Iis Soekandar

Minggu, 02 Oktober 2016

Cepen Anak


Makanan Tradisional
Oleh: Iis Soekandar



       Waktu menunjuk pukul tujuh kurang seperempat. Ruri bergegas turun dari mobil. Kedatangannya selalu mengundang perhatian. Ruri yang selalu diantar dan dijemput dengan mobil. Sementara yang lain pada umumnya naik sepeda. Wajarlah karena kebanyakan bertempat tinggal seputar sekolah. Kalau pun ada yang rumahnya jauh diantar pakai kendaraan roda dua.
       Ruri paling besar di antara teman-teman sekelasnya. Tubuh Ruri tinggi dan gemuk. Belum lagi bawannya. Tidak hanya tas di punggung, bahu kirinya mencangklong tas tali panjang berisi makanan.
       Pagi itu jam pertama dan kedua ulangan pelajaran bahasa Indonesia. Satu jam berikutnya Bu Netty menerangkan bab baru tentang bilangan pecahan. Bu Netty sebagai wali kelas melihat anak didiknya jenuh. Tidak heran begitu terdengar bel istirahat, mereka buru-buru ke luar. Ke mana lagi kalau bukan ke kantin.
       “Ayo, Rur, kita ke kantin!” ajak Sabrina, teman sebangkunya.
       “Aku bawa pizza. Tadi pagi Mama sengaja bikinin aku buat bekal ke sekolah,” jawab Ruri sambil mengeluarkan kotak plastik tempat makanan. Tidak lupa ia juga mengambil minuman jus dari kantung samping tas punggungnya.
       Sabrina lalu keluar menuju kantin bersama teman-teman lain. Begitulah Ruri, ia jarang ke kantin, kecuali sekali waktu, makan batagor atau siomay.
       Tidak lama teman-temannya kembali ke kelas. Mereka sekarang berwajah ceria. Maklumlah perut sudah terisi. Sebagian membawa makanan dari kantin.
       Pizza yang dibawa Ruri sudah habis. Ia melihat Sabrina sedang menghabiskan nagasari yang tadi dibelinya dari kantin. Ruri melihat Vita asyik menikmati getuk singkong yang dibungkus daun pisang. Vita makan begitu nikmat. Apalagi getuk itu dicampur parutan kelapa dan saus gula merah.
       “Kamu mau, Rur, enak getuk singkong, manis dan gurih,” Kata Vita.
       “Enggak,” Jawab Ruri menggeleng.
      “Ruri mana mau. Dia kan makannya makanan seperti pizza, burger, spageti,” Kata Bella.
      “Iya, percuma menawari Ruri,” Sambung Ira.
       Semua teman Ruri sudah menyangka kalau ia tidak suka makan makanan tradisional. Yang Ruri makan selalu makanan asli luar negeri.
@@@
       Suatu hari, Ruri melihat kertas putih kecil di bawah meja kelasnya. Saat itu kelas sepi. Semua pergi ke kantin.
       Ruri mengambil kertas itu. Ternyata sampul surat. Depannya tertulis nama Sabrina Wulandari. Ia iseng membuka. Betapa Ruri kaget ketika mengetahui isinya. Sebuah kartu berwarna pink berupa undangan ulang tahun Ira besok sore.
       Mengapa aku tidak diundang? Bukankah aku juga teman sekelasnya? Pasti kartu ini telah diterima Sabrina beberapa hari lalu. Kata Ruri dalam hati. Tidak lama Sabrina kembali dari kantin. Disusul teman-teman lain.
       Ruri memberikan kartu undangan Sabrina yang terjatuh.
       “Sab, mengapa aku tidak diundang ulang tahun Ira?” tanya Ruri sedih.
       “Sebetulnya ia ingin mengundangmu juga. Tapi mana mungkin kamu mau datang. Tempatnya di kedai Dapur Bunda. Dapur Bunda menjual makanan tradisional, semacam jajan pasar. Bukankah kamu selama ini hanya makan makanan dari luar, seperti pizza?”
       Ah ya, Dapur Bunda menyajikan khusus makanan tradisonal, ulang Ruri dalam hati. Tapi ia tidak mau tertinggal kebahagiaan bersama teman-temannya.
       “Sab, maukah kamu bilang pada Ira untuk mengundangku juga. Aku pasti mau makan makanan di sana. Bukankah aku juga orang Indonesia? Aku ingin bersenang-senang pada ulang tahun Ira,” ungkap Ruri sedih.
       Sabrina juga sedih. Ia mencoba menyampaikannya pada Ira.
       “Wah gimana ya, Mamaku sudah terlanjur memesan 19 porsi. Bukankah Ruri tidak suka makanan tradisional?” tanya Ira.
       Sabrina terus membujuk Ira. Ira kasihan.
      “Baiklah, nanti aku bilang pada Mamaku, ya!” kata Ira.
       Ruri senang sekali mendengarnya. “Terima kasih, Ira!”
       “Sama-sama, Ruri!” balas Ira.
       Esok harinya, Ira memberikan undangan pada Ruri.
      “Syukurlah, Mama bersedia memesan 20 porsi. Kamu jangan lupa hadir nanti sore, ya!” pesan Ira.
       Ruri senang sekali. “Terima kasih, Ira! Aku pasti akan datang!” janji Ruri.
       Sore harinya, Ruri sudah hadir di pesta ulang tahun Ira di Dapur Bunda. Ternyata Ruri menikmati makanan tradisional. Seperti jadah rasanya gurih, wajik yang manis, klepon yang bentuknya bulat sebesar biji kelereng berisi gula merah, dan masih banyak lagi.
       Sejak itu Ruri tidak lagi menolak bila diajak makan bersama ke kantin. Ia menikmati makanan yang ada, termasuk makanan tradisional. Karena makanan tradisional, tidak kalah dengan makanan asal luar negeri.
@@@

Cerita ini telah dimuat di laman Rumah Jamur Kurcaci, 30 Sepetember 2016

Kamis, 01 September 2016

Cerpen Anak


Meja Lipat 
Oleh: Iis Soekandar

       Bel istirahat berbunyi. Adi dan teman-temannya menuju ke kantin. Saat itu hari spesial bagi mereka.
       “Aku nggak jadi masuk kantin ini,” Alfian yang berjalan paling depan mendadak ke luar lagi begitu sampai di pintu kantin milik Bu Nely.
       “Kenapa sih?!” Sigit tidak mengerti.
       “Ada apa, Al?!” tanya Adi tak kalah bingung.
       Kukuh juga bermaksud bertanya, tapi Alfian lebih dulu menjelaskan.
       “Robby dan kelompoknya duduk di pojok. Sementara kulihat sekilas tidak ada tempat kosong, kecuali bangku dekat mereka. Apa kalian mau jadi bahan ejekannya?” jawab Alfian penuh emosi.
       Hem .... Adi menghela nafas panjang.
       “Kalau itu masalahnya, aku juga tidak setuju. Kita ke kantin lain.” Sigit langsung menimpali.
       “Kalian kenapa sih? Bukankah yang akan mentraktir Kukuh, bukan mereka?” Adi berusaha menengahi.
       “Terserah kamu, Kuh. Pokoknya kalau kamu mau makan nasi kuning, aku pilih makan di kantin lain. Aku bayar sendiri tidak apa. Setiap hari aku diberi uang jajan mamaku.” Putus Alfian.
       “Aku sependapat dengan Alfian. Kamu sendiri gimana, Kuh, dari tadi diam saja? Kamu kan yang akan mentraktir” tanya Sigit.
       Sementara Kukuh yang ditanya malah garuk-garuk kepala walaupun tidak gatal. Tentu saja Kukuh bingung. Sebetulnya dalam hati ia juga tidak suka kelompok Robby. Tapi karena dia yang mentraktir, niat semula menyerahkan acara makan-makan kepada mereka. Tapi akhirnya diputuskan makan di kantin lain.
       Padahal dua kantin lain cuma menjual makanan cemilan. Kalaupun ada nasi, paling nasi  bungkus yang lauk dan sayurnya seadanya. Sementara kantin Bu Nely menjual menu spesial, yaitu nasi kuning, lengkap dengan lauk telur dadar, perkedel kentang, sambal goreng ati, dan kerupuk udang. Tentu saja satu piring harganya mahal. 
       Hari itu Kukuh sedang berulang tahun. Ia bermaksud mengajak teman-teman satu kelompoknya makan-makan. Mumpung makan gratis, tentu pilih yang paling enak. Begitu pikir teman-temannya.Tapi kalau harus bertemu dengan Roby dan kelompoknya, terpaksa mereka mengurungkan niat makan nasi kuning Bu Nely.
       Di kelas ada delapan siswa putra. Tapi mereka berseteru. Yaitu kelompok Adi cs dengan kelompok Roby cs. Mulanya ketiga teman Roby bersikap tidak memusuhi. Tapi karena sering ditraktir Roby dan diberi alat-alat tulis, mereka ikut membenci Adi cs. Sedangkan sisanya, siswa putri rukun.
       Sebetulnya Adi bertetangga dengan Roby. Tapi Roby sombong. Karena kaya ia suka memamerkan baju, sepatu, tas. Ah, pokoknya semua yang dikenakan bermerk dan berharga mahal. Tidak hanya itu, ia tidak segan mengejek yang lain. Itu yang membuat Sigit, Alfian, dan Kukuh tidak suka. Sementara Adi biasanya yang mendamaikan. Adi ingin teman-teman satu kelas rukun. Adi memang anak yang baik. Itu sebabnya teman-teman memilihnya menjadi ketua kelas.
@@@
       Malam ini Adi sedang menyiapkan semua keperluan yang akan digunakan lomba menggambar besok. Meja lipat, pensil, penghapus, penggaris, dan krayon, dipastikan sudah berada di tas. Setelah meraut pensil, ia ke luar untuk membuang sampah. Tempat sampah di kamarnya sudah penuh.
       Di luar, ia melihat Roby dan mamanya seperti kebingungan. Mereka mondar mandir di teras. Rumah Adi dan rumah Roby berseberangan.
       Walau samar-samar, Adi dapat mendengar persoalan mereka. Ternyata meja lipat Roby rusak. Roby teledor. Mama menyalahkannya. Setelah menggunakan ia tidak menyimpannya lagi. Kebetulan ketahuan adiknya yang masih balita. Adiknya mengira, itu tempat duduk lalu diduduki. Maka rusaklah kakinya yang sebelah.  
       Adi yakin, Roby mampu membeli meja lipat paling mahal. Tapi masalahnya, papanya sedang bertugas ke luar kota. Roby tidak punya kakak. Mana mungkin ia berani pergi sendiri. Mamanya juga mungkin enggan ke luar malam.
       Adi teringat sesuatu. Lalu ia mendatangi rumah Roby yang letaknya persis di depan rumahnya.
       “Roby, kalau kamu mau di rumahku masih ada satu meja lipat yang tidak terpakai. Kakakku kan dua. Aku memakai milik Kak Kiki, nah kamu pakai milik Kak Riri. Tapi tentu tidak sebagus punyamu.” Kata Adi bercerita tentang kakaknya yang kembar. Kini mereka duduk di bangku SMP.
       Roby kaget melihat kedatangan Adi. Apalagi Adi datang dengan menawarkan sesuatu yang amat dibutuhkan.
       “Adi, kenapa kamu sebaik ini padaku? Bukankah setiap hari aku dan teman-temanku memusihi kalian?” tanya Roby.
       “Sudahlah, Roby, kita tidak punya waktu banyak. Yang penting kamu mau berjanji pada dirimu sendiri untuk berubah menjadi baik. Aku ambilkan meja lipat itu untukmu ya.” Adi menawarkan.
       “Jangan Adi! Biar aku saja yang ke rumahmu.” Pinta Roby.
       Sebelum Adi mengantar mengambil meja lipat, mama sempat memintakan maaf atas sikap Roby. Saat itu juga Roby berjanji tidak lagi sombong. Besok ia akan mengajak ketiga temannya agar berbuat baik kepada siapapun.
@@@

