Iis Soekandar: Mengisi Waktu Luang

Kamis, 27 Agustus 2026

Mengisi Waktu Luang

                                                                                              

gambar: Canva

            Waktu belum beranjak senja. Lampu-pampu hias alun-alun di atas lapak-lapak sudah dinyalakan. Aroma makanan bakaran menyengat hidung. Saya berjalan-jalan sembari menikmati semilir angin. Pedagang-pedagang makanan atau minuman bersiap melayani pembeli.

Sebuah suara memanggil. Ternyata seorang teman.

            “Yuk, kita ngebakso!” katanya.

            Saya langsung mengiyakan. Ia memesan bakso pedagang luar arena alun-alun. Tidak satu pun pedagang di lapak alun-alun menjual bakso kuah sabagaimana penjual bakso di perkampungan. Para pedagang bakso di alun-alun umumnya menjual bakso olahan kekinian, seperti dibakar. Satu sisi sewa lapak alun-alun terlalu mahal bagi penjual bakso kuah pada umumnya.

            Tidak lama kami mengobrol, ia bertemu teman bersama anaknya. Kami duduk berempat. Keduanya mengobrol begitu bersemangat sambil sesekali membetulkan kerudung. Mereka lama tak bertemu. Saya mendengarkan sambil senantiasa tersenyum. Lambat laun saya merasa risih seiring anaknya merengek, namun ibunya tidak memedulikan. Ibu dan anak satu tangan memakai gelang keamanan dari kumparan spiral plastik. Anaknya menarik-narik. Setelah menangis barulah ia mengakhiri obrolan dan menuruti anaknya jalan-jalan.

            Pesanan datang. Saatnya menikmati semangkuk bakso. Sesekali kami membicarakan suasana alun-alun dengan penjual makanan-minuman kekinian dan khas daerah. Dulu ada pedagang mendoan lebar yang dicocol sambal kecap. Harga satu paket dua puluh ribu rupiah. Mengapa sekarang tidak ada? Apakah kemudian peminatnya sepi sehingga tidak menutup sewa lapak?

            Diam-diam melihat kejadian ibu-anak tadi saya teringat seorang teman bersama putrinya. Putrinya pelajar SD. Salah satu kakinya diberi gelang kaki. Ia terjatuh.

            “Ibu sedih soal gelang. Ibu tidak sedih aku sakit,” protes putrinya.

“Barang rosok harganya murah,” katanya. Ibu pasti sedih anaknya sakit, katanya kemudian.

            Kejadian lain saat menengok anak teman yang sakit. Anaknya menginjak remaja. Ia bercerita bahwa pertanyaan pertama ibunya bagaimana nasib kendaraan. Tentu saja anaknya protes. Ibu tidak bertanya bagaimana keadaan anaknya.

            Sebagian orangtua terlalu memikirkan materi sehingga tidak mengindahkan keselamatan anaknya. Padahal mereka tidak dari keluarga kekurangan. Harta menyilaukan mereka. Walaupun dari keluarga kurang mampu, keselamatan anak tetap di atas segalanya.

            Semangkuk bakso ludes.

            Perbincangan seputar alun-alun berakhir begitu azan Magrib mengentak suasana. Kami berpisah. Mengisi waktu luang kali ini begitu berarti. Dari protes anak-anak, orangtua tahu bagaimana seharusnya menjaga mereka. Saya segera menuju masjid untuk menunaikan salat.

@@@


Tidak ada komentar:

Posting Komentar