Bagi
masyarakat Kota Semarang, sekarang saatnya menikmati dugderan. Dugderan adalah
tradisi masyarakat Kota Semarang menjelang bulan Ramadan. Tujuannya untuk memberitahukan
akan datangnya puasa Ramadan. Dugderan diadakan seminggu sebelum bulan Ramadan.
Di sana dijajakan aneka mainan, di antaranya dari gerabah seperti celengan dan perkakas
makan dan minum, kapal-kapalan, disajikan permainan bianglala, kora-kora, komidi
putar, dll, dan dijual aneka makanan dan minuman.
Dua
hari lalu hujan mengguyur sejak Asar dan mereda jelang Isya. Saya pikir
dugderan sepi pengunjung. Ternyata tak berbeda dari suasana tak terjadi hujan
lama. Meski udara dingin menyelimuti, para penonton memenuhi kursi-kursi,
menikmati suara musik dan penyanyi panggung, sambil makan dan minum. Pengunjung-pengunjung
lain berjubel memenuhi jalan-jalan area dugderan.
Malam
itu saya jalan-jalan sekalian ingin membeli es campur. Dari depan pintu gerbang
Masjid Agung Semarang, sekitar alun-alun, samping Hotel Metro, hingga Jalan H. Agus
Salim, tidak ada pedagang es campur. Ada banyak pedagang minuman, mayoritas
minuman kekinian dengan bahan simpel, selebihnya minuman tradisional. Mungki pedagang
minuman es campur enggan menjual di dugderan karena bahan-bahannya kompleks.
Menurut
buku Main Rasa Bersama Sasa awal mula es campur dari Cina. Kemudian minuman ini
popular di Indonesia. Es campur asal Cina dikenal baobing. Bahannya es serut,
susu, sirup, dan buah-buahan.
Perburuan
saya belum selesai dan saya lanjutkan keesokan hari. Saya teringat dekat Pasar Johar,
sebelah alun-alun, ada penjual minuman. Kedai sepi. Pedagang memanggil-manggil,
terus menawari hingga saya tak dapat menolak.
“Jual
es campur, Bu?” tanya saya.
“Lho,
saya sehari-hari kan juga jual es campur,” jawab pedagang bertubuh gemuk.
Saya
duduk lega. Akhirnya saya mendapatkan yang saya mau. Saya duduk menunggu ia
menuangkan satu per satu bahan di dalam mangkuk. Dari bahan-bahan yang
dijajakan di wadah-wadah, saya tak melihat itu sebagai bahan-bahan es campur. Dawet,
camcau, jeli dipotong dadu, saus gula merah, santan, dan es serut dalam termos.
Semangkuk
es campur, menurut pedagang, tersaji di depan saya. Sungguh di luar angan saya
menikmati semangkuk es campur dengan semarak ketan hitam, tape, sagu mutiara,
buah, susu kental manis, santan, dipadu dengan es serut. Saya menerima
semangkuk hidangan, laiknya terpidana menerima vonis hukuman.
Semangkuk
es, dengan macam-macam bahan itu, saya nikmati, setidaknya sebagai pelepas dahaga.
Sambil membayangkan, saat yang tepat, saya datang ke kedai penjual es campur
sesungguhnya.
@@@

Tidak ada komentar:
Posting Komentar