Iis Soekandar

Senin, 11 Maret 2019

Cerita dari Desa Suka Makmur

                                                                                 

          Desa Suka Makmur baru saja dilanda bencana banjir. Selama satu minggu hujan deras tidak reda. Di sampng itu ada tanggul yang jebol.Tapi penduduk bersyukur. Yang terpenting tidak ada anggota keluarga mereka yang menjadi korban. Semua selamat. Hanya perabot-perabot rumah tangga yang rusak.
            Setelah air surut, Pak Kades atau Pak Kepala Desa meminta semua warga bekerja bakti membersihkan rumah mereka masing-masing, juga lingkungannya. Tidak lupa anak-anak juga diminta berpartisipasi.
            Ipung pergi ke dapur. Ibu sedang memasak makanan untuk makan siang. Pagi tadi mereka sarapan nasi goreng. Walaupun tidak ada lauknya, rasanyaterasa nikmat. Maklumlah selama berhari-hari mereka hanya makan mi instan. Karena ibu tidak dapat ke pasar untuk membeli beras dan bahan-bahan makanan lain. 
          “Kamu mencari apa, Pung?” tanya ibu sambil meracik sayur lodeh. Ibu juga membeli ikan asin dan tempe. Kedua lauk itu akan digoreng.
            “Ipung mencari sampah plastik, Bu. Oya, tadi ibu membeli bahan-bahan makanan dibungkus pakai apa?” tanya Ipung.
            “Beberapa bahan makanan dibungkus pakai kantung plastik. Sebagian kertas koran dan daun. Memangnya buat apa kamu mencari sampah plastik?” tanya Ibu heran.
            “Tadi Pak Kades bilang supaya anak-anak ikut membantu kerja bakti, yaitu dengan mengumpulkan sampah plastik. Bagi yang mengumpulkan paling banyak, ada hadiahnya, Bu. Karena sampai plastik sulit diurai oleh tanah. Disamping itu bahan-bahannya bisa membunuh binatang-binatang di dalam tanah, seperti cacing. Juga mengganggu peresapan air ke dalam tanah. Mungkin banjir yang terjadi selain tanggul jebol juga banyaknya sampah plastik, Bu,” jelas Ipung panjang lebar.
            Ibu manggut-manggut sambil ber-o.
            “Sebelum mencari sampah plastik di luar rumah, terlebih dahulu harus yang berada di dalam rumah, Bu,” tambah Ipung sambil mengumpulkan sampah plastik dari tempat sampah. Lalu sampah-sampah itu dimasukkan dalam kantung plastik besar.
Ibu senang mendengar ide Pak Kades. Maklum pagi tadi saat Pak Kades memberi pengumuan, ibu sedang berbelanja di pasar. Selesai meracik dan menunggu air panas, ibu membantu mencarikan bekas bungkus-bungkus plastik yang berada di rumah.

                                                                                 

Di dalam rumah, Ipung menemukan beberapa kantung plastik. Yaitu bekas bungkus bahan makanan yang ibu belanja tadi pagi. Disamping itu ada bekas botol air mineral. Mungkin ayah atau Mas Hanung, kakaknya, yang membeli air mineral. Setelah itu barulah ia keluar rumah.
Di luar Ipung bertemu Radit, tetangga sebelah rumahnya. Radit juga baru saja membersihkan sampah plastik dari rumahnya.
“Radiat, kamusudah mendapatkan banyak sampah plastik,” tukas Ipung. Radit juga membawa kantung plastik hitam. Tetapi ukurannya lebih besar dibanding milik Ipung.
“Maklumlah keluargaku kan banyak. Mereka suka membeli air mineral saat bepergian. Karena masih tersisa lalu dibawa ke rumah. Makanya botolnya terkumpul banyak.Untuk mengurangi sampah plastik,lain kali ibu menyarankan supaya membawa botol dan air putih dari rumah,” jelas Radit.
Lalu keduanya mulaimencari sampah-sampah plastik di lingkungan rumah. Sampah plastik yang ditemukan tidak hanya kantung plastik dan bekas botol air mineral. Banyak juga sedotan. Lalu mereka juga mencari sampah plastik di lapangan dan taman. Mereka berlomba mencari sampah-samah plastik bersama anak-anak lain Desa Suka Makmur.
Siang hari, Pak Kades meminta anak-anak supaya mengumpulkan sampah-sampah plastik yang didapat. Pak Wawan, selaku humas desa, dibantu perangkat desa lain yang akan mencatat. Mereka memberi label bagian depan kantung yang dijadikan tempat sampah. Tentu saja sesuai nama pemiliknya. Kemudian sampah-sampah plastik yang didapat akan dihitung untuk dicari pemenangnya.
@@@
Hari Minggu, pukul sepuluh anak-anak mulai berdatangan di balaidesa. Untuk mengurangi sampah, terutama sampah plastik, mereka diminta membawa tempat makanan dan botol minunam dari rumah. Kemudian tempat makanan dikumpulkan di meja yang sudah disediakan. Para perangkat desa memberikan nasi, lauk, dan sayur di tempat makanan mereka. Sementara minuman, mereka bebas mengambil sendiri. Ada jus mangga, jus jambu biji merah, dan air mineral dalam galon.
Sebelum pengumuman para pemenang, Pak Kades memberikan sambutan. Beliau senang anak-anak bersemangat mengumpulkan sampah plastik.
“Setelah kami kumpulkan dan hitung, ternyata paling banyak mendapatkan lima puluh enam buah sampah plastik, kedua, empat puluh buah, ketiga, tiga puluh sembilan buah....”
Mereka menunggu dengan hati dag dig dug ketika Pak Wawan mulai mengumumakan para pemenang.
“Dan sebagai pemenang ketigaadalah... Lutfi...” semua bertepuk tangan. Lutfi maju ke depan. “Kedua.. Indah...” Indah pun maju ke depan. “sebagai pemenang pertama... Radit.”
Karena bangga melihat semangat anak-anak mengumpulkan sampah-sampah plastik, Pak Kades menambah lima pemenang lagi. Tentu berdasarkan nomor urut pengumpul sampah plastik terbanyak. Walaupun Ipung tidak memenangkan hadiah utama, dia termasuk yang mendapatkan lima hadiah hiburan. Karena termasuk lima orang pemenang tambahan.
Setelah pengumuman pemenang, tibalah makan siang. Setiap anak mengambil tempat makanan yang sudah diisi. Mereka juga mengambil minuman sesuai keinginan ke dalam botol.Semua bersuka cita menikmati hari bahagia.
@@@
Cernak ini pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Minggu, 10 Maret 2019               



Jumat, 01 Maret 2019

Persahabatan Wijay, Raka, dan Andi

                                                                                     

Bel pulang baru saja berbunyi. Setelah berdoa, anak-anak berhamburan keluar dari kelas. Mereka ingin segera pulang.
            “Wijay, kamu mau ke mana? Ayo, kita pulang!” ajak Raka sudah berada di atas sepeda. Begitupun Andi. Wijay menuju ke belakang. Mungkin dia akan ke kamar mandi.
            “Kalian pulang sendiri saja. Aku akan mengerjakan tugas di sini. Kalian tahu sendiri di rumah adikku banyak. Aku sering terganggu.”
            “Kita bisa belajar bersama. Seperti biasa di rumahku atau rumah Raka,” saran Andi. Wijay tidak mengindahkan. Dia terus berjalan menuju ke belakang.
            Tidak  lama Raka dan Andi pulang dengan mengendarai sepeda.
Walaupun tidak satu kelas, Raka, Andi, dan Wijay selalu berangkat dan pulang bersama.
            “Kenapa sih akhir-akhir ini Wijay tidak mau bersama-sama dengan kita lagi?” tanya Raka.
            “Aku juga tidak tahu. Tempo hari saat ibuku pergi ke pasar melihatnya. Dia berangkat pukul setengah enam pagi,” cerita Andi.
            “Ngapain dia berangkat sepagi itu?” tanya Raka terheran.
            Mereka membericarakan Wijay dengan menyayuh sepeda secara perlahan. Maklumlah, sudah siang, perut keroncongan. Mereka ingin segera sampai di rumah. Tidak terasamereka sampai di pengkolan, saatnya berpisah menuju rumah masing-masing.
@@@
           
            Pagi hari mereka sengaja berangkat awal. Mereka mencegat di depan gang, tetapi dengan sembunyi. Mereka ingin membuktikan apakah benar Wijay berangkat pagi sekali. Karena biasanya dia harus mengasuh adiknya yang balita pagi hari. Sehingga Wijay sering tiba di kelas menjelang bel masuk berbunyi.  
            “Nah itu Wijay!” tukas Raka saat melihat Wijay keluar dari gang.
            “Wijay... mengapa kamu berangkat sepagi ini?” tanya Andi.
            Wijay terpaksa berhenti. Keduanya kaget begitu melihat tas yang berada di stang sepeda. Biasanya Wijay membawatas punggung.
            “Aku malu. Aku terpaksa memakai tas kantung plastik. Itu sebabnya aku berangkat pagi sekali dan pulang paling akhir. Aku tidak  mau menjadi ejekan teman-teman.”
            Raka dan Andi manggut-manggut.
            “Kalian beruntung. Kedua orangtua kalian bekerja. Sedangkan ibuku mengasuh ketiga adikku. Sehingga tidak dapat membantu ayahku yang tukang becak,” ungkap Wijay sedih. 
Tidak hanya Wijay, Raka dan Andi sebetulnya juga sedih. Beberapa kali tas Wijay lepas jahitannya. Ibunya menjahit. Tetapi kali ini tidak dapat dipakai lagi. Keduanya mengetahui keluarga Wijay tidak mampu. Kemudian Raka, Wijay, dan Andi mengayuh sepeda bersama menuju ke sekolah.
            Pada saat istirahat Raka dan Andi sengaja menemui Wijay. Wijay diajak ke taman. Keduanya membicarakan rencana ingin menolong Wijay agar dapat membeli tas. Mulanya Wijay menolak. Tapi akhirnya dia menerima saran kedua sahabatnya. Yang terpenting dia dapat memiliki tas baru.


            Lawang Sewu salah satu tempat wisata di Kota Semarang. Tempat itu selalu ramai dikunjungi turis, baik lokal maupun mancanegera. Selain suvenir, dijual pula makanan khas.
            “Beli lumpia, Mbak. Ini makanan khas Semarang. Satu buah cuma tujuh ribu lima ratus rupiah. Mbak bisa pilih, yang goreng atau basah,” tawar Andi kepada dua orang gadis yang duduk di pinggir lokasi wisata. Mereka sedang beristirahat setelah berjalan-jalan.
            “Beli dua.” Masing-masing mengambil satu buah dengan tambahan cabe rawit.
            “O, iya, kalau Mbak butuh minuman, saya bisa usahakan es teh,” tambah Andi.
            “Wah, terima kasih, Dik, saya pesan es teh dua,” jawab salah satu gadis itu dengan senang. Kemudian Andi menghampiri Wijay.
Wijay tampak membagi uang dengan Raka. Kemudian mereka menuju ke tempat kedua gadis tadi.
“Ini, Mbak, teman saya yang jualan minuman.” Kedua gadis itu pun mengambil dua cup berisi es teh dalam nampan.
            “Selain lumpia, Semarang juga terkenal dengan wingko babat. Ada rasa stroberi, cokelat, durian, dan original,” tawar Raka.
            “Rasa stoberi?” Karena penasaran mereka pun membeli. Mereka membayar semua makanan dan minuman yang dibeli secara bersamaan.
            Begitulah kegiatan Andi, Wijay, dan Raka pada hari Minggu. Mereka saling membantu.
            Sore tiba. Wijay menghitung uangnya yang harus disetor ke Bu Mimin. Beliau penjual nasi rames. Tapi juga menjual minuman es teh dalam cup. Setiap cup Wijay mendapatkan keuntungan lima ratus rupiah. Sedangkan Andi membantu ibunya berjualan lumpia. Sementara Raka membantu ibunya berjualan wingko babat. Mereka menyetor setiap kali laku.
            “Terima kasih, kalian sahabat yang baik. Hari ini aku dapat laba dua puluh empat ribu. Aku yakin, selama beberapa minggu ke depan, uangku terkumpul banyak sehingga bisa membeli tas baru.”
            “Sahabat itu tidak hanya bersama saat senang, tapi dalam susah pun harus ikut merasakan dan membantu,” ungkap Andi. Raka mengiyakan.
            Ketiganya pulang ke rumah dengan hati gembira.
@@@
Cernak ini pernah dimuat di harian Lampung Post, Minggu 24 Februari 2019


Kamis, 21 Februari 2019

Kisah Para Princess dengan Pengalamannya

                                                                                   

Buku ini bercerita tentang kisah para putri atau princess. Karena tokohnya princess, settingnya di istana dan lingkungannya. Satu set buku yang terdiri dari enam buah ini ditulis oleh Liza Erfiana, penulis yang sudah berpengalaman menulis cerita anak, dengan ilustrator Adlina Aidid. Diterbitkan oleh Tiga Ananda, imprint Tiga Serangkai.
      Kali ini Liza Erfiana berkisah tentang enam princess dengan pengalaman-pengalamannya. Dan pengalaman-pengalaman itu dapat menjadi pembelajaran bagi anak-anak.
Seperti kisah Princess Fira. Karena tidak patuh terhadap saran bundanya, dia menanggung akibatnya. Begitupun cerita Princess Tania. Dia mengajak anak-anak tentang pentingnya membersihkan kamar. Dan apa akibatnya bila kamar tidak bersih dan kinclong?
                                                                         
                                                                    

         Lain lagi dengan pengalaman Princess Uta. Dia mendapat pengalaman indahnya berbagi kepada sesama dan hidup sederhana. Karena ternyata tidak semua anak beruntung seperti dirinya. Menjadi pribadi yang mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain adalah pengalaman yang dialami oleh Princess Tita.
                                                                            
                                                                          

          Sedangkan Princess Amanda menceritakan pengalamannya saat dia tidak percaya diri. Punya kekurangan tidak berarti tidak percaya diri. Tidak hanya berisi pendidikan karakter, dalam seri Princess Fini, dikisahkan pentingnya merapikan rambut. 
       
                                                                                 

Buku-buku tersebut sesuai dibaca oleh buah hati pembaca pemula, yaitu anak usia 5-7 tahun. Bahasanya komunikatif dan mudah dipahami. Ditunjang tampilan halaman full colour dan spreads (satu gambar untuk dua halaman) menjadikan pesan-pesan yang disampaikan penulis mudah diterima. Sebab anak pasti senang membaca ditunjang gambar-gambar yang mendukung. Dengan harga setiap buku Rp 25.000,00 membuat buku ini terbilang murah karena manfaat yang didapat setelah membaca.

                                                             

halaman spreads

Semoga bermanfaat, sampai bertemu pada resensi buku berikutnya.
@@@



Senin, 11 Februari 2019

Taman Indonesia Kaya

                                                                 panggung utama


          Namanya Taman Indonesia Kaya. Terletak di Jalan Mentri Supeno, berseberangan dengan SMA Negeri 1 Semarang. Dulu namanya Taman KB (Keluarga Berencana). Tetapi tidak terawat, gelap, terkesan kumuh, sehingga mengundang tindakan-tindakan negatif bagi remaja-remaja yang mengunjunginya. 

                                                                               
patung KB

         Semenjak beberapa waktu lalu, tepatnya bulan Oktober 2018, taman ini direnovasi oleh pihak swasta:pemilik produk rokok terkenal asal Kudus. Sekarang taman tersebut berubah nama menjadi Taman Indonesia Kaya. Kondisinya pun berubah seratus delapan puluh derajad. Taman Indonesia Kaya menjadi ruang publik yang representatif. Taman tersebut dapat dinikmati dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

                                                                           
anak-anak bebas bermain air mancur






          Dari arah Jalan Pahlawan, Anda akan dihadapkan pada pemandangan indah, yaitu air mancur. Air mancur ini ada dua lokal. Satu lokal di area bundaran yang hanya bisa dipandang dan swafoto. Ari mancur ini penuh warna-warni.Satu lokal lagisengaja berada di tempat bebas. Anak-anak dibiarkan bermain air mancur di sana.


         




            “Pada hari-hari biasa, air mancur beratraksi selama satu jam, yaitu pukul 19.00-20.00 WIB. Sedangkan pagi hari pukul 07.00-08.00 WIB. Tetapi bila pengunjung ingin menikmati lama, air mancur beratraksi selama tiga jam pada Sabtu dan Minggu malam, yaitu 19.00-22.00 WIB. Begitu pun pada Minggu pagi: pukul 07.00-10.00 WIB,” demikian kata Suwarno, salah satu petugas keamanan yang sempat saya temui.

                                                                                   
                                                   atraksi air mancur saat malam hari


          Tidak hanya atraksi air mancur, setiap Sabtu malam diusahakan ada hiburan musik. Bila hiburan musik dalam skala kecil, cukup diadakan di salah satu sudut taman. Tetapi bila melibatkan banyak pemain, hiburan diadakan di panggung utama. Seperti ketoprak dan wayang yang pernah tampil. Tersedia juga kamar rias.

                                                                                 

                                        salah satu SD swasta di Semarang mengisi hiburan


        Anda juga bisa datangwalau sekadar duduk-duduk menikmati indahnya malam dengan gemerlap lampu; disediakan pula bangku-bangku panjang yang nyaman. Tanahnya yang tidak rata, atau berbukit menjadikan taman ini sebagaitempat hiburan yang tepat di tengah kota. Tetapi Anda jangan berharap ada pedagang asongan akan menawari makanan dan minuman sebagaimana taman pada umumnya. Untuk menjaga kebersihan, pengelola sengaja melarang para pedagang masuk ke area taman. Jadi bagi Anda yang tidak tahan lapar, atau berjaga-jaga dari haus dan lapar, sebaiknya membawa makanan dari rumah atau membeli dari tempat lain. tempat-tempat sampah disediakan di sudut-sudut taman.

            Jadi tidak perlu jauh-jauh mencari tempat hiburan, Taman Indonesia Kaya dapat menjadi referensi kunjungan. Disamping mendapat hiburan, tidak perlu membayar uang.

@@@




Minggu, 03 Februari 2019

Mengapa Saya Menulis?



       Setiap orang melakukan sesuatu pasti mempunyai tujuan. Begitu pun ketika saya menulis. Ini alasan saya mengapa menulis.
1.Menghilangkan stres
Ada kalanya kita dihadapkan pada situasi seorang diri, jauh dari teman, saudara, ataupun kenalan. Sementara satu sisi, kita sedang terkena masalah. Maka langkah paling cepat agar tidak mengganggu pikiran dan aktivitas adalah dengan mengambil kertas dan pulpen. Atau seiring perkembangan zaman mengambil ponsel. Dengan menuliskan uneg-uneg ke dalam kertas atau ponsel, beban masalah terkurangi. Saya pun terbebas dari stres. Karena pikiran sudah lapang, biasanya saya sekalian menemukan solusinya.
2.Berbagi
            Uneg-uneg itu kemudian saya tindak lanjuti, melalui proses kreatif, menjadi sebuah karya. Lalu saya kirim ke media. Jika tulisan itu dimuat dan terpubikasi, pasti akan dibaca banyak orang. Saya pun berharap membawa manfaat bagi orang lain. Sebab sebaik-baik manusia yang berguna bagi orang banyak.
3. Menjadi diri sendiri
            Bagi saya, menulis saatnya bebas mengekspresikan diri. Dengan menulis saya bebas mengungkapkan yang ada dalam benak. Tanpa ada rekayasa dan protokoler apa pun. Bahkan ada kalanya dalam dunia nyata tidak tersampaikan, di tulisan terwujudkan.
4. Mendatangkan benefit
            Ketika karya dimuat di media, saya mendapatkan benefit. Biasanya berupa honor. Tetapi terkadang saya mendapatkan dua hal, yaitu honor dan kesempatan. Sebab ada media tertentu yang membuka kolom khusus. Dan saya memiliki kesempatan berkarya di dalamnya. 5. Melek teknologi
            Dengan menulis, itu berarti menuntut saya melek teknologi. Seperti mengirim pesan lewat email, berteman di sejumlah media sosial, membutuhkan keterampilan mengakses informasi dengan cepat.
6. Menghibur diri
            Di tengah kesibukan lain, saat situasi jenuh, seringkali menulis menjadi sarana refresing sejenak. Baik dalam situsi sedang berhadapan dengan kertas dan pulpen, apalagi bila berahapan dengan laptop.
            Terima kasih yang sudah mampir dan membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat! Semangat menulis, Teman-teman!
@@@

Minggu, 27 Januari 2019

Menuju USBN

                                                                                               

              USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) adalah salah satu serangkaian ujian yang harus dilalui siswa selain Ujian Nasional dan Ujian Praktik. Berbeda dengan Ujian Nasional yang hanya mengujikan empat pelajaran, USBN mengujikan semua mata pelajaran yang diajarkan. Meski soal-soal dalam USBN dibuat oleh guru masing-masing sekolah, harus ada patokan yang sama. Untuk itu dibuatkan pula kisi-kisi yang sama.
            Setelah beberapa waktu lalu bedah kisi-kisi Ujian Nasional, pada hari Jumat, tanggal 25 Januari 2019, mata pelajaran bahasa Indonesia subrayon 07 Semarang mengadakan bedah kisi-kisi USBN di SMP Kesatrian 2, Jalan Pamularsih, Semarang. Dalam kesempatan ini dibahas pula mekanisme Ujian Praktik.
Bertindak sebagai pembicara Bapak Sholihul Hadi, S.Pd., ketua MGMP bahasa Indonesia subrayon 07, sekaligus guru SMP Kesatrian 2.
            Kisi-kisi dibuat mengacu pada dua kurikulum yang dianut oleh sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan subrayon 07. Bagi sekolah yang menggunakan Kurikulum 13, pemerintah pusat membuatkan kisi-kisi. Begitupun bagi sekolah yang masih mengggunakan Kurikulum 2006 atau KTSP. Kemudian kisi-kisi itu dijabarkan dalam indikator-indikator soal.
Walaupun setiap sekolah diberi wewenang membuat soal sendiri, ada sebelas dari 45 soal atau sebanyak 25% dari pemerintah pusat. Jadi, sebanyak 75% soal dibuat oleh guru masing-masing sekolah.
            Mekanisme pembuatan soal diserahkan kepada peserta yang hadir. Apakah akan dikerjakan secara kelompok atau perorangan. Tentu saja masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
          Kelebihan pembuatan soal secara kelompok memliki tingkat ketelitan tinggi. Tetapi kekurangannya, `rasa` kondisi siswa pada sekolah yang diampu terabaikan. Padahal ujian diadakan untuk menguji akademik siswa sesuai kondisinya sehari-hari. Mengingat antara sekolah satu dengan lainnya memilik siswa dengan karakter yang berbeda. Hal ini sangat bisa dirasakan terutama bagi sekolah swasta. 
            Sementara soal yang dibuat secara perorangan kelebihannya ‘rasa` kondisi siswa tetap melekat. Tetapi tingkat ketelitian mungkin akan terkurangi. Sebab mengerjakan pekerjaan hanya sebagian, jika hal itu dikerjakan secara kelompok, pasti berbeda dibanding dengan mengerjakan sendiri.
Akhirnya keputusan diambil sesuai kebutuhan masing-masing, berkelompok atau perorangan. Yang terpenting adalah, indikator yang diamanatkan pada masing-masing kurikulum sebagaimana yang tertetara dalam kisi-kisi tersampaikan.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, setelah soal selesai dalam kurun waktu yang ditentukan, kira-kira dua minggu, verifikator kali ini dilakukan oleh tim yang ditunjuk, yaitu guru-guru bahasa Indonesia yang ada di subrayon tersebut. Setiap verifikator menanggungjawabi 4 atau 5 sekolah. Sedangkan sebelumnya dilakukan oleh Pengawas dari subrayon.
Setelah selama dua jam pembahasan, setiap peserta merasa puas sehingga mengemban tugas selanjutnya, yaitu membuat soal USBN dengan penuh semangat. Demi kesuksesan siswa binaan masing-masing.
                                                                 @@@ 

Minggu, 20 Januari 2019

Jelang Ujian Nasional 2019

                                                                                     

          Bertempat di SMP Tunas Harum Bangsa, Sabtu, 12 Januari, 2019 guru mata pelajaran bahasa Indonesia se-Kota Semarang atau sebanyak 180-an mengikuti Seminar Bedah Kisi-Kisi dan SKL (Standar Kompetensi Lulusan).
            Bedah kisi-kisi dan SKL adalah acara tahunan bagi keempat pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional, yaitu bahasa Indonesia, Matematika, bahasa Inggris, dan IPA. Kebetulan tahun ini diselenggarakan pada hari dan tanggal yang sama. Hanya tempatnya yang berbeda. 
              Walaupun pemerintah tidak mematok sebagai penentu kelulusan sebagaimana yang pernah berlaku, hasil Ujian Nasional atau UN sebagai persyaratan siswa diterima atau tidak pada sekolah yang diinginkan. Terlepas dari unsur-unsur lain,  seperti ketentuan zona dan kategori siswa miskin. Idealnya pasti setiap siswa menginginkan sekolah favorit yang juga menjadi dambaan para pesaingnya dari sekolah-sekolah lain.
Itu sebabnya perlu adanya kesamaan dalam penentuan kisi-kisi dan SKL, baik bagi sekolah negeri maupun swasta. Sehingga diharapkan pada akhirnya siswa dapat bersaing dalam mendapatkan sekolah yang diinginkan, walaupun dia berasal dari sekolah tidak favorit.  
Tepat pukul 09.30 WIB acara dimulai. Setelah melalui serangkian ritual, seperti menyanyikan lagu Indonesia Raya, PJMP bahasa Indonesia SMP, Drs. Eko Djatmiko, M.Pd. yang juga Kepala SMP Negeri 3 Semarang memberikan sambutan. Di antara sambutannya bahwa ibarat guru sebuah pohon, dia punya kewajiban mengarahkan ranting-ranting soal menuju ke arah mana sehingga siswanya dapat menerima dan menyelesaikan dengan baik.

                                                               
                                                       Drs. Eko Djatmiko, M.Pd. 

Selanjutnya acara yang ditunggu-tunggu tiba. Bedah kisi-kisi dan SKL dengan narasumber Rohmani, M.Pd. guru bahasa Indonesia SMP Negeri 189 Jakarta.

                                                                           
                                                                          Rohmani, M.Pd.

Diawali dengan penjelasan tujuan diadakan acara tersebut: menjelaskan kisi-kisi soal UN, membandingkan karakteristik tiga level dalam soal bahasa Indonesia, menjelaskan prinsip penjabaran kata kerja operasional pada berbagai level, menjabarkan kata kerja dan cakupan kisi UN menjadi penjabaran indikator, mengelompokkan soal HOTS (Higher Order Thingking Skill), dan membuat contoh soal HOTS dari penjabaran kisi-kisi UN.
Selanjutnya dijelaskan satu per satu secara rinci. Termasuk tiga level soal kognitif, yaitu level 1 bersifat pengetahuan dan pemahaman, level 2 bersifat aplikasi, sedangkan level 3 penalaran. Ketiga level tersebut diberikan pada setiap lingkup materi.
Terjadi dialog interaktif di sela-sela pemaparan. Narasumber yang selalu mempersilakan peserta bertanya setiap menemui uneg-uneg, membuat suasana berjalan begitu hangat. Hal ini terbukti ketika salah satu peserta bertanya tentang ketiadaan puisi dalam soal UN sementara dalam cakupan materi yang dijarakan ada karya sastra tersebut. Dijelaskan puisi dapat dijadikan dalam USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional).
Tidak terasa waktu menunjuk hampir pukul 13.00 WIB. Kisi-kisi dan SKL telah dijabarkan, lengkap dengan contoh-contoh soal dan cara penyelesaian yang efektik dan mudah dikerjakan siswa. Tinggal bagaimana guru mentransfer semua ilmu yang didapat ke dalam pemahaman siswa, yang bisa jadi antara kelas satu dengan kelas lainnya tidak sama. Karena setiap siswa adalah unik. Pastilah memiliki kelemahan di antara segudang kelebihannya, begitupun sebaliknya, memiliki kelebihan di antara segudang kekurangannya. 
Semoga niat baik ini terberkati, terlebih bermanfaat bagi siapa saja yang membaca.
                                                                        @@@