Iis Soekandar: Bir

Selasa, 15 Agustus 2023

Bir

Ini minuman bir bukan sembarang bir. Apalagi kau bandingkan dengan bir yang bisa memabukkan seperti dijual di pasaran. Kehangatan yang ditimbulkan justru membuat badan segar. Terlebih kasiatnya. Rasanya agak pedas, tapi tak seperti cabe karena terbuat dari sejumlah rempah seperti jahe, sereh, dan entah apa lagi─untuk itulah sedang kukejar resep dan cara membuatnya─tentu saja gula sebagai pemanis. Kalau kau tertarik, aku pun merayu Mamak untuk memberinya resep. Aku yakin kau tak dapat menemukannya di toko online yang katanya tak pernah menolak permintaan. 

Azan Asar berkumandang beberapa waktu lalu. Aku terduduk di bangku panjang teras tanpa sepengetahuan pemilik rumah. Tak sulit membuka selot pintu pagarnya. Siapa pun dapat masuk dengan mudah. Ditambah pagarnya yang pendek terkesan pemiliknya tak menjaga jarak dengan para tetangga dan mudah diajak berkomunikasi. Saking akrabnya kami memanggilnya Mamak, sebagaimana anak-anaknya memanggilnya. Apalagi serangkaian tanaman berbunga semarak mengelilingi pagar. Yang tidak berbunga pun ditata sedemikian rupa. Semua menarik dipandang mata. Rumah yang asri, terjaga pula kebersihannya.

Cahaya matahari masih menyengat, belum satu pun anak kos yang tinggal di rumah ini kembali bekerja. Sengaja aku tak masuk walau pintunya terbuka, sebagai privilese aku bersedia menemani dan menyambanginya. Kubiarkan diriku menunggu di luar. Aku sengaja datang seawal ini karena sedang kedapatan tamu bulanan sehingga tidak terikat jadwal salat Asar. Tapi tujuan utamaku: menjadikannya salah tingkah.

Dengan demikian, aku telah menanam investasi dan setelah investasiku terkumpul, aku akan mengambilnya. Apalagi kalau bukan memintanya memberikan resep membuat bir. Itu trikku, untuk merubuhkan pendiriannya yang kukuh, hanya memberikan minuman bir yang sudah jadi dalam kemasan botol sirup kepada yang meminta. Dan aku yakin, aku akan memenangkan perseteruan ini. Inilah saatnya aku beraksi, merealisasikan hasrat yang sudah setahun terpendam, tepatnya sejak pandemi melandai.

Memang tidak libur seratus persen sebagaimana siswa. Terlebih libur akhir tahun ajaran, saatnya sekolah mencari peserta didik baru. Tapi kami bekerja hanya setengah hari, berbeda saat mengajar, sore hari baru selesai. Tidak saja kesiapan dari diriku sendiri, semesta kiranya ikut mendukung. Ada kenalan, tetangga kampung yang kesripahan dan mengundang siapapun yang punya waktu untuk tahlil. Di kampung ini, tahlil dan pengajian dilakukan sehabis magrib. Sore hari, ibu-ibu rumah tangga sibuk merampungkan pekerjaan rumah, apalagi yang bekerja. Ketika tadi malam begitu ada pengumuman undangan tahlil─aku yang jarang mengikuti acara kampung, termasuk menalihkan orang meninggal─tiba-tiba mendatangi rumahnya dan menawarkan diri mengajaknya pergi tahlil bersama, Mamak seperti mendapat undian arisan. 

Kendati tanpa aku dia tetap berangkat, tapi jalan bersama teman bagi orang tua pastilah lebih nyaman, setidaknya ada yang diajak mengobrol saat di jalan. Kebetulan saat ini aku terbebas dari kesibukan sehari-hari. Dan aku akan membersamainya hingga hari ke tujuh atau menurut perhitungan: tahlil akan berlangsung sebanyak enam hari.

“Lho kok duduk di luar?” sapanya penuh atraktif sambil membetulkan kerudung instannya agar nyaman dipakai, begitu keluar mendapatiku duduk dengan senyum-senyum. “Pintunya sengaja Mak buka.”

“Ah, nggak pa pa, Mak,” jawabku melegakan hatinya. “Sambil cari angin.” Tapi tetap saja dia merasa sungkan: pertama karena ditunggu, kedua kenapa aku tidak masuk layaknya seorang tamu.

Sebagaimana aku yang tidak suka basa basi karena tak nyaman datang di sebuah acara datang terlambat, dia pun punya pikiran sama, kami gegas berangkat. Dengan baju gamis marun senada warna kerudung, jalan Mamak masih sigap. Kubayangkan berjalan bersama nenek jika saja beliau masih hidup. Dalam usia Mamak yang sudah uzur memiliki tubuh sehat pastilah harta berharga.

 “Mak... ajari saya bikin bir. Mak kan ahlinya di kampung ini,” pintaku giliran bicara setelah panjang lebar dia mengatakan sebelum berangkat tadi menerima telepon dari cucunya perihal keadaannya.

Tanpa menjawab dengan kata-kata. Dia senyum-senyum.

“Mak senyum-senyum, berarti Mak bersedia. Kapan Mak, hari dan jamnya. Kebetulan saya lagi tidak mengajar. Piket saja, siang hari sudah pulang,” tambahku.  

                                                                              

                                                                       gambar: kompas.id

Sekali lagi Mamak hanya menanggapi dengan senyum-senyum. Hingga langkah kami keluar kampung menuju kampung tetangga yang kesripahan. Kami bertemu jamaah lain. Tentu saja aku tahu diri, berjalan mengiringi mereka di belakangnya. Mungkin hanya aku yang masih muda.

Apakah kau sependapat bahwa usahaku berbuah manis? Aku sudah jelaskan setiap hari aku punya banyak waktu lowong. Itu berarti aku memang sangat ingin bisa membuat minuman khas itu. Berbeda dengan pengalaman ibu-ibu yang aku dengar. Beberapa di antara mereka memohon kepada Mamak. Tapi tak satu pun permohonannya ditanggapi. Mungkin karena menurut Mamak, permintaannya itu hanyalah iseng, maka Mamak tak perlu menanggapi dengan serius pula. Berbeda dengan aku, menyediakan waktu khusus, menemaninya tahlil hingga berhari-hari. Kalau pun tidak praktik, setidaknya Mamak bersedia memberikan resepnya, sepuluh jenis rempah ditambah gula pasir, itu keterangan yang diberikan kepada ibu-ibu untuk membuat bir. Tapi sepuluh jenis rempah itu apa saja dan bagaimana cara membuatnya, Mamak tak pernah membeberkan. 

“Orang-orang kuno” termasuk nenekku yang tak pernah kutemui─begitu Mamak mengistilahkan orang-orang sebelum dan seangkatannya─biasa membuat minuman bir. Tentu saja tidak termasuk ibuku yang meninggal saat melahirkanku dan ayah menyusul beberapa tahun lalu setelah sekian lama hidup berdua denganku. Sehingga aku tak tahu menahu tentang bir kecuali saat pandemi menimpa. Banyak orang kembali pada obat tradisional untuk menghalau virus itu, Mamak tak mau kalah. Sebagai satu-satunya generasi orang kuno yang masih hidup, Mamak membagikan minuman rempah yang lain dari yang lain termasuk yang dijual di kedai-kedai minuman: bir.

Bir dibuat untuk menyamai minuman anggur atau wine dari Eropa. Terasa hangat saat diminum, tetapi tidak memabukkan sebagaimana minum minuman keras. Bukankah orang-orang Eropa juga ada yang tinggal di Semarang, zaman itu? Jadi wajarlah kalau orang-orang kuno Semarang juga ingin memiliki minuman yang bisa menghangatkan badan. Kami pun manggut-manggut mendengar keterangan Mamak.

Minuman yang hangat dan lain daripada yang lain itu diberikan Mamak dalam ceret. Kami menuangkannya panas-panas ke dalam gelas-gelas. Saat itu ada dapur umum. Berpengaruh atau tidak bir, yang jelas seluruh warga kampung tidak ada yang tertular virus COVID-19. Merasakan efeknya yang membuat badan menjadi hangat dan segar, kami ketagihan padahal Mamak tak lagi membuat seiring pandemi melandai dan tak ada dapur umum. Satu dua ibu meminta resep agar tak merepotkan Mamak. Akan tetapi, Mamak tak pernah memberikan. Tahu-tahu, beberapa hari kemudian, sebotol bir diberikan kepada yang meminta.

Tapi tidak dengan aku. Apa yang tidak bisa buatku. Pedagang es gempol, yang sangat tertutup, bisa kuulik kemudian memberikan resepnya. Pedagang gulai kambing yang kuahnya tidak kental tetapi juga tidak encer, dan itu sangat aku suka, ketika aku tanya resepnya, juga memberikan. Begitupun pedagang makanan dan minuman lain, tak pernah membuatku kecele demi memenuhi kegemaranku memasak masakan nusantara. Maka pada waktu longgar kali ini kumanfaatkan membuat bir. Supaya aku dapat merasakan kembali sensasi aneka rempah yang terasa hangat dan segar itu.

Hari kedua kembali aku samperi rumahnya. Kutagih janjinya. Aku tidak boleh gagal.

“Iya, tenang saja,” jawabnya seperti biasa sambil senyum-senyum.

Aku tetap tidak terima ketika dia mengatakan bahwa apa gunanya bir bagi orang muda semacamku. Bukankah banyak pilihan minuman modern dijual di supermarket? Kujawab aku tetap bersikeras Mamak mengajariku membuat bir. Justru bir tidak dijual aku ingin bisa membuatnya sendiri. Aku rindu minum bir.

Hari ketiga kupaksa Mamak untuk menuliskan di secarik kertas sepulang tahlil. Aku sengaja tidak menyodorkan gawai yang lebih praktis era digital saat ini. Lagi-lagi Mamak hanya senyum-senyum.

“Kalau Mamak tidak ada waktu sekarang, boleh kertas dan pulpen ini disimpan. Besok kan kita masih ketemu. Lalu berikan saya,” ungkapku merasa sungkan bernada memerintah orang tua.

“Iya, iya, Mamak janji, tapi tidak besok. Hari terakhir setelah acara tahlil selesai,” janjinya sebelum kami berpisah. Kali ini aku yang senyum-senyum.

Nyes! Akhirnya aku akan mendapatkan resep minuman yang satu kampung ini gagal mendapatkan. Sebotol bir akan selalu tersimpan di kulkas, tanpa bergantung kepada orang lain. Saat ingin menikmati, aku tinggal menuangkan secukupnya di gelas lalu menambahkan air panas. Hm, minuman rasa rempah yang hangat, sedikit pedas, manis, ah pokoknya tiada duanya.

Hari keenam. Itu berarti tahlil terakhir untuk yang meninggal. Sepulang tahlil, seperti yang dijanjikan, aku dipersilakannya masuk, duduk di ruang tamu. Kupandangi satu dus makanan, puncak rasa terima kasih dari yang punya hajat, setelah berhari-hari selalu memberi dua kue dalam plastik mika. Kupastikan berisi roti dari nama toko tertera. Andai resep itu diberikan tiga hari lalu saat aku menyodorkan kertas dan pulpen, pasti nanti malam aku dapat menikmati roti ditemani minuman bir yang hangat. Ah, segera kutepis pikiran “andai”. Sebab aku dapat membuatnya sepulang dari sini.

Tidak lama waktu berselang, berdiri seseorang di depanku. Sambil senyum-senyum, tanpa rasa bersalah dia berkata,

“Ini, dibawa, tinggal menikmati. Tak usah sungkan.”

Kusambut sebotol bir dengan senyum memaksa.

Matahari meredup mengantar kepulanganku. Jadi, apakah kau mengira, aku telah mengganggu privasinya?

@@@

Cerpen ini pernah terbit di kompas.id, Kamis 10 Agustus 2023

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar