Iis Soekandar

Minggu, 29 Juli 2018

Kejutan Buat Salsa

        "Sa, tolong antar makanan ini ke rumah Kakek Bakri!" pinta ibu sambil menyiapkan nasi beserta sayur tumis kangkung dan lauk tempe mendoan.
      "Uh, Ibu, Salsa lelah selesai pramuka. Mau istirahat dulu."
      "Kasihan kalau Kakek Bakri membeli makanan di tempat jauh. Sebab Bu Lasmi tidak jualan,” jelas ibu. Bu Lasmi adalah pemilik warung makan di kampung ini. Biasanya Kakek Bakri  membeli makanan di warungnya. Mungkin Bu Lasmi sedang tidak enak badan makanya tidak berjualan hari ini.
                                 
       Kemudian ibu memasukkan bungkusan itu ke dalam kantung plastik hitam. Itu artinya Salsa harus mengantar ke rumah Kakek Bakri.
       "Kenapa sih, Bu, kita mesti peduli sama Kakek Bakri? Tetangga lain saja tidak," protes Salsa sambil membetulkan baju rumah bersiap pergi.
       “Menolong orang itu baik, Sa. Siapa tahu suatu saat dalam keadaan terjepit, kita ganti ditolong orang lain,” tukas ibu sudah berada di depan penggorengan lagi. Ibu menjual tempe mendoan, pisang goreng, dan bakwan. Kue-kue itu dijual di beberapa warung kucingan. Warung kucingan itu buka khusus malam hari. 
     Sambil menggerutu Salsa pergi ke rumah Kakek Bakri.
     Kakek Bakri tetangga satu kampung. Beliau tidak mempunyai anak. Istrinya meninggal beberapa tahun lalu. Walau sudah tua, Kakek Bakri masih giat mengayuh becak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sore hari Kakek Bakri pulang ke rumah. Itulah yang membuat ibu kasihan dan sering memberi makanan.
       Disamping itu ibu hanya berdua dengan Salsa. Ayah pulang kerja seminggu sekali sebagai kuli bangunan. Ayah bekerja di luar kota dan menginap di proyek tempatnya bekerja. Daripada makanan tersisa, lebih baik diberikan orang lain yang membutuhkan, begitu ibu seringkali berpesan.
     Salsa semakin jengkel bila Kakek Bakri juga menyuruhnya membeli sesuatu. Lalu Salsa disuruh ke warung membeli sabun, sikat gigi, dan kebutuhan sehari-hari lain.
@@@
     Hari Minggu ini ibu memasak kolak labu kuning. Ayah membawa labu kuning kemarin sepulang kerja. Seperti biasa ibu memberi sebagian untuk Kakek Bakri. Ibu menyiapkannya di dalam rantang.
     "Kolak ini buat Kakek Bakri, Sa."
     Karena ayah di rumah, Salsa tidak berani membantah. Sebab ayah juga senang membantu orang lain, termasuk kepada Kakek Bakri.
     Setelah melayani pelanggannya pada pagi buta, Kakek Bakri istirahat dulu di rumah. Setelah itu baru mencari penumpang lagi.
     "Wah, senang sekali sudah lama Kakek tidak makan kolak waluh," ungkap Kakek Bakri begitu membuka rantang berisi kolak. Kakek Bakri menyebut labu kuning dengan waluh. Waluh dari bahasa Jawa.
     Ketika Salsa bersiap pulang, Kakek Bakri memanggil.
     "Sa, Kakek tolong belikan kopi bubuk di toko Koh Han,” pinta Kakek Bakri sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribu. Kakek Bakri membeli kopi bubuk satu renteng.
     "Uh, Kakek, sudah dikasih kolak malah nyuruh."
     "Kakek lupa beli," begitulah alasan Kakek Bakri.
     Karena toko Koh Han jauh, Salsa pulang ke rumah mengambil sepeda. 
     Pagi itu toko kelontong Koh Han ramai pembeli. Ternyata ada pembeli satu mobil dari luar kota. Biasanya Salsa titip sepeda kepada Mas Wahyu, pegawai Koh Han. Tapi sayang Mas Wahyu sibuk di dalam. Salsa melihat seorang ibu sedang berdiri di depan toko Koh Han. Ibu itu sedang menunggu ojek online.
     "Bu, bisa minta tolong jagain sepeda saya? Sebentar saja. Sebab pernah terjadi pencurian di depan toko. Di sini tidak ada tukang parkir," pinta Salsa.
     "Iya, Nak, saya jagain," jawab ibu itu.
            Beberapa lama kemudian Salsa keluar dari toko. Tangannya membawa kantung plastik berisi serenteng kopi merek kesukaan Kakek Bakri. Setelah mengucap terima kasih kepada ibu itu, Salsa mulai mengayuh sepeda. Tapi tidak lama, rantai sepedanya lepas. Ibu itu datang menolong.
            “Dibawa saja ke bengkel terdekat!” sarannya.            
            “Tidak, Bu. Rantainya memang sudah aus dan minta diganti. Saya akan menuntunnya sampai di rumah. Ayah akan memperbaikinya,” jawab Salsa.
            Ibu itu merasa iba.
          “Nak, apa boleh Ibu silaturahmi ke rumahmu?”
         “Silakan, Bu,” jawab Salsa lalu mendikte alamatnya. Ibu itu mencatat dalam ponsel. Bersamaan dengan itu driver ojek online datang. Beliau pun pergi sementara Salsa pulang dengan menuntun sepedanya.
@@@
           Salsa selesai mandi sore. Ibu sedang mengantar kue gorengan pelanggannya. Tiba-tiba ayah memanggil. Ada seseorang mencarinya. Ternyata tamunya ibu yang ditemui di toko Koh Han. Beliau datang bersama suaminya. Kemudian mereka saling berkenalan. Setelah itu ibu itu menawarkan sesuatu. Salsa diminta keluar rumah.
            Ketika Salsa membuka pintu...
            “Ha, sepeda gunung!” ungkap Salsa dengan berteriak.
Lalu mereka bercerita, sepeda itu milik anaknya yang sudah tidak terpakai. Selama ini sepeda itu tersimpan di gudang.
            Tentu saja Salsa senang. Walaupun sepeda itu tidak baru tapi masih bagus. Ayah pun tidak perlu membeli rantai baru sebab Salsa sudah mendapatkan penggantinya. Benar kata ibu, karena menolong Kakek Bakri, dalam keadaan terjepit ada orang lain yang menolong. 
@@@
 Cernak ini pernah dimuat di harian Lampost, Minggu, 29 Juli 2018


Senin, 16 Juli 2018

TRESNO DAN KUDA LUMPING




        Setiap hari Minggu Andi bermain layang-layang di lapangan bola. Andi mengambil layang-layang dan benang gelasan yang baru saja dibelinya dari toko kelontong. Layang-layang itu berbentuk wajik. Benang gelasan adalah benang biasa yang sudah dilapisi semacam butiran halus dari gelas atau kaca. Gunanya memperkuat bila melawan benang layang-layang lawan. Minggu lalu layang-layang miliknya tersangkut di pohon mangga. Ketika dia berusaha mengambil, layang-layang itu sobek. Benang yang tersangkut pun panjang. Sebab pohon itu terlalu tinggi.
            Andi menghampiriTresno. Rumah Tresno terletak di depan rumahnya.
            Tok tok tok
            “Assalamualaikum...”
            “Alaikumsalam,” seorang anak membukakan pintu. Tapi anak itu bukan Tresno.
            “Hai, Ndi... ayo masuk!” pinta Tresno dari dalam ketika melihat Andi datang.
            “Wah, kamu mau main kuda lumping ya?” tanya Andi sambil senyum-senyum. Tresno membawa kuda lumping. Saat masih muda bapak Tresno pemain kuda lumping. Terlihat kuda lumping itu milik bapaknya.Kuda lumping itu terbuat dari bambu.
            “Iya. Saudaraku ingin melihat permainan kuda lumping. Eh kalian kan belum saling kenalan,” jelas Tresno.
            “Andi.”
            “Ari.”
            Setelah saling berkenalan, Andi berpamitan. Tidak lupa Tresno meminta maaf tidak dapat bermain layang-layang. Biasanya mereka bermain layang-layang bertiga. Sani pasti sudah menunggu di lapangan. Akhirnya Andi pergi sambil membawa layang-layang dan benang gelasan.
            Tempo hari Tresno bercerita, salah satu saudaranya pindah di daerah ini. Papanya pindah kerja. Mungkin karena belum memiliki teman, Ari bermain di rumah Tresno.
            Sampai di lapangan tentu saja Sani terheran.
            “Tresno mana?” tanya Sani.
            Andi bercerita bahwa Tresno sedang kedatangan saudaranya. Akhirnya mereka bermain berdua. Andi membawa gulungan benang gelasan. Sementara Sani memegang layang-layang. Setelah beberapa saat, layang-layang itu membumbung tinggi di angkasa.
@@@
            Ning nong ning nong ning nong ning nong...
Samar-samar terdengar musik kuda lumping. Suara itu dari rumah Tresno. Andi baru saja mengambil layang-layang dan benang gelasan. Pasti saudara Tresno, Ari, datang di rumahnya. Dan hari Minggu ini Tresno juga tidak bermain layang-layang.
Andi mengintip dari gorden dinding kaca ruang tamu. Tresno sedang asyik bermain kuda lumping mengikuti irama dari tape recorder. Ari menyaksikan dengan terkesima. Tresno tertawa sambil menaiki kuda lumping. Setelah beberapa lama, Tresno kehausan. Dia minum minuman dari gelas. Tapi setelah habis, gelas itu dimakan sedikit demi sedikit. Ari ikut memakan gelas minumannya. Mereka tampak tertawa-tawa.
Saat itu juga Andi menemui Sani di lapangan.
            “San, kamu tahu nggak...” ungkap Andi dengan napas terengah-engah.
            “Tahu apa? Kamu kenapa sih kebingungan? Ayo cepetan terbangkan layang-layangmu ke udara,” ajak Sani memberi semangat sudah tidak sabaran.
            “Aku menemui kejadian aneh. Ini penting, menyangkut teman kita, Tresno!” cerita Andi dengan terbata-bata.
            “Memangnya Tresno kenapa?” tanya Sani.
            “Setelah bermain kuda lumping, dia makan beling!”
            “Ha! Masa? Dia makan beling?” ulang Sani tidak kalah terkejut.
            “Iya, yang aku heran, saudaranya juga ikut makan beling. Mereka makan beling dari gelas minuman sambil tertawa-tawa.”
            “Wah, bahaya. Kalau begitu kita jangan dekat-dekat dia.”
            “Kamu benar. Kita jangan lagi bermain dengan Tresno. Kita bisa kerasukan seperti Ari.”
            Setelah itu mereka bermain layang-layang bersama.
@@@
            Hari ini Andi dan Sani bersiap akan bermain layang-layang. Andi membawa gulungan benang gelasan. Sedangkan Sani memegang layang-layang. Dari kejauhan Tresno berjalan menuju lapangan.
            “Aku ikutan. Kebetulan hari ini Ari tidak datang ke rumahku!” pinta Tresno.
            “Kamu bermain sendiri saja! Kami tidak mau ikut kerasukan makan beling seperti saudaramu itu!” ungkap Andi.
            Tresno merenung sesaat. Barulah setelah itu dia teringat sesuatu.
            “O...jadi kalian pikir aku makan beling dari gelas minuman,” jelas Tresno.
            Keduanya mengangguk.
            “Aku tidak makan beling. Karena gelas itu tidak terbuat dari beling, melainkan dari rumput laut. Gelas itu sengaja diciptakan untuk mengurangi sampah plastik. Rumput laut kaya kandungan gizi. Kalaupun masih tersisa lalu dibuang, menjadi pupuk bagi tanaman.”
            Mereka terheran dan penasaran. Tresno berjanji akan memberi, bila Ari berkunjung dan membawa gelas itu. Mereka kini senang karena tidak akan kerasukan.
            Mereka bermain layang-layang penuh suka cita.
@@@
Cernak ini pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Minggu, 15 Juli 2018


Minggu, 08 Juli 2018

Cerma





       Aku tak pernah beranjak dari meja belajar. Meski begitu aku tahu semua kegiatan Resti. Akulah yang membantu Resti mengurangi rasa sedihnya. Ketika dia menulis di kertasku lalu menuangkan kekesalannya, legalah semua yang menyesakkan dada. Saat beruntung, aku juga menjadi luapan bahagianya. Sambil senyum-senyum, dia berbagi kebahagiaan itu, juga melalui tulisannya.Yah, rahasia tersembunyi, aku lebih tahu, dibanding siapa pun, termasuk mama. Bahkan urusan tertentu, Resti sengaja mengunci rapat-rapat hatinya kepada mama.

      Untuk itulah Resti membeliku. Kutahu pada tulisannya yang pertama. Dia mengatakan baru mengenal cowok yang mampu membuat hari-harinya indah, senyum-senyum sendiri, sekaligus merasa mendapat perhatian lebih dibanding cewek cantik mana pun.

       Lalu bak artis yang sedang berakting dia ungkapkan semua pengalamannya di hadapanku, lengkap dengan gerak tangan dan gestur.
    “Sudah membawa apel merah dan hijau?” ceritanya pada kegiatan pengenalan lingkungan sekolah awal menjadi peserta didik baru.

Jumat, 06 Juli 2018

Dongeng

Piala Raja Kelinci


      Rambo kelinci pulang berjalan kaki membawa seikat wortel. Seperti biasa setiap sore ia berjalan untuk mengambil wortel dari ladang wortel. Jaraknya kira-kira satu kilometer dari rumah. Sedangkan kelinci-kelinci muda lain biasanya naik sepeda kalau pergi ke ladang. Di perjalanan pulang Rambo melihat kelinci seumurannya bergerombol. Mereka sedang membicarakan perlombaan yang diadakan Kerajaan Kelinci. Raja Kelinci mengadakan lomba lari cepat bagi para kelinci muda. Pemenangnya akan mendapatkan Piala Raja Kelinci. Piala itu berbentuk worel, makanan kesukaan mereka.

       Lomba itu diselenggarakan dalam rangka ulang tahun Kerajaan Kelinci.
       “Kerajaan Kelinci harus tetap merdeka. Tidak boleh dijajah oleh hewan lain. Itu sebabnya, para kelinci muda harus cekatan berlari!” ujar Raja Kelinci pada sebuah pidato.
        Raja Kelinci juga berencana akan memberi pelatihan bela diri kepada para kelinci muda. Suatu saat jika ada musuh datang, para kelinci muda yang akan maju di medan perang.
      “Aku harus mendapatkan Piala Raja Kelinci!” kata Rambi, kembaran Rambo.
       Rambo yang baru saja sampai di rumah, hanya tersenyum.
    “Bagaimana mungkin kamu mendapatkan piala itu? Kamu tidak pernah mau latihan berlari. Setiap hari Rambo yang mengambil wortel di ladang,” kata bunda Rambi dan Rambo.
       Rambi hanya terdiam.
       “Otot kakiku masih bagus. Belum pernah terkilir, jatuh, dan luka seperti Rambo.  Lari sepanjang tiga kilometer pasti mudah. Rambo pasti cepat kelelahan. Dia kan setiap hari sudah berjalan menempuh jarak dua kilometer,” gumam Rambi di dalam hati.
@@@
       Waktu terus berjalan. Tibalah saat yang dinanti. Semua kelinci muda berkumpul di depan istana. Masing-masing memakai nomor punggung. Rambo mendapat nomor 55 sedangkan Rambi 101. Sebanyak 252 kelinci muda mengikuti lomba lari cepat.
       “Para kelinci muda, waktu menunjukkan tepat pukul enam pagi. Kalian akan berlari sepanjang tiga kilometer sesuai rute yang telah ditentukan,” Patih memberi keterangan.
       Dari balkon tampak Raja, Permaisuri, dan kedua pangeran kelinci menyaksikan pembukaan lomba.
       “Hitungan akan saya mulai dari angka 3. Kalian siap?” tambah Patih.
       “Siaaaap,” jawab semua kelinci muda penuh semangat.
       “Tiga... dua... satu....”
       Semua kelinci muda berlari. Bapak dan ibu mereka memberi dukungan di sepanjang jalan yang mereka lalui. Mereka pasti menginginkan anaknya mendapatkan Piala Raja Kelinci. Begitu pun ayah dan bunda Rambo-Rambi.
       Setelah beberapa menit berlalu, beberapa peserta mulai berguguran. Ada yang berhenti lari karena kakinya lecet. Ada yang otot kakinya kram dan pingsan.
       Rambo masih bertahan berlari. Sedangkan Rambi kakinya mulai kaku setelah menempuh jarak satu kilometer. Bahkan ia terjatuh
       “Aduh... kakiku... kenapa ini?” tanya Rambi.
       Rambi berhenti di tengah jalan. Ia mengerang. Sementara kelinci muda lain yang masih bertahan terus berlari. Rambo sudah berada jauh di depan. Ia tak tahu kalau kembarannya terjatuh.
       Pasukan istana tampak sigap menolong Rambi. Mereka sengaja ditugaskan untuk menolong para peserta lomba lari yang berhenti di jalan. Dua kelinci petugas lalu mengantar Rambi ke pos pertolongan pertama.
       Ayah dan Bunda menemani Rambi yang dirawat di pos itu. Mereka sudah menduga Rambi tidak mampu menempuh jarak tiga kilometer.
       Semula Rambi heran, mengapa ototnya bisa kram. Dokter menjelaskan, justru otot harus sering dilatih agar lentur dan kuat.
       Otot dan tulang Rambo sudah terlatih berlari. Saat pergi ke ladang dan pulang ke rumah membawa wortel, sebetulnya Rambo tanpa sengaja telah berlatih. Berjalan dan terkadang berlari sejauh dua kilometer setiap hari.
       Jadi tak heran kalau akhirnya Rambo sampai paling awal di depan istana. Disusul kelinci-kelinci muda lain beberapa saat kemudian. Setengah dari mereka gagal mencapai finish.
     Kini giliran penyerahan Piala Raja Kelinci untuk sang juara.
 “Para peserta dan semua rakyat kerajaan Kelinci, kini tiba saatnya penyerahan piala.  Pemenang lomba lari cepat tahun ini adalah... Rambo!” seru Patih.
       Tepuk tangan terdengar riuh-rendah.
       Raja Kelinci memberikan piala pada Rambo.
       “Rambo... Rambo... Rambo.... “ hadirin yang hadir mengelu-elukan Rambo yang menerima Piala Raja Kelinci.
       Sampai di rumah, Rambi masuk ke kamarnya dan termenung. Rambo mendekatinya dan menghibur.
       “Rambo, mulai besok kita bergantian ke ladang. Sehari kamu, sehari aku. Aku juga ingin punya Piala Raja Kelinci seperti kamu,” kata Rambi.
      “Aku bangga pada usahamu, Rambi. Jika kamu rajin ke ladang aku percaya suatu kamu juga bisa mendapatkan Piala Raja Kelinci,” kata Rambo.
       Mulai hari itu, bunda tidak lagi marah-marah. Rambi tidak lagi malas. Ia bergantian dengan Rambo mengambil wortel di ladang.   
@@@
Dongeng ini pernah dimuat di majalah Bobo, terbit 28 Juni 2018

Senin, 25 Juni 2018

Cernak


Kue Lebaran Buat Tika


Bagi Tika dan keluarganya, Lebaran tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tika, mama, dan papa menemani nenek selama liburan di kampung. Sebab kakek meninggal beberapa bulan lalu. Biasanya mereka berkunjung ke rumah nenek hanya sehari.
            “Hai...,” sapa Tika kepada seorang anak yang melewati rumah nenek. Tika berada di luar pagar rumah. Tika sendirian dan ingin mencari teman.
            “Hai juga. Kamu kan cucunya Nek Rahma,” ungkap anak itu.
            “Iya, mainlah kemari!” ajak Tika.
            Anak itu menurut. Kemudian mereka saling berkenalan. Ternyata namanya Nina. Mereka duduk santai di teras sambil menikmati hidangan kue-kue Lebaran.
            “Wah, kue ini enak sekali, rasanya asin,” kata Nina sambil manggut-manggut.
            “Itu namanya castengel. Rasanya asin karena ada campuran kejunya,” jawab Tika.
            Selain castengel, ada juga tarnas berbentuk seperti keranjang. Lalu kue berbentuk pipih, namanya lidah kucing. Sedangkan kue berbentuk bulan sabit yang ditaburi dengan gula halus, namanya putri salju. Semua kue itu buatan mama Tika. Nina menyukai semua kue yang disajikan.
Setelah puas menikmati kue Lebaran dan segelas es sirup, Nina izin pulang.
            “Maaf, aku pulang dulu. Sebetulnya aku sedang disuruh bundaku ke warung,” ungkap Nina.
            “Oh, maaf. Pasti bundamu sedang menunggu di rumah.”
            Nina pun buru-buru pergi ke warung.
@@@
            Sore hari Tika kembali berdiri di depan pagar rumah. Tika berharap bertemu dengan Nina lagi. Sebetulnya dia bisa meminta petunjuk letak rumah Nina kepada nenek. Tapi Tika sungkan karena baru saja mengenal Nina.
            Keesokan hari ketika Tika akan membuang sampah, Nina lewat depan rumah nenek.
            “Nina, kamu mau ke mana?”  tanya Tika.
            “Aku mau ke warung membeli tepung,” jawab Nina.
            “Wah, pasti bundamu akan membuat kue Lebaran lagi. Kue-kue bikinan bundamu lezat-lezat hingga kehabisan,” tebak Tika senang.
            Nina hanya tersenyum.
          “Oya, bagaimana kalau aku ganti ke rumahmu. Lalu mencicipi kue-kue Lebaran bikinan bundamu,” usul Tika.
            “Mm ... tapi jangan sekarang ya. Aku sedang membantu bunda memasak,” jawab Nina.
            “Baiklah.”
            Setiap hari Tika menunggu Nina lewat. Tapi ketika bertemu dan ingin berkunjung ke rumahnya, Nina melarang. Tika bertanya kepada nenek mengapa Nina demikian.
            “Mungkin waktu itu dia akan berkunjung ke rumah saudara-saudaranya. Ini kan Lebaran. Jika cuma  mau silaturrahmi, mengapa tidak langsung pergi ke rumahnya. Kalau kecele, kamu datang lain waktu. Kamu kan lama liburan di rumah nenek,” saran nenek.
            “Iya, iya.”
            Tika berjanji suatu saat akan berkunjung ke rumah Nina.
@@@
            Suatu sore Tika pergi ke rumah Nina seperti saran nenek. Tika datang tanpa memberitahukan terlebih dahulu.
            Tok tok tok
            “Assalamualaikum,”
            “Walaikumsalam, ayo masuk,”
            Seorang wanita berjilbab membukakan pintu. Ternyata beliau bundanya Nina. Ketika Tika memperkenalkan diri, bunda langsung akrab.
            “Jadi ini cucunya Nek Rahma. Nina bercerita banyak tentang kamu. Bunda panggilkan Nina,” bunda lalu ke dalam.
            Di atas meja, Tika melihat kue-kue di stoples. Ada kue satru yang terbuat dari kacang hijau, opak gambir, lanting, dan ada satu lagi kue yang ia tidak mengerti. Bentuknya seperti roda. Satu stoples berwarna hijau muda, satu lagi pink.
            Tidak lama, Nina keluar sambil membawa nampan berisi dua gelas teh.
            “Maaf Tik, bundaku membuat kue-kue tradsional. Tidak seperti di rumah nenekmu. Kuenya lezat-lezat,” ungkap Nina sambil mempersilakan untuk mencicipi.
            “Mengapa kamu bilang begitu? Belum tentu kue tradisional tidak lezat.”    
Setelah mencicipi...
            “Hm, rasanya enak, renyah dan manis,” ungkap Tika ketika mencicipi kue seperti roda berwarna pink.
            “Itu namanya kembang goyang.” Kemudian Nina menerangkan mengapa dinamakan kembang goyang. Sebab ketika menggoreng harus digoyang-goyang hingga telepas dari cetakannya.
            “Benar kan, Nin, kue tradisional tidak kalah enak dengan kue modern,” jelas bunda kepada Nina. Ternyata di dalam, bunda mendengar semua pembicaraan keduanya.
            “Jadi selama ini kamu menolak aku ke mari karena malu. Bundamu benar, kue tradisional tidak kalah lezat dengan kue modern,” jelas Tika sambil menikmati kembang goyang.
“Kalau Tika mau, Bunda kasih. Kebetulan Bunda masih menyimpan. Tempo hari bunda membuat lagi karena kehabisan. Banyak tamu yang suka kembang goyang.”
Tentu saja Tika tidak menolak kue Lebaran buatan bunda itu. Bunda masuk tidak lama kemudian keluar dengan membawa sekantung plastik kembang goyang. Sejak saat itu Nina tidak malu lagi. Nina senang Tika datang dan menikmati kembang goyang karena di rumah neneknya tidak ada.
                                                                        @@@ 
Cernak ini pernah dimuat di harian Solopos, Minggu, 24 Juni 2018

