Iis Soekandar: 2026

Jumat, 27 Maret 2026

Teknologi Susu, Daging, dan Telur

                                                                                          


            Susu, daging, dan telur termasuk bahan-bahan makanan mudah dijumpai sehari-hari, baik di pasar-pasar tradisional maupun supermarket-supermarket. Apalagi saat puasa dan menyambut Idulfitri, bahan-bahan pangan hewani hasil peternakan tersebut vital dibutuhkan dalam aneka makanan, baik diolah sebagai makanan-makanan besar maupun bahan dasar kue-kue.

Perkembangan teknologi memberi banyak manfaat bagi manusia, termasuk dalam pengembangan produk-produk pangan. Melalui teknologi, bahan-bahan makanan menjadi awet dan tahan lama. Itulah alasan saya mengambil buku ini di rak buku. Rasa penasaran saya timbul untuk mengetahui teknologi dan hasil yang diperoleh dari bahan makanan susu, daging, dan telur.

Pada dasarnya susu terdiri dari dua bagian: krim (susu bagian atas atau langit, bertekstur kental) dan skim (bagian susu setelah langit, bertekstur encer). Selain dinikmati sebagai susu segar, dalam industri, susu sebagai bahan dasar, seperti dalam pembuatan keju, es krim, mentega, dan susu cokelat.

Konsumsi daging bergantung jumlah populasi atau keberadaan daging di suatu daerah. Warna daging babi merah muda dibanding daging sapi. Hal ini dipengaruhi jumlah pigmen hemoglobin babi sedikit dibanding pigmen hemoglobin daging sapi.  

Telur baik dikonsumsi oleh ibu hamil, ibu menyusui, orang sakit, dan anak sedang tumbuh kembang. Umumnya telur terbagi dalam dua bagian: bagian putih telur sebagai sumber protein dan bagian tengah kuning telur sebagai sumber lemak. Telur mengandung semua vitamin, kecuali vitamin C. Telur juga sumber mineral hampir sama dengan susu. Selain tingginya kandungan zat gizi, telur juga mudah dicerna. Binatang-binatang penghasil telur untuk dikonsumsi: ayam, itik, puyuh, ikan.

Susu dapat tahan lama dengan cara pasteurisasi (dipanaskan). Daging dapat tahan lama dengan pengeringan sinar matahari, penggaraman, pembekuan, pengasapan, dan pengalengan.

Sedangkan telur harus dipilah sebelum diawetkan. Kulit telur tidak retak dan bersih lebih menarik dan higienis. Berdasarkan kebersihan kerabang atau cangkang telur, telur dibagi menjadi empat: telur mutu kelas I: tidak retak, bersih dari noda, telur mutu kelas II: tidak retak tapi kotor, telur mutu kelas III: retak, isinya belum keluar, telur mutu kelas IV: pecah, isinya keluar. Penyimpanan telur sebaiknya jauh dari barang-barang berbau tajam, seperti diesel, bawang, dll. Barang-barang berbau tajam akan berpengaruh terhadap aroma telur. Telur segar dapat disimpan 5-7 hari. Agar tahan lama, telur disimpan di ruangan khusus berpendingin dengan suhu 0 ͦ C. Sebelum disimpan kulit telur dibersihkan dengan cara direndam air bersih lalu dihilangkan kotorannya, atau dicuci suam-suam kuku, atau digosok ampelas.

Di antara hasil pengolahan susu adalah mentega (80% lemak), fermentasi: yogurt, dadih (susu kerbau yang dikentalkan), keju: keju keras, keju setengah keras, keju lunak, susu kental, susu bubuk, dan es krim. Sebagian nama keju berdasarkan nama kota penghasil keju atau nama negara.

Hasil pengolahan daging dapat berupa daging kuring, ham, sosis, dan pembuatan corned beef.

Sedangkan hasil pengolahan telur dapat berupa telur asin (penggaraman). Telur yang digunakan adalah telur itik. Telur ayam tidak baik diasinkan. Telur acar adalah telur masak direndam larutan cuka. Telur pindang adalah telur diasinkan, tapi tidak seasin telur asin. Kemudian telur diberi daun jambu atau kulit bawang agar berwarna cokelat. Kemudian telur bubuk. Dan telur beku: telur dipecah baru dibekukan.

Saya menuntaskan buku hampir serratus empat puluh halaman di antara kegiatan-kegiatan rutin puasa Ramadan. Membaca memberi kesenangan. Kesenangan menunjuki banyak pengetahuan dan ide cerita. Setidaknya ada satu ide cerita yang sudah terealisasi dalam sebuah karya fiksi.

@@@


Jumat, 13 Februari 2026

Es Campur

                                                                                           

Bagi masyarakat Kota Semarang, sekarang saatnya menikmati dugderan. Dugderan adalah tradisi masyarakat Kota Semarang menjelang bulan Ramadan. Tujuannya untuk memberitahukan akan datangnya puasa Ramadan. Dugderan diadakan seminggu sebelum bulan Ramadan. Di sana dijajakan aneka mainan, di antaranya dari gerabah seperti celengan dan perkakas makan dan minum, kapal-kapalan, disajikan permainan bianglala, kora-kora, komidi putar, dll, dan dijual aneka makanan dan minuman.

Dua hari lalu hujan mengguyur sejak Asar dan mereda jelang Isya. Saya pikir dugderan sepi pengunjung. Ternyata tak berbeda dari suasana tak terjadi hujan lama. Meski udara dingin menyelimuti, para penonton memenuhi kursi-kursi, menikmati suara musik dan penyanyi panggung, sambil makan dan minum. Pengunjung-pengunjung lain berjubel memenuhi jalan-jalan area dugderan.

Malam itu saya jalan-jalan sekalian ingin membeli es campur. Dari depan pintu gerbang Masjid Agung Semarang, sekitar alun-alun, samping Hotel Metro, hingga Jalan H. Agus Salim, tidak ada pedagang es campur. Ada banyak pedagang minuman, mayoritas minuman kekinian dengan bahan simpel, selebihnya minuman tradisional. Mungki pedagang minuman es campur enggan menjual di dugderan karena bahan-bahannya kompleks.

Menurut buku Main Rasa Bersama Sasa awal mula es campur dari Cina. Kemudian minuman ini popular di Indonesia. Es campur asal Cina dikenal baobing. Bahannya es serut, susu, sirup, dan buah-buahan.

Perburuan saya belum selesai dan saya lanjutkan keesokan hari. Saya teringat dekat Pasar Johar, sebelah alun-alun, ada penjual minuman. Kedai sepi. Pedagang memanggil-manggil, terus menawari hingga saya tak dapat menolak.

“Jual es campur, Bu?” tanya saya.

“Lho, saya sehari-hari kan juga jual es campur,” jawab pedagang bertubuh gemuk.

Saya duduk lega. Akhirnya saya mendapatkan yang saya mau. Saya duduk menunggu ia menuangkan satu per satu bahan di dalam mangkuk. Dari bahan-bahan yang dijajakan di wadah-wadah, saya tak melihat itu sebagai bahan-bahan es campur. Dawet, camcau, jeli dipotong dadu, saus gula merah, santan, dan es serut dalam termos.

Semangkuk es campur, menurut pedagang, tersaji di depan saya. Sungguh di luar angan saya menikmati semangkuk es campur dengan semarak ketan hitam, tape, sagu mutiara, buah, susu kental manis, santan, dipadu dengan es serut. Saya menerima semangkuk hidangan, laiknya terpidana menerima vonis hukuman.

Semangkuk es, dengan macam-macam bahan itu, saya nikmati, setidaknya sebagai pelepas dahaga. Sambil membayangkan, saat yang tepat, saya datang ke kedai penjual es campur sesungguhnya.

@@@


Jumat, 23 Januari 2026

Pondok Pesantren “Kapal Ijo”

                                                                                      


                   Waktu menunjuk pukul setengah enam. Matahari belum tampak walau sudah waktunya terbit menurut penanggalan. Pengajian selesai. Tapi keresahan saya belum menemukan penyelesaian. Tidak seperti biasanya, dua kali saya mengikuti pengajian, masih ada yang belum tuntas. Bukan masalah kehidupan. Sesuatu yang  saya anggap hal kecil itu kini menjadi berarti. Ada undangan milad ke-7 pondok pesantren tempat Ustaz pengajar setiap Rabu pagi itu. Tergelitik saya menghadiri, tapi mencari alamat pinggir kota, mungkin masuk ke pelosok. Seorang teman memberitahu, bahwa ia pernah ke sana, tapi pernyataannya membingungkan.

            “Bukan Pondok Pesantren “Roudhoh”, tapi “Kapal Ijo”,” koreksinya kemudian pada perjumpaan berikutnya.

            “Makanya, apa aku bilang,” kata saya merasa lega.

Saya mulai menanggapi sebab penyataannya menuju pencerahan. Ada bangunan kapal, lambungnya berwarna hijau, sebagai tanda Pondok Pesantren Doaqu, kepanjangan dari Doa Ahlul Qur’an, begitu nama pondok pesantren tempat Ustaz itu sebagai pembina. Bagunan kapal itu terletak di depan pondok, begitu gambar yang saya lihat saat browsing. Mungkin agar orang-orang mudah mencarinya, terlebih bagi yang belum pernah berkunjung ke sana.

Sekitar satu jam waktu saya butuhkan dari menunggu bus Transsemarang jurusan Gunung Pati, hingga perjalanan sampai di tempat tujuan. Seorang penumpang lelaki, kebetulan wali santri pondok tersebut, dan kondektur bus, menyebutnya Pondok Pesantren “Kapal Ijo” atau “Kapal Hijau”. Letaknya di pinggir jalan Sadeng, Gunung Pati, Semarang. Dari arah Simpang Lima, turun di Sadeng, lalu menyeberang.

Ketertarikan saya lantaran sosok Ustaz Riyadh Ahmad Riyadin, AH. Kehadiran saya di pondoknya sebagai apresiasi atas ceramah-ceramahnya yang simpel tapi mengena. Jamaah awam mudah mengerti uraian-uraian setiap ceramahnya, sekaligus mendapat solusi sederhana. Sebab kalau untuk mendengarkan ceramahnya, saya bisa menghadiri setiap Rabu pagi, sehabis salat Subuh di MAS (Masjid Agung Semarang).

Pondok Pesantren Doaqu memberi dua pembelajaran: Madarasah pesantren dengan 2 jurusan: tahfiz atau hafalan dan kitab, dan sekolah kontekstual: menanam, konten, dan menggembala kambing. Sekolah kontekstual mengacu pada perkembangan zaman. Para santri kelak diharapkan mandiri dengan hasil produksi yang mereka tanam, mampu menghadapi era digital, saatnya sosmed kerja untuk pahala dan masa depan, dan mendapat pengalaman leadership dari menggembala kambing. Semua itu sesuai visi dan misi pondok: mencetak generasi Qurani yang alim, berakhlaq mulia, serta siap menghadapi perkembangan zaman. Jumlah santri lelaki 20 orang; jumlah santri wanita 7 orang.

Tentang menggembala kambing Ustaz Riyadh memberi catatan rinci, bahwa tidak ada Nabi dan Rasul pada masa mudanya tidak menggembala kambing. Pasti ada rahasia positif di baliknya. Dan pembelajaran pada Nabi dan Rasul, pastilah tidak ada yang salah, setidaknya melatih leadership. Mengingat anak-anak muda sekarang pandai namun rapuh, mencari penyelesaian secara instan.

Para santri sebagai penerima tamu menyambut kedatangan setiap tamu. Hidangannya melimpah, snak dan nasi dari katering mahal, untuk ukuran tamu biasa dan pondok pesantren berada di pinggir kota. Untuk tamu khusus panitia menyediakan prasmanan. Ada beberapa tempat wudu wanita sehingga para santri wanita dan para tamu wanita tidak mengantre. Pondok pesantren sedang giat membangun. Tanah kosong masih luas.

Setelah puas mengenal dalam Pondok Pesantren Doaqu, menjelang Asar saya pulang. Saya bersama teman harus berjibaku menunggu bus Transsemarang. Letak halte di jalan menanjak, tidak setiap bus bersedia berhenti. Tangan calon penumpang harus melambai sejak dari jauh, memberi isyarat kepada sopir, untuk mengambil ancang-ancang berhenti.

                                                                           @@@


Jumat, 16 Januari 2026

Taman Renang Alam Umbul Sidomukti

                                                                                       

Akhir-akhir ini hujan turun intens, dari pagi hingga malam. Kalau pun reda, hanya sesaat. Matahari muncul sesekali. Bahkan seringkali berhari-hari tidak menampakkan wajahnya. Sebagai orang-orang yang tinggal di kota, kami sehari-hari bergumul dengan kesibukan, lalu lintas padat penyumbang polusi napas dan mata, lahan hijau terbatas karena bangunan-bangunan berimpitan. Maka pergi ke pedesaan melihat pemandangan alam sangatlah perlu.

Pilihan saya dan rombongan jatuh ke Kawasan Wisata Alam Umbul Sidomukti. Kawasan Wisata Alam Umbul Sidomukti terletak di Jimbaran, Bandungan, Kabupaten Semarang. Tempat ini ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar satu tengah jam dari Kota Semarang.   

Kawasan Wisata Alam Umbul Sidomukti menyajikan beberapa tempat wisata. Untuk memasuki pintu gerbang utama, setiap wisatawan dikenai biaya Rp5.000,00, ditambah parkir kendaraan. Kemudian wisatawan akan memilih tempat wisata. Sebelum masuk tempat wisata wisatawan dikenai biaya lagi. Setiap tempat wisata berbeda tarip. Saya dan rombongan memilih tempat wisata Taman Renang Alam. Kami membayar Rp20.000,00 per orang karena bertepatan akhir pekan, begitupun jika bepergian pada hari libur nasional. Sedangkan hari biasa wisatawan membayar per orang Rp15.000,00, anak di bawah 85 cm gratis, jam operasional dari 08.00-18.00 WIB.

                                                                             

jasa sewa kuda

Di sepanjang jalan menuju kolam renang, ada taman-taman menarik untuk spot-spot foto. Saatnya menghirup udara segar dan pemandangan hijau, kata saya. Wisatawan yang ingin naik kuda, disediakan jasa sewa kuda. Ada beberapa pilihan tempat tujuan. Taripnya menyesuaikan, tergantung jauh dekat jarak yang ditempuh.

Waktu menunjuk pukul 13.00 ketika saya dan rombongan sampai di arena kolam renang. Selain kolam renang, ada kafetaria, toko suvenir dan pusat informasi, dan tempat solat representatif. Tempatnya bersih dan air melimpah. Kami salat bergantian.

Spot-spot foto di arena kolam renang didominasi pemandangan berlatar belakang tebing dan lembah. Sayang, pemandangan tertutup kabut.

Tampaknya ruang utama kafetaria sedang disewa. Mungkin mereka tergabung dalam satu komunitas. Sekilas saya melihat mereka, lelaki-perempuan, berseragam sama, atasan berwarna biru. Orang-orang berjoget di tengah, salah satu melantunkan lagu  “Koyo Jogya Istimewa”, yang popular.

                                             
                                                                                      kafetaria

Beruntung kami sudah membeli makanan dari rest area: tahu sumedang dan sukun goreng. Di samping itu, beberapa kali kami berkunjung ke tempat wisata ini, kami hafal makanan yang dijual dan memilih membawa makanan-makanan ringan dari rumah sesuai selera. Tentu saja makanan-makanan itu kami sembunyikan. Sebab ini berdampak bagi pemasukan kafetaria.

                                                                                      

                                                                         area kolam renang

Walaupun cuaca mendung, banyak pengunjung berenang, orang-orang dewasa maupun anak-anak, walaupun tidak sebanyak saat musim panas. Kebanyakan mereka dari luar Semarang. Saya menikmati jalan-jalan dan foto-foto.

Sebetulnya kami masih ingin menikmati udara sejuk pegunungan. Tapi air turun dari langit tak bisa dihindari. Gerimis mulai terasa. Waktu hampir menunjuk pukul tiga sore. Kami bergegas menuju tempat parkir, yang jaraknya bikin napas terengah-engah. Setelah itu mencari makan siang, sekalian pulang.

@@@

 


 


Jumat, 09 Januari 2026

Kupat Tahu




               Berbeda hari-hari terakhir, laiknya musim hujan, siang itu langit Magelang tak menumpahkan air. Cuaca cerah. Gerah menyelimuti badan, ingin segera menjumpai air wudu, untuk menetralisir. Setelah tamasya seputar daerah Magelang, saya dan para kerabat mampir di MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah) Magelang untuk menunaikan salat Duhur. Tak seperti MAJT Semarang yang mewah, serasa salat di Masjid Nabawi, terkenal dengan payung-payung besarnya di pelataran, MAJT Magelang sederhana, hanya halamannya luas.

            Setelah salat saatnya kami makan siang. Kendaraan menembus lalu lintas yang ramai. Saya mengusulkan makan makanan khas daerah. Kebetulan salah satu kerabat punya langganan. Nahas, siang itu tutup. Saya khawatir jika mayoritas memilih makan makanan kekinian. Lewat di daerah kota, ada banyak makanan alternatif. Terlebih makanan-makanan kekinian. Syukurlah mumpung berkunjung ke sebuah daerah, kami sepakat makan siang dengan makanan khas daerah Magelang: kupat tahu atau ketupat tahu, dibanding makanan kekininan yang ada di setiap tempat, termasuk Semarang.

            Ada banyak penjual kupat tahu. Kami memilih jauh dari keramaian. Tempatnya representatif, masuk gang, cocok untuk sekalian beristirahat. Kebetulan siang itu sepi pengunjung. Kami satu-satunya rombongan pembeli. Saya bayangkan jika kami makan di kedai langganan dan di pinggir jalan, pasti banyak pembeli, apalagi jika harus duduk berimpitan.

            “Monggo nyicipi bakwan,” kata pedagang yang sedang menggoreng bakwan, wanita lansia, berkebaya, dan berkonde cepol. Wanita satu lagi muda, meracik bahan-bahan makanan

            “Nggih, Bu, maturnuwun,” jawab saya tanpa mengambil bakwan satu pun. Saya ingin menikmati kupat tahu secara utuh. Dengan makan bakwan terlebih dahulu, bakwan tidak lagi terasa spesial saat bercampur kupat tahu.

            Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya kupat tahu berada di depan mata.

            Selain ketupat dan tahu putih goreng, makanan lain dalam kupat tahu: bakwan, tauge, kol, sambal kacang rasa manis, toping bawang goreng dan daun seledri.

            Berbeda kupat tahu Semarang, kupat tahu Magelang sambal kacangnya encer. Terkesan kupat tahunya berkuah. Menurut saya, itu lebih sesuai disebut sambal kecap, kemudian dicampuri kacang tanah. Sebab kacang tanahnya tidak digerus secara halus dan menyatu dengan sambal kecap, bahkan banyak ukuran separuh biji. Akibatnya bongkahan-bongkahan kacang tanah itu mengambang di sambal kecap. Sesekali saya hanya makan kacang tanah.

            Melihat makanan-makanannya yang lengkap: ketupat, tahu, sayuran, kupat tahu cocok disantap sebagai makanan utama, saat perut lapar. Apalagi ditambah kerupuk. Saya menghabiskan sambal kecap saat ketupat dan makanan-makanan lain sudah habis dengan kerupuk. Sepiring kupat tahu habis dengan membayar lima belas ribu rupiah. Sebagai bekal kami tamasya ke tempat berikutnya.

@@@