 Cernak ini telah dimuat di laman Rumah Jamur Kurcaci, Rabu, 31 Agustus 2016 


Sabtu, 27 Agustus 2016

Cerpen Anak


Soto Pak Karmin
Oleh: Iis Soekandar

       Setiap berangkat dan pulang sekolah Anto melewati jualan soto Pak Karmin. Tapi ia hanya mencium bau kuah soto yang lezat itu. Ia ingin menikmati nasi sotonya. Apalagi siang hari saat pulang dari sekolah. Perut keroncongan dan minta diisi. Tapi ibu selalu menyediakan sarapan dari rumah. Uang jajan pun hanya cukup untuk membeli cemilan di kantin sekolah.
       Pak Karmin tidak memasang papan nama. Tapi semua orang sudah mengetahui kelezatan sotonya. Pembeli soto Pak Karmin tidak hanya penduduk sekitar. Tapi juga orang dari luar. Beberapa kendaraan roda dua bahkan mobil terparkir dekat gerobaknya. Tidak heran bila tempat duduk yang disediakan tidak memenuhi. Sebagian duduk di dalam mobil mereka.
        Setiap kali melewati Anto suka jalan pelan-pelan. Entah sekadar membau aromanya yang lezat, atau melirik makanan lain yang menyertai nasi soto. Hm, ada sate kerang dan sate telur puyuh. Warnanya sampai kecoklatan. Pasti bumbunya banyak dan rasanya tidak kalah lezat dengan kuah soto. Lalu tempe goreng yang garing. Ada juga perkedel kentang. Kapan aku bisa menikmati seperti mereka. Katanya dalam hati.
       “Hei, Anto, kenapa kamu ngelihatin mereka? Memang kamu ada yang kenal?” Sapa Jeremy sekaligus bertanya kepada teman sebangkunya. Tentu saja ia tidak bertanya tentang nasi soto Pak Karmin. Karena Anto pernah bercerita ibunya selalu menyediakan sarapan.
       Anto pun kaget. Tanpa ia sadari sahabatnya sudah berada di sebelahnya.
       “Eh, Jeremy. Mana mobil papamu? Biasanya kamu naik mobil dan turun di depan sekolah. I ... iya, aku rasanya mengenal lelaki itu. Seperti teman ayahku. Tapi setelah kuperhatikan ternyata bukan. Ayo kita ke sekolah, keburu terlambat nanti.” Jawab Anto berbohong.
       Keduanya lalu segera menuju ke sekolah. Di perjalanan Jeremy sempat bercerita mobil papa disuruh berhenti begitu melihat Anto. Mas Viqi, sopir papa pun mengikuti keinginan Jeremy. Lima menit sebelum bel masuk berbunyi, mereka telah sampai di sekolah.
       Hari itu ada pelajaran prakarya. Bu Yanti akan membuat bunga dari kertas krep. Beliau sudah memberikan tugas kepada anak-anak supaya membawa kertas krep dari rumah. Semua anak sudah menyiapkan. Tapi Jeremy terperanjat begitu melihat teman-temanya sibuk memperlihatkan kertas krep. Ternyata ia lupa membeli.
       “Tenang, Jeremy. Aku akan antar kamu membeli saat istirahat nanti. Di dekat sekolah ada toko kelontong lengkap. Termasuk menjual kertas krep.” Kata Anto menenangkan sahabatnya.
       “Benar, ya To. Aku takut nih, nanti kalau Bu Yanti marah gimana?” Jeremy begitu ketakutan.
       “Tenang saja. Pelajaran prakarya kan jam terakhir.” Sambung Anto.
       Hari itu Jeremy benar-benar berterima kasih kepada Anto. Ia mendapatkan kertas krep sebagaimana yang ditugaskan Bu Yanti. Ternyata Anto menolong Jeremy tidak hanya satu kali itu. Ia mengantar Jeremy ke tempat fotokopi, membeli alat-alat tulis, dan perlengkapan sekolah lain. Maklumlah Jeremy murid baru. Ia berpindah karena mengikuti tugas papanya. Sehingga dia dan keluarganya belum mengenal banyak tempat di kota ini. 
@@@
       Siang ini Anto melihat Jeremy dijemput papanya. Oh ya, ia teringat, Mas Viqi sedang pulang kampung karena ada hajatan keluarga. Terpaksa papanya yang mengantar dan menjemput ke sekolah.
       Seperti biasa Anto pulang sekolah dengan malas-malasan. Maklumlah perutnya sudah keroncongan minta diisi. Hm, andai aku bisa makan nasi soto Pak Karmin. Begitulah kata hatinya setiap kali melewati nasi soto yang menjadi langganan banyak orang itu.
       “Anto... Anto... “
       Tiba-tiba Anto mendengar ada suara memanggilnya. Anto tidak kesulitan mencari sumber suara. Suara itu jelas dari jualan soto Pak Karmin.
       “Anto, ayo ke sini. Kita makan bersama. Aku tahu kamu pasti juga lapar. Kan kita sama-sama dari pulang sekolah.” ajak Jeremy setengah memaksa. Anto pun tak dapat mengelak.
       Anto kemudian dikenalkan papa Jeremy, begitupun sebaliknya. Sementara mereka bercakap-cakap, Jeremy memesan satu mangkuk lagi untuk Anto.
       “Jadi ini yang namanya Anto? Papa ikut berterima kasih Anto senang menolong Jeremy.” Kata Papa Jeremy. Anto tersenyum malu.
        “Ngomong-ngomong kenapa kamu nggak pernah cerita kalau di sini ada soto selezat ini?” tanya papa kepada Jeremy.
       “Habis Papa sibuk kerja sih!” jawab Jeremy.
       Semenjak itu papa sering menjemput Jeremy. Beliau sekalian makan siang di tempat soto Pak Karmin. Dan Anto tidak pernah lupa diajak makan bersama. Bahkan selesai makan ia diantar ke rumah dengan mobil. Anto pun tak pernah penasaran lagi kelezatan soto Pak Karmin.
@@@
      
