Iis Soekandar: Pengalaman Monika Berlibur di Desa

Kamis, 16 Januari 2020

Pengalaman Monika Berlibur di Desa

                                                                                     

Pagi itu, Mama mengajak Monika berlibur ke rumah Nek Ijah di Salatiga. Nek Ijah adalah asisten rumah tangga yang selama ini membantu keluarga Monika.
           “Menengok Nek Ijah di Salatiga? Malas ah!” jawab Monika.
“Nek Ijah kan minta pulang karena sakit. Kita tengok, apa Nek Ijah sudah sembuh. Lagi pula, kalau pun sudah sembuh, Nek Ijah mungkin tidak kembali lagi ke rumah kita. Nek Ijah kan sudah tua,” jelas mama Monika.
“Ajak kakak-kakak saja, Ma,” ujar Monika tetap tak mau ikut.
           “Kak Irma akan berkemah liburan ini. Kak Awal malah persiapan ujian,” ujar mama.
           “Selama ini, kita selalu berlibur ke tempat wisata. Sekali-sekali, liburan di desa yuk,” lanjut mama.
            Monika hanya diam. Mama tidak membujuk lagi karena terdengar bunyi mobil papa. Mama pergi untuk menyambut papa. Sementara itu, Monika berlari masuk ke kamar Kak Irma.
           “Sudahlah, kamu ikut Mama saja,” ujar Kak Irma setelah mendengar cerita Monika,  sambil sibuk menyiapkan perlengkapan kemahnya.
       “Uh, Kakak sih enak. Kalau liburan di kampung kan sepi. Apa yang mau dilihat? Kalau cuma pohon-pohon hijau dan gunung, aku juga suka menggambar alam pedesaan. Jadi nggak perlu ke sana,” gerutu Monika.
            Kak Irma hanya tersenyum mendengar keluhan Monika.
                                                                                 
ilustrasi dari Bobo

    Akhirnya, dengan berat hati, Monika mengikuti ajakan mama. Ia tak mau juga kalau hanya ditinggal berdua dengan Kak Awal yang sedang sibuk belajar.
       Di sepanjang perjalanan, hati Monika dongkol. Ia sendirian duduk di tengah, sedangkan mama di depan menemani papa menyetir.
Setelah menempuh perjalanan tiga jam, akhirnya mereka sampai di pedesaan. Seperti dugaan Monika, di sana sini terhampar pemandangan hijau dengan berbagai macam tanaman. Banyak juga buah-buahan seperti mangga, pisang, jambu biji, pepaya....
         “Ah Pak Wingky, Ibu. Wah, Monika juga ikut. Terima kasih sudah datang,” sambut Nek Ijah ketika Monika dan Mama Papa tiba di rumahnya.
            Nek Ijah tidak menyangka dan amat senang melihat mereka.
            “Nek Ijah sebetulnya sudah sembuh. Tapi anak Nenek melarang Nenek bekerja lagi,” cerita Nek Ijah kemudian setelah mereka duduk.
          “O ya, cucu Nenek juga seumuran Monika,” ujar Nek Ijah lagi, lalu memanggil nama cucunya.
“Anisaaa...”
            Seorang anak dengan rambut dikucir dua keluar. Tingginya kira-kira sama dengan Monika.
      “Anisa, ayo kasih salam buat Monika, Bapak, dan Ibu Wingky,” ujar Nek Ijah lagi, lalu meminta Anisa mengajak Monika bermain.
                                                                                   

                                                                   ilustrasi dari Bobo
       
Anisa bersikap ramah walau baru mengenal Monika. Pasti Nek Ijah yang mengajarinya untuk ramah kepada teman baru. Bukannya keluar rumah, Anisa  malah mengajak Monika masuk ke kamarnya.
       “Istirahatlah dulu. Kamu pasti capek. Tempat tidurku sederhana. Tapi mudah-mudahan cukup enak untuk meluruskan punggung dan kakimu...,” ujar Anisa.
       “Hmm, kamarmu sejuk dan nyaman sekali, Anisa. Di mana AC-nya dipasang?” tanya Monika sambil merentangkan tubuh di kasur.  
       “Ini udara pegunungan, asli. Mana mampu kami pasang AC. Desaku ini terletak di lereng   gunung. Tepatnya lereng Gunung Merbabu dan Gunung Merapi,” sahut Anisa.
       “Oooo,” Monika manggut-manggut.
       Karena kelelahan, ditambah udara yang sejuk, Monika tertidur pulas. Ia baru terbangun dua jam kemudian. Itupun karena hidungnya menghirup kepulan wedang jahe.
Yah, itulah minuman khas di desa Nek Ijah. Minuman penghangat badan. Cocok sekali diminum saat udara dingin.
      Keesokan harinya, mama dan papa harus pulang. Namun Monika memutuskan untuk berlibur di desa Nek Ijah yang sejuk. Mama hanya tersenyum karena usulannya diterima Monika.
       “Wah sayuran dan buah-buahan di kebun nenekmu banyak sekali. Kulkasmu besar sekali, ya, untuk menampung semua ini?” tanya Monika takjub. Ia melihat kebun di kanan kiri rumah Anisa. Ada tanaman kol, bayam, dan kacang panjang. Di halaman depan, ada pohon pepaya, mangga, dan jambu biji. Di salah satu sudut kebun, ada juga pohon salak yang buahnya sebentar lagi ranum.
Tidak jauh dari rumah Anisa, ada empang tempat memelihara ikan.
       “Kami tidak punya kulkas. Selain dijual, sebagian sayuran dan buah-buahan disantap sendiri. Begitu dipetik langsung dimasak. Begitu pula ikan di empang. Semua serba ambil milik sendiri,” jawab Anisa.
       “Wah nikmat sekali. Semua bahan makanan segar. Kalau di kota, Mama selalu membeli dari tempat pendingin supermarket. Tapi di sini benar-benar masak dari pohonnya,” sahut Monika kagum.
       “Kalau kami sakit ringan seperti diare, sembelit, batuk, dan lainnya, Nenek akan meramu  sendiri ramuan dari tanaman obat. Tanaman itu ditanam di sela sayuran dan buah-buahan. Maklumlah, di sini puskesmas jauh. Semua obat-obatan diambil dari hasil alam.”
            Monika kagum pada kecerdasan Anisa. Ia merasa liburan kali itu tidak sia-sia. Bahkan ia mendapatkan pengalaman berharga.
Monika berjanji akan kembali saat liburan tiba tahun depan. Desa Nek Ijah adalah tempat liburan yang keren. Selain itu, Monika juga ingin mengunjungi Nek Ijah lagi, yang sudah setia membantu keluarganya.
@@@
  Cerpen ini pernah tayang di Majalah Bobo, terbit 9 Januari 2020                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar