Iis Soekandar: Pondok Pesantren “Kapal Ijo”

Jumat, 23 Januari 2026

Pondok Pesantren “Kapal Ijo”

                                                                                      


                   Waktu menunjuk pukul setengah enam. Matahari belum tampak walau sudah waktunya terbit menurut penanggalan. Pengajian selesai. Tapi keresahan saya belum menemukan penyelesaian. Tidak seperti biasanya, dua kali saya mengikuti pengajian, masih ada yang belum tuntas. Bukan masalah kehidupan. Sesuatu yang  saya anggap hal kecil itu kini menjadi berarti. Ada undangan milad ke-7 pondok pesantren tempat Ustaz pengajar setiap Rabu pagi itu. Tergelitik saya menghadiri, tapi mencari alamat pinggir kota, mungkin masuk ke pelosok. Seorang teman memberitahu, bahwa ia pernah ke sana, tapi pernyataannya membingungkan.

            “Bukan Pondok Pesantren “Roudhoh”, tapi “Kapal Ijo”,” koreksinya kemudian pada perjumpaan berikutnya.

            “Makanya, apa aku bilang,” kata saya merasa lega.

Saya mulai menanggapi sebab penyataannya menuju pencerahan. Ada bangunan kapal, lambungnya berwarna hijau, sebagai tanda Pondok Pesantren Doaqu, kepanjangan dari Doa Ahlul Qur’an, begitu nama pondok pesantren tempat Ustaz itu sebagai pembina. Bagunan kapal itu terletak di depan pondok, begitu gambar yang saya lihat saat browsing. Mungkin agar orang-orang mudah mencarinya, terlebih bagi yang belum pernah berkunjung ke sana.

Sekitar satu jam waktu saya butuhkan dari menunggu bus Transsemarang jurusan Gunung Pati, hingga perjalanan sampai di tempat tujuan. Seorang penumpang lelaki, kebetulan wali santri pondok tersebut, dan kondektur bus, menyebutnya Pondok Pesantren “Kapal Ijo” atau “Kapal Hijau”. Letaknya di pinggir jalan Sadeng, Gunung Pati, Semarang. Dari arah Simpang Lima, turun di Sadeng, lalu menyeberang.

Ketertarikan saya lantaran sosok Ustaz Riyadh Ahmad Riyadin, AH. Kehadiran saya di pondoknya sebagai apresiasi atas ceramah-ceramahnya yang simpel tapi mengena. Jamaah awam mudah mengerti uraian-uraian setiap ceramahnya, sekaligus mendapat solusi sederhana. Sebab kalau untuk mendengarkan ceramahnya, saya bisa menghadiri setiap Rabu pagi, sehabis salat Subuh di MAS (Masjid Agung Semarang).

Pondok Pesantren Doaqu memberi dua pembelajaran: Madarasah pesantren dengan 2 jurusan: tahfiz atau hafalan dan kitab, dan sekolah kontekstual: menanam, konten, dan menggembala kambing. Sekolah kontekstual mengacu pada perkembangan zaman. Para santri kelak diharapkan mandiri dengan hasil produksi yang mereka tanam, mampu menghadapi era digital, saatnya sosmed kerja untuk pahala dan masa depan, dan mendapat pengalaman leadership dari menggembala kambing. Semua itu sesuai visi dan misi pondok: mencetak generasi Qurani yang alim, berakhlaq mulia, serta siap menghadapi perkembangan zaman. Jumlah santri lelaki 20 orang; jumlah santri wanita 7 orang.

Tentang menggembala kambing Ustaz Riyadh memberi catatan rinci, bahwa tidak ada Nabi dan Rasul pada masa mudanya tidak menggembala kambing. Pasti ada rahasia positif di baliknya. Dan pembelajaran pada Nabi dan Rasul, pastilah tidak ada yang salah, setidaknya melatih leadership. Mengingat anak-anak muda sekarang pandai namun rapuh, mencari penyelesaian secara instan.

Para santri sebagai penerima tamu menyambut kedatangan setiap tamu. Hidangannya melimpah, snak dan nasi dari katering mahal, untuk ukuran tamu biasa dan pondok pesantren berada di pinggir kota. Untuk tamu khusus panitia menyediakan prasmanan. Ada beberapa tempat wudu wanita sehingga para santri wanita dan para tamu wanita tidak mengantre. Pondok pesantren sedang giat membangun. Tanah kosong masih luas.

Setelah puas mengenal dalam Pondok Pesantren Doaqu, menjelang Asar saya pulang. Saya bersama teman harus berjibaku menunggu bus Transsemarang. Letak halte di jalan menanjak, tidak setiap bus bersedia berhenti. Tangan calon penumpang harus melambai sejak dari jauh, memberi isyarat kepada sopir, untuk mengambil ancang-ancang berhenti.

                                                                           @@@


Tidak ada komentar:

Posting Komentar