Cernak ini telah dimuat di laman Rumah Jamur Kurcaci, Jumat, 26 Agustus 2016 

Minggu, 10 Juli 2016

Resensi


Mengenal Budaya Indonesia Melalui Membaca Novel
Judul buku                : Misteri Sosok Wangi
Penulis                      : Erlita Pratiwi
Penyunting bahasa  : Yessy Sinubulan
Ilustrator                    : Indra Bayu
Penerbit                    : Kiddo
Ketebalan                 : 175 halaman
Ukuran                       : 13 x 19,5 cm
ISBN                          : 978-602-6208-04-0
Cetakan I                  :  Maret 2016
Harga                        : Rp 38.000,00

        Cerita ini berawaldari Andara yang akan berlibur di tempat nenek Ica.Kebetulan mama mendapat tugas meliput acara di Sumenep. Nenek Ica tinggal di Bangkalan, Sumenep, Madura. Tentu saja Andara menerima tawaran sahabatnyayang akan menghabiskan waktu libur di rumah neneknya. Sambil menunggu mama menyelesaikan tugasnya sebagai penulis. Tapi tanpa disangka, di sana sedang ada masalah.
       Tidak tanggung-tanggung, nenek Ica yang pemilik toko batik terkenal di Madura  kehilangan batik termahalnya. Yaitu batik Gentongan yang harganya hingga puluhan juta per lembar. Maklumlah, karena membuatnyamembutuhkan waktu satu tahun dan rumit. Maka tidak heran bila banyak diburu kolektor batik. Disamping itu batik-batik itu peninggalan buyut Ica. Karena harganya sangat mahal dibanding kain-kain batik pada umumnya, kain batik ini hilang.
       Dari sinilah kemudian Andara dan Ica berpetualang mencari pencurinya. Walaupun penyelidikan menyangkut “orang dalam”, tidak berarti petualangan mereka hanya seputar rumah. Mereka juga mendatangi beberapa tempat yang mencurigakan. Usaha mereka membuahkan hasil. Benar kata Mbah Nek, nenek Ica, pencurinya “orang dalam” yaitu pegawainya. Serapi apapun pencuri menyembunyikan hasil curiannya, akhirnya ketahuan.Indra, pegawai Mbak Nek pencurinya. Dia mengelabuhi orang lain dengan menggunakan minyak wangi yang sama dengan Om Yono, saudara Ica yang ikut dicurigai. Dengan begitu Mbah nek dan keluarganya akan menuduh Om Yono.
       Novel ini tidak hanya memberi manfaat bagi adik-adik yang masih duduk dibangku SD sebagai pengisi waktu luang. Jauh dari itu sarat dengan ilmu pengetahuan. Adik-adik dapat mengenal banyak budaya yang dimiliki daerah Madura. Dari mengetahui logat bicara, hasil kerajinan, makanan, sampai pakaian adat. Hasil kebudayaan itu disajikan dalam bentuk rangkuman dan tempat tersendiri. Kelak jika mereka membutuhkannya berkaitan dengan pelajaran di sekolah, mereka tidak kesulitan mencari dalam buku.
       Begitupun dalam segi bahasa. Bahasa yang digunakan komunikatif disamping disajikan dalam kalimat-kalimat pendek. Adik-adik mudah memahaminya. Gambar-gambar yang menyertai membuat novel ini semakin sempurna.
       Sampai penulis membaca halaman terakhir, nyaris tidak menemukan kekurangan. Barangkali dari segi harga. Bagi ekonomi menengah ke bawah mungkin menjadi halangan membaca karena tidak terbeli. Begitupun tidak setiap toko buku menjual novel yang sarat dengan misi budaya ini. Maka ada baiknya perpustakaan-perpustakaan daerah atau perpustakaan sekolah untuk mengoleksi. Sayang, jika upaya memperkenalkan salah satu budaya yang dimiliki Indonesia tidak tersampaikan bagi mereka yang membutuhkan.
@@@

Kamis, 30 Juni 2016

Curahan Hati Iis

Menghitung Hari

       Bukan maksud saya meniru atau memplagiat kalau judul tulisan ini sama dengan judul lagu yang pernah dinyanyikan diva Indonesia. Apalagi saya tidak ada niatan sedikit pun menjadi terkenal. Cukuplah setidaknya tulisan ini untuk mengevaluasi diri saya sendiri. Sudahkah saya memenuhi janji mengisi blog setidaknya satu naskah satu bulan?
       Sebelum pertanyaana itu terjawab, selayaknya saya bertanya kepada diri sendiri terlebih dahulu. Seberapa sering mengisi stok naskah di media-media yang menjadi langganan saya kirimi. Setelah saya ingat-ingat hanya dua naskah, itupun untuk satu media. Kalau saya mengaku menulis sebagai pekerjaan mestinya tidak ada alasan membuat naskah-naskah lalu mengirimkannya. Walaupun saya sedang mengerjakan novel. Karena novel berbeda dengan cerpen. Cerpen berbeda dengan novel. Masing-masing punya masa terbit yang berbeda pula.
       Saya menargetkan bahwa tulisan yang saya tampilkan di blog adalah yang sudah melewati tangan redaktur. Bukan tulisan asal menulis. Saya tidak mungkin mengecewakan teman-teman. Sebab mereka yang membaca blog saya orang-orang yang punya standar literasi layaknya di media.
       Setiap hari saya berpacu dengan kalender yang sengaja saya tempelkan tepat pada sudut pandang depan tempat tidur. Supaya kalau saya perlu sesuatu berkaitan dengan penanggalan tidak kesulitan melihat. Diantaranya melihat hari berganti hari berikutnya tapi tidak satu pun tulisan yang melewati tangan redaktur untuk saya unggah di blog. Hingga tanpa saya sadari, hari berada di ujung bulan ini.
       Nyatalah persoalannya, saya telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Jadi kalau pertanyaan di atas tidak lagi menjadi pertanyaan, dengan diiringi doa, saya mesti pandai-pandai memanfaatkan dua hal itu.

@@@

Selasa, 17 Mei 2016

Cerpen Dewasa


RUMAH KAYU LANTAI DUA
Oleh : Iis Soekandar               
       Kakinya melangkah menaiki anak tangga satu per satu demi mengejar waktu. Seember cucian yang biasa dikerjakan dua hari sekali berselang dengan menyetrika terangkat di tangan kanannya. Entah waktu mana yang membuatnya terburu-buru karena sebenarnya tak ada sesuatau pun yang mengharuskannya segera selesai. Baik cucian itu tergerai di tali bahkan harus kering. Begitupun tak ada kegiatan lain seperti yang biasa dikerjakan, sebagaimana filosofinya, selesai pekerjaan satu lanjutkan pekerjaan lain. Tidak lain hanya ingin segera menyelesaikan. Setelah itu saatnya beristirahat siang.
       Dilembarkannya setiap potong baju di tali yang sengaja disiapkan untuk menggerai jemuran. Sedangkan baju-baju resmi tergantung di hanger. Tidak saja sebagai batas etika bagi pemandangan, dibanding menjemur di luar sebagaimana tetangganya yang tidak memiliki lahan, yang lebih penting supaya terhindar dari seseorang yang memburu dan membuatnya semakin merasa resah sekaligus bersalah.
       Rumah lantai dua semua bahan terbuat dari kayu sengaja diperuntukkan  sebagai penangkal aib jemuran. Dibangun sejak kedua orang tuanya masih hidup. Selebihnya berfungsi sebagai gudang. Barulah kemudian lantaran kebutuhan dibuat sebuah kamar sekedarnya. Meski begitu tak ada yang terganggu, karena seiring perkembangan jaman menggelar cucian tidak lagi meneteskan air. Ada mesin cuci disertai pengering membuat cucian tak lagi seratus persen membutuhkan sinar matahari. Angin yang berhembus semakin lama mengeringkan cucian itu.
       Semua telah dilembarkan. Berujung tepat di depan jendela. Pandangannya lurus ke depan, tak mungkin lepas dari luar. Dadanya langsung naik turun begitu menatap pemandangan tak asing. Seorang lelaki dengan headset menempel di kedua telinga. Segera dihindari, perasaan berdesir, pikiran miris.
       Namun meninggalkan sepenuhnya tak kuasa. Ada sesuatu yang menahan untuk segera berpaling. Begitulah setiap kejadian ini terulang. Pikirannya tetap mengarah kepada lelaki itu. Tubuhnya lunglai, mendelosor terduduk dengan kedua tangan mengapit kedua kaki. Supaya kalau dia tiba-tiba mengarah ke arah jendela tidak melihatnya. Bukankah lelaki itu berada di situ dengan pandangan persis mengarah ke jendela agar bisa melihatnya ?
       Rumahnya terletak bersebelahan dengan masjid. Kalau saja lelaki itu mau ia bisa duduk di teras masjid yang lebih luas dan nyaman. Namun menyamping  dengan rumah kayu lantai dua dan jelas tidak mengarah pada jendela. Nyatanya ia memilih di bawah pohon palem yang justru hanya sedikit diplester dan mungkin tempat duduknya terkotori dengan tanah, tempat pohon itu berpijak.
      Beruntung dia membunyikan musik tidak dari tape recorder yang bisa didengar orang lain. Mengingat di masjid, tempat kebayakan orang beribadat. Ah bukan, bukan itu masalahnya, dia tidak bakalan memerdulikan musik itu mengganggu orang lain atau tidak. Orang lain juga tidak bakalan memarahinya jika itu yang terjadi. Mereka dengan caranya yang halus akan memintanya pergi. Dia tidak merasa menjadi manusia spesial yang orang lain harus memaklumi. Namun memang begitulah yang dia tahu. Kesadarannya bermusik seiring pekembangan jaman, lebih praktis dan efisien, dengan headset di kedua telinganya. Sembari geleng-geleng, matanya terpejam, jidatnya mengerut, begitu menghayati lagu, serasa dunia ini miliknya. Teronggok dua travelbag di kanan kirinya.
       Dia bisa menebak lelaki itu selesai jalan-jalan berkeliling kota dengan berkendaraan bis. Demi menyejahterakan masyarakat, pemerintah membuat angkutan baru dengan sistem baru pula. Haltenya khusus, tidak bersamaan dengan angkutan lain. Mereka hanya diwajibkan membayar satu kali tiket namun bisa digunakan lebih dari satu tujuan asalkan belum melampaui terminal tempat angkutan itu bermuara. Sangat menguntungkan masyarakat.
       Namun berbeda tujuan dengan lelaki ber-headset yang sekarang berada di lingkungan masjid, di bawah pohon palem. Halusinasinya terus mengembara. Ia membawa sejumlah pakaian dan menempuh beberapa rute seolah pergi ke luar kota. Layaknya sebuah keluarga yang bepergian jauh tentu butuh pakaian ganti, apalagi kalau lama sampai berhari-hari. Sebagai seorang suami yang setia ia pun membawakan pakaian banyak. Beberapa rute yang harus ditempuh karena perjalanan jauh tentu membutuhkan berjam-jam berada di dalam kendaraan. Hal itu diimplementasikan dengan lama di kendaraan.
       Menurut kabar dari orang-orang yang pernah melihat sepak terjangnya, lelaki itu setelah sampai di tempat tujuan hanya duduk-duduk, terkadang berbicara sendiri, mungkin membayangkan sedang bersama orang yang dikasihi. Sesekali pula melakukan kegiatan rutinnya, apalagi kalau bukan mendengarkan musik melalui headset, kegiatan yang waktu itu orang getol mendengarkan musik tidak lagi melalui kaset yang bisa membuat bising orang sekitarnya yang kebetulan ingin ketenangan. Geleng-geleng kepala, kalau perlu, dua jari telunjuk menunjuk-nunjuk ke atas.
       Biasanya tempat yang dituju bernuansa alam. Dengan berbagai tanaman dan pemandangan terbuka, bila perlu terdapat aneka permainan anak. Banyak pengunjung yang datang. Sebuah tempat yang diidamkan bagi siapapun keluarga demi mendapatkan suasana berbeda dari kehidupan sehari-hari yang banyak dihabiskan di tempat kerja. Ataupun di dalam rumah bagi yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga biasa.
       Sebagai insan yang masih awal dalam berumah tangga mereka belum memikirkan kehadiran anak. Namun pergi ke tempat-tempat hiburan sebagai bentuk refreseing tetap dibutuhkan. Bukankah dengan sering-sering menghabiskan waktu di tempat rekreasi pikiran menjadi bahagia ? Dengan ketenangan batin maka menggapai tujuan hidup biasanya mudah tercapai, begitupun keinginan memiliki buah hati.
       Uang belum banyak digunakan, kebutuhan masih sebatas untuk mereka berdua. Kehadiran anak apalagi jika masih kecil seringkali menghabiskan uang banyak. Namun mereka belum dikaruniai. Pergi berdua masih menjadi prioritas. Mungkin karena bulan madu pada awal pernikahan dulu belum terealisir maka sebagai penebus selalu pergi berdua setiap kesempatan yang ada. Ke luar kota dengan menginap di hotel dan biaya banyak tidak menjadi masalah.
       Tentu tidak cukup hanya bermodal biaya. Sejumlah pakaian selama bepergian harus pula dibawa. Tidak lupa kebutuhan pribadi lain. Tak heran bila dua travelbag memenuhi kedua tangan. Tak perlu travelbag bermerek terkenal, karena tak memikirkan gengsi. Tetapi lebih kepada pemenuhan kebutuhan. Mereka orang biasa dan tinggal di rumah perkampungan. Menyempatkan pergi berlibur, apalagi dengan alasan berbulan madu, sudah menjadi kabar mewah tersendiri.
       Terlintas pembayangan, pernikahan yang tak direncanakan. Walau pernikahan adalah hal yang diidamkan setiap orang. Begitupun pasti bagi lelaki itu dan calon istrinya. Namun pasangan belum kian datang. Keluarganya mulai resah. Terlebih bagi Munaroh, calon istrinya waktu itu, bapaknya sudah tidak ada. Ibunya takut terjadi sesuatu dengan anak bungsunya. Semua saudaranya sudah berumah tangga. Maka pencarian pasangan pun segera dilakukan.
       Sekian waktu ditunggu Munaroh belum mendapatkan pendamping hidup. Diantara penantiannya, tiba-tiba telinganya memerah. Ibunya lebih dulu menemukan seseorang yang bakal menemaninya seumur hidup.   
       “Ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya, Bu. Saya sudah dewasa. Pada waktunya saya pasti akan menemukan pasangan hidup.” Sanggah Munaroh berusaha menjelaskan.
       “Jaman moderen tidak berarti menolak perjodohan, Mun. Kalau seseorang itu sudah berada di depan mata, berarti itulah waktunya.” Ibunya tak kalah mempertahankan keyakinannya. ”Karunia tidak selalu datang dari diri sendiri. Bisa juga melalui orang lain.” tambah ibunya tentang jodoh.
       Nasi memang belum menjadi bubur, namun janji suci antara kedua belah keluarga sudah membaur. Tanpa ada dasar saling cinta pernikahan pun digelar. Semua berharap mereka berdua saling mengerti. Bukankah nenek moyang mereka, termasuk kedua orang tua mereka juga jadian begitu saja dengan pasangan masing-masing ? Hanya dengan perantantara kedua orang tua, akhirnya mereka menikah. Tanpa ada tuntutan macam-macam, apalagi cinta, mereka menjalani kehidupan ini apa adanya. Dan mereka beranak pinak hingga punya cucu, sampai maut memisahkan mereka.
       Namun Munaroh bukanlah orang jaman dulu yang pasrah begitu saja menerima keadaan. Semakin hari hatinya semakin tersiksa. Bahkan ia menolak menikmati malam pertama. Terakhir pada puncaknya ia tidak mau lagi tidur sekamar. Sang lelaki pun menyadari sikap istrinya. Pernikahan ini begitu dipaksakan.
       Lelaki itu memang tidak mempermasalahkan nasib. Sebagai seorang anak yang berbakti, ia terbiasa mengikuti semua kehendak orang tuanya. Termasuk menerima pernikahan melalui perjodohan. Ia pun memaklumi keinginan istrinya yang enggan berkumpul. Dari tidak mau lagi tinggal serumah di rumah mertua, lalu pindah di rumahnya sendiri, sampai tidak lagi bersedia sekamar.
       Namun ternyata menerima nasib tak disertai dengan keikhlasan batin. Perasaannya bergejolak. Dadanya menolak. Tapi mulutnya tak mampu memberontak. Di tempat pekerjaannya ia sering melamun. Hanya di situlah tidak terlihat keluarga ataupun istrinya. Sementara di dalam rumah ia nampak tegar.
       Akhirnya karena kerja tak becus dan seringkali membuat kesalahan, perusahaan tak mau lagi menerimanya. Ia dipindahkan di bagian `kering`, tentu dengan gaji lebih sedikit pula. Lagi-lagi ia tidak bisa tenang dan membuat kesalahan. Pikirannya sering limbung. Terkadang nampak berbicara sendiri dan sedih. Akhirnya karena tidak lagi bisa bekerja, perusahaan memecatnya.  
       Ia kembali ke rumah sendiri. Pikirannya tidak lagi waras. Sejak pernikahan istrinya sebetulnya enggan tinggal bersama. Apalagi bepergian berdua. Akhirnya ia melampiaskan segala sesuatunya dengan berhalusinasi. Pergi dengan dua travelbag menenteng kiri kanan, layaknya keluarga yang ingin pergi ke luar kota. Tidak lupa sembari mengisi waktu di perjalanan yang bisa terasa menjemukan, ia pun sibuk dengan musik melalui headset di kedua telinganya.
       Istrinya benar-benar tak lagi mau memperpanjang hubungan. Dan perpisahan menjadi sesuatu yang tak dapat dihindari. Ia tidak lagi memberi nafkah lahir maupun batin. Kedua belah keluarga baru menyadari bahwa perjodohan tak selamanya berbuah bahagia. Membina hubungan untuk sekedar saling menjajaki keduanya sebelum pernikahan sangatlah penting. Maka dengan ikhlas pun mereka berpisah baik-baik.
       Efek dari perpisahan itu Munaroh tidak tenang berada di rumahnya sendiri. Ia sering didadatangi walau tidak lagi menjadi istrinya. Semua orang memang tahu mereka tidak lagi sebagai suami istri. Namun rasa malu seringkali hinggap. Tidak hanya itu, rasa tergila-gila lelaki itu sekaligus merasa bersalah terkadang hadir. Warung kelontong menyatu dengan rumah dari orang tua yang dipercayakan kepadanya dijaga oleh pembantunya. Munaroh bagian mengelola dan menyediakan bahan-bahan.
       Apa tujuannya kalau bukan menghindari lelaki yang tidak lagi menjadi pasangannya itu. Karena kenyataan belum bisa menerimanya. Pernah suatu saat ia terlihat di warung, lelaki itu menyambanginya dan tak mau pergi. Memang tidak mengganggu, tapi apa yang masih bisa diperbuat dari hubungan yang tidak lagi tersambung. Semenjak itu ia mencari asisten untuk menunggui warung. Dan lelaki itu pun tidak pernah lagi mendatanginya.
       Kalau ingat semua itu bercampur aduk pikirannya. Lelaki itu masih geleng-geleng kepala menikmati musik melalui headset. Kedua telunjuknya mengarah ke atas menghayati lagu. Tak disangka, tiba-tiba kedua matanya mengarah ke jendela, lalu...
       “Munaroooooh....”
       Ia terperanjat, dan menyeret tubuhnya dari pintu jendela untuk segera berlalu dari rumah kayu lantai dua.
@@@SELESAI@@@
                                                                                          
  Cerpen ini telah dimuat di tabloid Nova 1473/XXIX 16 - 22 Mei 2016      

   

Sabtu, 02 April 2016

Fabel


Pengalaman Baru Muri Murai
Oleh : Iis Soekandar

       Seekor Muri Murai senantiasa berada dalam sarangnya di dahan. Kedua orangtuanya selalu mencarikan makanan untuknya. Mungkin karena ia anak tunggal. Ia amat manja.
       “Muri Murai, ayo keluar. Di sana banyak buah-buahan. Tinggal pilih mana yang kita mau,” ajak Pipit.
       “Aku sedang flu, tidak boleh terkena udara luar.” Jawab Muri Murai malas-malasan.
       “Hari ini flu, kemarin batuk, kemarin lusa pusing.” Gasak Kenari.
       “Kamu kurang berolah raga, sih,” Pancawarna menambahi.
      Muri Murai, Pipit, Kenari, dan Pancawarna, teman seumuran. Hanya Muri Murai yang tidak pernah keluar. Tetapi Pipit, Kenari, dan Pancawarna selalu bermain bersama sembari mencari makan sendiri. Terkadang pepaya, atau pisang, atau jambu, ah apa saja buah yang sudah masak, mereka santap.
       Suatu saat mereka membawakan Muri Murai buah kecil-kecil sebesar biji kelereng. Tapi bentuknya lonjong. Warnanya  hijau. Rasanya manis-segar. Selama ini kedua orangtuanya belum pernah membawakan buah semenarik itu. Ternyata buah anggur namanya. Seketika itu Muri Murai minta diantar ke pohon anggur. Di sana ia makan anggur sepuasnya.
       Benar, ternyata enak terbang sendiri. Bisa menikmati alam bebas. Menghirup udara segar. Semenjak itu Muri Murai minta disamperi setiap kali Pipit, Kenari, dan Pancawarna terbang mencari buah-buahan. Tentu saja kedua orangtuanya senang. Disamping tidak membebani mencarikan buah-buahan, Muri Murai pun tidak sakit-sakitan.
       Suatu saat seperti biasa mereka terbang berempat. Ternyata tidak ada buah yang masak. Pepaya, pisang, masih berwarna hijau. Tanpa disangka Muri Murai mencium bau harum. Diam-diam ia mendekati bau harum itu. Perutnya yang keroncongan bakal terisi. Muri Murai makan sendiri. Namun baru menikmati lezatnya buah itu sesaat, kerongkongannya sakit.
       “Aduh, tolooong,” seketika itu Muri Murai memuntahkan makanannya. Ketiga temannya kaget mendengar suaranya. Ternyata Muri Murai jauh dari mereka.
      “Wah Muri Murai dapat buah sirkaya besar dan masak.”
       “Makan jangan dengan bijinya. Terang saja kerongkonganmu sakit.”
      “Jadi...itu buah sirkaya namanya.” Kata Muri Murai bertambah satu lagi perbendaharaan buahnya. “Maafkan aku bermaksud serakah. Kurasa buah sebesar ini bisa kita santap berempat, daripada kita pulang dengan perut kosong.”
       Tidak sedikit pun mereka sakit hati. Hari itu mereka bersuka cita. Mereka pulang dengan perut terisi.
@@@
 [ karakter : pemaaf, peduli sosial, cinta damai]

Fabel ini pernah dimuat di Nusantara Bertutur, Kompas Minggu.