Iis Soekandar

Minggu, 15 Januari 2017

Fabel

Kancil Yang Cerdik
Diceritakan kembali oleh: Iis Soekandar

                                                     Ilustrasi: Ochim dan Bisrie


      Di bawah pohon yang rindang terlihat seekor binatang tertidur lelap. Binatang itu bernama kancil. Saat itu angin semilir sepoi-sepoi. Kancil tidur semakin nyenyak. Tiba-tiba ia dibangunkan oleh seekor monyet.
       “Kancil ... kancil ... “ panggil si Monyet sambil menyentuh punggungnya.
       Kancil setengah sadar dan tidak menghiraukan. Ia berpikir monyet akan menawarinya pisang. Padahal saat itu kancil sudah kenyang. Ia hanya membutuhkan tidur dengan tenang.
       “Kancil, kamu enak-enak tidur, ada kebakaran. Desa ini akan terbakar,” jelas monyet lalu pergi.
 “Apa? Kebakaran? Hah, desa ini akan terbakar?” tanya kancil gelagapan langsung terbangun.
       Kancil mencari-cari monyet, tapi monyet sudah menggelantung dari pohon ke pohon untuk menyelamatkan diri. Kancil segera berlari. Ternyata benar. Semua binatang berlari sekuat tenaga. Anjing, rusa, celeng, dan binatang-binatang lain berlari ketakutan.
       Kancil terus berlari hingga tidak melihat lagi teman-temannya. Ia kelelahan lalu beristirahat. Tentu saja perutnya lapar karena ia telah berlari jauh dan kencang. Jalannya perlahan. Kancil melihat sekeliling.  Ternyata ia menemukan ladang sayur.
       “Aha, ini kan timun,” kata kancil.
       Ia menoleh ke kanan, kiri, depan, dan belakang.
      “Syukurlah, tidak ada Pak Tani. Jadi aku bisa makan timun dengan lahap. Asyiiiiik....”
       Kancil makan mentimun hingga kenyang. Setelah itu ia pergi.
       Keesokan hari Pak Tani datang menengok ladangnya.
    “Lho, mengapa timunku tinggal sedikit? Tanamanku jadi acak-acakan. Siapa yang telah menghabiskan timunku?”
       Pak Tani ingin marah. Tapi kepada siapa? Akhirnya sore hari Pak Tani pulang ke rumah.
       Tidak lama kancil datang. Ia sengaja datang pada saat sepi. 
       Keesokan hari Pak Tani ke ladang, Mentimunnya hilang kembali. Kejadian mentimun hilang terjadi berkali-kali.
     Pak Tani jengkel lalu membuat jebakan. Pak Tani membuat kerangka orang-orangan dari ranting dan bambu. Setelah itu Pak Tani memberinya pakaian. Kepala orang-orangan itu pun diberi caping.
       Sore hari saat datang, kancil kaget. Ah, ternyata Pak Tani masih di ladang. Aku akan tunggu hingga Pak Tani pergi. Ini sudah sore. Paling sebentar lagi Pak Tani pulang. Kancil berkata dalam hati. 
      Setelah ditunggu ternyata Pak Tani tidak pulang. Sementara perut kancil terus keroncongan. Kemudian kancil datang dan meminta maaf.
       “Pak Tani, aku minta maaf. Selama ini yang mengambil timun aku. Aku boleh ya ambil lagi? Lho Pak Tani... kakiku... kakiku.... “ 
     Kancil tidak tahu tangan orang-orangan diberi pulut, yaitu semacam lem. Maka kaki kanan kancil pada bagian depan lengket dengan tangan orang-orangan.
       “O... jadi selama ini yang mencuri timunku kancil! Kamu akan kujadikan sate nanti malam,” kata Pak Tani setelah keluar dari tempat persembunyiannya.
      Kemudian Pak Tani membawa kancil ke rumah. Kancil hanya bisa menangis. Sampai di rumah ia dimasukkan dalam kurungan. Sementara Pak Tani istirahat. 
       Tidak lama anjing Pak Tani mendekat.
       “Mengapa kamu di sini?” tanya anjing.
       “Aku akan diajak pesta Pak Tani,” jawab kancil.
       “Tidak mungkin. Aku yang sudah lama di sini tidak pernah diajak pesta.”
     “Benar, kalau nggak, ngapain aku ada di sini. Tapi aku capek, tidak mungkin datang ke pesta. Habis perjalanan dari ladang ke rumah Pak Tani jauh. Kamu gantikan aku aja ya?”
       Kancil terus merayu. 
       “Kamu kan yang diajak ke pesta. Kok malah aku yang menggantikan.”
       “Tenang. Makanya kamu buka dulu kurungan ini. Ganti kamu yang masuk. Terus aku bilang dulu Pak Tani.”
       “Oke.” jawab anjing senang. Akhirnya anjing terkena bujuk rayu kancil. 
     Anjing membuka kurungan itu. Kancil pun keluar. Anjing menggantikan kancil dan berada di dalam kurungan. Kancil kemudian pergi.
       Anjing terus menunggu. Tapi kancil tidak pernah kembali. 
      Dari kejadian itu kancil menyadari kesalahannya. Ia tidak boleh mengambil milik orang lain.
@@@

Sabtu, 07 Januari 2017

Dapur Saya

Lunpia Isi Bengkuang


     Lunpia adalah makanan khas Semarang, selain wingko babat. Sebagian orang tidak suka lunpia karena isinya. Isi lunpia rebung. Bau rebung inilah yang tidak disukai. Orang Jawa mengatakan, bau pesing.
      Dengan memanfaatkan kearifan lokal lain, rebung bisa diganti dengan buah bengkuang. Buah bengkuang beraroma manis dan termasuk buah sepanjang musim. Jadi sehari-hari mudah didapat di pasar-pasar tradisional. Harganya lebih murah dibanding rebung. Begitupun cara memasaknya jauh lebih mudah. Buah bengkuang hanya dicuci satu kali tetapi rebung harus berkali-kali untuk mengùrangi bau tidak sedap.
     Inilah resep sederhana membuat lunpia isi bengkuang.                                                           
Bahan dan bumbu:
1. buah bengkuang 4 ons
2. bawang putih 3 siung
3. lada 1/2 sendok teh
4. gula pasir 1 sendok makan peres
5. garam secukupnya.
6. kecap manis secukupnya
7. penyedap secukupnya
6. Minyak goreng untuk menggoreng
8. kulit lunpia (lebih efektif membeli)
Cara membuat:
1. Potong bengkuang sebesar batang korek api.
2. Haluskan semua bumbu kemudian tumis.
3. Setelah  bumbu berbau harum, masukkan bengkuang aduk hingga layu lalu masukkan kecap.
4. Angkat dari penggorengan kemudian isikan adonan ini ke dalam setiap lembar kulit.
5. Bentuklah memanjang.
5. Setelah semua adonan habis, goreng dalam minyak banyak.
6. Tunggu hingga kecoklatan. Lunpia siap disajikan.
Resep ini untuk sepuluh porsi. Selamat mencoba dan menikmati !
@@@

Minggu, 01 Januari 2017

Resensi

Belajar Akhlak Mulia dari Teman


Judul buku                  : Teman Baru Jung Yun
Penulis                        : Ungu Lianza
Penyunting bahasa      : Ayu Wulan
Ilustrator                     : Naafi Nur Rohma
Penerbit                      : Lintang (Kelompok Penerbit Indiva Media Kreasi)
Ketebalan                   : 136 halaman
Ukuran                       : 20 cm
ISBN                          : 978-602-6334-06-0
Cetakan I                    :  Oktober 2016
Harga                          : Rp 25.000,00
       Novel ini berlatar belakang negeri Korea. Jung Yun seorang anak lelaki berkewarganegaraan Korea. Suatu hari ia mendapatkan teman baru di sekolah. Namanya Zaim. Zaim berasal dari Indonesia. Orangtua Zaim kebetulan sedang bertugas di Korea. Ia dan keluarganya ikut serta. Gayuh bersambut, ternyata ayah Jung Yun sudah akrab dengan Zaim. Karena dulu saat ayah Jung Yun bertugas di Indonesia, Zaim dan keluarganya banyak menolong.

     Awalnya Zaim tidak disukai teman-temannya. Menurut mereka sikap Zaim aneh, diantaranya suka menolak ketika ditawari makanan. Sampai suatu saat ketika lomba sience, Zaim memberikan masukan. Dan masukannya itu sangat berarti hingga akhirnya kelas mereka menjadi juara. Apa masukan yang berarti hingga kelasnya menjadi juara? Tentunya hanya bisa dibaca lewat novel berjudul “Teman Baru Jung Yun”.
       Hal positip dari novel ini melihat indahnya persahabatan. Jung Yun mengenal akhlak mulia dari Zaim. Zaim yang ramah, suka senyum. Bahkan ketika ia dibenci teman-temannya karena salah sangka, Zaim tidak marah. Perbedaan agama yang membuat mereka salah sangka. Seperti ketika Zaim menolak ditawari makanan. Ia dianggap sombong, padahal Zaim sedang berpuasa Senin-Kamis. Dari sinilah anak-anak bisa belajar tentang ajakan puasa sunnah Senin-Kamis. Tidak hanya puasa sunnah, Zaim juga mengajak salat Dhuha. Sebab salat Dhuha banyak memberikan kebaikan.
       Novel ini bermanfaat dibaca bagi anak-anak SD. Disamping mengajarkan sariat agama, juga pentingnya memilih sahabat yang berakhlak mulia. Sebab dengan memiliki sahabat berakhlak mulia, secara langsung atau tidak, mereka juga belajar memiliki akhlak mulia pula. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami oleh anak-anak. Beberapa halaman bergambar membuat anak-anak tertarik membaca. Selayaknya novel ini menambah koleksi perpustakaan pribadi.
@@@

Sabtu, 24 Desember 2016

Dongeng

Meme dan Sisi

Oleh: Iis Soekandar



Meme meja guru dan Sisi kursi guru selalu bahagia bila pagi tiba. Tidak lama lagi Pak Tresno, pembantu sekolah, akan membersihkan mereka. Sedangkan siang hari sepulang sekolah Pak Tresno menyapu lantai.
       Kreeeek... Pintu kelas terbuka.
       “Asyiiiiik... Pak Tresno datang!” kata Meme girang.
       “Kita akan dibersihkan,” Sisi menambahkan.
       Vas bunga di atas taplak diambil. Begitu pun taplak yang menempel Meme. Kemudian Meme dilap dengan kemoceng. Sesaat ketika dilihat ada yang terkena lem, beliau mengambil sedikit air. Bagian Meme yang terkena lem dihilangkan hingga licin kembali.
       “Lihatlah, aku kinclong kembali!” ungkap Meme penuh rasa bangga kepada meja-meja siswa. Meja-meja siswa menaruh rasa iri. Apalagi pagi itu Pak Tresno mengganti taplak lama dengan yang baru.
       “Ah ya Meme ini kan hari Senin. Pantas saja Pak Tresno mengganti taplakmu. Dan wajahmu semakin cantik dengan vas dan bunga mawar warna pink,” puji Sisi.
       Meme bertambah senyum-senyum bangga memamerkan dirinya kepada meja-meja siswa.
       “Saatnya aku dibersihkan,” ganti Sisi yang bangga.
       Kursi-kursi siswa menaruh rasa iri.
       Sisi dibersihkan pada bagian duduk dan sandaran. Sebelum Pak Tresno pergi diperiksanya sekali lagi Meme dan Sisi. Setelah Meme dan Sisi tampak bersih dan rapi, beliau memperhatikan meja-meja dan kursi-kursi siswa. 
       Meme dan Sisi melihat Pak Tresno berdiri di depan kelas. Beliau tidak jadi membersihkan meja-meja dan kursi-kursi siswa. Sesaat kemudian beliau keluar lagi.
       “Kasihan semua meja dan kursi siswa, Me,” ungkap Sisi mengejek.
        Meme dan Sisi melihat semua meja dan kursi siswa iri. Tempat duduk mereka tidak diberi bantalan begitu pun sandarannya. Meja-mejanya pun tidak diberi taplak dan vas bunga.
@@@
       Suatu pagi seperti biasa, Meme dan Sisi bahagia melihat kedatangan Pak Tresno. Tapi kali ini beliau tidak hanya membawa lap dan kemoceng. Di tangan kanannya ada sesuatu. Oh ternyata Pak Tresno membawa jam dinding baru. Jam dinding yang terpasang di dinding di atas papan tulis rusak. Jarumnya tidak dapat bergerak lagi.
      Vas bunga dan taplak yang menempel Meme dilepas Pak Tresno. Meme girang, pasti tidak lama lagi beliau akan membersihkannya. Tapi tiba-tiba...
       Kreeeeek....
       Meme didorong Pak Tresno, begitu pun Sisi. Mereka ditempatkan tepat di bawah jam dinding yang rusak. 
       “Aduh...!” kata Sisi. Tempat dudukan Sisi diinjak Pak Tresno.
       “Aduuuuh, gimana sih Pak Tresno! Mengapa aku diinjak-injak?” protes Meme.
       “Ha ha ha... “ semua meja dan kursi siswa tertawa. Kini mereka bersenang-senang karena tidak diinjak kaki Pak Tresno.
       Uh mentang-mentang kita letaknya paling depan.Kita dijadikan pijakan, gerutu Meme dan Sisi.
       Ternyata dalam hidup ini tidak selalu beruntung. Ada kalanya merasakan tidak enak. Semenjak itu barulah Meme dan Sisi menyadari bahwa mereka tidak boleh sombong.
@@@



      
      
       

Sabtu, 17 Desember 2016

Jalan-jalan

Mengenal Lebih Dalam Kota Lama Semarang

       Belanda menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Banyak pengaruh dan peninggalan yang tersisa di Indonesia. Diantaranya peninggalan bangunan bergaya Eropa. Tidak heran bila kota lama tidak hanya terdapat di satu tempat seperti Jakarta, Semarang pun memiliki Kota Lama. Kawasan Kota Lama di Semarang terletak di seputar Jalan Letjen Suprapto. Dan mungkin ada lagi kota lama di kota-kota lain sebagai peninggalan Belanda.
       Berkunjung ke Kota Lama Semarang, tidak bisa lepas dari Gereja Blenduk. Gereja yang memiliki nama asli Gereja Immanuel ini menjadi ikon Kota Lama Semarang. Sehingga Gereja Blenduk tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tapi juga banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun asing. Setiap hari banyak wisatawan yang datang, sekadar ingin melihat dan berfoto. Bentuknya yang khas, mblenduk dengan genting berwarna merah bata, membuat gereja ini lebih dikenal dengan Gereja Blenduk dibanding Gereja Immanuel.   Gereja Blenduk dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1763 dan mengalami perbaikan pada tahun 1894. Hingga kini Gereja Blenduk masih berdiri megah.


       Sayang tidak semua bangunan peninggalan Belanda dilestarikan. Sebagian dibiarkan rusak bahkan ada yang musnah karena tidak terawat. Berikut ini beberapa bangunan lain, selain Gereja Blenduk,  yang masih tersisa dan berfungsi dengan baik.
        Gedung Jiwasraya ini letaknya berseberangan dengan Gereja Blenduk. Gedung berlantai tiga lantai  didirikan oleh perusahaan pelaksana bangunan gedung zaman Belanda bernama Hollandsche Beton Maatschappij (HBM).


       Berderet dengan Gedung Jiwasraya adalah kantor pengadilan. Tapi gedung ini sekarang menjadi restoran ikan bakar.


       Masih terletatak di Jalan Letjen Suprapto berdiri megah gedung berlabel Spiegel. Gedung ini adalah toko H Spiegel yang menjual berbagai macam barang milik perusahaan Winkle Maaatschappij. Barang yang dijual kain, peralatan rumah tangga, dan keperluan olahraga. Dibangun pada tahun 1895 oleh Tuan Addler. Awalnya Tuan H Spiegel menjadi manager, kemudian menjadi pemiliknya. Gedung ini sekarang menjadi sebuah kafe.


       Bangunan lain adalah Gedung Neherlands Handel Mascaapi. Gedung ini terletak di Jalan Mpu Tantutar,  bersebelahan dengan Jalan Letjen Suprapto. Sekarang gedung ini ditempati salah satu kantor bank nasional.


       Berbeda dari gedung-gedung lain yang telah beralih fungsi, kantor pos pada zaman Belanda masih berfusngsi hingga sekarang. Bahkan menjadi Kantor Pos Besar di Kota Semarang. Bedanya dulu kantor pos menyatu dengan kantor telegraf. Tapi kemudian hanya berfungsi sebagai kantor pos. Kantor pos yang dibangun pada tahun 1906 terletak di Jalan Pemuda, tidak jauh dari Jalan Mpu Tantular. Kota Semarang termasuk tiga kota pertama di Indonesia yang memelopori jasa pos, disamping Jakarta dan Surabaya. Pada tahun 1979 pernah dilakukan pemugaran.


       Tentunya masih ada gedung-gedung lain yang tidak kalah menarik. Jadi jangan segan mampir ke kota lama jika Anda kebetulan berwisata ke Kota Semarang. Atau bahkan sengaja berkunjug ke Kota Lama Semarang, sebagaimana para turis lain. Selamat menikmati liburan!

                                                                            @@@

Selasa, 29 November 2016

Resensi


                       Cara Lain Mengenal Tempat-Tempat Terkenal Dunia

Judul Buku : Keliling Dunia dengan Becak Ajaib
Penulis: Fida Zalfa
Editor: Hariyadi
Penerbit            : Tiga Ananda
Ketebalan         : 95 halaman
Ukuran              : 21 cm
ISBN                 : 978-602-366-165-7
Cetakan 1         : Juni 2016
Harga         : Rp 25.000,00
       Cerita ini berawal dari Lisha yang menagih ibunya mengunjugi Taman Bermain Rainbow Peak. Taman Bermain Rainbow Peak dambaan setiap anak. Itu sebabnya ketika Lisha berhasil mendapat peringkat satu di kelasnya, ia ingin ibu memenuhi janjinya. Dan ibu pun menepatinya. 
       Ketika tiba di Taman Bermain Rainbow Peak, Lisha mendatangi Pedicap Fastival. Maka petualangan Lisha bersama teman baru yang dikenalnya di Padicap Festival, Kety dan Danella, pun dimulai. Mereka bertiga mengendarai becak. Tapi bukan becak pada umumnya. Sebab becak ini bisa menerbangkan mereka ke penjuru dunia. Dari Benua Asia, Benua Eropa, Benua Afrika, hingga Benua Amerika. Hanya Benua Australia yang tidak mereka kunjungi. Sebab mereka terlanjur letih setelah perjalanan keliling dunia. Akhirnya setelah dari Benua Amerika, mereka langsung pulang ke Indonesia. Becak yang mereka kendarai tiba kembali di Padicap Festival, Taman Bermain Rainbow Peak.
       Novel berjudul “Keliling Dunia dengan Becak Ajaib” sangat berguna bagi anak-anak. Tidak saja novel ini sebagai teman pengisi waktu, tapi juga memberitahukan tempat-tempat terkenal di dunia. Seperti sungai terpanjang di dunia, Sungai Nil, gurun terluas di dunia, Gurun Gobi, dan tempat-tempat terkenal dunia lain.
       Sisi lain novel ini mengajarkan kepada anak-anak pentingnya bebas polusi. Becak dipilih sebagai kendaraan untuk mengelilingi dunia. Karena becak adalah jenis kendaraan bebas polusi. Walaupun mereka hidup pada tahun 3001 yang semua peradaban canggih, bebas polusi untuk menjaga kesehatan tetap diperhatikan. Disamping itu, beberapa halaman bergambar membuat anak-anak semakin senang membaca.
       Hanya saja, bahasa yang digunakan sebagian dialog kurang santun untuk ukuran anak-anak. Bacaan secara langsung atau tidak juga sebagai pemodelan bagi mereka, termasuk pemakaian bahasa. Namun terlepas dari kekurangannya, novel ini layak dikoleksi, setidaknya sebagai penumbuh minat baca anak-anak.
@@@



Sabtu, 12 November 2016

Cerita Anak


Asyiknya Bermain Bersama Teman
Oleh: Iis Soekandar



       “Hu… hu… hu… “Andi menangis sambil berlari kencang. Ia mengejar Om Wawan yang akan ke rumah teman kuliahnya. “Hu… hu… hu… Om Wawan ikut… Om Wawan ikut…” Andi terus berlari. Padahal Om Wawan naik kendaraan.
“Andi… Andi… “ teriak Mama.
       Tidak lama mama berhasil mengejar Andi. Beruntung Om Wawan pergi belum begitu jauh dan mendengar tangisan Andi. Om Wawan berhenti. Mama pun lega. Sebab setelah gang, jalan raya. Andi kemudian didudukkan di boncengan kendaraan Om Wawan. Lalu mereka mengelilingi gang.
       Setelah itu Om Wawan menyerahkan Andi kepada mama. Andi kembali menangis ingin ikut Om Wawan. Mama terus menghibur hingga Andi melupakan Om Wawan dan tidak  menangis. Tapi mama tidak lagi khawatir karena Andi menangis di dalam rumah. 

       Begitulah Andi setiap kali melihat orang pergi. Entah papa, Om Wawan, atau Tante Mira. Om Wawan dan Tante Mira adalah dua adik mama yang masih kuliah. Mereka tinggal bersama mama dan papa karena kuliah di kota ini. Sementara kakek dan nenek tinggal di kampung.
                                                                  @@@
       Suatu saat Papa sedang tugas ke luar kota. Om Wawan dan Tante Mira pulang kampung menengok nenek dan kakek. Andi sendirian di rumah hingga berhari-hari. Ia merasa kesepian. Maklumlah Andi anak tunggal. Terpaksa Andi bermain mobil-mobilan koleksinya.
     Hari pertama dan kedua Andi sendirian di teras bermain mobil-mobilan. Hari ketiga Faza, tetangganya, melihat dan nyeletuk.
“Andi, mobil-mobilanmu banyak. Bagus-bagus lagi.” kata Faza masih di depan pintu pagar.
“Iya, semua ini koleksiku.” Ungkap Andi.
“Aku boleh tidak ikut bermain?” tanya Faza.
“Tentu saja boleh, daripada aku sendirian. Ayo ke mari!” ajak Andi.
       Mereka pun bermain mobil-mobilan. Andi mempunyai tujuh mobil-mobilan. Sore itu Andi pura-pura berdagang mobil. Faza sebagai pembelinya. Mereka tawar menawar. Faza sempat bermain mobil setelah memiliki salah satu mobil itu. Sayang, tidak lama kemudian menjelang senja.
“Andi, sayang sudah sore. Sebetulnya aku masih ingin main mobil-mobilan bersamamu.” Kata Faza sedih.
“Iya, ya, kalau begitu, bagaimana kalau besok sore kamu main lagi kemari?” ajak Andi.
“Setuju,” jawab Faza penuh semangat.
       Faza segera pulang ke rumah.
       Hari berikutnya, seperti yang sudah dijanjikan, Andi kembali bermain bersama Faza. Bahkan tidak hanya Faza, Arka, tetangga lainnya yang mengetahui keasyikan mereka, ikut bergabung. Apalagi Arka juga mempunyai koleksi mobil-mobilan yang tidak kalah banyak. Mereka pun bermain balap mobil bersama.
       Semenjak itu Andi tidak lagi menangis bila melihat papa, Om Wawan, atau Tante Mira pergi. Ternyata lebih asyik bermain bersama teman-temannya di rumah. Mama pun tidak khawatir Andi sampai di jalan raya yang bisa membahayakan keselamatannya.
                                                                          @@@