Iis Soekandar: April 2026

Jumat, 10 April 2026

Syawalan di Pasar Sore Kaliwungu

                                                                                      


         Saya sepakat pernyataan seorang kenalan, yang saya temui di halte, pukul sembilan pagi; kami sama-sama menuggu bus, tapi tujuan berbeda, “Lebaran itu cukup biasa saja. Syawalan, baru mbobok celengan.”

Kami sama-sama orang Semarang. Kerabat-kerabat dari luar kota berdatangan di kampung halaman, Semarang. Kalaupun kami bersilaturahim, ke saudara-saudara tua, seputar Semarang, butuh biaya tidak berarti. Barulah seminggu setelah Lebaran, atau biasa disebut Syawalan, orang-orang pergi ke daerah-daerah tertentu yang menyelenggarakan tradisi Syawalan, seperti Kaliwungu, tempat yang akan saya tuju. Untuk transportasi dan makan,  butuh biaya banyak, maka perlu mbobok celengan, atau membuka celengan, atau menggunakan uang simpanan.

Bagi saya, Lebaran terasa kurang lengkap tanpa Syawalan ke Kaliwungu. Kapan lagi ke Pasar Sore atau Alun-Alun Kaliwungu, tempat keramaian Syawalan, kalau tidak saat Syawalan. Di samping itu saya mengunjungi kenalan, juga setahun sekali, saat Syawalan.

            Saya tinggalkan dia dan suaminya karena bus yang saya tunggu sudah tiba. Setengah jam kemudian bus tiba di penghujung tujuan, Terminal Mangkang. Lalu saya berpindah bus Transjateng jurusan Kendal, turun Pasar Sore. Jalanan lengang sepanjang perjalanan. Perjalanan hanya membutuhkan empat puluh lima menit dari Semarang sampai di Pasar Sore.

Karena suatu hal, saya datang sehari setelah Syawalan, namun suasana Syawalan masih terasa. Syawalan serupa Dugderan di Semarang. Di seputar alun-alun dijajakan aneka makanan dan minuman, baik yang daerah seperti bolang baling, pisang molen, martabak manis, martabak goreng, dll., maupun kekinian seperti ice cream roll, jus luscat, dimsum, dll. Di sana juga tersedia aneka permainan anak: komedi putar, tong setan, dan bianglala. Mereka beroperasi dari 25 Maret-5 April. Khusus hari H, yang jatuh pada Sabtu, 28 Maret, mereka beroperasi dari pagi hingga malam. Di luar itu, sebagian dari mereka buka mulai sore.  

                                                                          

lapak-lapak makanan dan  minuman

           Menurut cerita penduduk setempat, dinamakan Pasar Sore, dulu di depan Masjid Al Muttaqin Kaliwungu, sekitar alun-alun, ada pasar yang beraktivitas setiap sore. Sekarang Pasar Sore pindah belakang alun-alun.

            Sedangkan tradisi Sywalan, juga menurut penduduk setempat, berawal pada acara ngekol atau peringatan meninggalnya seorang alim ulama di Jabal, tidak jauh dari alun-alun. Kemudian para pedagang juga membuka lapak-lapak makanan, mimuman, dan mainan, di alun-alun.

                                                                                    

Masjid Al Muttaqin Kaliwungu

          Setelah berjalan-jalan, saya beristirahat dan duduk bawah tenda, di sisi pelataran Masjid Al Muttaqin. Di sana sepi. Seorang sekutiri sedang berjaga. Saat hari H, para pedagang sate ayam memenuhi pelataran masjid tersebut.

            Tidak lama, serombongan orang, laki perempuan, besar kecil, dengan bawaan paket-paket dos dan tas jinjing besar, menuju ke dalam, lewat jalan sebelah masjid.

            “Mungkin mereka mengantar santri atau menjemput santri,” kata sekuriti seperti tahu pertanyaan dalam benak saya, siapa mereka dan kira-kira untuk tujuan apa, bukankah Lebaran sudah lewat.

            Di seputar masjid ada empat pondok pesantren. Salah satunya memiliki santri lebih dari seribu orang. Belum lagi di tempat-tempat lain. Pantaslah kalau Kaliwungu disebut Kota Santri.

            Setelah lama beristirahat dan mengobrol santai dengan sekuriti, saya berkunjung ke kenalan. Rumahnya di belakang masjid. Saya termasuk tamu yang ditunggu setiap Syawalan. Sambutannya riuh. Sambil menikmati aneka camilan Lebaran, kami bercanda dan bercerita seputar pengalaman, selama setahun tak bertemu. Lontong sayur menjadi hidangan terakhir ketika tiba makan siang. Tidak lupa sebagai makanan khas, dia pun memberikan beberapa macam kerupuk mentah. Sebagaimana kebiasaannya, kepada para kerabat dan kenalan, dari jauh.

            Waktu Duhur saatnya salat di Masjid Al Muttaqin. Mumpung berkunjung ke Kaliwungu, saya merasakan salat di masjid itu, sekaligus berbincang-bincang dengan para wisatawan yang transit, menuju tujuan berikutnya.

                                                                              

kerupuk usek

         Setengah dua siang saya keluar masjid dan mampir di toko oleh-oleh. Aneka kerupuk matang dijajakan di lapak-lapak pinggir jalan raya depan alun-alun. Orang-orang menyebutnya kerupuk usek. Kerupuk-kerupuk itu digoreng pasir panas dengan cara diusek-usek atau digosok-gosok. Sebagian lagi menyebutnya kerupuk wedi karena digoreng dengan wedi atau pasir. Saya menyebutnya kerupuk tayamum. Sebab orang tayamum pakai debu atau pasir atau tanah.   

            Beberapa kemasan kerupuk tayamum dijual, dari harga lima ribu, sepuluh ribu, dua puluh ribu, hingga tiga puluh ribu rupiah. Bentuk kerupuk bermacam-macam. Ada bentuk mi, ada bentuk segi empat dan lubang-lubang, ada pula tanpa bentuk beraturan. Saya membeli sebungkus sepuluh ribu kerupuk tanpa bentuk beraturan.

            Puas Syawalan di Pasar Sore Kaliwungu, saatnya saya mencari halte, kembali ke Semarang. Sampai berjumpa tahun depan!

@@@