Iis Soekandar

Sabtu, 21 Januari 2017

Si Dia





       Bau pedas dan lezat menusuk-nusuk. Bahkan hangatnya serasa sampai di hidung. Patut mendapatkan pujian karena memang bukan makanan sehari-hari.  Memasaknya pun butuh ekstra waktu lama.
       Sengaja disiapkannya awal. Setengah delapan makanan sudah tersaji di meja makan sebagai alasan utama ia dapat lebih lama bercengkerama dengan orang yang sampai saat ini masih selalu menjadi pusat perhatiannya. Hari ini adalah satu-satunya hari dalam seminggu yang mereka miliki berduaan lebih lama sebelum berangkat bekerja. Hari lain entah suaminya yang lebih dulu pergi atau sebaliknya. Bukan berarti hari libur mereka disibukkan dengan pekerjaan lembur, namun terbiasa bangun siang sehingga bermalas-malasan untuk melakukan kegiatan sehari-hari, termasuk memasak.
       “Rendang ? Benarkah kamu yang memasak sendiri ?” puji suaminya seolah tak percaya. Mana ada restoran yang buka sepagi ini. Ia pun menanggapi dengan senyum-senyum bangga. Pujian yang dinanti.
       “Iya dong, hari spesial, masakan pesial,” tanggapnya tak kalah menggoda.
       Tanpa menunggu waktu lama mereka berdua melahapi masakan kesukaan yang pada hari-hari lain hanya bisa dinikmati melalui restoran yang khusus menjualnya. Nabila sesekali melirik, tangannya terus melahapi, tak melewatkan sedetik pun berhenti. Begitu yang suaminya suka jika menikmati makanan tanpa kuah. Terasa punya kenikmatan tersendiri. Rebusan daun singkong yang dimatangkan begitu saja sebagai lalap bersama mentimun segar menjadi kesempurnaan tiada tara.
       Selesai makan termasuk membersihkan tangan dari air wijikan, lalu mengeringkannya dengan serbet, suaminya segera beranjak. Musnah kesempatan bercengkerama lebih lama, bahkan sekejap belum ternikmati. Nabila tak urung memrotes.
       “Yang, bukankah jam sembilan lebih lima belas menit nanti kamu baru mengajar? Sekarang masih jam setengah delapan lebih,” Nabila tak mengerti.
       “Aku... ah ada administrasi yang harus aku selesaikan. Belum lagi mengoreksi pekerjaan anak-anak.” alasannya terdengar dibuat-buat bagi telinga Nabila.
      “Biasanya kamu menyelesaikan pekerjaan sekolah di sela-sela jam kosong mengajar? Sekarang waktu kita di rumah,” tandasnya dengan suara agak meninggi, kecurigaan mulai tercium.
       Sekali lagi hanya berpamitan, tanpa menghiraukan perasaannya ia berlalu. Kecupan pipi kiri-kanan dikiranya sanggup mengganti kesempatan berdua. Dadanya terasa ditusuk-tusuk. Perih, pedih, menindih. Air matanya mengaliri dua pipinya yang tertutup oleh bedak dan blush on. Hal yang tak biasa dilakukan dan kali itu untuk suaminya semata. Nada sesenggukan nyaris tak terdengar seiring sepeda motor yang sengaja memekakkan telinga demi cepat sampai di tempat tujuan.
       Nabila tahu persis kemana suaminya pergi. Ini kejadian untuk kesekian kali. Kalau saja ruangan itu bisa berbicara, ia akan bercerita banyak.Teramsuk memberinya nasihat agar ia tak meninggalkan kewajibannya bersama istrinya yang butuh perhatian. Lab bahasa sebagai sarana mengajar sekaligus kedok demi menutup keberduaan. Bahkan Nabila yakin tidak hanya pada jam-jam kosong.  Sebagaimana jika ia sedang sibuk menyelesaikan kisah dalam bacaan novel kegemarannya. Ia akan lakukan kapan pun walau di tempat kerja, setiap ada kesempatan. Sepanjang tidak ketahuan atasan. Bahkan teman sejawat bisa dibisiki supaya pelanggaran itu tidak menimbulkan masalah. Bukankah mereka juga mencuri-curi kesempatan jika sedang ada urusan pribadi ?
       Terlebih membaca novel. Rasanya semakin seru mengikuti konflik demi konflik hingga memuncak. Sedih, senang, haru, bercampur menjadi satu. Terasa ikut berperan langsung dalam cerita itu. Saking terlibat begitu dalam seringkali ingin menciptakan ending sendiri setiap penyelesaian cerita tidak seperti yang dikehendaki.
       Kini suaminya sedang melakukan hal sama.Tak mungkin berhenti sebelum hasrat yang dicapai tuntas. Suaminya begitu larut bersama si Dia. Tak peduli lamunannya sampai ke rumah. Nabila tak dianggap. Sakit di dada. Berangkat kerja lebih awal, pulang pun sore hari, bahkan terkadang senja. Tak tenang keberadaannya di rumah. Makan, minum, bahkan di tempat tidur tak nyaman. Padahal sudah seharian ia meninggalkan rumah. Tak dihiraukan tubuh Nabila, walau dengan busana menggairahkan sekalipun. Bahkan kegiatan di tempat tidur pun senantiasa hanya melampiaskan kebutuhannya. Selesai itu ia tertidur pulas. Apa daya Nabila selain melayani kemudian menerima keadaan.
       Atau sibuk melamun, meski Nabila terbaring di sampingnya. Tidur tak tenang. Miring ke kanan miring ke kiri. Kalau sudah begitu punggung bertemu punggung lebih sering terjadi. Kehadiran Nabila tak dianggap. Dan hal itu akan berlangsung sampai ia berhenti dengan teman kencannya.
       Kejadian itu berulang dan terus berulang. Terakhir hingga kira-kira enam bulan dia dibiarkan. Perjanjian yang telah disepakati seperti menghadiri resepsi undangan teman mendadak dibatalkan. Sekalipun datang sekadar datang. Semata-mata hanya ingin memenuhi undangan, membahagiakan yang mengundang. Tidak berbincang dengan teman-teman lama sembari menikmati hidangan yang  lain dari masakan sehari-hari. Padahal bagi Nabila itulah seninya menghadiri suatu undangan.
       Bahkan kematian omnya ia bermaksud hanya datang pada hari penguburannya saja. Ia berencana tidak ingin menghadiri hajatan. Terang saja Nabila marah-marah. Apa kata saudara-saudaranya, menjadi istri tidak bisa memberitahu. Kalau orang lain, dalam hal ini para tetangga dan kenalannya, menghadiri hajatan hingga tujuh malam semenjak hari kematiannya, masa keponakan sendiri malah menghindar. Bukankah ia juga lelaki, sebagaimana tamu-tamu yang hadir ? Akan disembunyikan kemana harga dirinya. Lebaran bakal menjadi trending topic saat berkumpul bersama keluarga besarnya. Maka ia pun harus semakin mempertebal telinganya. Karena sampai sekarang menjadi kekurangannya selama ini belum terpenuhi, malah membiarkan suaminya tidak menghadiri hajatan dan justru berduaan dengan si Dia.
       Tapi langsung menyalahkan suaminya yang mulai kembali kepada si Dia, ia tak mampu. Ada rasa bersalah martabatnya sebagai seorang istri yang tak mampu memenuhi kewajibannya memberikan buah hati. Barangkali faktor waktu yang belum berpihak. Sudah dicobanya ke dokter, namun untuk kesekian kali dokter mengatakan semua baik-baik saja. Nabila dan suaminya sama-sama sehat dan siap menerima karunia itu. Bahkan berikhtiar pada beberapa orang pintar dilakukan, lagi-lagi belum membuahkan hasil. Semua memberi jawaban sama, sabar.
       Yah karena hidup ini sesungguhnya tidak hanya bergantung pada yang terlihat mata. Manusia berkewajiban ikhtiar dan berdoa. Selebihnya yang tak nampak namun sangat memegang kunci hidup ini, apa lagi kalau bukan mengharap karunia dari Yang Maha Memberi Hidup. Manusia boleh berencana tetapi ketetapan ada pada-Nya.
       Namun keadaan seringkali tidak berpihak. Nabila yakin jikalau keadaan sebagaimana yang diharap, barangkali suaminya tidak berpaling. Kehadiran seorang momongan tidak hanya memberikan kesibukan yang menyenangkan tetapi juga hiburan tersendiri. Apalagi bagi keluarga suaminya yang begitu berfilosofi bibit, bebet, dan bobot. Kuwalitas sesorang sangat ditentukan, termasuk dapat memberikan keturunan. Keberadaannya yang hingga kini belum bisa memberikan kesempurnaan sungguh memberinya peluang untuk terus menjadi gunjingan.
       Suaminya juga pasti tidak banyak keluar rumah. Termasuk tidak pergi kerja awal dan pulang larut karena selalu ingin berdekatan dengan si kecil. Atau alasan keadaan. Karena tidak ada yang ngemong maka ia dengan suka rela mengasuh, meski tidak biasa bagi seorang lelaki mengurus anak. Namun demi keadaan apapun dilakukan.
       Suaminya nyata-nyata tidak menuntut. Si Dia lebih dulu merebut hatinya. Terbukti jika hasratnya sedang kambuh sangat mengganggu, siang, sore, malam, bahkan hingga malam di tempat tidur terus-menerus memikirkannya.
       “Kita harus bersabar, segala sesuatu ada waktunya. Gusti Alloh itu tidak sare.” Jelasnya, sare dalam bahasa Jawa artinya tidur.“Beliau sedang menguji hamba-Nya, bersabar dan kuat, atau tidak. Siapa tahu hikmahnya aku harus diangkat dulu menjadi pegawai negeri. Ekonomi kita bertambah kuat.” Terlintas kata-kata suaminya yang manis. Kalau sudah begitu ia hanya diam bersyukur bahwa suaminya tidak mempermasalahkan kekurangannya.
       “Aku tidak menuntut kita segera punya anak. Biar Gusti Alloh yang mengatur. Apalagi kamu tidak melulu di rumah. Kamu punya pekerjaan. Jadi kurasa, tidak ada yang kesepian.”
       Tidak ada yang kesepian? Ingin sekali Nabila memrotes setiap kali kalimat itu terekam kembali, namun lagi-lagi hanya terhenti dalam benak. Kalau tidak ada yang kesepian dan semua baik-baik saja tanpa ada masalah berarti, mengapa sering pergi dari rumah. Maka tak perlu menjadikan si Dia sebagai pelarian. Dan tetap menghargai perasaannya.
       Mungkin Nabila bisa menjadikan keadaan ini sama-sama menguntungkan. Suaminya yang tanpa tuntutan memanfaatkan kekurangannya dengan lebih banyak memberikan perhatian kepada si Dia. Maka Nabila tak perlu merasa bersalah dan berdosa dengan kekurangannya. Bukankah suaminya juga memiliki kekurangan? Kekurangan yang tak bisa menahan hawa nafsu sehingga harus mencari pelarian kepada yang lain.
       Tapi sayang Nabila bukan seorang istri yang bisa mendiamkan kebatilan dengan berdalih fifti-fifti. Atau membiarkan dirinya tenggelam dalam kekurangan dan menebalkan telinganya setiap kali keluarga besarnya kumpul di hari Lebaran. Baginya seorang wanita harus melahirkan anak, entah dengan cara bagaimanapun. Begitupun seorang suami hanya boleh memberikan perhatian kepada istrinya seratus persen.
@@@
       Suatu saat Nabila melihat suaminya pulang senyum-senyum. Matanya menyirat perhatian. Padahal ia sudah tidak memedulikan. Tumben pulang sebagaimana selesai jam mengajar. Padahal ia baru akan membeli lauk nanti sore saatnya dia biasa pulang. Tidakkah pikirannya sedang tenggelam bersama si Dia? Sebungkus makanan dalam kantong plastik bening tampak dipamerkan. Ah, Nabila memang sudah lama tidak memasaknya. Jujur dalam hati ia juga ingin menikmatinya, apalagi kalau bukan rendang. Tadi pagi ia tidak masak. Seringkali tidak ada niatan  memasak semenjak suaminya tergila-gila dengan si Dia. Untuk apa susah-susah memasak kalau sekadar mengisi perut tanpa menikmatinya.
       “Aku membawa makanan kesukaan kita. Sudah lama kamu tidak memasaknya,” katanya setelah meletakkan bungkusan di meja makan, tanpa berpikir panjang menuju ke dapur.
        “Jadi kamu masih mengharap masakanku?” tantangnya manyun. Sengaja membiarkan suaminya kerepotan dari dapur mengatur peralatan makan di meja makan.
       “Jelas dong, Sayang, masakan istri gimana tidak ngangenin,” katanya sudah lama ia tidak mendengar rayuannya. “Kamu tahu tidak, hari ini aku sedang bahagia, dan aku ingin membaginya hanya denganmu. Aku tidak izinkan kamu hari ini susah memasak. Sampai nanti malam aku yang traktir kita makan.”
       Nabila mengangkat bahu, sengaja membuatnya penasaran. Ingin rasanya membalas ketidakpeduliannya selama waktu belakangan. Namun ia juga tidak bisa menampik, hatinya berbunga melihat suaminya kembali seperti dulu. Ia terus berbicara sembari menikmati nasi-rendang.
      “Novelku yang kukerjakan selama tiga bulan terakhir tanpa menemui kendala langsung diterima penerbit. Dan bakal dicetak. Aku baru saja ditelepon pagi tadi. Keberhasilan ini kupersembahkan buat kamu, istriku yang dengan rela sering kutinggalkan. Aku minta maaf, Sayang.  Semua royalti nanti bisa kamu nikmati.”
       “Jadi mulai hari ini aku sudah bisa menikmati waktu berdua lagi bersamamu,” ungkap Nabila dongkol campur senang.
       Apa mesti dikata ia sudah menceraikan hobi menulisnya. Walau Nabila tahu itu untuk sementara. Dan pada saatnya nanti ia akan banyak ditinggalkan ketika ide cerita kembali muncul dan ia berhasrat menulis lagi.
@@@SELESAI@@@
                                                                                            
Cerpen ini pernah dimuat di tabloid NOVA edisi 1414/XXVIII/30 Maret-5 April 2015


Minggu, 15 Januari 2017

Fabel

Kancil Yang Cerdik
Diceritakan kembali oleh: Iis Soekandar

                                                     Ilustrasi: Ochim dan Bisrie


      Di bawah pohon yang rindang terlihat seekor binatang tertidur lelap. Binatang itu bernama kancil. Saat itu angin semilir sepoi-sepoi. Kancil tidur semakin nyenyak. Tiba-tiba ia dibangunkan oleh seekor monyet.
       “Kancil ... kancil ... “ panggil si Monyet sambil menyentuh punggungnya.
       Kancil setengah sadar dan tidak menghiraukan. Ia berpikir monyet akan menawarinya pisang. Padahal saat itu kancil sudah kenyang. Ia hanya membutuhkan tidur dengan tenang.
       “Kancil, kamu enak-enak tidur, ada kebakaran. Desa ini akan terbakar,” jelas monyet lalu pergi.
 “Apa? Kebakaran? Hah, desa ini akan terbakar?” tanya kancil gelagapan langsung terbangun.
       Kancil mencari-cari monyet, tapi monyet sudah menggelantung dari pohon ke pohon untuk menyelamatkan diri. Kancil segera berlari. Ternyata benar. Semua binatang berlari sekuat tenaga. Anjing, rusa, celeng, dan binatang-binatang lain berlari ketakutan.
       Kancil terus berlari hingga tidak melihat lagi teman-temannya. Ia kelelahan lalu beristirahat. Tentu saja perutnya lapar karena ia telah berlari jauh dan kencang. Jalannya perlahan. Kancil melihat sekeliling.  Ternyata ia menemukan ladang sayur.
       “Aha, ini kan timun,” kata kancil.
       Ia menoleh ke kanan, kiri, depan, dan belakang.
      “Syukurlah, tidak ada Pak Tani. Jadi aku bisa makan timun dengan lahap. Asyiiiiik....”
       Kancil makan mentimun hingga kenyang. Setelah itu ia pergi.
       Keesokan hari Pak Tani datang menengok ladangnya.
    “Lho, mengapa timunku tinggal sedikit? Tanamanku jadi acak-acakan. Siapa yang telah menghabiskan timunku?”
       Pak Tani ingin marah. Tapi kepada siapa? Akhirnya sore hari Pak Tani pulang ke rumah.
       Tidak lama kancil datang. Ia sengaja datang pada saat sepi. 
       Keesokan hari Pak Tani ke ladang, Mentimunnya hilang kembali. Kejadian mentimun hilang terjadi berkali-kali.
     Pak Tani jengkel lalu membuat jebakan. Pak Tani membuat kerangka orang-orangan dari ranting dan bambu. Setelah itu Pak Tani memberinya pakaian. Kepala orang-orangan itu pun diberi caping.
       Sore hari saat datang, kancil kaget. Ah, ternyata Pak Tani masih di ladang. Aku akan tunggu hingga Pak Tani pergi. Ini sudah sore. Paling sebentar lagi Pak Tani pulang. Kancil berkata dalam hati. 
      Setelah ditunggu ternyata Pak Tani tidak pulang. Sementara perut kancil terus keroncongan. Kemudian kancil datang dan meminta maaf.
       “Pak Tani, aku minta maaf. Selama ini yang mengambil timun aku. Aku boleh ya ambil lagi? Lho Pak Tani... kakiku... kakiku.... “ 
     Kancil tidak tahu tangan orang-orangan diberi pulut, yaitu semacam lem. Maka kaki kanan kancil pada bagian depan lengket dengan tangan orang-orangan.
       “O... jadi selama ini yang mencuri timunku kancil! Kamu akan kujadikan sate nanti malam,” kata Pak Tani setelah keluar dari tempat persembunyiannya.
      Kemudian Pak Tani membawa kancil ke rumah. Kancil hanya bisa menangis. Sampai di rumah ia dimasukkan dalam kurungan. Sementara Pak Tani istirahat. 
       Tidak lama anjing Pak Tani mendekat.
       “Mengapa kamu di sini?” tanya anjing.
       “Aku akan diajak pesta Pak Tani,” jawab kancil.
       “Tidak mungkin. Aku yang sudah lama di sini tidak pernah diajak pesta.”
     “Benar, kalau nggak, ngapain aku ada di sini. Tapi aku capek, tidak mungkin datang ke pesta. Habis perjalanan dari ladang ke rumah Pak Tani jauh. Kamu gantikan aku aja ya?”
       Kancil terus merayu. 
       “Kamu kan yang diajak ke pesta. Kok malah aku yang menggantikan.”
       “Tenang. Makanya kamu buka dulu kurungan ini. Ganti kamu yang masuk. Terus aku bilang dulu Pak Tani.”
       “Oke.” jawab anjing senang. Akhirnya anjing terkena bujuk rayu kancil. 
     Anjing membuka kurungan itu. Kancil pun keluar. Anjing menggantikan kancil dan berada di dalam kurungan. Kancil kemudian pergi.
       Anjing terus menunggu. Tapi kancil tidak pernah kembali. 
      Dari kejadian itu kancil menyadari kesalahannya. Ia tidak boleh mengambil milik orang lain.
@@@

Minggu, 08 Januari 2017

Dapur Saya

Lunpia Isi Bengkuang


     Lunpia adalah makanan khas Semarang, selain wingko babat. Sebagian orang tidak suka lunpia karena isinya. Isi lunpia rebung. Bau rebung inilah yang tidak disukai. Orang Jawa mengatakan, bau pesing.
      Dengan memanfaatkan kearifan lokal lain, rebung bisa diganti dengan buah bengkuang. Buah bengkuang beraroma manis dan termasuk buah sepanjang musim. Jadi sehari-hari mudah didapat di pasar-pasar tradisional. Harganya lebih murah dibanding rebung. Begitupun cara memasaknya jauh lebih mudah. Buah bengkuang hanya dicuci satu kali tetapi rebung harus berkali-kali untuk mengùrangi bau tidak sedap.
     Inilah resep sederhana membuat lunpia isi bengkuang.                                                           
Bahan dan bumbu:
1. buah bengkuang 4 ons
2. bawang putih 3 siung
3. lada 1/2 sendok teh
4. gula pasir 1 sendok makan peres
5. garam secukupnya.
6. kecap manis secukupnya
7. penyedap secukupnya
6. Minyak goreng untuk menggoreng
8. kulit lunpia (lebih efektif membeli)
Cara membuat:
1. Potong bengkuang sebesar batang korek api.
2. Haluskan semua bumbu kemudian tumis.
3. Setelah  bumbu berbau harum, masukkan bengkuang aduk hingga layu lalu masukkan kecap.
4. Angkat dari penggorengan kemudian isikan adonan ini ke dalam setiap lembar kulit.
5. Bentuklah memanjang.
5. Setelah semua adonan habis, goreng dalam minyak banyak.
6. Tunggu hingga kecoklatan. Lunpia siap disajikan.
Resep ini untuk sepuluh porsi. Selamat mencoba dan menikmati !
@@@

Senin, 02 Januari 2017

Resensi

Belajar Akhlak Mulia dari Teman


Judul buku                  : Teman Baru Jung Yun
Penulis                        : Ungu Lianza
Penyunting bahasa      : Ayu Wulan
Ilustrator                     : Naafi Nur Rohma
Penerbit                      : Lintang (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Ketebalan                   : 136 halaman
Ukuran                       : 20 cm
ISBN                          : 978-602-6334-06-0
Cetakan I                    :  Oktober 2016
Harga                          : Rp 25.000,00
       Novel ini berlatar belakang negeri Korea. Jung Yun seorang anak lelaki berkewarganegaraan Korea. Suatu hari ia mendapatkan teman baru di sekolah. Namanya Zaim. Zaim berasal dari Indonesia. Orangtua Zaim kebetulan sedang bertugas di Korea. Ia dan keluarganya ikut serta. Gayuh bersambut, ternyata ayah Jung Yun sudah akrab dengan Zaim. Karena dulu saat ayah Jung Yun bertugas di Indonesia, Zaim dan keluarganya banyak menolong.

     Awalnya Zaim tidak disukai teman-temannya. Menurut mereka sikap Zaim aneh, diantaranya suka menolak ketika ditawari makanan. Sampai suatu saat ketika lomba sience, Zaim memberikan masukan. Dan masukannya itu sangat berarti hingga akhirnya kelas mereka menjadi juara. Apa masukan yang berarti hingga kelasnya menjadi juara? Tentunya hanya bisa dibaca lewat novel berjudul “Teman Baru Jung Yun”.
       Hal positip dari novel ini melihat indahnya persahabatan. Jung Yun mengenal akhlak mulia dari Zaim. Zaim yang ramah, suka senyum. Bahkan ketika ia dibenci teman-temannya karena salah sangka, Zaim tidak marah. Perbedaan agama yang membuat mereka salah sangka. Seperti ketika Zaim menolak ditawari makanan. Ia dianggap sombong, padahal Zaim sedang berpuasa Senin-Kamis. Dari sinilah anak-anak bisa belajar tentang ajakan puasa sunnah Senin-Kamis. Tidak hanya puasa sunnah, Zaim juga mengajak salat Dhuha. Sebab salat Dhuha banyak memberikan kebaikan.
       Novel ini bermanfaat dibaca bagi anak-anak SD. Disamping mengajarkan sariat agama, juga pentingnya memilih sahabat yang berakhlak mulia. Sebab dengan memiliki sahabat berakhlak mulia, secara langsung atau tidak, mereka juga belajar memiliki akhlak mulia pula. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami oleh anak-anak. Beberapa halaman bergambar membuat anak-anak tertarik membaca. Selayaknya novel ini menambah koleksi perpustakaan pribadi.
@@@

Minggu, 25 Desember 2016

Dongeng

Meme dan Sisi

Oleh: Iis Soekandar



Meme meja guru dan Sisi kursi guru selalu bahagia bila pagi tiba. Tidak lama lagi Pak Tresno, pembantu sekolah, akan membersihkan mereka. Sedangkan siang hari sepulang sekolah Pak Tresno menyapu lantai.
       Kreeeek... Pintu kelas terbuka.
       “Asyiiiiik... Pak Tresno datang!” kata Meme girang.
       “Kita akan dibersihkan,” Sisi menambahkan.
       Vas bunga di atas taplak diambil. Begitu pun taplak yang menempel Meme. Kemudian Meme dilap dengan kemoceng. Sesaat ketika dilihat ada yang terkena lem, beliau mengambil sedikit air. Bagian Meme yang terkena lem dihilangkan hingga licin kembali.
       “Lihatlah, aku kinclong kembali!” ungkap Meme penuh rasa bangga kepada meja-meja siswa. Meja-meja siswa menaruh rasa iri. Apalagi pagi itu Pak Tresno mengganti taplak lama dengan yang baru.
       “Ah ya Meme ini kan hari Senin. Pantas saja Pak Tresno mengganti taplakmu. Dan wajahmu semakin cantik dengan vas dan bunga mawar warna pink,” puji Sisi.
       Meme bertambah senyum-senyum bangga memamerkan dirinya kepada meja-meja siswa.
       “Saatnya aku dibersihkan,” ganti Sisi yang bangga.
       Kursi-kursi siswa menaruh rasa iri.
       Sisi dibersihkan pada bagian duduk dan sandaran. Sebelum Pak Tresno pergi diperiksanya sekali lagi Meme dan Sisi. Setelah Meme dan Sisi tampak bersih dan rapi, beliau memperhatikan meja-meja dan kursi-kursi siswa. 
       Meme dan Sisi melihat Pak Tresno berdiri di depan kelas. Beliau tidak jadi membersihkan meja-meja dan kursi-kursi siswa. Sesaat kemudian beliau keluar lagi.
       “Kasihan semua meja dan kursi siswa, Me,” ungkap Sisi mengejek.
        Meme dan Sisi melihat semua meja dan kursi siswa iri. Tempat duduk mereka tidak diberi bantalan begitu pun sandarannya. Meja-mejanya pun tidak diberi taplak dan vas bunga.
@@@
       Suatu pagi seperti biasa, Meme dan Sisi bahagia melihat kedatangan Pak Tresno. Tapi kali ini beliau tidak hanya membawa lap dan kemoceng. Di tangan kanannya ada sesuatu. Oh ternyata Pak Tresno membawa jam dinding baru. Jam dinding yang terpasang di dinding di atas papan tulis rusak. Jarumnya tidak dapat bergerak lagi.
      Vas bunga dan taplak yang menempel Meme dilepas Pak Tresno. Meme girang, pasti tidak lama lagi beliau akan membersihkannya. Tapi tiba-tiba...
       Kreeeeek....
       Meme didorong Pak Tresno, begitu pun Sisi. Mereka ditempatkan tepat di bawah jam dinding yang rusak. 
       “Aduh...!” kata Sisi. Tempat dudukan Sisi diinjak Pak Tresno.
       “Aduuuuh, gimana sih Pak Tresno! Mengapa aku diinjak-injak?” protes Meme.
       “Ha ha ha... “ semua meja dan kursi siswa tertawa. Kini mereka bersenang-senang karena tidak diinjak kaki Pak Tresno.
       Uh mentang-mentang kita letaknya paling depan.Kita dijadikan pijakan, gerutu Meme dan Sisi.
       Ternyata dalam hidup ini tidak selalu beruntung. Ada kalanya merasakan tidak enak. Semenjak itu barulah Meme dan Sisi menyadari bahwa mereka tidak boleh sombong.
@@@



      
      
       

Minggu, 18 Desember 2016

Jalan-jalan

Mengenal Lebih Dalam Kota Lama Semarang

       Belanda menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Banyak pengaruh dan peninggalan yang tersisa di Indonesia. Diantaranya peninggalan bangunan bergaya Eropa. Tidak heran bila kota lama tidak hanya terdapat di satu tempat seperti Jakarta, Semarang pun memiliki Kota Lama. Kawasan Kota Lama di Semarang terletak di seputar Jalan Letjen Suprapto. Dan mungkin ada lagi kota lama di kota-kota lain sebagai peninggalan Belanda.
       Berkunjung ke Kota Lama Semarang, tidak bisa lepas dari Gereja Blenduk. Gereja yang memiliki nama asli Gereja Immanuel ini menjadi ikon Kota Lama Semarang. Sehingga Gereja Blenduk tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tapi juga banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun asing. Setiap hari banyak wisatawan yang datang, sekadar ingin melihat dan berfoto. Bentuknya yang khas, mblenduk dengan genting berwarna merah bata, membuat gereja ini lebih dikenal dengan Gereja Blenduk dibanding Gereja Immanuel.   Gereja Blenduk dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1763 dan mengalami perbaikan pada tahun 1894. Hingga kini Gereja Blenduk masih berdiri megah.


       Sayang tidak semua bangunan peninggalan Belanda dilestarikan. Sebagian dibiarkan rusak bahkan ada yang musnah karena tidak terawat. Berikut ini beberapa bangunan lain, selain Gereja Blenduk,  yang masih tersisa dan berfungsi dengan baik.
        Gedung Jiwasraya ini letaknya berseberangan dengan Gereja Blenduk. Gedung berlantai tiga lantai  didirikan oleh perusahaan pelaksana bangunan gedung zaman Belanda bernama Hollandsche Beton Maatschappij (HBM).


       Berderet dengan Gedung Jiwasraya adalah kantor pengadilan. Tapi gedung ini sekarang menjadi restoran ikan bakar.


       Masih terletatak di Jalan Letjen Suprapto berdiri megah gedung berlabel Spiegel. Gedung ini adalah toko H Spiegel yang menjual berbagai macam barang milik perusahaan Winkle Maaatschappij. Barang yang dijual kain, peralatan rumah tangga, dan keperluan olahraga. Dibangun pada tahun 1895 oleh Tuan Addler. Awalnya Tuan H Spiegel menjadi manager, kemudian menjadi pemiliknya. Gedung ini sekarang menjadi sebuah kafe.


       Bangunan lain adalah Gedung Neherlands Handel Mascaapi. Gedung ini terletak di Jalan Mpu Tantutar,  bersebelahan dengan Jalan Letjen Suprapto. Sekarang gedung ini ditempati salah satu kantor bank nasional.


       Berbeda dari gedung-gedung lain yang telah beralih fungsi, kantor pos pada zaman Belanda masih berfusngsi hingga sekarang. Bahkan menjadi Kantor Pos Besar di Kota Semarang. Bedanya dulu kantor pos menyatu dengan kantor telegraf. Tapi kemudian hanya berfungsi sebagai kantor pos. Kantor pos yang dibangun pada tahun 1906 terletak di Jalan Pemuda, tidak jauh dari Jalan Mpu Tantular. Kota Semarang termasuk tiga kota pertama di Indonesia yang memelopori jasa pos, disamping Jakarta dan Surabaya. Pada tahun 1979 pernah dilakukan pemugaran.


       Tentunya masih ada gedung-gedung lain yang tidak kalah menarik. Jadi jangan segan mampir ke kota lama jika Anda kebetulan berwisata ke Kota Semarang. Atau bahkan sengaja berkunjug ke Kota Lama Semarang, sebagaimana para turis lain. Selamat menikmati liburan!

                                                                            @@@

Selasa, 29 November 2016

Resensi


                       Cara Lain Mengenal Tempat-Tempat Terkenal Dunia

Judul Buku : Keliling Dunia dengan Becak Ajaib
Penulis: Fida Zalfa
Editor: Hariyadi
Penerbit            : Tiga Ananda
Ketebalan         : 95 halaman
Ukuran              : 21 cm
ISBN                 : 978-602-366-165-7
Cetakan 1         : Juni 2016
Harga         : Rp 25.000,00
       Cerita ini berawal dari Lisha yang menagih ibunya mengunjugi Taman Bermain Rainbow Peak. Taman Bermain Rainbow Peak dambaan setiap anak. Itu sebabnya ketika Lisha berhasil mendapat peringkat satu di kelasnya, ia ingin ibu memenuhi janjinya. Dan ibu pun menepatinya. 
       Ketika tiba di Taman Bermain Rainbow Peak, Lisha mendatangi Pedicap Fastival. Maka petualangan Lisha bersama teman baru yang dikenalnya di Padicap Festival, Kety dan Danella, pun dimulai. Mereka bertiga mengendarai becak. Tapi bukan becak pada umumnya. Sebab becak ini bisa menerbangkan mereka ke penjuru dunia. Dari Benua Asia, Benua Eropa, Benua Afrika, hingga Benua Amerika. Hanya Benua Australia yang tidak mereka kunjungi. Sebab mereka terlanjur letih setelah perjalanan keliling dunia. Akhirnya setelah dari Benua Amerika, mereka langsung pulang ke Indonesia. Becak yang mereka kendarai tiba kembali di Padicap Festival, Taman Bermain Rainbow Peak.
       Novel berjudul “Keliling Dunia dengan Becak Ajaib” sangat berguna bagi anak-anak. Tidak saja novel ini sebagai teman pengisi waktu, tapi juga memberitahukan tempat-tempat terkenal di dunia. Seperti sungai terpanjang di dunia, Sungai Nil, gurun terluas di dunia, Gurun Gobi, dan tempat-tempat terkenal dunia lain.
       Sisi lain novel ini mengajarkan kepada anak-anak pentingnya bebas polusi. Becak dipilih sebagai kendaraan untuk mengelilingi dunia. Karena becak adalah jenis kendaraan bebas polusi. Walaupun mereka hidup pada tahun 3001 yang semua peradaban canggih, bebas polusi untuk menjaga kesehatan tetap diperhatikan. Disamping itu, beberapa halaman bergambar membuat anak-anak semakin senang membaca.
       Hanya saja, bahasa yang digunakan sebagian dialog kurang santun untuk ukuran anak-anak. Bacaan secara langsung atau tidak juga sebagai pemodelan bagi mereka, termasuk pemakaian bahasa. Namun terlepas dari kekurangannya, novel ini layak dikoleksi, setidaknya sebagai penumbuh minat baca anak-anak.
@@@