Iis Soekandar: Pojok Baca, Sarana Mengatasi Krisis Literasi

Minggu, 29 September 2019

Pojok Baca, Sarana Mengatasi Krisis Literasi

                                                                                 


       Penggunaan waktu seperempat jam sebelum pembelajaran dimulai untuk berliterasi  telah berlangsung sejak tahun 2015. Hal ini mengacu pada payung hukum Permendikbud nonor 23 tahun 2015. Tetapi sudahkah semua sekolah telah melaksanakan pesan yang terkandung dengan optimal?
            Pada sekolah-sekolah tertentu, terutama sekolah swasta, literasi seperti yang termaktub dalam undang-undang tersebut menjadi bermakna luas. Literasi dalam konteks baca dan tulis bisa diimplementasikan pada huruf-huruf Arab untuk menunjang ciri khusus sekolah tersebut. Akibatnya literasi yang dimaksud hanya berlangsung pada pelajaran bahasa Indonesia.  Padahal fungsi bahasa Indonesia sebagai penghela atau pengantar semua mata pelajaran. Untuk itu setiap siswa diharapkan berminat membaca semua buku mata pelajaran dan kelak pada waktunya juga buku-buku bacaan umum.
       
      Sementara sekolah swasta juga mengemban amanah dari stakeholder. Yang tentu semua itu bertujuan untuk kemaslahatan masyarakat sekitarnya. Apalagi salah satu tujuannya berdampak pada penerimaan para calon peserta didik pada tahun ajaran baru.
            Guru bahasa Indonesia perlu menjembatani antara pesan undang-undang dengan amanah stakeholder sehingga tidak terjadi krisis literasi. Satu sisi keinginan stakeholder terpenuhi, sisi lain siswa tetap mendapatkan pengalaman-pengalaman berliterasi sebagaimana yang didapatkan para siswa pada umumnya dari sekolah lain.
          
          Pojok baca adalah salah satu sarana menjembatani pesan kedua belah pihak. Hal ini berlaku bagi kelas dengan siswa bernilai akademik tinggi maupun kurang. Bagi kelas dengan siswa gemar membaca, buku-buku yang disediakan cukup meminjam dari perpustakaan sejumlah siswa satu kelas, bila memungkinkan bisa lebih tergantung jumlah buku yang dimiliki. Sedangkan bagi kelas dengan siswa minat membaca rendah, buku yang disediakan berdasarkan swadaya mereka. Setiap siswa diminta membawa buku sesuai keinginannya. Bacaan yang dibawa bisa berupa komik, buku cerita, koran, majalah, bahkan resep masakan ibunya bila terpaksa siswa tidak memiliki buku bacaan. Yang terpenting siswa membaca.
Dengan tidak mengesampingkan fungsi perpustakaan-bagaimanapun perpustakaan adalah pintu gerbang jendela dunia- siswa dengan membawa buku sendiri lebih efektif memintanya untuk membaca.Diharapkan dengan cara seperti ini siswa gemar membaca, dan pada akhirnya punya minat baca tinggi. Kelak pada tingkat baca tinggi, siswa diberi buku-buku dari perpustakaan yang tentu sudah disesuaikan dengan tingkatan mereka.
Pojok baca dibuat berdasarkan kreativitas siswa satu kelas, terletak pada kelas bagian belakang sehingga tidak menggangu pembelajaran. Di samping itu, menghapus citra pojok kelas yang selama ini hanya untuk para siswa yang malas dan enggan mengikuti pelajaran. Buku-buku ditata di rak yang ditempel di dinding dengan model seperti yang mereka kehendaki, begitu pun hiasan-hiasannya. Hal ini diharapkan mengundang siswa bersemangat membaca. Pelaksaan literasi bisa kapan saja, seperti saat istirahat dan jam kosong, tentunya juga pada pelajaran bahasa Indonesia.
            Setiap kali selesai membaca siswa diminta menuliskan intisari dari buku bacaannya di buku jurnal membaca yang dikumpulkan di kelas. Hal ini untuk memantau bahwa siswa telah melaksanakan kegiatan literasi. Guru membuat skor. Penilain tertinggi diberikan kepada siswa dengan kegiatan literasi paling sering. Hasil penilaian ini berguna untuk menambah hasil PTS (Penilaian Tengah Semester) dan PAT (Penilaian Akhir Semester), terutama bagi siswa dengan akademik rendah.
         Diharapkan dengan pojok baca semua siswa dari semua tingkat akademik memiliki pengalaman membaca sebagaimana yang termaktub dalam undang-undang. Dengan demikian bahasa Indonesia sebagai penghela atau pengantar pelajaran-pelajaran lain menjadi tidak terkendala. Pojok baca telah menyelesaikan masalah krisis literasi. Semoga terlahir generasi-generasi yang selalu berhasrat memajukan bangsa ini.
@@@
                         Artikel ini pernah dimuat di harian Solopos, Minggu 29 September 2019 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar