Iis Soekandar: Gendon Spesial

Sabtu, 20 Maret 2021

Gendon Spesial

 


         “Tidak terasa ya, Bu, sudah lima besar,” ungkap Agung begitu program kompetisi memasak selesai.

            “Iya,” jawab ibu. Kemudian keduanya mengungkapkan keunggulan masing-masing jagoannya.

Setiap peserta memasak masakan yang telah ditentukan juri. Peserta yang mendapat nilai paling rendah harus pulang. Program itu ditayangkan sebuah stasiun televisi setiap minggu.

Gara-gara selalu menemani ibu menonton acara program masak-memasak, Agung menyukai kuliner. Agung juga sering membantu ibu mengolah makanan dengan resep-resep baru. Ibu lebih suka memasak masakan dari luar. Ibu jarang memasak masakan daerah. Agung pernah meminta ibu membuat gendon. Gendon adalah kudapan terbuat dari singkong. Singkong dipotong kecil-kecil kemudian direbus dan diberi gula pasir, lalu diaduk-aduk hingga mengental dan matang. Saat akan makan diberi saus santan. Rasanya, hm ... lezat.

                                                                 

                                                                    gendon dari singkong

                                                          foto: Iis Soekandar

Tapi gendon yang diolah ibu rasanya tidak lezat. Singkongnya kacel (tidak mempur) sehingga saat dimakan terasa keras. Sejak itu Agung tidak pernah meminta ibu membuat gendon. Ibu tidak pandai memilih singkong saat membeli di pasar. Berbeda dengan bibi yang selalu dapat membeli singkong mempur.

Sejak pandemi bibi pulang kampung. Ibu lebih banyak bekerja di rumah. Ibu bekerja di kantor hanya separuh waktu. Sehingga ibulah yang memasak makanan sehari-hari. 

@@@

Pada suatu sore ....

“Apa kabar, Gung?” tanya Wira memulai telepon video.

“Baik. Apa kabarmu juga?” Agung balik bertanya.

“Aku juga baik. Ngomong-ngomong kapan kamu ke desa? Sejak Nenek meninggal kamu jarang ke desa. O iya, Senin depan tanggal merah, kamu bisa libur dua hari di desa,” ajak Wira.

“Wah, iya ya. Ada waktu libur dua hari. Kebetulan juga nih. Singkong di kebun belakang siap dipetik?” tanya Agung serius.

 “Aku tahu, pasti kamu ingin aku masak makanan kesukaanmu, gendon!” tebak Wira.

“Tepat sekali. Kapan lagi makan gendon lezat kalau tidak di kampung,” tukas Agung.

“Beres, Gung, tapi ...”

Wira berpikir sejenak. Lalu ...

“Tapi apa, Wir?” tanya Agung penasaran.

“Maksudku, nanti aku buatkan gendon spesial buatmu,” janji Wira.

“Gendon spesial?” tanya Agung heran.

“Iya. Lihat saja nanti!” kata Wira sebelum menutup pembicaraan.

Agung penasaran. Dia ingin bertanya gendon spesial, tapi Wira sudah menutup telepon videonya. Agung semakin tidak sabar ingin segera ke kampung halaman ayahnya. Wira adalah sepupunya. Ayah Wira dan ayah Agung kakak beradik.

Mungkin maksud Wira gendon spesial dengan singkong yang mempur. Di belakang rumah nenek ada kebun. Kebun itu ditanami singkong. Singkong-singkong itu selalu mempur saat dimasak.

@@@

Setelah tiga jam perjalanan, akhirnya Agung dan keluarga sampai di rumah Wira. Dulu, ayah Agung dan ayah Wira menghabiskan masa kecilnya di rumah itu. Tentu saja saat itu nenek dan kakek masih hidup.

Ayah dan ibu Wira tampak bahagia menerima kedatangan saudara-saudaranya. Wira hanya menemui sebentar. “Pasti  dia sedang mengambilkan gendon spesial untukku,”  pikir Agung dalam hati.

Tidak lama kemudian Wira keluar dengan membawa baki berisi makanan dan minuman.

                                                                    

gendon dari ulat bunga turi putih
foto: watualang.ngawikab.id

“Ini pasti gendon. Wah, kebetulan sekali sudah lama tidak makan gendon goreng,” celetuk ayah. Ayah langsung mengambil hidangan di piring, begitu pun ibu.

“Gendon? Bukankah itu ulat, Yah?” tanya Agung heran melihat ulat-ulat disajikan di piring, bukan gendon terbuat dari singkong seperti yang biasa ia makan.

“Ini juga gendon namanya. Gendon yang digoreng. Gendon sejenis ulat. Tidak mudah mencari gendon. Gendon ini berada di dalam pangkal batang pohon turi. Ayo, rasakan dulu. Pasti kau suka, Gung,” ajak ayah, juga ibu.

Walaupun agak jijik, karena penasaran, akhirnya Agung menyantap gendon goreng sebagaimana ayah dan ibu.

Sesaat kemudian ...

“Wah, iya, rasanya gurih. Pantas saja kamu bilang gendon spesial,”ungkap Agung sambil manggut-manggut.

“Kalau gendon dari singkong, besok aku masakin,” jelas Wira.

“Wah, terima kasih sekali,” kata Agung senang.

Ayah, ibu, dan Agung menikmati gendon spesial hingga habis. Maklumlah di kota tidak ada gendon spesial alias ulat gendon goreng.

@@@

Cernak ini pernah dimuat di koran Kedaulatan Rakyat, Jumat, 19 Maret 2021


2 komentar:

  1. Wah, rasanya kayak apa yaaa
    Penasaran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin di tempat Mbak Git ada pohon turi. Katanya gendon ada di batangnya. Terus digoreng. Katanya rasanya gurih😁 Aku juga belum pernah merasakan

      Hapus