Iis Soekandar: Tamasya Remang-Remang ke Pari Mentes

Jumat, 31 Juli 2026

Tamasya Remang-Remang ke Pari Mentes

                                                                                         


              Beberapa tahun terakhir, banyak restoran atau warung makan berkonsep pedesaan bermunculan. Tempat-tempat itu di daerah Boja, Kendal, dan sekitarnya. Pengunjung makan sambil menikmati pemandangan alam, serasa berada di tengah sawah. Ada Kali Kesek, Cendol Wolu, Soto Sawah, Pari Mentes, mungkin masih ada lagi.

            Nama tempat terakhir bikin saya penasaran. Saya dan rombongan akan mengadakan arisan sekalian makan siang. Syukurlah, pilihan ada di Pari Mentes.

            Semarang sebagai kota metropolitan, lekat dengan gedung-gedung, polusi, dan lahan terbuka yang sempit. Penghijauan selain menetralisir polusi, juga menyegarkan mata. Otoritas menggalakkan urban farming. Atau penghijauan di perkotaan, dengan bantuan sejumlah alat di lahan sempit. Maka tempat terbuka dengan pemandangan hamparan hijau sangat diminati. Orang bertamasya, tidak perlu jauh ke luar kota, tapi tetap bisa menikmati alam pedesaan.

            Pari Mentes ditempuh sekitar satu jam dari Semarang dengan mobil pribadi, atau 1,5 jam naik odong-odong, seperti saya lakukan bersama sebagian rombongan.

Pari Mentes (bahasa Jawa) atau Padi Bernas (bahasa Indonesia), adalah warung makan representatif. Tempatnya tidak begitu luas. Dengan penataan sedemikian rupa,  warung ini menyediakan fasilitas tempat untuk rombongan kecil atau keluarga, dan banyak orang. Selain itu ada kamar mandi, tempat ibadah, musik, dan tentu pemandangan alam dengan spot-spot foto. Pantaslah tempat ini bernama Pari Mentes seperti padi berkualitas, dengan sarana makan, sekalian refreshing, spot foto, dan kegiatan lain, di alam pedesaan.

Kami tiba pukul 11.30. Makanan makan siang, sesuai pesanan tersaji di gubuk, tidak jauh dari tempat yang kami pesan. Kami menikmati nasi rames, lauk ayam goreng. Ditambah es teh, cukuplah menghilangkan haus dan lapar setelah perjalanan, sembari merasakan semilir angin, di depan hamparan hijau.

                                                                           

pemandangan alam terbuka

Saya teringat makan nasi rames di tempat langganan. Nasi bungkus dengan harga lima ribu rupiah. Nasi, mi, kering tempe, sayuran, dan telur dadar. Saya menambah tahu bakso. Lapaknya dari mobil terbuka, di pinggir jalan. Porsi orang lelaki makan dua bungkus.

Semua anggota selesai makan siang. Sambil duduk santai dan sesekali minum teh dingin atau teh panas sesuai selera, satu per satu agenda arisan dilakukan.

“Wah, gerimis datang,” kata teman, diiringi yang lain. Kami menyayangkan saat acara selesai dan akan foto. Foto-foto kurang maksimal karena hanya diambil dari dalam gubuk, tempat kami berada.

Satu per satu berjalan cepat ke musala. Khawatir rintik-rintik berganti hujan deras, kami segera pulang. Odong-odong kendaraan setengah terbuka, itu sebabnya tidak dapat sepenuhnya menghalau air hujan.

Kami tiba kembali di kampung waktu Asar. Sebuah jeda waktu, menikmati pengalaman di hari Minggu untuk kembali beraktivitas besok Senin. Tamasya tidak perlu jauh ke luar kota, namun menikmati perjalanan alam terbuka, laiknya di sebuah pedesaan.

@@@



Tidak ada komentar:

Posting Komentar