Beberapa
tahun terakhir, banyak restoran atau warung makan berkonsep pedesaan
bermunculan. Tempat-tempat itu di daerah Boja, Kendal, dan sekitarnya. Pengunjung
makan sambil menikmati pemandangan alam, serasa berada di tengah sawah. Ada Kali
Kesek, Cendol Wolu, Soto Sawah, Pari Mentes, mungkin masih ada lagi.
Nama tempat terakhir bikin saya penasaran.
Saya dan rombongan akan mengadakan arisan sekalian makan siang. Syukurlah,
pilihan ada di Pari Mentes.
Semarang sebagai kota metropolitan,
lekat dengan gedung-gedung, polusi, dan lahan terbuka yang sempit. Penghijauan selain
menetralisir polusi, juga menyegarkan mata. Otoritas menggalakkan urban
farming. Atau penghijauan di perkotaan, dengan bantuan sejumlah alat di
lahan sempit. Maka tempat terbuka dengan pemandangan hamparan hijau sangat diminati.
Orang bertamasya, tidak perlu jauh ke luar kota, tapi tetap bisa menikmati alam
pedesaan.
Pari Mentes ditempuh sekitar satu
jam dari Semarang dengan mobil pribadi, atau 1,5 jam naik odong-odong, seperti
saya lakukan bersama sebagian rombongan.
Pari
Mentes (bahasa Jawa) atau Padi Bernas (bahasa Indonesia), adalah warung makan representatif.
Tempatnya tidak begitu luas. Dengan penataan sedemikian rupa, warung ini menyediakan fasilitas tempat untuk rombongan
kecil atau keluarga, dan banyak orang. Selain itu ada kamar mandi, tempat
ibadah, musik, dan tentu pemandangan alam dengan spot-spot foto. Pantaslah tempat
ini bernama Pari Mentes seperti padi berkualitas, dengan sarana makan, sekalian
refreshing, spot foto, dan kegiatan lain, di alam pedesaan.
Kami
tiba pukul 11.30. Makanan makan siang, sesuai pesanan tersaji di gubuk, tidak
jauh dari tempat yang kami pesan. Kami menikmati nasi rames, lauk ayam goreng. Ditambah
es teh, cukuplah menghilangkan haus dan lapar setelah perjalanan, sembari
merasakan semilir angin, di depan hamparan hijau.
Saya
teringat makan nasi rames di tempat langganan. Nasi bungkus dengan harga lima
ribu rupiah. Nasi, mi, kering tempe, sayuran, dan telur dadar. Saya menambah
tahu bakso. Lapaknya dari mobil terbuka, di pinggir jalan. Porsi orang lelaki makan
dua bungkus.
Semua
anggota selesai makan siang. Sambil duduk santai dan sesekali minum teh dingin
atau teh panas sesuai selera, satu per satu agenda arisan dilakukan.
“Wah,
gerimis datang,” kata teman, diiringi yang lain. Kami menyayangkan saat acara
selesai dan akan foto. Foto-foto kurang maksimal karena hanya diambil dari
dalam gubuk, tempat kami berada.
Satu
per satu berjalan cepat ke musala. Khawatir rintik-rintik berganti hujan deras,
kami segera pulang. Odong-odong kendaraan setengah terbuka, itu sebabnya tidak
dapat sepenuhnya menghalau air hujan.
Kami
tiba kembali di kampung waktu Asar. Sebuah jeda waktu, menikmati pengalaman di hari
Minggu untuk kembali beraktivitas besok Senin. Tamasya tidak perlu jauh ke luar
kota, namun menikmati perjalanan alam terbuka, laiknya di sebuah pedesaan.
@@@


Tidak ada komentar:
Posting Komentar