kita kan nggak ngapa-ngapain.”
        Senyummu mengembang. Empat larik kata manis tak berkedip kau pandang. Pasir pantai sebagai saksi, betapa melamar menjadi kunci cinta kasihmu bersama Adiansyah.
      Sore itu selesai salat Asar, langkahmu mengalun pasti menuju Pantai Ngebum seperti yang kau sepakati. Dua jam waktu yang dijanjikan Adiansyah dari Yogyakarta menuju Kaliwungu bila tak ada aral melintang. Kau tak berterus terang. Kau buat seisi rumah terheran. Lagi lagi tentang mamamu. Bersama siapa, ada urusan apa, bertemu siapa. Dengan berdalih sekadar ingin melihat sunset yang lama tak kau nikmati, akhirnya mereka membiarkanmu melenggang ke pantai berpasir, tempatmu menghabiskan masa kecil.
       Pukul empat sore yang dijanjikan tepat menandai pada arloji di pergelangan tanganmu. Dadamu semakin berdegup keras. Gemuruh suara ombak semakin tak membuatmu tenang. Kau sengaja menatapnya. Demi menutupi kegundahan, agar tak begitu kentara kau begitu memujanya. Lalu dengan tiba-tiba dia datang dari samping, menebar senyum yang menawan, khas lesung pipit di kedua pipi yang dipunya. “Initial A”. Siapa sangka sebentar lagi akan hadir di hadapanmu. Kau merasa bagai sedang menjadi bintang dalam sebuah sinetron atau film.
       Detik demi detik terlewat, tak ada respon. Kau mencoba bersabar dan terus bersabar. "OTW to Kaliwungu, Pantai Ngebum". Itu terakhir postingan-nya. Hingga sunset menjelang. Hingga tak kau sadari kakakmu Ari sudah berada di sampingmu, lalu memaksamu untuk bercerita.
       “Akan aku hajar cowok itu kalau sampai berani menelantarkanmu,”
       “Adi tidak seburuk yang Mas sangka!”
       “Kamu berlinangan air mata begini masih mengatakan dia cowok baik?”
       Kau diminta baik-baik saja sesampai di rumah agar mamamu tak semakin menyalahkanmu. Di dalam kamar dadamu sesak. Apa yang tengah terjadi padanya.
       Barulah keesokan hari kau lihat postingan di Path, teman-temanmu ramai membicarakannya.
      “Tidaaaak! Tidak mungkiiiiiiin!”
       Sontak seisi rumah menghampirimu di dalam kamar. Kau meronta-meronta dan membuang ponselmu. Terbaca di sana semua mengucap bela sungkawa atas meninggalnya “Initial A” dalam kecelakaan menuju ke Pantai Ngebum.
       Semenjak itu kau rajin ke Pantai Ngebum untuk memastikan kedatangannya yang tak pernah bertepi.
      "Riris, ayo pulang!"ajak mamamu tiba-tiba dalam kekuatiran yang mendalam.
      "Aku janjian sama Mas Adi di sini, Ma."
   "Mas Adimu sudah nunggu di rumah." Mas Ari yang lalai menjagamu sore itu membujuk sambil menggandengmu. Barulah kau menurut begitu disebut nama Adi. Empat larik kata manis dan penantianmu pun menggulung bersama ombak.
@@@
                                                                                                Pantai Ngebum, 17 Agustus 2017

Cerma ini pernah dimuat di Minggu Pagi, 15 September 2017