Waktu
belum beranjak senja. Lampu-pampu hias alun-alun di atas lapak-lapak sudah dinyalakan.
Aroma makanan bakaran menyengat hidung. Saya berjalan-jalan sembari menikmati semilir
angin. Pedagang-pedagang makanan atau minuman bersiap melayani pembeli.
Sebuah
suara memanggil. Ternyata seorang teman.
“Yuk, kita ngebakso!” katanya.
Saya langsung mengiyakan. Ia memesan
bakso pedagang luar arena alun-alun. Tidak satu pun pedagang di lapak alun-alun
menjual bakso kuah sabagaimana penjual bakso di perkampungan. Para pedagang bakso
di alun-alun umumnya menjual bakso olahan kekinian, seperti dibakar. Satu sisi
sewa lapak alun-alun terlalu mahal bagi penjual bakso kuah pada umumnya.
Tidak lama kami mengobrol, ia
bertemu teman bersama anaknya. Kami duduk berempat. Keduanya mengobrol begitu
bersemangat sambil sesekali membetulkan kerudung. Mereka lama tak bertemu. Saya
mendengarkan sambil senantiasa tersenyum. Lambat laun saya merasa risih seiring
anaknya merengek, namun ibunya tidak memedulikan. Ibu dan anak satu tangan memakai
gelang keamanan dari kumparan spiral plastik. Anaknya menarik-narik. Setelah menangis
barulah ia mengakhiri obrolan dan menuruti anaknya jalan-jalan.
Pesanan datang. Saatnya menikmati semangkuk
bakso. Sesekali kami membicarakan suasana alun-alun dengan penjual makanan-minuman
kekinian dan khas daerah. Dulu ada pedagang mendoan lebar yang dicocol sambal
kecap. Harga satu paket dua puluh ribu rupiah. Mengapa sekarang tidak ada? Apakah
kemudian peminatnya sepi sehingga tidak menutup sewa lapak?
Diam-diam melihat kejadian ibu-anak
tadi saya teringat seorang teman bersama putrinya. Putrinya pelajar SD. Salah satu
kakinya diberi gelang kaki. Ia terjatuh.
“Ibu sedih soal gelang. Ibu tidak sedih
aku sakit,” protes putrinya.
“Barang
rosok harganya murah,” katanya. Ibu pasti sedih anaknya sakit, katanya kemudian.
Kejadian lain saat menengok anak
teman yang sakit. Anaknya menginjak remaja. Ia bercerita bahwa pertanyaan
pertama ibunya bagaimana nasib kendaraan. Tentu saja anaknya protes. Ibu tidak
bertanya bagaimana keadaan anaknya.
Sebagian orangtua terlalu memikirkan
materi sehingga tidak mengindahkan keselamatan anaknya. Padahal mereka tidak dari
keluarga kekurangan. Harta menyilaukan mereka. Walaupun dari keluarga kurang
mampu, keselamatan anak tetap di atas segalanya.
Semangkuk bakso ludes.
Perbincangan seputar alun-alun
berakhir begitu azan Magrib mengentak suasana. Kami berpisah. Mengisi waktu
luang kali ini begitu berarti. Dari protes anak-anak, orangtua tahu bagaimana
seharusnya menjaga mereka. Saya segera menuju masjid untuk menunaikan salat.
@@@

Tidak ada komentar:
Posting Komentar