Minggu, 20 Mei 2018

Cernak

Hari Pertama Puasa Bagi Fajar


      Badan Rafli terasa segar dibanding tadi siang. Hari ini puasa pertama Ramadan. Ia tidur sepulang sekolah hingga sore baru bangun. Setelah mandi sore dia pergi ke dapur. Ibu memintanya membantu memasak. Maklum ibu tidak mempunyai pembantu. Ketiga anak ibu lelaki. Kakak Rafli, Kak Fauzi, sibuk mengurus buka puasa bersama di sekolah. Sedangkan adiknya, Fajar, masih terlalu kecil. Dia belum dapat membantu ibu memasak.
       “Bu, mengapa ikan guraminya tinggal tiga? Bukankah tadi Bapak dapat empat ekor?” tanya Rafli setelah mengambil ikan-ikan dari kepis. Kepis adalah tempat menyimpan ikan setelah dipancing. Kepis terbuat dari bambu yang dianyam. Tadi pagi bapak memancing dari empang dan mendapat 4 ekor gurami. Lalu Rafli memberikan ikan gurami itu kepada ibu untuk diambil sisiknya.
       “Ibu lupa kalau hari ini sudah puasa Ramadan. Tadi ikan gurami yang ukuran kecil Ibu goreng untuk makan siang Fajar. Coba kamu tengok, apakah di meja makan masih ada sepiring nasi dan lauk ikan gurami yang ibu sediakan!” pinta ibu.
       Rafli langsung pergi ke meja makan. Dibukanya tudung saji. Benar dugaannya, di meja makan tidak ada sepiring nasi dan lauk ikan gurami. Rafli mencari Fajar. Tapi adiknya itu belum bangun dari tidur. Dia terlihat nyenyak.
       “Nasi dan ikan guraminya tidak ada, Bu, paling sudah dia makan dengan sembunyi-sembunyi. Ibu sih, sudah tahu puasa malah diberi makan,” tukas Rafli setelah sampai di dapur.
       “Iya, Ibu lupa,” jawab ibu dengan menyesal.
       “Kalau begitu nanti dia tidak boleh buka puasa bersama. Padahal tadi pagi ikut sahur. Nggak tahunya siang hari malah makan. Berarti dia bohong, mengaku puasa tapi siang hari makan,” kata Rafli jengkel.
       “Mungkin dia belum kuat puasa. Maklumlah, ini kan puasa pertamanya,” jelas ibu dengan sabar. “Sudah, sekarang segera diracik sayur lodeh itu. Ibu akan mengolah ikan gurami,” pinta ibu sambil menguliti sisik ikan gurami. Disamping itu ibu sambil menggoreng tahu dan tempe. Sore itu ibu memasak sayur lodeh dengan lauk ikan gurami, tempe, dan tahu goreng. Ibu juga akan membuat kolak pisang setup.
       “Nanti Ibu ingatkan lagi supaya puasa. Bukankah dia sudah janji mau puasa?”
       “Iya, nanti Ibu ingatkan lagi. Ayo cepat meraciknya. Nanti airnya keburu mendidih,” pinta ibu sambil memberi bumbu pada ikan gurami.
       “Baik, Bu. Ini sudah selesai tinggal dicuci.” Rafli pun segera mencuci sayur lodeh. Tidak lama kemudian dimasukkannya sayur-sayuran itu dalam air mendidih yang sudah diberi bumbu. Setelah itu diberi santan hingga matang.
      Rafli senang ketika Fajar berjanji akan berpuasa Ramadan. Sebelumnya Fajar tidak pernah puasa. Beberapa hari menjelang puasa Ramadan, ibu meminta Fajar supaya berpuasa. Mulanya Fajar menolak karena tidak tahan lapar dan haus. Begitu ibu menjanjikan hadiah, Fajar langsung bersemangat akan berpuasa.
      Jika kuat sebulan ibu memberi hadiah uang seratus ribu rupiah. Jika fajar tidak berpuasa sampai tiga hari, ibu memberi tujuh puluh lima ribu rupiah. Bila sampai satu minggu ibu memberi lima puluh ribu rupiah. Jika  kurang dari itu ibu hanya memberi sepuluh ribu rupiah.
      Setelah beberapa lama, azan Magrib berkumandang. Tanda waktu buka puasa tiba. Semua hidangan telah tersedia di meja makan. Rafli, ibu, dan bapak sudah bersiap di meja makan.  Sedangkan Kak Fauzi buka puasa bersama bapak dan ibu guru serta teman-temannya di sekolah. Pertama kali mereka minum teh manis hangat
      “Horeeee... buka puasa telah tiba,” sorak Fajar sambil menghampiri meja makan. Dia baru saja duduk-duduk di teras menunggu buka puasa. Kemudian dia menuangkan teh manis hangat dari dalam teko.
       “Kamu kan tidak puasa, Jar. Jadi kamu juga tidak buka puasa, tapi makan malam,” tukas Rafli.
       “Siapa bilang Fajar tidak berbuasa?” tanya Fajar agak marah.
       “Buktinya nasi dengan lauk ikan gurami pemberian Ibu tadi siang, kamu makan. Itu berarti kamu tidak puasa,” jelas Fajar.
       Fajar tidak menjawab, tapi buru-buru pergi ke belakang. Tidak lama kemudian dia keluar dengan membawa sepiring nasi dengan lauk gurami goreng.
       “Ini nasi pemberian Ibu. Fajar simpan di lemari belakang, supaya tidak kepingin.”
       Lemari belakang tempat ibu menyimpan perkakas dapur. Ibu jarang membukanya kecuali punya hajat.
       “O...,” Rafli manggut-manggut.
       “Puasa itu tidak hanya menahan haus dan lapar, Kak, tapi juga menjaga akhlak mulia. Diantaranya tidak berbohong atau berlaku jujur.”
       Rafli bangga melihat adik semata wayangnya bisa menjaga kejujuran. Hari pertama puasa mereka lalui dengan penuh suka cita. 
@@@
Cernak ini pernah dimuat di harian Lampung Post, Minggu, 20 Mei 2018.

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script>
  (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
    google_ad_client: "ca-pub-4969497520517963",
    enable_page_level_ads: true
  });
</script>



Minggu, 15 April 2018

Cernak

Ridho Anak Baru


         “Ridho mana?” tanya Fiky, sang ketua kelas, kepada teman-temannya yang masih berada di kelas. Beberapa waktu sebelum istirahat, Pak Alex menyerahkan surat pemberitahuan jadwal UTS (Ujian Tengah Semester) kepada Fiky agar dibagikan kepada teman-temannya. Pak Alex adalah wali kelas mereka. Begitu bel istirahat berbunyi, Fiky langsung membagikan. Tapi sebagian anak sudah keluar. Mungkin mereka segera ke kantin.
            “Ridho sudah keluar,” jawab Andre saat dicari Ridho tidak ada di kelas.
            “Itu Ridho sedang duduk di taman sambil membaca buku,” tukas Siswanto yang kebetulan akan ke kantin.Sebetulnya Siswanto teman sebangku Ridho. Tapi dia enggan berteman dengan Ridho.
            “Tolong panggilkan dia agar mengambil surat ini!” pinta Fiky. Fiky masih membawa beberapa surat pemberitahuan yang belum dibagikan kepada teman-temannya.
            “Malas, ah! Panggil saja sendiri!” jawab Siswanto.
            “Kalian kan teman sebangku,” ungkap Fiky heran.
            “Kamu tahu sendiri, Ridho budeg alias tuli. Kalau memanggil dia mesti teriak-teriak. Aku lapar mau ke kantin!” Kemudian Siswanto buru-buru pergi ke kantin. Begitu pun teman-teman lainnya.
            Fiky geleng-geleng kepala. Akhirnya dia memberikan sendiri surat berbentuk selembar kertas yang dilipat empat.
            “Ridho, “ panggil Fiky. Tapi Ridho tetap membaca buku sambil makan makanan yang dibawa dari rumah. Padahal jaraknya tidak jauh. Barulah setelah disentuh bahunya, Ridho menoleh.
            “Eh, Fiky.” Ridho tahu karena tidak disuka teman-temannya, ia suka menyendiri.
            “Ini surat pemberitahuan untuk orangtua,” setelah menyerahkan surat itu, Fiky buru-buru ke kantin.Disamping lapar, Fiky juga harus memberikan surat itu kepada teman-teman lain yang belum memeroleh.
            Begitulah Ridho, teman-temannya tidak suka bergaul dengannya. Karena Ridho agak tuli. Setiap kali berbicara dengannya harus keras.
            Sebagian teman-temannya menyangka Ridho tuli karena rambutnya yang gondrong. Sebagian rambut bagian samping menutupi telinganya.Mungkin karena itulah ia tidak begitu mendengar bila diajak berbicara. Beberapa hari lalu Pak Alex sudah mengingatkan supaya yang memiliki rambut gondrong dipotong. Disamping terlihat rapi, tidak mengganggu pendengaran.
@@@
            Ujian Tengah Semester sudah selesai. Pada hari Senin diadakan pemeriksaan kesehatan dari puskesmas. Sebagian murid sedih. Bahkan ada yang menangis. Sebetulnya pemeriksaan kesehatan dari puskesmas dilakukan tiga bulan sekali. Mereka diperiksa dari kesehatan rambut, telinga, gigi, mata, hingga bagian dalam, seperti amandel.
Biasanya sebelum pemeriksaan, beberapa hari sebelumnya setiap murid diberi surat pemberitahuan.Ternyata sebagian murid justru tidak masuk pada hari pemeriksaan. Mereka takut disuntik. Padahal tidak selalu dalam pemeriksaan ada suntikan. Oleh sebab itu pemeriksaan dilakukan secara tiba-tiba. Dengan demikian tidak ada yang membolos.
            “Sis, kepalaku pusing. Aku mau pulang saja,” ungkap Ridho tiba-tiba mengatakan kepalanya pusing.
            “Wah, kebetulan bukankah sedang ada pemeriksaan kesehatan dari puskesmas? Nanti kalau petugasnya sudah masuk dikelas kita, minta saja obat,” Siswanto memberi saran.
            “Tapi aku sudah tidak tahan. Aku minta izin pulang sama Pak Alex,”  jawab Ridho.
            Saat itu juga Ridho menemui Pak Alex yang sedang duduk di kursi guru. Ketika akan izin pulang, beliau melarang. Beliau juga menyarankan supaya nanti minta obat anti pusing dari petugas puskesmas. Tapi Ridho bersikeras ingin pulang. Syukurlah tidak lama setelah itu, dua petugas puskesmas masuk di kelas mereka.
            Karena mengeluh kepalanya pusing, Ridho diperiksa terlebih dahulu. Ketika diberi obat, Ridho malah menolak.
            “Saya tidak mau minum obat. Karena sebetulnya saya tidak pusing. Saya... saya... cuma takut disuntik... hu... hu... hu...,” ungkapnya sambil menangis.
            “Kami tidak akan menyuntik. Cuma memeriksa bagian organ-organ tubuh,” jelas petugas puskesmas. Petugas itu memeriksa rambut, mata, hidung. Ketika memerikasa telinga, petugas itu terheran.
            “Wah, banyak kotorannya.” Sampai beberapa lama petugas itu hanya membersihkan kotoran yang berada di dalam telinga Ridho. Petugas itu kaget.
            Barulah setelah itu Ridho mengaku tidak pernah memeriksakan kesehatannya. Setiap kali ada pemeriksaan dia tidak masuk sekolah. Alasannya karena takut disuntik.
            Semenjak itu Ridho tidak lagi tuli atau budeg. Teman-temannya senang bergaul dengannya. Apalagi dia juga memotong rambutnya. Sehingga seperti anak baru.
            “Wah, ada anak baru nih!” ledek Siswanto. Semua isi kelas yang pagi itu sudah datang ikut meledek. Mereka mengatakan Ridho anak baru.
            Semenjak itu bila ada pemeriksaan kesehatan, Ridho tidak takut. Bahkan dia senang. Sebab semua organ tubuhnya akan diperiksa supaya sehat. Bukankah di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat? Kini ia tidak minder lagi bergaul dengan teman-temannya.Begitu pun teman-temannya, senang bergaul dengannya.
@@@
Cerita ini pernah dimuat di surat kabar Fajar Makasar, Minggu, 15 April 2018