Iis Soekandar: Pentingnya Literasi dalam Keluarga

Selasa, 23 Juli 2019

Pentingnya Literasi dalam Keluarga

        Ingatkah Anda dongeng-dongeng yang diceritakan ibu atau ayah menjelang tidur atau dalam kesempatan-kesempatan santai, saat masih anak-anak? Sehingga sampai dewasa tidak terlupakan? Seperti dongeng Si Kancil Mencuri Timun. Dongeng yang diceritakan ibu kepada saya menjelang tidur.Dongeng itu hingga kini masih selalu terngiang hingga saya dewasa. Si Kancil yang cerdik hingga berhasil mencuri timun Pak Tani. Tetapi bagaimanapun cerdiknya Kancil, mencuri adalah perbuatan tidak baik. Maka perbuatan mencuri tidak bisa dibiarkan. Pak Tani memasang jebakan dengan tumpukan ketimun. Kancil pun terkena jebakan dan terperangkap ke dalam kurungan atau sangkar.  Pesan moral yang terkandung di dalamnya adalah jangan pernah mencuri kalau tidak ingin celaka karena itu perbuatan tidak baik.
Begitu pun dongeng-dongeng cerita rakyat lain, selain menghibur, mengandung pesan moral atau pendidikan karakter yang baik bagi anak-anak. Tujuannya agar anak-anak mencontoh perbuatan yang baik,sebaliknya meninggalkan yang buruk. Beragam pesan moral tersebut diharapkan membawa pengaruh positif pada kehidupan anak. Golden age adalah masa penting bagi anak, tepatnya pada usia dini atau 0-5 tahun.Oleh sebab itu Golden age juga dikatakan masa kritis karena sebagai landasan aspek perkembangan. Pengalaman-pengalaman yang terjadi masa balita terekam pada bawah sadar dan akan menjadi tuntunan dalam bersikap pada kemudian hari. Sirkuit emosi terbentuk sejak usia 2 bulan (Miftahul Wahidah, Kompasiana). Anak mudah mengingat yang kasat mata maupun yang didengar. Itu sebabnya kenangan masa kecil mudah diingat hingga dewasa.
Keluarga menurut definisi KBBI adalah ibu dan bapak beserta anak-anaknya. Dengan demikian orangtua dan keluarga ikut menentukan masa depan anak. Tidak heran bila kenangan indah masa kecil juga akan membuat bahagia saat dewasa. Sebaliknya kenangan pahit dan menyakitkan, terlebih bila yang menyakiti dari anggota keluarga sendiri, rasa sakit hati dan pedih juga akan terus terngiang hingga dewasa. Bahkan terkadang sulit untuk membuka pintu maaf.
Pengalaman masa kecil juga dapat mempengaruhi kepribadian dan karirnya. Seorang anak yang sejak kecil biasa ditempa dengan kehidupan keras, kelak pada saat dewasa dia akan menjadi pribadi mandiri. Sebaliknya seorang anak yang terbiasa segala permintaannya dituruti tanpa diajarkan sikap mandiri, kelak hidupnya banyak bergantung kepada orang lain. Anak pun kelak akan memilih pekerjaan sesuai perkembangan kepribadiannya. Oleh sebab itu orangtua harus memberikan pengalaman-pengalaman baik kepada anak sejak dini, menyangkut mental dan fisiknya untuk kesuksesan masa depannya. 
Demikian pentingnya masa anak-anak, pemerintah mengadakan Hari Anak Nasional, yang setiap tahun diperingati pada tanggal 23 Juli. Di samping menjunjung dunia anak-anak, hal ini secara langsung atau tidak mengingatkan kepada para orangtua agar memberikan sarana dan prasarana begi kebututuhan masa tumbuh kembang anak sehingga berkembang dengan baik.
Peran literasi sangat strategi dalam menentukan tumbuh kembang anak. Sebab di dalam literasi setidaknya terdapat dua hal kegiatan penting, yaitu membaca dan menulis. Adler (1967) salah seorang pakar pendidik menyatakan, Reading is a basic tool in the living a goog live, membaca merupakan alat utama agar seseorang dapat menggapai kehidupan yang baik.
Sejalan dengan dampak yang baik dari fungsi membaca, beberapa tahun terakhir pemerintah menggalakkan literasi di antaranya dengan menyelenggarakan kompetisi dalam rangka pengadaan buku-buku untuk anak-anak, dari usia balita hingga SD. Kompetisi itu dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah.Bentuknya lomba atau seleksi dengan hadiah yang lumayan besar.Hal ini dimaksudkan selain menghargai penulis, juga merangsang para penulis anak tergerak berkarya sehingga membuat karya sesuai dengan konteks dunia anak-anak. Kemudian karya-karya terpilih dicetak menjadi buku-buku. Diharapkan dengan adanya buku-buku dari para pemenang lomba atau seleksi, anak-anak mendapatkan pengalaman-pengalaman baru saat atau sedang membaca. Dari seleksi kompetensi buku anak, tahun 2018 saja, pemerintah menerbitkan lebih dari 100 buah buku.
Gayung bersambut, para penerbit buku anak pun berlomba-lomba menerbitkan buku-buku di pasaran, baik buku dengan pembaca anak secara mandiri maupun harus didampingi atau dibacakan orangtua. Buku-buku itu pada intinya mengajarkan berbagai macam pendidikan karakter yang diperlukan anak, seperti mandiri, disiplin, peduli sesama, dll, dikemas dalam berbagai bentuk yang menarik, seperti cerita tentang princes, bentuk cerita fabel dan kehidupan anak-anak pada umumnya. Sebagian lagi berisi pengetahuan.Jadi, zaman sekarang jika orangtua sibuk bekerja cukup membeli buku-buku anak yang tersebar di toko-toko buku. Orangtua tidak lagi susah harus menceritakan dongeng seperti Si Kancil Mencuri Timum, dan cerita-cerita rakyat lain yang cenderung itu-itu saja, sebab buku anak yang dijual beragam. Dengan selalu mengajak anak ke toko buku, itu berarti membudayakan membaca, di samping itu anak bisa memilih buku sesuai keinginan. Dengan demikian anak bersemangat pula untuk membacanya.
Ada juga buku-buku yang mengajak anak melakukan aktivitas seperti mewarnai, menggambar, menghitung, dan aktivias lain yang intinya membuat anak bermain sambil belajar dengan mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang berguna. Hal ini menandakan anak telah melakukan literasi dalam bidang menulis.Orangtua pun dapat mengembangkan dengan meminta anak menuliskan hal-hal yang dekat dengan anak. Dalam hal ini orangtua harus sering mengajaknya ke luar rumah mengenalkan lingkungannya. Dengan mengajaknya ke kebun kemudian menyebutkan satu per satu bunga yang ada, misalnya, hal ini sudah menambah kosa kata anak. Semakin banyak anak diberi pengalaman semakin banyak pula kosa kata yang dimiliki. Biarkan anak mengungkapkan keinginan dalam bentuk tulisan sesuai kemampuannya. Sebab menulis adalah sebuah proses. Dengan sering menulis mereka akan terampil pada waktunya.
Saat mendapatkan pengalaman, tidak hanya indra penglihatan yang bekerja, tetapi juga indra pendengaran. Pengalaman berkaitan dengan indra penglihatan diungkapkan dalam bentuk tulisan. Sedangkan indra pendengaran diungkapkan dengan berbicara. Dengan terus berlatih, lambat laun anak mampu menirukan yang diutarakan orangtuanya walaupun pengucapannya belum sempurna. Dari satu kata, dua kata, dan terus berlanjut. Seiring usia anak dapat menyatakan kalimat dan mengerti kata ganti saya untuk merujuk dirinya, penggunaan kata jamak, awalan dan akhiran, begitu pun sikap mengkrtik dan memerintah maupun bertanya.
Mari, kita beri anak-anak dengan pengalaman-pengalaman yang bermanfaat dan berkesan dengan budaya literasi, agar mereka tumbuh dan berkembang dengan semestinya. Karena perilaku baik walaupun sebagai kenangan akan memberikan semangat dalam kehidupan kelak menapaki masa dewasa. Bila anak-anak di negeri ini dibiasakan dengan budaya literasi dalam keluarganya, tidak mustahil kelak Indonesia menjadi negera terdepan. Negara dengan masyarakat yang cerdas dan dapat dipercaya.
@@@
                                                                     Opini ini telah terbit di koran Analisa, Senin 22 Juli 2019 

1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus