Iis Soekandar: Masker Batik Buatan Pak Tikno

Kamis, 07 April 2022

Masker Batik Buatan Pak Tikno

                                                                                          

Langit tampak cerah. Berbeda dari biasanya, hujan turun beberapa hari terakhir. Di ufuk barat, matahari masih menyinarkan sinarnya. Suasana kampung ramai. Apalagi ini hari Minggu, hari libur. Sebagian anak bermain sepeda. Ada pula yang membeli kue. Beberapa tukang kue menjajakan jualannya. Ada juga yang hanya jalan-jalan.

Tidak lama Dhimas dan orangtuanya pulang dari bepergian. Mereka mengendarai sepeda motor. Begitu turun dari sepeda motor, Dhimas langsung menghampiri penjual putu bumbung yang mangkal di seberang rumahnya. Putu bumbung banyak disukai anak-anak. Selain rasanya lezat, putu bumbung menimbulkan bunyi ngiiiiiing saat dimasak.

“Tumben kamu pakai masker,” tegur Alvin yang sudah terlebih dahulu mengantre membeli putu bumbung. Biasanya, Dhimas enggan memakai masker saat keluar rumah. Kecuali dia pergi bersama kedua orangtuanya.

“Sssttt…. jangan keras-keras, nanti terdengar orangtuaku. Mereka juga menunggu ingin segera makan putu bumbung,” jelas Dhimas. Kedua orangtuanya sedang bercakap-cakap di teras.

Dhimas dan orangtuanya baru saja dari tempat wisata. Karena masih masa pandemi, mereka berwisata ke tempat wisata dalam kota. Sebagaimana kesenangan Dhimas, mereka pergi ke Monumen Tugu Muda. Monumen Tugu Muda dibuat untuk mengenang jasa pahlawan sehingga Kota Semarang terbebas dari penjajah. Di sekeliling Tugu Muda ada kolam dan air mancur. Dhimas paling suka berswafoto dengan latar belakang air mancur. Apalagi, sore itu cuaca cerah sehingga air mancur dinyalakan. Di sana juga ada taman untuk tempat bermain.

Setelah menunggu beberapa lama, Dhimas pulang dengan membawa sepuluh buah putu bumbung. Mereka menikmati putu bumbung yang masih hangat.

                                                                             

                                                                                ilustrasi: Bobo

Jika cuaca tidak hujan, Dhimas dan Alvin bermain sepeda. Hal ini untuk menghindari rasa bosan karena pembelajaran sekolah masih berlangsung di rumah secara daring.

 

“Dhimas, maskermu mana?” tanya Alvin saat Dhimas sudah sampai di depan pagar rumahnya.

“Malas pakai masker, ribet. Ayo, kita segera bermain sepeda. Mumpung tidak hujan,” ungkap Dhimas langsung mengayuh sepedanya dengan kencang. Alvin selalu gagal setiap kali meminta sahabatnya itu memakai masker.

Mereka bersepeda mengitari taman. Selain bersepeda ada anak-anak yang duduk-duduk menikmati bunga-bunga yang sedang mekar.

Saat mereka sedang asyik bersepeda, tiba-tiba seseorang memanggil Dhimas dari samping. Ternyata beliau Pak Lurah.

“Dhimas, berapa kali Bapak minta agar kamu memakai masker,” tegur Pak Lurah. “Sekarang masih pandemi. Pemakaian masker berguna agar kita tidak terpapar atau memaparkan virus COVID-19,” jelas Pak Lurah berulang kali, tetapi Dhimas tetap memandel.

Walaupun di luar jam kerja, Pak Lurah mengelilingi daerahnya. Beliau menindak warganya yang tidak mengikuti protokol kesehatan, di antaranya tidak memakai masker saat keluar rumah.

Dhimas hanya senyum-senyum. Setelah itu, dia mengerti apa yang harus dilakukan.

Seperti biasa, bagi siapa saja yang melanggar protokol kesehatan diminta menyanyikan lagu perjuangan. Selain sebagai hukuman, juga agar cinta tanah air. Dhimas menyanyikan lagu “Garuda Pancasila”. Garuda Pancasila. Akulah pendukungmu. Patriot proklamasi. Satria berkorban untukmu….

                                                                               

ilustrasi: Bobo

Anak-anak yang menonton pun bersorak-sorai. Mereka bertepuk tangan begitu Dhimas selesai menyanyikan lagu “Garuda Pancasila”. Wajah Dhimas merah padam karena malu. Namun, Dhimas tidak jera. Dia sudah berkali-kali terkena hukuman karena tidak memakai masker, kemudian diminta menyanyikan lagu perjuangan.

@@@

Suatu sore, Dhimas kembali menemui Alvin untuk bersepeda. Kali ini ada yang berbeda dari Alvin. Alvin memakai masker motif batik. Warnanya kombinasi hijau dan kuning.

“Alvin, maskermu baru, ya? Bagus, gambarnya lawang sewu,” tukas Dhimas tertarik.

“Aku membeli di tempat Pak Tikno. Pak Tikno menjual masker batik dengan gambar-gambar ciri khas Kota Semarang. Selain lawang sewu, ada juga gambar tugu muda, warak, burung blekok, gereja blenduk, dan buah asam. Warnanya pun beragam,” jelas Alvin.  

“Wah, ada gambar tugu muda dan warak. Antarkan aku ke Pak Tikno!” pinta Dhimas penuh semangat. Dhimas buru-buru masuk mengambil uang.

“Ayo.” Tentu saja Alvin senang. Temannya itu akan memakai masker.

Setelah mengambil uang, Dhimas dan Alvin pergi ke rumah Pak Tikno. Rumah Pak Tikno di gang sebelah.

Sejak di-PHK dari perusahaan konveksi, Pak Tikno menjual masker kain batik dengan gambar ciri khas Kota Semarang. Selain untuk menghidupi keluarganya, beliau ingin anak-anak bersemangat memakai masker saat keluar rumah. Masker yang dibuat terdiri dari dua lapis kain. Namun, Pak  Tikno tetap mengingatkan untuk memakai 2 lapis masker. Masker buatannya yang unik digunakan di sebelah  luar.

                                                                             

ilustrasi: Bobo

Dhimas membeli masker batik dengan gambar tugu muda dan warak, warna kesukaannya, merah dan putih. Sore itu dia memakai masker gambar tugu muda. Dia berjanji akan mengoleksi masker batik berciri Kota Semarang yang dibuat Pak Tikno. Ternyata, tidak hanya Dhimas dan Alvin, anak-anak lain juga senang membeli masker di tempat Pak Tikno. 

Kini tidak terdengar lagi ada anak menyanyikan lagu perjuangan. Semua tertib mengikuti protokol kesehatan. Pak Lurah pun senang semua warganya menaati peraturan.

@@@

Cerita anak ini pernah dimuat di majalah Bobo, 24 Maret 2022




Tidak ada komentar:

Posting Komentar