Iis Soekandar: Februari 2026

Jumat, 13 Februari 2026

Es Campur

                                                                                           

Bagi masyarakat Kota Semarang, sekarang saatnya menikmati dugderan. Dugderan adalah tradisi masyarakat Kota Semarang menjelang bulan Ramadan. Tujuannya untuk memberitahukan akan datangnya puasa Ramadan. Dugderan diadakan seminggu sebelum bulan Ramadan. Di sana dijajakan aneka mainan, di antaranya dari gerabah seperti celengan dan perkakas makan dan minum, kapal-kapalan, disajikan permainan bianglala, kora-kora, komidi putar, dll, dan dijual aneka makanan dan minuman.

Dua hari lalu hujan mengguyur sejak Asar dan mereda jelang Isya. Saya pikir dugderan sepi pengunjung. Ternyata tak berbeda dari suasana tak terjadi hujan lama. Meski udara dingin menyelimuti, para penonton memenuhi kursi-kursi, menikmati suara musik dan penyanyi panggung, sambil makan dan minum. Pengunjung-pengunjung lain berjubel memenuhi jalan-jalan area dugderan.

Malam itu saya jalan-jalan sekalian ingin membeli es campur. Dari depan pintu gerbang Masjid Agung Semarang, sekitar alun-alun, samping Hotel Metro, hingga Jalan H. Agus Salim, tidak ada pedagang es campur. Ada banyak pedagang minuman, mayoritas minuman kekinian dengan bahan simpel, selebihnya minuman tradisional. Mungki pedagang minuman es campur enggan menjual di dugderan karena bahan-bahannya kompleks.

Menurut buku Main Rasa Bersama Sasa awal mula es campur dari Cina. Kemudian minuman ini popular di Indonesia. Es campur asal Cina dikenal baobing. Bahannya es serut, susu, sirup, dan buah-buahan.

Perburuan saya belum selesai dan saya lanjutkan keesokan hari. Saya teringat dekat Pasar Johar, sebelah alun-alun, ada penjual minuman. Kedai sepi. Pedagang memanggil-manggil, terus menawari hingga saya tak dapat menolak.

“Jual es campur, Bu?” tanya saya.

“Lho, saya sehari-hari kan juga jual es campur,” jawab pedagang bertubuh gemuk.

Saya duduk lega. Akhirnya saya mendapatkan yang saya mau. Saya duduk menunggu ia menuangkan satu per satu bahan di dalam mangkuk. Dari bahan-bahan yang dijajakan di wadah-wadah, saya tak melihat itu sebagai bahan-bahan es campur. Dawet, camcau, jeli dipotong dadu, saus gula merah, santan, dan es serut dalam termos.

Semangkuk es campur, menurut pedagang, tersaji di depan saya. Sungguh di luar angan saya menikmati semangkuk es campur dengan semarak ketan hitam, tape, sagu mutiara, buah, susu kental manis, santan, dipadu dengan es serut. Saya menerima semangkuk hidangan, laiknya terpidana menerima vonis hukuman.

Semangkuk es, dengan macam-macam bahan itu, saya nikmati, setidaknya sebagai pelepas dahaga. Sambil membayangkan, saat yang tepat, saya datang ke kedai penjual es campur sesungguhnya.

@@@